P. 1
Latar Belakang Konflik Di Kepulauan Spratly

Latar Belakang Konflik Di Kepulauan Spratly

|Views: 849|Likes:
Dipublikasikan oleh Ahmad Jamaludin Amin

More info:

Published by: Ahmad Jamaludin Amin on May 29, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/02/2013

pdf

text

original

Latar Belakang Konflik di Kepulauan Spratly Kepulauan Spratly merupakan gugusan kepulauan di Laut Cina Selatan yang terletak

di sekitar 1.100 Km sebelah Selatan Pulai Hainan, Cina dan 500 Km sebelah Utara Pantai Kalimantan. Secara georafis sulit menentukan batas-batas kepulauan tersebut yang disepakati bersama. Akan tetapi menurut Dieter Heinzig, kepulauan tersebut terletak di 4° LU dan 109° BT, dan ke arah Barat Laut antara 11° 31’ LU 117° BT (Johanes Judiono, 2003). Kepulauan ini memiliki luas 244.700 Km² dan terdiri dari sekitar kurang lebih 350 pulau. Kepulauan Spratly memiliki letak yang strategis baik dari segi militer dan pertahanan maupun sebagai jalur perdagangan Internasional. Selain itu kepulauan Spratly disinyalir memiliki kekayaan sumber daya minyak dan gas alam yang melimpah. Kandungan minyak dan gas di kepulauan ini diperkirakan mencapai hampir sekitar 18 miliar ton. Fakta-fakta inilah yang menyebabkan kepulauan ini diperebutkan oleh 6 negara di sekitar Laut Cina Selatan yang masing-masing mengklaim wilayah tersebut adalah wilayah kedulatannya. Keenam negara tersebut adalah Cina, Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Masingmasing negara memiliki dasar dan versi masing-masing dalam mengklaim wilayah kepulauan tersebut. Kepulauan Spratly menjadi daerah sengketa setelah selesainya Perang Dunia II dan mencapai puncaknya pada tahun 1971. B. Klaim Negara-negara atas Kepulauan Spratly 1. Klaim Cina Menurut sejarah yang ada, Kepulauan Spratly sebenarnya telah diklaim seluruhnya oleh Cina sejak tahun 1876. Klaim ini bertahan hingga meletusnya Perang Dunia I. Pasca Perang Dunia I, kedaulatan menjadi masalah sensitif bagi negaranegara pada akhir abad 18. Pada waktu itu terjadi tumpang tindih klaim atas kepulauan tersebut oleh beberapa negara yaitu Perancis, Inggris, dan Jepang yang melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah di sekitar Laut Cina Selatan. Pasca Perang Dunia II tepatnya pada tahun 1971 Cina mengumumkan peta wilayah kedaulatannya termasuk kepulauan-kepulauan beserta gugusannya di Kepulauan Spratly yang sebenarnya secara de jure belum jelas kepemilikannya. Cina mengklaim Kepulauan Spratly atas dasar penemuan bukti-bukti sejarah yang ditemukan di gugusan pulau tersebut. Penemuan tersebut menerangkan bahwa pulau-pulau di wilayah Laut Cina Selatan ada di bawah pemerintahan Dinasti Han yang berkuasa sejak 206 SM-220 M. Pada tahun 1988 Cina membangun konstruksi dan instalasi militer secara besar-besaran. Secara de facto, Cina mengukuhkan kedaulatannya atas Kepulauan Spratly dengan menempatkan pasukan militernya untuk berlatih sekaligus menjaga kepulauan tersebut. Sedangkan secara de jure, pada tanggal 25 Febuari 1992 Pemerintah Cina mengeluaran Undang-Undang tentang Laut Teritorial dan Contiguous Zone yang memasukkan Kepulauan Spratly sebagai wilayahnya. Pada September 1996 Cina kembali menunjukkan ambisinya untuk memasukkan wilayah ini ke dalam wilayah maritim Cina. Akan tetapi klaim ini diprotes oleh Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI karena masih adanya sengketa di wilayah

Rangkaian kejadian ini kemudian mengakibatkan terjadinya beberapa kali konflik senjata. 2. Vietnam juga tidak henti-hentinya menegaskan kembali tuntutannya atas kepulauan tersebut dalam berbagai kesempatan. Vietnam juga beberapa kali mengadakan latihan perang dengan menggunakan peluru hidup di wilayah tersebut. dan Vietnam yang melakukan kegiatan di perairan Kepulauan Spratly. pada tahun 1988 konflik senjata antara Vietnam dan Cina kembali muncul.tersebut. Dalam berbagai kesempatan Cina juga melakukan provokasi-provokasi dengan melakukan pengusiran nelayan-nelayan dari negara lain seperti Filipina. Pada tahun 1951 Vietnam Selatan menegaskan haknya atas kepulauan Spratly dalam konfrensi San Francisco. Vietnam mengklaim bahwa Kepulauan Spratly adalah bagian dari wilayahnya yang sudah dieksplorasi sejak abad 17. Klaim Taiwan Taiwan memiliki kedekatan historis dengan dua negara besar yaitu Jepang dan Cina. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa hampir semua negara (termasuk Indonesia) mengakui Taiwan merupakan bagian dari Cina (one china policy). Taiwan pada awalnya dijajah oleh Jepang yaitu sejak tahun 1895-1945. Taiwan menempatkan satu garnisun berkekuatan 600 tentara secara permanen serta membangun landasan pesawat dan instalasi militer lainnya di pulau terbesar yang ada di kepulauan Spratly. 3. Klaim Filipina Filipina juga ikut mengklaim Kepulauan Spratly sebagai wilayah kedaulatannya. Filipina pernah menduduki gugusan pulau ini pada sekitar tahun 1970an dengan alasan karena kawasan tersebut merupakan daerah yang tidak dimiliki oleh negara manapun. Konflik ini dilatarbelakangi oleh makin intensifnya persaingan Cina-Vietnam di daerah perairan Laut Cina Selatan. Negara ini mengklaim dan menduduki kepulauan tersebut pada tahun 1956. Vietnam. 4. dan negara-negara pengklaim lainnya. Untuk kedua kalinya. Pernyataan tersebut berdasarkan pada rujukan Perjanjian . Konflik ini menegasan kembali klaim-klaim yang dilakukan Cina dan Vietnam atas kepulauan Spratly. Taiwan sebagai negara yang terletak di sekitar Kepulauan Spratly juga ikut memperebutkan hak atas kepemilikan kepulauan tersebut. Akan tetapi ideologi yang berbeda menyebabkan Taiwan tidak mau bergabung dengan Cina dan memilih untuk mendirikan negara sendiri. Taiwan. Sama halnya dengan Cina. Angkatan laut Vietnam rutin melakukan patroli di wilayah perairan Kepulauan Spratly. Vietnam terlibat sengketa ini sejak sebelum bersatunya Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Konflik senjata pertama kali terjadi di wilayah Laut Cina Selatan pada tahun 1974 yaitu antara Cina dan Vietnam. Vietnam juga melakukan banyak aktivitas di wilayah tersebut. Klaim Vietnam Berbeda dengan Cina. serta meningkatnya militerisasi Cina. Vietnam mulai menyatakan pemilikannya atas Kepulauan Spratly pada tahun 1975 dengan menempatkan tentaranya di 13 pulau di Kepulauan tersebut. Pasca Reunifikasi. Hal ini dilakukan untuk membalas proovokasi yang dilakukan oleh Cina. Untuk menunjukkan eksistensinya di wilayah tersebut.

d. Akan tetapi yeng membedakannya adalah penarikan garis-garis batas yang ditarik secara tegak lurus dari dua titik terluar pada garis pantai Brunei Darussalam. Pada tahun 1968 Filipina mulai menempatkan marinir pada sembilan pulau di Kepulauan Spratly untuk mengukuhkan klaimnya di wilayah tersebut. Klaim Brunei hampir serupa dangan Malaysia yaitu didasarkan pada doktrin Landas Kontinental. Klaim Malaysia Malaysia juga sempat menduduki Kepulau Spratly. Pada akhir 1977 Malaysia menempatkan sejumlah pasukannya dan menduduki sembilan pulau dari kelompok Kepulauan Spratly. Brunei yang baru merdeka dari Inggris pada 1 Januari 1984 juga ikut dalam sengketa di Laut Cina Selatan ini. Insiden ini terkait dengan aktivitas nelayan Filipina di sekitar kepulauan tersebut yang seringkali dianggap melanggar wilayah kedaulatan Cina sehingga terjadi penembakan nelayan Filipina oleh marinir Cina. Pada kurun waktu antara tahun 1970an-2011 ada cukup banyak insiden yang melibatkan konfrontasi Filipina dengan Cina di Kepulauan Spratly. Melakukan perbincangan bilateral untuk mencari penyelesaian dan mengelakkan konflik senjata yang tidak akan menguntungkan negara yang terlibat b.Perdamaian San Francisco 1951 yang berisi tentang pelepasan hak Jepang atas Kepulauan Spratly. . c. Terkait dengan sengketa ini. melainkan mengklaim perairan yang berada di sekitar kepulauan tersebut. Malaysia menawarkan beberapa solusi antara lain: a. Pada 4 September 1983 Malaysia mengirim sekitar 20 Pasukan Komando ke Terumbu Layang-layang. Pada tahun 1979. Mengadadakan dialog multilateral di antara negara-negara terlibat. dan pada tahun yang sama Malaysia melakukan survey dan kembali menyatakan bahwa kepulauan tersebut berada di perairan Malaysia. Akan tetapi. Brunei tidak mengklaim gugusan pulau dari Kepulauan Spratly. Pemantauan secara bersama-sama hasil hidro karbon di bawah bumi sekitar Laut Cina Selatan. Malaysia merupakan negara terakhir yang menempatkan pasukannya di kepulauan tersebut. Pembentukan sebuah perusahaan bersama yaitu Special Purpose Vehicle (SPV) dengan menghormati kawasan Zone Ekonomi Ekslusif (ZEE) 6. Klaim Brunei Darussalam Brunei Darussalam merupakan satu-satunya negara yang menahan diri untuk tidak menempatkan angkatan bersenjatanya di wilayah Kepulauan Spratly. 5. Malaysia mengklaim 11 pulau di bagian Tenggara Kepulauan Spratly berdasarkan peta batas landas kontinen Malaysia yang menggambarkan bahwa sebagian dari gugusan Kepulauan Spratly merupakan bagian dari negaranya. Insiden lain adalah mengenai kasus survei ilmiah Cina yang disalahpahami sebagai kegiatan militer.

bebas. yang membahas tentang kawasan damai. Freedom and Neutrality) atau ZOPFAN. Deklarasi Kuala Lumpur 1971. Beberapa perundingan bilateral yang pernah dilakukan oleh negara-negara yang bersengketa atas Kepulauan Spratly adalah sebagai berikut: a. Beberapa perundingan multilateral yang pernah dilakukan baik oleh negara-negara yang bersengketa maupun dimediasi oleh pihak di luar negara-negara tersebut antara lain: a. Cina melakukan perundingan bilateral dengan Taiwan mengenai eksplorasi minyak bersama yang berlangsung di Singapura. pada akhirnya perundingan bilateral juga tidak dapat menyelesaikan masalah yang ada karena terjadi tumpang tindih antara hasil perjanjian yang satu dengan perjanjian yang lain. Pada bulan Juni 1993. Penyelesaian Konflik oleh Negara-negara yang Bersengketa 1. b. negara-negara yang bersengketa juga mengupayakan penyelesaian konflik dengan menggunakan cara ini. e. Traktat Persahabatan dan Kerjasama di Asia Tenggara. dan netral (Zone of Peace. c. Beberapa kalangan menganggap bahwa perundingan bilateral merupakan cara yang efektif karena hanya melibatkan dua negara yang bersengketa. Akan tetapi. Perundingan Multilateral Selain melalui perundingan bilateral. Malaysia dan Filipina melakukan hal yang sama dengan menandatangani perjanjian kerjasama eksplorasi minyak dan gas bumi selama 40 tahun di wilayah yang disengketakan. upaya-upaya penyelesaian konflik melalui perundingan multilateral seringkali ditempuh. Karena hanya dua negara yang berunding. Keterlibatan 6 negara dalam sengketa ini semakin mempersulit langkah penyelesaian sengketa di wilayah ini sehingga diperlukan cara lain untuk menangani masalah ini. maka negara-negara dapat lebih fokus pada apa yang disengketaka.C. Selain itu proses kesepakatan yang dibentuk sama sekali tidak membahas kepemilikan kepulauan tersebut yang sebenarnya merupakan inti dari konflik tersebut. Pada tahun 1992. sehingga lebih cepat mencapai kesepakatan. Pada tahun 1991. Pemerintah Malaysia dan Brunei Darussalam bertemu untuk membicarakan hak pengelolaan ladang minyak di sekitar Sabah. Perundingan Bilateral Perundingan bilateral merupakan salah satu cara yang dapat diambil untuk menyelesaikan suatu konflik. yang dihasilkan dan disetujui pada KTT ASEAN I pada tahun 1976 . Cina dan Filipina juga melakukan pertemuan untuk bersama-sama mengeksplorasi dan mengembangkan wilayah Spratly. 2. Dalam penyelesaian konflik di Kepulauan Spratly. Cina mengadakan pertemuan bilateral dengan Vietnam dan menghasilkan kesepakatan pembentukan kelompok khusus dalam menangani sengketa perbatasan teritorial. b. Cara ini dianggap lebih efektif digunakan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa yang melibatkan lebih dari 2 negara. d.

Pembentukan ASEAN Regional Forum (ARF). Pada bulan Maret 2005. KTT ASEAN V tahun 1995. Taiwan. Pertemuan ARF pertama kali dilangsungkan di Bangkok. Akan tetapi konflik ini belum selesai karena belum ada kesepakantan mengenai hak kepemilikan wilayah Kepulauan tersebut. dan Brunei Darussalam di mana masing-masing negara memiliki versinya masing-masing. Filipina. pelayaran dan komunikasi di Laut Cina Selatan. Cina-Vietnam-Filipina menandatangani MoU kerjasama dalam bidang eksplorasi energi dan sepakat untuk menghentikan klaim atas kepemilikan Kepulauan Spratly. ASEAN dan Cina menandatangani Declaration on the Conduct of Parties in South China Sea. Upaya penyelesaian konflik ini sudah dilakukan sejak tahun 1970an baik melalui upaya-upaya bilateral maupun multilateral. ASEAN sebagai organisasi regional Asia Tenggara ikut berperan aktif dalam upaya penyelesaian konflik di wilayah tersebut. . e. yang berhasil mendudukkan 22 negara se-Asia Pasifik. Pada tahun 2006 China-ASEAN Joint Working Group melakukan pertemuan dan menghasilkan kesepakatan bahwa kedua belah pihak (Cina dan ASEAN) berkomitmen menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Laut Cina Selatan. Dalam pembentukannya. Technical Working Groups. Tahun 2002. Indonesia sebagai negara yang cinta damai juga ikut menginisiasi dialog serta pertemuanpertemuan multilateral untuk mempercepat proses penyelesaian konflik di Kepulauan Spratly. f. keamanan navigasi. yang dibentuk pada tahun 1994. Dalam upaya-upaya tersebut telah disepakati beberapa hal seperti kerjasama pengelolaan wilayah Kepulauan Spratly. Malaysia. h.c. Letaknya yang strategis dan kandungan kekayaan yang melimpah berupa minyak dan gas bumi membuat keenam negara yang bersengketa berusaha mati-matian dalam memperoleh wilayah kepulauan ini. Vietnam. yang menghasilkan traktat mengenai kawasan bebas senjata nuklir di Asia Tenggara (Treaty on South East Asia Zone-Nuclear Free Zone). d. yang dipelopori oleh Indonesia. Groups of Experts dan Study Groups. Dialog ini melibatkan aktor-aktor non-negara seperti ahli-ahli kelautan dan para akademisi. Kesimpulan Konflik di Kepulauan Spratly muncul akibat klaim yang dilakukan oleh 6 negara yaitu Cina. Dalam dialog ini kemudian disepakati proyek kerjasama dalam bidang penelitian keragaman hayati. g. maupun pembagian sumber daya alam. Sengketa ini muncul karena dipicu oleh pernyataan Cina tentang kepemilikan wilayah tersebut pada tahun 1971. tim yang tergabung mencari jalan terbaik bagi semua pihak yang bersengketa dengan menjalankan proyek kerjasama dalam hal monitoring ekosistem. D. i. Dibawanya permasalahan ini oleh Indonesia ke ASEAN Post-Ministerial Conference.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->