Anda di halaman 1dari 6

PAPER PRAKTIKUM PENGANTAR EKONOMI PERTANIAN KOMODITAS HORTIKULTURA

Kelompok 1 :
Al fath Mubin Mubarak Rr. Astrie Septianing Anggarini Dian Anggorowati Ayu Yunita Wardhani Mahanani Kusuma Wijaya ( )

(105040200111005) (105040200111006) (105040200111018) (105040200111019)

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

Abstrak
Permintaan adalah banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga tertentu pada tingkat pendapatan tertentu dan dalam periode tertentu. Penawaran adalah jumlah barang yang produsen ingin tawarkan atau jual pada berbagai tingkat harga selama satu periode waktu tertentu. Dengan tingkat pendapatan konsumen yang semakin tinggi dari waktu ke waktu akan memungkinkan konsumen melakukan pilihan bukan lagi karena pertimbangan harga, tetapi lebih mementingkan kepuasan dari komoditas yang dikonsumsi. Oleh sebab itu, sayur-sayuran dan buah-buahan baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk kebutuhan pasar luar negeri harus memenuhi persyaratan kualitas yang diinginkan konsumen. Persaingan yang tinggi saat ini, mendorong pertanian harus memiliki daya saing dan inovasi yang baik, terutama pada produk-produk pertanian yang memiliki potensi dan nilai yang tinggi, serta dijadikan kebutuhan pokok oleh sebagian besar masyarakat. Proses pengembangan dan pengelolaan OVOP perlu didukung oleh banyak faktor sumberdaya seperti Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, waktu, pengetahuan dan teknologi, informasi, modal dan sebagainya.

Pendahuluan
Permintaan adalah banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga tertentu pada tingkat pendapatan tertentu dan dalam periode tertentu. Hukum permintaan pada hakikatnya merupakan suatu hipotesis yang menyatakan Hubungan antara barang yang diminta dengan harga barang tersebut dimana hubungan berbanding terbalik yaitu ketika harga meningkat atau naik maka jumlah barang yang diminta akan menurun dan sebaliknya apabila harga turun jumlah barang meningkat. Penawaran adalah jumlah barang yang produsen ingin tawarkan atau jual pada berbagai tingkat harga selama satu periode waktu tertentu. Hukum penawaran menyatakan Semakin tinggi harga suatu barang, semakin banyak jumlah barang tersebut akan ditawarkan oleh para penjual. Sebaliknya, makin rendah harga suatu barang, semakin sedikit jumlah barang tersebut yang ditawarkan. Teori permintaan dapat dinyatakan Perbandingan lurus antara permintaan terhadap harganya yaitu apabila permintaan naik, maka harga relatif akan naik, sebaliknya bila permintaan turun, maka harga relatif akan turun. Teori penawaran yaitu teori yang menerangkan sifat penjual dalam menawarkan barang yang akan dijual.

Permintaan
Komoditas hortikultura merupakan komoditas yang prospektif untuk dikembangkan mengingat potensi serapan pasar di dalam negeri maupun pasar internasional cukup besar. Pengembangan produk hortikultura dapat menjadi sektor pendukung keberhasilan pertanian jika kualitas, kuantitas, dan kontinuitasnya dapat ditingkatkan. Selain itu komoditas hortikultura memiliki peranan strategis dalam pembangunan nasional yaitu sebagai sumber pendapatan dan komoditi ekspor yang menghasilkan devisa negara (Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, 2002). Perkembangan permintaan akan produk pertanian organik di Indonesia setiap tahunnya cederung mengalami peningkatan. Pada tahun 2006, pertumbuhan permintaan domestik mencapai 600 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Permintaan ini setara dengan 5-6 juta USD (United State Dollar) atau sekitar 45-56 Miliar rupiah. Jika pada tahun 2005 jumlah outlet atau retailer organik hanya sekitar 10 buah maka pada tahun 2007 angka itu sudah lebih dari 20 buah. Bahkan, beberapa restoran organik sudah berdiri di Jakarta dan Yogyakarta. Penyebaran outlet atau toko organik ini juga sudah menyebar dari yang semula hanya terdapat di Yogyakarta dan Jakarta, sekarang sudah menyebar ke Bogor, Bandung, Medan, Surabaya dan kota-kota lainnya (Surono 2007, dalam Saragih 2008). Sayur dan buah organik merupakan komoditas hortikultura yang banyak diminati untuk dikembangkan pada pertanian organik saat ini. Keistimewaan dari sayur dan buah organik adalah mengandung antioksidan 10-50 persen di atas sayuran nonorganik. Kandungan nitrat dalam sayuran dan buah organik diketahui 25 persen lebih rendah dari yang nonorganik. Hal tersebut membuat sayur dan buah organik layak untuk dikonsumsi dan menyehatkan (Isdiayanti 2007). Dengan tingkat pendapatan konsumen yang semakin tinggi dari waktu ke waktu akan memungkinkan konsumen melakukan pilihan bukan lagi karena pertimbangan harga, tetapi lebih mementingkan kepuasan dari komoditas yang dikonsumsi. Oleh sebab itu, sayursayuran dan buah-buahan baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk kebutuhan pasar luar negeri harus memenuhi persyaratan kualitas yang diinginkan konsumen. Alasan pentingnya keamanan dari mengkosumsi sayur dan buah organik menunjukkan bahwa adanya permintaan terhadap sayur dan buah organik tidak hanya tergantung dari faktor harga maupun tingkat pendapatan, tetapi juga disebabkan oleh faktor lainnya. Menurut Winarno (2003) peningkatan permintaan pangan organik dipicu oleh

meningkatnya jumlah expatriate yang berada di kota-kota besar dan laju perkembangannya didorong oleh berkembangnya masyarakat kelas menengah ke atas. Dari metode yang telah digunakan, didapatkan hasil sebagai berikut : 1. Karakteristik Konsumen Komoditas Hortikultura (Sayur dan Buah) Konsumen hortikultura mayoritas merupakan konsumen yang berasal dari kalangan dari tingkat pendapatan di atas 4.000.000 rupiah perbulan, dengan tingkat pendidikan terakhir adalah sarjana (S1), mempunyai jumlah anggota keluarga tiga sampai empat orang, frekuensi pembelian tiga kali dalam satu bulan, berprofesi sebagai ibu rumah tangga, kendala utama yang dihadapi yaitu ketersediaan produk yang terbatas. Konsumen berpendapat lebih sehat setelah mengkonsumsi komoditas hortikultura terutama sayur dan buah organik, harga sayur dan buah organik sepadan dengan mutu/manfaat sayur dan buah organik (sebanding harganya). 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Konsumen Terhadap Komoditas Hortikultura (sayur dan buah) Model terpilih yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan sayur dan buah organik adalah model regresi linier berganda. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan sayur dan buah organik secara signifikan adalah pendapatan konsumen, usia konsumen, harga sayur dan buah organik, dan gaya hidup konsumen. 3. Elastisitas Permintaan Konsumen Terhadap Komoditas Hortikultura (sayur dan buah) Berdasarkan nilai elastisitas terbesar, diketahui bahwa untuk permintaan sayur dan buah organik adalah variabel pendapatan.

Penawaran
Pertanian Indonesia memiliki potensi yang besar dalam segi sumberdaya dan kualitas, sehingga dapat menjadi sektor unggulan dalam meningkatkan pendapatan negara. Pertanian tidak lagi dipandang dalam ruang lingkup yang sempit dan penanaman saja. Pertanian saat ini sudah diupayakan secara terintegrasi. Pertanian tidak berfokus hanya pada budidaya saja, namun seluruh aspek yang menunjang pertanian, seperti pemanfaatan pengolahan dan pemasaran. Persaingan yang tinggi saat ini, mendorong pertanian harus memiliki daya saing dan inovasi yang baik, terutama pada produk-produk pertanian yang memiliki potensi dan nilai yang tinggi, serta dijadikan kebutuhan pokok oleh sebagian besar masyarakat.

Hortikultura setiap saat harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup dengan mutu yang layak, aman dikonsumsi dan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Pasar hortikultura di Indonesia sangat besar dan menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat sejalan dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk Indonesia. Kondisi tersebut ternyata belum dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk memperkuat pembangunan subsektor hortikultura. Jumlah produksi produk olahan hortikultura yang semakin meningkat turut memicu peningkatan kebutuhan hortikultura di masyarakat, karena jangkauan pasar dari produk olahan tersebut semakin memperluas permintaan masyarakat akan hortikultura. Perluasan pasar hortikultura selain disebabkan oleh jenis produk olahan yang besar, juga karena hortikultura memiliki jumlah komoditas pertanian yang sangat besar. Kekurangan kebutuhan hortikultura Indonesia saat ini dipenuhi oleh komoditas impor, seperti pada komoditas sayuran yang masih megimpor 16 jenis sayuran dengan peningkatan volume impor tahun 2008 mencapai 42,20% dibandingkan tahun 2006. Penentuan komoditas unggulan sangat diperlukan dalam meningkatkan daya saing suatu daerah. Beberapa daerah di berbagai negara sudah membuktikan bahwa potensi alam asli mampu menjadi daya tarik dan peluang untuk mengembangkan dan memperkenalkan daerahnya menjadi lebih besar lagi seperti Thailand dan Australia yang meningkatkan pendapatan negaranya melalui komoditas buah-buahan dan sapi potong. Indonesia memiliki banyak daerah dengan ciri khas masing-masing, baik berupa wisata alam maupun komoditas alaminya. Namun pengembangan potensi daerah tidak dapat dicapai tanpa adanya informasi mengenai komoditas-komoditas yang dapat dijadikan sebagai unggulan. Penentuan komoditas unggulan tidak hanya ditelaah dari luas lahan dan produktivitas saja, namun harus dikaji secara holistik, mulai dari budidaya, panen, pascapanen, pengolahan pasar, distribusi dan faktor pendukung lainnya seperti perbankan dan kelembagaan, sehingga pengembangan agribisnis secara menyeluruh dapat tercapai. Salah satu bentuk pengembangan potensi alam asli adalah One Village One Product (OVOP) yang diprakarsai oleh Morihiko Hiramatsu di Jepang. OVOP bertujuan untuk menggali dan mempromosikan produk inovatif dan kreatif lokal berdasarkan potensi sumberdaya yang ada, bersifat unik khas daerah bernilai tambah tinggi dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Proses pengembangan dan pengelolaan OVOP perlu didukung oleh banyak faktor sumberdaya seperti Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, waktu, pengetahuan dan teknologi, informasi, modal dan sebagainya.

Kesimpulan
Konsumen berpendapat lebih sehat setelah mengkonsumsi komoditas hortikultura terutama sayur dan buah organik, harga sayur dan buah organik sepadan dengan mutu/manfaat sayur dan buah organik (sebanding harganya). Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan sayur dan buah organik secara signifikan adalah pendapatan konsumen, usia konsumen, harga sayur dan buah organik, dan gaya hidup konsumen. Hortikultura setiap saat harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup dengan mutu yang layak, aman dikonsumsi dan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Pasar hortikultura di Indonesia sangat besar dan menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat sejalan dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk Indonesia. Penentuan komoditas unggulan sangat diperlukan dalam meningkatkan daya saing suatu daerah. Penentuan komoditas unggulan tidak hanya ditelaah dari luas lahan dan produktivitas saja, namun harus dikaji secara holistik, mulai dari budidaya, panen, pascapanen, pengolahan pasar, distribusi dan faktor pendukung lainnya seperti perbankan dan kelembagaan, sehingga pengembangan agribisnis secara menyeluruh dapat tercapai.

Daftar Pustaka
Asti. 2010. Bab I Pendahuluan.Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis. Bogor: IPB Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura. 2002. Informasi Hortikultura dan Aneka Tanaman. Departemen Pendidikan. Jakarta http://ekonomi-ucy.blogspot.com/2009/12/permintaan-dan-penawaran.html http://harisahmad.blogspot.com/2010/05/teori-permintaan-dan-penawaran.html http://rendy-ramon.blogspot.com/2010/03/hukum-permintaan-dan-penawaran.html http://www.dokterbudi.com/?s=teori+penawaran Isdiayanti. 2007. Analisis Usahatani Sayuran Organik di Perusahaan Matahari Farm [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. matakuliah.files.wordpress.com/2007/09/te-mik-2.pdf Rahardja, Manurung. Pengantar Ilmu Ekonomi(Microekonomi dan macroekonomi) edisi revisi. Jakarta:FEUI Saragih SE. 2008. Pertanian Organik : solusi hidup harmoni dan berkelanjutan. Cetakan 1. Jakarta: Penebar Swadaya. Winarno FG. 2004. Pengantar Pertanian Organik. Jakarta: M-Brio Press.