Anda di halaman 1dari 7

BEBERAPA ISU STRATEGIS PENGEMBANGAN KETAHANAN PANGAN INDONESIA Tjahja Muhandri dan Darwin Kadarisman

Dari mencermati berbagai hasil kajian, lokakarya dan seminar beberapa tahun terakhir ini dapat diidentifikasi sekurang-kurangnya empat isu strategis yang berkaitan dengan ketahanan pangan Indonesia dimasa depan yaitu 1) tingginya konsumsi beras per kapita di Indonesa, 2) meningkatnya impor bahan pangan terutama gandum dan terigu, 3) menurunnya tingkat konsumsi pangan non beras, dan 4) rendahnya konsumsi protein hewani, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Keempat isu strategis ini perlu dicermati secara mendalam untuk meningkatkan pembangunan pertanian baik dalam penyusunan program, perumasan kebijakan maupun dalam menyusun peraturan perundang-undangan dalam bidang pertanian, perdagangan dan kesehatan. Tingginya Konsumsi Beras perkapita di Indonesia Konsumsi beras/kapita/tahun sebesar 139,15 kg tahun 2009 termasuk yang sangat tinggi di dunia. Bahkan menurut USDA, pada 2006 konsumsi beras penduduk Indonesia 160,8 kg/kapita/tahun. Angka-angka konsumsi yang lain seperti Siswono (2006) sebesar 125-130 kg dan konsumsi rumah tangga 105-110 kg, mungkin belum menggambarkan angka konsumsi menyeluruh karena mengabaikan konsumsi beras di restoran, rumah makan, warung, acara-acara pesta, kongres, seminar, lokakarya, dan sebagainya yang secara kuantitas cukup siknifikan. Angka konsumsi tersebut jauh di atas rata-rata dunia 60 kg/kapita/tahun dan ASEAN 60-80 kg/kapita/tahun. Tingginya ketergantungan penduduk Indonesia terhadap beras memberikan resiko yang tinggi terhadap penyediaannya karena peningkatan konsumsi akibat pertambahan penduduk akan terus terjadi. Peningkatan konsumsi ini semakin sulit diimbangi oleh peningkatan produksi yang cenderung stagnan karena penurunan produktivitas usaha tani akibat kondisi tanah yang semakin marginal disebabkan kurangnya upaya konservasi dan konversi lahan sawah untuk keperluan lain. Disamping itu, proporsi asupan karbohidrat yang terlalu didominasi padi-padian (lebih dari 50%) membuat kualitas gizi kurang baik dan tidak kondusif terhadap kesehatan.

Pada sisi lain, peningkatan konsumsi beras perkapita secara sistematis sejak 1960-an, telah memberi dampak terhadap penurunan permintaan/konsumsi jagung, ubi kayu, dan ubi jalar. Meningkatnya Impor Bahan Pangan terutama Gandum Meskipun neraca perdagangan pertanian antara 2005-2009 terlihat mengalami kecenderungan peningkatan, akan tetapi untuk tanaman pangan, hortikultura dan peternakan mengalami defisit. Defisit tersebut relatif cukup besar yaitu tanaman pangan, hortikultura dan peternakan masing-masing US$

3.478.047.000, US$ 476.942.000 dan USS 1.204.049.000 untuk tahun 2008. Total defisit tersebut mencapai US$ 5,168 milyar atau sekitar Rp 46,5 triliun (1 US$=Rp 9.000). Nilai impor total ketiga kelompok komoditi tersebut mencapai sekitar Rp 60 triliun. Dapat dibayangkan bahwa secara sistematis impor pangan segar tersebut telah menggerogoti pendapatan petani dan masyarakat pedesaan kita. Angka ini belum termasuk impor pangan olahan seperti frenchfries, daging olahan, makanan kaleng, susu bubuk, wine dan sebagainya karena data diperoleh dari sumber Kementerian Pertanian, sedangkan data impor pangan olahan hanya ada pada Kementerian Perdagangan. Nilai impor gandum pada 2008 mencapai 2,371 milyar atau sekitar Rp. 21,3 triliun (kurs Rp. 9.000/US$). Dapat dibayangkan selama 30 tahun belakangan ini bahwa gandum yang diolah menjadi tepung terigu telah mengurangi peranan usaha dan produksi tepung-tepungan lokal Indonesia seperti tapioka, sagu, jagung dan sebagainya. Jika dapat melakukan substitusi sebesar 20% saja nilainya Rp. 4,74 triliun. Nilai yang cukup menarik untuk dinikmati pengusaha tepung-tepungan lokal yang umumnya merupakan usaha kecil dan menengah. Impor pangan yang semakin besar dari tahun ke tahun mengkhawatirkan ketahanan pangan dalam jangka panjang. Definisi ketahanan pangan yang tercantum dalam Undang-undang Pangan No. 7 Tahun 1996 turut memberi andil dalam

peningkatan impor pangan ini karena tidak memasukkan unsur-unsur kemandirian, terlalu menekankan kepada aspek ketersediaan (availability) tidak peduli dipasok oleh lokal atau impor. Khusus untuk peternakan dan derivasi produknya,

ketergantungan ini telah merambat dari sektor hulu hingga sektor hilr. Di sektor hulu, lebih dari 50% bahan baku pangan ternak masih diimpor dari luar negeri berupa jagung dan bungkil kedelai. Untuk peternakan ayam ras, Grand Parent Stock (GPS) dan induk ayam masih diimpor. Untuk daging sapi, pada tahun 2007 saja telah mengimpor 64.000 ton daging dan 600.000 ekor sapi. Gambaran ini menunjukkan bahwa secara sistematis Indonesia semakin masuk dalam jebakan pangan (food trap), atau ketergantungan kepada luar negeri. Banyak kerugian yang dialami dengan ketergantungan impor ini antara lain semakin berkurangnya peluang usaha dalam bidang pertanian dan peternakan yang berakibat terhadap semakin terpuruknya nasib petani dan pengusaha kecil di pedesaan. Disamping itu resiko ketahanan pangan oleh food trap ini cukup besar karena pasokan dapat terganggu secara tiba-tiba disebabkan hal-hal sebagai berikut : (1) Kondisi iklim di negara importir dapat berubah menjadi tidak kondusif, (2) Bisa terjadi konversi pangan menjadi energi di negara importir, (3) Bisa terjadi kondisi ekstrim lainnya seperti kontaminasi radio aktif (kasus Fukushima) dan (4) Suatu ketika kondisi politik bisa berubah Dari uraian tentang besarnya reisiko yang akan ditanggung masyarakat, dapat disimpulkan bahwa untuk pangan, kemandirian menjadi suatu keniscayaan. Kemandirian pangan mutlak harus menjadi strtegi jangka panjang, tidak hanya dalam aspek produk tetapi juga input seperti bibit/benih, pupuk, pestisida/insektisida, teknologi, tenaga ahli dan permodalan. Menurunnya Tingkat Konsumsi Pangan Non Beras di Indonesia Peningkatan konsumsi beras perkapita secara sistematis sejak 1960-an, telah memberi dampak terhadap penurunan permintaan/konsumsi jagung, ubi kayu, dan ubi jalar. Konsumsi jagung yang pada 1954 rata-rata 32,9 kg/kapita/tahun telah menurun menjadi 3,3 kg/kapita/tahun (2005). Demikian pula ubi kayu menuru dari 39,4 kg /kapita/tahun (1954) menjadi 15 kg/kapita/tahun (2005). Kondisi ini jika dibiarkan terus, akan membawa dampak yang lebih jauh yaitu :

- Hilangnya budaya konsumsi pangan non beras di beberapa wilayah di Indonesia (Misal : jagung di Madura, singkong di Gunung Kidul, sagu Di Maluku dan Papua serta ubi jalar di Papua). - Hilangnya kekayaan plasma nutfah, terutama jenis umbi-umbian. Rendahnya Konsumsi Protein Hewani, Sayur-Sayuran, dan Buah-Buahan Konsumsi protein hewani di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu sekitar 25% dari total kebutuhan protein. Idealnya untuk Indonesia, menurut Widya Karya Pangan dan Gizi VIII tahun 2004, konsumsi protein hewani adalah 50% dari total kebutuhan protein. Pendapatan perkapita yang rendah dan ketersediaan

sumber protein hewani yang rendah, ikut berperan dalam rendahnya konsumsi protein hewani di Indonesia. Konsumsi buah-buahan dan sayuran juga relatif rendah. Ketersediaan buah dan sayuran yang bermutu serta banyaknya wanita yang bekerja di luar rumah turut berperan dalam rendahnya konsumsi buah-buahan dan sayuran ini. Mereka lebih menyukai membeli makanan cepat saji atau makanan dari restoran/rumah makan, yang biasanya sangat sedikit mengandung sayuran. ANTISIPASI KEMENTERIAN PERTANIAN MELALUI RENSTRA 2010-2014 Sebenarnya Kementerian pertanian telah mengantisipasi isu-isu strategis yang telah diuraikan diatas. Dalam Renstra 2010-2014 telah ditetapkan empat target utama Kementerian Pertanian RI, yaitu : (1) Pencapaian swasembada dan

swasembada berkelanjutan, (2) Peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor, (3) Peningkatan diversifikasi pangan dan (4) Peningkatan kesejahteraan petani. Telaah yang lebih mendalam terhadap empat target utama tersebut menunjukkan adanya keterkaitan yang cukup erat diantara keempat target utama tersebut yang tujuan akhirnya adalah pencapaian ketahanan pangan yang kokoh dalam jangka panjang, seperti terlihat pada Gambar dibawah ini.

Pencapaian Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan

Peningkatan Diversifikasi Pangan

Pencapaian Ketahanan Pangan Jangka Panjang

Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing dan Ekspor

Peningkatan Kesejahteraan Petani

Gambar 1.

Hubungan antara empat target utama Kementerian Pertanian 20102014 dengan pencapaian ketahanan pangan jangka panjang

Dari Gambar 1 dapat dijelaskan beberapa hal sebagai berikut : 1. Pencapaian swasembada terutama ubi kayu, ubi jalar, jagung, daging sapi, sayursayuran dan buah-buahan akan mendukung percepatan penganekaragaman konsumsi pangan. Tercapainya penganekaragaman pangan ini akan berdampak kepada penurunan konsumsi beras sehingga swasembada produksi padi lebih terjamin keberlanjutannya. Pencapaian swasembada tersebut juga membuka peluang untuk menurunkan impor pangan karena ketersediaanya telah terpenuhi secara lokal. Akan tetapi untuk pencapaian sasaran

penganekaragaman pangan, dibutuhkan suatu kondisi meningkatnya kesadaran masyarakat akan perlunya pangan beragam dan gizi berimbang serta berubahnya kebijakan pemerintah mengenai impor pangan. Kementerian

Kesehatan mestinya bisa berperan banyak untuk mencapai kondisi ini. 2. Pencapaian swasembada pangan juga akan meningkatkan nilai tambah komoditi pangan, membuka lapangan kerja pada berbagai usaha di berbagai rantai pangan mulai dari budidaya, penanganan pasca panen, transportasi dan penyimpanan serta pengolahan. Nilai tambah tersebut dapat diperoleh dari

hasil usaha pengolahan bahan pangan (tepung-tepungan, bahan pangan pokok olahan, kuliner dan sebagainya). Pada tingkat swasembada mencapai surplus, tidak tertutup peluang ekspor pangan (selama ini Indonesia masih lebih menonjol dalam ekspor produk perkebunan). 3. Peningkatan nilai tambah dan ekspor juga akan meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat pedesaan sehingga pada saatnya akan meningkatkan daya beli dan akses untuk memperoleh pangan yang lebih bermutu. Dengan meningkatnya pendapatan petani dan keluarganya yang jumlahnya cukup besar, diharapkan berdampak pada pola konsumsi yang semakin beragam. Untuk itu perlu juga upaya tambahan pendidikan manfaat konsumsi pangan beragam dan gizi seimbang. 4. Peningkatan nilai tambah dan ekspor juga berpengaruh terhadap keberlanjutan swasembada. Keberhasilan usaha- usaha hilir (tepung- tepungan, produk pangan olahan, dsb) akan menjamin pertumbuhan dan keberlanjutan produksi bahan pangan dalam jangka panjang. Untuk itu diperlukan intervensi pemerintah seperti bantuan teknologi/peralatan, pelatihan permodalan, dan regulasi. 5. Peningkatan diversifikasi pangan akan berdampak kepada pencapaian ketahanan pangan yang kokoh dalam jangka panjang. Ketahanan pangan yang ideal dalam jangka panjang dicirikan dengan pencapaian skor PPH sebesar 100. Skala PPH 100 mengandung arti bahwa jumlah asupan kalori dari padi- padian (beras), maksimum 1000 kalori (50%), dan jumlah pangan lainnya memenuhi proporsi yang dianjurkan. Kondisi ini dapat dicapai jika konsumsi beras dapat diturunkan menjadi 100 kg/kapita/tahun. Apabila peningkatan diversifikasi pangan didukung oleh tercapainya swasembada dan swasembada berkelanjutan maka akan tercapai ketahanan pangan jangka panjang karena tidak tergantung kepada pasokan luar yang sewaktu-waktu bisa berubah. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa kemandirian pangan telah dapat dicapai apabila pengganti konsumsi beras itu berasal dari negeri sendiri. 6. Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya keempat target utama Kementerian Pertanian 2010 2014, bertujuan untuk mencapai terwujudnya ketahanan pangan jangka panjang atau kemandirian pangan yang tercantum

dalam Visi Kementerian Pertanian yang berbunyi kurang lebih : Tercapainya ketahanan pangan yang kokoh dalam jangka panjang melalui program diversifikasi pangan berbasis kemandirian pangan (berbasis sumber daya lokal). Kesimpulan tersebut senada dengan pernyataan ekonom Hendri Saparini dari ECONIT Jakarta, bahwa diversifikasi pangan berpotensi mengurangi masalah pengangguran dan kemiskinan, kesenjangan antar wilayah, ketergantungan terhadap pangan impor serta memelihara stabilitas ekonomi makro. Pernyataan tersebut disampaikan dalam seminar nasional diversifikasi pangan di Bogor pada 24 Agustus 2010. Dia juga menyatakan agar diversifikasi pangan menjadi strategi pemerintah (bukan hanya Kementerian Pertanian) dan ditetapkan sebagai program nasional. Oleh karenanya, pemerintah harus memiliki komitmen yang tinggi dalam memperbaiki nasib petani dan konsisten dalam pencapaian empat target utama tersebut.