Anda di halaman 1dari 20

PATOLOGI DASAR

MALNUTRISI KEP KWASHIORKOR Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas Patologi Dasar yang dibimbing oleh Ir. Rr. Endang Stjiati M.Kes

OLEH : ALDINA AYU ANGGRAINI CICIK ANISA P. EKA NURVITA SANI HAMDIA RIMAYANTI KHRISTYAN ADI WICAKSONO MARIETA MUTIARA SEMERU NISA HILMI ULINNUHA SITI MUJAHADAH TITIS DWI LARASATI YUNI LISA RUKMANA AMANDA NURQISTHY ANISA SETIA PUTRI AYU CHANDRA HERMAWATI (1003000001) (1003000004) (1003000009) (1003000013) (1003000017) (1003000021) (1003000025) (1003000030) (1003000034) (1003000039) (1003000043) (1003000048) (1003000052)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN MALANG JURUSAN GIZI PROGRAM STUDI DIPLOMA III MALANG DESEMBER 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan YME atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Patologi Dasar. Dalam penyusunan makalah ini penyusun banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penyusun menyampaikan terima kasih kepada Ir. Rr. Endang Stjiati M.Kes. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan. Akhir kata penyusun mengharapkan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Malang, Desember 2011

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Keadaan gizi merupakan salah satu ukuran penting dari kualitas sumber daya manusia. Di suatu kelompok masyarakat, anak balita merupakan kelompok yang paling rawan terhadap terjadinya kekurangan gizi. Kekurangan gizi dapat terjadi dari tingkat ringan sampai tingkat berat dan terjadi secara perlahan-lahan dalam waktu cukup lama. Anak yang kurang gizi akan menurun daya tahan tubuhnya, sehingga mudah terkena penyakit infeksi, sebaliknya anak yang menderita penyakit infeksi akan mengalami gangguan nafsu makan dan penyerapan zat-zat gizi sehingga menyebabkan kurang gizi dan ini dapat menyebabkan ganggguan tumbuh kembang yang akan mempengaruhi tingkat kesehatan, kecerdasan dan produktivitas di masa dewasa. Kurang Energi Protein (KEP) merupakan salah satu masalah gizi utama di negara berkembang seperti di Indonesia, kejadian ini terutama pada anak-anak di bawah usia 5 tahun (balita). KEP itu sendiri terdiri dari KEP ringan, sedang dan berat. KEP berat adalah yang paling sering ditemukan terutama marasmus, kemudian kwashiorkor dan marasmus kwashiorkor.

1.2

Rumusan Masalah

1. Apa itu Kwashiorkor? 2. Siapa dan dimana saja daerah yang bisa terkena Kwashiorkor? 3. Mengapa seseorang bisa terkena Kwashiorkor? 4. Kapan seseorang dikatakan terkena Kwashiorkor?

5. Bagaimana cara pencegahan dan penanganan Kwashiorkor ?

1.3

Tujuan Tujuan Umum Memberikan pengetahuan terhadap mahasiswa tentang Kwashiorkor. Tujuan Khusus Mahasiswa mengetahui apa itu Kwashiorkor. Mahasiswa mengetahui jenis-jenis Kwashiorkor dan karakteristiknya. Mahasiswa mengetahui sebab-sebab dan gejala Kwashiorkor. Mahasiswa Kwashiorkor. mengetahui cara-cara mencegah dan penanganan

BAB II PEMBAHASAN

Gizi berperan dalam berbagai kurun usia dalam daur kehidupan. Peranan ini meliputi dalam pertumbuhan fisik, pertumbuhan otak dan kecerdasan, produktivitas kerja serta daya tahan terhadap infeksi. Status gizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. Penilaian status gizi, menggunakan ABCD/ Anthropometric Biokimia Clinical sign Dietary history. (Moehji 2003, Anonim 2005, Trisa 2004). Kurang Energi Protein (KEP) merupakan salah satu masalah gizi utama di negara berkembang seperti di Indonesia, kejadian ini terutama pada anak-anak di bawah usia 5 tahun (balita). KEP itu sendiri terdiri dari KEP ringan, sedang dan berat. KEP berat adalah yang paling sering ditemukan terutama marasmus, kemudian kwashiorkor dan marasmus kwashiorkor. Diagnosis KEP berat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis untuk menentukan penyebab perlu anamnesis makanan dan penyakit lain. Oleh karena itu, penulis akan membahas cara penegakkan diagnosis jenis-jenis KEP berat yaitu marasmus, kwashiorkor dan marasmik kwashiorkor

2.1 Definisi Kwashiorkor

Kwashiorkor merupakan suatu bentuk malnutrisi energi protein yang ditimbulkan oleh defisiensi protein yang berat, masukan kalori mungkin adekuat tetapi biasanya juga defisiensi. (Dorland 2002, Van Voorhees 2006,

Wikipedia 2008). Asal kata Kwashiorkor berasal dari bahasa afrika yang berarti kurangnya kasih saying. Gejala klinisnya terdiri dari adanya edema, wajah mebulat dan sembab, pandangan mata sayu, rambut tipis, perubahan status mental (cengeng, rewel, kadang apatis), pembesaran hati, hipotrofi otot, crazy pavement dermatosis dan sering disertai dengan infeksi, anemia dan diare. (Mansjoer 2002, Wikipedia, 2008, Van Vorhees 2008). Pada kwashiorkor yang klasik, gangguan metabolik dan perubahan sel menyebabkan edema dan perlemakan hati. Pada penderita kwashiorkor terjadi katabolisme yang tinggi yang sangat berlebihan karena untuk proses glukoneogenesis tinggi untuk dapat dipenuhi jumlah kalori dalam tubuh.
2.2 Siapa Yang Beresiko Kwashiorkor

Kasus malnutrisi pada klasifikasi undernutrition umumnya menimpa balita dengan latar belakang ekonomi lemah. Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak dari kurang gizi hingga busung lapar. Menurut UNICEF saat ini ada sekitar 40 % anak Indonesia di bawah usia lima tahun menderita gizi buruk. Gizi buruk akut atau busung lapar menurut Sensus WHO menunjukkan 49% dari 10,4 juta kematian yang terjadi pada anak dibawah lima tahun di negara berkembang. Dari kondisi tubuh balita yang menderita gizi buruk memiliki berat badan di bawah rata-rata, atau BB/U < 60% berada di bawah median, kondisi ini menjelaskan bahwa balita tersebut termasuk dalam KEP berat yang di dalamnya termasuk kwashiorkor dan marasmus. Di bawah ini gambar wilayah resikp KEP pada tahun 2003.

Keterangan: < 20 % (Rendah dan Sedang) 88 Kab 20 29 % (Tinggi) 122 Kab

30 - 40 % (Sangat Tinggi) 75 Kab > 40 % (Sangat Tinggi) 35 Kab

2.3 Penyebab Kwashiorkor

Secara umum mekanisme terjadinya kwashiorkor adalah sama dengan patofisiologis terjadinya KEP, patofisiologisnya adalah sebagai berikut:

1.

Penyebab utama gizi kurang dan gizi buruk tidak satu. Ada banyak Penyebab pertama adalah faktor alam. Secara umum tanah terkenal sebagai daerah tropis yang minim curah hujan. Kadang curah hujannya banyak tetapi dalam kurun waktu yang sangat singkat. Akibatnya, hujan itu bukan menjadi berkat tetapi mendatangkan bencana banjir.

2.

Penyebab kedua adalah faktor manusiawi yaitu berasal dari kultur sosial masyarakat setempat. Kebanyakan masyarakat petani bersifat one dimensional, yakni masyarakat yang memang sangat tergantung pada satu mata pencaharian saja. Banyak orang menanam makanan secukupnya saja, artinya hasil panen itu cukup untuk menghidupi satu keluarga sampai masa panen berikutnya. Belum ada pemikiran untuk membudidayakan hasil pertanian mereka demi meraup keuntungan atau demi meningkatkan pendapatan keluarga. Adanya budaya alternatif yaitu memanfaatkan halaman rumah untuk menanam sayur-mayur demi menunjang kebutuhan sehari-hari.

3.

Penyebab ketiga masih berkisar soal manusiawi tetapi kali ini lebih berhubungan dengan persoalan struktural, yaitu kurangnya perhatian pemerintah. Pola relasi rakyat dan pemerintah masih vertikal bukan saja menghilangkan kontrol sosial rakyat terhadap para pejabat, tetapi juga membuka akses terhadap penindasan dan ketidakadilan dan, yang paling berbahaya, menciptakan godaan untuk menyuburkan budaya korupsi. Terlepas dari itu semua nampaknya masyarakat membutuhkan pendampingan agar mereka memahami hak-hak individu dan hak-hak sosial mereka sebagai warga negara.

2.4 Penentuan atau Penegakan Diagnosis pada Kwashiorkor

Status gizi seseorang khususnya pada masa anak-anak sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan yang akan berdampak pada masa depannya. Oleh karena itu, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak sangatlah diperlukan guna untuk mengetahui apabila adanya kasus kwashiorkor atau KEP berat sehingga dapat ditangani sedini mungkin dan tidak berlanjut dan berdampak buruk di kemudian harinya. Kekurangan gizi khususnya KEP sangat berhubungan erat dengan intake makanan terutama karbohidrat dan protein dalam pola diet anak. Pertumbuhan anak pada usia balita sebenarnya dapat dipantau melalui grafik berat badan yang ada di dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). Jika gerak grafik berat badan ada pada pita warna kuning, anak tersebut masuk kategori KEP ringan, dan jika ada di bawah garis merah disebut KEP sedang. Di dalam KMS tidak terdapat garis pemisah KEP berat dan KEP sedang, sehingga untuk menentukan KEP berat digunakan tabel BB/U (Berat Badan/ Umur) baku median WHO-NCHS. Dalam menetapkan derajat KEP yang termudah adalah dengan melihat pada gejala klinisnya sebab pada kasus marasmus, kwashiorkor dan marasmik kwashiorkor akan menunjukkan gejala-gejala khas terlihat jelas.

Gambaran klinis dari kurang energi protein (KEP) berat tipe kwashiorkor adalah sebagai berikut :
1. Edema, umumnya seluruh tubuh dan terutama pada kaki (dorsum

pedis). 2. Wajah membulat dan sembab. 3. Pandangan mata sayu. 4. Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit, rontok.
5. Perubahan status mental: cengeng, rewel, kadang apatis. 6. Sering disertai: infeksi, anemia, diare dan pembesaran hati.

7. Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk.
8. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah

warna menjadi coklat kehitaman dan terkupas (crazy pavement dermatosis). Adapun salah satu cara menentukannya adalah dengan cara The Wellcome Trust Party (1970), yaitu bila persentase berat badan terhadap standar berat badan/umur adalah 80-60% tanpa disertai edema, berarti anak menderita undernutrition sedangkan jika disertai dengan edema, maka anak dikatakan menderita kwashiorkor. Kemudian, jika tidak ditemukan edema pada keadaan persentase berat badan anak terhadap standar berat badan/umur adalah <60%, maka anak dikatakan menderita marasmus. Apabila ditemukan bersamaan dengan edema, maka anak diakatakan menderita marasmikkwashiorkor. Selain itu, juga ada cara lain yaitu dengan menggunkan scoring system menurut Mc Laren (1967). Cara melakukan scoring system ini adalah dengan menghitung jumlah skor sesuai gejala klinis yang ditunjukkan pada anak yang menderita KEP kemudian dijumlah. Jika, hasil penilaian menunjukkan skor nilai 0-3, maka anak dikatakan menderita KEP berat tipe marasmus. Sedangkan, jika hasil penilaian berjumlah antara 4-8, maka diagnosisnya adalah anak menderita marasmik-kwashiorkor. Yang terakhir,

bila jumlah skor yang diperoleh dalam rentang nilai 9-15 maka dikatakan anak menderita KEP berat tipe kwashiorkor.
2.5 Penanganan Kwashiorkor

Pelayanan Gizi (Depkes RI, 1998) Pelayanan gizi balita KEP pada dasarnya setiap balita yang berobat atau dirujuk ke rumah sakit dilakukan pengukuran berat badan, tinggi badan dan LILA untuk menentukan status gizinya, selain melihat tanda-tanda klinis dan laboratorium. Setelah diketahui balita tersebut dalam tingkatan KEP yang berat khususnya kwashiorkor, maka balita tersebut harus dirawat inap dan dilaksanakan sesuai pemenuhan kebutuhan nutrisinya. Selain hal tersebut ada beberapa yang dapat kita lakukan yaitu:
1. Pengobatan Dan Pencegahan Kekurangan Cairan.

Tanda klinis yang sering dijumpai pada anak KEP berat dengan dehidrasi adalah ada riwayat diare sebelumnya, anak sangat kehausan, mata cekung, nadi lemah, tangan dan kaki teraba dingin, anak tidak buang air kecil dalam waktu yang cukup lama. Tindakan yang dapat dilakukan:
a. Jika anak masih menyusui, teruskan ASI dan berikan setiap 1/2jam

sekali tanpa berhenti. Jika anak masih dapat minum, lakukan tindakan rehidrasi oral dengan memberi minum anak 50 ml (3 sdm) setiap 30 menit dengan sendok. Cairan rehidrasi oral khusus KEP disebut ReSoMal.
b. Jika tidak ada ReSoMal untuk anak dengan KEP berat dapat

menggunakan oralit yang diencerkan 2x. Jika anak tidak dapat minum, lakukan rehidrasi intravena (infus) RL/Glukosa 5% dan NaCl dgn perbandingan 1:1.
2.

Lakukan Pemulihan Gangguan Keseimbangan Elektrolit Pada semua KEP Berat/gizi buruk terjadi gangguan keseimbangan

elektrolit diantaranya adalah kelebihan natrium (Na) tubuh (walaupun

kadar Na plasma rendah, dan juga defisiensi Kalium (K) dan Magnesium (Mg). Ketidakmampuan elektrolit ini memicu terjadinya edema dan untuk pemulihan keseimbangan elektrolit diperlukan waktu minimal 2 minggu. Berikan makanan tanpa diberi garam/rendah garam, untuk rehidrasi, berikan cairan oralit 1 liter yang diencerkan 2x (dengan penambahan 1 liter air) ditambah 4 gr kecil dan 50 gr gula atau bila balita KEP bisa makan berikan bahan makanan yang banyak mengandung mineral bentuk makanan lumat
3.

Lakukan Pengobatan Dan Pencegahan Infeksi. Pada KEP berat tanda yang umumnya menunjukkan adanya

infeksi seperti demam seringkali tidak tampak. Pada semua KEP berat secara rutin diberikan antibiotik spektrum luar.
4.

Pemberian Makanan, Balita KEP Berat.

Pemberian diet KEP berat dibagi 3 fase : 1.Fase Stabilisasi (12 hari) Pada awal fase stabilisasi perlu pendekatan yang sangat hati-hati, karena keadaan faali anak yang sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang, Pemberian makanan harus dimulai segera setelah anak dirawat dan dirancang sedemikian rupa sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi metabolisme basal saja, Formula khusus seperti formula WHO 75/modifikasi/modisko yang dilanjutkan dan jadual pemberian makanan harus disusun agar dapat mencapai prinsip tersebut dengan persyaratan diet sbb: porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah laktosa, energi 100 kkal/kg/hari, protein 11,5 gr/kgbb/hari, cairan 130 ml/kg BB/hari (jika ada edema berat 100 ml/kg bb/hari),bila anak mendapat ASI teruskan, dianjurkan memberi formula WHO 75/pengganti/modisco dengan gelas, bila anak terlalu lemah berikan dengan sendok/pipet, Pemberian formula

WHO 75/pengganti/modisco atau pengganti dan jadual pemberian makanan harus sesuai dengan kebutuhan anak. 2. Fase Transisi (minggu II)
a.

Pemberian makanan pada fase transisi diberikan

secara perlahan untuk menghindari resiko gagal jantung, yang dapat terjadi bila anak mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak secara mendadak.
b.

Ganti formula khusus awal (energi 75 kal dan protein

0.9 1.0 gr/100 ml) dengan formula khusus lanjutan (energi 100 kkal dan protein 2.9 gr/100 ml) dalam jangka waktu 48 jam . Modifikasi bubur/mknn keluarga dapat digunakan asal kandungan energi dan protein sama
c.

Naikkan dengan 10 ml setiap kali sampai hanya

sedikit formula tersisa, biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kg bb/kali pemberian (200 ml/kg bb/hari).
3.

Fase Rehabilitasi (Minggu IIIVII) tidak terbatas dan sering.

a. Formula WHO-F 135/pengganti/modisco 1 dengan jumlah

b.

Energi : 150220 kkal/kg bb/hari.

c. Protein : 46 gr/kgbb/hari. d. Bila anak masih mendapat ASI, teruskan ASI, ditambah dengan makanan formula karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuh kejar.
e. Secara perlahan diperkenalkan makanan keluarga.

5.

Lakukan Penanggulangan Kekurangan Zat Gizi Mikro Semua pasien KEP berat mengalami kurang vitamin dan mineral,

walaupun anemia biasa terjadi, jangan tergesa-gesa memberikan preparat besi (Fe). Tunggu sampai anak mau makan dan BB nya mulai naik (pada minggu II). Pemberian Fe pada masa stabilisasi dapat memperburuk keadaan infeksinya . Berikan setiap hari :

a. Tambahan multivitamin lain


b. Bila BB mulai naik berikan zat besi dalam bentuk tablet besi

folat/sirup besi
c. Bila anak diduga menderita cacingan berikan pirantel pamoat dosis

tunggal. d. Vitamin A oral 1 kali.


e. Dosis tambahan disesuaikan dgn baku pedoman pemberian

kapsul

vitamin A
6.

Berikan Stimulasi Dan Dukungan Emosional Pada KEP berat terjadi keterlambatan perkembangan mental dan

perilaku, karenanya diberikan : kasih sayang, ciptakan lingkungan menyenangkan,.lakukan terapi bermain terstruktur 15-330 menit/hari, rencanakan aktifitas fisik setelah sembuh, tingkatkan keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain)
7. Persiapan Untuk Tindak Lanjut Di Rumah

Bila BB anak sudah berada di garis warna kuning anak dapat dirawat di rumah dan dipantau oleh tenaga kesehatan puskesmas di desa.

2.5 Pencegahan KEP Berat atau Kwashoirkor

Pencegahan KEP berat atau kwashiorkor dapat dilakukan dengan cara : a. b. c. Memberikan makanan gizi seimbang dengan jumlah sesuai Pemberian makanan yang sering untuk menghabiskan porsi yang Mempertahankan status gizi anak yang sudah baik tetap baik dengan

kebutuhan. dibutuhkan. menggiatkan kegiatan surveilance gizi di institusi kesehatan terdepan (Puskesmas, Puskesmas Pembantu).
d.

Mengurangi

resiko

untuk

mendapat

penyakit,

mengkoreksi

konsumsi pangan bila ada yang kurang, penyuluhan pemberian makanan pendamping ASI. e. f. g.
h.

Memperbaiki/mengurangi efek penyakit infeksi yang sudah terjadi Merehabilitasi anak yang menderita KEP pada fase awal/BGM. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam program keluarga Meningkatkan status ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan

supaya tidak menurunkan status gizi.

berencana dan ASI Ekslusif. segala sektor ekonomi masyarakat (pertanian, perdagangan, dan lainlain).
i.

Mensegerakan dibawa ke fasilitas kesehatan jika sakit. Keluarga harus memberikan perhatian kepada pertumbuhan dan

j.

perkembangan anak.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan KEP adalah gangguan gizi yang disebabkan oleh kekurangan protein dan atau kalori, serta sering disertai dengan kekurangan zat gizi lain. KEP adalah manifestasi dari kurangnya asupan protein dan energi, dalam makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG), dan biasanya juga diserta adanya kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. Klasifikasi Kurang Energi Protein ( KEP ) dibagi menjadi KEP ringan, KEP sedang dan KEP berat. Bentuk KEP berat memberi gambaran klinis yang khas, misalnya bentuk kwashiorkor, bentuk marasmus atau bentuk campuran kwashiorkor marasmus. Pada kenyataannya sebagian besar penyakit KEP terdapat dalam bentuk ringan. (Kristijono 2002, Mansjoer 2000). Dalam penanggulangan masalah KEP, diperlukan usaha yang maksimal karena dalam prosesnya memerlukan waktu dan harus secara bertahap, oleh karenanya harus di rawat inap di rumah sakit. Nmaun banyak langkah pencegahan KEP, diantaranya pemberian ASI ekslusif pada bayi umur 0-6 bulan , serta pemberian makanan dengan gizi seimbang untuk mencukupi kebutuhan gizi anak.

3.2

Saran Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak sangatlah diperlukan guna untuk mengetahui apabila adanya kasus kurang gizi atau KEP sehingga dapat ditangani sedini mungkin dan tidak berlanjut dan berdampak buruk di kemudian harinya. Pertumbuhan anak pada usia balita sebenarnya dapat dipantau melalui grafik berat badan yang ada di dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). Namun yang terpenting adalah pengetahuan orang tua terhadap tumbuh kembang anak sehingga orang tua harus memberikan makanan gizi seimbang untuk mencukupi kebutuhan gizi pada anak, khususnya balita yang rentan terkena KEP.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Perkembangan Penanggulangan gizi buruk di Indonesia.

www.gizi.net/busunglapar/Laporan%20Gizi%20Buruk%20sampai %20Des2005-Final.pdf Dorland, W.A.N. 2002. Kamus Kedokteran Dorland edisi 29. Jakarta: EGC.
Gehri,

M.

2006.

Marasmus.

http://www.emedicine.com/ped/TOPIC164.HTM
Hpathy.

2006.

Marasmus.

http://www.hpathy.com/diseases/marasmus-

symptoms-treatment-cure.asp
Kristijono, A. 2002. Karakteristik Balita Kurang Energi Protein (KEP) yang

dirawat

inap

di

RSU

Dr.

Pirngadi

Medan

Tahun

1999-2000.

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_134_masalah_anak.pdf
Lubis, N.U. dam Marsida A.Y. 2002. Penatalaksanaan Busung Lapar pada

Balita. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/06_PenatalaksanaanBusungLaparPadaB alita.pdf/06_PenatalaksanaanBusungLaparPadaBalita.html Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 edisi ketiga. Hal 512514. Moehji, S. 2003. ILMU GIZI 2 Penanggulangan Gizi Buruk. Hal 8-13. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan Anak I. Hal 362-366.
Trisa, C. 2004. Nutrisi. http://library.usu.ac.id/download/fk/keperawatan-

cholina2.pdf

Van

Voorhees,

B.W.

2006.

Kwashiorkor.

http://www.medlineplus.com/001604.htm
Wikipedia. 2008 Marasmus. http:/www.wikipedia.com/wiki/Marasmus Wikipedia. 2008. Kwashiorkor. http://id.wikipedia.org/wiki/Kwashiorkor