Anda di halaman 1dari 29

KATALOG BPS : 4102002.

1771

ANALISIS EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU TAHUN 2007 - 2011

BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BENGKULU

ANALISIS EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU TAHUN 2007 - 2011


No PUBLIKASI KATALOG BPS Ukuran Buku Jumlah Halaman : 1771.1007 : 4102002.1771 : 14 x 21 cm : iv + 24 HALAMAN

Penulis: Tina Wahyufitri Rusli

Gambar Kulit : Seksi IPDS Diterbitkan oleh : BPS Kota Bengkulu

Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya

KATA PENGANTAR Publikasi analisis ekonomi regional Provinsi merupakan publikasi yang disusun oleh staf dan statistisi BPS Kota Bengkulu untuk memenuhi pengguna data dalam penyediaan referensi perekonomian Provinsi Bengkulu. Bengkulu fungsional kebutuhan mengenai

Publikasi ini disusun dengan maksud untuk mengetahui

sektor-sektor basis di Provinsi Bengkulu dan memberikan usulan prioritas sektor unggulan untuk dikembangkan oleh pemerintah daerah.
Disadari bahwa publikasi yang disajikan ini masih jauh dari lengkap dan sempurna. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk menyempurnakan publikasi berikutnya. Semoga publikasi ini dapat bermanfaat bagi pemerintah maupun masyarakat, baik dalam penentuan kebijakan maupun penelitian ataupun analisis data.

Bengkulu, Mei 2012 Kepala BPS Kota Bengkulu

ISBULLAH, SE NIP. 19560924 197802 1 001

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi Pendahuluan Metodologi Analisis Kesimpulan Daftar Pustaka

iii iv 1 2 5 22 24

1. PENDAHULUAN
Dalam upaya mencapai tujuan pembangunan ekonomi daerah, kebijakan utama yang perlu dilakukan adalah mengusahakan agar prioritas pembangunan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut. Namun karena tidak semua sektor dalam perekonomian memiliki kemampuan tumbuh yang sama, maka dalam perencanaan pembangunan regional sebaiknya diketahui sektor-sektor ekonomi yang dianggap berpotensi yang kemudian diprioritaskan untuk dikembangkan agar dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk akselerasi pembangunan di wilayah yang bersangkutan. 1.1 Tujuan Penelitian Analisis ekonomi regional Provinsi Bengkulu ini bertujuan untuk mengetahui: 1. Gambaran kondisi ekonomi regional Provinsi Bengkulu. 2. Gambaran Sektor-sektor basis (unggulan) di Provinsi Bengkulu. 3. Gambatan prioritas pengembangan sektor unggulan di Provinsi Bengkulu. 2. METODOLOGI 2.1 Metode Analisis 2.1.1 Analsis Shift Share

Analisis shift share digunakan untuk menentukan sektorsektor yang berkembang di suatu wilayah dibandingkan dengan nasional/daerah lain yang lebih tinggi, sebagai acuan (Rosintan, 2008). Untuk melihat pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu lebih mendalam, dilakukan
1

analisis terhadap tiga komponen pembentuk Pertumbuhan Ekonomi yaitu komponen pertumbuhan wilayah (national share), komponen pertumbuhan proporsional (proporsional shift) dan komponen pergeseran pangsa wilayah (differential shift) dengan mengambil wilayah Indonesia sebagai acuan.
Data yang diperoleh pertama-tama dianalisis dengan menggunakan analisis shift-share (Golberg dan Chinloy dalam Bank Indonesia, 2005). Ketiga komponen tersebut dirumuskan sebagai berikut:
NSi PSi DSi = = = Qio { ............................. (1) ........................ (2) ........................ (3)

Dimana: NSi = pangsa regional suatu sektor PSi = pergeseran proporsional (proportional shift) suatu sektor DSi = pergeseran yang berbeda (different shift) suatu sektor Ei = Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu sektor di Bengkulu Y0 dan Yt = PDB pada tahun 0 dan tahun t Qi = PDRB sektor i Provinsi Bengkulu 0 = data pada awal pengamatan yaitu tahun 2007 t = data pada akhir pengamatan, yaitu tahun 2011 Berdasarkan besaran PS dan DS di suatu sektor, sektor perekonomian dalam suatu daerah dapat dikelompokkan dalam empat kategori sebagai berikut : (Saharudin, 2004) 1. Kategori I (PS positif dan DS positif ) Adalah sektor dengan pertumbuhan sangat pesat 2. Kategori II (PS negatif dan DS positif) Adalah sektor yang memiliki pertumbuhan tertekan namun tetap berkembang
2

3. Kategori III (PS positif dan DS negatif) Adalah sektor yang tertekan namun cenderung memiliki potensi 4. Kategori IV (PS dan DS negatif) Adalah sektor dengan daya saing lemah dan juga peranannya terhadap nasional rendah.

2.1.2 Analisis Location Quotient Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sektor-sektor basis di Provinsi Bengkulu. Analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk melihat kemampuan suatu sektor perekonomian dalam memenuhi kebutuhan di daerahnya. Bentuk persamaan LQ yang dimodifikasi adalah sebagai berikut (Tarigan, 2005): LQi = ........................... (4) di mana: xi PDRB

= output sektor i di Provinsi Bengkulu = total output Produk Domestik Bruto di Provinsi Bengkulu Xi = output sektor i di Indonesia PDB = total output Produk Domestik Bruto di Indonesia Setelah nilai LQ diperoleh maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Bila LQ suatu sektor > 1 maka sektor tersebut dapat dikatakan sebagai sektor basis di Provinsi Bengkulu; 2. Bila LQ suatu sektor < 1 maka sektor tersebut Bukan merupakan sektor basis di Provinsi Bengkulu;
3

3. Bila LQ suatu sektor = 1 menunjukkan keswasembadaan (self-sufficiency) sektor tersebut di Provinsi Bengkulu 2.1.3 Analisis Gabungan LQ dan Shift Share Analisis gabungan LQ dan shift share digunakan untuk menentukan prioritas sektor-sektor unggulan untuk dikembangkan di Provinsi Bengkulu. Arsyad dalam Ropingi (2003) mengemukakan kriteria prioritas sektor unggulan untuk dikembangkan lebih lanjut adalah sebagai berikut: 1. Prioritas pertama Suatu sektor masuk dalam prioritas pertama jika sektor tersebut merupakan sektor basis, memiliki keunggulan komparatif dan laju pertumbuhannya cepat. 2. Prioritas kedua Suatu sektor masuk dalam prioritas kedua jika sektor tersebut merupakan sektor basis, memiliki keunggulan komparatif; atau sektor basis dan pertumbuhannya cepat; atau sektor non basis yang memiliki keunggulan komparatif dan pertumbuhannya cepat. 3. Prioritas ketiga Jika sektor tersebut merupakan sektor non basis namun hanya memiliki keunggulan komparatif saja. 4. Prioritas keempat Jika sektor tersebut merupakan sektor non basis namun pertumbuhannya cepat.

5. Prioritas kelima Jika sektor tersebut merupakan sektor non basis, tidak memiliki keunggulan komparatif dan pertumbuhannya lambat. 6. Prioritas alternatif Jika sektor tersebut merupakan pertumbuhannya lambat dan tidak memiliki keunggulan komparatif 2.2 Data Penelitian Sumber data yang digunakan dalam tulisan ini adalah data sekunder yaitu Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2007 2011 dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bengkulu pada tahun yang sama secara sektoral berdasarkan harga konstan tahun 2000. Data tersebut diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu dan Statistik Indonesia terbitan Badan Pusat Statistik RI. 3. Analisis Ekonomi Regional Provinsi Bengkulu Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Bengkulu dalam kurun waktu 2007 2011 meningkat sebesar 26,03%. Sektor sektor yang paling tinggi pertumbuhannya adalah sektor keuangan dan sektor listrik, gas dan air bersih yaitu diatas 42 45%. Sementara yang mengalami pertumbuhan terendah adalah sektor pertanian yaitu sebesar 18,43%. Dari tabel 1 pada kolom 4 dan kolom 5 dapat dilihat bahwa hampir seluruh sektor memiliki sumbangan yang
5

relatif tetap pada pembentukan PDRB Provinsi Bengkulu pada kurun waktu 2007 2011, dimana sumbangan terbesar diberikan oleh sektor pertanian yang memberikan kontribusi lebih dari 39% terhadap PDRB Provinsi Bengkulu di tahun 2007 dan 37 % di tahun 2011. Sektor pertanian memiliki kontribusi terbesar pada PDRB total Provinsi Bengkulu, namun sektor ini mengalami pertumbuhan terendah dibandingkan dengan sektor-sektor lain (lihat tabel 2). Kecenderungan kenaikan nilai PDRB Provinsi Bengkulu lebih ditopang oleh empat sektor utama yaitu sektor keuangan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor industri pengolahan dan sektor jasa.
Tabel 1. Kontribusi Sektor Perekonomian Provinsi Bengkulu Persen terhadap PDRB (Milyar Rp) total PDRB Sektor 2007 2011 2007 2011 (1) Pertanian Pertambangan Industri pengolahan LGA Bangunan PHR Pengangkutan Keuangan Jasa (2) 2,771.88 247.76 285.55 31.11 206.42 1,435.12 596.54 325.36 1,137.68 (3) 3,282.87 314.86 390.11 44.41 271.75 1,760.93 778.25 473.95 1,552.13 (4) 39.39 3.52 4.06 0.44 2.93 20.39 8.48 4.62 16.17 (5) 37.01 3.55 4.40 0.50 3.06 19.85 8.77 5.34 17.50

Total 7,037.40 8,869.25 100.00 100.00 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu (diolah)

Tabel 2. Pertumbuhan Sektor Perekonomian Provinsi Bengkulu Sektor (1) Pertanian Pertambangan Industri pengolahan LGA Bangunan PHR Pengangkutan Keuangan Jasa Total
PDRB (Milyar Rp) Pertumbuhan Miliar Rp Persen

2007 (2) 2,771.88 247.76 285.55 31.11 206.42 1,435.12 596.54 325.36 1,137.68 7,037.40

2011

(3) 3,282.87 314.86 390.11 44.41 271.75 1,760.93 778.25 473.95 1,552.13 8,869.25

(6) 510.99 67.10 104.56 13.30 65.33 325.81 181.71 148.59 414.46 1,831.85

(7) 18.43 27.08 36.62 42.77 31.65 22.70 30.46 45.67 36.43 26.03

Pertumbuhan PDB nasional dalam kurun waktu yang sama mengalami pertumbuhan 27,4%. Seperti halnya dengan PDRB Provinsi Bengkulu, seluruh sektor di tingkat nasional pada kurun waktu 2007 2011 mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan terbesar dialami oleh sektor pengangkutan yang mencapai 69,5% dan kedua tertinggi adalah sektor listrik, gas dan air bersih yang sebesar 40%. Sub sektor bangunan di tingkat nasional tumbuh 31,4%, namun masih lebih rendah dari pertumbuhan sektor tersebut di Provinsi Bengkulu. Pertumbuhan PDB nasional selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Pertumbuhan PDB Nasional 2007 dan 2011

PDB (Milyar Rp) Pertumbuhan Sektor 2007 2011 Miliar Rp Persen (1) (2) (3) (4) (5) Pertanian 271,509.3 313,727.8 42,218.5 15.5 Pertambangan 171,278.4 189,179.2 17,900.8 10.5 Industri 490,261.6 587,479.6 97,218.0 19.8 LGA 13,517.0 18,920.5 5,403.5 40.0 Bangunan 121,808.9 160,090.4 38,281.5 31.4 PHR 340,437.1 437,250.8 96,813.7 28.4 Pengangkutan 142,326.7 241,285.2 98,958.5 69.5 Keuangan 183,659.3 236,076.7 52,417.4 28.5 Jasa 181,706.0 232,464.0 50,758.0 27.9 Total 1,821,757.0 2,321,793.0 499,969.9 27.4
Sumber : BPS RI (diolah) Tabel 4. Kontribusi PDB Nasional 2007 dan 2011

Sektor (1) Pertanian Pertambangan Industri LGA Bangunan PHR Pengangkutan Keuangan Jasa Total

PDB (Milyar Rp) 2007 2011 (2) (3) 271,509.3 313,727.8 171,278.4 189,179.2 490,261.6 587,479.6 13,517.0 18,920.5 121,808.9 160,090.4 340,437.1 437,250.8 142,326.7 241,285.2 183,659.3 236,076.7 181,706.0 232,464.0 1,821,757.0 2,321,793.0

Persen PDB 2007 2011 (4) (5) 14.9 13.5 9.4 8.1 26.9 25.3 0.7 0.8 6.7 6.9 18.7 18.8 7.8 10.4 10.1 10.2 10.0 10.0 100.0 100.0

Sumber : BPS RI (diolah) 8

3.1 Analisis Shift Share Analisis shift share digunakan untuk menentukan sektorsektor yang berkembang di suatu wilayah dibandingkan dengan nasional/daerah lain yang lebih tinggi, sebagai acuan (Rosintan, 2008). Untuk melihat pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu lebih mendalam, dilakukan analisis terhadap tiga komponen pembentuk Pertumbuhan Ekonomi yaitu komponen pertumbuhan wilayah (national share), komponen pertumbuhan proporsional (proporsional shift) dan komponen pergeseran pangsa wilayah (differential shift) dengan mengambil wilayah Indonesia sebagai acuan. Berdasarkan analisis shift share, PDRB Provinsi Bengkulu dari tahun 2007 2011 mengalami pertumbuhan absolut sebesar Rp. 1,831.85 milyar. Keadaan ini disebabkan oleh pengaruh positif efek pertumbuhan nasional (NS) sebesar Rp. 1,835.89 milyar, efek negatif dari pergeseran proporsional (PS) sebesar Rp. 11.50 milyar dan pertumbuhan positif daya saing sebesar Rp. 7,46 milyar. Dari sembilan sektor lapangan usaha, sektor pertanian memberi kontribusi yang paling dominan pada pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu yaitu sebesar Rp. 510.99 milyar. Selanjutnya sektor jasa dan sektor perdagangan memberikan kontribusi terbesar setelah sektor pertanian yaitu sebesar Rp. 414.46 milyar dan Rp. 325.81 milyar (lihat tabel 5).

Tabel 5. Nilai Absolut Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Bengkulu Tahun 2007 2011 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor (2) Pertanian Pertambangan & penggalian Industri Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan & komunikasi Keuangan Jasa NS (3) 723.12 64.64 74.49 8.11 53.85 374.39 155.62 84.88 296.79 PS (4) -292.10 -38.74 -17.87 4.32 11.02 33.73 259.14 7.98 21.01 -11.50 DS (5) 79.98 41.20 47.94 0.87 0.46 -82.31 233.06 55.73 96.66 7.46

PE= NS + PS + DS
(6) 510.99 67.10 104.56 13.30 65.33 325.81 181.71 148.59 414.46 1,831.85

TOTAL 1,835.89 Sumber : Hasil pengolahan

Jika dilihat perbandingan antara angka national share (NS) yaitu sebesar Rp 1,835.89 milyar dengan angka pertumbuhan absolut (PE) sebesar 1,831.85 milyar, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu masih lebih rendah daripada tingkat pertumbuhan nasional. Bank Indonesia dalam paparannya menyatakan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah yang berada dibawah tingkat pertumbuhan perekonomian daerah diatasnya disebabkan oleh dominasi sektor-sektor yang lamban pertumbuhannya di daerah tersebut (BI, 2005). Dengan demikian perlu ditelaah secara spesifik bagaimana pertumbuhan sektor yang mendominasi perekonomian
10

Bengkulu yaitu sektor pertanian, sektor perdagangan dan sektor jasa. Maka pada analisis berikut akan dijelaskan secara rinci faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan absolut PDRB Provinsi Bengkulu. 3.1.1 Analisis Pertumbuhan Nasional (NS) Kinerja perekonomian Indonesia meningkat dan cukup baik selama lima tahun terakhir terlihat pada tabel 6. Dari nilai National Share (NS) yang positif yaitu 0.2609 dapat diartikan bahwa. Menurut Andriat (2008) perbaikan kinerja yang terjadi pada lingkup yang lebih tinggi, sedikit banyak akan mempengaruhi pertumbuhan daerah-daerah di bawah lingkup tersebut. Dengan demikian perbaikan kinerja perekonomian Indonesia di tahun 2007 - 2011 juga akan mempengaruhi pertumbuhan provinsi-provinsi di Indonesia termasuk Provinsi Bengkulu.

11

Tabel 6. Komponen National Share Acuan Tahun 2007 2011 PDB Indonesia (milyar Rp) No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor (2) Pertanian Pertambangan & penggalian Industri Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan & komunikasi Keuangan Jasa 2007 (3)
271,509.30 171,278.40 490,261.60 13,517.00 121,808.90 340,437.10 142,326.70 183,659.30 181,706.00

2011 (4)
313,727.80 189,179.20 587,479.60 18,920.50 160,090.40 437,250.80 241,285.20 236,076.70 232,464.00

Kom ponen Ns (5)


0.2609 0.2609 0.2609 0.2609 0.2609 0.2609 0.2609 0.2609 0.2609

NS

(6)
723.12 64.64 74.49 8.11 53.85 374.39 155.62 84.88 296.79 1,835.89

TOTAL 1,821,757.00 2,321,793.00 Sumber : Hasil pengolahan Kolom 5 = (total kolom 4/ total kolom 3) 1 Kolom 6 = (komponen Ns x PDRB Prov Bengkulu pada sektor yang sama)

3.1.2 Analisis Pergeseran Proporsional (PS) Untuk melihat kondisi sektor-sektor di Provinsi Bengkulu apakah mengalami pertumbuhan pesat atau lambat selama periode penelitian, digunakan perhitungan Proportional Shift (PS). Nilai PS akan positif jika suatu daerah berspesialisasi pada sektor yang secara nasional tumbuh cepat (Tarigan, 2004). Pada tahun 2007 - 2011 sektor yang memiliki pertumbuhan pesat di Provinsi Bengkulu antara lain: sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan,
12

sektor perdagangan, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan dan sektor jasa. Sektor pertanian adalah sektor yang mendominasi perekonomian Provinsi Bengkulu. Sektor pertanian memiliki distribusi sebesar 39 % di tahun 2007 dan 37 % di tahun 2011 pada PDRB total Provinsi Bengkulu. Namun pada perhitungan proportional share didapatkan angka PS sektor pertanian sebesar -292.10. Angka negative pada sector pertanian menggambarkan pertumbuhan sektor pertanian yang lambat. Pertumbuhan yang lambat pada sektor yang dominan di Provinsi Bengkulu ini diindikasikan sebagai penyebab lebih rendahnya pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Secara keseluruhan, sektor primer di Provinsi Bengkulu mengalami pertumbuhan yang lambat (lihat tabel 7). Sementara sektor tersier seluruhnya menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Saharudin (2006) dalam penelitiannya menyatakan bahwa dari hasil penggabungan PS dan DS yang menunjukkan bahwa sektor tersier di suatu wilayah msuk dalam kategori sektor yang mengalami pertumbuhan pesat, maka dapat disimpulkan telah terjadi proses perubahan struktur ekonomi di wilayah penelitian.

13

Tabel 7. Proportional Share Provinsi Bengkulu Tahun 2007-2011


PDRB Prov Bengkulu (milyar Rp) No (1) 1 2 3 4 5 Sektor (2) Pertanian Pertambangan & penggalian Industri pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, hotel dan restoran Pengangkutan & komunikasi Keuangan Jasa 2007 (3) 2,771.88 247.76 285.55 31.11 206.42 2011 (4) 3,282.87 314.86 390.11 44.41 271.75 PS (5) -292.10 -38.74 -17.87 4.32 11.02 Keterangan (6) Pertumbuhan lambat Pertumbuhan lambat Pertumbuhan lambat Pertumbuhan cepat Pertumbuhan cepat Pertumbuhan cepat Pertumbuhan cepat Pertumbuhan cepat Pertumbuhan cepat

6 7 8 9

1,435.12 596.54 325.36 1,137.68

1,760.93 778.25 473.95 1,552.13

33.73 259.14 7.98 21.01

7,037.40 8,869.25 -11.50 TOTAL Sumber : Hasil pengolahan Kolom 5 =((kolom 4 : kolom 3) - (total kolom 4 / totaltotal kolom 3) x PDRB Prov Bengkulu pada sektor yang sama)

Pada tabel 5 terlihat bahwa total PS Provinsi Bengkulu adalah sebesar -11,50. Total proportional shift yang negatif menunjukkan bahwa produktivitas Provinsi Bengkulu masih dibawah produktivitas nasional.

14

3.1.3 Analisis Keunggulan Komparatif (DS) Keunggulan komparatif suatu daerah merupakan modal untuk melakukan kerjasama perdagangan dengan daerah lain. Teori David Ricardo (1917) telah membuktikan bahwa apabila dua wilayah yang saling berdagang dan masing-masing wilayah berkonsentrasi pada keunggulan komparatif yang dimilikinya, maka kedua wilayah tersebut akan beruntung (Tarigan, 2004). Sektor perekonomian dikatakan memiliki keunggulan komparatif terhadap sektor yang sama di daerah lain jika nilai Differential Shiftnya (DS) positif. Dengan melihat tabel 8, sektor yang memiliki keunggulan komparatif di Provinsi Bengkulu antara lain: sektor pertanian, sektor pertambangan, sektor industry pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor keuangan dan sektor jasa. Perubahan yang berbeda atau different shift (DS) terjadi apabila laju pertumbuhan suatu sektor di suatu wilayah lebih tinggi daripada laju pertumbuhan pada sektor yang sama di wilayah lain. Perbedaan ini diakibatkan oleh posisi keuntungan lokasi yang memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan satu atau beberapa sektor tertentu di wilayah tersebut (Saharuddin, 2006). Keunggulan lingkungan dapat berarti keunggulan dalam hal lahan, tenaga kerja, maupun keahlian tertentu.

15

Tabel 8. Diffrential Shift Acuan Tahun 2007 2011


No Sektor PDRB Prov Bengkulu (milyar Rp) 2007 (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 (2) Pertanian Pertambangan Industri LGA Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa (3) 2,771.88 247.76 285.55 31.11 206.42 1,435.12 596.54 325.36 1,137.68 2011 (4) 3,282.87 314.86 390.11 44.41 271.75 1,760.93 778.25 473.95 1,552.13 (5) (6) DS Keterangan

79.98 41.20 47.94 0.87 0.46 -82.31 233.06 55.73 96.66 7.46

Daya saing meningkat Daya saing meningkat Daya saing meningkat Daya saing meningkat Daya saing meningkat Daya saing menurun Daya saing menurun Daya saing meningkat Daya saing meningkat

7,037.40 8,869.25 TOTAL Sumber : Hasil pengolahan Kolom 5 = ((3i/total 3)/ (2i / total 2)

Pada tabel 8 terlihat, nilai DS negatif untuk sektor perdagangan dan sektor pengangkutan, mengindikasikan bahwa Provinsi Bengkulu secara lokasional tidak diuntungkan atau tidak memiliki locational advantage position di kedua sektor ini.

16

Tabel 9. Kategori Sektor Perekonomian di Provinsi Bengkulu Tahun 2007 2011


No (1) 1 2 3 4 5 Sektor (2) Pertanian Pertambangan & penggalian Industri LGA Bangunan Perdagangan 6 Pengangkutan 7 8 9 Keuangan Jasa + + + + + Ps (3) + + + Ds (4) + + + + + Keterangan (5) Pertumbuhan tertekan namun tetap berkembang Pertumbuhan tertekan namun tetap berkembang Pertumbuhan tertekan namun tetap berkembang Pertumbuhan sangat pesat Pertumbuhan sangat pesat Pertumbuhan tertekan namun cenderung memiliki potensi Pertumbuhan tertekan namun cenderung memiliki potensi Pertumbuhan sangat pesat Pertumbuhan sangat pesat

Sumber : Hasil pengolahan

Selanjutnya dilakukan penggabungan nilai PS dan DS untuk melihat kategori sektor perekonomian di Provinsi Bengkulu. Klasifikasi sektor berdasarkan PS dan DS disajikan pada tabel 9. Terlihat bahwa sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor keuangan dan sektor jasa masuk dalam kategori sektor dengan pertumbuhan pesat. Sektor primer di Provinsi Bengkulu yaitu sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian menunjukkan pertumbuhan yang tertekan namun tetap berkembang. Dalam hal kekayaan alam, Provinsi Bengkulu memiliki
17

potensi di sektor pertanian dan perkebunan dengan komoditas unggulan seperti karet, kopi dan kelapa sawit. Posisi Provinsi Bengkulu yang berbatasan dengan samudra Hinida memunculkan potensi di bidang perikanan. Di sektor pertambangan, batubara merupakan komoditas yang cukup diunggulkan. Namun kedua sektor ini membutuhkan dukungan sarana dan prasarana untuk dapat berkembang seperti tersedianya pabrik pengolahan kelapa sawit, kondisi jalan yang mendukung dan lain-lain sehingga meningkatkan produktivitas perekonomian di Provinsi Bengkulu. 3.2 Analisis Location Quotient Suatu sektor di suatu daerah dapat dikatakan memiliki daya saing jika sektor tersebut tidak hanya mampu memasok kebutuhan di daerahnya, melainkan juga kebutuhan luar daerahnya (Saharuddin, 2006). Dengan demikian sektor unggulan memiliki prospek lebih baik untuk dikembangkan karena memperbesar kesempatan kerja, menambah pendapatan daerah dan meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat. Pada penelitian ini, analisis LQ digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu sektor perekonomian untuk memenuhi kebutuhan pasar di Provinsi Bengkulu. Analisis dilakukan dengan membandingkan sektor di Provinsi Bengkulu terhadap sektor yang sama di Indonesia. Berikut adalah sektor-sektor menurut kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan pasar di Provinsi Bengkulu.

18

Tabel 10. Perkembangan Location Quotient Per Sektor di Provinsi Bengkulu Tahun 2011
Sektor PDB (Milyar Rp) PDRB Prov Bengkulu (Milyar Rp) (3) 3,282.87 314.86 390.11 44.41 271.75 1,760.93 778.25 473.95 1,552.13 LQ

Keterangan (5) Sektor Basis Sektor Non Basis Sektor Non Basis Sektor Non Basis Sektor Non Basis Sektor Basis Sektor Non Basis Sektor Non Basis Sektor Basis

(1) Pertanian Pertambangan Industri LGA Bangunan PHR Pengangkutan Keuangan Jasa

(2) 313,727.80 189,179.20 587,479.60 18,920.50 160,090.40 437,250.80 241,285.20 236,076.70 232,464.00

(4) 2.74 0.44 0.17 0.61 0.44 1.05 0.84 0.53 1.75

Total 2,321,793.00 8,869.25 Sumber : Hasil pengolahan Kolom 4 = ((3i/total 3)/ (2i / total 2)

Dari hasil perhitungan LQ disimpulkan bahwa sektor pertanian, sektor perdagangan hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa adalah sektor-sektor ekonomi yang mampu memenuhi kebutuhan pasar baik di Provinsi Bengkulu maupun daerah lain (sektor basis). Nilai LQ yang lebih besar dari satu menunjukkan bahwa sektorsektor tersebut cenderung mengekspor produknya ke wilayah lain (Maruf, 2009). Sektor pertanian berdasarkan analisis shift share dikategorikan memiliki kategori pertumbuhan tertekan namun tetap berkembang, sedangkan sektor perdagangan
19

berkategori pertumbuhan tertekan namun cenderung memiliki potensi. Pada analisis LQ, kedua sector tersebut masuk dalam kategori sektor basis. Berdasarkan penelitian Ropingi (2004) sektor basis yang yang tidak mempunyai keunggulan kompetitif, masih memiliki peluang untuk bisa memenuhi permintaan luar daerah. Dengan melihat nilai LQ sektor pertanian dan sektor perdagangan yang lebih besar dari satu menunjukkan masih ada peluang bagi kedua sektor basis ini untuk dikembangkan lebih lanjut terutama yang berkenaan dengan upaya peningkatan kualitas outputnya. Diharapkan dengan perbaikan kualitas dan manajemen pengelolaan, sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel dan restoran bisa berubah menjadi sektor-sektor yang berdaya saing dan memiliki pertumbuhan yang pesat. 3.3 Analisis Gabungan Shift Share dan LQ Penentuan potensi ekonomi di suatu wilayah diperlukan untuk mengembangkan perekonomian. Selain itu, prioritas pengembangan sektor ekonomi juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membuat suatu sektor memiliki potensi yang rendah. Analisis gabungan shift share dan LQ dilakukan untuk menentukan prioritas sektor perekonomian yang merupakan sektor unggulan di Provinsi Bengkulu untuk dapat dikembangkan lebih lanjut. Prioritas pengembangan sektor unggulan diambil dari penggabungan sektor basis atau non basis, keunggulan komparatif dan laju pertumbuhannya.
20

Tabel 11. Prioritas Sektor Perekonomian di Provinsi Bengkulu Berdasarkan Gabungan antara LQ dan SSA
Shift Share No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 Sektor (2) Pertanian Pertambangan & penggalian Industri pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan LQ (3) B NB NB NB NB B NB NB Pertumbuhan (4) lambat lambat lambat cepat cepat cepat cepat cepat cepat Daya Saing (5) meningkat meningkat meningkat meningkat meningkat menurun menurun meningkat meningkat Priori tas (6) 2 3 3 2 2 2 4 2 1

B 9 Jasa Sumber : Hasil pengolahan

Berdasarkan tabel 11 diatas terlihat bahwa setelah dilakukan berbagai pendekatan analisis terhadap perekonomian Provinsi Bengkulu dengan menggunakan metode LQ dan Shift Share, maka hasil gabungan kedua analisis tersebut dapat memberikan usulan alternatif prioritas program pengembangan sektor regional Provinsi Bengkulu, sebagai berikut: 1. Prioritas pertama adalah sektor jasa 2. Prioritas kedua meliputi sektor pertanian, sektor listrik gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan dan sektor keuangan.

21

3. Prioritas ketiga meliputi sektor pertambangan dan penggalian dan sektor industri pengolahan. 4. Prioritas keempat adalah sektor pengangkutan. Berdasarkan analisis gabungan shift share dan LQ, pemerintah daerah Provinsi Bengkulu hendaknya memprioritaskan sektor jasa untuk mengembangkan perekonomian lebih cepat. Sektor jasa memiliki keunggulan komparatif, menunjukkan pertumbuhan yang pesat serta merupakan sektor basis di Provinsi Bengkulu. 5. KESIMPULAN Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1. Secara umum produktivitas Provinsi Bengkulu masih lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata produktivitas nasional 2. Hasil analisis shift share menunjukkan sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor keuangan dan sektor jasa masuk dalam kategori sektor dengan pertumbuhan pesat. 3. Sementara hasil analisis LQ menunjukkan bahwa sektor pertanian, sektor perdagangan dan sektor jasa merupakan sektor basis di Provinsi Bengkulu. 4. Analisis gabungan antara shift share dan LQ mengindikasikan sektor jasa sebagai sektor prioritas pertama untuk dikembangkan di Provinsi Bengkulu.

22

4.1 Rekomendasi Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan yang diuraikan pada bagian sebelumnya, maka dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut: 1. Kepada pemerintah daerah Provinsi Bengkulu selaku penggerak pembangunan daerah, hendaknya dapat memberi perhatian terutama pada sektor pertanian sebagai sektor yang kontribusinya terbesar pada PDRB total Provinsi Bengkulu namun pertumbuhannya masih lambat. 2. Peningkatan pertumbuhan perekonomian Provinsi Bengkulu dapat dilakukan dengan mendorong produktivitas sektor jasa sebagai sektor basis yang memiliki daya saing meningkat dan pertumbuhan pesat

23

Daftar Pustaka
Andriat, Welly, dan kawan kawan. 2008. Perkembangan Ekonomi Kota Medan dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Ekonomi Kawasan Pesisir Sekitarnya. Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Vol 3 No. 3 April 2008. BPS, 2011. PDRB Sektoral Provinsi Bengkulu. BPS Provinsi Bengkulu BPS, 2011. PDB Sektoral Indonesia. BPS Republik Indonesia. Jakarta Bank Indonesia, 2005. Perkembangan Ekonomi Makro. Jakarta. Prishardoyo, Bambang, 2008. Analisis Tingkat Pertumbuhan Ekonomi dan Potensi Ekonomi Terhadap PDRB Kabupaten Pati Tahun 2000 - 2005. Jejak. Volume 1 Nomor 1. Ropingi dan Agustono, 2004. Analisis Identifikasi dan Peranan Sektor Pertanian dalam Menghadapi Otonomi Daerah di Kabupaten Boyolali. Jurnal Pembangunan Pedesaan Vol VII No. 3 Desember 2004. Penerbit Lembaga Penelitian Universitas Jendral Sudirman. Purwokerto. Rosintan, Lidya, 2008. Daya Tarik Sektor Unggulan Kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah Dengan Pendekatan Comparative Performance Index. Media Ekonomi. Volume 14 No. 2. 18 Agustus 2004. Tarigan, Robinson. 2004. Ekonomi Regional, teori dan aplikasi. Penerbit PT Bumi Aksara, Jakarta.

24

DATA MENCERDASKAN BANGSA

BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BENGKULU


Jl.S.Parman No.89/1 Padang Jati 38227 Telepon (0736) 21876. Fax. (0736) 344775 E-mail: bps1771@Mailhost.bps.go.id
BPS