Anda di halaman 1dari 9

Pendidikan Tradisional feat Modernisasi

REP | 08 November 2011 | 13:58 Dibaca: 202 Komentar: 0 Nihil Pendidikan Traditionalis feat Modernisasi Suatu pernyataan yang pasti dibenarkan oleh setiap orang yang ingin menghendaki kemajuan. Ilmu sebagai prasyarat mutlak untuk memulai segala hal, tanpa ilmu orang sekarang mungkin tidak bisa berbuat apa-apa semua yang ada di zaman ini kerena peran ilmu pengetahuan . Tidak pernah tercatat dalam sejarah kemajuan satu bangsa lantaran pendidikannya yang rendah. Tak ada satu bangsa yang terbelakang menjadi hebat, melainkan mereka memperbaiki anak didik dan pemuda mereka dengan pendidikan yang layak. Tanpa pendidikan yang memadai, akan sulit bagi masyarakat untuk mencapai kemajuan. Pendidikan sekarang ini juga dihadapkan pada persoalan-persoalan yang cukup kompleks, yakni bagaimana pendidikan mampu mempersiapkan manusia yang berkualitas, bermoral tinggi dalam menghadapi perubahan masyarakat dunia yang begitu cepat, sehingga produk pendidikan Islam tidak hanya melayani dunia modern, tetapi mempunyai pasar baru atau mampu bersaing secara kompettif dan proaktif dalam dunia masyarakat modern. Terdapat dua tipe pendidikan dalam masyarakat untuk mencapai kemajuan yang bernilai sempurna. 1. Pendidikan tradisional (konsep lama) Sebagai agen perubahan sosial, corak pendidikan tradisional yang berada dalam atmosfir modernisasi dan globalisasi dewasa ini dituntut untuk mampu memainkan perannya secara dinamis dan proaktif. Kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan dan kontribusi yang berarti bagi perbaikan moral dan akhlak umat, baik pada tataran intelektual teoritis maupun praktis. Pendidikan dengan corak tradisional bukan sekadar proses penanaman nilai moral untuk membentengi diri dari ekses negatif globalisasi. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana nilai-nilai moral yang telah ditanamkan pendidikan tradisional tersebut mampu berperan sebagai kekuatan pembebas (liberating force) dari himpitan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan sosial budaya dan ekonomi. Paradigma pendidikan tradisional bukan merupakan sesuatu yang salah atau kurang baik, tetapi model pendidikan yang berkembang dan sesuai dengan zamannya, yang tentu juga memiliki kelebihan dan kelemahan dalam memberdayakan manusia, apabila dipandang dari era modern ini. sangat jelas merupakan perwujudan dari pendidikan tradisional yang sangat mementingkan nilai-nilai luhur memiliki kekuatan spiritual keagamaan,pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia. Corak Pemikiran dalam pemikiran pendidikan tradisional dengan yang tidak cukup sulit, sebab dalam pendidikan ada istilah reconstruktion end canges, Artinya yang tradisi akan selalu diakses sebagai tipe awal, kemudian dtambahi dengan modifikasi-modifikasi baru (pendidikan modern). Selain itu dalam menghadapi era milenium ketiga ini nampaknya pendidikan Islam harus menyiapkan sumber daya manusia yang lebih handal yang memiliki kompotensi untuk hidup bersama dalam era global. 2. Konsep pendidikan modern (konsep baru), yaitu; pendidikan menyentuh setiap aspek kehidupan, pendidikan merupakan proses belajar yang terus menerus, pendidikan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi dan pengalaman, baik di dalam maupun di luar situasi sekolah, pendidikan dipersyarati oleh kemampuan dan minat peserta didik, juga tepat tidaknya situasi belajar dan efektif , berfungsi memberikan kaitan antara subjek dengan lingkungan sosial kulturalnya yang terus berubah dengan cepat. Metode berfikir masyarakat tradisionalis memandang bahwa pendidkian sebagai salah satu bidang kehidupan yang sangat fundamental di samping persoalan hubungan antara manusia dengan Tuhan (vertical). Oleh

karena itu proses belajar mengajar dalam menacari ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari agama. Ilmu pengetahuan bersumber dari Sang Causa Prima demikian juga agama muaranya akan kepada Sang Pencipta pengetahuan hakiki tentang Tuhan. Pemisahan agama dengan ilmu pengatahuan juga akan menyebabkan ilmu dan teknologi kering akan nilai. Sedangkan memisahkan agama dari ilmu pengetahuan akan menemukan agama sebatas coretan-coretan, teks-teks dan nash-nas yang tidak berdimensi kemaslahatan. Ilmu pengetahuan yang tidak dibarengi nilai-nilai moral-agama melahirkan ilmu yang materialistik bahkan ateis. Ini terbukti dengan perkembangan science dan teknologi abad ini yang berdampak pada dehumanisasi menjauhkan manusia dari unsur kemanusiaannya, disharmoni, disfungsi, disalokasi, krisis global dan krisis multidimensional. Ilmu pengetahuan bersumber dari Tuhan, dikaji melalui panca indra dan akal. Fikir dan dzikir merupakan keniscayaan dalam memperoleh ilmu pengetahaun. Pengkajian ayat Tuhan baik kitab suci (sakral) maupun alam semesta (kauniyah) dipadukan dengan metodologi yang rasionalis-empiris dan teologis-spritualis. Sehingga pencarian dan penemuannya lebih komprehensif dan menyentuh kebutuhan manusia yang material dan immaterial, terpenuhinya kebutuhan fisik-material dan psikis-spritual. By: Khoirotunnisa Alyna

Filsafat Pendidikan
Diposkan oleh Griya Savingnet di 10:49 0 komentar

FILSAFAT PENDIDIKAN BEHAVIORISME A. Pengertian Behaviorisme Behaviorisme adalah aliran psikologi yang kemudian sangat berpengaruh terhadap bidang pendidikan yang menekankan pada tingkah laku/perilaku manusia (individu) sebagai makhluk yang reaktif yang memberikan respon terhadap lingkungan di sekitarnya. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku orang tersebut. Behaviorisme muncul awalnya melalui penelitian Psikolog Rusia bernama Ivan Pavlov (1849-1936). Penelitian yang dilakukan Ivan Pavlov adalah penelitian yang dilakukan terhadap beberapa anjing. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Pavlov, anjing-anjing yang ada di laboratoriumnya mulai mengeluarkan air liur pada saat mereka diberi makan, bahkan sebelum mereka bisa melihat atau mencium aroma makanannya. Anehnya, mereka mengeluarkan air liur ketika mereka melihat penjaganya atau pada saat mereka mendengar langkah kaki penjaganya. Selanjutnya penelitian sederhana ini membimbing Pavlov untuk melakukan serangkaian percobaan yang cukup terkenal; dia akan membunyikan bel atau suara berdengung yang dua-duanya tidak menyebabkan anjing berliur dan kemudian dengan Pavlov memberi makan anjing-anjingnya, sebuah stimulus yang mengarah pada keluarnya liur. Dengan segera Pavlov menemukan bahwa apabila prosedur yang sama diulang sesering mungkin, bunyi bel dan dengung saja sudah mengakibatkan keluarnya air liur. Penelitian Pavlov ini kemudian menghasilkan teori stimulus-respon yang bernama classical Condisioning. John B. Watson (1878-1958), mengikuti petunjuk Pavlov, menegaskan bahwa tingkah laku manusia adalah persoalan dari refleks-refleks yang dikondisikan. Watson mendalilkan bahwa psikologi sebaiknya

menghentikan studi tentang apa yang manusia pikir dan rasakan, dan mulai mempelajari apa yang dilakukan orang-orang. Bagi Watson, lingkungan adalah pembentuk tingkah laku utama. Ia berpendapat bahwa lingkungan anak dapat dikendalikan, kemudian ia dapat mengatur anak ke dalam banyak tipe manusia yang diinginkan.

Tokoh Behavioris yang paling berpengaruh adalah BF. Skinner. Teori tingkah laku Skinner yang terkenal bernama Operant Conditioning. Teori ini berdasar dari Eksperimen yang dilakukan oleh Skinner. Dalam Eksperimen tersebut, seekor tikus diletakkan dalam kotak (Skinner Box). Lefrancois (2000.132) mengatakan untuk eksperimennya, kotak tersebut berisi sebuah pengungkit, sebuah tali, sebuah jaring bermuatan listrik yang terletak di lantai, dan sebuah baki makanan, semuanya diatur sedemikian rupa sehingga apabila tikus menekan pengungkit, lampu akan menyala dan sebutir makanan akan masuk ke dalam baki makanan. Pada kondisi seperti itu, kebanyakan tikus akan dengan segera belajar menginjak pengungkit, lampu akan menyala dan sebutir makanan akan masuk ke dalam baki makanan. Pada kondisi seperti itu, kebanyakan tikus akan dengan segera belajar menginjak pengungkit, dan mereka akan melakukan hal serupa selama beberapa waktu meskipun mereka tidak selalu memperoleh makanan setiap kali mereka menekan pengungkit. Demikian pula tikus tersebut dapat dengan tiba-tiba diarahkan untuk menolak pengungkit jika pada saat menekannya akan mengaktifkan arus listrik pada lantai jaring. Tetapi, tikus-tikus tadi juga akan belajar menekan pengungkit untuk memadamkan arus listrik. Eksperimen ini menghasilkan teori tingkah laku yang menekankan bahwa tindakan-tindakan seseorang dapat diarahkan melalui reinforcement/penguatan dan punishment/hukuman.

Prinsip-prinsip Pendidikan Behaviorisme Terhadap bidang pendidikan behavorisme memberi pengaruh sangat besar, terutama pada abad pertengahan. Berikut ini prinsip-prinsip pendidikan behaviorisme:

a.Manusia adalah binatang yang berkembang lebih dari lainnya dan ia belajar dalam cara yang sama yang dipelajari oleh binatang-binatang lain. Manusia tidak memiliki banyak martabat atau kebebasan yang khusus. Benar bahwa manusia adalah organism alam yang kompleks, tetapi terutama ia masih merupakan bagian dari kerajaan binatang.

Tugas dari behavioris adalah mempelajari hukum-hukum tingkah laku. Hukum-hukum ini sama bagi semua binatang. Termasuk manusia. b. Pendidikan adalah proses pengaturan tingkah laku Dari perspektif behavioris orang deprogram untuk bertindak dengan cara-cara tertentu melalui lingkungan mereka. Mereka diberi penghargaan karena tindakan dari beberapa cara dan dihukum karena tindakan dengan cara lain. Aktivitas-aktivitas yang menerima penghargaan positif tersebut cenderung diulang, sementara penghargaan negatif cenderung dimatikan. Tugas pendidikan adalah menciptakan lingkungan belajar yang mengarahkan pada tingkah laku yang diinginkan. Pendidikan di sekolah dan institusi pendidikan lainnya kemudian dipandang sebagai lembaga pendesainan budaya.

c. Peran guru menciptakan lingkungan belajar yang efektif Skinner menyatakan bahwa murid-murid itu belajar dalam kehidupan sehari-hari melalui konsekuensi dari tindakan mereka. Tugas guru itu mengatur lingkungan belajar yang akan menyediakan penguatan untuk tindakan murid yang diinginkan . Berikut ini contoh lingkungan belajar yang harus dikondisikan guru:

d. Efisiensi, ekonomi, ketelitian, dan obyektifitas adalah pusat perhatian nilai dalam pendidikan Teknik-teknik tingkah laku dalam behaviorisme telah diaplikasikan untuk praktek-praktek bisnis, seperti managemen sistem, periklanan, dan promosi penjualan dengan banyak sukses. Hal ini mengarahkan sektor besar dari komunitas untuk bekerjasama dengan kaum behavioris psikologis untuk menjadikan sekolah-sekolah dan pendidik-pendidik itu bertanggungjawab (bisa melakukan pengkondisian). Gerakan bertanggungjawab ini telah berusaha memperbaiki tanggungjawab hasil pendidikan apa yang dipelajari anak pada mereka yang melaksanakan pengajaran. Hal ini telah menstimulasikan perhatian dalam pengaplikasian teknik, obyektif, dan pelaksanaan managemen usaha yang berdasarkan pengukuran dalam konteks sekolah.

B. Kelemahan Dan Kelebihan Teori Behaviorisme

Teori behavioristik sering kali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan atau belajar yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon ini dan tidak dapat menjawab hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan antara stimulus yang diberikan dengan responnya. Namun kelebihan dari teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shapping yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.

C. Implementasinya dalam Dunia Pendidikan di Indonesia Teori ini di dalam linguistik diikuti antara lain oleh L.Bloomfield dan B.F.Skinner. Dalam hal belajar, termasuk belajar bahasa, teori ini lebih mementingkan faktor eksternal ketimbang faktor internal dari individu, sehingga terkesan siswa hanya pasif saja menunggu stimulus dari luar (guru). Belajar apa saja dan oleh siapa saja (manusia atau binatang) sama saja, yakni melalui mekanisme stimulus respons. Guru memberikan stimulus, siswa merespons, seperti tampak pada latihan tubian (drill) dalam pelajaran bahasa Inggris. Pelajaran yang mementingkan kaidah tatabahasa, struktur bahasa (fonem, morfem, kata, frasa, kalimat) dan bentuk-bentuk kebahasaan merupakan penerapan behaviorisme, karena behaviorisme lebih mementingkan bentuk dan struktur bahasa ketimbang makna dan maksud.

FILSAFAT PENDIDIKAN KONSTRUKTIVISME A. Pengertian Filsafat Konstruktivisme

Konstruktivisme adalah suatu filsafat pengetahuan yang memiliki anggapan bahwa pengetahuan adalah hasil dari konstruksi (bentukan) manusia itu sendiri. Manusia menkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungan mereka. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan yang sesuai (Suparno, 2008:28). Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada yang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh tiaptiap orang. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi tetapi merupkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dan dalam proses itulah keaktivan dan kesungguhan seseorang dalam mengejar ilmu akan sangat berperan. Berbicara tentang konstruktivisme tidak dapat lepas dari peran Piaget. J. Piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme dalam proses belajar. Menurut Wadsworth (1989) dalam Suparno (2008), teori perkembangan intelektual Piaget dipengaruhi oleh keahliannya dalam bidang biologi. Teori pengetahuan Piaget adalah teori adaptasi kognitif. Seperti setiap organisme selalu beradaptasi dengan lingkungannya untuk dapat mempertahankan dan memperkembangkan hidup, demikian juga struktur pemikiran manusia. Berhadapan dengan pengalaman, tantangan, gejala dan skema pengetahuan yang telah dipunyai seseorang ditantang untuk menanggapinya. Dan dalam menanggapi pengalaman-pengalaman baru itu skema pengalaman seseorang dapat terbentuk lebih rinci, dapat pula berubah total. Bagi Piaget, pengetahuan selalu memerlukan pengalaman, baik pengalaman fisis maupun pengalaman mental. Berkenaan dengan asal-usul konstruktivisme, menurut Von Glasersfeld (1988) dalam Paul Suparno (2008), pengertian konstruktif kognitif muncul pada abad ini dalam tulisan Mark Baldwin yang secara

luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Namun sebenarnya gagasan pokok konstruktivisme sudah dimulai oleh Gimbatissta Vico, epistemology dari Italia. Dialah cikal bakal konstruktivisme. Pada tahun 1970, Vico dalam De Antiquissima Italorum Sapientia mengungkapkan filsafatnya dengan berkata, Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan. Dia menjelaskan bahwa mengetahui berarti mengetahui bagaimana membuat sesuatu. Bagi Vico pengetahuan lebih menekankan pada struktur konsep yang dibentuk. Lain halnya dengan para empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan itu harus menunjuk kepada kenyataan luar. Namun menurut banyak pengamat, Vico tidak membuktikan teorinya (Suparno: 2008). Sekian lama gagasannya tidak dikenal orang dan seakan hilang. Kemudian Jean Piagetlah yang mencoba meneruskan estafet gagasan konstruktivisme, terutama dalam proses belajar. Gagasan Piaget ini lebih cepat tersebar dan berkembang melebihi gagasan Vico.

B. Kelebihan dan Kekurangan Teori Konstruktivisme Kelebihan Berfikir dalam proses membina pengetahuan baru, murid berfikir untuk menyelesaikan masalah, menjana idea dan membuat keputusan. Faham :Oleh kerana murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi. Ingat :Oleh kerana murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Yakin Murid melalui pendekatan ini membina sendiri kefahaman mereka. Justeru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru. Kemahiran sosial :Kemahiran sosial diperolehi apabila berinteraksi dengan rakan dan guru dalam membina pengetahuan baru. Seronok :Oleh kerana mereka terlibat secara terus, mereka faham, ingat, yakin dan berinteraksi dengan sihat, maka mereka akan berasa seronok belajar dalam membina pengetahuan baru.

Kelemahan Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung.

C. Implementasinya dalam Pendidikan di Indonesia Teori Piaget di atas melahirkan teori konstruktivisme dalam belajar. Piaget mengatakan bahwa struktur kognisi itu dapat berubah sesuai dengan kemampuan dan upaya individu sendiri. Menurut konstruktivisme, pebelajar (learner, orang yang sedang belajar) akan membangun pengetahuannya sendiri berdasarkan apa yang sudah diketahuinya. Karena itu belajar tentang dan mempelajari sesuatu itu tidak dapat diwakilkan dan tidak dapat diborongkan kepada orang lain. Siswa sendiri harus proaktif mencari dan menemukan pengetahuan itu, dan mengalami sendiri proses belajar dengan mencari dan menemukan itu. Di sini diperlukan pemahaman guru tentang apa yang sudah diketahui pebelajar, atau apa yang disebut pengetahuan awal (prior knowledge), sehingga guru bisa tepat menyajikan bahan pengajaran yang pas: Jangan memberikan bahan yang sudah diketahui siswa, jangan memberikan bahan yang terlalu jauh bisa dijangkau oleh siswa. Patut diingat bahwa sebelum belajar bahasa Indonesia siswa sudah mempunyai bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai pengetahuan awal mereka. Pengetahuan, pengalaman, dan keterampilannya dalam bahasa daerahnya itu harus dimanfaatkan oleh guru untuk belajar berbahasa Indonesia dengan lebih baik.