RISIKO DETEKSI DAN RANCANGAN PENGUJIAN SUBSTANTIF

Oleh:
FANDI DWI PRAMANA FEBRIYANTI KANTU ISMAIL HARDYANTI BOTUTIHE FATHAN HUSAIN YUSMAN ABDULLAH

rencana risiko deteksi ditentukan berdasarkan hubungan yang dinyatakan dengan model sebagai berikut: RA RD = RB X RP . Selain itu telah disinggung pula bahwa apapun tingkat risiko yang digunakan auditor (cara kuantitatif atau cara nonkuantitatif). PENENTUAN RISIKO DETEKSI Risiko deteksi adalah risiko bahwa auditor tidak akan dapat mendeteksi salah saji material yang ada dalam suatu asersi.A. Suatu rencana tingkat risiko deteksi yang bisa diterima harus ditetapkan untuk setiap asersi laporan keuangan yang signifikan.

.Model di atas menunjukkan bahwa pada suatu tingkat risiko audit tertentu (RA) yang ditetapkan auditor. maka RP mencerminkan rencana tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan sebagai komponen pertama dari strategi audit awal. Rencana risiko deteksi adalah dasar untuk menetapkan rencana tingkat pengujian substantif yang ditentukan oleh auditor sebagai komponen keempat atau terakhir dalam penetapan strategi audit awal untuk suatu asersi. Apabila digunakan dalam tahap perencanaan untuk menetapkan rencana risiko deteksi. risiko deteksi (RD) adalah berhubungan terbalik dengan tingkat risiko bawaan (RB) dan risiko pengendalian (RP) yang ditentukan.

tingkat pengujian substantif harus direvisi sebelum merancang pengujian substantif spesifik untuk mengakomodasi tingkat risiko deteksi yang bisa diterima setelah direvisi. . auditor harus membandingkan antara tingkat risiko pengendalian sesungguhnya atau akhir dengan rencana tingkat risiko pengendalian untuk asersi yang bersangkutan. auditor bisa melangkah ke tahap perancangan pengujian substantif spesifik berdasarkan rencana tingkat pengujian substantif yang telah ditetapkan sebagai komponen keempat dari strategi audit awal. EVALUASI ATAS RENCANA TINGKAT PENGUJIAN SUBSTANTIF Setelah mendapat pemahaman tentang kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern yang relevan dan menentukan risiko pengendalian untuk asersi-asersi laporan keuangan.B. Namun apabila tidak. Apabila tingkat risiko pengendalian akhir sama dengan tingkat risiko pengendalian awal.

C. risiko deteksi setelah direvisi ditentukan berdasarkan pertimbangan auditor atau dengan bantuan matriks risiko. maka tingkat risiko deteksi setelah direvisi dapat ditentukan dengan menyelesaikan persamaan dalam model risiko audit untuk RD. . tingkat risiko deteksi yang dapat diterima akhir (setelah direvisi) ditetapkan untuk setiap asersi dengan cara yang sama seperti rencana risiko deteksi. Jika risiko tidak dikuantifikasi. MEREVISI RENCANA RISIKO DETEKSI Apabila memungkinkan. Apabila auditor memutuskan untuk mengkuantifikasi penetapan risiko. kecuali bahwa penetapannya didasarkan pada risiko pengendalian sesungguhnya atau akhir bukan pada rencana tingkat risiko pengendalian untuk asersi yang bersangkutan.

. berdasarkan asumsi bahwa bukti yang diperoleh dari suatu pengujian atau sejumlah pengujian akan mengurangi risiko salah saji material tetap tak terdeteksi setelah pengujian atau pengujian-pengujian dilakukan. menyangkut risiko bahwa semua pengujian substantif yang digunakan untuk mendapatkan bukti tentang suatu asersi. secara kolektif akan gagal dalam mendeteksi salah saji material. Sebagai contoh. maka akan lebih tepat untuk menggunakan tingkat risiko deteksi lebih tinggi untuk pengujian selebihnya. Dalam merancang pengujian substantif. auditor kadang-kadang menginginkan untuk menetapkan tingkat risiko deteksi berbeda yang akan digunakan dalam pengujian substantif yang berbeda pula mengenai asersi yang sama.D. PENETAPAN RISIKO DETEKSI UNTUK PENGUJIAN SUBSTANTIF YANG BERBEDA ATAS ASERSI YANG SAMA Istilah risiko deteksi sebagaimana digunakan pada uraian diatas.

dan disisi lain pengujian substantive juga bisa menghasilkan bukti yang menunjukkan adanya kekeliruan jumlah rupiah atau salah saji dalam pencatatan atau pelaporan transaksi dan saldosaldo. saat. .E. auditor harus memperoleh bukti kompeten yang cukup seperti diisyaratkan oleh standar pekerjaan lapangan ketiga dalam standar audit. PERANCANGAN PENGUJIAN SUBSTANTIF Untuk mendapatkan dasar yang masuk akal dalam memberi pendapat atas laporan keuangan kliennya. Perancangan pengujian substantif meliputi penentuan sifat. dan luas pengujian yang diperlukan untuk memenuhi tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk setiap asersi. Pengujian substantif disatu sisi bisa menghasilkan bukti tentang kewajaran setiap asersi laporan keuangan yang signifikan.

. auditor harus menggunakan prosedur yang lebih efektif yang biasanya lebih mahal. pengujian substantif terdiri dari 3 jenis. yaitu: prosedur analitis. Apabila tingkat risiko deteksi yang dapat diterima tinggi. Dan pengujian detil saldo-saldo. SIFAT Sifat pengujian substantif berhubungan dengan jenis dan efektivitas prosedur pengauditan yang akan dilakukan. auditor dapat menggunakan prosedur yang kurang efektif yang biasanya lebih murah. pengujian detil transaksi.F. Apabila tingkat risiko deteksi yang dapat diterima rendah.

pengujian bias dilakukan beberapa bulan sebelum akhir tahun. maka pengujian substantive biasanya akan dilakukan pada tanggal akhir tahun atau mendekati akhir tahun. SAAT Tingkat resiko deteksi yang dapat diterima bisa berpengaruh pula pada saat pengujian substantive. . Sebaliknya apabila resiko deteksi untuk suatu deteksi rendah. Apabila resiko deteksi tinggi.G.

H. . Luas dalam praktik mengandung banyaknya hal (items) atau besarnya sampel yang terhadapnya dilakukan pengujian atau diterapkan prosedur tertentu. LUAS PENGUJIAN Diperlukan bukti yang lebih banyak untuk mencapai tingkat resiko deteksi rendah yang bias diterima daripada tingkat resiko deteksi tinggi. Auditor bias menentukan berbagai jumlah bukti yang harus diperoleh dengan mengubah luas pengujian substantive yang dilakukan.

RINGKASAN HUBUNGAN ANTARA KOMPONEN RISIKO AUDIT DENGAN SIFAT. DAN LUASNYA PENGUJIAN SUBSTANTIF TINGKAT RESIKO BAWAAN DAN RESIKO PENGENDALIAN DITETAPKAN GABUNGAN Maksimum Tinggi Moderat Rendah Maksimum TINGKAT RESIKO DETEKSI BISA DITERIMA Tinggi Moderat Rendah Lebih Efektif Sampel Lebih Besar Akhir Tahun SIFAT LUAS SAAT Kurang Efektif Sampel Lebih Kecil Interim . SAAT.I.

dalam segala hal yang material. PENGEMBANGAN PROGRAM AUDIT UNTUK PENGUJIAN SUBSTANTIF Tujuan suatu audit laporan keuangan secara keseluruhan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien telah disajikan secara wajar. Dalam merancang pengujian suubstantif. Auditor juga menetapkan berbagai tujuan audit khuss untuk setiap rekening berdasarkan lima kategori asersi laporan keuangna. Apabila hal ini dilakukan untuk setiap rekening. . sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. auditor harus menentukan bahwa pengujian yang tepat telah diidentifikasi untuk mencapai setiap tujuan audit spesifik yang berkaitan dengan setiap asersi. maka tujuan keseluruhan akan tercapai.J.

.

Manajemen bertanggung jawab atas proses penetapan dan pengawasan estimasi akuntansi. PSA No. 37.REKENING-REKENING YANG BERKAITAN DENGAN ESTIMASI AKUNTANSI Estimasi akuntansi adalah perkiraan mengenai suatu laporan keuangan. . Audit atas Estimasi Akuntansi (SA 342.. kerugian piutang. dan biaya amortisasi. Contoh akuntansi adalah depresiasi periodic.07) menyatakan bahwa tujuan auditor dalam mengevaluasi akuntansi adalah untuk memperoleh bukti audit yang cukup memberikan keyakinan memadai bahwa: • Semua estimasi akuntansi yang material bagi laporan keuangan telah ditetapkan • Estimasi akuntansi tersebut masuk akal dalam kondisi yang bersangkutan. pos atau rekening yang terjadi bila tidak bisa diukur secara pasti. • Estimasi akuntansi disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku dan diungkapakan secara memadai.

. REKENING-REKENING BERKAITAN DENGAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK YANG MEMILIH HUBUNGAN ISTIMEWA Jenis transaksi semacam ini mengkhawatirkan auditor. sifat. karena transaksitransaksi demikian ada kemunkinan tidak diselenggarakan atas dasar tawar menawar yang wajar. . dan luasnya transaksi ini serta dampaknyaterhadap laporan keuangan. Tujuan auditor dalam pengauditan atas transaksi-transaksi yang dilakukan dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa adalah untuk mendapatkan bukti tujuan.

dan audit atas transaksi antar pihak yang memiliki hubungan istimewa yang khusus. kontrak dan dokumen relevan lainnya. atau direksi atau pejabat yang berwenang. walaupun tahun fiskalnya berbeda. 34. dan mudah tidaknya jaminan dialihkan . penting dan respresentatif yang dilakukan oleh akuntan public dari masing-masing pihak dengan tukar-menukar informasi relevan yang memadai. seperti laporan penerimaan dan dokumen pengiriman.09) menyatakan bahwa pengujian substantive harus meliputi hal-hal berikut: Memahami tujuan usaha dari transaksi Memeriksa faktur. Menginspeksi atau mengkonfirmasi dan memperoleh keyakinan atas nilai. pihak yang memiliki hubungan istimewa (SA334. Menentukan apakah transaksi telah disetujui oleh dewan komisaris.• • • • • PSA No. dan mereview surat perjanjian. Mengatur audit atas rekening Koran antar perusahaan (intercompany account balance) yang dilaksanakan pada tanggal yang bersamaan.