Anda di halaman 1dari 11

1

DINAMIKA TEGAKAN
Oleh: Dwi Yoga Budi P. NIM. G 01110104

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Dinamika tegakan didasarkan pada prinsip-prinsip ekologis yang telah memberikan kontribusi kepada sifat-sifat tegakan, seperti suksesi, persaingan, toleransi dan konsep zona optimal. Faktor-faktor ini secara langsung mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tegakan. Pengetahuan mengenai faktor-faktor ini dalam dinamika tegakan memungkinkan seseorang memprediksi cara vegetasi berkembang dan karena itu merupakan dasar untuk perkembangan kaidah silvikultur yang baik. 1.2. Rumusan Masalah Beberapa pembahasan masalah yang bisa dirumuskan dalam sebuah bahasan singkat adalah mengenai suksesi tumbuhan, persaingan, toleransi, evaluasi faktor untuk silvikultur, dan zona optimal. 1.3. Tujuan dan Manfaat Pembahasan tentang masalah tersebut bertujuan untuk mengetahui secara singkat tentang dinamika tegakan dan variannya. Serta hasil ringkasan ini dapat menjadi dasar untuk mengetahui tentang dinamika tegakan dalam perkuliahan silvika.

II. PEMBAHASAN

2.1. Suksesi Tumbuhan Merupakan suatu pergantian komunitas tumbuhan oleh komunitas tumbuhan lainnya. Perubahan jenis yang terjadi adalah bersifat terarah, kumulatif dalam menempati suatu areal dan melalui kurun waktu yang panjang. Suksesi tumbuhan merupakan bagian dari perkembangan ekosistem yang lebih kita kenal sebagai suksesi ekologi (odum, 1993). Perubahan pada komunitas tumbuhan akan berpengaruh terhadap semua elemen yang lain. Siklus lengkap perubahan-perubahan pada suatu areal dari lahan kosong ke formasi klimaks disebut sere. Pergantian jenis dalam sere terjadi karena populasipopulasi cenderung mengubah lingkungan fisiknya menjadi lebih baik untuk populasi-populasi lainnya sampai keseimbangan antara biotic dan abiotik tercapai. Dengan demikian bila suksesi terjadi tanpa gangguan yang berarti pada komponen ekosistem maka proses suksesi dapat diramalkan. 2.1.1. Suksesi Primer dan Suksesi Sekunder Berdasarkan awal terjadinya suksesi, maka suksesi dibagi menjadi suksesi primer dan suksesi sekunder. Suksesi primer adalah suksesi yang dimulai pada permukaan yang sebelumnya tidak bervegetasi seperti bukit pasir pantai, tanah longsor, aliran lava, permukaan batu bahkan kolam steril yang terbentuk dari gerakan gletser. Setiap lingkungan mentah akan mengembangkan suatu sere yang sesuai dengan kondisi iklimnya, dan kecepatan perubahan komunitas akan tergantung pada beberapa cepat suatu tempat tumbuhan menjadi sesuai untuk tahap sere yang tinggi.

Pada kasus aliran lava, diperlukan waktu ratusan tahun sebelumlava terdekomposisi memadai untuk menyokong tumbuhan tingkat tinggi, sedangkan tanah longsor akan mempunyai transisi yang relatif cepat dari tanah kosong ke suatu klimaks. Suatu sere tidak berjalan dalam rangkaian tahap maju yang terus-menerus. Hal ini terjadi bila ada gangguan yang menyebabkan mundurnya suksesi ke tahap sebelumnya. Bila jalannya suksesi dimundurkan oleh adanya suatu gangguan tetapi masih terdapat vegetasi maka pemulihan ke tahap awal disebut suksesi sekunder. 2.1.2. Suksesi Autogenik dan Suksesi Alogenik Suksesi autogenik adalah suksesi yang banyak dikendalikan oleh aktivitas organisme sendiri. Beberapa semai jenis over story pada lingkungan yang tidak cocok, karena kurang dapat beradaptasi terhadap naungan dan kalah dalam kompetisi dengan semai jenis yang lebih baik adaptasinya, tetapi dengan berjalannya waktu, suatu saat akan muncul asosiasi jenis yang berbeda dan mendominasi situs tersebut. Suksesi alogenik disebabkan oleh perubahan dasar pada lingkungan di luar kendali organisme asli pada saat itu. Contohnya suksesi padang rumput gurun ke semak belukar karena keadaan iklim yang kering 2.1.3. Suksesi Progresif dan Suksesi Retrogresif Suksesi progresif adalah suksesi yang mengarah pada komunitas lebih kompleks dan biomassa makin besar kea rah habitat yang secara progresifmakin lembab. Sebaliknya suksesi retrogresif menuju ke arah yang berlawanan yaitu ke

arah bentuk yang lebih sederhana, komunitas lebih miskin jenis dan ke arah habitat lebih basah atau kering. 2.1.4. Tahap-tahap Suksesi

2.2. Luas Bidang Dasar pada Tegakan Seumur Riap luas bidang dasar adalah ukuran kemampuan pohon-pohon atau tegakan untuk memproduksi elemen xilem. Produksi ini sebagian dikontrol secara genetis tetapi dipengaruhi juga oleh faktor-faktor lingkungan biotis, fisik dan kimia. Dengan berkembangnya tegakan, luas bidang dasar terakumulasi dan dimaksimalkan pada kondisi stok penuh. 2.2.1. Luas Bidang Dasar sebagai Fungsi Kualitas Tempat Tumbuh dan Umur Untuk mengerti perlakuan silvikultur biasanya seseorang perlu bekerja pada tabel-tabel hasil. Untuk jenis tertentu, penggunaan tabel hasil menghendaki pengetahuan kualitas tempat tumbuh dan umur tegakan. Karena luas bidang dasar merupakan salah satu karakteristik yang paling penting dalam deskripsi tegakan, pengetahuan pengaruh kualitas tempat tumbuh dan umur terhadap luas bidang dasar diperlukan untuk diskusi pertumbuhan tegakan. 2.2.2. Luas Bidang Dasar sebagai Fungsi Jenis dan Umur Mengenai kecenderungan tegakan mempunyai stok baik dan tidak dikelola yang mendatar dengan umur yang diberikan. Kualitas tempat tumbuh berbeda kecuraman kurva awal pertumbuhan dan total luas bidang dasar ketika kurva mendatar. Keseragaman unsur di antara kualitas tempat tumbuh untuk menimbulkan perubahan pada kecepatan kurva pertumbuhan luas bidang dasar.

Jenis bervariasi dalam jauhnya perbedaan luas bidang dasarnya pada umur tertentu dari tempat tumbuh satu ke tempat tumbuh yang lain. Akan merupakan penyederhanaan yang baik jika variasi luas bidang dasar dapat terikat pada toleransi jenis. Terdapat cukup korelasi untuk menjamin bahwa toleransi mempunyai pengaruh, tetapi perilaku yang tak menentu dalam hubungannya dengan toleransi jenis, mungkin karena kenyataan bahwa pohon-pohon toleran lebih intoleran sesuai dengan umurnya, menunjukkan bahwa banyak perbedaan genetis dan tempat tumbuh lain mempengaruhi pertumbuhan luas bidang dasar tegakan. 2.2.3. Pengaruh Jumlah Pohon terhadap Luas Bidang Dasar dan Volume Dengan bertambahnya jumlah pohon per hektar, luas bidang dasar akan bertambah pada setiap pohon, yang menambah jumlah luas bidang dasar yang sama sampai pohon-pohon mulai bersaing satu sama lain (Baskerville, 1965). Sesudah persaingan antar pohon mulai dan intensif karena jumlah pohon bertambah, jumlah luas bidang dasar pohon akan bertambah, tetapi luas bidang dasar ke pohon akan berkurang. Akhirnya dengan jumlah pohon yang berlebihan, jumlah luas bidang dasar pohon akan berkurang, seperti juga akan terjadi pada luas bidang dasar rata-rata per pohon. Alasan untuk pengurangan luas bidang dasar total dengan bertambahnya jumlah pohon termasuk pengurangan produksi hasil fotosintesis yang mungkin, proporsi respirasi terhadap fotosintesis yang bertambah dan apa yang merupakan penyebab utama yang paling mungkin, pembatasan suplai kelembaban dan hara yang jelek. 2.2.4. Riap Luas Bidang Dasar setiap Pohon

Untuk tegakan normal dan berkerapatan penuh pada tempat tertentu, riap luas bidang dasar per pohon tetap relatif konstan pada kisaran umur 40 sampai 60 tahun. Kurva anamorfik data plot menerangkan keseragaman kenaikan 7 persen luas bidang dasar dan bisa menambah keseragaman riap per pohon, tetapi penampilan pohon rata-rata dalam dan antar tempat tumbuh memberikan gambaran perkembangan tegakan yang lebih baik. 2.3. Pertumbuhan Volume Tegakan Pengertian utama dalam pengukuran kualitas tempat tumbuh bahwa yang diukur adalah produktivitas tempat tumbuh untuk jenis tertentu selama periode waktu tertentu. Volume foot kubik tegakan adalah fungsi luas bidang dasar dan tinggi, sedangkan volume board-foot tergantung pada diameter tegakan rata-rata, jumlah pohon dan tinggi. Karena itu jika volume produksi akan ditingkatkan, maka harus mampu mengubah satu atau lebih dimensi ini untuk memungkinkan pertumbuhan tambahan. 2.3.1. Pertumbuhan Tinggi Tegakan Pertumbuhan meninggi pohon pada tempat tumbuh tertentu dengan umur tertentu diasumsikan ditentukan oleh tanah dan iklim, kecuali kerapatan tegakan. Pertumbuhan meninggi pohon dipengaruhi citra jelek dalam tegakan ynag sangat terbuka dan sangat rapat. Karena perkembangan meninggi dalam keadaan rapat tetap konstan, volume mempunyai hubungan garis lurus dengan luas bidang dasar. Sejauh penambahan jumlah pohon per hektar menambah luas bidang dasar dan menjaga hubungan garis lurus volume luas bidang dasar, kerapatan tidak berpengaruh nyata dalam pertumbuhan meninggi. Bila luas bidang dasar menurun

dengan

kenaikan

jumlah

pohon,

pertumbuhan

volume

dan

barangkali

pertumbuhan meninggi juga kurang. 2.3.2. Luas Bidang Dasar Luas bidang dasar sangat bervariasi diantara plot yang terpilih sebagai mempunyai stok penuh untuk pembuatan tabel hasil normal karena pengukuran ini diambil pada titik waktu terpisah dalam perkembangan tegakan. Satu tegakan bisa mencapai stok penuh dengan sangat cepat dari kondisi yang sebelumnya mempunyai stok kurang dan yang lain telah mempunyai stok lebih untuk periode yang panjang. Tegakan cenderung mendekati kenormalan. Karena itu pada tegakan yang dikelola sulit untuk menjaga luas bidang dasar pada setiap titik jauh di atas tingkat normal, sehingga produksi tidak bisa ditingkatkan dengan menaikkan luas bidang dasar ke tingkat yang lebih tinggi 2.3.3. Diameter Tegakan Rata-rata Didefinisikan sebagai diameter yang sesuai dengan luas bidang dasar ratarata. Diameter rata-rata juga merupakan parameter tegakan yang jelek karena parameter ini berubah oleh setiap pohon yang kelewat besar atau kelewat kecil dalam populasi. Pertumbuhan diameter adalah salah satu faktor penting yang hamper semuanya dapat dikontrol. Pengaruh kenaikan kecil dalam jumlah pohon telah ditunjukkan memberikan pengurangan diameter tegakan rata-rata secara nyata. Sementara kenaikan luas bidang dasar mengakibatkan volume foot kubik lebih tinggi, pengurangan diameter tegakan rata-rata akan menurunkan volume boardfoot tegakan, dengan konsekuensi berkurangnya nilai tegakan.

Kehati-hatian harus dilakukan dalam evaluasi kenaikan diameter tegakan rata-rata sepanjang waktu. Pengukuran yang dilakukan sesudah satu periode pertumbuhan cenderung diperbesar oleh kematian, biasanya pada ukuran kelaskelas ukuran terkecil yang telah terjadi selama periode. 2.4. Pengaruh Perlakuan terhadap Pertumbuhan Volume Tegakan Umumnya pengaruh penjarangan adalah merendahkan hasil total tetapi untuk menaikkan produktivitas yang laku dijual. Pada percobaan penjarangan di Eropa, merupakan praktek yang biasa untuk menyelamatkan yang mati pada plotplot kontrol yang tidak dijarangi dan memasukkan volume ini dalam ukuran produksi total. Dengan tidak memasukkan kematian yang diselamatkan ini dalam ukuran produksi pada plot-plot kontrol yang tidak dijarangi, yang pasti akan dipraktekkan di negara ini, penjarangan dapat ditunjukkan meningkatkan hasil total jika kerapatan dijaga. 2.4.1. Luas Permukaan Daun dengan Perlakuan dan Tempat Tumbuh Sudah menjadi asumsi umum bahwa berbagai tebangan tengahan dan tebangan per bagian pada tegakan yang dikelola berdasarkan tidak sama umur menambah kedalaman tajuk dan membuka lebih banyak permukaan daun terhadap cahaya sehingga pertumbuhan meningkat. Jika penjarangan menyebabkan tegakan menjadi terbuka sampai pada keadaan tegakan tersebut tidak dapat menutup dalam periode tertentu, maka luas daun berkurang. Perubahan kondisi iklim, elevasi dan jenis akan mempengaruhi luas daun per meter persegi tegakan, sedangkan perubahan iklim lokal dari tahun ke tahun tidak berpengaruh. 2.5. Tabel Hasil Tegakan yang Dikelola

Hubungan antara riap bruto dan neto pada tegakan seumur, yang merupakan dasar teori penjarangan adalah hubungan antara produksi volume kubik neto total yang bertambah secara linier dengan umur sepanjang periode penjaranagn jika kematian potensial dipungut dan tegakan tetap berkerapatan penuh. Tabel hasil tegakan yang dikelola mempunyai sejarah panjang pada bagian lain dunia, tetapi tabel-tabel tersebut sekarang semakin tersedia di negara ini dengan diterapkannya pengelolaan pertumbuhan muda. Untuk memanipulasi

tegakan pertumbuhan muda diperlukan tabel hasil demikian untuk meramalkan hasil dengan ketelitian yang wajar. 2.6. Pertumbuhan dan Panjang Rotasi Produksi total tempat tumbuh tertentu tergantung pada panjang rotasi. Dasar untuk menentukan rotasi dotetapkan oleh kulminasi riap tahunan rata-rata, yaitu ketika kurva riap tahunan periodik memotong kurva riap tahunan rata-rata. Alternatif yang paling umum terhadap pendekatan ini adalah menentukan rotasi sebagai umur pada saat kecepatan pertumbuhan tahunan jatuh di bawah suatu tingkat yang dapat diterima, yaitu antara5 sampai 6 persen Pemeliharaan pertumbuhan cepat dengan penjarangan bisa menambah atau mengurangi panjang total yang tergantung pada criteria yang digunakan untuk menentukannya. Karena pemeliharaan yang baik menunda kulminasi riap tahunan rata-rata.Walaupun demikian, jika panjang rotasi ditentukanb dengan waktu yang diperlukan untuk mencapai diameter tegakan rata-rata tertentu, maka rotasi diperpendek. 2.7. Volume Bruto dan Neto

10

Produksi biomasa bisa dianggap sebagai pertumbuhan bruto tegakan, tetapi biasanya dinegara ini membatasi ukuran pertumbuhan bruto dengan pertumbuhan xilem batang utama. Dengan berkembangnya tegakan yang mempunyai stok penuh, biasanya terdapat pohon-pohon yang telah mati karena persaingan alami antara setiap dua periode pengukuran. Perbedaan volume antara dua pengukuran ini disebut riap neto periode tersebut.riap neto terdiri dari dua bagian, yaitu volume pohon-pohon yang diukur lebih awal dan volume pohonpohon yang telah tumbuh melebihi batas diameter minimum dan diukur pertama kali. Riap neto menaksir lebih rendah pertumbuhan nyata dalam suatu periode dengan volume yang dinyatakan pada pohon-pohon mati. Dalam mempertimbangkan pertumbuhan bruto atau neto tegakan, menarik perhatian untuk mempunyai estimasi mengenai seberapa kecil asimilasi total yang diproduksi, sebenarnya diletakkan sebagai xilem batang. Sampai proporsi asimilasi yang lebih tinggi dikonsumsi dalam respirasi dan produksi daun, cabang dan akar.

III. PENUTUP

3.1. Kesimpulan Dari pembahasan secara singkat yang telah dipaparkan, dapat diketahuai bahwa dalam bab pertumbuhan tegakan setidaknya terdapat tujuh pembahasan. Ketujuh pembahasan tersebut mengenai perkembangan tegakan baik seumur dan tidak seumur, luas bidang dasar pada tegakan seumur, pertumbuhan volume tegakan, pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan volume tegakan, tabel hasil tegakan yang dikelola, pertumbuhan dan panjang rotasi, serta volume bruto neto.

11

3.2. Saran Dengan adanya pembahasan mengenai pertumbuhan tegakan ini diharapkan kepada mahasiswa agar dapat minimalnya mengetahui secara singkat kemudian untuk lebih maksimalnya dalam memahaminya diharapkan kepada mahasiswa lainnya untuk mencari bahan-bahan bacaan lain yang berkenaan dengan hal ini, Sehingga diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai pertumbuhan tegakan tersebut.