Anda di halaman 1dari 99

BAB 1 PENDAHULUAN

UPDATING DATA BASE DAN

SISTIM INFORMASI JALAN

BAB 1 PENDAHULUAN UPDATING DATA BASE DAN SISTIM INFORMASI JALAN 2012 Tiar PT. BAHANA NUSANTARA 5/25/2012
BAB 1 PENDAHULUAN UPDATING DATA BASE DAN SISTIM INFORMASI JALAN 2012 Tiar PT. BAHANA NUSANTARA 5/25/2012
BAB 1 PENDAHULUAN UPDATING DATA BASE DAN SISTIM INFORMASI JALAN 2012 Tiar PT. BAHANA NUSANTARA 5/25/2012

2012

Tiar PT. BAHANA NUSANTARA

5/25/2012

1

BAB 1 PENDAHULUAN

Daftar Isi

BAB 1 PENDAHULUAN

5

1.1

Latar Belakang

5

1.2

Maksud dan Tujuan Pekerjaan

6

1.3

Sasaran Pekerjaan

6

1.4

Keluaran Pekerjaan

6

1.5

Ruang Lingkup Pekerjaan

6

1.5.1

Pengumpulan Data

7

1.5.2

Survey

7

1.5.3

Pengolahan Data

8

1.5.4

Pembuatan Sistem Informasi

8

1.5.5

Penyajian Data

8

BAB 2 PENGALAMAN

9

2.1

Latar Belakang

9

2.2

Lingkup Jasa Konsultansi

10

2.2.1

Perencanaan Wilayah dan Pembangunan Kota

11

2.2.2

Pengembangan Sumber Daya Air

12

2.2.3

Transportasi dan Prasarana

14

2.2.4

Teknik Lingkungan dan Pengelolaannya

16

2.2.5

Pembangunan Pertanian dan Perdesaan

17

2.2.6

Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Institusi

18

2.3

Organisasi Perusahaan

19

2.4

Pengalaman Perusahaan Secara Umum

20

2.5

Perangkat Kantor

21

BAB 3 TANGGAPAN & SARAN TERHADAP KERANGKA ACUAN KERJA

21

3.1 Tanggapan Terhadap Latar Belakang

22

3.2 Tanggapan Terhadap Tujuan Pekerjaan

23

3.3 Tanggapan Terhadap Sasaran Pekerjaan

23

3.4 Tanggapan Terhadap Lingkup Pekerjaan

23

3.5 Tanggapan Terhadap Keluaran Pekerjaan

25

3.6 Tanggapan Terhadap Jangka Waktu Pelaksanaan

25

3.7 Tanggapan Terhadap Tenaga Ahli

25

3.8 Tanggapan Terhadap Sistem Pelaporan Dan Diskusi

27

BAB 4 TANGGAPAN & SARAN TERHADAP PERSONIL/FASILITAS PENDUKUNG

29

2

4.1

Tanggapan Terhadap Personil

29

BAB 1 PENDAHULUAN

4.2

Tanggapan Terhadap Fasilitas Pendukung

29

BAB 5 PENDEKATAN, METODOLOGI & PROGRAM KERJA

30

5.1

Pendekatan

30

5.1.1

Pendekatan Normatif, Teori dan Kebijakan

31

5.1.1.1

Jalan, Klasifikasi, dan Status

32

5.1.1.2

Profil Wilayah Kota Tangerang

41

5.1.2

Pendekatan Teknis

50

5.1.2.1

Sistem, Elemen dalam system, Elemen system dan Jenis

50

5.1.2.2

Basis Data

52

5.1.2.3

Sistem Manajemen Basis Data

53

5.1.2.4

Pelaku Basis Data

55

5.1.2.5

Stasiun Titik Awal (STA)

57

5.1.2.6

Lebar jalur, bahu jalan dan saluran

59

5.1.2.7

Sistem Informasi Geografi

60

5.1.2.8

Form Survey

68

5.1.2.9

Peralatan Survey

69

5.1

Metodologi

73

5.1.1

Metodologi Updating Database

74

5.1.2

Metodologi Pembangunan SISJA Kota Tangerang

75

5.1.3

Program Kerja

85

5.1.3.1

Program Kerja Utama I;

85

5.1.3.2

Program Kerja Utama II;

86

5.1.3.3

Program Kerja Utama III;

87

5.1.3.4

Program Kerja Utama IV;

88

6.1.1

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

90

6.2

Organisasi dan Personil

91

6.2.1

Organisasi pelaksanaan pekerjaan

91

6.2.2

Jadwal penugasan tenaga ahli

92

6.2.3

Komposisi Tim Dan Penugasan

93

6.2.4

Kerangka Berfikir Peng-kini-an (updating) Data Base Jalan

97

6.2.5

Kerangka Berfikir SISJA (Sistem Informasi Jalan) Kota Tangerang

98

6.2.6

Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan

99

3

BAB 1 PENDAHULUAN

Daftar Gambar

Daftar Tabel

Tabel 1 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

90

Tabel 2 Jadwal Penugasan Tenaga Ahli

92

Tabel 3 Komposisi Tim Dan Penugasan

93

4

BAB 1 PENDAHULUAN

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Untuk mengetahui informasi ketersediaan jalan yang menghubungkan pusat pusat kegiatan dalam wilayah kabupaten/kota, jalan yang memudahkan masyarakat per- individu melakukan perjalanan, jalan yang menjamin pengguna jalan berkendara dengan selamat, jalan yang menjamin kendaraan dapat berjalan dengan nyaman dan selamat, jalan yang menjamin perjalanan kendaraan dapat dilakukan sesuai dengan kecepatan rencana sejalan dengan dinamika kebutuhan terhadap aksesiblitas, mobilitas, keselamatan, kondisi jalan dan kecepatan maka dibutuhkan suatu data base jalan. Dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangerang telah mempunyai data base jalan kota, arteri sekunder, kolektor sekunder, lokal yang tercatat ± sebanyak 260 ruas jalan. Namun seiring dengan adanya kegiatan pembangunan ( penambahan ruas dan pelebaran) terdapat perubahan perubahan pada data kuantitas dan kualitasnya, sehingga diperlukan suatu kegiatan updating data jalan dan pembuatan sistem informasi untuk menjamin ketersediaan informasi yang up to date. Updating data merupakan hal penting karena dapat memberikan informasi yang relavan, up to date, akurat dan lebih lengkap. Ketersediaan data yang up to date khususnya data jalan pada Dinas Pekerjaan Umum merupakan suatu kebutuhan utama untuk menunjang informasi dalam rangka pelaksanaan kegiatan perencanaan dan pembangunan. Oleh karena itu Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangerang sebagai

5

Maksud dan Tujuan Pekerjaan

penanggung jawab terhadap penyelenggaraan jalan perlu melaksanakan kegiatan updating data jalan ini sehingga ketersediaan informasi mengenai data jalan dapat terpenuhi.

1.2 Maksud dan Tujuan Pekerjaan Kegiatan update data jalan ini dimaksudkan untuk melaksanakan kegiatan updating data jalan kota, arteri sekunder, kolektor sekunder, lokal dan pembuatan sistem informasinya. Tujuan dari kegiatan ini adalah tersedianya data update jalan kota, arteri sekunder, kolektor sekunder, lokal dan sistem informasinya dalam bentuk software yang dapat dijadikan informasi dan menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan perencanaan dan pembangunan jalan di Kota.

1.3 Sasaran Pekerjaan Ketersediaan data update jalan dan sistem informasinya ini dapat memberikan kemudahan memperoleh informasi jalan jalan Kota (arteri sekunder, kolektor sekunder, lokal di Kota Tangerang yang relevan, up to date, akurat dan lebih lengkap

1.4 Keluaran Pekerjaan Keluaran yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah dokumen Update Data Jalan dan Software Sistem Informasi Jalan hasil update dan Dokumen Tender (lelang).

1.5 Ruang Lingkup Pekerjaan Pelaksanaan pekerjaan ini terdiri atas beberapa aspek yakni; sumber daya manusia yang diharapkan dapat membantu; (ii) ruang lingkup pekerjaan yang akan dikerjakan; (iii) dan tahapan pekerjaan.

6

Pengumpulan Data

1.5.1 Pengumpulan Data Kegiatan yang dilakukan dalam tahap pengumpulan data adalah pengumpulan data primer dan data sekunder.

1) Pengumpulan data primer diperoleh dengan melakukan kegiatan survey /

pengecekan langsung ke lapangan. 2) Pengumpulan data sekunder diperoleh dari data yang telah ada di Dinas Pekerjaaan Umum. Data sekunder yang tersedia di Dinas Pekerjaan umum berupa :

o

Data numerik berupa tabulasi data jalan arteri sekunder, kolektor sekunder, lokal ± sebanyak 260 ruas jalan yang memuat informasi ( nama jalan, lokasi, volume, jenis perkerasan, lebar saluran )

o

Data spasial berupa peta garis jaringan jalan dalam format *.dwg

o

Data spasial berupa peta garis digital jalan dalam format *.Shp dan *.Jpg

1.5.2 Survey Kegiatan yang dilakukan dalam tahap survey adalah melakukan pengecekan dan pengukuran lapangan dari data sekunder yang ada dan melakukan pendataan terhadap kondisi existing dan perubahan perubahan data di lapangan. Data yang disurvei dan dikumpulkan meliputi :

Nama Jalan

Lokasi Jalan

Foto Jalan

Existing

Potongan melintang

Kerangka Acuan Kerja Updating Data Base dan Sistem Informasi Jalan

Posisi ( Koordinat awal dan akhir )

Volume Jalan dan saluran ( Panjang dan Lebar )

Tipe Perkerasan

Kelengkapan jalan ( trotoar, median, bahu jalan dan saluran )

7

Pengolahan Data

Kondisi

1.5.3 Pengolahan Data Dalam tahap ini data primer yang diperoleh pada tahap survei diinventarisir dan dicolecting dalam bentuk tabulasi data yang akan dijadikan sebagai data base. Kemudian setelah tabulasi data dilakukan dilanjutkan ploting data base tersebut kedalam peta garis digital. Ploting data base kedalam peta garis digital dilakukan untuk menggabungkan data atribut dan data spasial yang nantinya akan dijadikan sistem informasinya.

1.5.4 Pembuatan Sistem Informasi

Dalam tahap pembuatan sistem informasi update jalan ini dibuat dengan spesifikasi :

1)

Program yang dibuat berbasis data base dengan software yang dapat menampilkan

2)

overview serta informasi data atribut dan data spasial ( peta digital ) jalan Data spasial ( peta digital ) yang ditampilkan menggunakan kaidah kartografi

3)

Memuat Informasi lengkap mengenai data jalan antara lain : Nama Jalan, Lokasi jalan,

4)

foto lokasi, exsisting, posisi ( koordinat awal & akhir jalan), volume jalan dan saluran tipe perkerasan, kelengkpan jalan dan kondisi jalan yang dapat di print out Program yang dibuat, mudah dimengerti dan digunakan sistem install

5) Menggunakan tampilan menu dan perintah dalam bahasa indonesia dan bahasa inggris pada perintah perintah yang janggal / asing apabila dibahasa indonesiakan

6)

Proses cepat/efisien dengan penggunaan memory optimal

7)

Tampilan dengan design menarik dan fullscreen

8)

Berjalan pada sistem windows XP dan Widows 7

9)

Mudah di Update dan Upgrade

10) No Limit expired date 11) Menampilkan tulisan dan logo Pemerintah Kota Tangerang Dinas Pekerjaan serta title

sistem informasi jalan kota Tangerang

1.5.5 Penyajian Data

Penyajian data dari hasil updating data jalan ini disajikan dalam bentuk laporan dan software sistem informasi digital data jalan yang memuat informasi data atribut ( Numerik ) dan spasial ( peta digital ) data jalan.

8

BAB 2 PENGALAMAN

BAB 2 PENGALAMAN BAB 2 PENGALAMAN 2.1 Latar Belakang PT. Bahana Nusantara didirikan pada tahun 1986

BAB 2 PENGALAMAN

2.1 Latar Belakang PT. Bahana Nusantara didirikan pada tahun 1986 sebagai jawaban atas peningkatan kebutuhan keahlian dalam bidang teknik, lingkungan, bio-fisik, sosial ekonomi dan institusi, seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkembang pesat. Kami

9

Lingkup Jasa Konsultansi

telah menjadi anggota Ikatan Konsultan Indonesia (INKINDO) sejak tahun 1986 dan telah melakukan kurang lebih 142 pekerjaan pelayanan jasa konsultan, baik dari pemerintah maupun swasta.

2.2 Lingkup Jasa Konsultansi PT. Bahana Nusantara mampu memberikan layanan jasa konsultansi secara luas. Layanan tersebut dibagi dalam beberapa disiplin atau divisi dan sub divisi.

Layanan keahlian kami adalah memberikan bidang dengan jangkauan yang luas untuk beberapa disiplin :

Perencanaan Wilayah dan Pembangunan Kota;

Pengembangan Sumber Daya Air;

Transportasi dan Prasarana;

Teknik Lingkungan dan Pengelolaannya;

Pembangunan Pertanian dan Perdesaan:

Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Institusi;

Arsitektur, Landsekap dan Struktur Bangunan Gedung.

Untuk setiap disiplin, kami memberikan layanan jasa konsultansi untuk memenuhi semua tahapan pembangunan, termasuk :

Rencana Induk;

Identifikasi dan Pra Studi Kelayakan;

Rancangan dan Perencanaan Teknis;

Analisis Kelayakan Ekonomi dan Keuangan;

Pengawasan Konstruksi dan Manajemen Proyek

Dll.

Kami melaksanakan pekerjaan dengan kualitas yang baik untuk memenuhi standar yang ditetapkan baik nasional maupun internasional. Pada setiap tahapan pekerjaan, kami

10

Perencanaan Wilayah dan Pembangunan Kota

melihat pentingnya kerjasama profesional dengan pemberi tugas, untuk menjamin kemajuan pekerjaan sesuai yang diharapkan. Kami menyediakan layanan yang bervariasi, mulai jangka pendek sampai dengan jangka panjang sesuai dengan ketersediaan dana dan waktu. Setiap penugasan yang diberikan kepada kami, akan dilaksanakan secara cermat dan seksama.

2.2.1 Perencanaan Wilayah dan Pembangunan Kota

Kawasan wilayah dan perkotaan kerap berkembang lebih pesat daripada rekayasa dan tingkat pelayanannya. Rekayasa, rancang bangun, dan pembangunan prasarana kota merupakan tugas kompleks, yang memerlukan identifikasi pokok masalah dan penyelesaian yang tepat guna. Salah satu penyelesaiannya adalah melalui pendekatan terpadu yang dimulai dari skenario pengembangan wilayah/kota, kemampuan pendanaan, penyediaan air bersih, drainase kota, pengelolaan limbah manusia/sanitasi dan persampahan, prasarana jalan dan sistem angkutan kota sampai dengan perkuatan kelembagaan dan sumber daya manusia.

Prasarana Air Bersih

Sistem air bersih yang berkelanjutan;

Instalasi pengolahan dan penjernihan air;

Pengendalian kebocoran air;

Perencanaan teknis;

Pengelolaan distribusi air;

Pengawasan konstruksi

Drainase dan Sanitasi

Sistem sanitasi hemat biaya;

Sistem drainase dan perpipaan air limbah;

Perencanaan teknis;

Pengawasan konstruksi;

Pengelolaan operasi dan pelatihan.

Persampahan

11

Pengembangan Sumber Daya Air

Pengelolaansampah perkotaan;

Sistem pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan;

Pembuangan, penimbunan dan kompos;

Pemulihan lokasi dan perencanaan teknis TPA sampah.

Jalan Kota dan Angkutan

Rancangan angkutan perkotaan;

Teknik lalu lintas dan pengelolaannya;

Operasi dan pemeliharaan;

Supervisi konstruksi.

Pembangunan Kota

Rancangan induk dan disain rinci untuk pengembangan kota baru, permukiman dan kawasan industri serta pusat rekreasi;

Perbaikan kampung;

Perbaikan pasar.

2.2.2 Pengembangan Sumber Daya Air

Irigasi dan Drainase

Suatu jaringan irigasi tidak hanya terdiri dari saluran, bendung, bendungan dan bangunan keairan lainnya. Namun terdapat pula masyarakat, aspek sosial dan kegiatan pertanian. Hal ini memerlukan pendekatan yang terpadu, baik untuk rancangan, pengembangan irigasi baru ataupun rehabilitasi jaringan yang ada. PT. Bahana Nusantara dapat membantu dalam hal :

Rancangan program;

Studi kelayakan;

Perencanaan teknis;

Pengelolaan proyek;

12

Pengembangan Sumber Daya Air

Rehabilitasi;

Operasi dan pemeliharaan;

Pengembangan jaringan tersier dan pencetakan sawah;

Irigasi air tanah.

Pengaturan Sungai dan Pengendalian Banjir

Dalam teknik pengaturan sungai adalah penting untuk memperhatikan stabilitas badan air dengan wawasan luas, khususnya pada bagian sungai yang ditinjau. Pekerjaan ini termasuk perlindungan tebing sungai dari erosi pengendalian meander sungai.

Tujuan pekerjaan tersebut adalah untuk mengendalikan aliran banjir. Hal ini dapat diselesaikan dengan mempertinggi tanggul yang ada sehingga dapat meningkatkan kapasitas badan air tersebut.

Untuk mencapai sasaran dari pekerjaan tersebut, kebutuhan dasar berikut ini haruslah dipenuhi, yaitu : stabilitas, fleksibiltas, daya tahan, pemeliharaan, keamanan, kelayakan lingkungan dan biaya yang efisien.

PT. Bahana Nusantara bersedia melayani untuk :

Survey topografi dan pemetaan;

Perencanaan teknis pekerjaan pengendalian banjir dan pengaturan sungai;

Pengawasan konstsruksi.

Pembangunan Daerah Pengaliran Sungai

Pembangunan yang berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya air dalam suatu daerah pengaliran sungai seringkali menjadi kompleks dan menimbulkan problema, bilamana menyangkut perbedaan kepentingan diantara para pemakai air. Studi mengenai kuantitas dan kualitas sumber daya air akan memberikan informasi, antara lain air larian, debit sungai, angkutan sedimen dan lain-lain. Data tersebut dapat digunakan untuk perencanaan pengendalian banjir, irigasi ataupun rehabilitasi jaringan yang sudah ada.

Untuk menjawab problema tersebut, PT. Bahana Nusantara menawarkan berbagai pengetahuan mengenai :

13

Transportasi dan Prasarana

Pengelolaan sumber daya air;

Pengelolaan bantaran sungai;

Pengelolaan daerah pengaliran sungai;

Hidrologi;

Hidrolgeografi;

Model-model simulasi;

Perencanaan jaringan secara terpadu;

Pemantauan dan evaluasi;

Pengembangan institusi.

PT. Bahana Nusantara dapat membantu dalam layanan :

Survey kondisi tanah dan pemetaan;

Survey dan pemetaan topografi;

Identifikasi rawa/lahan basah;

Studi kelayakan;

Analisis ekonomi dan keuangan;

Perencanaan teknis prasarana;

Pengembangan sistem angkutan air di daerah pedalaman.

2.2.3 Transportasi dan Prasarana

Pembangunan ekonomi dan sosial akan mempengaruhi kebutuhan mobilitas orang dan barang. Oleh karena itu, jaringan arteri perhubungan ke berbagai arah tujuan harus dibuka untuk membantu mengurangi kemacetan lalu lintas orang dan barang. Menghadapi masalah demiikian, PT. Bahana Nusantara dapat memikirkan model angkutan terpadu dilengkapi dengan prasarana dan sarana jalan, kereta api dan jembatan.

Sektor Perhubungan

Rekayasa dan rancangan transportasi;

Jalan pedesaan dan layanan angkutan umum;

14

Transportasi dan Prasarana

Keamanan lalu lintas secara terpadu;

Pembangunan jalan masuk dan perparkiran;

Perencanaan dan operasi pelabuhan;

Lokasi dan perencanaan bandar udara;

Perencanaan muatan dan distribusi barang;

Evaluasi ekonomi dan studi dampak.

Teknik Jalan Raya

Penyelidikan tanah dan laboratorium;

Studi kelayakan;

Perencanaan teknis jalan raya;

Supervisi dan manajemen konstruksi;

Pengelolaan dan pemeliharaan jalan;

Survey inventarisasi kondisi jalan;

Pangkalan data sistem jaringan jalan;

Evaluasi kegiatan pemeliharaan jalan;

Penguatan organisasi pemeliharaan jalan dan sumber daya manusia.

Teknik Jembatan

Perencanaan teknis;

Pengawasan konstruksi.

Pelabuhan

Lingkungan pelabuhan;

Sedimentasi kolam pelabuhan dan pengerukan;

Perencanaan terminal;

15

Teknik Lingkungan dan Pengelolaannya

Manuver kapal, kanal masuk kapal dan sebagainya;

Perencanaan bangunan pemecah gelombang;

Analisa ekonomi dan keselamatan pelayaran.

2.2.4 Teknik Lingkungan dan Pengelolaannya

PT. Bahana Nusantara selalu menggunakan pendekatan inovatif dan terpadu dalam menangani perbaikan kualitas lingkungan. Penanganan aspek lingkungan tidak hanya terbatas pada komponen air, buangan air kotor dan sampah, tetapi juga mencakup pengendalian polusi udara, tanah dan kebisingan serta pengelolaan dan audit lingkungan.

PT. Bahana Nusantara menawarkan sistem pemantauan lingkungan :

Aspek Teknik Lingkungan

Pemilihan lokasi;

Kawasan penyangga;

Substitusi dan minimasi sumber daya;

Modifikasi proses dan penyimpangan;

Pengembangan sistem pemantauan lingkungan.

Instalasi Pengolahan Air Limbah

Sistem aerobik dan anaerobik

Sistem UASB;

Sistem Carrousel dan Carroisel-2000;

Penanganan logam berat;

Stabilisasi lumpur hasil pengolahan.

Pengelolaan Lingkungan

Audit lingkungan;

Prosedur operasi standar;

16

Pembangunan Pertanian dan Perdesaan

Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL);

Analisa resiko lingkungan;

Upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan (UKL dan UPL).

2.2.5 Pembangunan Pertanian dan Perdesaan

Masyarakat pedesaan hasuslah menjadi penanggung jawab utama dalam pembangunan di wilayahnya. Walaupun demikian, para tenaga ahli dapat mendukung proses ini dengan

membantu dalam program-program pertanian dan pengembangan pedesaan. Keberhasilan dari program ini tergantung pada kemampuan mengintergrasikan berbagai komponen yang mendukung program tersebut. Pendekatan multidisiplin dan pengalaman para tenaga ahli merupakan jaminan keberhasilan suatu proyek.

PT. Bahana Nusantara menawarkan berbagai macam jasa di bidang pertanian, yang berupa bantuan teknis, pelatihan dan manajemen. Bidang keahlian kami meliputi evaluasi dan perencanaan kesesuaian lahan sampai kegiatan-kegiatan pasca panen dan pengembangan kelembagaan.

Pertanian

Evaluasi lahan;

Perencanaan penggunaan lahan;

Penyuluhan;

Sistem pertanian;

Kegiatan pasca panen;

Penyiapan studi kelayakan;

Penilaian ekonomi dan keuangan;

Prospek pasar;

Manajemen perkebunan.

Pengembangan Pedesaan

Studi dan tinjauan sektoral;

Pemantapan prosedur perencanaan dan kelembagaan;

17

Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Institusi

Pengembangan masyarakat;

Analisis biaya keuntungan sosio ekonomi;

Permukiman dan transmigrasi;

Air bersih pedesaan;

Koperasi;

Penanganan kemiskinan;

Agribisnis;

Pemantauan dan evaluasi;

Energi pedesaan.

2.2.6 Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Institusi

Kami berkeyakinan bahwa hutan, pantai, taman nasional dapat dilestarikan bila dikelola

dengan baik. Kegunaan upaya pelestarian adalah untuk memacu pertumbuhan ekonomi agar lebih bergairah meningkatkan pendapatan dan penyediaan lapangan pekerjaan untuk penduduk setempat. Penduduk dapat mengkonsumsikan hasil tebangan atau produksi hutan secara selektif atau untuk non konsumsi seperti perlindungan daerah aliran sungai, eko-turisme dan lain-lain.

Kawasan Pantai

PT. Bahana Nusantara dapat menerima penugasan dalam bentuk :

Perencanaan dan pengelolaan kawasan pantai;

Perlindungan pantai;

Teknik reklamasi pantai.

Sumber Daya Biota Aquatik

Biota aquatik banyak terdapat di kolam, situ di pedesaan, waduk dan bantaransungai. PT. Bahana Nusantara telah memikirkan penanganan pencegahan kemungkinan polusi tanah terhadap asam sulfat dan reklamasi hutan bakau yang berwawasan lingkungan.

Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem Alam

18

Organisasi Perusahaan

Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati bukan sekedar melindungi spesies yang dalam bahaya. Hal ini bertujuan untuk menjamin keberadaan varietas genetik langka yang diperlukan untuk pengembangan yang lebih produktif dan varietas yang resisten. Ekosistem alam juga mempunyai fungsi yang berguna memberikan keuntungan lebih banyak dalam mendapatkan kembali area-area tersebut. PT. Bahana Nusantara melakukan pendekatan proyek-proyek reklamasi lahan dan pembangunan dengan mempertimbangkan fungsi-fungsi alamiah, bilamana diperlukan.

Konservasi Alam dan Eco-turisme

Walaupun eco-turisme masih pada tahap awal pembangunan, PT. Bahana Nusantara telah menganalisis isu-isu yang berkaitan dengan hal itu untuk mencari jalan keluar dalam mengkombinasikan program konservasi alam dengan perencanaan untuk integrasi ekonomi. Kami juga berusaha keras untuk menjembatani pemerintah dan sektor swasta yang berminat untuk berinvestasi dalam taman nasional.

2.3 Organisasi Perusahaan PT. Bahana Nusantara dalam menjalankan pekerjaannya dibagi dalam 8 (delapan) divisi yaitu Divisi Perencanaan Umum, Divisi Jasa Survey, Divisi Studi Kelayakan, Divisi Perencanaan Teknik, Divisi Pengawasan/Supervisi, Divisi Manajemen, Divisi Pemberdayaan Masyarakat dan Divisi Penelitian.

Untuk lebih jelasnya, struktur organisasi PT. Bahana Nusantara dapat dilihat pada gambar berikut :

STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN

struktur organisasi PT. Bahana Nusantara dapat dilihat pada gambar berikut : STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN 19
struktur organisasi PT. Bahana Nusantara dapat dilihat pada gambar berikut : STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN 19
struktur organisasi PT. Bahana Nusantara dapat dilihat pada gambar berikut : STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN 19
struktur organisasi PT. Bahana Nusantara dapat dilihat pada gambar berikut : STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN 19
struktur organisasi PT. Bahana Nusantara dapat dilihat pada gambar berikut : STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN 19
struktur organisasi PT. Bahana Nusantara dapat dilihat pada gambar berikut : STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN 19
struktur organisasi PT. Bahana Nusantara dapat dilihat pada gambar berikut : STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN 19
struktur organisasi PT. Bahana Nusantara dapat dilihat pada gambar berikut : STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN 19
struktur organisasi PT. Bahana Nusantara dapat dilihat pada gambar berikut : STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN 19
struktur organisasi PT. Bahana Nusantara dapat dilihat pada gambar berikut : STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN 19
struktur organisasi PT. Bahana Nusantara dapat dilihat pada gambar berikut : STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN 19

19

Pengalaman Perusahaan Secara Umum

2.4 Pengalaman Perusahaan Secara Umum PT. Bahana Nusantara mempunyai berbagai jenis pengalaman kerja yang meliputi Perencanaan Umum, Jasa Survey, Studi Kelayakan, Perencanaan Teknik, Pengawasan/Supervisi, dan Penelitian.

20

Perangkat Kantor

Pelayanan jasa teknik yang dilakukan PT. Bahana Nusantara meliputi perencanaan dan pengawasan pembangunan prasarana pendukung desa antara lain jalan dan jembatan, air bersih, sanitasi, perumahan dan permukiman dan lain-lain. Secara terperinci dapat dilihat dalam daftar pengalaman perusahaan kami.

2.5 Perangkat Kantor PT. Bahana Nusantara yang berkedudukan di Jl. Ciniru IV No. 6 Kebayoran Baru Jakarta Selatan mempunyai bangunan dengan luas 250 m 2 yang terdiri dari dua lantai lantai satu dengan luas ruangan 200 m 2 dan lantai dua dengan luas 50 m 2 lantai satu terdiri dari ruang tamu ruang rapat ruang kerja direktur ruang kerja bagian keuangan dan pemasaran dan ruang serba guna lantai dua terdiri dari tiga ruangan kerja bagian teknis dan administrasi. PT. Bahana Nusantara juga didukung oleh berbagai jenis peralatan dan perangkat kerja yang digunakan untuk menunjang kelancaran suatu pekerjaan. Perangkat kerja selalu disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan jaman, khususnya yang berkaitan dengan sistem informasi modern. Perangkat kerja meliputi perangkat- perangkat guna menunjang seluruh aktifitas kerja baik teknis maupun non teknis.

BAB 3 TANGGAPAN & SARAN TERHADAP KERANGKA ACUAN KERJA

Konsultan ingin memberikan tanggapan (tanggapan = kritik, komentar) terhadap kerangka acuan kerja yang telah diberikan. Beberapa hal yang konsultan ingin tanggapi adalah sebagai berikut :

21

Tanggapan Terhadap Latar Belakang

3.1 Tanggapan Terhadap Latar Belakang Pertama-tama konsultan ingin memberikan tanggapan dalam pemberian judul pekerjaan yang tidak sesuai dengan tata bahasa yang telah disempurnakan oleh departemen pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia. Kata Update adalah kosakata bahasa inggris yang berasal dari up-to-date. Yang artinya adalah (i) sebuah informasi terkini; (ii) perubahan informasi, modifikasi informasi dari data yang telah ada atau data yang dikenal; (iii) sebuah informasi tambahan yang sudah ada; (iv) sebuah modifikasi dari sesuatu yang lebih baru dari informasi yang sebelumnya; (v) sebuah versi yang baru dari versi sebelumnya.

Didalam tata bahasa Indonesia, kosa kata diatas lebih dikenal dengan kata ki·ni (n) pd waktu ini; sekarang ini: -- dia sudah tiada lagi. ke·ki·ni·an (n) keadaan kini atau sekarang; ke-kini-an; peng-kini-an.

Untuk itu konsultan mendefinisikan pekerjaan ini adalah kegiatan yang terdiri atas perubahan informasi, modifikasi informasi, menambahkan informasi, sesuatu yang lebih baru.

Kedua, kosa kata data base. Kosa kata ini tidak dikenal di dalam tata bahasa Indonesia. Namun demikian konsultan memahami maksdu dari pemberi pekerjaan yaitu pemberi pekerjaan ingin memiliki sebuah pusat data dan informasi mengenai jalan di kota Tangerang. Baik itu data spasial atau yang disebut dengan data geografis juga data non spasial/geografis.

Ketiga, konsultan memahami Kerangka Acuan pada paragraph pertama dimana secara nyata disampaikan bahwa telah terjadi perubahan di lapangan mengenai jalan-jalan yang ada di Kota Tangerang, yang diakibatkan oleh pembangunan yaitu penambahan ruas jalan dan pelebaran jalan. Konsultan memahami bahwa pemberi pekerjaan memberikan dua (2) pekerjaan yaitu peng-kini-an (updating) data jalan dan (ii) pembuatan sistem informasi jalan yang ramah pengguna/ operator dari Dinas Pekerjaan Umum.

22

Tanggapan Terhadap Tujuan Pekerjaan

3.2 Tanggapan Terhadap Tujuan Pekerjaan Terhadap tujuan pekerjaan, konsultan ingin memberikan pendapat bahwa jumlah ruas jalan yang ada sangat banyak dan diperlukan teknik pengerjaan yang dapat dipertanggungjawabkan secara baik dan benar. Membaca tujuan pekerjaan yang disampaikan dalam KAK tersebut, konsultan memahami bahwa klasifikasi jalan yang akan dilakukan peng-kini-an (updating) data/informasi adalah (i) jalan kota; (ii) arteri sekunder; (iii) kolektor sekunder; (iv) lokal. Konsultan juga memahami dengan jelas bahwa pemberi pekerjaan ingin memiliki sebuah perangkat lunak (software) yang disebut sebagai Sistem Informasi Jalan Kota Tangerang. Konsultan menyingkatkan namanya menjadi SISJA Kota Tangerang.

3.3 Tanggapan Terhadap Sasaran Pekerjaan Sesuai dengan kerangka acuan pekerjaan, disampaikan bahwa pemberi pekerjaan ingin memberikan kemudahan bagi berbagai stakeholder kota yang membutuhkan informasi terkini jalan-jalan di Kota Tangerang. Konsultan mendefiniskan sasaran ini sebagai sebuah sasaran yang intangible atau tergantung kepada tingkat kepuasan pengguna informasi.

3.4 Tanggapan Terhadap Lingkup Pekerjaan Pertama, Konsultan ingin memberikan tanggapan dan klarifikasi kepada pemberi pekerjaan mengenai data terkini yang ada. Walaupun telah dijelaskan dalam dalam sub bab A pengumpulan data, namun konsultan berpendapat perlu dijelaskan lebih detail seberapa banyak data numeric yang telah terintegrasi dengan data spasial yang ada. Dan apakah data spasial sudah mencerminkan data sesungguhnya dilapangan. Ataupun pemberi pekerjaan telah memiliki data spasial dengan tingkat ketelitian/keakuratan atau error estimation hingga <1.

Kedua, konsultan memahami dengan jelas data lapangan yang akan dikumpulkan yakni (i) Nama Jalan; (ii) Lokasi Jalan; (iii) Foto Jalan; (iv) Existing; (v) Potongan melintang; (vi) Posisi (Koordinat awal dan akhir); (vi) Volume Jalan dan saluran (Panjang dan Lebar); (vii) Tipe Perkerasan; (viii) Kelengkapan jalan (trotoar, median, bahu jalan dan saluran); (ix) Kondisi. Namun konsultan ingin memberikan

23

Tanggapan Terhadap Lingkup Pekerjaan

tanggapan yang perlu diklarifikasi dan mendapat penjelasan dengan baik dan

benar mengenai informasi yang diharapkan pada (iv) existing (terkini). Selain itu

konsultan ingin memberikan tanggapan dan usulan perlu dibuatkan perlakuan

khusus atau penambahan informasi pada (vi) volume jalan dan saluran. Karena

akan timbul pertanyaan apakah semua jalan memiliki saluran?. Selain itu didalam

survey lapangan nantinya perlu diperjelas dengan baik dan benar dalam

mendefinisikan (ix) kondisi jalan yang ada. Jikapun perlu dilakukan klasifikasi,

maka perlu dibahas ditingkat rapat antara pemberi pekerjaan dengan pelaksana

konsultan.

Ketiga, pada tahap pengolahan data yang disampaikan dalam Kerangka Acuan

Kerja. Konsultan sangat memahami maksud yang diterakan oleh pemberi

pekerjaan. Konsultan menyebutnya peng-integrasi-an data spasial (garis, titik,

area) dan non spasial (angka, abjad).

Keempat, tahap pembuatan system informasi. Konsultan memahami dengan jelas

dan mengerti serta dapat mewujudkan aplikasi perangkat lunak yang dimaksudkan

dalam lingkup pekerjaan pembuatan system informasi. Namun konsultan ingin

memberikan tanggapan yakni perlunya ketegasan dan kematangan pemberi

pekerjaan dalam menetapkan informasi apa saja yang akan ditampilkan dan

disimpan didalam aplikasi perangkat lunak tersebut.

Contoh;

[id] [nama jalan] [lokasi jalan] [foto lokasi] [exsisting] [posisi] [koordinat awal] [kordinat akhir] [volume] [jalan] [saluran] [tipe perkerasan] [kelengkapan jalan] [trotoar] [median] [bahu jalan] [saluran]

24

Tanggapan Terhadap Keluaran Pekerjaan

3.5 Tanggapan Terhadap Keluaran Pekerjaan Konsultan dapat memahami, mengerti dan dapat mewujudkan keluaran dari pekerjaan yang telah diterakan dalam Kerangka Acuan Pekerjaan. Namun konsultan ingin memberikan tanggapan dan diperlukan klarifikasi yang jelas mengenai dokumen tender yang harus disiapkan pasca penyelesaian peng-kini-an data jalan dan pembuatan perangkat lunak SISJA Kota Tangerang. Karena perlu dilakukan pemahaman akan maksud dan tujuan serta pembuatan anggaran biaya yang jelas terhadap keseluruhan dokumen lelang yang dimaksudkan.

3.6 Tanggapan Terhadap Jangka Waktu Pelaksanaan Konsultan ingin menanggapi tentang waktu pelaksanaan kegiatan, diharapkan konsultan dapat melaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam kerangka acuan kerja. Namun demikian juga memperhatikan waktu-waktu libur nasional, dan libur hari kerja regular.

3.7 Tanggapan Terhadap Tenaga Ahli Membaca kerangka acuan pekerjaan yang diberikan oleh PPK (Pejabat Pembuat Komitmen), konsultan ingin memberian saran terhadap seluruh tenaga ahli sesuai dengan pengalaman, keahlian dan sertifikasi yang ada. Bahwa konsultan memahami bahwa tenaga ahli yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan ini

sebanyak

68
68

68

MM terdiri dari :

MM terdiri dari :
68 MM terdiri dari :

Comment [t1]: Menunggu RAB Menunggu RAB

1)

Ketua Tim (Team Leader), Sarjana Teknik Sipil Strata1 (S1) dengan pengalaman

2)

minimal 9 ( sembilan ) tahun dibidang survei dan perencanaan jalan atau transportasi, memiliki sertifikat ahli survey dan perencanaan jalan atau transportasi. Jumlah ketua tim sebanyak 1 (satu) orang. Ahli Transportasi/Jalan, 1 orang, Sarjana Teknik Sipil yang berpendidikan setara Strata 1 (S1) dibidang Teknik Sipil dengan pengalamam minimal 5 ( lima ) tahun dalam bidang survei dan perencanaan jalan, mempunyai setifikat ahli bidang survei dan perencanaan jalan dan mengetahui dengan baik proses perencanaan serta dapat mengaplikasikan metoda perencanaan yang

25

Tanggapan Terhadap Tenaga Ahli

berkembang saat ini. Jumlah ahli transportasi / jalan raya sebanyak 1 (satu) orang. 3) Ahli Teknologi Informasi, Sarjana Teknik Informatika yang berpendidikan setara Strata 1 (S1) di bidang Teknik Informatika dengan pengalaman minimal

5 (lima) tahun dalam bidang pemrograman komputer / sistem informasi serta

dapat mengaplikasikan metoda pembuatan data base dan sistem informasi yang berkembang saat ini. Jumlah ahli teknologi informasi sebanyak 1 (satu) orang. 4) Ahli Kartografi/Pemetaan, Sarjana Teknik Geografi yang berpendidikan setara Strata 1 (S1) dibidang Kartografi / pembuatan peta dengan pengalamam minimal 5 ( Lima ) tahun dalam bidang Kartografi / pembuatan peta serta mengetahui dengan baik proses dan pembuatan peta sesuai dengan kaidah kartografi dan berpengalaman di bidang software GIS serta dapat mengaplikasikan metoda perencanaan yang berkembang saat ini. Jumlah ahli kartografi sebanyak 1 (satu) orang. 5) Ahli muda Transportasi/Jalan, Sarjana Teknik Sipil yang berpendidikan setara

Strata 1 (S1) dibidang Teknik Sipil dengan pengalaman minimal 1 ( satu ) tahun dalam bidang perencanaan jalan dan mengetahui dengan baik proses perencanaan serta dapat mengaplikasikan metoda perencanaan yang berkembang saat ini. Jumlah ahli muda tansportasi/jalan sebanyak 1 (satu) orang. Ahli Muda Teknologi Informasi, Sarjana Teknik Informatika yang berpendidikan setara Strata 1 (S1) di bidang Teknik Informatika dengan pengalaman minimal

1 (satu) tahun dalam bidang data base pemrograman komputer dan sistem

6)

Informasi serta mengetahui dan dapat mengaplikasikan metoda sistem informasi yang berkembang saat ini. Jumlah ahli muda teknologi informasi sebanyak 2 (Dua) orang. 7) Ahli Muda Desain Grafis, Sarjana Design grafis yang berpendidikan setara Strata 1 (S1) di bidang design grafis dengan pengalaman minimal 1 (satu) tahun dalam design grafis serta mengetahui dengan baik proses design serta dapat mengaplikasikan metoda design grafis yang berkembang saat ini. Jumlah ahli muda design grafis sebanyak 1 (Satu) orang

26

Tanggapan Terhadap Sistem Pelaporan Dan Diskusi

8) Tenaga pendukung, (i) surveyor/juru ukur sebanyak 10 (sepuluh) orang; (ii) administrasi/sekretaris sebanyak (satu) 1 orang; (iii) Drafter/Juru Gambar sebanyak (dua) 2 orang; (iv) operator computer sebanyak (empat) 4 orang.

3.8 Tanggapan Terhadap Sistem Pelaporan Dan Diskusi Konsultan memahami bahwa, produk yang dihasilkan dalam pekerjaan ini terdiri atas Laporan Pendahuluan, Laporan Antara, Laporan Draft Akhir dan Laporan Akhir.

1. Laporan pendahuluan, Berisikan maksud dan tujuan, gambaran umum proyek,

serta metodologi updating dan pembuatan sistem informasi yang berisikan tentang :

a) Aktifitas kegiatan dan waktu yang dibutuhkan

b) Tahapan tahapan kegiatan yang dilaksanakan

c) Alokasi waktu pembahasan sampai menjadi Laporan Final, termasuk penjadwalan rapat dan konsultasi

d) Alokasi waktu untuk melakukan koordinasi dengan instansi terkait yang berhubungan dengan pekerjaan

e) Personil yang bertanggung jawab terhadap setiap kegiatan

f) Penyajian dalam bentuk bagan alir, barchart dan matriks

Waktu penyerahan : 30 hari sejak SPMK

Jumlah Laporan : 5 (Lima) Eksemplar

2.

Laporan

keseluruhan maupun per kegiatan, masalah-masalah yang dihadapi dan rencana kerja berikutnya. Selain itu diuraikan juga hambatan-hambatan yang dihadapi dan rencana penyelesaiannya. Laporan ini akan berisi tentang;

menguraikan kemajuan/progress pekerjaan baik secara

antara,

a. Rincian semua data yang diperoleh dari pengumpulan data lapangan/survay

b. Analisa dan penilaian awal dari hasil suvey

c. Foto-foto lokasi

d. Tabulasi data hasil updating

e. Data Spasial lokasi

27

Tanggapan Terhadap Sistem Pelaporan Dan Diskusi

f. Simulasi awal sistem informasi yang akan dibangun;

Waktu penyerahan : (60) Enampuluh hari sejak SPMK Kelengkapan berupa : Simulasi awal sistem informasi jalan (SISJA Kota Tangerang Jumlah laporan : 15 (Lima belas) eksemplar

3. Laporan Draft Akhir, Laporan draft akhir merupakan laporan rangkuman semua kegiatan yang dilaksanakan atas seluruh pekerjaan yang dilaksanakan secara garis besar namun lengkap dan dimengerti, memuat tabulasi data dalam bentuk data base dan design sistem informasi yang akan disajikan. Waktu penyerahan : Sembilanpuluh (90) hari sejak SPMK Kelengkapan berupa : Sistem Informasi Jalan (SISJA Kota Tangerang) Jumlah laporan : 5 (Lima) eksemplar

4. Laporan akhir ini merupakan laporan final yang berisi hasil perbaikan dan penyempurnaan dari laporan draft akhir dan sistem informasi data jalan hasil updating dalam bentuk software ditambah dengan dokumen tender. Berisi dan kelengkapan yang terdiri atas;

a. Software system informasi jalan kota tangerang (SISJA Kota Tangerang).

b. Manual user SISJA Kota Tangerang.

c. CD/DVD software 5 (lima) exemplar.

d. Laporan akhir 5 (lima) exemplar.

e. Waktu Penyerahan 120 (seratus duapuluh) hari sejak SPMK.

f. Kelengkapan Kartu kendali Asistensi (sebanyak 3 kali)

5. Presentasi, persentasi laporan pendahuluan, persentasi laporan antara dan persentasi laporan draft akhir.

28

BAB 4 TANGGAPAN & SARAN TERHADAP PERSONIL/FASILITAS PENDUKUNG

BAB 4 TANGGAPAN & SARAN TERHADAP PERSONIL/FASILITAS PENDUKUNG

4.1 Tanggapan Terhadap Personil Didalam kerangka acuan kerja yang disampaikan, konsultan ingin memberikan saran agar ditambahkannya tenaga ahli dan asisten ahli bidang hukum dan atau bidang dokumen tender. Hal ini untuk mendukung kegiatan pasca penyelesaian peng-kini-an data jalan dan penyelesaian pembuatan aplikasi sistem informasi jalan Kota Tangerang (SISJA Kota Tangerang). Untuk itu menjadi saran masukan kepada pemberi pekerjaan untuk menambahkan 1 orang ahli dan 1 asisten hukum dengan MM 2-1 bulan termasuk penambahan biaya remunerasi pada anggaran pembiayaan di pekerjaan ini.

4.2 Tanggapan Terhadap Fasilitas Pendukung Didalam kerangka acuan kerja yang diberikan oleh pemberi pekerjaan, tidak terterakan fasilitas yang akan diberikan kepada pelaksana pekerjaan yaitu konsultan. Beberapa fasilitas yang diharapkan dapat diberikan kepada konsultan adalah akses kepada seluruh stakeholder terutama di dinas terkait untuk mendapatkan data dan informasi untuk penyusunan kajian dan pemetaan rupa bumi di wilayah kota tangerang.

29

BAB 5 PENDEKATAN, METODOLOGI & PROGRAM KERJA

5.1 Pendekatan

Didalam pekerjaan ini konsultan akan mengunakan beberapa pendekatan untuk dapat menjawab tujuan dari pekerjaan ini. namun sebelum itu konsultan akan memberikan gambar proses skematik yang diharapkan dapat menjadi panduan.

Lingkup Keluaran Pekerjaan Pekerjaan
Lingkup
Keluaran
Pekerjaan
Pekerjaan
Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
Pendekatan,
Metodologi dan
Program Kerja
Tujuan Pekerjaan /Intangible Goal Pendekatan di dalam kamus besar bahasa Indonesia, dinyatakan adalah : (n)
Tujuan Pekerjaan
/Intangible Goal
Pendekatan di dalam
kamus besar bahasa
Indonesia, dinyatakan
adalah : (n) 1 proses,
perbuatan, cara mendekati
(hendak berdamai,
bersahabat, dsb) 2 antara
usaha dalam rangka
aktivitas penelitian untuk
mengadakan hubungan
dengan orang yang diteliti,
metode-metode untuk
mencapai pengertian
tentang masalah
penelitian.
BAB 5 PENDEKATAN, METODOLOGI & PROGRAM KERJA

Gambar 1 Skema pendekatan

Seperti yang telah dijelaskan dalam kerangka acuan pekerjaan bahwa pemerintah kota tanerang dalam hal ini dinas pekerjaan umum, ingin memiliki SISJA yaitu Sistem Informasi Jalan berbasis aplikasi perangkat lunak. Dan sebelumnya didahului oleh kegiatan pengumpulan, penambahan, perubahan, pembuatan versi baru dari informasi jalan yang ada di kota tangerang. SISJA Kota Tangerang diharapkan adalah sebuah perangkat lunak yang beraplikasi

30

Pendekatan Normatif, Teori dan Kebijakan

(installer) yang mengandung data spasial dan data non spasial (numerik, abdaj,dan gambar)

Untuk itu konsultan mengusulkan dua macam pendekatan terhadap permasalahan yang

telah disampaikan dalam kerangka acuan pekerjaan, yakni pendekatan secara normative

dan teknis. Yang dimaksud dengan pendekatan normative adalah pendekatan yang

dilakukan melalui kebijakan, peraturan, pedoman dan aturan lainnya yang dapat

digunakan oleh pelaksana pekerjaan untuk mendapatkan pemahaman yang jelas

terhadap pencapaian tujuan pekerjaan. Sedangkan yang dimaksud dengan pendekatan

teknis adalah pendekatan yang dilakukan dengan cara-cara mengandalkan bantuan alat,

teknologi, formula dan lainnya untuk dapat mendekati permasalahan yang ada sehingga

dapat menyelesaikan permasalahan yang telah disampaikan di dalam kerangka acuan

kerja.

5.1.1

Pendekatan Normatif, Teori dan Kebijakan

Beberapa kebijakan yang terkait dengan kerangka acuan kerja yang telah disampaikan

oleh pemberi pekerjaan adalah sebagai berikut ;

1)

2) Undang-Undang Republik Indonesia No 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan

Undang-undang No 38 Tahun 2004 tentang Jalan;

Angkutan jalan;

3)

Undang-undang No 22 tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;

4)

RPJMN 2010-2014;

5)

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

6)

RENSTRA DIRJEN BINA MARGA, KEMENPU Republik Indonesia;

7)

Kebijakan dan Strategi DIRJEN Bina Marga KEMENPU Republik Indonesia;

8)

PERDA no 36 Tahun 2002 tentang RTRW Provinsi Banten;

9)

PERDA No 23 Tahun 2000 tentang RTRW Kota Tangerang;

10) RPJMD Kota Tangerang;

11) RENSTRA SKPD Dinas Pekerjaan Umum.

31

Jalan, Klasifikasi, dan Status

5.1.1.1 Jalan, Klasifikasi, dan Status Sesuai peruntukannya jalan terdiri atas jalan umum dan jalan khusus. Jalan umum merupakan jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum, sedangkan jalan khusus merupakan jalan yang bukan diperuntukkan untuk lalu lintas umum dalam rangka distribusi barang dan jasa yang dibutuhkan. Menurut Undang Undang Nomor 38 tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan, jalan umum dapat diklasifikasikan dalam sistem jaringan jalan, fungsi jalan, status jalan, dan kelas jalan. Pengetahuan mengenai klasifikasi jalan menjadi penting pada penelitian ini untuk menerangkan definisi Jalan Nasional beserta aturannya. Klasifikasi jalan berdasarkan fungsi mengacu pada UU No.38 tahun 2004 dan PP No.34 tahun 2006, adalah sebagai berikut:

A. Sistem jaringan jalan primer

Sistem jaringan jalan primer terdiri dari jalan arteri primer, jalan kolektor primer, jalan local primer, dan jalan lingkungan primer, dimana disusun berdasarkan rencana tata ruang dan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan sebagai berikut:

a) Menghubungkan secara menerus pusat kegiatan nasional, pusat kegiatan

b) wilayah, pusat kegiatan lokal sampai ke pusat kegiatan lingkungan; dan

c) Menghubungkan antarpusat kegiatan Nasional.

Sistem jaringan primer disusun mengikuti ketentuan pengaturan tata ruang dan struktur pengembangan wilayah tingkat Nasional yang menghubungkan simpul-simpul jasa distribusi sebagai berikut:

1)

Jalan Arteri Primer Jalan ini menghubungkan secara berdaya guna antarpusat kegiatan nasional atau antara pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan wilayah, dengan persyaratan teknis sebagaimana diatur dalam PP No. 34 tahun 2006, sebagai berikut:

Didesain paling rendah dengan kecepatan 60 km/jam;

Lebar badan jalan paling sedikit 11 meter;

32

Jalan, Klasifikasi, dan Status

Kapasitas lebih besar daripada volume lalu lintas rata-rata;

Lalu-lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang-alik,

lalu lintas lokal dan kegiatan lokal;

Jumlah jalan masuk, ke jalan arteri primer, dibatasi secara effisien

sehingga kecepatan 60 km/jam dan kapasitas besar tetap terpenuhi;

2)

Jalan arteri primer yang memasuki kawasan perkotaan dan/atau kawasan pengembangan perkotaan tidak boleh terputus. Jalan Kolektor Primer

Didesain paling rendah dengan kecepatan 40 km/jam;

Merupakan jalan yang menghubungkan secara berdaya guna antara pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan wilayah, atau antara pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lokal. Adapun persyaratan teknis dari jalan ini, sebagai berikut:

Lebar badan jalan paling sedikit 9 meter;

Kapasitas lebih besar dari volume lalu-lintas rata-rata;

Jumlah jalan masuk dibatasi, dan direncanakan sehingga dapat dipenuhi

kecepatan paling rendah 40 km/jam;

Jalan kolektor primer yang memasuki kawasan perkotaan tidak boleh terputus.

3)

Jalan local primer Merupakan jalan yang menghubungkan secara berdaya guna pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan lingkungan, pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lingkungan, antarpusat kegiatan lokal, atau pusat kegiatan lokal dengan pusat kegiatan lingkungan, serta antarpusat kegiatan lingkungan. Adapun persyaratan teknis dari jalan ini, sebagai berikut:

Didesain paling rendah dengan kecepatan 20 km/jam;

Lebar badan jalan paling sedikit 7,5 meter;

Jalan lokal primer yang memasuki kawasan pedesaan tidak boleh terputus.

4)

Jalan lingkungan primer Merupakan jalan yang menghubungkan antarpusat kegiatan di dalam kawasan perdesaan dan jalan di dalam lingkungan kawasan perdesaan. Adapun persyaratan teknis dari jalan ini, sebagai berikut:

33

Jalan, Klasifikasi, dan Status

Didesain paling rendah dengan kecepatan 15 km/jam;

Lebar badan jalan paling sedikit 6,5 meter;

Jalan lingkungan primer yang tidak diperuntukkan bagi kendaraan

bermotor beroda tiga atau lebih harus memiliki lebar badan jalan paling sedikit 3,5 meter.

B.

Sistem jaringan jalan sekunder Sistem jaringan jalan sekunder disusun berdasarkan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota dan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan yang menghubungkan secara menerus kawasan yang mempunyai fungsi primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua, fungsi sekunder ketiga, dan seterusnya sampai ke persil. Fungsi jalan pada sistem jaringan jalan sekunder terdiri dari:

1)

Jalan Arteri Sekunder Jalan ini menghubungkan menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu, kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kesatu, atau kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua. Adapun persyaratan teknisnya, sebagai berikut:

Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 30 km/jam;

Kapasitas sama atau lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata;

Lebar badan jalan paling sedikit 11 meter;

Pada jalan arteri sekunder, lalu-lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu-lintas lambat;

2)

Persimpangan sebidang dengan pengaturan tertentu harus memenuhi kecepatan tidak kurang dari 30 km/jam. Jalan kolektor sekunder Jalan ini menghubungkan menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder kedua atau kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga. Adapun persyaratan teknisnya, sebagai berikut:

Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 20 km/jam;

Lebar badan jalan paling sedikit 9 meter;

Memiliki kapasitas yang lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata;

34

Jalan, Klasifikasi, dan Status

Lalu lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat;

3)

Persimpangan sebidang dengan pengaturan tertentu harus memenuhi kecepatan tidak kurang dari 20 km/jam. Jalan local sekunder

Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 10 km/jam;

Jalan ini menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan perumahan, kawasan sekunder kedua dengan perumahan, kawasan sekunder ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan. Adapun persyaratan teknisnya, sebagai berikut:

Lebar badan jalan tidak kurang dari 7,5 meter.

4)

Jalan lingkungan sekunder Jalan ini menghubungkan antar persil dalam kawasan perkotaan. Adapun persyaratan teknisnya, sebagai berikut:

Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 10 km/jam, diperuntukkan

bagi kendaraan bermotor beroda tiga atau lebih;

Lebar badan jalan tidak kurang dari 6,5 meter;

Jalan yang tidak diperuntukkan bagi kendaraan bermotor beroda tiga atau lebih harus mempunyai lebar badan jalan paling sedikit 3,5 meter.

Secara diagramatis penjelasan mengenai klasifikasi jalan menurut fungsi dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

35

Jalan, Klasifikasi, dan Status

Jalan, Klasifikasi, dan Status C. Status Jalan Berdasarkan PP No. 34 tahun 2006 Pasal 25 sampai

C. Status Jalan

Berdasarkan PP No. 34 tahun 2006 Pasal 25 sampai 30, jaringan jalan yang diklasifikasikan menurut statusnya dibedakan menjadi 5 (lima) jenis, yaitu sebagai berikut:

1)

Jalan Nasional

Jalan yang diklasifikasikan dalam jalan nasional adalah jalan arteri primer; jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota provinsi; jalan tol; serta jalan strategis Nasional.

2)

Jalan Provinsi

Jalan yang diklasifikasikan dalam jalan provinsi adalah jalan kolektor primer yang menghubungkan ibukota Provinsi dengan ibukota Kabupaten/Kota; jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota Kabupaten/Kota; jalan strategis provinsi; serta jalan di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, kecuali jalan sebagaimana dimaksud dalam Jalan Nasional.

36

3)

Jalan Kabupaten

Jalan, Klasifikasi, dan Status

Jalan yang diklasifikasikan dalam jalan kabupaten adalah jalan kolektor primer yang tidak termasuk dalam jalan nasional dan kelompok jalan provinsi; jalan lokal primer yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat desa, antar ibukota kecamatan, ibukota kecamatan dengan desa, dan antar desa; jalan sekunder lain, selain sebagaimana dimaksud sebagai jalan nasional, dan jalan provinsi; serta jalan yang mempunyai nilai strategis terhadap kepentingan Kabupaten.

4)

Jalan Kota

Jalan yang diklasifikasikan dalam jalan provinsi kota adalah jaringan jalan sekunder di dalam kota. Penjelasan dalam skema diagram dapat dilihat lebih lanjut pada Gambar 2.2.

5)

Jalan Desa

Jalan yang diklasifikasikan dalam jalan desa adalah jalan lingkungan primer dan jalan lokal primer yang tidak termasuk jalan kabupaten di dalam kawasan pedesaan, dan merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antar pemukiman di dalam desa. Secara diagramatis, klasifikasi jalan menurut status dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

pemukiman di dalam desa. Secara diagramatis, klasifikasi jalan menurut status dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

37

D.

Klasifikasi menurut kelas jalan

Jalan, Klasifikasi, dan Status

Kelas jalan dapat dikelompokkan berdasarkan penggunaan jalan dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan, sebagaimana telah diatur sesuai dengan ketentuan perundang- undangan di bidang lalu lintas dan angkutan jalan; serta spesifikasi penyediaan prasarana jalan. Kelas jalan berdasarkan spesifikasi penyediaan prasarana jalan dibedakan menjadi jalan bebas hambatan, jalan raya, jalan sedang, dan jalan kecil. Maksud dari spesifikasi di sini meliputi pengendalian jalan masuk, persimpangan sebidang, jumlah dan lebar lajur, ketersediaan medan, serta pagar.

1)

Jalan bebas hambatan

Spesifikasi yang diatur untuk jalan bebas hambatan meliputi pengendalian jalan masuk secara penuh, tidak ada persimpangan sebidang, dilengkapi pagar ruang milik jalan, dilengkapi dengan median, paling sedikit mempunyai 2 (dua) lajur setiap arah, dan lebar lajur paling sedikit 3,5 (tiga koma lima) meter.

2)

Jalan raya

Spesifikasi untuk jalan raya yang dimaksud adalah jalan umum untuk lalu lintas secara menerus dengan pengendalian jalan masuk secara terbatas dan dilengkapi dengan median, paling sedikit 2 (dua) lajur setiap arah, lebar lajur paling sedikit 3,5 (tiga koma lima) meter.

3)

Jalan sedang

Spesifikasi untuk jalan sedang yang dimaksud adalah jalan umum dengan lalu lintas jarak sedang dengan pengendalian jalan masuk tidak dibatasi, paling sedikit 2 (dua) lajur untuk 2 (dua) arah dengan lebar jalur paling sedikit 7 (tujuh) meter.

4)

Jalan kecil

Spesifikasi untuk jalan kecil yang dimaksud adalah jalan umum untuk melayani lalu lintas setempat, paling sedikit 2 (dua) lajur untuk 2 (dua) arah dengan lebar jalur paling sedikit 5,5 (lima koma lima) meter.

E. Bagian bagian jalan

Bagian-bagian jalan meliputi ruang manfaat jalan (RUMAJA), ruang milik jalan (RUMIJA), dan ruang pengawasan jalan (RUWASJA). Penjelasan mengenai bagian-bagian jalan

38

Jalan, Klasifikasi, dan Status

menjadi penting pada penelitian ini untuk mengetahui persyaratan ideal bagi ruang jalan,

sehingga kriteria pada informasi kondisi sosial dapat didefinisikan. Penjelasan dari

masing-masing bagian jalan tersebut dapat dilihat sebagai berikut.

1)

Ruang manfaat jalan (RUMAJA)

Ruang manfaat jalan merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar, tinggi,

dan kedalaman tertentu yang ditetapkan oleh penyelenggara jalan yang bersangkutan

berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri, yang meliputi badan jalan, saluran

tepi jalan, dan ambang pengamannya. RUMAJA hanya diperuntukkan bagi median,

perkerasan jalan, jalur pemisah, bahu jalan, saluran tepi jalan, trotoar, lereng, ambang

pengaman, timbunan dan galian, gorong-gorong, perlengkapan jalan, dan bangunan

pelengkap lainnya. Dalam rangka menunjang pelayanan lalu lintas dan angkutan jalan

serta pengamanan konstruksi jalan, maka badan jalan dilengkapi dengan ruang bebas,

dimana ruang bebas disini maksudnya adanya pembatasan untuk lebar, tinggi, dan

kedalaman tertentu. Ruang bebas untuk jalan arteri maupun kolektor adalah dengan

tinggi paling rendah 5 (lima) meter serta kedalaman paling rendah 1,5 (satu koma lima)

meter dari permukaan jalan.

2)

Ruang milik jalan (RUMIJA)

Ruang milik jalan merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar, kedalaman, dan tinggi tertentu, dimana terdiri dari ruang manfaat jalan dan sejalur tanah tertentu di luar ruang manfaat jalan yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai landscape jalan. Ruang milik jalan diperuntukkan bagi ruang manfaat jalan, pelebaran jalan, dan penambahan jalur lalu lintas di masa akan datang serta kebutuhan ruangan untuk pengamanan jalan. Jika mengacu pada PP Nomor 34 Tahun 2006, maka terdapat lebar minimum

RUMIJA, seperti sebagai berikut:

a)

Jalan Bebas Hambatan : 30 meter

b)

Jalan Raya : 25 meter

c)

Jalan Sedang : 15 meter

d)

Jalan Kecil : 11 meter

3)

Ruang pengawasan jalan (RUWASJA)

39

Ruang pengawasan jalan merupakan ruang tertentu di luar ruang milik jalan yang penggunaannya ada di bawah pengawasan penyelenggara jalan, dimana diperuntukkan bagi pandangan bebas pengemudi dan pengamanan konstruksi jalan serta pengamanan fungsi jalan. Terdapat lebar ruang pengawasan jalan minimum yang ditentukan dari tepi badan jalan dengan ukuran sebagai berikut:

a. Jalan Arteri Primer : 15 meter

b. Jalan Kolektor Primer : 10 meter

c. Jalan Lokal Primer : 7 meter

d. Jalan Lingkungan Primer : 5 meter

e. Jalan Arteri Sekunder : 15 meter

f. Jalan Kolektor Sekunder : 5 meter

g. Jalan Lokal Sekunder : 3 meter

h. Jalan Lingkungan Sekunder: 2 meter

i. Jembatan 100 meter kearah hulu dan hilir.

Untuk informasi lebih jelas mengenai bagian-bagian jalan yang tergolong dalam RUMAJA, RUMIJA, dan RUWASJA dapat dilihat pada Gambar 2.3, halaman 20 berikut ini.

Jalan, Klasifikasi, dan Status
Jalan, Klasifikasi, dan Status

40

Profil Wilayah Kota Tangerang

5.1.1.2 Profil Wilayah Kota Tangerang

A. KONDISI GEOGRAFIS KOTA TANGERANG

Kota Tangerang yang terbentuk pada tanggal 28 Februari 1993 berdasarkan Undang-Undang No. 2 Tahun 1993, secara geografis terletak pada 106’36 – 106’42 Bujur Timur (BT) dan 6’6 - 6 Lintang Selatan (LS), dengan luas wilayah 183,78 Km 2 (termasuk luas Bandara Soekarno-Hatta sebesar 19,69 km 2 ). Secara administrasi Kota Tangerang terdiri dari 13 Kecamatan dan 104 Kelurahan (Gambar 2.1).

Kota Tangerang berada pada ketinggian 10 - 30 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan bagian utara memiliki rata-rata ketinggian 10 meter dpl seperti Kecamatan Neglasari, Kecamatan Batuceper, dan Kecamatan Benda. Sedangkan bagian selatan memiliki ketinggian 30 meter dpl seperti Kecamatan Ciledug dan Kecamatan Larangan. Adapun batas administrasi Kota Tangerang adalah sebagai berikut:

Sebelah utara

: Kecamatan Teluknaga dan Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang.

Sebelah selatan

:

Kecamatan Curug, Kecamatan Serpong dan Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan.

Sebelah timur

:

DKI Jakarta.

Sebelah Barat

:

Kecamatan Pasar Kemis dan Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Memperhatikan posisi geografis, maka Kota Tangerang memiliki letak strategis karena berada di antara DKI Jakarta, Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang. Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 13 Tahun 1976 tentang Pengembangan Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi), Kota Tangerang merupakan salah satu daerah penyangga Ibukota Negara DKI Jakarta.1

Gambar x.x. Batas Administrasi Kota Tangerang

1 Sekarang hal tersebut diatur dalam Perpres No. 54 tahun 2008 tentang Penataan Ruang Jabodetabekpunjur

41

Profil Wilayah Kota Tangerang

Profil Wilayah Kota Tangerang Posisi strategis tersebut menjadikan perkembangan Kota Tangerang berjalan dengan pesat. Pada

Posisi strategis tersebut menjadikan perkembangan Kota Tangerang berjalan dengan pesat. Pada satu sisi, menjadi daerah limpahan dari berbagai kegiatan di Kota Jakarta, di sisi lainnya Kota Tangerang menjadi daerah kolektor pengembangan wilayah Kabupaten Tangerang sebagai daerah dengan sumber daya alam yang produktif. Pesatnya perkembangan Kota Tangerang, didukung

42

Profil Wilayah Kota Tangerang

pula dari tersedianya sistem jaringan transportasi terpadu dengan wilayah Jabodetabek, serta aksesibilitas dan konektivitas berskala nasional dan internasional yang baik sebagaimana tercermin dari keberadaan Bandara International Soekarno-Hatta, Pelabuhan International Tanjung Priok, serta Pelabuhan Bojonegara sebagai gerbang maupun outlet nasional. Kedudukan geostrategis Kota Tangerang tersebut telah mendorong bertumbuhkembangnya aktivitas industri, perdagangan dan jasa yang merupakan basis perekonomian Kota Tangerang saat ini.

B. KONDISI TOPOGRAFIS

Secara topografi, Kota Tangerang sebagian besar berada pada ketinggian 10-30 m di atas permukaan laut (dpl), sedangkan bagian utaranya (meliputi sebagian besar Kecamatan Benda) ketinggiannya rata-rata 10 m dpl, sedang bagian selatan memiliki ketinggian 30 m dpl. Selanjutnya Kota Tangerang mempunyai tingkat kemiringan tanah 0-3% dan sebagian kecil (yaitu di bagian selatan kota) kemiringan tanahnya antara 3-8% berada di Kelurahan Parung Serab, Kelurahan Paninggilan Selatan dan Kelurahan Cipadu Jaya.

Disamping itu wilayah Kota Tangerang dilalui oleh 3 (tiga) aliran sungai yaitu sungai Cisadane, kali Angke dan kali Cirarab dengan panjang daerah yang dilalui 32 kilometer ditambah dengan rata- rata curah hujan yang tinggi yaitu 2.494,60 mm per bulan selama 210 hari, hal ini mengakibatkan hampir setiap tahun terdapat daerah-daerah yang dilalui aliran sungai tersebut mengalami genangan air dengan luas 180,5 ha tersebar di 49 lokasi pada kawasan pemukiman dan jalan. Daerah genangan air tersebut antara lain di Kecamatan Larangan, Kecamatan Karang Tengah, Kecamatan Cipondoh, Kecamatan Pinang dan Kecamatan Periuk. Dari aspek penggunaan lahan memperlihatkan bahwa Kota Tangerang merupakan daerah perkotaan (urbanized area). Hal ini ditunjukkan dengan luas wilayah yang sudah terbangun mencapai 48 % (8. 510 Ha), sedangkan sisanya sekitar 52 % (9.220 Ha) belum terbangun. Lahan yang telah terbangun tersebut pemanfaatannya meliputi: permukiman, industri, perdagangan dan perkantoran.

PROFIL DEMOGRAFI

Karakteristik penduduk yang meliputi usia, tempat tinggal dan tingkat pendidikan sangat mempengaruhi kebijakan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Kota Tangerang dan wilayah sekitarnya menjadikan pertumbuhan penduduk tidak hanya dipengaruhi dari kelahiran (fertilitas), tetapi juga dari perpindahan (migrasi). Hal ini tidak terlepas dari posisi Kota Tangerang sebagai hinterland DKI Jakarta.

Jumlah penduduk/sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan modal pembangunan yang berharga, namun demikian bila kualitasnya kurang baik ditambah dengan pertumbuhan yang

43

Profil Wilayah Kota Tangerang

tidak terkendali maka akan menjadikan permasalahan dalam pelaksanaan pembangunan. Jumlah penduduk Kota Tangerang adalah Pertumbuhan penduduk dalam kurun waktu tahun 2000-2007 cukup fluktuatif antara 0,64 % sampai dengan 4,62%. Seiring dengan pertambahan penduduk dengan luas wilayah yang tetap maka tingkat kepadatan akan semakin bertambah.

yang tetap maka tingkat kepadatan akan semakin bertambah. Informasi tentang jumlah penduduk serta komposisi penduduk

Informasi tentang jumlah penduduk serta komposisi penduduk menurut umur, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan dan lain-lain, penting diketahui terutama untuk mengembangkan perencanaan pembangunan manusia, baik itu pembangunan ekonomi, sosial, politik, lingkungan dan lainnya, yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan manusia.

Jumlah, Pertumbuhan Dan Kepadatan Penduduk

Perkembangan Jumlah Penduduk 653,566 658,180 2000 1,311,746 674,731 679,495 2001 1,354,226 707,007 709,835 2002
Perkembangan Jumlah Penduduk
653,566
658,180
2000
1,311,746
674,731
679,495
2001
1,354,226
707,007
709,835
2002
1,416,842
747,757
718,820
2003
1,466,577
759,996
728,670
2004
1,488,666
774,978
762,266
2005
1,537,224
776,733
770,404
2006
1,547,137
790,404
784,736
2007
1,575,140
0
200,000
400,000
600,000
800,000
1,000,000
1,200,000
1,400,000
1,600,000
Jumlah Penduduk
Perempuan
Laki - Laki
Sumber : Kota Tangerang dalam Angka 2002, 2003, 2004, 2005 dan BPS
Grafik Perkembangan Jumlah Penduduk Kota Tangerang Tahun 2001-2008

Berdasarkan grafik terlihat bahwa kepadatan penduduk Kota Tangerang mengalami kecenderungan meningkat pada periode tahun 2001 hingga 2008 dengan total jumlah penduduk pada tahun 2008 adalah 1.531.666 jiwa.

44

Profil Wilayah Kota Tangerang

Pertumbuhan Penduduk

4.62 5 4.5 3.51 4 3.49 3.24 3.26 3.5 3 2.5 1.81 2 1.51 1.5
4.62
5
4.5
3.51
4
3.49
3.24
3.26
3.5
3
2.5
1.81
2
1.51
1.5
0.64
1
0.5
0
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
Sumber : Kota Tangerang dalam Angka 2002, 2003, 2004, 2005 dan BPS
Grafik Pertumbuhan Penduduk Kota Tangerang Tahun 2000-2007

Perhitungan kepadatan penduduk per km² dilakukan pada area Kota Tangerang dengan luas cakupan 164.55 km² (tahun 2000 2007) yang sudah dikurangi dengan luas bandara.

Kepadatan Penduduk Per KM2

9,572 9,342 9,402 10,000 9,047 8,913 8,610 8,230 7,972 9,000 8,000 7,000 6,000 5,000 4,000
9,572
9,342
9,402
10,000
9,047
8,913
8,610
8,230
7,972
9,000
8,000
7,000
6,000
5,000
4,000
3,000
2,000
1,000
0
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
Sumber : Kota Tangerang dalam Angka 2002, 2003, 2004, 2005 dan BPS
Grafik Kepadatan Penduduk Per Km² Kota Tangerang Tahun 2000-2007

Secara umum, permasalahan kependudukan yang dialami oleh suatu daerah melingkupi berbagai permasalahan berikut :

Jumlah penduduk yang tinggi.

Penyebaran penduduk/distribusi yang tidak merata.

Komposisi penduduk usia muda tinggi

Arus urbanisasi tinggi

Penyebaran sumberdaya juga tidak merata

45

Profil Wilayah Kota Tangerang

Jumlah Dokumen Dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil

800000 700000 600000 500000 400000 300000 200000 100000 0 2003 2004 2005 34444 41864 42324
800000
700000
600000
500000
400000
300000
200000
100000
0
2003
2004
2005
34444
41864
42324
Akte Kelahiran
276
207
254
Akte Kematian
457
326
266
Akte Nikah
30
18
28
Akte Cerai
758000
88000
400000
Kartu Tanda Penduduk
179500
12000
63700
Kartu Keluarga

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tangerang

Gambar 2.5 Grafik Jumlah Dokumen Dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tangerang Tahun 2003-2005

Jumlah Rumah Tangga Pengertian rumah tangga lebih mengacu pada sisi ekonomi, sedangkan keluarga lebih mengacu pada hubungan kekerabatan, fungsi sosial dan lain sebagainya.

Jumlah Rumah Tangga

398,626 400,000 391,679 390,000 384,899 380,000 373,022 368,858 370,000 361,791 360,000 354,723 348,234
398,626
400,000
391,679
390,000
384,899
380,000
373,022
368,858
370,000
361,791
360,000
354,723
348,234
350,000
340,000
330,000
320,000
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
Sumber : Kota Tangerang dalam Angka 2002, 2003, 2004, 2005 dan BPS

Grafik Jumlah Rumah Tangga Kota Tangerang Tahun 2000-2007

46

Profil Wilayah Kota Tangerang

Dari gambar di atas terlihat bahwa jumlah rumah tangga juga ikut berkembang seperti halnya jumlah penduduk Kota Tangerang. Pada tahun 2000 jumlah rumah tangga sebesar 348.234 dan pada tahun 2007 menjadi 398.626.

Kepadatan penduduk Kota Tangerang cenderung mengalami peningkatan selama periode tahun 2000 hingga 2007. Pada tahun 2007, total jumlah penduduk mencapai 1.575.140 jiwa, dengan komposisi 790.404 jiwa (50,18%) penduduk laki-laki dan 784.736 jiwa (49,82%) perempuan. Selama kurun waktu 2000-2007, rata-rata laju pertumbuhan penduduk mencapai 2,62% per tahun. Capaian rata-rata laju pertumbuhan penduduk tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan capaian Provinsi Banten 2,20%, DKI Jakarta 1,20%, maupun Nasional 1,30% pada periode yang sama. Pertambahan jumlah penduduk ini disebabkan karena beberapa hal seperti natalitas (kelahiran) dan migrasi (perpindahan) dari luar wilayah Kota Tangerang ke dalam wilayah Kota Tangerang. Selama periode 2002-2007, pertumbuhan penduduk Kota Tangerang, ditandai oleh rata-rata kelahiran bayi hidup sebesar 29.428 jiwa per tahun, rata-rata kematian 778 jiwa per tahun, rata-rata migrasi masuk 16.300 jiwa per tahun, serta rata-rata migrasi keluar 230 jiwa per tahun. Dari kondisi diatas menunjukkan, bahwa tingkat kelahiran merupakan faktor utama yang mendorong tingginya laju pertumbuhan penduduk di Kota Tangerang, disusul oleh faktor migrasi masuk lihat gambar 2.7 di bawah ini.

Gambar 2.7

1.600.000 5,00 4,59 4,50 1.550.000 4,00 1.500.000 3,49 3,50 3,26 3,24 1.450.000 3,00 1.400.000 2,50
1.600.000
5,00
4,59
4,50
1.550.000
4,00
1.500.000
3,49
3,50
3,26
3,24
1.450.000
3,00
1.400.000
2,50
2,17
2,00
1.350.000
1,81
1,77
1,50
1.300.000
1,00
1.250.000
0,64
0,50
1.200.000
-
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
Jumlah Penduduk
Laju Pertumbuhan Penduduk
(Jiwa)
1.325.854
1.354.657
1.416.840
1.462.726
1.488.666
1.537.244
1.547.138
1.575.140
(Persen)

Sumber : Kota Tangerang Dalam Angka Tahun 2007

47

Terkait dengan pertumbuhan penduduk, maka pada tahun 2007, Kecamatan Larangan dengan luas wilayah 9,40 Km
Terkait dengan pertumbuhan penduduk, maka pada tahun 2007, Kecamatan Larangan dengan
luas wilayah 9,40 Km 2 , merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk terbesar, mencapai
14.902 jiwa/km 2 . Sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar terdapat di
Profil Wilayah Kota Tangerang

48

Profil Wilayah Kota Tangerang

Kecamatan Karawaci yaitu 171.966 jiwa. Namun kepadatan di Kecamatan Karawaci masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan Kecamatan Larangan. Kepadatan penduduk di setiap kecamatan dapat dilihat pada gambar 2.4 berikut.

Administrasi Kependudukan

Jumlah penduduk yang memiliki KTP dari tahun ke tahun menunjukan peningkatan, dan telah mencapai 60% dari jumlah penduduk keseluruhan di Kota Tangerang. Peningkatan tersebut disebabkan adanya kemudahan dalam pelayanan administrasi kependudukan seperti pelayanan KTP, Kartu Keluarga, Akta Kematian, Akta Perceraian, Akta Kelahiran dan Akta Nikah. Sedangkan untuk jumlah kelahiran bayi yang memiliki akte setiap tahunnya mengalami peningkatan, kecuali di tahun 2005 mengalami penurunan cukup drastis yaitu 29.329 jiwa, dibandingkan pada tahun 2004 sebesar 41.864 jiwa (lihat Tabel 2.1).

Tantangan yang dihadapi Kota Tangerang terkait masalah kependudukan adalah pengendalian pertumbuhan penduduk dan database. Salah satu upaya pengendalian pertumbuhan penduduk, terutama diarahkan pada pengendalian jumlah migrasi masuk melalui penataan sistem administrasi kependudukan dan penguatan pengawasan kependudukan. Di samping itu perlu adanya peningkatan kerjasama pengelolaan administrasi kependudukan dengan DKI Jakarta maupun Kabupaten Tangerang. Sementara untuk menekan angka pertumbuhan penduduk yang disebabkan oleh angka kelahiran, dilakukan peningkatan penyelenggaraan program Keluarga Berencana (KB). Adapun permasalahan dan tantangan database kependudukan, terletak pada belum akurat dan sempurnanya data kependudukan. Hal tersebut dipengaruhi oleh belum adanya sistem pengarsipan data kependudukan, sehingga seringkali terdapat perbedaan data kondisi penduduk.

Tabel Jenis Dokumen yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tangerang 2004-2007

Indikator

2004

2005

2006

2007

Jumlah penduduk ber KTP

643.724

654.974

784.184

847.759

Jumlah bayi ber-akte kelahiran

41.864

29.329

32.140

45.828

Jumlah akte nikah

316

266

313

527

Sumber : LKPJ AMJ Walikota Tangerang 2004-2008

49

5.1.2

Pendekatan Teknis

Pendekatan Teknis

5.1.2.1 Sistem, Elemen dalam system, Elemen system dan Jenis Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat. Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti negara. Negara merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu negara dimana yang berperan sebagai penggeraknya yaitu rakyat yang berada dinegara tersebut. Kata "sistem" banyak sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam forum diskusi maupun dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi beragam. Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka. Pada prinsipnya, setiap sistem selalu terdiri atas empat elemen:

Objek, yang dapat berupa bagian, elemen, ataupun variabel. Ia dapat benda fisik, abstrak, ataupun keduanya sekaligus; tergantung kepada sifat sistem tersebut.

Atribut, yang menentukan kualitas atau sifat kepemilikan sistem dan objeknya.

Hubungan internal, di antara objek-objek di dalamnya.

Lingkungan, tempat di mana sistem berada.

Ada beberapa elemen yang membentuk sebuah sistem, yaitu : tujuan, masukan, proses, keluaran, batas, mekanisme pengendalian dan umpan balik serta lingkungan. Berikut penjelasan mengenai elemen-elemen yang membentuk sebuah sistem :

1. Tujuan Setiap sistem memiliki tujuan (Goal), entah hanya satu atau mungkin banyak. Tujuan inilah yang menjadi pemotivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi tak terarah dan tak terkendali. Tentu saja, tujuan antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda.

50

2.

Masukan

Sistem, Elemen dalam system, Elemen system dan Jenis

Masukan (input) sistem adalah segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan yang diproses. Masukan dapat berupa hal-hal yang berwujud (tampak secara fisik) maupun yang tidak tampak. Contoh masukan yang berwujud adalah bahan mentah, sedangkan contoh yang tidak berwujud adalah informasi (misalnya permintaan jasa pelanggan).

3. Proses

Proses merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna dan lbih bernilai, misalnya berupa informasi dan produk, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan atau limbah. Pada pabrik kimia, proses dapat berupa bahan mentah. Pada rumah sakit, proses dapat berupa aktivitas pembedahan pasien.

4. Keluaran

Keluaran (output) merupakan hasil dari pemrosesan. Pada sistem informasi, keluaran bisa

berupa suatu informasi, saran, cetakan laporan, dan sebagainya.

5. Batas

Yang disebut batas (boundary) sistem adalah pemisah antara sistem dan daerah di luar sistem (lingkungan). Batas sistem menentukan konfigurasi, ruang lingkup, atau kemampuan sistem. Sebagai contoh, tim sepakbola mempunyai aturan permainan dan keterbatasan kemampuan pemain. Pertumbuhan sebuah toko kelontong dipengaruhi

oleh pembelian pelanggan, gerakan pesaing dan keterbatasan dana dari bank. Tentu saja batas sebuah sistem dapat dikurangi atau dimodifikasi sehingga akan mengubah perilaku sistem. Sebagai contoh, dengan menjual saham ke publik, sebuah perusahaan dapat mengurangi keterbasatan dana.

6. Mekanisme Pengendalian dan Umpan Balik

Mekanisme pengendalian (control mechanism) diwujudkan dengan menggunakan umpan

balik (feedback), yang mencuplik keluaran. Umpan balik ini digunakan untuk mengendalikan baik masukan maupun proses. Tujuannya adalah untuk mengatur agar sistem berjalan sesuai dengan tujuan.

7. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada diluar sistem. Lingkungan bisa berpengaruh terhadap operasi sistem dalam arti bisa merugikan atau menguntungkan

51

Basis Data

sistem itu sendiri. Lingkungan yang merugikan tentu saja harus ditahan dan dikendalikan supaya tidak mengganggu kelangsungan operasi sistem, sedangkan yang menguntungkan tetap harus terus dijaga, karena akan memacu terhadap kelangsungan hidup sistem.

Ada berbagai tipe sistem berdasarkan kategori:

Atas dasar keterbukaan:

sistem terbuka, dimana pihak luar dapat mempengaruhinya.

o sistem tertutup.

Atas dasar komponen:

o

Sistem fisik, dengan komponen materi dan energi.

o

Sistem non-fisik atau konsep, berisikan ide-ide.

5.1.2.2 Basis Data

Data merupakan sekumpulan dari lambang-lambang yang teratur dan mewakili/merepresentasikan sebuah obyek atau benda. Sedangkan yang dimaksud dengan data base atau basis data adalah gabungan dari beberapa data yang diolah dan diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga didapatkan suatu hubungan atau relasi antara kedua data tersebut serta dapat dipakai secara bersama oleh beberapa pengguna aplikasi. Terdapat dua cara yang dilakukan dalam menggunakan basis data, yaitu :

Modus langsung, dilakukan dengan mengetikkan perintah langsung setelah munculnya dot prompt;

Modus Program : dilakukan dengan menuliskan rangkaian perintah dalam program.

Basis data diperlukan karena data dapat diterjemahkan kedalam sebuah aplikasi program, dibandingkan terpisah atau diolah masing-masing. Kontrol akses luas dan manipulasi pada data dapat dilakukan oleh sebuah aplikasi program. Sebuah basis data dapat di-generate atau di-maintain secara manual atau terkomputerisasi. Contoh kartu katalog perpustakaan. Basis data yang terkomputerisasi data dibuat dan dimaintain oleh program aplikasi yang secara khusus ditulis untuk itu atau oleh sistem manajemen basis data.

52

Sistem Manajemen Basis Data

5.1.2.3 Sistem Manajemen Basis Data

Sistem manajemen basis data (basis data management system, DBMS), atau kadang disingkat SMBD, adalah suatu sistem atau perangkat lunak yang dirancang untuk mengelola suatu basis data dan menjalankan operasi terhadap data yang diminta banyak pengguna. SMBD merupakan sistem software generalpurpose yang memiliki fasilitas proses define, construct dan manipulate basis data untuk aplikasi yang bervariasi, dengan penjelasan sebagai berikut:

a) Define adalah spesifikasi tipe data, struktur dan constraint data yang akan disimpan dalam basis data.

b) Construct adalah proses menyimpan data itu sendiri ke dalam beberapa media penyimpanan yang dikontrol SMBD.

c) Manipulate adalah fungsi seperti query basis data untuk memanggil data khusus, update basis data dan generate laporan dari data.

Software SMBD general-purpose tidak selalu dibutuhkan untuk mengimplementasikan basis data yang terkomputerisasi, namun dapat juga sekumpulan program yang dibuat sendiri (dinamakan software SMBD specialpurpose). Contoh tipikal SMBD adalah akuntansi, sumber daya manusia, dan sistem pendukung pelanggan, SMBD telah berkembang menjadi bagian standar dibagian pendukung (back office) suatu perusahaan. Contoh SMBD adalah Oracle, SQL server 2000/2003, MS Access, MySQL dan sebagainya. SMBD merupakan perangkat lunak yang dirancang untuk dapat melakukan utilisasi dan mengelola koleksi data dalam jumah yang besar. SMBD juga dirancang untuk dapat melakukan masnipulasi data secara lebih mudah. Sebelum adanya BMS maka data pada umumnya disimpan dalam bentuk flatfile, yaitu file teks yang ada pada sistem operasi. Sampai sekarangpun masih ada aplikasi yang menyimpan data dalam bentuk flat secara langsung. Menyimpan data dalam bentuk flat file mempunyai kelebihan dan kekurangan. Penyimpanan dalam bentuk ini akan mempunyai manfaat yang optimal jika ukuran file- nya relatif kecil, seperti file passwd. File passwd pada umumnya hanya digunakan untuk menyimpan nama yang jumlahnya tidak lebih dari 1000 orang. Selain dalam bentuk flat file, penyimpanan data juga dapat dilakukan dengan menggunakan program bantu seperti spreadsheet. Penggunaan perangkat lunak ini memperbaiki beberapa kelemahan dari flat

53

Sistem Manajemen Basis Data

file, seperti bertambahnya kecepatan dalam pengolahan data. Namun demikian metode ini masih memiliki banyak kelemahan, diantaranya adalah masalah manajemen dan keamanan data yang masih kurang. Penyimpanan data dalam bentuk SMBD mempunyai banyak manfaat dan kelebihan dibandingkan dengan penyimpanan dalam bentuk flat file atau spreadsheet, diantaranya :

a) Performance yang didapat dengan penyimpanan dalam bentuk SMBD cukup besar, sangat jauh berbeda dengan performance data yang disimpan dalam bentuk flat file. Selain itu disamping memiliki unjuk kerja yang lebih baik, akan didapatkan juga efisiensi penggunaan media penyimpanan dan memori;

b) Integritas data lebih terjamin dengan penggunaan SMBD. Masalah redudansi sering terjadi dalam SMBD. Redudansi adalah kejadian berulangnya data atau kumpulan data yang sama dalam sebuah basis data yang mengakibatkan pemborosan media penyimpanan. Beberapa masalah yang timbul yaitu pertama kebutuhan untuk update secara logika menjadi berulang-ulang, kedua adalah ruang penyimpanan yang besar ketika data yang sama disimpan berulang-ulang. File yang berisi data yang sama, menjadi tidak konsisten. Meskipun update diaplikasikan ke seluruh file yang sesuai, data tetap tidak konsisten karena update dilakukan bebas oleh setiap kelompok user. Dalam pendekatan basis data, view dari kelompok user yang berbeda diintegrasikan selama desain basis data. Untuk konsistensi, perlu desain basis data yang menyimpan setiap item data logika dalam hanya satu lokasi pada basis data. Dengan redudansi yang terkontrol memungkinkan kinerja dari query meningkat;

c) Independensi. Perubahan struktur basis data dimungkinkan terjadi tanpa harus mengubah aplikasi yang mengaksesnya sehingga pembuatan antarmuka ke dalam data akan lebih mudah dengan penggunaan SMBD;

d) Sentralisasi. Data yang terpusat akan mempermudah pengelolaan basis data. kemudahan di dalam melakukan bagi pakai dengan SMBD dan juga kekonsistenan data yang diakses secara bersama-sama akan lebih terjamin dari pada data disimpan dalam bentuk file atau worksheet yang tersebar;

54

Pelaku Basis Data

e) Sekuritas. SMBD memiliki sistem keamanan yang lebih fleksibel daripada pengamanan pada file sistem operasi. Keamanan dalam SMBD akan memberikan keluwesan dalam pemberian hak akses kepada pengguna.

keluwesan dalam pemberian hak akses kepada pengguna. 5.1.2.4 Pelaku Basis Data Terdapat beberapa pelaku yang

5.1.2.4 Pelaku Basis Data

Terdapat beberapa pelaku yang terlibat dalam suatu lingkungan basis data, seperti yang tersebut di bawah ini:

1)

Basis data administrator, Dalam lingkungan basis data, sumber utama adalah basis data itu sendiri dan sumber kedua adalah SMBD dengan software-nya. Pengaturan

55

Pelaku Basis Data

sumber ini dilakukan oleh seorang Administrator Basis Data (ABD/DBA). ABD bertanggungjawab atas otorisasi akses ke basis data, mengkoordinir dan memonitor penggunaannya dan mendapatkan sumber hardware dan software yang dibutuhkannya. ABD bertanggungjawab atas masalah-masalah seperti pelanggaran keamanan atau waktu respon sistem yang buruk. Dalam organisasi yang lebih besar, ABD dibantu oleh seorang staf yang menyelesaikan fungsi-fungsi ini. Basis data designer, Basis data designer bertanggungjawab atas identifikasi data yang disimpan dalam basis data dan pemilihan struktur yang sesuai untuk mewakili dan menyimpan data ini. Tugas-tugas ini perlu dilakukan sebelum basis data yang sebenarnya diimplementasikan dan berisi data. Selain itu juga bertanggungjawab untuk mengkomunikasikan semua user basis data untuk memahami kebutuhannya, dan mencapai desain yang sesuai dengan kebutuhan user. Dalam banyak kasus, desainer adalah seorang staf dari ABD dan kemungkinan ditugaskan untuk hal lain jika desain basis data selesai dibuat. Desainer basis data secara khusus berinteraksi dengan setiap kelompok user dan membangun view dari basis data yang sesuai dengan data dan memproses kebutuhan kelompok tersebut. View ini kemudian dianalisis dan diintegrasikan dengan view dari kelompok user yang lain. Desain basis data akhir mampu mendukung kebutuhan dari semua kelompok user.

3) End users, End user merupakan orang-orang yang pekerjaannya membutuhkan akses ke basis data untuk query, update dan generate laporan. Beberapa kategori dari user :

2)

Casual end user : yang mengakses basis data, tetapi mereka membutuhkan informasi yang berbeda setiap saat. Mereka menggunakan bahasa query basis data yang canggih untuk menspesifikasikan permintaan dan mereka adalah manajer tingkat tinggi atau menengah.

Naïve atau parametric end user : fungsi pekerjaaan utama mereka adalah berkisar pada query dan update basis data, menggunakan tipe standar dari query dan update (disebut canned transaction) yang perlu diprogram dan diuji secara hati-hati.

Sophisticated end users : mencakup ahli teknik, ilmuwan, analis bisnis, dan lainnya yang terbiasa dengan fasilitas dari SMBD untuk mengimplementasikan aplikasi sesuai kebutuhannya.

56

Stasiun Titik Awal (STA)

Stand-alone end users : memaintain basis data personal dengan menggunakan paket program yang sudah jadi yang menyediakan menu yang easy user dan interface tab berbasis grafik. 4) System analysts and application programmers (software engineers) Analis sistem

menentukan kebutuhan user, khususnya end user yang naïve dan parametric, dan membuat spesifikasi untuk canned transaction yang sesuai dengan kebutuhan. Pemrogram aplikasi mengimplementasikan spesifikasi ini sebagai program; kemudian diuji, di-debug, dan didokumentasikan. Software engineers ini perlu terbiasa dengan kemampuan DBMS dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Pelaku lainnya:

DBMS system designers and implementers;

Tools developers : orang-orang yang mendesain dan mengimplementasikan tool sebagai paket software, dimana disesuaikan dengan yang menyediakan dan menggunakan desain sistem basis data dalam meningkatkan kinerja;

Operators and maintenance personnel : bertanggung jawab atas hardware dan software dari sistem basis data yang dioperasikan dan dimaintain

5)

5.1.2.5 Stasiun Titik Awal (STA)

Titik nol kilometer provinsi Banten terletak di daerah Anyer, di Anyer. Sedangkan kota Tangerang terletak di depan Kantor Pos (Robinson). Informasi STA tiap awal dan akhir segmen pada ruas jalan berguna untuk memberikan gambaran lokasi dari segmen ruas, karena patok STA terdapat di tiap kelipatan 100 meter ruas jalan. Gambar 3.2 berikut merupakan ilustrasi STA, ruas, dan segmen.

57

Stasiun Titik Awal (STA)

Stasiun Titik Awal (STA) Titik Nol di Anyer/Daendels Titik Nol di Kota Tangerang/Kantor Pos 58

Titik Nol di Anyer/Daendels

Stasiun Titik Awal (STA) Titik Nol di Anyer/Daendels Titik Nol di Kota Tangerang/Kantor Pos 58

Titik Nol di Kota Tangerang/Kantor Pos

58

Lebar jalur, bahu jalan dan saluran

Lebar jalur, bahu jalan dan saluran Contoh titik nol; 5.1.2.6 Lebar jalur, bahu jalan dan saluran

Contoh titik nol;

Lebar jalur, bahu jalan dan saluran Contoh titik nol; 5.1.2.6 Lebar jalur, bahu jalan dan saluran

5.1.2.6 Lebar jalur, bahu jalan dan saluran

Pengukuran lebar saluran, jalur dan bahu jalan dilakukan dengan menggunakan meteran kain setiap awal dan akhir segmen (tiap segmen berjarak 500m) yang dilakukan pada saat lalu lintas sedang sepi. Ingformasi ini berfungsi untuk mengetahui lebar badan jalan dan mengetahui ruas jalan yang tidak memenuhi syarat lebar minimal sesuai UU No.38 tahun 2004 dan PP No.34 tahun 2006. Cara penulisan pada form adalah lebar saluran kiri, lebar

59

Sistem Informasi Geografi

bahu kiri, lalu lebar jalur, lebar bahu kanan, dan lebar saluran kanan. Untuk jalan dengan median, maka lebar median ditulis iantara lebar jalur.

5.1.2.7 Sistem Informasi Geografi

Sistem Informasi Geografis (bahasa Inggris: Geographic Information System disingkat GIS) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini.

Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi.

60

Sistem Informasi Geografi

Sistem Informasi Geografi Tahun 1967 merupakan awal pengembangan SIG yang bisa diterapkan di Ottawa, Ontario oleh

Tahun 1967 merupakan awal pengembangan SIG yang bisa diterapkan di Ottawa, Ontario oleh Departemen Energi, Pertambangan dan Sumber Daya. Dikembangkan oleh Roger Tomlinson, yang kemudian disebut CGIS (Canadian GIS - SIG Kanada), digunakan untuk menyimpan, menganalisis dan mengolah data yang dikumpulkan untuk Inventarisasi Tanah Kanada (CLI - Canadian land Inventory) - sebuah inisiatif untuk mengetahui kemampuan lahan di wilayah pedesaan Kanada dengan memetakaan berbagai informasi pada tanah, pertanian, pariwisata, alam bebas, unggas dan penggunaan tanah pada skala 1:250000. Faktor pemeringkatan klasifikasi juga diterapkan untuk keperluan analisis.

61

Sistem Informasi Geografi

Sistem Informasi Geografi GIS dengan gvSIG. CGIS merupakan sistem pertama di dunia dan hasil dari perbaikan

GIS dengan gvSIG.

CGIS merupakan sistem pertama di dunia dan hasil dari perbaikan aplikasi pemetaan yang memiliki kemampuan timpang susun (overlay), penghitungan, pendijitalan/pemindaian (digitizing/scanning), mendukung sistem koordinat national yang membentang di atas benua Amerika , memasukkan garis sebagai arc yang memiliki topologi dan menyimpan atribut dan informasi lokasional pada berkas terpisah. Pengembangya, seorang geografer bernama Roger Tomlinson kemudian disebut "Bapak SIG".

CGIS bertahan sampai tahun 1970-an dan memakan waktu lama untuk penyempurnaan setelah pengembangan awal, dan tidak bisa bersaing denga aplikasi pemetaan komersil yang dikeluarkan beberapa vendor seperti Intergraph. Perkembangan perangkat keras mikro komputer memacu vendor lain seperti ESRI, CARIS, MapInfo dan berhasil membuat banyak fitur SIG, menggabung pendekatan generasi pertama pada pemisahan informasi spasial dan atributnya, dengan pendekatan generasi kedua pada organisasi data atribut menjadi struktur database. Perkembangan industri pada tahun 1980-an dan 1990-an memacu lagi pertumbuhan SIG pada workstation UNIX dan komputer pribadi. Pada akhir abad ke-20, pertumbuhan yang cepat di berbagai sistem dikonsolidasikan dan distandarisasikan menjadi platform lebih sedikit, dan para pengguna mulai mengekspor menampilkan data SIG lewat internet, yang membutuhkan standar pada format data dan transfer.

62

Sistem Informasi Geografi

Indonesia sudah mengadopsi sistem ini sejak Pelita ke-2 ketika LIPI mengundang UNESCO dalam menyusun "Kebijakan dan Program Pembangunan Lima Tahun Tahap Kedua (1974- 1979)" dalam pembangunan ilmu pengetahuan, teknologi dan riset.

Jenjang pendidikan SMU/senior high school melalui kurikulum pendidikan geografi SIG dan penginderaan jauh telah diperkenalkan sejak dini. Universitas di Indonesia yang membuka program Diploma SIG ini adalah D3 Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, tahun 1999. Sedangkan jenjang S1 dan S2 telah ada sejak 1991 dalam Jurusan Kartografi dan Penginderaan Jauh, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada. Penekanan pengajaran pada analisis spasial sebagai ciri geografi. Lulusannya tidak sekedar mengoperasikan software namun mampu menganalisis dan menjawab persoalan keruangan. Sejauh ini SIG sudah dikembangkan hampir di semua universitas di Indonesia melalui laboratorium-laboratorium, kelompok studi/diskusi maupun mata pelajaran.

Komponen Sistem Informasi Geografis

Komponen-komponen pendukung SIG terdiri dari lima komponen yang bekerja secara terintegrasi yaitu perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), data, manusia, dan metode yang dapat diuraikan sebagai berikut:

Perangkat Keras (hardware)

Perangkat keras SIG adalah perangkat-perangkat fisik yang merupakan bagian dari sistem komputer yang mendukung analisis goegrafi dan pemetaan. Perangkat keras SIG mempunyai kemampuan untuk menyajikan citra dengan resolusi dan kecepatan yang tinggi serta mendukung operasioperasi basis data dengan volume data yang besar secara cepat. Perangkat keras SIG terdiri dari beberapa bagian untuk menginput data, mengolah data, dan mencetak hasil proses. Berikut ini pembagian berdasarkan proses :

Input data: mouse, digitizer, scanner

Olah data: harddisk, processor, RAM, VGA Card

Output data: plotter, printer, screening.

Perangkat Lunak (software)

63

Sistem Informasi Geografi

Perangkat lunak digunakan untuk melakukan proses menyimpan, menganalisa, memvisualkan data-data baik data spasial maupun non-spasial. Perangkat lunak yang harus terdapat dalam komponen software SIG adalah:

Alat untuk memasukkan dan memanipulasi data SIG

Data Base Management System (DBMS)

Alat untuk menganalisa data-data

Alat untuk menampilkan data dan hasil analisa

Data

Pada prinsipnya terdapat dua jenis data untuk mendukung SIG yaitu : Data Spasial

Data Spasial

Data spasial adalah gambaran nyata suatu wilayah yang terdapat di permukaan bumi. Umumnya direpresentasikan berupa grafik, peta, gambar dengan format digital dan disimpan dalam bentuk koordinat x,y (vektor) atau dalam bentuk image (raster) yang memiliki nilai tertentu.

Data Non Spasial (Atribut)

Data non spasial adalah data berbentuk tabel dimana tabel tersebut berisi informasi- informasi yang dimiliki oleh obyek dalam data spasial. Data tersebut berbentuk data tabular yang saling terintegrasi dengan data spasial yang ada.

Manusia

Manusia merupakan inti elemen dari SIG karena manusia adalah perencana dan pengguna dari SIG. Pengguna SIG mempunyai tingkatan seperti pada sistem informasi lainnya, dari tingkat spesialis teknis yang mendesain dan mengelola sistem sampai pada pengguna yang menggunakan SIG untuk membantu pekerjaannya sehari-hari.

Metode

Metode yang digunakan dalam SIG akan berbeda untuk setiap permasalahan. SIG yang baik tergantung pada aspek desain dan aspek realnya.

64

Sistem Informasi Geografi

Ruang Lingkup Sistem Informasi Geografis (SIG)

Pada dasarnya pada SIG terdapat enam proses yaitu:

Input Data

Proses input data digunakan untuk menginputkan data spasial dan data non-spasial. Data spasial biasanya berupa peta analog. Untuk SIG harus menggunakan peta digital sehingga peta analog tersebut harus dikonversi ke dalam bentuk peta digital dengan menggunakan alat digitizer. Selain proses digitasi dapat juga dilakukan proses overlay dengan melakukan proses scanning pada peta analog.

overlay dengan melakukan proses scanning pada peta analog. Manipulasi Data Tipe data yang diperlukan oleh suatu

Manipulasi Data

Tipe data yang diperlukan oleh suatu bagian SIG mungkin perlu dimanipulasi agar sesuai dengan sistem yang dipergunakan. Oleh karena itu SIG mampu melakukan fungsi edit baik untuk data spasial maupun non-spasial.

65

Sistem Informasi Geografi

Sistem Informasi Geografi Manajemen Data Setelah data spasial dimasukkan maka proses selanjutnya adalah pengolahan data

Manajemen Data

Setelah data spasial dimasukkan maka proses selanjutnya adalah pengolahan data non- spasial. Pengolaha data non-spasial meliputi penggunaan DBMS untuk menyimpan data yang memiliki ukuran besar.

data non- spasial. Pengolaha data non-spasial meliputi penggunaan DBMS untuk menyimpan data yang memiliki ukuran besar.

66

Sistem Informasi Geografi

Query dan Analisis

Query adalah proses analisis yang dilakukan secara tabular. Secara fundamental SIG dapat melakukan dua jenis analisis, yaitu:

Analisis Proximity

Analisis Proximity merupakan analisis geografi yang berbasis pada jarak antar layer. SIG menggunakan proses buffering (membangun lapisan pendukung di sekitar layer dalam jarak tertentu) untuk menentukan dekatnya hubungan antar sifat bagian yang ada.

Analisis Overlay

Overlay merupakan proses penyatuan data dari lapisan layer yang berbeda. Secara sederhana overlay disebut sebagai operasi visual yang membutuhkan lebih dari satu layer untuk digabungkan secara fisik.

lebih dari satu layer untuk digabungkan secara fisik. Visualisasi Untuk beberapa tipe operasi geografis, hasil

Visualisasi

Untuk beberapa tipe operasi geografis, hasil akhir terbaik diwujudkan dalam peta atau grafik. Peta sangatlah efektif untuk menyimpan dan memberikan informasi geografis.

67

Form Survey

5.1.2.8 Form Survey

Didalam pelaksanaan pekerjaan dilapangan, untuk mengumpulkan berbagai informasi yang akan diintegrasikan dengan data spasial yang ada. Maka disusunlah form survey yang digunakan oleh surveyor untuk diisi berdasarkan hasil pengukuran, dokumentasi, dan pengamatan.

1)

FORM NAMA JALAN/RUAS

dokumentasi, dan pengamatan. 1) FORM NAMA JALAN/RUAS 2) FORM SURVEY TITIK AWAL & TITIK AKHIR 3)

2)

FORM SURVEY TITIK AWAL & TITIK AKHIR

dan pengamatan. 1) FORM NAMA JALAN/RUAS 2) FORM SURVEY TITIK AWAL & TITIK AKHIR 3) FORM

3)

FORM SURVEY RUAS JALAN

dan pengamatan. 1) FORM NAMA JALAN/RUAS 2) FORM SURVEY TITIK AWAL & TITIK AKHIR 3) FORM

68

4)

FORM SURVEY KONDISI

Peralatan Survey

4) FORM SURVEY KONDISI Peralatan Survey 5.1.2.9 Peralatan Survey Adapun peralatan yang digunakan didalam kegiatan ini

5.1.2.9 Peralatan Survey

Adapun peralatan yang digunakan didalam kegiatan ini adalah;

1) Total station, Total Station merupakan teknologi alat yang menggabungkan secara elektornik antara teknologi theodolite dengan teknologi EDM (electronic distance measurement). EDM merupakan alat ukur jarak elektronik yang menggunakan gelombang elektromagnetik sinar infra merah sebagai gelombang pembawa sinyal

69

Peralatan Survey

pengukuran dan dibantu dengan sebuah reflektor berupa prisma sebagai target (alat pemantul sinar infra merah agar kembali ke EDM).

Contoh TS;

reflektor berupa prisma sebagai target (alat pemantul sinar infra merah agar kembali ke EDM). Contoh TS;

Contoh TS;

reflektor berupa prisma sebagai target (alat pemantul sinar infra merah agar kembali ke EDM). Contoh TS;

70

Peralatan Survey

2)

GPS, Sistem Pemosisi Global (bahasa Inggris: Global Positioning System (GPS)) adalah sistem untuk menentukan posisi di permukaan bumi dengan bantuan sinkronisasi sinyal satelit. Sistem ini menggunakan 24 satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi. Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan, dan digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu. Sistem yang serupa dengan GPS antara lain GLONASS Rusia, Galileo Uni Eropa, IRNSS India. Sistem ini dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, dengan nama lengkapnya adalah NAVSTAR GPS (kesalahan umum adalah bahwa NAVSTAR adalah sebuah singkatan, ini adalah salah, NAVSTAR adalah nama yang diberikan oleh John Walsh, seorang penentu kebijakan penting dalam program GPS).

Contoh GPS;

penentu kebijakan penting dalam program GPS). Contoh GPS; 3) Meteran dorong , adalah alat untuk mengukur

3)

Meteran dorong, adalah alat untuk mengukur panjang (long) secara digital dengan cara menjejakan roda ke jalan.

Contoh;

71

Peralatan Survey

Peralatan Survey 4) Kamera Digital, Kamera adalah alat paling populer dalam aktivitas fotografi. Nama ini didapat

4) Kamera Digital, Kamera adalah alat paling populer dalam aktivitas fotografi. Nama ini didapat dari camera obscura, bahasa Latin untuk "ruang gelap", mekanisme awal untuk memproyeksikan tampilan di mana suatu ruangan berfungsi seperti cara kerja kamera fotografis yang modern, kecuali tidak ada cara pada waktu itu untuk mencatat tampilan gambarnya selain secara manual mengikuti jejaknya. Dalam dunia fotografi, kamera merupakan suatu peranti untuk membentuk dan merekam suatu bayangan potret pada lembaran film. Pada kamera televisi, sistem lensa membentuk gambar pada sebuah lempeng yang peka cahaya. Lempeng ini akan memancarkan elektron ke lempeng sasaran bila terkena cahaya. Selanjutnya, pancaran elektron itu diperlakukan secara elektronik.

Contoh Kamera;

lempeng sasaran bila terkena cahaya. Selanjutnya, pancaran elektron itu diperlakukan secara elektronik. Contoh Kamera; 72
lempeng sasaran bila terkena cahaya. Selanjutnya, pancaran elektron itu diperlakukan secara elektronik. Contoh Kamera; 72

72

5.1.2.10

Dokumen lelang

Dokumen lelang

Sesuai dengan kerangka acuan kerja (KAK) yang diberikan oleh PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) bahwa salah satu sisipan pekerjaan setelah menghasilkan aplikasi SISJA Kota Tangerang adalah pembuatan dokumen tender. Bahwa dokumen tender menurut peraturan yang berlaku dibawah kuasa hokum pemerintah Republik Indonesia, maka diberlakukan menurut pedoman Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010, tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, termasuk didalamnya lampiran menurut kesesuaian anggaran dan unit pelaksana teknis yang bertanggung jawab dalam tiap besaran kegiatan yang telah diatur. Beberapa kelengkapan dokumen tender yang harus disediakan adalah Laporan Teknis, Bill Of Quantity, Gambar (As Built Drawing).

5.2 Metodologi Sesuai dengan kerangka acuan kerja dan perpres no 54 tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa yang telah disampaikan. Bahwa Metodologi adalah serangkaian tahapan cara untuk menganalisis permasalahan yang dihadapi serta langkah-langkah pemecahan/penyelesaian masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan pekerjaan. Seperti yang telah dipaparkan didalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) bahwa terdapat 2 problematikan/permasalahan untuk mencapai tujuan [adalah tersedianya data update jalan kota, arteri sekunder, kolektor sekunder, lokal dan sistem informasinya dalam bentuk software yang dapat dijadikan informasi dan menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan perencanaan dan pembangunan jalan di Kota]; [informasi untuk menjamin ketersediaan informasi yang up to date];[ Untuk mengetahui informasi ketersediaan jalan yang menghubungkan pusat pusat kegiatan dalam wilayah kabupaten/kota, jalan yang memudahkan masyarakat per-individu melakukan perjalanan, jalan yang menjamin pengguna jalan berkendara dengan selamat, jalan yang menjamin kendaraan dapat berjalan dengan nyaman dan selamat, jalan yang menjamin perjalanan kendaraan dapat dilakukan sesuai dengan kecepatan rencana sejalan dengan dinamika kebutuhan terhadap aksesiblitas, mobilitas, keselamatan, kondisi jalan dan kecepatan] dari pekerjaan ini, yaitu (1) Updating Database; (2) Pembuatan Sistem Informasi Jalan (SISJA) Kota Tangerang.

73

5.2.1

Metodologi Updating Database

Metodologi Updating Database

Updating database adalah kegiatan untuk menambahkan, mengurangi, merevisi, merubah melalui proses verifikasi lapangan hingga pemasukan (inputing) data/informasi yang actual (benar) kedalam perangkat lunak (Access, dan atau Mysql, dll). Berikut ini adalah gambar proses/tahapan updating database (spasial) jalan. Updating spasial jalan dilakukan di program AutoCad/Map/LandDestop, maupun perangkat lainnya seperti ArcGIS. Hal ini penting dilakukan untuk mendapatkan actual informasi mengenai kondisi jalan yang ada.

Data Spasial (Garis : Jalan) *Data Spasial DATA SPASIAL (Administrasi) *Data Spasial (Titik/Point)
Data Spasial (Garis : Jalan)
*Data Spasial
DATA SPASIAL
(Administrasi)
*Data Spasial (Titik/Point)
Menambah Garis/Ruas Menghapus Ruas Mengurangi Panjang Ruas
Menambah Garis/Ruas
Menghapus Ruas
Mengurangi Panjang Ruas
*Pengembangan *Pengembangan
*Pengembangan
*Pengembangan

Sedangkan untuk updating database (numeric, abjad dan gambar) jalan di wilayah kota tangerang di lakukan melalui proses yang telah dijelaskan diatas. Yakni proses penyusunan form survey ruas jalan. (lihat gambar dibawah ini)

Data/Informasi Jalan/Ruas
Data/Informasi
Jalan/Ruas
Id Ruas Jalan Nama Ruas Volume Kondisi Kelengkapan Eksisting Penampang
Id Ruas Jalan
Nama Ruas
Volume
Kondisi
Kelengkapan
Eksisting
Penampang
Ruas Volume Kondisi Kelengkapan Eksisting Penampang DATA BASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) – SISTEM INFORMASI
Ruas Volume Kondisi Kelengkapan Eksisting Penampang DATA BASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) – SISTEM INFORMASI
Ruas Volume Kondisi Kelengkapan Eksisting Penampang DATA BASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) – SISTEM INFORMASI
Ruas Volume Kondisi Kelengkapan Eksisting Penampang DATA BASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) – SISTEM INFORMASI
Ruas Volume Kondisi Kelengkapan Eksisting Penampang DATA BASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) – SISTEM INFORMASI
Ruas Volume Kondisi Kelengkapan Eksisting Penampang DATA BASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) – SISTEM INFORMASI
Ruas Volume Kondisi Kelengkapan Eksisting Penampang DATA BASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) – SISTEM INFORMASI
Ruas Volume Kondisi Kelengkapan Eksisting Penampang DATA BASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) – SISTEM INFORMASI
Ruas Volume Kondisi Kelengkapan Eksisting Penampang DATA BASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) – SISTEM INFORMASI
Ruas Volume Kondisi Kelengkapan Eksisting Penampang DATA BASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) – SISTEM INFORMASI
Ruas Volume Kondisi Kelengkapan Eksisting Penampang DATA BASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) – SISTEM INFORMASI
Ruas Volume Kondisi Kelengkapan Eksisting Penampang DATA BASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) – SISTEM INFORMASI
Ruas Volume Kondisi Kelengkapan Eksisting Penampang DATA BASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) – SISTEM INFORMASI
DATA BASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) – SISTEM INFORMASI JALAN (SISJA)
DATA BASE
MANAGEMENT SYSTEM
(DBMS) – SISTEM
INFORMASI JALAN (SISJA)

74

Metodologi Pembangunan SISJA Kota Tangerang

5.2.2 Metodologi Pembangunan SISJA Kota Tangerang

Sistem Informasi adalah aplikasi komputer untuk mendukung operasi dari suatu organisasi: operasi, instalasi, dan perawatan komputer, perangkat lunak, dan data. Sistem informasi adalah kumpulan antara sub-sub sistem yang saling berhubungan yang membentuk suatu komponen yang didalamnya mencakup input-proses-output yang berhubungan dengan pengolaan informasi (data yang telah dioleh sehingga lebih berguna bagi user) Suatu sistem informasi (SI) atau information system (IS) merupakan aransemen dari orang, data, proses-proses, dan antar-muka yang berinteraksi mendukung dan memperbaiki beberapa operasi sehari-hari dalam suatu bisnis termasuk mendukung memecahkan soal dan kebutuhan pembuat-keputusan manejemen dan para pengguna yang berpengalaman di bidangnya.

MySQL adalah sebuah perangkat lunak sistem manajemen basis data SQL (bahasa Inggris:

database management system) atau DBMS yang multithread, multi-user, dengan sekitar 6 juta instalasi di seluruh dunia. MySQL AB membuat MySQL tersedia sebagai perangkat lunak gratis dibawah lisensi GNU General Public License (GPL), tetapi mereka juga menjual dibawah lisensi komersial untuk kasus-kasus dimana penggunaannya tidak cocok dengan penggunaan GPL. Tidak sama dengan proyek-proyek seperti Apache, dimana perangkat lunak dikembangkan oleh komunitas umum, dan hak cipta untuk kode sumber dimiliki oleh penulisnya masing-masing, MySQL dimiliki dan disponsori oleh sebuah perusahaan komersial Swedia MySQL AB, dimana memegang hak cipta hampir atas semua kode

75

Metodologi Pembangunan SISJA Kota Tangerang

sumbernya. Kedua orang Swedia dan satu orang Finlandia yang mendirikan MySQL AB adalah: David Axmark, Allan Larsson, dan Michael "Monty" Widenius. MySQL adalah Relational Database Management System (RDBMS) yang didistribusikan secara gratis dibawah lisensi GPL (General Public License). Dimana setiap orang bebas untuk menggunakan MySQL, namun tidak boleh dijadikan produk turunan yang bersifat closed source atau komersial. MySQL sebenarnya merupakan turunan salah satu konsep utama dalam database sejak lama, yaitu SQL (Structured Query Language). SQL adalah sebuah konsep pengoperasian database, terutama untuk pemilihan atau seleksi dan pemasukan data, yang memungkinkan pengoperasian data dikerjakan dengan mudah secara otomatis. Keandalan suatu sistem database (DBMS) dapat diketahui dari cara kerja optimizernya dalam melakukan proses perintah-perintah SQL, yang dibuat oleh user maupun programprogram aplikasinya.

PYTHON PROGRAMMING

Python merupakan bahasa pemrograman yang freeware atau perangkat bebas dalam arti sebenarnya, tidak ada batasan dalam penyalinannya atau mendistribusikannya. Lengkap dengan source codenya, debugger dan profiler, antarmuka yang terkandung di dalamnya untuk pelayanan antarmuka, fungsi sistem, GUI (antarmuka pengguna grafis), dan basis datanya. Python dapat digunakan dalam beberapa sistem operasi, seperti kebanyakan system UNIX, PCs (DOS, Windows, OS/2), Macintosh, dan lainnya. Pada kebanyakan sistem operasi linux, bahasa pemrograman ini menjadi standarisasi untuk disertakan dalam paket distribusinya. Bahasa pemrograman Python merupakan jembatan antara bahasa skrip dan C. Secara jujur, Python merupakan gabungan kelebihan yang dibawa dari bahasa pemrograman lainnya, termasuk element dari C, C++, Modula-3, ABC, Icon, dan lainya.

METODE,

Metode ini merupakan model klasik yang bersifat sistematis dan mudah dipahami karena berurutan dalam tahapan membangun software. Waterfall Model menurut referensi Roger S. Pressman dapat digambarkan sebagai berikut :

76

Metodologi Pembangunan SISJA Kota Tangerang

Metodologi Pembangunan SISJA Kota Tangerang Model UML (Unified Modelling Language) sebagai perangkat pembuatan desain

Model UML (Unified Modelling Language) sebagai perangkat pembuatan desain software sistem informasi laboratorium adalah seperti gambar berikut :

informasi laboratorium adalah seperti gambar berikut : Dalam pembuatan sistem dengan menggunakan python dari desain

Dalam pembuatan sistem dengan menggunakan python dari desain tadi dibuatlah modelnya, model ini nantinya disamping sebagai database dan tabelnya, juga bisa difungsikan sebagai formnya. Dari model model tersebut maka dengan menggunakan fungsi database dan tabelnya. dan dengan menggunakan modelnya. Formnya bisa diatur untuk fungsi CRUDSF (Search, Filter ), sehingga dalam pembuatannya tergantung optimasi fungsi modelnya.

ALUR PENYUSUNAN SISTEM INFORMASI JALAN (SISJA), alur penyusunan system informasi jalan (SISJA), terdiri atas tahap pertama yaitu pengumpulan peta wilayah dan

system informasi jalan (SISJA), terdiri atas tahap pertama yaitu pengumpulan peta wilayah dan Pemetaan Lokasi 77
Pemetaan Lokasi
Pemetaan Lokasi

77

system informasi jalan (SISJA), terdiri atas tahap pertama yaitu pengumpulan peta wilayah dan Pemetaan Lokasi 77

Metodologi Pembangunan SISJA Kota Tangerang

jaringan jalan, tahap kedua pengumpulan data, dan tahap ketiga adalah pembangunan system informasi (basis data/database) jalan, dan terakhir pembuatan dokumen lelang.

Model pengorganisir Basis Data, model pengorganisir basis data teridiri atas tahap eksternal, tahap konseptual dan tahap internal. Tahap Eksternal, seperti perancangan basis data lain tahap ini pada dasarnya adalah mengumpulkan data dan informasi dari pihak user, manajemen sehingga dapat ditentukan tujuan pengembangan dan perancangan basis data (lihat gambar)

Gambar Tahap Eksternal

sehingga dapat ditentukan tujuan pengembangan dan perancangan basis data (lihat gambar) Gambar Tahap Eksternal 78

78

Metodologi Pembangunan SISJA Kota Tangerang

Tahap konseptual, harus dibuat model konseptual yang dapat mempresentasikan ‘dunia nyata’ sebaik mungkin. Dengan model ini aplikas-aplikasi basis data dapat doimodelkan tanpa harus tergantung pada model data tertentu. Model konseptual menyediakan mekanisme yang dapat memungkinkan perubahan struktur basis data dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan lingkungan yang sedang dimodelka, kebutuhan pengguna dan requirements yang actual. Salah satu model yang dapat dipakai sebagai alat representasi model konseptual adalah model Entity Relationship. Model ini merupakan alat untuk menganalisa unsur-unsur semantic daru suatu aplikasi yang tidak tergantung pada peristiwa-peristiwa yang terjadi. Pendekatan ini mencakup notasi-notasi yang mengambarkan entity atribut beserta relasinya. Dalam tahap ini dilakukan identifikasi semua Entity yang terlibat dalam permasalahan (enterprise) yang kemudian dapat didefinisikan mana yang sangat relevan (dibutuhkan) dan yang tidak. Selanjutnya atribut ini dapat dikelompokkan dalam : key, single valued, multi valued, derived dan composite dengan karakter masing masing. (lihat gambar)

composite dengan karakter masing masing. (lihat gambar) Dalam tahap ini juga berdasarkan informasi yang didapat pada

Dalam tahap ini juga berdasarkan informasi yang didapat pada tahap eksternal, maka dapat ditentukan semua rules (enterprise rule) yang berlaku pada enterprise yang

79

Metodologi Pembangunan SISJA Kota Tangerang

bersangkutan. Rule ini akan sangat berperan dalam menetukan relasi-relasi yang terdapat dalam model konseptual, yang pada akhirnya akan menetukan table-tabel basis datanya pada saat implementasi. Secara sederhana, tahap konseptual terdiri atas 2 tahap kegiatan yaitu; 1) Model konseptual, mulai dari mengorganisasikan data, memilih, mengelompokkan, menyederhanakana, menetapkan, enterprise rule dan membuat Entity Relationship (E-R) diagram. 2) Model logical, mulai membuat E-R data secara terpadu, menetapkan key dan membuat table skeleton jalan secara terstruktur. Tahap Internal, yaitu tahap dimana data [jalan/ruas][kelengkapan][kondisi], [dll] dalam tael yang sudah terstruktur diimplementasikan ke dalam perangkat lunak dengan bantuan computer. Kemudian, dilakukan uji coba dan dilakukan evaluasi serta analisis. Gambaran umum tahap internal tersebut dapat dilihat pada gambar xxx. Langkah langkah detail dalam tahap internal adalah ;

Konversi Model Entity Relationship ke Basis Data Relasional. Pekerjaan pertama dalam tahap internal ini adalah melakukan konversi model ER sebagai bentuk utama representasi model konspetual ke dalam bentuk model data yang saling mempunyai hubungan yang kita sebut sebagai basis data relasional. Basis data relasiional dapat dianggap sebagai kumpulan table table yang terkait satu sama lain, table dapat merepresentasikan relasi. Atribut dapat diangggap sebagai kolom (field). Setiap entity pada mdel E-R dikonversikan sebagai sebuah table data relasional. Relasi banyak ke banyak antara entity akan menghasilkan sebuah table baru yaitu table interseksi. Semua table akan diberi nama yang bersifat deskriptif, dengan nama entity sebagai nama table yang bersangkutan.

Pendefinisian primary key, table table dalam basis data dapat digunakan untuk mempresentasikan enterprise (dapat dianggap sebagai beberapa halyang merupakan bagian dari dunia nyata). Untuk setiap table relational harus merepresentasikan satu hal atau tema saja. Setiap table terdiri atas kolom dan baris (field dan record) dan data pada setiap recordnya harus bersifat unik. Maka untuk menjamin sifat unik setiap record harus ditentukan dan dibuat primary key yang berfungsi sebagai pengenal/identifier. Primary key pada table selain table interseksi

80

Metodologi Pembangunan SISJA Kota Tangerang

berasal dari atribut key yang dimiliki oleh setiap entity pada model entity relationship. Atribut ini primary key, tidak boleh kosong(null value) dan harus bersifat unik.

Pendefinisian foreign key, table-tabel yang telah memiliki primary key di atas masih belum lengkap dan tidak menyatakan relasi-relasi logika yang terdapat antara table- tabelnya. Untuk itu diperlukan foreign key sebagai penghubung antar table.

Normalisasi tahap pertama, table table hasil konversi dari model E-R ke basis data relasional elum teruji secara logika yang berarti pula efektifitas, efisiensi dan logika keterhubungan antar table-tabel belum teruji. Untuk itu diperlukan normalisasi secara bertahap. Normalisasi tahap pertama mensyaratkan bahwa semua atribut yang terlibat harus dapat dibagi lagi menjadi atribut-atribut yang lebih kecil. Dengan demikian setiap atribut yang dapat dikelompokkan sebagai atribut multi valued dan composite harus dihilangkan. Dalam hal ini harus diperhatikan dalam penafsiran ketentuan ini dengan tepat apakah suatu atribut termasuk multi valued, composite atau tidak. Hal ini bergantung pada tujuan beserta query yang harus dijawab.

Normalisasi tahap kedua. Normalisasi tahap kedua ini mensyaraktan semua atribut memenuhi bentuk normal dari normalisasi pertama dan semua atribut atribut bukan kunci hanya tergantung pada atribut kunci.

Normalisasi tahap ketiga. Normalisasi ini mensyaratkan bahwa semua atribut table yang termasuk bentuk normalisasi tahap kedeua harus bebas dari ketergantungan transitif. Apabila dilihat selintas, tampaknya kerap kali table table ini sudah bebas dari ketergantungan transitif. Tetapi kalu diamati lebih jauh maka akan Nampak kemungkinan kemungkinan itu. Secara umum dengan bentuk normal ketiga ini sudah mencukupi untuk hamper semua kondisi.

Implementasi table table. Setelah perancangan logika selesai maka perancangan fisik dapat segera dilakukan.

Implementasi relasi antar table basis data. Setelah semua table diimplementasikan ke dalam bentuk fisik diatas DBMS, setiap relasi antar table-tabelnya juga segera diimplementasikan dengan menghubungkan setiap primary key setiap table dengan setiap foreign key yang terletak pada table table lain. Hasil pendefinisian relasi secara fisik antar table basis data akan memberikan representasikan grafis yang dapat menguji relasi relasi yang terdapat didalam model entity relationship model konseptualnya.

81

Metodologi Pembangunan SISJA Kota Tangerang

Implementasi integritas umum basis data. Pada dasarnya bersamaa dengan proses implementasi relasi relasi antar table basis data secara fisik implementasi integritas basis data secara fisik juga dapat segera dilakukan. Model basis data relasional menentukan dua aturan integritas umum yang sering dirujuk sebagai aturan umum karena pengarushnya terhadap basis data adalah integritas. Entity adan integrates referential (rujukan).

Implementasi integritas khusus basis data. Semua batasan integritas yang tidak termasuk ke dalam integritas entity dan itegritas referential dapat dianggap sebagai aturan/rules khusus basis data dan atau Bussines Rules. Tipe aturan ini tidak selalu sama untuk setiap basis data dan berasal dari aturan-aturan kerja yang dimodelkan oleh setiap basis datanya. Meskipun demikian tipe integritas khusus ini sama pentingnya dengan integritas umum dimuka. Tanpa memperlakukan spesifikasi dan bussines rule banak data yang buruk atau tidak layak dipakai akan masuk kedalam basis data dan akhirnya menyebabkan terjadinya fenomena umum garbage in, garbage out (masuk sampah, keluar sampah). (lihat gambar)

garbage out (masuk sampah, keluar sampah). (lihat gambar) RANCANGAN DATA BASE/ATRIBUTE, data atribut untuk

RANCANGAN DATA BASE/ATRIBUTE, data atribut untuk pengelolaan jaringan jalan sangatlah spesifik. Untuk itu perlu dilakukan perancangan sesuai kebutuhan. Pada dasarnya data atribut yang dibangun akan dikelompokkan ke dalam xx kategori kelompok yaitu ;

82

1) Data atribut jalan; [no ruas], [ nama jalan/ruas], [volume], [kondisi], [eksisiting], [potongan melintang], [titik awal dan akhir], [kelengkapan], [foto]

2)

Data attribute administasi; [desa], [kelurahan], [kecamatan], [kota]

3)

Data attribute lain

RANCANGAN DATA SPASIAL, rancangan data spasial akan diterjemahkan ke dalam layer- layer peta digital. Setiap layer mempunyai karakteristik spesifik tentang sebuah kelompok obyek. Untuk Sistem Informasi Jalan (SISJA) Kota Tangerang akan dibuat layer standar yaitu; layer untuk jaringan jalan [arteri] [kolektor] [local], wilayah administrasi. Contoh Data Atribute Jaringan Jalan

Metodologi Pembangunan SISJA Kota Tangerang
Metodologi Pembangunan SISJA Kota Tangerang

83

Metodologi Pembangunan SISJA Kota Tangerang

Contoh Data Atribute Wilayah Administrasi

Pembangunan SISJA Kota Tangerang Contoh Data Atribute Wilayah Administrasi Contoh Rancangan Layer di Aplikasi SISJA 84

Contoh Rancangan Layer di Aplikasi SISJA

84

Program Kerja

Program Kerja 5.2.3 Program Kerja Beberapa program kerja yang akan disiapkan oleh konsultan pelaksana untuk dapat

5.2.3 Program Kerja

Beberapa program kerja yang akan disiapkan oleh konsultan pelaksana untuk

dapat

sebagai berikut;

adalah

menghasilkan tujuan dari kerangka kerja

yang telah

diberikan

5.2.3.1 Program Kerja Utama I; 1) Persiapan, yang terdiri atas (i) persiapan administrasi kontrak kerja; (ii) mobilisasi tenaga ahli, (iii) rapat kerja tenaga ahli dalam perumusan kerangka

85

Program Kerja Utama II;

dan pemantapan metodologi kerja; (iv) pengumpulan data spasial dan non spasial; (v) penyiapan form survey dilapangan; (vi) penyiapan schedule survey dilapangan dan pembagian area surveyor; (vii) penyiapan peralatan survey. 2) Waktu persiapan, adalah selama 30 hari kerja. Dimana keterlibatan tenaga ahli, ahli muda, tenaga pendukung sangat diperlukan. 3) Hasil Kerja, yang akan menjadi keluaran/produk adalah (i) laporan pendahuluan, (ii) data spasial (titik , garis, polygon) dan non spasial (numeric, abjad dan gambar); (iii) Metodologi, Rencana Kerja, Form Survey Lapanga; (iv) Konsep basis data; (v) skema system informasi jalan/SISJA; (vi) procedure dan contoh aplikasi SISJA Kota Tangerang; (vii) bahan presentasi. 4) Persetujuan, terhadap (i) konsep pembangunan basis data; (ii) konsep pembangunan SISJA Kota Tangerang; (iii) Form Survey lapangan; (iv) Rencana kerja. Dari PPK dan Anggota Tim Teknis Pekerjaan ini.

5.2.3.2 Program Kerja Utama II; 1) Survey, Pembangunan Basis data dan Pembangunan SISJA. Kegiatan survey terdiri atas (i) dokumentasi ruas jalan; (ii) gambar potongan melintang/geometrik, (iii) nama ruas/jalan; (iv) Kondisi eksisting/RCI; (v) Posisi awal dan posisi akhir; (vi) Volume jalan dan saluran; (vii) Kelengkapan jalan. Sedangkan kegiatan Pembagunan Basis Data adalah (i) kegiatan programming dengan menggunakan perangkat lunak Sql, Acces atau lainnya yang diharapkan dapat terintegrasi dengan spasial data yang ada serta (ii) kegiatan memasukkan data ke system data base yang telah dibuat. Pembangunan SISJA meliputi kegiatan (i) programming antar muka; (ii) programming master data; (ii) programming informasi yang dapat di management/manipulated; (iii) programming data spasial terdiri atas titik, garis dan polygon; (iv) pengintegrasi antara basis data jalan dengan data spasial; (v) aplikasi SISJA. 2) Waktu Survey, masa waktu survey dilapangan adalah selama 60 hari kerja. Dimana keterlibatan, tenaga pendukung yakni para surveyor sangat diperlukan. Masa enampuluh hari (60) adalah masa kerja yang panjang dimana diasumsikan setiap harinya ada progress dilapangan dan dilakukan pemasukan data lapangan ke basis data yang telah dirancang pada kegiatan utama I.

86

Program Kerja Utama III;

sedangkan masa pembangunan basis data dan pembangunan SISJA, diharapkan dapat selesai (draft) pada hari ke limapuluh (50) sambil dilakukan peng-kini-an data dan pemasukan data dari lapangan. Sehingga masa hingga masuknya semua data lapangan dapat tuntas pada hari ke sembilanpuluh (90) termasuk Basis Data dan Sistem Informasi Jalan (SISJA) Kota Tangerang sudah terbentuk secara aplikasi/perangkat lunak. 3) Hasil Kerja, yang akan menjadi keluaran/produk adalah (i) laporan Antara, (ii) data spasial (titik , garis, polygon) dan non spasial (numeric, abjad dan gambar); (iii) Metodologi, Rencana Kerja, Form Survey Lapangan; (iv) Basis Data SISJA; (v) procedure dan Aplikasi SISJA Kota Tangerang; (vi) bahan presentasi. 4) Persetujuan, terhadap (i) draft Basis data SISJA; (ii) draft SISJA Kota Tangerang; (iii) Laporan Antara (iv) Rencana kerja selanjutnya. Dari PPK dan Anggota Tim Teknis Pekerjaan ini.

5.2.3.3 Program Kerja Utama III; 1) Pembangunan Basis data dan Pembangunan SISJA. Pada Kegiatan Utama III

kegiatan yang berjalan adalah Pembangunan Basis Data yang terdiri atas (i) kegiatan programming dengan menggunakan perangkat lunak yang telah dipilih/disepakati (ii) kegiatan memasukkan data ke system data base yang telah dibuat. Pembangunan SISJA meliputi kegiatan (i) programming antar muka; (ii) programming master data; (ii) programming informasi yang dapat di management/manipulated; (iii) programming data spasial terdiri atas titik, garis dan polygon; (iv) pengintegrasi antara basis data jalan dengan data spasial; (v) aplikasi SISJA. Waktu Pembangunan Basis Data dan SISJA, Pasca enampuluh hari (60) adalah masa kerja yang panjang dimana diasumsikan bahwa pelaksanaan kegiatan pengupulan data dilapangan telah selesai. sedangkan masa pembangunan basis data dan pembangunan SISJA, diharapkan dapat selesai (draft) pada hari ke limapuluh (90) sambil dilakukan peng-kini-an data dan pemasukan data dari lapangan. Sehingga masa hingga masuknya semua data lapangan dapat tuntas pada hari ke seratus (100) termasuk Basis Data dan Sistem Informasi Jalan

2)

87

3)

4)

(SISJA) Kota Tangerang berupa draft aplikasi sudah terbentuk secara aplikasi/perangkat lunaknya. Hasil Kerja, yang akan menjadi keluaran/produk adalah (i) laporan draft akhir, (ii); (iv) Draft Basis Data SISJA; (v) Draft SISJA Kota Tangerang; (vi) bahan presentasi. Persetujuan, terhadap (i) Draft SISJA Kota Tangerang; (iii) Laporan draft akhir (iv) Rencana kerja selanjutnya. Dari PPK dan Anggota Tim Teknis Pekerjaan ini.

Kota Tangerang ; (iii) Laporan draft akhir (iv) Rencana kerja selanjutnya. Dari PPK dan Anggota Tim

5.2.3.4 Program Kerja Utama IV; 1) Pembangunan Sistem Informasi Jalan (SISJA). Pada Kegiatan Utama ahir ini kegiatan yang berjalan adalah sudah terintegrasinya data spasial dan nonspasial, dengan tampil antar muka sesuai kriteria yang ditetapkan di dalam KAK/Kerangka Acuan Kerja. 2) Waktu Pembangunan Sistem Informasi Jalan (SISJA), masa pembangunan SISJA total adalah 90 (Sembilan puluh) hari kerja dimana terus dilakukan perbaikan sesuai aplikasi dan temuan lapangan. 3) Hasil Kerja, yang akan menjadi keluaran/produk adalah (i) laporan akhir, (ii); SISJA Kota Tangerang; (vi) manual penggunaan aplikasi SISJA, (vii) bahan presentasi; (viii) dokumen lelang. Contoh 1;

Program Kerja Utama IV;
Program Kerja Utama IV;

88

Apreasiai terhadap Inovasi

Contoh 2;

Apreasiai terhadap Inovasi Contoh 2; 4) Persetujuan , terhadap (i) Sistem Informasi Jalan ( SISJA) Kota

4)

Persetujuan, terhadap (i) Sistem Informasi Jalan (SISJA) Kota Tangerang; (iii) Laporan akhir. Dari PPK dan Anggota Tim Teknis Pekerjaan ini.

5.2.4 Apreasiai terhadap Inovasi

Sesuai dengan keluaran pekerjaan yang diharapkan pada kegiatan ini. Maka salah satu apresiasi dari pelaksana pekerjaan/konsultan. Maka proses alih pengetahuan akan dilakukan melalui program training dan transfer pengetahuan dalam hal penggunaan aplikasi dan pengembangan yang dapat dilakukan pada dinas yang akan menggunakannya. Hal ini penting untuk mendayagunakan dan meneruskan pengembangan aplikasi system informasi jaringan jalan (SISJA) Kota Tangerang sebagai perangkat lunak pembantu pengambil keputusan dalam perencanaan dan pembangunan jalan dan kelengkapannya di Kota Tangerang.

89

6.1.1

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

Jadwal pelaksanaan kegiatan adalah jadwal terinci tentang aktivitas yang akan dilaksanakan oleh konsultan.

Tabel 1 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

Bulan Ket No Uraian I II III IV I TAHAP PERSIAPAN & PENGUMPULAN DATA 1.1
Bulan
Ket
No
Uraian
I
II
III
IV
I
TAHAP PERSIAPAN & PENGUMPULAN DATA
1.1
Penyiapan Administrasi Proyek
1.2
Pemantapan Metodologi dan Rencana Kerja
1.3
Pengumpulan data-data spasial dan non spasial
1.4
Penyusunan Form Survey
1.5
Penyiapan aplikasi SISJA Kota Tangerang
1.6
Penyiapan peralatan survey/Kalibrasi Peralatan
II
TAHAP SURVEY, PENGOLAHAN dan PEMBUATAN
SISJA Kota Tangerang
2.1
Survey Jaringan Jalan Kota Tangerang
2.2
Penyusunan, pemasukan data lapangan
2.3
Pembangunan basis data
2.4
Pembangunan tampilan antar muka
2.5
Pengintegrasi data spasial dan non spasial
3
PELAPORAN, SIMULASI, ASISTENSI & PRESENTASI
3.1
Laporan Pendahuluan
3.2
Laporan Antara
3.3
Laporan Draft Akhir
3.4
Laporan Akhir
3.5
Asistensi Laporan Draft Akhir
3.6
Asistensi Laporan Akhir
3.7
Simulasi Aplikasi SISJA Kota Tangerang
3.8
Aplikasi SISJA Kota Tangerang & Manual Book
3.9
Presentasi

90

Organisasi dan Personil

6.2 Organisasi dan Personil

6.2.1 Organisasi pelaksanaan pekerjaan

Organisasi pelaksanaan pekerjaan yang dimaksud dibawah ini adalah organisasi pelaksana pekerjaan yang dimulai dari pemberi pekerjaan, konsultan dan tim konsultan.

Gambar 2 Organisasi pelaksanaan pekerjaan

Direktur Utama Pemberi Pekerjaan BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN PT. BAHANA NUSANTARA DAERAH KOTA TANGERANG KETUA TIM
Direktur Utama
Pemberi Pekerjaan
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN
PT. BAHANA NUSANTARA
DAERAH KOTA TANGERANG
KETUA TIM
AHLI SIPIL
AHLI TRANSPORTASI /JALAN
AHLI
TRANSPORTASI /JALAN
AHLI TEKNOLOGI INFORMASI
AHLI
TEKNOLOGI INFORMASI
AHLI KARTOGRAFI/PEMETAAN
AHLI
KARTOGRAFI/PEMETAAN
AHLI TEKNOLOGI INFORMASI AHLI KARTOGRAFI/PEMETAAN AHLI MUDA TRANSPORTASI/JALAN AHLI MUDA TEKNOLOGI
AHLI MUDA TRANSPORTASI/JALAN AHLI MUDA TEKNOLOGI INFORMASI AHLI MUDA AHLI MUDA DESAIN GRAFIS TEKNOLOGI INFORMASI
AHLI MUDA
TRANSPORTASI/JALAN
AHLI MUDA
TEKNOLOGI INFORMASI
AHLI MUDA
AHLI MUDA
DESAIN GRAFIS
TEKNOLOGI INFORMASI
TENAGA PENDUKUNG
TENAGA
PENDUKUNG
Keterangan : Garis Perintah Garis Koordinasi Warna Menyatakan Kelompok Tugas
Keterangan :
Garis Perintah
Garis Koordinasi
Warna Menyatakan Kelompok Tugas

91

6.2.2

Jadwal penugasan tenaga ahli

Jadwal penugasan tenaga ahli

Tabel 2 Jadwal Penugasan Tenaga Ahli

No

Posisi

Nama

Nama

 

Bulan

 

Ket

 

Personil

Perusahaan

I

II

III

IV

 

1

Ketua Tim/Ahli Sipil

Tobe

PT. Bahana

1 Ketua Tim/Ahli Sipil Tobe PT. Bahana
 

name

Nusantara

2

Ahli Transportasi

Tobe

PT. Bahana

2 Ahli Transportasi Tobe PT. Bahana
 

name

Nusantara

3

Ahli Teknologi

Tobe

PT. Bahana

3 Ahli Teknologi Tobe PT. Bahana

Informasi

name

Nusantara

4

Ahli

Tobe

PT. Bahana

4 Ahli Tobe PT. Bahana  
 

Pemetaan/Kartografi

name

Nusantara

5

Ahli muda

Tobe

PT. Bahana

5 Ahli muda Tobe PT. Bahana  
 

Transportasi Jalan

name

Nusantara

6

Ahli muda Teknologi Informasi

Tobe

PT. Bahana

6 Ahli muda Teknologi Informasi Tobe PT. Bahana  
 

name

Nusantara

7

Ahli muda Teknologi Informasi

Tobe

PT. Bahana

7 Ahli muda Teknologi Informasi Tobe PT. Bahana  
 

name

Nusantara

8

Ahli muda Desain Grafis

Tobe

PT. Bahana

8 Ahli muda Desain Grafis Tobe PT. Bahana  
 

name

Nusantara

9

Sekretaris

Tobe

PT. Bahana

9 Sekretaris Tobe PT. Bahana  
 
 

name

Nusantara

10

Juru gambar

Tobe

PT. Bahana

10 Juru gambar Tobe PT. Bahana  
 
 

name

Nusantara

11

Juru gambar

Tobe

PT. Bahana

11 Juru gambar Tobe PT. Bahana  
 
 

name

Nusantara

12

Juru gambar

Tobe

PT. Bahana

12 Juru gambar Tobe PT. Bahana  
 
 

name

Nusantara

13

Juru gambar

Tobe

PT. Bahana

13 Juru gambar Tobe PT. Bahana  
 
 

name

Nusantara

14

Operator Komputer

Tobe

PT. Bahana

14 Operator Komputer Tobe PT. Bahana  
 
 

name

Nusantara

15

Operator Komputer

Tobe

PT. Bahana

15 Operator Komputer Tobe PT. Bahana  
 
 

name

Nusantara

16

Surveyor

Tobe

PT. Bahana

16 Surveyor Tobe PT. Bahana  
 
 

name

Nusantara

17

Surveyor

Tobe

PT. Bahana

17 Surveyor Tobe PT. Bahana  
 
 

name

Nusantara

18

Surveyor

Tobe

PT. Bahana

18 Surveyor Tobe PT. Bahana  
 
 

name

Nusantara

19

Surveyor

Tobe

PT. Bahana

19 Surveyor Tobe PT. Bahana  
 
 

name

Nusantara

20

Surveyor

Tobe

PT. Bahana

20 Surveyor Tobe PT. Bahana  
 
 

name

Nusantara

21

Surveyor

Tobe

PT. Bahana

21 Surveyor Tobe PT. Bahana