Anda di halaman 1dari 55

gambaran pengetahuan pasien TB.

Paru tentangketeraturan minum obat di Desa Pamah KecamatanDelitua Kabupaten Deli Serdang Diposkan oleh keperawatan on Senin, 27 April 2009BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangTuberculosis (TBC) sudah dikenal sejak dulu kala.Penyakit ini disebabkan oleh kumanMycobacterium tuberculosis.kuman ini pada umumnya menyerang paru-paru dan sebagianlagi menyerang luar paru-paru,seperti kelenjar getah bening (kelenjar),kulit,usu/saluran pencernaan,selaput otak,dan sebagainya.Penyakit TBC merupakan masalah yang besar baginegara berkembang termasuk indonesia,karena diperkirakan 95% penderita TBC beradadinegara berkembang.dan 75% dari penderita TBC tersebut adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun).Tahun 1999,WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) memperkirakan setiap tahun terjadi583.000 orang penderita TBC dengan jumlah kematian sebanyak 140.000 orang.Secara kasar diperkirakan dari setiap 100.000 penduduk indonesia terdapat 130 orang penderita TBC paruyang sangat menular.Penyakit TBC menjadi masalah sosial karena sebagian besar penderitanya adalah kelompok usia kerja produktif,kelompok ekonomi lemah,dan tingkat pendidikan yang rendah.(Yoannes,2008)Secara umum dapat disampaikan bahwa situasi TB diawal abad 21 ini adalah : setiap hari20.000 orang jatuh sakit TB,setiap jam 833 orang sakit TB,setiap menit 13 orang jatuh sakitTB,setiap 5 detik satu orang jatuh sakit TB,setiap hari 5.000 orang meninggal akibatTB,setiap jam 208 orang meninggal akibat TB,setiap menit 3 orang meningal akibatTB,setiap 20 detik 1 orang meninggal akibat TB,dan setiap detik orang terinfeksi TB.(Tjandra,2006)Perbaikan sosial ekonomi,peningkatan taraf hidup dan lingkungan serta kemajuan teknologitelah banyak membawa perubahan.Di negara-negara maju,jauh sebelum ditemukan obat antiTB (tuberkulostatika dan tuberkulosid),jumlah penderita menurun 10-15 % per tahun, berkat perbaikan sosial dan ekonomi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyakit TBsebenarnya dapat hilang dengan sendirinya dari masyarakat berkat perbaikan sosial ekonomitanpa obat.(Ahmad,2008)Untuk penyakit TBC diIndononesia menduduki peringkat atas,tepatnya peringkat ketigasedunia.Diindonesia diperkirakan setiap tahunnya 150 ribuan orang meninggal akibatTBC.artinya,setiap hari ada sekitar 300 orang yang meninggal akibat TBC dinegara kita.(Tjandra,2006)Dari data yang diperoleh dari Desa pamah Kecamatan Delitua Kabupaten DeliSerdang,terdapat 10 orang yang menderita penyakit Tuberkulosis.Berdasarkan paparan diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentangGambaran Pengetahuan Pasien TB.Paru tentang keteraturan minum obat di Desa PamahKecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang.1.1. Perumusan MasalahBerdasarkan perumusan masalah diatas adalah bagaimana gambaran pengetahuan pasienTB.Paru tentang keteraturan minum obat di Desa Pamah Kecamatan Delitua Kabupaten DeliSerdang. 1.3. Tujuan Penelitian1.3.1. Tujuan UmumUntuk mengidentifikasi gambaran pengetahuan pasien TB.Paru tentang keteraturan minumobat di Desa Pamah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang1.3.2 Tujuan KhususUntuk mengidentifikasi gambaran pengetahuan pasien TB.Paru berdasarkan usia penderita Untuk mengidentifikasi gambaran pengetahuan pasian TB.Paru berdasarkan pendidikan penderita 1.4 Manfaat PenelitianHasil dari penelitian ini diharapkan dapat mempunyai manfaat bagi beberapa pihak :1.4.1 Instansi PendidikanSebagai bahan masukan pengembangan ilmu

pengetahuan di Sekolah Tinggi Ilmu KesehatanDeli Husada Delitua Medan1.4.2 Instansi KesehatanAgar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien,memberikan informasiyang akurat dan adekuat tentang gambaran tingkat pengetahuan tentang Keteraturan minumobat dengan kesembuhan pasien TB.Paru1.4.3 Untuk Peneliti SelanjutnyaMerupakan bahan informasi dan perbandingan untuk penelitian kasus tersebut dimasa yangakan dating.BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1. Pengetahuan (Knowledge)Pengetahuan adalah Informasi atau maklumat yang disadari oleh seseorang. Pengertian yanglain bahwa pengetahuan merupakan Pengamatan dan pengamalan inderawi dikenal sebagai pangetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori.(Meliono dkk,2007)Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaanterhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yaknisebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusiadiperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman, juga bisa didapat dari informasi yang disampaikan oleh guru, orang tua, teman, buku dan suratkabar. (Notoatmodjo, 2003)Pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakanseseorang (overt behavior). Tingkatan pengetahuan di dalam domain kognitif mempunyai 6tingkatan yaitu :1. Tahu (Know)Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yangspesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebabitu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang rendah.2. Memahami (Comprehension)Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentangobyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orangyang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajarinya. Aplikasi (Application)Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari padasituasi atau kondisi real (sebenarnya).4. Analisis (Analysis)Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannyasatu sama lain.5. Sintesis (Synthesis)Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.6. Evaluasi (Evaluation)Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaianterhadap suatu materi atau obyek.Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakantentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau informan. (Notoatmodjo,2003)2.2 Definisi Tuberkulosis (TBC)Tuberculosis (TBC) adalah penyakit akibat infeksi kuman Micobacteriumtuberculosis sistemis sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh,dengan lokasiterbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer .(Arif dkk,2000)Tuberculosis (TBC) merupakan salah satu jenis penyakit menular yangdisebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis.(sugino,2007)Tuberculosis atau TBC adalah infeksi karena bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dapatmerusak paruparu tetapi dapat juga mengenai sistem saraf sentral (meningitis,sistemlympatic,sistem neurologi(miliary TB),sistem genitourinary tulang dan sendi.(Yoannes,2008)2.3 Etiologi Penyakit TBCPenyakit TBC adalah sutu penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacteriumtuberculosis.Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal jugasebagai batang Tahan Asam (BTA) . Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Robert

Koch pada tanggal 24 maret 1882,sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut diberi namaBasil Koch.Bahkan,Penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum(KP).(Ahmad,2008)Selanjutnya menurut (Dr.Halim,2000) akan dikemukakan beberapa hal yang prinsip : M.tuberculosis termasuk familie mycobactericiae yang mempunyai beberapa genus,satudiantaranya adalah mycobacterium,yang salah satu spesiesnya adalah m.tuberculosis.M.tuberculosis yang paling berbahaya bagi manusia adalah tipe humanis (kemungkinaninfeksi type bovinus saat ini dapat diabaikan,sehingga higiene peternakan makinditingkatkan). Basil TB mempunyai dinding sel lipoid sehingga tahan asam,sifat ini dimanfaatkan olehRobert Koch untuk mewarnainya secara khusus.oleh karena itu,kuman ini disebut pula BasilTahan Asam (BTA).Karena sebenarnya Mycobacterium pada umumnya tahan asam,secara teoritis BTAbelumtentu identik ddengan basil TB.tetapi karena dalam keadaan normal penyakit paru yangdisebabkan oleh mycobacterium lain(yaitu m.atipik)jarang sekali ditemukan,dalam praktek BTA dianggap identik dengan basil TB.Untuk bakteri-bakteri yang lain hanya diperlukan beberap menit sampai 20 menit sampaimitosis,basil TB memerlukan waktu 12 sampai 24 jam.hal ini memungkinkan pemberian obatsecara intermiten(2-3 hari sekali).

Basil TB sangat rentan terhadap sinar matahari,sehingga dalam beberape menit saja akanmati.ternyata kerentanan ini terutama terhadap golombang cahaya Ultraviolet.Basil TB jugarentan.Basil TB juga rentan terhadap panas-basah ,sehingga dalam 2 menit saja basil TB yangdalam lingkungan basah sudah akan mati bila terkena air bersuhu 100 derajat.Basil TB jugaakan terbunuh dalam beberap menit bila terkena alkohol 70%,atau lisol 5%.2.4 Klasifikasi Penyakit TBCUntuk menentukan klasifikasi penyakit TBC,ada 3 hal yang perlu diperhatikan,yaitu sebagai berikut : Organ tubuh yang sakit : paru dan ekstra paru. Hasil pemeriksaan dahak Basil Tahan Asam (BTA): positif dan negatif BTA merupakan bakteri yang tidak rusak dengan pemberian asam Tingkat keparahan penyakitKlasifikasi TBC :1. TBC paru adalah TBC yang menyerang jaringan paru-paru.TBC paru dibedakan menjadi 2macam,yaitu sebagai berikut :a. TBC paru BTA positif (sangat menular)1. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 pemeriksaan dahak,memberikan hasil yang positif.2. Satu pemeriksaan dahak memberikan hasil yang positif dan fhoto rontgen dadamenunjukkan TBC aktif b. TBC paru BTA negatif Pemeriksaan dahak positif negatif/foto rontgen dada menunjukkan TBC aktif,positif negatif yang dimaksudkan disini adalah hasilnya meragukan,jumlah kuman yang ditemukan padawaktu pemeriksaan belum memenuhi syarat positif.2 TBC ekstra paru adalah TBC yang menyerang organ tubuh lain selai paru-paru,misalselaput paru,selaput otak,selaput jantung,kelenjar getah bening(kelenjar),tulang,persendiankulit,usus,ginjal,saluran

kencing.(yoannes,2008)2.5 Patofisiologi Penyakit TBCPenyakit TBC biasamya menyerang melalui udara yang tercemar dengan bakterimycobacterium tuberculosis yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk,dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa.bakteri ini bila seringmasuk dan terkumpul didalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang yang dengan daya tahan tubuh rendah),dan dapat menyebar melalui pembuluhdarah atau kelenjar getah bening.oleh sebab itulah TBC dapat menginfeksi hampir seluruhorgan tubuh seperti aru-paru,otak,ginjal,saluran pencernan,tulang,kelenjar getah bening,danlain-lain.meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.Saat ini mycobacterium tuberculosa berhasil menginfeksi paruparu,maka dengan segera akantumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat).biasanya melali serangkaian reaksiimmunologis bakteri ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding itu membuat jaringan disekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC ini akan menjadi dormant(istirahat).bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik,bentuk ini akan tetap dormant sepanjanghidupnya.sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang ,bakteriini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang didalam paruparu.ruang inilah yang nantinya menjadisumber produksi sputum(dahak).seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC.(Halim,2000)2.5.1 Patogenesis TB/TB ParuA. TB.Primer Pada sesorang yang belum pernah kemasukkan basil TB,tes tuberkulin akan negatif karenasistem imunitas seluler belum mengenai basil TB,bila seorang ini mengalami infeksi oleh basil TB,walau segra diprognosis oleh makrofagbasil TB akan mati,bahkan makrofagnyaakan mati.dengan demikian,basil TB inilalu dapat berkembang biak secara leluasa dalam 2minggu pertama dialveolus paru,dengan kecepatan 1 basil menjadi 2 basilsetiap 20 jam,sehingga pada infeksi oleh 1 basil saja,setelah 2 minggu akan bertambah menjadi100.000 basil(HLOM,1970)B. TB.Sekunder Yang dimaksud TB sekunder adalah penyakit TB yang baru timbul setelah 5 tahun terjadinyainfeksi primer,mulai sekarang apa yang disebut TB post-primer,secara internasional diberinama baru,TB sekunder (STYBLO,1978)patogenesisnya mencakup 2 jalur.Bila terjadi Sistem pertahanan tubuh (dalam hal ini sistem imunitas seluler) melemah,Basil- basil TB sedang tidur dapat aktif kembali.proses ini disebut reinfeksi endogen.Dapat pulaterjadi super-infeksi basil-basil TB baru dari luar,terutam dinegara-negara dengan prevalensiTB yang masih tinggi , kemungkinan ini tidak boleh diabaikan.cara infeksi denan basil-basil baru disebut reinfeksi eksogen.(Dr.Halim,2000)2.5.2 Faktor-faktor yang mempermudah timbulnya TBBerhubung daya tahan tubuh terhadap penyakit TB terutama ditentukan oleh ampuhnyasistem imunitas seluler,setiap faktor yang mempengaruhinya secara negatif akannmeningkatkan kerentanan terhadap TB,seperti AIDS,pemakaian kortikosteroid sistemik jangka lama,diabetes melitus,kurang gizi,dsb. Diketahui juga bahwa orang yang mempunyai bekas penyakit TB,walaupun termasuk klasifikasi tenang,bila belum pernah menerima pengobatan spesifik lengkap,kemungkinan menderita TB jauh lebih besar dibandingkanddengan orang normal.Akhirakhir ini juga diketahui bahwa mereka yang tinggi dan kurus lebih besar kemungkinannya mendapat TB bila dibanding dengan mereka yang tidak kurus.(Halim,2000)2.5.3 memastikan

Penyakit TBCUntuk memastikan bahwa seseorang menderita penyakit TBC atau tidak,dapat dilakukan pemeriksaan sebagai berikut : Untuk mengetahui secara pasti seseorang menderita penyakit TBC,di;lakukan pemeriksaan pada dahak/riaknya,bukan ludahnya, Pemeriksaan dahak dilakukan sebanyak 3 kali selama 2 hari yang dikenal dengan istilahSPS (Sewaktu-PagiSewaktu)- Sewaktu (hari pertama)Dahak penderita diperiksa dilaboratorium sewaktu penderita datang pertama kali.- Pagi (hari kedua)Sehabis bangun tidur keesokan harinya,dahak penderita ditampung dalam pot kecil yangdiberi petugas laboratoriun,ditutup rapat,dan dibawa kelaboratorium untuk diperiksa.- Sewaktu (hari kedua)Dahak penderita dikeluarkan lagi dilaboratorium (penderita datang kelaboratorium)untuk diperiksa. Jiika hasil positif,orang tersebut dapat dipastikan menderita penyakit TBC.(Dr.Yoannes,2008)2.5.4 Resiko PenularanPenderita TBC dengan bakteri dalam darah positif (+) sangat menular Penderita TBC dengan bakteri dalam darah positif (+) setelah diobati beberapaminggu,resiko penularannya kecil Penderira TBC dengan bakteri dalam darah negatif (-) umumnya tidak menular Penularan bakteri TBC melalui udaraOrang dengan infeksi HIV,imunitasnya rendah mudah terserang TBC atau penyakitlainnyadan positif terinfeksi TBC. 2.6. Tanda dan Gejala Penyakit TBCGejala penyakit TBC ini dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuaidengan organ yang terlibat.gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru,sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.2.6.1 Gejala sistemik/khususDemam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama,biasanya dirasakan malam hari disetaikeringat malam.kadang-kadang serangan seperti influensa dan bersifat hilang timbul Penurunan nafsu makan dan berat badan Batuk sekama lebih dari 30 hari(dapat juga disertai darah) Perasaan tidak enak(malaise)lemah Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit dan biasanya multipel Diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare2.6.2 Gelaja Khusus Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena,bila terjadi sumbatan sebagian bronkus(saluran yang menuju keparu-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yangmembesar, akan menimbulkan suara mengi,suara nafas melemah yang disertai sesak. Kalau ada cairan dirongga pleura(pembungkus paru-paru),dapat disertai dengan keluhansakit dada Bila mengenai tulang,maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang apada suatu saatdapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit diatasnya,pada muara ini akan keluar cairan nanah Pada anak-anak akan mengenai otak (lapesan pembungkus otak) dan disebutmeningitis(radang selaput otak),gejalanya adalah demam tinggi adanya penurunan kesadarandan kejang-kejang.Pada anak tidak menimbulkan gejala,TBC dapat dideteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC Patu dewasa.kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TBCmemberi test uji tuberculin positif.pada anak usia 3 bulan-5 tahun yang tinggal serumahdengan penderita dengan BTA positif,dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaanserologi/darah.(Supeno,2007)Petunjuk WHO untuk diagnosis Tuberculosisa. Dicurigai Tuberculosis1. Sakit dengan riwayat kontak penderita tuberkulosis dengan diagnosis

pasti (BTA positif)2. Keadaan klinis tidak membaik setelah menderita campak atau batuk rejam, Berat badanmenurun, batuk mengi yang tidak membaik dengan pengobatan antibiotik untuk pernafasan b. Pasti tuberkulosis (confirmed TB)- pembesaran kelenjar superfisial yang tidak sakit Uji tuberkulin positif (10 mm/lebih)- Foto rontgen paru sugestif tuberkulosis- Pemeriksaan histologi biopsi sugestif tuberkulosis- Respons yang baik pada pengobatan dengan OATDitemukan basil tuberkulosis pada pemeriksaan langsung atau biakan.identifikasimycobacterium tuberculosis pada karakteristik biakan.2.7 Penegakkan Diagnosis TBCApabila seseorang dicurigai menderita atau tertular penyait TBC, maka ada beberapa hal pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk memberikan diagnosa yang tepat antara lain:Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.Pemeriksaan fisik secara langsung Pemeriksaan laboratorium(darah,dahak,cairan otak) Pemeriksaan patologi anatomi (PA) Rontgen dada (thorax photo) Uji tuberkulin Tes mantoux (terutama pada anak-anak) Pemeriksaan laju endap darah Yang harus menjalani pemeriksaan TBC yakni : Orang yang diduga mempunyai gejala TBC Orang yang dilingkungannya mengidap penyakit TBC (bisa keluaga,teman dan pembanturumah tangga).(Halim,2000)2.7.1 Pengobatan Penyakit TBCPengobatan bagi penderita penyakit TBC akan menjalani proses yang cukup lama, yaitu berkisar dari 6 bulan sampai 9 bulan atau bahkan bisa lebih.penyakit TBC bisa disembuhkansecara total apabila penderita secara rutin mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter dan memperbaiki daya tahan tubuhnya dengan gizi yang cukup baik.Untuk mengetahui perkembangannya yang kebih baik maka disarankan pada penderita untuk menjalani pemeriksaan baik darah,sputum urine dan X-ray atau raontgen setiap 3 bulannya.Menurut (Tjandra,2006) ,pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsipprinsip sebagai berikut : Obat harus diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat,dalam jumlahcukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.Untuk menjamin kepatuhan pasien dalam menelan obat,pengobatan dilakukan dengan pengawasan langsung(DOT) oleh seorang pengawas menelan obat (PMO).Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap,yaitu tahap awal intensif dan tahap lanjutkan Tahap Awal (intensif)- Pada tahap awal intensif (awal) pasien mendapat 3 atau 4 obat sekaligus setiap hari selama 2 bulan dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya

kekebalan obat- Bila pengobatan tahan intensif tersebut diberikan secara tepat,biasanya pasien menular menjadi tidak menular dala kurun waktu 1-2 bulanTahap Lanjutan- Pada tahap lanjutan pasien pasien mendapat jenis obat lebih sedikit,2 macam saja.namundalam jangka waktu yang lebih lama biasanya 4 bulan.- Obat dapat diberikan setiap hari maupun secara intermiten,beberapa dalam 1 minggu- Tahap lanjutan penting adalah untuk mencegah terjadinya kekambuhanPaduan pengobatan TB Paru Kategori 1- Pasien baru TB Paru BTA positif - Pasien TB Paru BTA negatif dengan gambaran foto thorax sesuai TB- Pasien TB diluar paruKategori 2- Pasien yang sudah sembuh lalu kambuh lagi- Pasien gagal , yang tidak sembuh diobati- Pasien dengan pengobatan setelah sempat berhenti berobat2.7.2. Tujuan Pengobatan TBCPengobatan penyakit TBC dilakukan dengan beberapa tujuan sebagai berikut :1. Menyembuhkan penderita2. Mencegah kematian3. Mencegah kekambuhan4. Menurunkan resiko penularan2.7.3. Tempat berobat penyakit TBC1. Puskesmas2. Rumah Sakit3. BP4/Rumah Sakit paru4. Dokter umum atau dokter spesialisHal-hal yang harus diperhatikan dalam Pengobatan1. Kuman penyakit TBC kebal sehingga penyakitnya lebih sulit diobati2. Kuman berkembang lebih banyak dan menyerang organ lain3. Membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh4. Biaya pengobatan semakin mahal5. Masa produktif yang hilang semakin banyak 2.7.4. Dasar penatalaksanaanPendidikan keluarga dan peran serta keluarga untuk :Menjelaskan bahwa penyakit TBC Dapat disembuhkan Minum obat secara teratur dan benar Makan-makanan yang baik dengan gizi yang seimbang Istirahat yang cukup 2.7.5. faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pengobatan :Relatif tidak penting Istirahat yang cukup Perumahan yang sehat Makan-makanan bergizi Perawatan Iklim Faktor psikisRelatif penting Luasnya penyakit menyerang tubuhPenting Jenis,jumlah dan dosis obat yang cukup Teratur dalam menjalankan proses pengobatan2.8. Jenis obat. enis obat untuk membunuh kuman TB terdiri dari :1. Rifampisin2. INH3. Pyrazinamid4. Etambutol,pada kasus tertentu perlu penambahan5. Streptomisin atau kanamisi injeksi,(Ahmad,2008)2.9. Dosis dan Waktu pengobatanObat TBC harus diminum secara teratur sampai pasien dinyatakan sembuh Lama pengobatan umumnya berlangsung selama 6-8 bulan Selama 2 bulan pertama,8 tablet sekaligus diminum setiap hari Pada 4 bulan berikutnya,3 table sekaligus diminum seminggu 3 kali Obat diminum satu per satu,dan harus habis dalam 2 jam Sebaiknya obat diminum sebelum makan pagi,atau sebelum tidur malam

(Joko,dkk 2003)2.10. Dampak Minum obat tidak teratur Bila tidak minum obat secara teratur akan terjadi :Kuman TBC tidak mati Timbul resistensi obat,kuman menjadi kebal Penyakit TBC tidak sembuh 2.11. Dalam pengobatan yang harus diperhatikan adalah :Berhenti merokok,hindari minumminuman beralkohol,dan obat bius Berobat atau periksakan diri anda keDokter Jangan menghentikan minum obat sendiri Dianjurkan meminum obat dalam keadaan perut kosong (pagi) 2.12. Perubahan saat minum obat2.12.1. Efek Samping Saat Minum Obat Antara Lain :Kulit berwarna kuning Air seni berwarna gelap seperti minum air theMual dan muntah Hilang nafsu makan Perubahan pada pengelihatan Demam yang tidak jelas Lemas dan keram perut,(Yoannes,2008) 2.13. Strategi DOTSDOTS adalah suatu strategi yang sudah dibaku oleh badan kesehata dunia WHO dala program pemvberantasan TB.DPTS sendiri kepanjangan dari Directly ObservedTreatment,short-course yang mempunyai 5 komponen :1. Komitmen pemerintah dalam program pemberantasan TB dimasyarakat sampai tuntas,2. Diagnosis pasien-pasien TB berdasar pemeriksaan dahak (sputum BTA)secaramicroskopik.3. Pemberian obat secara standart selama minimal 6 bulan.4. Terjamin ketersediaan obat . Pencatatan dan pelaparan yang baik terhadap kasus-kasus TB yang diobati.Dimana dankapan saja pasien diobati harus dicatat dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan setempat.(Ahmad,2008)2.14. Cara Pencegahan Penyakit TBC Hidup sehat (makan-makanan yang bergizi,istirahat yang cukup,olah raga teratur,hindarirokok,alkohol,obat bius,hindari sterss) Bila batuk mulut ditutup Jangan meludah sembarang tempat Lingkungan sehat Vaksinasi pada bayi BCGBAB IIIKERANGKA PENELITIAN3.1. Kerangka KonsepKerangka konsep ini bertujuan untuk memperlihatkan Gambaran pengetahuan pasienTB.Paru tentang Keteraturan makan obat .3.2 Defenisi Konseptual dan Operasional3.2.1 PengetahuanDefinisi konseptual :Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan

penginderaanterhadap suatu objek tertentu.Definisi opersaional :Pengetahuan adalah hal-hal yang diketahuai pasien tentang penyakit Tb.Paru3.2.2 Keteraturan minum obat dengan kesembuhan pasie TB.Paru1. Obat adalah disebut juga OAT bukanlah obat tunggal,tetapi merupakan kombinasi dari beberapa jenis,yaitu isoniazid,rifampisin,pirasinamid,dan etambutol,pada kasustertentu/khusus diperlukan tambahan suntukan sterptomisin.(Dr,yoannes,2008)2. Dosis adalah Obat yang harus diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obatdalam jumlah cukup dan tepat sesuai dengan kategori pengobatan((Tjandra,2006)3. Waktu adalah Diperlukannya kesabaran dan ketelatenan,mengingat pengobatan TB sifatnya jangka panjang,minimal 6 bulan,dengan kombinasi obat yang lebih dari empat jenis.(yoannes,2008)4. Kesembuhan penyakit TBC merupakan penyakit yang bisa disembuhkan apabila penderitamengikuti anjuran tenaga kesehatan untuk teratur minum obat dengan dosis yangdianjurkan,serta mengkonsumsi makanan yang bergizi cukup untuk menigkatkan daya tahantubuh.(Arif,2008)3.2.2 Defenisi operasional1. Obat adalah suatu zat yang dimasukkan kedalam tubuh sesuai dosis yang telah ditentukanyang memiliki fungsi tertentu dalam tubuh.2. Dosis adala takaran yang diberikan dalam setiap jenis obat.3. Waktu adalah jangka yang telah ditentukan untuk mencapai suatu tujuan.4. Kesembuhan adalah suatu proses perubahan yang terjadi dari sakit menjadi lebih baik.BAB IVMETODOLOGI PENELITIAN4.1. Desain penelitianPenelitian ini merupakan penelitian Deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh/menelaahtentang Gambaran pengetahuan pasien TB.Paru tentang Keteraturan minum obat di DesaPamah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang tahun 20094.2. Populasi dan sampel4.2.1. PopulasiPopulasi adalah keseluruhan objek yang diteliti, populasi pada penelitian ini adalah seluruhPasien TB.Paru yang berada di Desa Pamah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdangtahun 2009 sebanyak 10 orang.4.2.3. SampelPengambilan sampel ini diambil dengan menggunakan tehnik Accidental sampling,yaitu pengambilan sampel/responden yng kebetulan ada atau tersedia.Dengan kriteria sampel yangtelah ditentukan sebagai berikut :1. Pasien TB.Paru yang beradan didesa Pamah2. Bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.3. Mampu berbahasa Indonesia dan berkomunikasi dengan baik.4. Tidak ada komplikasi penyakit lain.4.3. Tempat dan waktu penelitianPenelitian dilakukan di Desa Pamah. selama bulan Januari sampai dengan Februari 2009.4.4. Pertimbangan etik Penelitian ini dilakukan setelah mendapat rekomendasi dari Program Studi Ilmu Keperawatan(STIKes) DELI HUSADA Delitua, dan izin dari Kepala Desa di Desa Pamah. Dalam penelitian ini ada beberapa pertimbangan etik yang harus diperhatikan yaitu, hak kebebasandan kerahasiaan menjadi responden, serta bebas dari rasa sakit baik secara fisik ataupuntekanan psikologis.Sebelum melaksanakan penelitian responden akan diberikan penjelasan mengenai manfaatdan tujuan penelitian serta kerahasiaan responden dengan tidak mencantumkan nama padalembar kuisioner, tapi dengan memberi kode pada masing\masing lembar tersebut.Selanjutnya responden diminta untuk membaca dan memahami isi surat persetujuan.Apabila responden bersedia maka responden diminta untuk menandatangani surat persetujuanyang telah dibaca dan dipahami. Jika pasien menolak untuk berpartisipasi dalam penelitian

ini maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-haknya. Kerahasiaaninformasi pasien dijamin oleh peneliti, dan hanya kelompok data tertentu saja yang akandilaporkan sebagai hasil penelitian.4.5. Instrumen penelitianInstrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner, kuisioner ini terdiri dari :kuisioner data demografi pasien yang meliputi umur,jenis kelamin,pendidikan, dan status perkawinan dan kuisioner tentang Gambaran pengetahuan tentang Keteraturan makan obatdengan kesembuhan pasien TB.Paru di desa Pamah sebanyak 20 pertanyaan..4.6. Tehnik pengumpulan dataData yang terkumpul dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data diperoleh secaralangsung dari diberikan pengarahan tentang penelitian yang dilakukan dengan kuisoner yangakan dibagikan, kemudian lembaran kuisoner dibagi kepada pasien untuk diisi dan dijawabsesuai dengan pertanyaan yang terdapat pada lembaran kuisoner yang berisi tentangGambaran pengetahuan pasien TB.Paru tentang Keteraturan makan obat diDesa PamahKecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang tahun 20094.7. Pengolahan dataPengolahan dilakukan setelah pengumpulan data dilaksanakan dengan maksud agar data yangdikumpulkan memiliki sifat yang jelas, adapun langkah- langkah pengolahan data yaitu:(Arikunto, 2002)a. EditingYaitu proses pengeditan dari jawaban responden pada quisoner dimana perlengkapan yangdikumpulkan diberi tanda. b. CodingProses pemberian tanda pada jawaban respon dan pada kuesioner dimana setiap data yangdikumpulkan diberi tanda.c. TabulatingMemasukkan jawaban responden pada tabel dimana mentabulasi data berdasarkan kelompok data yang telah ditentukan kedalam tabel distribusi frekuensi.4.8. Aspek pengukuranKuisioner data demografiKuisioner data demografi dibuat ke dalam tabel distribusi frekuensi.Kuisioner PengetahuanKuisioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan Gambaran pengetahuanPasien TB.Paru tentang Keteraturan minum obat sebanyak 20 pertanyaan, dengan aspek pengukuran menggunakan Skala Guttman sebagai berikut : (Arikunto, 2005) dalam kuisioner terdapat pernyataan positif dan negatif, pernyataan positif jawaban ya skor 1 dan untuk menjawab tidak skor 0,sebaliknya apabila tidak ada hubungan dengan pernyataannegatif,jawaban ya skor 0 dan untuk jawaban tidak skor 1,dengan total skor (tertinggi)20.4.9. Analisa dataSetelah semua data terkumpul,maka peneliti melakukan analisa melalui beberapa tahap antaralain: memeriksa kelengkapan identitas dan data responden serta memastikan bahwa jawabantelah diisi.kemudian mengklasifikasikan data yang telah dikumpulkan.Dari pengolahan data statistic deskriptif,didapatkan frekuensi dan persentasi untuk mendeskripsikan tentang data demografi, pengetahuan. serta memperlihatkan total skor dan kategori pengetahuan pasien TB.Paru tentang keteraturan minum obat .Dengan kategori: pengetahuan menggunakan Rumus Sugiono 2005Baik : menjawab benar 76% - 100%Cukup : menjawab benar 60% - 75%Buruk : menjawab benar < 60%Jumlah skor yang diperolehX 100 %Jumlah skor skor seluruh itemBAB VHASIL DAN PEMBAHASAN5.1. HasilPenelitian telah dilakukan pada bulan januari 2009 di desa Pamah Kecamatan DelituaKabuoaten Deli Serdang,diperoleh 10 orang pasien TB.Paru.Berikut tabulasi hasil dari karakteristik responden TB.Paru di desa Pamah Kecamatan DelituaKabuoaten Deli Serdang.Tabel 5.1 Distribusi responden berdasarkan umur di Desa Pamah Tahun 2009Umur (Tahun) Jumlah Persentase (%)19-30 2 20%31-50 7 70%>50 1 10Total 10 100%Berdasarkan tabel diatas responden yang

paling banyak dijumpai pada kelompok umur 31-50tahun yaitu 7 orang (70%).Tabel 5.2. Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin di desa Pamah Tahun 2009.Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)Laki-laki 6 50%

Perempuan 4 40%Total 10 100%Berdasarkan tabel diatas responden paling banyak dijumpai pada kelompok jenis kelaminlaki-laki yaitu 6 orang (60%)Tabel 5.3 Distribusi responden berdasarkan pendidikan di desa Pamah Tahun 2009Pendidikan Jumlah Persentase (%)SD 5 50%SMP 3 30%SMA 2 20%DIPLOMA 0 0SARJANA 0 0Total 10 100%Berdasarkan tabel diatas responden paling banyak dijumpai pada kelompok pendidikan SDyaitu 5 orang (50%)Tabel 5.4 Distribusi responden berdasarkan pekerjaan di Desa Pamah Tahun 2009Pekerjaan Jumlah Persentase (%)Tidak kerja 2 20%PNS 0 0Petani 3 30%Wiraswasta 5 50%Total 10 100%Berdasarkan tabel diatas responden paling banyak dijumpai pada kelompok pekerjaanWiraswasta yaitu 5 orang (50%)Tabel 5.5 Distribusi responden berdasarkan penghasilan di Desa Pamah Tahun 2009Penghasilan Jumlah Persentase (%)Rp.500.000Rp.1.000.000 4 40%>Rp.1.000.000 0 0Total 10 100%Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa responden lebih banyak pada penghasilan<500.000 yaitu 6 orang (60%)Tabel 5.6 Distribusi responden pengetahuan di Desa Pamah tahun 2009Pengetahuan Jumlah Persentase (%)Baik 1 10%Sedang 4 40%Buruk 5 50%Total 20 100% Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa responden lebih banyak pada tingkat pengetahuan buruk yaitu 5 orang (50%)5.2 PembahasanPengetahuanPengetahuan merupakan hasil dari tahu,dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaanterhadap suatu objek tertentu.Pengetahuan atau kognitif merpakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior).Berdasarkan hasil penelitian yang didapat bahwa Pengetahuan tentang penyakit TB.Parutentang keteraturan minum obat di desa Pamah tahun 2009, pengetahuan paling banyak padakategori buruk yaitu sebanyak 5 orang (50%), yang berpengetahuan baik sebanyak 1 orang(10%), yang berpengetahuan buruk 4 orang (40%).,Hal ini disebabkan oleh banyaknya pemberian informasi mengenai penyakit TB.Paru di desa Pamah.Menurut asumsi peneliti, petugas kesehatan dalam proses penyembuhan melalui pengobatandan perawatan dari para medis.Peran petugas kesehatan yang sering berinteraksi danmemiliki tanggung jawab dalam hal proses penyampaian informasi mengenai penyakitTB.Paru serta petugas kesehatan juga harus berperan aktif dalam pelaksnaannya bagi pasiendalam membantu proses pengobatan.Pada saat peneliti membagikan kuisioner,respondentidak terlihat bingung dan mengerti tentang penyakit TB.Paru.walaupun masih ada yang berpengetahuan buruk kita kembalikan pada pasien tersebut,dan tugas tenaga medis lebhmeningkatkan informasi mengenai penyakit TB.Paru.BAB VIKESIMPULAN DAN SARAN6.1. KesimpulanBerdasarkan dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :1. Pengetahuan pasien tentang penyakit TB.Paru paling banyak pada kategori sedang diPuskesmas Delitua tahun 2009.2. Petugas kesehatan berperan aktif dalan proses pengobatan penyakit TB.Paru di PuskesmasDelitua.6.2. Saran1. Kepada petugas kesehatan perlu memberikan lebih pengetahuan kepada Pasien tentang penyakit TBParu.2. Pada petugas kesehatan harus lebih berperan aktif dalam peningkatan pengobatan bagiPasien penyakit TB.Paru. PENYAKIT ISPA

Kamis, 20 Agustus 2009

Diposkan oleh bisnis ecomerce duta4future di 02:39 0 komentar Senin, 17 Agustus 2009 penyakit ispa di pekanbaru 2008 PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN UNIVERSITAS ABDURRAB PEKANBARU KARYATULIS ILMIAH JUNI 2008 Nama : Mardi Purna Irawan NIM : 1005037 Judul : Gambaran Sikap Dan Tindakan Masyarakat Terhadap Ispa Pada Anak Usia 1-4 Tahun Di Kelurahan Umban Sari Kecamatan Rumbai Pekanbaru Tahun2008. iv Halaman + 12 Daftar Pustaka + XIII Lampiran ABSTRAK Infeksi Saluran Pernapasan Akut merupakan keadaan infeksi anak paling lazim, tetapi kemakanaanya tergantung frekuensi relatif dari komplikasi yang terjadi pada anak. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Gambaran Sikap Dan Tindakan Kepala Keluarga Terhadap Ispa Pada Anak Usia 1-4 Tahun Di Kelurahan Umban Sari Kecamatan Rumbai Pekanbaru Tahun2008. Jenis penelitian ini yang digunakan adalah jenis deskriptif dan objek penelitian adalah kepela keluarga, yaitu sebanyak 97 responden . Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling dan analisa data. Pengolahan data dialakukan dengan melihat hasil perhitungan persentase hasil kuesioner. + 35

Berdasarkan data keseluruhan tentang sikap terhadap ispa pada anak usia 1-4 tahun dengan hasil nilai rata-rata dari keseluruhan item yang telah dijawab setiap responden untuk sikap positif berjumlah 80 responden (82,47%) sedangkan sikap negatif 17 responden (17,53%). Berdasarkan tabel 5.14 diatas dapat kita lihat tindakan kepala keluarga tehadap ispa pada anak usia 1-4 tahun berdasarkan data yang tertuang di atas yang dikategorikan baik 82 orang (84,53%), cukup 14 orang (14,43%) dan kurang 1 orang (1,03%.) Kata kunci : Sikap dan tindakan kepala keluarga terhadap ispa Daftar bacaan : 12 referensi (Tahun 2003-2007). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Infeksi Saluran Pernapasan Akut merupakan keadaan infeksi anak paling lazim, tetapi kemakanaanya tergantung frekuensi relatif dari komplikasi yang terjadi pada anak. Sindrom ini lebih luas dari pada orang dewasa. Biasanya anak dengan ISPA mengalami penurunan nafsu makan tetapi tindakan memaksa dia untuk makan hidangan tidak ada gunanya (Nelson, 2000).

Sebagian besar penyakit pada anak-anak adalah infeksi, sebagian besar infeksi ini terjadi pada saluran nafas, sebagian besar adalah ISPA, kebanyakan adalah virus. Ispa dapat mencetus kejang demam, dan serangan asma (lectur, 2002).

Dinding dan seluruh sistem pernapasan dilapisi oleh mukosa yang saling berhubungan sehinga infeksi yang terjadi disuatu tempat dengan mudah bisa mempengaruhi bagian saluran pernapasan atas lainnya. ISPA juga menjadi alasan utama mengapa pasien lebih memilih perawatan ambulatory atau rawat jalan. Oleh karena itu menjadi penting bahwa perawat perlu

dipersiapkan untuk memberikan perawatan terbaik, memberikan penyuluhan dan informasi mengenai obat- obatan kepada pasien. Meskipun teknologi kedokteran telah berkembang sedemikian pesatnya, namun pertanyaan-pertanyaan klinis yang umum untuk penyakit ISPA selalu mementingkan pada strategi yang efektif untuk pencegahan, diagnosa dan perawatan (Carlene, 2001).

Anak-anak merupakan kelompok masyarakat yang rentan untuk terserang berbagai penyakit khususnya penyakit infeksi. Menurut temuan organisasi kesehatan dunia (WHO) diperkirakan 10 juta anak meninggal tiap tahun. Yang disebabkan karena diare, HIV/AIDS, Malaria dan ISPA (Depkes RI, 2007).

Penyakit ISPA merupakan suatu masalah kesehatan utama di indonesia karena masih tingginya angka kejadian ISPA terutama pada Aak-Anak dan balita. ISPA mengakibatkan sekitar 20%-30% kematian anak balita. ISPA merupakan salah satu penyebab kunjungan pasien pada sarana kesehatan. Sebanyak 40%-60% kunjungan berobat dipuskesmas dan 15%-30% kunjungan berobat dirawat jalan dan rawat inap (triska, 2007).

Kabut asap karena pembakaran hutan dan lahan diriau sudah jadi agenda tahunan yang tak kunjung mereda. Tidak ada satupun pelaku kebakaran diperoses hukum. Kondisi ini mengambarkan mandulnya kinerja penggerak hukum di Riau. Di Riau pada juli hingga Agustus 2006 terdapat sedikitnya 171.787 hektar hutan atau lahan terbakar yang berasal dari 63 perusahaan meliputi areal perkebunan sawit seluas 41.370 hektar. Sementara dampak asap kesehatan terhadap kesehatan sejak Mei hingga September 2006 telah menyebabkan

sedikitnya 12000 orang terkena ISPA 3000 orang terkena iritasi mata, 10000 terkena diare dan mencret, namun tak satu perusahaan tersebut yang diperoses hukum (Jikalahari, 2007).

Dari data diatas dapat diketahui bahwa jumlah pasien yang terinfeksi penyakit ISPA dari kelima kelurahan tersebut yaitu terdapat dikelurahan Umban sari yaitu berjumlah 3001 orang (Puskesmas Umban sari, 2007). 1.2 Perumusan masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dalam karya tulis ini perumusan masalah yang penulis ambil yaitu bagaimana Sikap Dan Tindakan Keluarga terhadap ISPA pada anak usia 1-4 Tahun di Kecamatan Rumbai Kelurahan umban sari tahun 2008.

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini sebagai berikut:

1.3.1 Tujuan umum

Untuk mengetahui bagaimana sikap dan tindakan keluarga terhadap ISPA pada anak usia 1-4 Tahun di Kecamatan Rumbai Kelurahan Umban sari.

1.3.2 Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui sikap Kepla keluarga terhadap ISPA pada anak usia 1-4 Tahun

b. Untuk mengetahui tindakan Kepala keluarga terhadap ISPA pada anak usia 1-4 Tahun.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Penulis

Penulis dapat mengetahui Gambaran Sikap Dan Tindakan kepala keluarga terhadap ispa pada anak umur 1-4 tahun.

1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan

Dapat dijadikan bahan masukan dalam peroses belajar mengajar serta dapat dijadikan sebagai unsur dasar pertimbangan.

1.4.3 Bagi Masyarakat

Dapat dijadikan sebagai informasi dan masukan bagi masyarakat dalam upaya pencegahan ISPA

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Dalam karya tulis ilmiah ini, penulis hanya membatasi penelitian pada Gambaran Sikap dan tindakan keluarga terhadap ISPA pada Anak usia 1-4 Tahun Di Kecamatan Rumbai Kelurahan Umban sari.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perilaku

Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2007).

Dalam kaitannya stimulus-organisme dengan respon maka dalam hal ini pula perilaku dikelompokkan menjadi dua kategori menurut (Taufik, 2007) yaitu :

1. Covert Behavior (Perilaku tertutup)

Perilaku tertutup akan terjadi apabila respon seseorang terhadap rangsangan tersebut masih belum dapat diamati oleh orang lain (dari luar) secara jelas. Dari hal ini respon seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan serta sikap pada stimulus yang bersangkutan. Bentuk unobservable behavior atau Covert behavior yang dapat diukur adalah pengetahuan dan sikap.

2. Overt behavior (perilkau terbuka)

Perilaku terbuka akan terjadi apabila respons terhadap stimulus tersebut berupa tindakan atau praktik serta dapat diamati oleh orang lain (oversable behavior). Misalnya, ibu hamil datang kepuskesmas atau kepelayanan kesehatan lainnya (dokter kandungan atau bidan praktik) untuk memeriksakan kehamilannya. Seorang ahli psikologi pendidikan, Benyamin Bloom (1908) membedakan adanya terdapat tiga ranah atau domain perikalu, yakni kognitif, efektif dan fsikomotor.

2.1.1 Pengetahuan (Klowledge)

Menurut Notoatmodjo (2007) Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan sebagai berikut :

1. Know (Tahu)

Tahu diartikan sebagai reccal (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Sebagai alat ukur untuk mengetahui bahwa orang tahu sesuatu dapat menggunakan pertanyaanpertanyaan, misalnya tanda-tandanya seseorang mengalami penyakit DBD, apa yang menyebabkannya, bagaimana cara melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan lain sebagainya.

2. Comprehension (Memahami)

Memahami suatu objek tidak hanya sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak hanya sekedar menyebutkan, akan tetapi orang tersebut juga harus dapat menginterprestasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.

3. Application ( Aplikasi / penerapan )

Aplikasi dapat diartikan apabila orang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaflikasikan prinsip yang diketahuinya tersebut pada situasi lain. Contoh, seseorang telah paham

proses perencanaan, ia harus dapat membuat perencanaan program kesehatan ditempat bekerja atau dimana saja.

4. Analyisis (Analisa)

Adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen- komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi yang menandakan bahwa seseorang sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan, mengelompokan, membuat diagram (Bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.

5. Synthesis (Sintesis)

Sintesis menunjukan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain, bahwa sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang telah ada. Misalnya dapat membuat ringkasan dengan kata-kata sendiri dengan kalimat sendiri tentang hal-hal yang telah dibaca atau didengar.

6. Evaluation (Evaluasi)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini didasarkan pada

suatu kreteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Contoh, seseorang dapat menilai manfaat mengikuti KB dan sebagainya (Notoatmodjo, 2007).

2.1.2 Sikap (Attitude)

Menurut Allport (1954) komponen pokok sikap terdiri dari tiga, yaitu:

a) kepercayaan atau keyakinan, ide dan konsep terhadap objek. Artinya, bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek.

b) Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek.

c) Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave). Artinya sikap adalah merupakan membentuk sikap yang utuh. Dalam menentukan sikap komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka.

Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama akan membentuk sikap yang utuh (total attitude). Sikap mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya, yaitu :

1) Receiving (Menerima)

Menerima disini diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus yang diberikan ( objek).

2) Responding (Menanggapi)

Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyan atau objek yang dihadapi.

3) Valuing (Menghargai)

Menghargai diartikan subjek, atau seseorang memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus, dalam arti, membahasnya dengan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespon.

4) Responsible (Bertanggung jawab)

Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap yang telah diyakininya. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya, dia harus berani mengambil risiko bila ada orang lain yang mencela atau adanya risiko lain.

2.1.3 Tindakan atau Praktik (Practice)

Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak (praktik). Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, karena untuk terwujudnya tindakan perlu faktor lain, yaitu antara lain adanya fasilitas atau sarana atau prasarana.

Menurut Taufik ( 2007) praktik atau tindakan dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan menurut kualitasnya, yaitu;

1) Praktik terpimpin (Guided response)

Apabila Subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih tergantung paada tuntunan atau menggunakan panduan.

2) Praktik secara mekanisme

Apabila subjek atau seseorang telah melakukan atau memperaktikan sesuatu hal secara otomatis maka disebut praktik atau tindakan mekanis.

3) Adopsi (Adoption)

Adalah suatu tindakan atau peraktik yang sudah berkembang, artinya apa yang dilakukan tidak sekedar rutinitas atau mekanisme saja, tetapi sudah dilakukan memodifikasi atau tindakan atau perilaku yang berkualitas

2.2. Definisi

2.2.1 Pengertian ISPA

Menurut Depkes RI 2007 ispa adalah infeksi saluran pernapasan akut, istilah ini meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernapasan dan akut. Dengan pengertian sebagai berikut:

i. infeksi adalah masuknya kuman atau mikro organisme kedalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.

ii. Saluran pernapasan adalah organ dari hidung hingga alvioli serta organ adneksanya seperti sinus-sinus rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernapasan atas

iii. infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung selama 14 hari diambil untuk menunjukan peroses akut. Meskipun beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini berlangsung lebih dari 14 hari (Depkes, RI 2007).

ISPA adalah infeksi saluran pernapasan akut yang berlangsung sampai 14 hari yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ dari hidung sampai gelembung paru. Beserta organ-organ disekitarnya: sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru ispa hanya bersifat ringan seperti batuk dan pilek (Rasmaliah, 2007).

2.2.2 Etiologi

Penyakit di sebabkan oleh lebih dari 200 agen virus yang berbeda secara serologis. Agen utamanya adalah rinho virus yang menyebabkan sepertiga dari semua kasus. Krono virus menyebabkan sekitar 10% masa infektifitas berakhir dari beberapa jam sebelumnya muncul gejala sampai 1-2 hari sesudah penyakit nampak. Streptokokus grup A adalah yang menyebabkan ISPA. Corynebacterium diphteriae, myco plasma pneumoniae.nisseriae menengitidis dan N ghorrhoea juga merupakan agen infeksi primer. Himophilus influenza streptokokus pneunoniae

maraxellcatarrhalis dan staphylacocus auereus dapat menimbulkan infeksi sekunder pada jaringan saluran pernapasan atas (Nelson, 2000).

2.2.3 Epidemiologi

Kerentanan agen yang menyebabkan nasofaring akut adalah universal, tetepi karena alasan yang kurang mengerti kerentanan ini bervariasi pada orang yang sama dari waktu kewaktu. Anak menderita rata-rata lima sampai delapan infeksi setahun dan angka terjadi selama umur 2 Tahun pertama frekuensi Nasofaringitis akut berbanding langsung dengan angka pemejanan, dan sekolah taman kanakkanak sertra pusat perawatan harian mungkin epidemiologi sebenarnya. Kerentanan dapat bertambah karena nutrisi yang jelek (Nelson, 2000).

2.2.4 Patologi

Perubahan pertama adalah edema dan vasodiasi pada sub mukosa. Infiltrat sel Memoklear. Perubahan setruktural dan fungsional silis mengakibatkan

pembersihan mukus terganggu. Pada infeksi sedang sampai berat, epitel superfisal mengelupas. Ada produksi mukus yang banyak sekali, mula-mula encer kemudian mengental dan biasanya perulen. Dapat juga ada keterlibatan anatomis saluran pernapasan atas termasuk okulasi dan kelainan sinus (Nelson, 2000)

2.2.5 Manifestasi klinis

Pada umumnya anak umur tiga bulan sampai tiga tahun menderita demam pada awal perjalanan infeksi. Kadang-kadang beberapa jam sebelum tanda-tanda yang berlokalisasi muncul. Bayi yang lebih muda biasanya tidak demam dan anak yang lebih tua dapat menderita demam ringan. Pada anak yang lebih tua gejala awalnya adalah kekeringan dan iritasi dalam hidung dan tidak jarang di dalam faring. Gejala ini dalam beberapa jam disertai bersin, rasa menggigil nyeri otot, ingus hidung yang encer kadang batuk., nyeri kepala lesu dan demam ringan. Dalam satu sekresi biasanya lebih kental dan akhirnya perulen. Obstruksi hidung menyebabkan pernapasan melalui mulut.(Nelson, 2000).

2.2.6 Komplikasi

Komplikasi merupakan invasi bakteri sinus pranasal dan bagian-bagian lain saluran pernafasan. linfonodi servikalis dapat juga menjadi terlibat kadang-kadang bernanah. Selulitis pritonsiler, sinusitis dan selulitis periobital dapat terjadi. Komlikasi yang paling sering terjadi adalah otitis media. Kebanyakan ISPA melibatkan saluran pernapasan bawah (Nelson, 2000).

2.2.7 Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan: menjaga keadaan gizi tetap baik, imunisasi, menjaga kebersihan perorangan, mencegah anak tidak berhubungan dengan penderita ISPA.

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

3.2 Definisi Operasional

NO

Variabel

Defenisi Operasional

Alat ukur

Cara ukur

skala

Hasil ukur

Sikap

Sikap

adalah Kuesioner

Checklist

Ordinal Sikap positif(+) Apabila nilai >

respon seseorang terhadap .

penyakit ispa dan bagaimana pendapat atau

median. Sikap negatif(-) Apabila nilai <>

keyakinan orang terhadap ispa .

No

Variabel

Defenisi Operasional

Alat ukur

Cara ukur

skala

Hasil ukur

tindakan Suatu belum

sikap tentu

Kuesioner

CheckList

Ordinal

Ya

di

beri

nilai 1 Tidak di beri nilai 0

terwujud dalam tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap yang nyata di faktor pendukung atau suatu yang memungkinkan, antara lain kondisi perlukan

adalah fasilitas BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Penulis menggunakan metode penulisan deskriptif yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara objektif. Metodoe penelitian Gambaran Sikap Dan Tindakan Kepala Keluarga Terhadap Ispa Pada Anak Usia 1-4 Tahun Di Kecamatan Rumbai Kelurahan Umban Sari Pekanbaru Tahun 2008.

4.2 Tempat dan Waktu

4.2.1 Tempat penelitian

Tempat Penelitian Dilaksanakan di Kecamatan Rumbai Kelurahan Umban Sari Pekanbaru Tahun 2008.

4.2.2 Waktu penelitian

Waktu Penelitian akan dilaksanakan Pada bulan Mei Juni 2008.

4.3 Populasi dan Sampel

4.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh jumlah kepala keluarga di Kelurahan Umban Sari Rumbai Tahun 2008 yaitu berjumlah

4007 KK

4.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diambil dari keseluruhan populasi (Notoatmodjo, 2005).

4.3.3 Sampeling

Menurut Notoatmodjo (2005) cara pengambilan sampel pada penelitian ini adalah secara acak sederhana atau random sampling dengan rumus sebagai berikut:

N n= 1+ N (d) 4007 n= 1+ 4007 (0,1) 4007 n= 1+ 4007 (0,01) 4007 n= 41,07 n= 97,56 KK n= 97 KK Keterangan N = Besar populasi

n = Besar sampel Tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan 90% d = Toleransi kesalahan (10% = 0,1) 4.3.4 Kreteria sample

Dalam mengambil data ini adalah kepala keluarga atau Ibu rumah tangga yang manjadi kepala keluarga yang berjumlah 97 responden

4.4 Instrumen Penelitian

Didalam penelitian ini, penulis menggunakan kuesioner yang berisi tentang pertanyaan yang sederhana agar mudah dipahami oleh responden. Adapun kisi-kisi kuesioner sebagai berikut:

No. 1 2

Variabel Sikap Tindakan

Jumlah 10 10

(%) 100% 100%

4.5 Cara Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara:

a) Penelitian lapangan yaitu pengamatan secara langsung dilokasi penelitian.

b) Kuesioner berbentuk angket dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan kepada responden yang dijadikan objek penelitian.

4.6 Cara Pengolahan dan Analisa Data

4.6.1 Cara Pengolahan Data

1. Editing

Data yang sudah dikembalikan oleh responden maka setiap instrumen diperiksa apakah diisi dengan benar dan semua sistem sudah dijawab oleh responden.

2. Coding

Cara memberi tanda atau kode tertentu pada data yang tercatat dari kuesioner dibuat dalam kode setelah dilakukan pengolahan data dan penyajian dalam bentuk tabel.

3. Tabulasi

Memasukkan data kedalm tabel kemudian disajikan. Data yang diteliti untuk mendapatkan jumlah dalam bentuk tabel distribusi Frekuensi untuk melakukan analisa data.

4.6.2 Analisa Data

Setelah dilakukan pengolahan data, data diteliti untuk mendapatkan jumlah dalam bentuk tabel distribusi frekuensi untuk melakukan analisa data. Untuk melanjutkan disajikan dalam bentuk tabel dan setelah data yang dilakukansecara univariete untuk menggambarkan frekuensi dan persentase dan hasil penelitian yang nantinya akan dapat dipergunakan sebagai tolak ukur dalam pembahasan dan kesimpulan

(Notoatmodjo, 2005).

Menurut Riduwan (2005) mengatakan alat pengumpulan data yang digunakan adalah berupa kuesioner yang berisikan pertanyaan yang berhubungan dengan masalah yang sedang diteliti menggunakan skala Likert:

A. Sikap

a) Sangat setuju (SS) = 5

b) Setuju (S) = 4

c) Netral (N) = 3

d) Tidak setuju (TS) =2

e) Sangat tidak setuju (STS) =1

Berdasarkan ketetapan diatas maka peneliti menetapkan Sikap positif apabila skor responden > rata-rata -rata

Sikap negatif apabila skor responden <>

Adapun langkahnya sebagai berikut Mencari dari skor masing-masing responden Menjumlah dari skor responden Mencari nilai rata-rata Membandingkan skor responden dengan nilai rata-rata

Menurut Ating, 2006 Skala yang menggambarkan skore minimal, nilai kuartil ke satu, nilai median, nilai kuartil ketiga, dan skor maksimal.untuk menentukan skor maksimal yaitu skor jawaban terbesar dikali banyak item dan untuk menentukan skor minimal yaitu jawaban terkecil dikali dengan item.

5 10 15 20 25

Minimal kuartil 1 median kuartil 3 maksimal

Keterangan :

- Kategori sikap sangat positif, yaitu daerah yang dibatasi oleh kuartil ketiga dan sekor maksimal. (kuartil 3 x skor maksimal ).

- Kategori sikap positif , yaitu daerah yang dibatasi oleh median dan kuartil ketiga. (median x <>

- Kategori sikap negatif, yaitu daerah yang dibatasi oleh kuartil ke satu dan median. (kuartil 1 x <>

- Kategori sikap sangat negatif, yaitu daerah yang dibatasi oleh skor minimal dan kuartil kesatu ( skor minimal x <>

B. Prilaku

Menurut sekala Gottman untuk menilai tindakan terdiri dari komponen :

Ya : diberi nilai 1

Tidak : diberi nilai 0

Berdasarkan ketetapan diatas maka peneliti menetapkan:

Baik : apabila skor responden 8-10

Cukup : apabila skor responden 6-7

Kurang : apabila skor responden 4-5

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut : Mencari dari skor masing-masing responden

Menjumlah dari skor responden Mencari nilai rata-rata Membandingkan skor responden dengan nilai rata-rata

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1. Data Umum

Data umum merupakan gambaran responden dimana responden di dalam penelitian ini adalah kepala keluarga yang berada dikelurahan Umban Sari Kecamatan Rumbai Pekanbaru yang berjumlah 97 responden akan dikelompokan dalam beberapa kreteria :

A. Golongan umur

Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Golongan Umur Dikelurahan Umban Sari Rumbai Pekanbaru Tahun 2008 No 1 2 Umur 20-40 41-60 Jumlah 58 37 % 59,79% 38,15

60+ Total

2 97

2,06% 100%

Dari tabel 5.1 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas masyarakat kelurahan Umban Sari Kecamatan Rumbai Pekanbaru tahun 2008 dijumpai pada golongan umur 20-40 tahun 58 responden (59,79%) 41-60 tahun 37 responden (38,15) dan >60 tahun sebanyak 2 responden (2,06%).

B. Golongan Pendidikan

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Dikelurahan Umban Sari Rumbai Pekanbaru Tahun 2008 No 1 2 3 4 Pendidikan SD SLTP SMU S.1 Total Jumlah 26 22 47 2 97 (%) 26,82% 22,68% 22,68% 2,06% 100%

Dari tabel 5.2 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar tingkat pendidikan masyarakat kelurahan Umban Sari adalah SD sebanyak 26 orang (26,82%), SLTP 22 orang (22,68%), SMA 47 orang (22,68%) dan S.1 sebanyak 2 orang (2,06%).

C. Golongan Pekerjaan

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan Dikelurahan Umban Sari Rumbai Pekanbaru Tahun 2008 No 1 2 3 4 Pekerjaan PNS Buruh Petani Wiraswasta Total Jumlah 2 5 6 84 97 (%) 2,06% 5,17% 6,18% 86,59% 100%

Dari tabel 5.3 diatas dapat di lihat bahwa sebagian besar pekerjaan responden masyarakat Kelurahan Umban Sari adalah Wiraswasta yang berjumlah 84 0rang (86,59%), Petani 6 orang (6,18%), Buruh 5 orang (5,17%) dan PNS 2 orang (2,06%).

5.2 1 Data Khusus

a). Sikap kepala keluarga terhadap Ispa pada anak usia 1-4 tahun Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Sikap Responden Tentang Saya Akan Menggunakan Masker Pada Anak Saya Apabila Ada Pencemaran Udara. No 1 2 Kreteria Sikap Positif Sikap Negatif Total Jumlah 24 73 97 % 24,75% 75,25% 100%

Dari tabel 5.4 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas sikap responden tentang saya akan menggunakan masker pada anak saya apabila ada pencemaran udara sikap positif sebanyak 24 orang (24,75%) sedangkan sikap negatif sebanyak 73 orang (75,25%).

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Sikap Responden Tentang Saya Akan Membawa Anak Kepuskesmas Terdekat Bila Terkena Ispa No 1 2 Kreteria Sikap Positif Sikap Negatif Total Jumlah 70 27 97 % 72,16% 27,84% 100%

Dari tabel 5.5 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas sikap responden tentang saya akan membawa anak kepuskesmas terdekat bila terkena ispa sikap positif berjumlah 70 orang ( 72,16%) sedangkan sikap negatif berjumlah 27 orang (27,84%) .

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Sikap Responden Tentang Saya akan berusaha merawat anak saya agar tidak terkena ISPA. No 1 2 Kreteria Sikap Positif Sikap Negatif Total Jumlah 97 0 97 % 100% 0% 100%

Dari tabel 5.6 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas sikap responden Saya akan berusaha merawat anak saya agar tidak terkena ispa yang bersikap positif 97 orang (100%) sedangkan sikap negatif tidak ada.

Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Sikap Responden Tentang Saya Akan Memenuhi Kebutuhan Gizi Pada Anak Apabila Terkena Ispa No 1 2 Kreteria Sikap Positif Sikap Negatif Total Jumlah 80 17 97 % 82,47% 17,53% 100%

Dari tabel 5.7 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas sikap responden tentang saya akan memenuhi kebutuhan gizi pada anak apabila terkena ispa yang bersikap positif berjumlah 80 orang (82,47%). Sedangkan yang sikap negatif berjumlah 17 orang (17,53%).

Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi Sikap Responden Tentang Saya Akan Membersihkan Got Seminggu Sekali No 1 2 Kreteria Sikap Positif Sikap Negatif Total Jumlah 47 50 97 % 48,45% 51,55% 100%

Dari tabel 5.8 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas sikap responden tentang saya akan membersihkan got seminggu sekali sikap positif sebanyak 47 orang (48,45%) orang sedangkan sikap negatif sebanyak 50 orang (52%) .

Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Sikap Responden Tentang Saya Akan Menghindari Anak dari Obat Nyamuk Bakar Apabila Terkena Ispa. No 1 2 Kreteria Sikap Positif Sikap Negatif Total Jumlah 80 17 97 % 82,47% 17,53% 100%

Dari tabel 5.9 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas sikap responden tentang saya akan menghindari anak dari obat nyamuk bakar apabila terkena ispa. Sikap positif 80 orang ( 82,47%) sedangkan sikap negatif 17 orang (17,53%) .

Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Sikap Responden Tentang Saya akan Menghindari Anak Dari Penderita Ispa No 1 2 Kreteria Sikap Positif Sikap Negatif Total Jumlah 87 10 97 % 89,69% 10,31% 100%

Dari tabel 5.10 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas sikap responden tentang saya akan menghindari anak dari penderita ispa sikap positif 87 orang (89%) sedangkan sikap negatif sebanyak sebanyak 10 orang (11%).

Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Sikap Responden Tentang Bagaimana Sikap Anda Tentang Gotong Royong Yang Diadakan Satu Minggu Sekali No 1 2 Kreteria Sikap Positif Sikap Negatif Total Jumlah 57 40 97 % 58,76% 41,24% 100%

Dari tabel 5.11 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas sikap responden tentang bagaimana sikap anda tentang gotong royong yang diadakan satu minggu sekali sikap positif berjumlah 57 orang (58,76%).

Tabel 5.12 Distribusi Frekuensi Sikap Responden Tentang Saya akan menghindari anak saya dari orang yang sedang merokok. No 1 2 Kreteria Sikap Positif Sikap Negatif Total Jumlah 89 8 97 % 91,75% 8,25% 100%

Dari tabel 5.12 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas sikap responden tentang saya akan menghindari anak saya dari orang yang sedang merokok sikap positif berjumlah 80 orang (82%) sedangkan sikap negatif berjumlah 17 orang (18%) .

Tabel 5.13 Distribusi Frekuensi Sikap Responden Tentang Saya akan berusaha untuk tidak membawa anak saya ketampat yang banyak terdapat kendaraan. No 1 2 Kreteria Sikap Positif Sikap Negatif Total Jumlah 75 22 97 % 77,21% 22,69% 100%

Dari tabel 5.13 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas sikap responden Tentang saya akan berusaha untuk tidak membawa anak saya ketampat yang banyak terdapat kendaraan. Sikap positif berjumlah 77 orang (77,21%) sedangkan negatif berjumlah 27 orang (22,69%)orang .

Tabel 5.14 Distribusi Frekuensi Sikap kepala keluarga terhadap ISPA pada anak usia 1-4 tahun Secara Keseluruhan Di kelurahan Umban Sari Rumbai Pekanbaru Tahun 2008 NO 1 2 Kreteria Sikap Positif Sikap Negatif Total Jumlah 80 17 97 % 82,47% 17,53% 100%

Dari tabel diatas merupakan data secara keseluruhan tentang sikap terhadap Ispa dengan hasil nilai rata-rata dari keseluruhan item yang telah dijawab responden untuk sikap positif berjumlah 80 responden (82,47%) sedangkan sikap negatif 17 responden (17,53%).

b). Tindakan kepala keluarga terhadap Ispa pada anak usia 1-4 tahun

Tabel 5.14 Distribusi Frekuensi Responden Tentang Tindakan Kepala Keluarga Terhadap Ispa Dikelurahan Umban Sari Kecamatan Rumbai Pekanbaru Tahun 2008 No 1 2 3 Kurang Total Kreteria Baik Cukup Jumlah 82 14 1 97 % 84,53% 14,43 % 1,03% 100%

Berdasarkan tabel 5.14 diatas dapat kita lihat tindakan kepala keluarga tehadap ispa pada anak usia 1-4 tahun berdasarkan data yang tertuang di atas yang dikategorikan baik 84,53%, cukup 14,43% dan kurang 1,03%.

5.2 Pembahasan

Pada bab ini akan dibahas mengenai Gambaran Sikap Dan Tindakan Kepala Keluarga Terhadap Ispa Pada Anak Usia 1-4 Tahun Di Kecamatan Rumbai Kelurahan Umban Sari Pekanbaru Tahun 2008. setelah dilakukan analisa dan dilihat hasil yang di peroleh penulis akan

membahas beberapa hal sesuai dengan teori kepustakaan yang ada dan ditinjau atas Data umum dan Data khusus.

5.2.1 Data umum

1. Berdasarkan data yang diperoleh dari tabel 5.1 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas masyarakat kelurahan Umban Sari Kecamatan Rumbai Pekanbaru Tahun 2008 dijumpai pada golongan umur 20-40 tahun 58 responden (59,79%) 41-60 tahun 37 responden (38,15) dan 60+ tahun sebanyak 2 responden (2,06%).

2. Berdasarkan data yang diperoleh dari tabel 5.2 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar tingkat pendidikan masyarakat kelurahan Umban Sari adalah SD sebanyak 26 orang (26,82%), SLTP 22 orang (22,68%), SMA 47 orang (22,68%) dan S.1 sebanyak 2 orang (2,06%).

3. berdasarkan data yang diperoleh dari tabel 5.3 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar pekerjaan dikelurahan Umban sari sebagian besar pekerjaan masyarakat Kelurahan Umban Sari adalah Wiraswasta yang berjumlah 84 0rang (86,59%), Petani 6 orang (6,18%), Buruh 5 orang (5,17%) dan PNS 2 orang (2,06%).

5.2.2 Data khusus

a) Sikap kepala keluarga terhadap ISPA

Berdasarkan tabel 5.14 diatas data keseluruhan tentang sikap terhadap Ispa pada anak usia 1-4 tahun dengan hasil nilai rata-rata dari keseluruhan item yang telah dijawab setiap responden untuk sikap positif berjumlah 80 responden (82,47%) sedangkan sikap negatif 17 responden (17,53%).

Sikap terhadap suatu perilaku dipengaruhi oleh keyakinan bahwa perilaku tersebut akan membawa hasil yang diinginkan atau tidak diinginkan. Keyakinan mengenai perilaku apa yang bersifat normatif ( yang diharapkan oleh orang lain ) dan motivasi untuk bertidak sesuai dengan harapan normatif tersebut membentuk norma subjektif dalam diri individu (Saifuddin, 1995).

Menurut Taufik, 2007 sikap adalah suatu kumpulan gejala dalam merespon stimulus atau objek sehingga sikap itu melibatkan pikiran, perasaan dan perhatian

Mayoritas Pada pengisian kuesioner bahwa sikap masyarakat terhadap penyakit Ispa sebsgian besar positif karena responden mampu menjawab soal dengan baik dan benar karena di kelurahan Umban Sari sudah mendapatkan penyuluhan dan berbagai informasi dari puskesmas.

Meskipun mayoritas masyarakat menjawab positif Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak (praktik). Sikap belum tentu terwujud dalam

tindakan, karena untuk terwujudnya tindakan perlu faktor lain, yaitu antara lain adanya fasilitas atau sarana atau prasarana (Taufik, 2007).

b) Tindakan kepala keluarga terhadap ISPA

Berdasarkan tabel 5.15 diatas dapat kita lihat tindakan kepala keluarga tehadap Ispa pada anak usia 1-4 tahun berdasarkan data yang tertuang di atas yang dikategorikan baik 82 responden (84,53%), cukup 14 responden (14,43%) dan kurang 1 responden (1,03%). Dari hasil persentase-persentase diatas tindakan kepala keluarga terhadap ispa pada anak sebagian besar adalah baik karena masyarakat mengatakan sebelumnya masyarakat mengatakan pernah diadakan penyuluhan di puskesmas dan informasi informasi kesehatan pada anak.

Menurut pendapat Notoadmodjo, 2003 faktor resiko yang berasal dari lingkungan (faktor resiko ekstrinsik) yang memudahkan seseorang terjangkit penyakit suatu penyakit tertentu. Berdasarkan jenisnya faktor ekstrinsik dapat berupa keadaan fisik kimiawi, biologik, psikologik, maupun sosial budaya dan perilaku misalnya : keadaan perkampungan yang padat penduduknya merupakan faktor resiko terjadinya penyakit Ispa. Orang yang berkerja di perusahan yang menggunakan bahan-bahan kimiawi tertentu mempunyai resiko untuk penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bahanbahan kimiawi tersebut. Sedangkan faktor resiko ialah suatu kondisi yang memungkinkan adanya mekanisme hubungan antara agen penyakit dengan

induk semang(host) dan penjamu yaitu manusia, sehingga terjadi efek (sakit). Contoh virus merupakan agen dari penyakit influenza. Sedangkan kondisi lingkungan jelek, ventilasi yang lembab, rumah kurang ventilasinya, merupakan faktor resiko terjadinya mecro bacterium tersebut dengan orang, sehingga terjadi efek (sakit).

Dari pendapat diatas dapat kita simpulkan bahawa walaupun tindakan kepala keluarga mayoritas baik belum tentu dapat mencegah terjadinya Ispa pada anak karena faktor lingkungan sangat mempengaruhi terjadinya penyakit Ispa seperti kabut asap dan pencemaran udara lainya.

Sesuai pendapat menurut Dainur 1995 bahwa berkenaan dengan pengetahuan serta prilaku warga masyarakat terhadap penyakit dan cara pengobatan serta pencegahanya. Maka upaya penyuluhan kesehatan merupakan upaya pemberantasan lainya. Dengan penyuluhan kesehatan diharapkan ada perubahan prilaku kehidupan. sesuai dengan kaidah-kaidah kesehatan sehingga prilaku masyarakat akan mencerminkan tingkat kesehatan masyarakat tersebut.

dari pendapat Dainur di atas dapat kita simpulkan bahwa sesuai data subjektif dari masyarakat diatas bahwa mereka telah mendapatkan penyuluhan sehingga hasil dari tindakan masyarakat mayoritas adalah baik.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Sebagian Besar umur responden masyarakat kelurahan Umban Sari Kecamatan Rumbai Pekanbaru tahun 2008 dijumpai pada golongan umur 20-40 tahun 58 responden (59,79%) 41-60 tahun 37 responden (38,15%) dan >60 tahun sebanyak 2 responden (2,06%).

2. Sebagian Besar pendidikian responden masyarakat kelurahan Umban Sari adalah SMA 47 responden (48,46%) Dan sebagian kecil perguruan tinggi sebanyak 2 responden (2,06%).

3. Sebagian Besar pekerjaan responden masyarakat Kelurahan Umban Sari adalah Wiraswasta yang berjumlah 84 responden (86,59%) dan sebagian kecil dan PNS 2 responden (2,06%).

4. Sebagian Besar sikap responden yang akan menggunakan masker pada anak apabila ada pencemaran udara sikap negatif sebanyak 73 responden (75,25%). Dan sebagian kecil sikap positif sebanyak 24 responden (24,75%).

5. Sebagian Besar sikap responden tentang saya akan membawa anak kepuskesmas terdekat bila terkena Ispa sikap positif berjumlah 70 orang (72,16%) dan sebagian kecil sikap negatif berjumlah 27 responden (28,84%).

6. Sebagian Besar sikap responden tentang berusaha merawat anak agar tidak terkena ispa yang sikap positif 97 responden (100%) dann sikap negatif tidak ada.

7. Sebagian Besar sikap responden tentang memenuhi kebutuhan gizi pada anak apabila terkena ispa yang bersikap positif berjumlah 80 responden (82,47%). dan sebagian kecil yang sikap negatif berjumlah 17 responden (17,53%).

8. Sebagian Besar sikap responden tentang membersihkan got seminggu sekali sikap negatif sebanyak 50 responden (51,55%). dan sebagian kecil sikap positif sebanyak 47 responden (48,45%)

9. Sebagian Besar sikap responden tentang menghindari anak dari obat nyamuk bakar apabila terkena Ispa. Sikap positif 80 responden (82,47%) dan minoritas sikap negatif 17 responden (17,53%) .

10. Sebagian Besar sikap responden tentang menghindari anak dari penderita Ispa sikap positif 87 responden (89,69%) dan sebagian kecilsikap negatif sebanyak sebanyak 10 responden (10,31%).

11. Sebagian Besar sikap responden tentang gotong royong yang diadakan satu minggu sekali sikap positif berjumlah 57 responden (58,76%). dan sebagian kecil sikap negatif sebanyak 40 responden (41,24%).

12. Sebagian Besar sikap responden tentang menghindari anak saya dari orang yang sedang merokok sikap positif berjumlah 89 responden (91,75%) dan minoritas sikap negatif berjumlah 8 responden (8,25%)

13. Sebagian Besar sikap responden Tentang saya akan berusaha untuk tidak membawa anak ketampat yang banyak terdapat kendaraan. Sikap positif berjumlah 75 responden (77,31%) dan sebagian kecil sikap negatif berjumlah 22 responden (22,69%).

14. Sebagian Besar Sikap kepla keluarga terhadap ISPA pada anak usia 1-4 tahun secara keseluruhan Di kelurahan Umban Sari Rumbai sikap positif sebanyak 80 responden 82,47%, dan sebagian kecil sikap negatif 17 responden (17,53%).

15. Sebagian Besar tindakan kepala keluarga tehadap ispa pada anak usia 1-4 tahun 2008, berdasarkan data yang tertuang di atas yang dikategorikan baik 82 responden (84,53%), cukup 14 responden (14,43%). dan kurang 1 responden (1,03%).

6.2 Saran

1. Diharapkan Bagi instansi bisa mengetahui bagaimana sikap dan tindakan masyarakat terhadap ISPA sehingga dapat malakukan tindakan selanjutnya dalam pelayanan kesehatan terhadap masyarakat.

2. Diharapkan instisusi pendidikan universitas abdurrab memperbanyak leteratur bacaan khusus mengenai ISPA dan ilmu kesehatan lainnya mengingat sulitnya peneliti dalam sumber yang berkaitan dengan ISPA.

3. Di harapkan bagi peneliti selanjutnya, agar dapat menggunakan karya tulis ilmiah ini sebagai tambahan wawasan penelitian tentang gambaran sikap dan tindakan masyarakat terhadap ISPA mengimgat kasus ispa semakin meningkat sehingga perlu sekali ditingkatkan dalam penelitiannya kelapangan.

4. Diharapkan kepada masyarakat dapat mengerti tentang gambaran sikap dan tindakan terhadap ISPA pada anak usia 1-4 tahun. Agar masalah ISPA dapat teratasi dengan benar dan menurunya jumlah ksaus ISPA pada anak usia 1-4 tahun.

DAFTAR PUSTAKA Candara budiman. 2006 Pengantar kesehatan lingkungan, Jakarta : EGC. Charlene, 2001 Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta : EGC. Dinas kesehatan kota pekanbaru, 2007. Laporan Angka P2M, ISPA Depkes RI. 2007 Pengertian ISPA, http. www. Google. Com 27 November 2007. Jikalahari, 2006 Bencana Kabut Asap. http. www. Google. Com 27 Desember 2007.

Nelson, 2000 Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta : EGC. Nindya, T. S. 1998 Hubungan Sanitasi Rumah Dengan Kejadian ISPA Pada Anak Balita. www. Google. Com 14 Desember 2007. Notoatmodjo, soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta : Renika Cipta. Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta : Renika Cipta. Rasmaliah, 2007 ISPA dan penanggulangannya. www. Google. Com 14 Desember 2007. Riduwan, 2003. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian, Bandung : Alfabeta. Taufik, 2007. Prinsip-prinsip Promosi Kesehatan dalam Bidang Keperawatam untuk Perawat dan Mahasiswa Keperawatan, Jakarta : Info Medika.

r u m a h . L i n g k u n g a n t e m p a t t i n g g a l d i y a k i n i b e b e r a p a p e n e l i t i s e b a g a i faktor risiko. Dalam program penyehatan lingkungan pemukiman, telah ditetapkan syaratsyarat kesehatan untuk rumah tinggal antara lain :1 ) L u a s r u a n g a n r u m a h dibanding penghuni tidak kurang dari 9m 2 /jiwa.2 ) L a n t a i d a n d i n d i n g k a m a r t i d u r k e r i n g ( t i d a k lembab)3 ) P e n c a h a y a a n m e m a n f a a t k a n s i n a r m a t a h a r i s e b a n y a k mungkin untuk penerangan dalam rumah pada siang hari. B.Kerangka Konseptual Penelitian

3 . D a s a r P e m i k i r a n P e n ya k i t T B C p a r u d i s e b a b k a n o l e h m i c r o b a c t e r i u m t u b e r k u l o s i s sebagai faktor agent (virulensi kuman) yang menular dari orang sakit TBCaktif ke orang sehat yang sangat dipengaruhi oleh kondisi penjamu yaitu dayatahan tubuh sebagai faktor host, keeratan kontak terutama kontak serumah danl a m a k o n t a k d i p e r b u r u k o l e h k o n d i s i l i n g k u n g a n p e r u m a h a n a n t a r a l a i n kepadatan penghuni dan ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan.F a k t o r r i s i k o a d a l a h s e m u a f a k t o r ya n g d a p a t m e m b e r i k a n r i s i k o terjadinya penyakit. Variabel yang diteliti adalah :a . V a r i a b e l i n d e p e n d e n ( f a k t o r r i s i k o ) y a i t u k o n t a k s e r u m a h , l a m a kontak, dan kepadatan penghuni. b.Variabel dependen (akibat/efek) adalah penderita TBCC paru 4 . B a g a n K e r a n g k a K o n s e p t u a l P e n e l i t i a n Gambar 2 : Kerangka konsep penelitian C. Hipotesis Penelitian a.Ada hubungan kontak serumah dengan kejadian TBC paru. b.Ada hubungan lama kontak dengan kejadian TBC paru.c.Ada hubungan kepadatan penghuni dengan kejadian TBC paru BAB IIIMETODE PENELITIANF . J e n i s P e n e l i t i a n Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian observasional denganrancangan Potong lintang ( cross sectional study ). G.Waktu dan Lokasi Penelitian 1. Waktu Penelitian Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan selama 1 bulan yaitu dari15 April 2010 sampai dengan 15 Mei 2010.2. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di wilayah kerja P u s k e s m a s Bolangitang Kecamatan Bolangitang Barat Kabupaten Bolaang MongondowUtara.W i l a y a h P u s k e s m a s B o l a n g i t a n g t e r d i r i d a r i 1 6 D e s a ya i t u d e s a Bolangitang 1, Desa Bolangitang 2, Desa Bolangitng Induk, Desa Jambusarang, Desa Telaga, Desa Telaga tomoagu, Desa Sunuo, Desa Olot 1, DesaO l o t 2 , D e s a O l o t I n d u k , D e s a L a n g i , D e s a I y o k , D e s a T o t e , D e s a P a k u utara, Desa Paku selatan, Desa wakat. H.Populasi dan Sampel 1 . P o p u l a s i Populasi adalah semua pendu duk suspek TBC paru dan penderita TBC paru BTA (+) yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Bolangitang tahun 2010 berjumlah 501 jiwa2 . S a m p e l Sampel dalah penduduk suspek TBC paru dan penderita TBC paruB T A ( + ) d i w i l a y a h k e r j a p u s k e s m a s B o l a n g i t a n g K a b u p a t e n B o l a a n g Mongondow Utara selang Februari - Maret 2010, beralamat yang jelas dan bersedia diwawancarai.a . C a r a p e m i l i h a n s a m p e l Sampel diambil secara

Simple Random Sampling , yaitu pengambilansampel secara acak sederhana. b . B e s a r s a m p e l Untuk menghitung besar sampel berdasarkan rumus : N. Z. p. qn =d. (N-1) + Z. p. Q I.Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif 1. Kejadian TBC Paru BTA (+) Kejadian TBC Paru (+) adalah infeksi kuman mycobacterium tuberkulosis b a i k s e c a r a l a n g s u n g a t a u t i d a k l a n g s u n g b e r d a s a r k a n d i a g n o s i s p e t u g a s kesehatan Puskesmas Bolangitang.Kriteria objektif :M e n d e r i t a T B C P a r u B T A ( + ) : B i l a h a s i l p e m e r i k s a a n m i k r o s k o p i s minimal 2 kali dari 3 k a l i p e m e r i k s a a n mikroskopis sewaktu, pagi, sewaktu (SPS)h a s i l n ya p o s i t i f , 1 spesimen dahak SPSh a s i l n y a ( + ) d a n f o t o r o n t g e n d a d a menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.T i d a k M e n d e r i t a T B C B T A ( ):Bila tidak sesuai kriteria pemeriksaanmikroskopis minimal 2 k a l i d a r i 3 k a l i pemeriksaan mikroskopis sewaktu, pagi, sewaktu (SPS) hasilnya positif, 1 spesimend a h a k S P S h a s i l n ya ( + ) d a n f o t o r o n t g e n dada menunjukkan gambaran tuberkulosisaktif. 2.Kontak Serumah Adalah responden tinggal serumah dengan penderita TBC paru BTA (+) sebelum responden sakit.Kriteria objektif : Risiko tinggi:Bila responden tinggal satu rumah dengan penderita T B C paru BTA (+) sebelum responden sakit.Risiko rendah: Bila responden tidak tinggal serumah dengan penderita TBC paru BTA (+). 3.Lama Kontak A d a l a h l a m a k o n t a k a t a u l a m a t i n g g a l s e r u m a h / b e r g a u l r e s p o n d e n dengan penderita TBC paru BTA (+) sebelum responden sakit.Kriteria objektif ( Depkes RI.Tahun 2000 ) :L a m a : b i l a l a m a k o n t a k 6 bulanB e l u m l a m a : b i l a l a m a k o n t a k < 6 b u l a n 4. Kepadatan Penghuni Rumah Pengukuran kepadatan penghuni rumah dilakukan dengan menghitungl u a s l a n t a i b a n g u n a n d e n g a n m e n g g u n a k a n a l a t u k u r m e t e r a n s t a n d a r ) kemudian dibagi dengan jumlah penghuninya yaitu 9 M 2 perorang (Depkes,2006).Kriteria objektif :P a d a t : b i l a l u a s b a n g u n a n < 9 M 2 perorangT i d a k p a d a t : b i l a l u a s b a n g u n a n 9 M 2 perorangJ.

Teknik Pengumpulan Data 1.Data Prime Data primer diperoleh berdasarkan wawancara langsung dengan responden y a n g t e r p i l i h d e n g a n m e n g g u n a k a n k u e s i o n e r d a n o b s e r v a s i l a n g s u n g k e rumah responden.2 . D a t a S e k u n d e r D a t a s e k u n d e r d i p e r o l e h m e l a l u i b u k u r e g i s t e r p e n d e r i t a T B C C p a r u Puskesmas Bolangitang tahun 2010. F. Teknik Analisis Data 1 . P e n g o l a h a n d a n P e n y a j i a n D a t a Data akan diolah dengan software p r o g r a m S P S S , k e m u d i a n D a t a h a s i l penelitian disajikan dalam bentuk tabel disertai dengan narasi.2 . A n a l i s i s D a t a Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Chi Square denganrumus :n ([ad-bc] n) 2 x 2 =(a+b)(c+d)(a+c)(b+d)Interpretasi : x 2 Hitung > x 2 tabel tolak Ho x 2 Hitung < x 2 tabel tolak Ho