DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN....................................................................... 1.1.Latar Belakang Penelitian.................................................... 1.2.Identifikasi Masalah...............................

.............................. 1.3.Batasan Masalah................................................................... 1.4.Rumusan Masalah................................................................ 1.5.Tujuan Penelitian.................................................................. 1.6.Kegunaan Penelitian............................................................. KAJIAN BAB II PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS........................................................................ 2.1.Kajian Pustaka..................................................................... 2.2.Kerangka Pemikiran............................................................. 2.3.Hipotesis............................................................................... BAB III METODE PENELITIAN............................................................ 3.1.Model dan Disain Penelitian............................................... 3.2.Operasionalisasi Variabel.................................................... 3.3.Sumber dan Jenis Data......................................................... 3.4.Teknik Pengumpulan Data………………………………... 3.5.Rancangan Analisis dan Uji Hipótesis……………………. 3.6.Metode Analisis Data........................................................... DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Penelitian Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan adalah unit Audit Internal Departemen Keuangan, yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia, dengan tugas melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas di lingkungan Departemen Keuangan. Tugas pengawasan sebagaimana dimaksud Perpres 10/2005, dijabarkan lebih lanjut melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor l00/PMK.0l/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan, yang di dalamnya mengatur mengenai organisasi, tugas, dan 9 31 37 39 39 41 42 43 44 50 1 1 5 6 7 7 8 9

fungsi unit-unit kerja di lingkungan Departemen Keuangan termasuk Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan. Dalam menjalankan tugas pengawasan, Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan bertanggung jawab langsung kepada Menteri Departemen Keuangan. Audit Internal ini wajib memberikan informasi yang berharga bagi manajemen entitas dan pimpinan Departemen untuk pengambilan keputusan. Guna mencapai hal tersebut, Inspektorat Jenderal dituntut untuk memberdayakan Auditornya agar memberi kontribusi yang berarti dalam meningkatkan kinerjanya dan secara berkesinambungan melakukan kajian yang mendalam mengenai pelaksanaan audit yang memadai dengan pertimbangan esensi pengertian audit itu sendiri. Standar profesional akuntan Publik (2004:322.1) mengharapkan tanggungjawab Auditor Internal sebagai berikut: “Auditor Internal bertanggungjawab untuk menyediakan jasa analisis dan evaluasi, memberikan keyakinan dan rekomendasi dan informasi lain kepada manajemen entitas dan dewan komisaris atau pihak lain yang setara wewenang dan tanggung jawab tersebut, Auditor Internal mempertahankan objectivitasnya yang berkaitan dengan aktivitas yang diauditnya. Tidak jarang seorang Auditor Internal menasehati seorang manajer tentang hal-hal yang menyangkut operasional dalam rangka untuk memperbaiki kinerjanya.” Audit yang dilaksanakan Inspektorat Jenderal merupakan suatu kegiatan penilaian yang independen yang dibentuk di dalam organisasi pemerintah, yang dilaksanakan oleh para Auditor Internal, yang secara generik disebut di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah sebagai Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). Audit merupakan proses pengamanan atas pelaksanaan semua kegiatan yang dilakukan oleh Auditor Internal, untuk kemudian menilai apakah kegiatan telah sesuai dengan rencana yang ditetapkan, serta ketentuan yang ada telah ditaati dan dilaksanakan secara baik, sehingga tujuan pemerintah dapat tercapai secara efektif. Auditor Internal harus melaksanakan tugasnya dengan bebas jika bagian ini diberikan kedudukan/status dalam organisasi perusahaan dan tidak dibebankan pekerjaan yang menjadi objek auditnya, dengan demikian objektifitas dapat terjamin (cambers & Gerald, 1995:332). Para Auditor Internal dianggap mandiri apabila mereka dapat melaksanakan pekerjaannya secara bebas dan objektif. Hal mana sangat penting adalah kemandirian para Auditor Internal dalam memberikan penilaian-penilaian yang tidak memihak dan berprasangka dan tidak terlibat dengan pekerjaan auditannya. Oleh karenanya unit Audit Internal ini harus memberikan keleluasaan kepada Auditornya untuk memenuhi atau menyelesaikan

konselling dan informasi yang sistematis untuk mengevaluasi yang berkaian dengan aktivitas yang dan meningkatkan keefektifan dikaji dan menciptakan pengendalian manajemen resiko.Memberikan suatu pendekatan disiplin rekomendasi.tanggungjawab audit yang diembankan kepadanya.jawabnya mencapai tujuan.Memberikan hasil analisis. 5. Hal ini dikarenakan tuntutan terhadap peran Auditor Internal yang semakin meluas dengan perubahan paradigma Auditor Internal (Hiro:2004). Seperti hasil Penelitian Sekaran Mayangsari(Simposium Nasional Akutansi VI:2003) menunjukkan bahwa lamanya hubungan manajer dengan Auditor dapat mengganggu independensi serta keakuratan Auditor dalam menjalankan tugas audit.Dirancang untuk memberikan suatu nilai tambah serta meningkatkan kegiatan operasi organisasi. Menyadari pentingnya kompetensi Auditor Internal. 4.1 Paradigma Auditor Internal Konsep Kunci Pengertian Audit Internal (1947) 1.Suatu aktivitas independen yang objektif. Konsep Kunci Pengertian Audit Internal (1999) 1. Audit Internal yang efektif harus memiliki karakteristik independen dan didukung oleh sumberdaya yang memadai dan kompeten.Aktivitas pemberian jaminan keyakinan dan konsultasi. Hal ini dapat dicapai melalui status organisasi Audit Internal dan kemandirian Auditor Internal itu sendiri. . banyak organisasi berupaya merekrut.Membantu agar anggota organisasi dapat 4. 3. penilaian. 5. 2. organisasi. secara efektif. 3. 2.Membantu organisasi dalam usaha menjalankan tanggung. pengendalian dan proses pengaturan dan pengelolaan efektif dengan biaya yang wajar. menempatkan dan mengembangkan pegawainya secara hati-hati dan terprogram.Mengkaji dan mengevaluasi aktivitas organisasi sebagai bentuk jasa yang diberikan bagi organisasi. Tetapi tampaknya masih banyak organisasi baru dalam hal merekrut dan menempatkan pegawainya pada unit atau bagian Auditor Internal kurang memperhatikan aspek pendidikan formal ataupun pendidikan teknis disiplin ilmu yang relevan dengan bidang audit.Fungsi penilaian. sebagai berikut: Tabel 1.Fungsi penilaian independen yang dibentuk dalam suatu organisasi.

terutama temuan yang terkait dengan tindak pidana korupsi. 1. Namun demikian. Dengan demikian secara tentatif terhadap keterkaitan antara independensi dan kompetensi Auditor Internal akan mempengaruhi terciptanya pelaksanaan audit yang berkualitas.Masalah Kompetensi: 1)Pegawai yang diangkat untuk melaksanakan audit tidak memiliki kompetensi di bidang audit. 3)Auditor kurang berpengalaman dalam mengaudit dikarenakan adanya tebang pilih dalam penugasan audit. Badan Pemeriksa Keuangan. b.Batasan Masalah . sehingga timbul wacana membubarkan Inspektorat Jenderal dan meleburkannya menjadi satu dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. dan menurut Bernadi (1994) bahwa integritas dan keahlian merupakan faktor yang mendukung kemampuan Auditor untuk mendeteksi kecurangan. mempertanyakan Independensi dan kompetensi Auditor Internal Departemen sehubungan dengan tidak munculnya kepermukaan temuan-temuan audit yang menonjol. penulis merasa perlu untuk mengadakan penelitian tentang “Pengaruh Independensi dan Kompetensi Auditor Internal terhadap Kualitas Pelaksanaan Audit”.Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut. Berdasarkan issue di atas. 2)Pendidikan keahlian yang berkesinambungan untuk meningkatkan Profesionalitas Auditor Internal tidak direncanakan secara baik. terutama Komisi Pemberantasan Korupsi. maka dapat diidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan dengan kualitas pelaksanaan audit sebagai berikut: a. dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan. belakangan ini banyak pihak.Ashton (1991) mengatakan bahwa pengalaman dan pengetahuan memainkan peranan penting dalam menentukan suatu keahlian. dan survei dilakukan pada Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan. 2)Hubungan antar personal menjadikan Auditor Internal kurang objektif dalam mengungkapkan hasil audit.Masalah Independensi: 1)Hubungan keorganisasian serta lingkungan organisasi mempengaruhi independensi Auditor saat melakukan audit.3.2. 1.

dan agar penelitian dapat dilakukan secara mendalam. 1. dana. sehingga Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan dapat melakukan pelatihan pendidikan secara berkelanjutan guna meningkatkan kompetensi Auditor serta meninjau kebijakan-kebijakan agar lebih mempertahankan independensi Auditor.Apakah independensi Auditor Internal berpengaruh terhadap kualitas pelaksanaan audit? 2. .4. tenaga.Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas.6.Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1.5. maka penelitian ini dibatasi pada permasalahan sebagaimana yang telah diidentifikasikan di atas.Kegunaan Penelitian Kegunaan yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah: a.Apakah independensi dan kompetensi secara simultan berpengaruh terhadap kualitas pelaksanaan audit? 1. Fokus penelitian ini untuk meneliti pengaruh independensi dan kompetensi Auditor Internal terhadap kualitas pelaksanaan audit dan survey dilakukan pada Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan.Untuk membuktikan pengaruh positif independensi dan kompetensi Auditor Internal secara parsial berpengaruh terhadap kualitas pelaksanaan audit pada Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan. Karena adanya keterbatasan waktu.Untuk membuktikan pengaruh independensi dan kompetensi Auditor Internal secara simultan berpengaruh terhadap kualitas pelaksanaan audit pada Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan. penelitian akan dilakukan terhadap masing-masing faktor guna mendapatkan penjelasan dan pemahaman mengenai hubungan tiap-tiap faktor tersebut dengan kualitas pelaksanaan audit. 1.Apakah kompetensi Auditor Internal berpengaruh terhadap kualitas pelaksanaan audit? 3. diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada para Auditor.Berdasarkan uraian tersebut di atas. maka dapat diidentifikasikan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. 2. teori-teori.Kegunaan praktis 1)Bagi Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan.

apabila tidak mempunyai sikap independen . menyatakan bahwa: “Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and established criteria.1Kajian Pustaka 2. dalam kaitannya dengan independensi dan kompetensi Auditor Internal terhadap kualitas pelaksanaan audit. Auditing harus dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen.2)Bagi pemerintah.Informasi harus dapat diukur agar dapat diverifikasi. Auditor harus mempunyai sikap mental yang independen (independent mental attitude). b.Pengertian Auditing Arens & Loebbecke(2000. Seorang auditor internal harus memiliki kemampuan pemahaman akan kriteria yang digunakan.2). KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2. diperlukan informasi yang dapat diverifikasi dan sejumlah standard (criteria) yang digunakan sebagai pegangan dalam pengevaluasian informasi tersebut. khususnya diharapkan dapat memberikan gambaran tentang independensi dan kompetensi Auditor Internal serta menjelaskan pengaruhnya terhadap kualitas pelaksanaan audit. Untuk melaksanakan audit.1. 2)Sebagai bahan kajian lebih lanjut mengenai penelitian dan pengembangan ilmu akutansi.Informasi memiliki berbagai bentuk.Kegunaan Teoritis 1)Memberikan bukti empiris mengenai pengaruh independensi dan kompetensi Auditor Internal terhadap kualitas pelaksanaan audit. serta mampu menentukan jumlah bukti yang diperlukan untuk mendukung kesimpulan yang diambilnya. sedangkan kriteria untuk mengevaluasi informasi kuantitatif cukup beragam dan audit perlu dilakukan oleh orang yang kompeten. independent person”. Auditing should be done by a competent. BAB II KAJIAN PUSTAKA. Sekalipun ia ahli.1. khususnya bidang auditing. Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi tersebut dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.

2. .Audit Ketaatan bertujuan untuk mempertimbangkan ketaatan klien dalam mengikuti prosedur atau aturan yang telah ditetapkan oleh pihak yang memiliki otoritas. Audit internal membantu perusahaan mencapai tujuannya.Audit Internal 2. seringkali memberikan layanan tambahan yang berkaitan dengan audit.Operational Audit. yang dirancang untuk memberi nilai tambah serta meningkatkan kegiatan operasi perusahaan. disciplined approach to evaluate and improve the effectiveness of risk management. Konsep definisi baru tersebut menekankan bahwa audit internal adalah kegiatan assuranceand consulting yang independen dan objektif. 2. Menurut Internal Standards for The Professional Practice of Internal Auditing(2004:29). 3. Menurut Arens & Loebbecke (2004:4). 3. 2.Financial Statement Audit. yang menjalankan fungsinya berdasarkan kebijakan yang telah ditetapkan dan memiliki peran yang sangat besar dalam memberikan kontribusi kepada pihak manajemen organisasi dan pemeriksa ekstern. melalui suatu pendekatan yang sistematis dan teratur dengan mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko. sebab informasi yang digunakan untuk pengambilan keputusan menjadi bias. objective assurance and consulting activity designed to add value and improve an organization’s operations. Uraian di atas adalah: 1. mengelola hubungan dengan para auditor.Compliance Audit. bahwa: “Internal auditing is an independent. ada 3 (tiga) jenis laporan keuangan. Oleh karenanya audit internal disamping memberikan layanan utama dalam bidang audit. It helps an organization accomplish its objectives by bringing a systematic.dalam mengumpulkan informasi akan menjadi tidak berguna. Penyusunan laporan audit merupakan alat untuk menyampaikan informasi kepada para pemakai laporan tersebut. yaitu: 1.2.1. pengendalian dan pengaturan.1 Pengertian Audit Internal Audit internal merupakan bagian dari suatu organisasi yang integral.Audit Operasional bertujuan untuk menilai efisiensi dan efektifitas kegiatan organisasi.Audit Laporan Keuangan bertujuan menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum. antara lain mendidik para manager dalam pengelolaan dan pengendalian kinerja. control and governance processes. Pada hakekatnya laporan tersebut harus mampu memberikan informasi mengenai kesesuaian informasi-informasi yang diperiksa dengan kriteria yang telah ditetapkan.1.2.

memperoleh jaminan/kepastian wewenang dan tanggung jawab melalui formalisasi kebijakan dan prosedur audit.Operational activities and the use of resources maximize safety. yang bekerja secara bebas tanpa diinterfensi pihak-pihak yang berkepentingan. adalah dengan mengerti bahwa audit internal merupakan suatu pengendalian perusahaan yang berfungsi mengukur dan mengevaluasi efektivitas pengendalian lain yang ada dalam perusahaan. serta pada saat penyelesaian laporan dan ditindaklanjutinya hasil audit.1.Assets are safeguarded. sebagai berikut: Pickert dan Spencer (2000:10) yang menyatakan bahwa : “Internal auditing is an independent appraisal function established within an organization as a service to the organization. which operates by evaluating the measures implemented to achieve the following objectives : 1. liabilities and assets are completely recorded. auditor internal juga dapat memberikan secara langsung dukungan kepada manager selama pekerjaan audit dilaksanakan. and information concerning the activate reviewed”. 6. 2. recommendations. 5. 4. To this end it furnishes them with analysis. appraisals. 3. agar auditor dapat memberikan penilaian yang tidak bias dan menyampaikan rekomendasi yang memiliki nilai tambah bagi perusahaan.Transaction. in the effective discharge of their responsibilities. serta memiliki akses yang memadai terhadap fasilitas. menyatakan bahwa: “Internal Audit is a management control.Information used for measuring performance and managing risks. as well as for preparing financial statement is reliable and has integrity. yaitu auditor internal sebagai pelayanan independen yang membantu pencapaian tujuan perusahaan dengan cara mengevaluasi pengendalian manajemen dan mereviu informasi. Audit internal menurut Sacramento Valley Farm Credit. expenditures. and 7. management instructions and implied intention are properly applied. economy.Pemahaman yang lebih baik akan audit internal.2. ACA (2004:3). Fungsi Audit Internal . by those authorized.Decision made.2. catatan dan personil. Selain itu. Pengendalian lain yang dimaksud disini adalah pengendalian manajemen yang dilakukan manajemen perusahaan untuk menjamin bahwa tujuan perusahaan tercapai. Berikut ini dikemukakan pendapat beberapa pakar mengenai pengertian audit internal.Activities are conducted in a controlled and efficient manner and achieve result consistent with planned objectives and goals. The objective of internal auditing is to assets members of organization and on the board. counsel. income. efficiency and effectiveness. Hampir semua definisi mengenai auditor internal memiliki satu kesamaan. are based on adequate and sound information. 2.Procedures designed to ensure compliance with legal. regulatory and professional requirements.

Komite Audit. dan otoritas lainnya yang merupakan sumber yang berkaitan dengan pemberian wewenang. disebutkan bahwa: “Deterrence of fraud is the responsibility of management. Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal berpendapat bahwa pimpinan fungsi audit internal secara fungsional agar melapor kepada Pimpinan Organisasi. Sacramento Valley Farm. adalah: “a functional audit is one that follows a process from beginning to end. crossing organizational lines. ACA (2004:4) mendefinisikan pula fungsi audit internal sebagai berikut: “The Internal Audit Function is an independent and objective audit and review function designed to seek out challenges facing entity by providing Internal Audit Service (risk assessment. internal control consultation.Pelaporan Fungsional (Functional Reporting) adalah kewajiban pelaporan kepada siapa audit internal mendapatkan kewenangannya. Audit internal melaporkan kepada pimpinan yang memberikannya kewenangan dan secara administratif melapor kepada pimpinan manajemen dan direktur utama.Fungsi Audit Internal hanya bertanggung jawab terhadap pengujian dan evalusi dan efektifitas tindakan yang diambil oleh manajemen dalam memenuhi tanggungjawabnya. Functional audits tend to concentrate more on operations and processes than on administration and people.Fungsi audit internal adalah memberikan jasa assurance and consulting secara objective and independent. Pada prinsipnya pimpinan audit internal memiliki kewajiban pelaporan yaitu (a) pelaporan fungsional (functional reporting) dan (b) pelaporan administratif (administrative reporting). etc)”. Fungsi audit juga lebih metekankan pada operasi dan proses kegiatan dari pada administrasi dan pegawai perusahaan.Pelaporan Administratif (Administrative Reporting) adalah hubungan pelaporan kepada siapa fungsi audit internal mendapatkan dukungan administrative untuk menjalankan aktivitasnya sehari-hari. b. Dalam hubungannya dengan Fraud Administrative Affairs Internal Audit dalam Internal Audit Function (2005:7). investigations. direct audits. Berikut penjelasannya: a. yang dirancang untuk memberi nilai tambah dan meningkatkan operasi perusahaan (Internal Standards for The Professional Practice of Internal Auditing.2004:29). The Internal Audit Function is responsible for examining and evaluating the adequacy and the effectiveness of action taken by management to fulfill this obligation”. They seek to determine how well all the organizations concerned with a function will interface and cooperate”. Dewan Direksi. Dari pernyataan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang bertanggung jawab mencegah fraud adalah manajemen. Fungsi audit internal menurut Sawyer (2003:297). self assessment. .

. tanggung jawab auditor internal dalam perusahaan harus dinyatakan secara tegas melalui kebijakan manajemen.Masalah pelaporan sangat berpengaruh terhadap independensi serta efektifitas operasi fungsi auditor internal. lingkup yang tak terbatas. prosedur-prosedur dan catatan-catatan. 2. terlebih sebagai auditor internal.1. kewenangan untuk memeriksa apapun dan kapanpun. Namun fungsi yang sangat menonjol dari audit internal adalah sebagai alat bantu di dalam menunjang pelaksanaan fungsi pengendalian bagi manajemen. Board of Governors of the Federal Reserve System(2003:1). adalah sebagai berikut: “Independence is the freedom from significant conflicts of interest that threaten objectivity such threats to objectivity must be managed at the individual auditor level.3. An important element in assessing the effectiveness of the internal control system is an internal audit function”. biasanya independensi didefinisikan sebagai kebebasan yang melekat pada dirinya. The board of director and senior management of an institution are responsible for ensuring that the system of internal control operates effectively. Menurut The Institute of Internal Auditors. menyatakan bahwa: “Effective internal control is a foundation for the save and sound operation of a financial institution.Oleh karenanya. Saat seseorang memulai karirnya sebagai auditor. Disamping itu peranan auditor internal sangat penting dalam perusahaan. Independensi yang dimiliki auditor internal berbeda dengan auditor ekternal. auditor internal perlu merevieu secara serius system pelaporan tersebut. kebebasan untuk menyatakan sesuatu seperti apa adanya sesuai dengan data yang diperolehnya dengan dukungan penuh dari atasan. and organizational level”. the engagement level. Independensi Auditor Internal Independensi adalah sesuatu yang sangat mendasar bagi efektifitas audit internal. yang dalam beberapa literatur bahkan disebut sebagai auditor yang independen. Their responsibility cannot be delegated to others within the institution or to outside parties. Dengan tanggung jawab dan wewenang yang diberikan kepada auditor internal. rencana-rencana. Fungsi audit lebih ditekankan terhadap kegiatan operasional dan menilai kebijaksanaan. Berdasarkan uraian di atas. karena melalui audit ini pimpinan mendapat informasi tentang hal-hal yang perlu dicegah maupun diperbaiki. yang dikutif oleh Moeller (2004:169).2. Namun pada kenyataannya. sesungguhnya ia harus menghadapi suasana yang kurang kondusif dan berbagai macam hambatan dalam pelaksaaan kegiatan auditnya. maka auditor internal dapat melakukan tugas serta fungsinya dalam rangka untuk menilai dan menelaah atau mempelajari semua kegiatan audit.

Oleh karena itu dibutuhkan integritas. maka ia harus melepaskan sebagian dari independensinya. Konsep independensi merupakan konsep yang integral dengan kode etik dan standard praktek profesi (Mautz & Sharaf: 1993). Standard for the Professional Practice of Internal Auditing tahun 2000 yang dikutip oleh Sawyer (2003:1149). internal auditing department should be sufficient to permit the accomplishment of its audit responsibilities. Audit Internal harus independen dari aktivitas pihak yang diperiksa. Pemisahan organisasi akan melindungi auditor intern dari rasa keberpihakan. Independen berarti bebas dari semua ketergantungan termasuk di dalam bidang keuangan.Problem independensi sering muncul bila terjadi konflik antara pihak auditor dengan manajemen. Pengambilan keputusan pun menjadi bias apabila independensi tidak ditegakkan. Organizational status. . Seperti menurut The Institute of Internal Auditors yang dikutip oleh Chambers dan Gerald (1995:332) adalah sebagai berikut: “Internal Auditor are independence when they can carry out their work freely and objectively. internal auditors should be independent of the activities they audit. evaluating the results the audit report. agar tidak melakukan kompromi mengenai pekerjaan auditnya. mengatakan bahwa: “Independence. Independensi merupakan masalah perilaku pengambilan keputusan yang selalu dihadapi oleh auditor. Bilamana bagian audit internal masih merupakan bagian dari badan usaha tersebut. Independensi auditor intern memiliki dua aspek yaitu pemisahan organisasional dari aktivitas yang diperiksa serta status dan kewenangan yang memadai dalam organisasi secara keseluruhan. Independence permits internal auditor to render the impartial and unbiased judgment essential to the proper conduct of audit it is achieved though organizational status objectivity”. objektivitas yang tinggi.Hal tersebut di atas tidak akan tercapai tanpa adanya independensi. Audit dilaksanakan secara independen dalam segala situasi yang dihadapinya. Independence is regarded as the auditors most critical characteristic”. Independen bukan hanya semboyan saja. sehingga akan menjamin adanya independensi dalam melaksanakan fungsinya. serta suatu pribadi yang tidak mudah dipengaruhi.Sedangkan menurut Arens & Loebbecke (2000:83) mengenai independensi adalah sebagai berikut: “Independence in auditing means taking an unbiased viewpoint in performing audits tests. Objectivity. tetapi merupakan suatu keadaan yang diperlukan agar organisasi audit internal dapat eksis dan berfungsi dengan benar. internal auditor should be objective in performing audits”. Oleh karena itu penting sekali adanya ketentuan yang mengatur berbagai hal mengenai objektivitas dan usaha untuk menghindarkan auditor dari ketergantungan pada orang-orang yang aktivitasnya diaudit.

Status organisasi audit internal harus memberi keleluasaan dan kemandirian untuk memenuhi atau menyelesaikan tanggung jawab pemeriksaan yang diberikan. pemberian status organisasi yang memadai akan memberi kekuatan dan modal bagi audit internal sehingga ia dapat melaksanakan dan menjalankan pekerjaannya secara efektif. perhatian yang memadai terhadap laporan pemeriksaan dan tindakan yang tepat berdasarkan rekomendasi pemeriksaan. Disamping itu.Audit internal harus ditempatkan pada suatu kedudukan organisasi yang tepat dan dapat bertindak secara efektif.Pimpinan audit internal harus bertanggungjawab terhadap individu di dalam organisasi serta mempunyai kewenangan yang cukup untuk mewujudkan kemandirian tersebut dan menjamin luas cakupan pemeriksaan. 2. Struktur organisasi yang baik untuk bagian auditor internal adalah struktur yang menempatkan bagian tersebut berada langsung di bawah dan tanggung jawab pimpinan yang bertanggung jawab terhadap seluruh personal organisasi yang memiliki kewewenangan untuk mewujudkannya. tanggapan pimpinan perusahaan terhadap hasil-hasil temuan pemeriksa intern dan pengertian dari bagian-bagian yang diperiksa mengenai tugas pemeriksaan intern disamping tentunya keahlian dan pengalaman auditor internal itu sendiri”. merupakan salah satu dukungan terhadap kemandirian. mengatakan bahwa: “Internal auditor are independent when they can carry out their work freely and objectivity. bahwa: “Keberhasilan dalam melaksanakan tugas pemeriksaan intern banyak tergantung dari kedudukan pemeriksaan intern dalam bagan organisasi. . meliputi: 1.Pimpinan audit internal harus memiliki hubungan langsung dengan pimpinan organisasi. The Institute of Internal Auditor yang dikutip oleh Chambers (1995:332). agar dapat bersikap independen. Sedangkan menurut Tuanakotta(1982:5).ketakutan.Pimpinan Organisasi atau dewan direksi merupakan pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan yang dapat menentukan status bagian auditor internal dalam struktur organisasi. loyalitas serta berbagai ambisi yang dapat berpengaruh terhadap aktivitas yang diperiksa. Independence per mints internal auditor to render the impartial and unbiased judgments essential to the proper conduct of audits it is achieved organizational status objectivity”.Status Organisasi Kedudukan organisasi dari bagian auditor internal yang diberikan. 1. Koordinasi yang teratur dengan pimpinan organisasi akan membantu terjaminnya kemandirian dan merupakan sarana semua pihak untuk saling memberikan informasi demi kepentingan organisasi.

kewenangan dan tanggung jawab bagian audit internal harus didefinisikan dalam dokumen tertulis. Sedangkan Colbert (1993:12). catatan-catatan. mengatakan bahwa: “Objectivity is the quality of being unbiased or neutral and relates to the ability of the internal audit staff to resist organizational pressures to alter professional judgments.Memberikan kewenangan untuk dapat mendapatkan dokumen-dokumen. Objektivitas dapat terbentuk bila auditor internal tidak terlibat dalam penyusunan dan penerapan prosedur. 5. the external auditors will consider factors relating to the organizational status of the internal audit function and the objectivity of the individual personnel”. yang mencakup: a.Pimpinan audit internal setiap tahun harus mengajukan persetujuan mengenai jadual kegiatan pemeriksaan. 6. Auditor internal dapat dikatakan independen jika ia dapat bekerja secara bebas dan objektif. Organizational separation and organizational status can and do free most internal auditors from the aside which make it difficult for him to see his own activity in a completely objective manner”. 2.Pengangkatan atau penggantian pimpinan audit internal dilakukan di atas persetujuan pimpinan organisasi.Mendefinisikan lingkungan kegiatan-kegiatan audit internal.Pimpinan audit internal harus memberikan laporan tentang berbagai kegiatan kepada manajemen senior dan pimpinan organisasi. . mengemukakan bahwa: “Audit independence relates to objectivity mainly with respect to emotional bias. Menurut Courtemanche (1986:38). atau dalam periode yang lebih singkat jika dirasa perlu. Menurut Comunale et al (2004:10). susunan auditor. c. That is an objective person perceives the situation without introduction personal opinion and bias”. pembuatan catatancatatan atau keterlibatan penugasan pada kegiatan lain yang menjadi sasaran auditnya.Menyatakan kedudukan bagian audit internal dalam organisasi. personel dan benda-benda berwujud yang relevan dengan pelaksanaan audit.Objektivitas Objektivitas adalah kemampuan (sikap mental) untuk memberikan pendapat yang bebas dari pengaruh subjektif dari pihak-pihak yang berkepentingan. When assessing the objectivity of the internal auditors. dan anggaran yang kemudian diinformasikan kepada pimpinan organisasi. Pemisahan peran dan status organisasi dapat membebaskan auditor internal dari suatu kecenderungan emosional terhadap pihak yang diperiksa. bahwa: “Objectivity refers to the extent to which persona is impartial in the formation of his or her perception of the true state of affairs. b.Tujuan.3. 4.

Standard for the Personal Practice of Internal Auditing tahum 2000 yang dikutip oleh Sawyer. 2.2001). it literacy. Dan menurut Hiro(2006:16). buku Internal Auditing (2003:1156). melainkan juga meliputi seluruh aspek dan aktivitas yang ada di dalam perusahaan. mengatakan bahwa: “Cognitive skills and behavioral skill were seen as essential to the performance of audit work. mempengaruhi kualitas pelaksanaan audit internal. problem solving and so on.1. Under cognitive skill are found things like numeracy. Behavioral issues included morality. Independensi dan objektivitas seringkali digunakan secara bersama-sama dan banyak audit internal hampir tidak dapat membedakannya. balance. internal auditors should be objective in performing audits”. Sedangkan menurut Standard Profesional Akuntan Publik (SA 230.PSA 04. inquisitiveness. Sedangkan menurut Alvin. precision. Dengan dasar ini. maka auditor internal dituntut untuk mengembangkan kemampuan profesionalnya secara berkelanjutan. bahwa: “Objektivitas adalah sikap mental yang bebas yang harus dimiliki oleh pemeriksa internal”.Auditor internal harus memiliki sikap mental objektif dan independen ketika melaksanakan kegiatan audit. mengatakan bahwa: “Internal auditors exhibit the highest level of professional objective in gathering evaluating and communicating information about the activity or process being examined. so the new look auditor is able to follow a defined route and solve problems using analysis and judgment”. Objektivitas akan dan apabila auditor intern memiliki sikap mental yang bebas (Courtemanche: 1986:37). Kompetensi Audit Internal Fungsi Audit Internal merupakan evaluasi yang komprehensif atas berbagai aktivitas yang ada dalam perusahaan dan tidak terbatas hanya kepada masalah keuangan saja. bahwa kompetensi adalah: .2. Internal auditors make a balanced assessment of all the relevant circumstances and are not unduly influenced by their own interest or by others in forming judgment”. Randal dan Mark dalam bukunya Auditing and Assurance Service (2006:771). mengatakan bahwa: “Internal auditors should be independent of the activities they audit. Dari data empiris tersebut nampak bahwa independensi audit internal yang menyangkut status organisasi dan objektivitas dengan bidang pekerjaannya. the organizational status of the internal auditing department should be sufficient to permit the accomplishment of its audit responsibilities. Menurut The Institute of Internal Auditors yang dikutip oleh Spencer (2000:20). flexibility and so on.4. apalagi dengan semakin meningkatnya peran auditor internal yang bukan hanya sekedar sebagai watchdog tetapi sudah bergeser perannya menjadi sebagai consultant.

bahwa: “Kompetensi adalah kemampuan profesional merupakan tanggung jawab dari bagian audit internal dan masing-masing pemeriksa internal”.“Penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama menyangkut apa yang dikerjakan auditor dan bagaimana kesempurnaan pekerjaannya tersebut”. Pimpinan audit internal dalam setiap pemeriksaan harus menugaskan orang-orang yang secara bersama atau keseluruhan memiliki pengetahuan. Bukti mengenai kualitas kompetensi dapat diperoleh melalui penilaian dari manajemen. Pandangan mengenai kompetensi bagi auditor internal berkenaan dengan masalah pengetahuan yang bersumber dari pendidikan formal dalam disiplin ilmu yang relevan. dan hasil revieu dari Quality assurance. disiplin dan berpengalaman. Institute of internal auditors ethical principles and code of ethics yang dikutip oleh Alvin.…. latar . Professional education and training are available in most countries through association of internal auditors. kemampuan. dan kemampuan teknis.Selain itu. skills. pengetahuan yang terkait dengan lingkup auditnya. serta pengetahuan teknis tentang audit. menyatakan bahwa: ”the competency of internal auditors and its assessment. maka auditor internal harus terdiri dari tenaga-tenaga yang cakap. Sedangkan menurut Hiro (2006:18). mempunyai pengetahuan. public accounting firms. mengatakan bahwa: “Competency internal auditor apply the knowledge.S (2006:771).and conference organizer”. Kompetensi menurut The Institute of Internal Auditor’s dalam bukunya The Professional Practices Framework (2004:39).Pengetahuan Auditor internal harus memiliki pengetahuan terhadap bidang tugasnya. A. sedangkan untuk mengevaluasi kompetensi auditor internal didasarkan pada pengalaman profesional dan pendidikan staf auditor internal. dan berbagai disiplin ilmu yang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan secara tepat dan pantas. kemampuan atau keahlian serta pengalaman dalam bidang tugasnya. Randal and Marks. Sedangkan Birkett Cs (1997:111). and experience needed in the performance of internal auditing services”. skills. Kompetensi setiap auditor internal merupakan tanggung jawab dari bagian audit internal. Untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. and experience needed in the performance of internal auditing service”. and the qualification required of internal auditors. Auditor internal harus mempunyai sifat-sifat yang ahli dalam audit secara teknis. menyatakan: “Internal auditor apply the knowledge. Jika pekerjaan auditor internal didasarkan pada kepercayaan pihak lain maka kompetensi auditor internal harus dinilai. Kompetensi merupakan suatu keahlian yang memadai dengan mempergunakan jabatannya dengan seksama.

2.Pengalaman Pengalaman merupakan cara pembelajaran yang baik bagi auditor internal untuk menjadikan auditor kaya akan teknik audit. An example in the sales and collection cycle might be tests of controls and substantive tests of transactions audit programs for sales and cash receipts. B. and tests of detail of balances. maka semakin mampu dan mahir auditor mengusai tugasnya sendiri maupun aktivitas yang diauditnya. and miscellaneous accounts receivable”. allowance for uncollectible accounts. There will likely be a separate set of sub audit programs for each transaction cycle. audit internal harus memiliki pengetahuan. Semakin tinggi pengalaman auditor..Auditor internal didorong untuk meningkatkan keahliannya dengan mengikuti program pendidikan bersertifikasi profesi. pengalaman auditor memberi kontribusi yang relevan dalam meningkatkan kompetensi auditor. bad debt expense. account receivable. Menurut Standard Profesional Akuntan Publik (SA 230.akan meningkatkan keahlian dan kompetensi seorang auditor.Program inilah yang nantinya menjadi pemandu pemeriksaan dalam melaksanakan pemeriksaan. and tests of detail of balance audit program for cash.belakang pendidikan auditor sangat menentukan keahlian dan kompetensi seorang auditor.Sertifikasi profesi tsb. keterampilan dan kompetensi lainnya yang dibutuhkan untuk melaksanakan tanggung jawab perorangan. an analytical procedures audit program for entire cycle. mengemukakan tentang program audit sebagai berikut: “The audit program for most audits is designed in three parts: test of control and substantive thesis of transaction.5.Menurut SPAI (2004:16).PSA 04. Program pemeriksaan biasanya disusun untuk menggambarkan langkah-langkah yang akan dilaksanakan dalam laporan keuangan”. Kualitas Pelaksanaan Audit Tahap awal pelaksanaan audit internal adalah penyusunan program audit. serta mampu mengendalikan kecenderungan emosional terhadap pihak yang diperiksa.Pengalaman juga membentuk auditor mampu menghadapi dan menyelesaikan hambatan maupun persoalan dalam pelaksanaan tugasnya.Keahlian Kemahiran profesional diperoleh melalui pendidikan yang berkelanjutan sesuai dengan bidang tugasnya untuk memenuhi kebutuhan pengembangan profesinya serta meningkatkan keahliannya. analytical procedure. C. .2. Sedangkan Arens & Loebbecke (2000:347).Selain pengetahuan dan keahlian.2001). Menurut Harahap (1991:167) mengemukakan tentang program audit sebagai berikut: “Program pemeriksaan adalah rencana yang disusun sebelum pemeriksaan dilakukan di lapangan. penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama menyangkut apa yang dikerjakan auditor dan bagaimana kesempurnaan pekerjaannya tersebut.1.

meliputi: 1. (6)Pembuatan program pemeriksaan. al. kapan dan kepada siapa hasil-hasil pemeriksaan akan disampaikan.Pengujian dan Pengevaluasian Informasi Audit internal harus mengumpulkan. Auditor internal bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan tugas pemeriksaan. yang harus disetujui dan ditinjau atau direviu oleh atasan auditor. 430 Communicating result-internal auditing should report the result of their audit work. Analyze. 440 Following up-internal auditors should follow up to ascertain that appropriate action is taken on reported audit findings. menguji dan menilai bahan pembuktian dan mengkomunikasikan hasilnya. untuk mengidentifikasikan area yang ditekankan dalam pemeriksaan. serta untuk memperoleh berbagai alasan dan saran-saran dari pihak yang akan diperiksa (audited comments and suggestions). (7)Menentukan bagaimana. menginterprestasikan dan membuktikan kebenaran informasi meliputi hal-hal sebagai berikut: (1)Mengumpulkan berbagai informasi tentang seluruh hal yang berhubungan dengan tujuan. (3)Penentuan tenaga yang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan. (8)Memperoleh persetujuan atas rencana kerja pemeriksaan. . sasaran dan ruang lingkup pemeriksaan. (4)Pemberitahuan kepada para pihak yang dipandang perlu. yaitu merencanakan pemeriksaan. interpret and document information to support audit results. 420 Examining and evaluating information-internal auditors should collect. communicating results and following up. Hal tersebut sesuai dengan Standard for the Profesional of Internal Auditing (Ratliff. (5)Melaksanakan survei secara tepat untuk lebih mengenali kegiatan yang diperlukan. sasaran dan ruang lingkup pemeriksaan. dalam hal ini perencanaan tersebut harus didokumentasikan yang meliputi : (1)Penetapan tujuan. (2)Memperoleh informasi dasar (background information) tentang kegiatan yang akan diaudit.Standard pelaksanaan audit menguraikan tiap kegiatan yang sangat diperlukan pada pemeriksaan. 2.Perencanaan Audit Auditor internal harus merencanakan setiap pemeriksaan. menganalisis. et. Dilihat dari standard for the Profesional of Internal Auditing di atas maka pelaksanaan atau fase-fase auditor internal dalam audit internal. 410 Planning the audit internal auditors should plan each audit. 1988:63) sebagai berikut: 400 Performance or audit work-audit should include planning the audit examining and evaluating information.

(4)Proses pengumpulan. harus terlebih dahulu diseleksi bila memungkinkan dan diperluas/diubah bila keadaan menghendaki demikian. 4. Proses penyampaian hasil pemeriksaan meliputi hal-hal sebagai berikut: (1)Auditor internal harus terlebih dahulu mendiskusikan berbagai kesimpulan dan rekomendasi dengan tingkatan manajemen yang tepat.Tindak Lanjut Hasil Audit Auditor internal harus terus menerus meninjau atau melakukan tindak lanjut (follow up) untuk memastikan bahwa rekomendasi terhadap temuan-temuan pemeriksaan yang dilaporkan telah diambil tindakan yang tepat. jelas. (4)Laporan dapat mencantumkan berbagai rekomendasi bagi berbagai perkembangan yang mungkin dicapai. (7)Menerbitkan laporan hasil pemeriksaan. sebelum mengeluarkan laporan akhir.Auditor internal juga harus memastikan apakah suatu tindakan korektif yang diusulkan memberikan berbagai hasil yang diharapkan.Penyampaian Hasil Audit Auditor internal harus melaporkan hasil-hasil pemeriksaan yang dilakukannya atau yang diperoleh dari kegiatan pemeriksaannya. (6)Pengujian auditor internal dan staf yang ditunjuk harus mereviu dan menyetujui laporan pemeriksaan akhir. dapat dipercaya. Apabila tidak ada follow . singkat. analisis. lingkup dan hasil pelaksanaan pemeriksaan. (5)Menyiapkan kertas kerja pemeriksaan (audit working paper). relevan dan berguna sebagai dasar yang logis bagi temuan audit dan rekomendasi. konstruktif dan tepat waktu. (5)Pandangan dari pihak yang diperiksa tentang berbagai kesimpulan atau rekomendasi. (3)Prosedur pemeriksaan. (2)Laporan harus objektif. pengakuan terhadap kegiatan yang dilaksanakan secara meluas dan tindakan korektif.(2)Informasi harus mencukupi. Kertas kerja pemeriksaan adalah dokumen pemeriksaan yang harus dibuat oleh auditor untuk direviu oleh manajer auditor internal. Kertas kerja pemeriksaan harus mencantumkan berbagai informasi yang diperoleh dan telah dianalisis serta harus mendukung dasar temuan audit dan rekomendasi yang dilsampaikan. penafsiran dan pembuktian kebenaran informasi haruslah diawasi untuk memberikan kepastian bahwa sikap objektif pemeriksa terus dijaga dan sasaran pemeriksaan dapat dipercaya. termasuk teknik pengujian dan penarikan sampel yang dipergunakan. sebelum laporan tersebut akan disampaikan. (3)Laporan harus mengemukakan tentang maksud. 3.

yang menjadi subjek adalah organizational status. Hasil Penelitian ini di Australia. Penekanan makna kompetensi dan independensi dalam grand theory tersebut menyiratkan pemahaman bahwa profesi auditor adalah profesi yang rumit.1 Penelitian Terdahulu No. Lanjutan Hasil 2.Kompetensi dan Independensi merupakan dua hal yang berkaitan dalam profesi ini. Richard A Bernadi (1994) Fraud Detection . Penulis dan Tahun Edge and Farley (1991) Judul Penelitian “External Auditor Evaluation of The Internal Audit Function”. 3. Mengutip definisi di atas bahwa “Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai entitas ekonomi yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen…” (Arens dan Loebbecke. No.up atas temuan pemeriksaan maka berarti manajemen telah menerima risiko akibat tidak dilakukannya tindakan korektif atas temuan yang dilaporkan. due professional care and previous audit work. jika dibandingkan dengan beberapa profesi lainnya. Jasa auditor internal yang berkualitas berkorelasi secara nyata terhadap pengendalian intern. . Masih banyak auditor internal belum mengetahui secara mendalam tentang audit internal. Penulis dan Tahun Hiro Tugiman (2000) Judul Penelitian Pengaruh Peran Auditor Internal serta Faktor-faktor Pendukungnya terhadap Peningkatan Pengendalian Internal dan Kinerja Perusahaan. scope of function. Dedy Supardi (1997) Pengaruh Independensi dan Keahlian Profesional Auditor Internal terhadap Pelaksanaan Audit Internal.2Kerangka Pemikiran Tabel 2. Auditor viewed the evaluation of client integrity and competence as one of the most difficult steps in audit process. Definisi tersebut merupakan grand theory untuk bidang auditing secara umum. 2000:4). The Effect of Client Integrity & Competence and Auditor Cognitive Style. technical competence. 2. Menunjukkan besarnya pengaruh dukungan pimpinan puncak terhadap independensi dan keahlian profesional auditor internal terhadap pelaksanaan audit internal. 4. 1.

internal auditor should be independent of the activities they audit.Begitu juga menurut Standard Praktek Profesi Audit Internal (Sawyer:540). internal auditing department should be sufficient to permit the accomplishment of its audit responsibilities. 2000:4). Dengan demikian pihak manajemen. Organizational status. Kemampuan profesional yang dimiliki auditor internal secara individual ataupun secara kolektif harus sesuai dengan bidang audit yang akan dilaksanakannya. Auditor internal yang baik harus mampu mengikuti dinamika bidang yang akan diauditnya dengan baik. Objectivity. . tidak memihak. konsultasi dan rekomendasi dari auditor internal terlepas dari keberpihakan dan tidak bias sehingga menjadi bahan pertimbangan yang penting bagi dasar pengambilan keputusan. Independen adalah sesuatu yang sangat mendasar bagi efektifitas audit internal. Agar mendapat kepercayaan yang lebih banyak. Standard penugasan auditor adalah: “Auditor telah memiliki tanggung jawab sebelumnya dengan adanya independensi dan kompetensi”. sebab informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan haruslah tidak bias (Arens dan Loebbecke. dan teknik-teknik pemeriksaan yang baik dan tepat. menyatakan bahwa: “Independence. Independensi berkaitan dengan objektivitas terutama dengan kecenderungan emosional. Auditor internal dituntut mampu menerapkan standard pemeriksaan. sekalipun ia ahli. Seorang auditor. Penerapannya juga harus dapat mengikuti perkembangan yang terjadi yang berkaitan dengan aktivitas yang diaudit. auditor internal juga dituntut untuk terus meningkatkan kemampuannya. selain independen. penilaian. dan pimpinan organisasi mendapat masukan yang benar-benar jujur dan objektif. 1986:321). Pemisahan organisasi dan status yang memadai bagi auditor internal membebaskan auditor internal dari suatu kecenderungan emosional terhadap pihak yang diaudit. informasi. Segala analisa. apabila tidak mempunyai sikap independen dalam mengumpulkan informasi akan menjadi tidak berguna. internal auditor should be objective in performing audits”. terhindar dari rasa ketakutan tidak loyalitas. buku Internal Auditing (2003:1149).The department should assign to each audit those persons who collectively prossess the necessary knowledge. Dengan independensi maka auditor internal akan bekerja secara objektif. serta mempunyai keleluasaan untuk menyelesaikan tanggung jawabnya. Standard for the Profesional Practice of Internal Auditing tahun 2000 yang dikutip oleh Sawyer. skill and disciplines to conduct the audit properly” (Courtemanche. prosedur pemeriksaan.

yang mempunyai tugas untuk membantu manajemen dan pimpinan organisasi untuk menyelesaikan tanggung jawab mereka agar tujuan perusahaan dapat tercapai. Auditor internal merupakan bagian dari organisasi dalam suatu entitas bisnis secara keseluruhan. Auditor internal harus mampu menjaga keselarasan kerja seluruh pihak auditan. Sehingga jelas bahwa independensi dan kompetensi auditor internal diperlukan oleh unit auditor internal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Auditor internal harus menjaga dan terus memperbaiki hubungannya dengan pihak manajemen auditan. penilaian. perubahan keadaan ekonomi. yang memungkinkan mempengaruhi proses auditnya. sebagaimana prinsip kemitraan sebagai jalan mendapat kepercayaan yang lebih besar dari manajemen sehingga rekomendasi mendapat tanggapan yang positif dari mereka. Bila auditor internal telah mempunyai kemampuan yang memadai maka analisa. yaitu independensi dan kompetensi auditor internal secara jelas saling berkaitan sesuai dengan definisi auditing secara umum. Auditor internal juga harus memahami posisi dan tekanan yang dihadapi pihak manajemen. Auditor internal harus menghilangkan “kaca mata kuda” yang sering mengganggu hubungannya dengan pihak manajemen auditan. Auditor internal makin terlihat dengan masalah-masalah manajerial di perusahaan. Kedua unsur tersebut. Pengertian persoalan menurut manajemen mungkin saja berbeda dengan pengertian menurut auditor internal.berkaitan dengan perubahan peraturan perundangan. Auditor internal akan mendapat manfaat seandainya ia memahami perbedaan tersebut (Courtemanche. dengan demikian auditor internal bisa menetapkan skala prioritas terhadap hal-hal yang menjadi perhatian manajemen. 1986:97). Auditor internal harus banyak bersosialisasi dengan lingkungan dalam perusahaan. perubahan situasi dan kondisi. . Namun demikian. sehingga dia juga harus pula memahami konsep-konsep manajerial sehingga tidak mengganggu prinsip-prinsip kepemimpinan yang ditegakkan oleh manajemen. sehingga dapat memahami dengan baik segala fenomena atau permasalahan yang berkaitan dengan bidang yang diperiksanya. informasi dan rekomendasi yang akan diberikan kepada pihak manajemen akan mempunyai nilai tambah dan bersifat konstruktif bagi pengembangan operasional secara berkesinambungan. ada perbedaan dimensi terhadap keduanya bila ditinjau dari sudut pandang auditor eksternal dan auditor internal.

Tujuan dan prosedur audit haruslah ditujukan pada berbagai risiko yang berhubungan dengan kegiatan yang diaudit. Apabila pelaksanaan audit dilaksanakan oleh seorang auditor internal yang independen dan kompeten maka akan berpengaruh terhadap kualitas pelaksanaan audit dalam menghasilkan suatu rekomendasi yang baik dan bila rekomendasi tersebut ditindaklanjuti oleh pihak manajemen maka akan menghasilkan suatu kinerja yang baik. Informasi hasil audit internal dan saran-saran mengenai hal-hal tertentu dapat disampaikan langsung kepada semua tingkatan manajemen untuk digunakan sebagaimana mestinya. Menurut Hiro (2006:53).Dalam pelaksanaan kegiatan audit. Selanjutnya auditor internal harus melaporkan hasil auditnya dan auditor internal harus terus menerus meninjau dan melakukan tindak lanjuti (follow up) untuk memastikan bahwa terhadap temuan audit yang dilaporkan telah dilakukan tindakan yang tepat. bahwa: “Kegiatan auditor internal harus meliputi perencanaan pemeriksaan. Hal ini penting agar hasil audit dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi pihak manajemen secara keeluruhan.1 . Gambar 2. Audit internal harus mengumpulkan. menginterprestasikan dan membuktikan kebenaran informasi untuk mendukung hasil audit. menganalisis. maka auditor internal bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan tugas audit yang harus disetujui dan ditinjau (reviu) oleh atasan auditor. pengujian dan pengevaluasian hasil dan menindaklanjuti”.

DAFTAR PUSTAKA Arens. ipotesis 2 : Diduga Independensi dan Kompetensi Auditor Internal secara simultan berpengaruh terhadap Kualitas Pelaksanaan Audit pada Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan.. An Integrated Approach”. International Edition. The Accounting Review : 218-239. Randal J Elder & Mark. maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: Independensi dan Kompetensi Auditor Internal terhadap Kualitas Pelaksanaan Audit.. (Terjemahan Amir Abadi Yusuf). Alison. “Experience and Error Frequency Knowledge as Potential Determinants of Audit Expertise”. Eleventh Edition. and James K. 1997. Arens. and James K. New Jersey. “Global Competency Framework for Internal Auditing Project”. 2000. April. 2000. 2006.Auditing :“Auditing an Assurance”. Hipotesis tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: ipotesis 1 : Diduga Independensi dan Kompetensi Auditor Internal secara parsial berpengaruh positif terhadap Kualitas Pelaksanaan Audit pada Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan.Paradigma Penelitian 2. 1991. Loebecke. S Beasley. Salemba Empat. Prentice-Hall of South East Asia. Arens.“Auditing and Assurance Service. Loebecke. Alvin A. Upper Saddle River. Asthon. Alvin A. ninth edition. Inc.3Hipotesis Berdasarkan uraian di atas yang mengacu kepada kerangka pemikiran dan rumusan masalah. Hubbard. Alvin A. Journal IIA . Jakarta.Auditing. Pearson Education. Birket Cs. Edisi Indonesia.

“Undang-Undang Republik Indonesia No. Jan. Vol 38.19 tentang Badan Usaha Milik Negara”. pg 40. April. “Hubungan Kompetensi dan Objektifitas Fungsi Pemeriksa Intern dengan Efektifitas Pemeriksa Intern” Gideon. Sacramento Valley Farm Credit. Simposium Nasional Akuntansi VI Sofyan S Harahap. Kualitas Audit. Analisis Jalur (Path Analysis). “Analisis Pengaruh Independensi. Richard A. 19 Juni. 2000. Managerial Auditing Journal: 12/4.Cetakan ke lima. (1997) 247-250. 1996. Unpad. 2003. 1986 Dale L. “On the functions and objectives of internal audit and their underlying conditions”. Gil. Altamonte Spring.Melalui <http://www. Perusahaan Umum (Perum) dan Perusahaan Perseroan (Persero). Bandung Direktorat jenderal Pembinaan BUMN Departement Keuangan RI. Kadin. Hiro Tugiman. 1982. Theodorus M. Courtemanche. The Institute of Internal Auditors. Flesher. Managerial auditing Journal”. Accounting and Finance: 69-83 Efrizal Sofyan. “Teori Akuntansi”.Jakarta. serta Mekanisme Corporate Governance terhadap Integritas laporan Keuangan”.: 15/7 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. “Management accountants express a desire for change in the functioning of internal auditing”.Modern Internal Auditing. Jakarta. 1993. 2000. Jakarta. Laporan Kinerja BUMN. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. “Internal Auditing Theory and Practice”. Pitman Limited. Wanda A.K Sitepu : 1994 “Analisis Jalur (Path Analysis). Bandung. “Discovering Opportunities for a New Working Relationship Between Internal and External Auditors”. New York: John Willey. 1961.John Wiley & Sons Ltd. Dedy Supardi. “Daftar BUMN di Kotamadya Bandung”. Edisi KE 4. Salemba Empat Sugiyono.”The New Internal Auditing”. Bandung Tuanakotta. 1997.bumn-ri. Bernadi. ACA. 1999. Janet L. Edge and Farley. Edisi Revisi. 2004. Florida. Loebbecke and William G. “Internal Auditing” : Principles and Techniques. Spencer. 2000. Moeller Robert and Wittington. Cetakan 9. Edisi Ketiga. Tesis Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Lawrence B. “Reliabilitas dan Validitas”. 1994.H. Unpad. Maitland Avenue. 13 : 2001. Pustaka Pelajar Sawyer et al. James K. “Pandangan Baru Internal Auditing”. CV Alphabet. FE-UI Jakarta The Institute of Internal Auditors. No. Farland. Nirwana S. Florida. inc. 2001. 1988. (2000) 331-337. Victor Z BUMN on line Directory. Jakarta.Ronald Press Publication. Herbett. Canada. Florida Sekaran mayangsari. London Pitman Publisiting. 2003. Iss 1. Mautz and Sharaf. Auditing : Petunjuk Pemeriksaan Akuntan Publik. FMIPA. Yogyakarta. “The Professional Practice Framework. Raja Grapindo Persada Jakarta Standars Profesional Akuntan Publik. The Internal Auditing Handbook”. 2001. Mcc. Wailance. Fraud Detection : “The effect of client integrity & competence and auditor cognitive style”. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. Ratliff. Washington.htm> Board of Governors of the Federal Reserve System. . 2004 Saifudin Azwar. “The Philosophy of Auditing”. 2001. 2004. Unit Pelayanan Statistika. 1995. Colbert. 2006. New York. “Pengaruh Internal Auditing Terhadap Tingkat Kesehatan Bank” (Suatu kasus pada beberapa Bank di Kotamadya Bandung). No. H. Cai Chun. “Tentang Kedudukan Auditor Internal di BUMN. Florida. Victor & Herbert Witt.5 Chambers dan Gerald. Penerbit Kanisius. Tentang Tata Cara Pembinaan dan Pengawasan Perusahaan Jawatan (Perjan). Usa: John Wiley and Sons. Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal : 2004 “Standar Profesi Audit Internal”. “Metode Penelitian”. 2004. 2003.“The Practice of Modern Internal Auditing”. 1982. “Faktor-faktor yang mempengaruhi Fungsi Audit Internal” Harun Al Rasyid. Pickert K. Hiro Tugiman. Richard L. The National Public Accountant.American Accounting Association. External Auditor Evaluation of the internal audit function”. 2003.com/directory. 1991.Fifth Edition. Desertasi tidak dipublikasikan. “Modern Internal Auditing” : appraising Operations and Control. 2004.12 dan 13 : 1998.Brink Z. Jakarta. “Altamonte Springs. 2000. “Pengaruh Peran Auditor Internal serta Faktor-faktor Pendukungnya Terhadap Peningkatan Pengendalian Internal dan Kinerja Perusahaan”.“Interagency Policy Statement on the Internal Audit Function and its Oat sourcing”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.