Anda di halaman 1dari 3

Sorak sorai para petani mengiringi satu per satu gulungan kertas yang mulai dibuka.

Sejurus kemudian, panitia lelang mulai membacakan nominal yang tertulis di kertas tersebut. Semakin tinggi harga, semakin riuh pula teriakan mereka. Begitulah suasana pelelangan hasil bumi di markas Kelompok Tani Barokah Alam Raya, Desa Karangwuni, Kulon Progo. Cara petani di Kulon Progo dalam menjual hasil panen kepada pengepul memang unik. Mereka punya sistem sendiri, mulai dari berhubungan dengan pengepul sampai menentukan harga jual. Petani di Desa Karangwuni biasanya tergabung dalam beberapa kelompok tani. Satu kelompok tani terdiri dari sekitar 30 petani. Setiap petani dalam satu kelompok akan menjual hasil panen dengan harga sama. Harga jual itu didapat dari penawaran pengepul yang disepakati pada saat pelelangan. Sebelum pelelangan dimulai, setiap pengepul yang datang disediakan selembar kertas kecil untuk menuliskan harga yang ditawarkan. Kertas tersebut nanti dimasukkan ke dalam kotak dan tidak boleh dibuka sebelum pelelangan dimulai. Sekitar jam delapan malam, kotak tersebut dibawa ke markas kelompok tani yang dijadikan titik lelang. Satu per satu kertas pun dibuka. Harga yang ditawarkan pengepul untuk masing-masing kelompok tani dibacakan di depan seluruh petani dan ditulis di papan lelang. Harga yang paling tinggi nantinya disepakati sebagai harga jual untuk pengepul dan seluruh petani yang tergabung dalam kelompok tani. Dengan begitu, harga tidak dipermainkan oleh pengepul, posisi tawar kita sebagai petani pun bagus, Ujar salah seorang petani. Pertengahan Mei ini memang sudah masuk masa panen untuk petani cabai di daerah Kulon Progo. Sabtu (27/5) malam lalu adalah pelelangan ke tiga. Untuk seluruh desa Karangwuni, terkumpul 5.531 Kg cabai Helix dan 3.206 Kg cabai Lado. Ini cuma sekali petik dan baru petikan ketiga, ujar Suparman, salah seorang petani. Harga tertinggi malam itu mencapai 12.000 rupiah per kilogram untuk cabe Helix dan 11.825 rupiah per kilogram untuk cabe jenis Lado. Selepas petikan kelima hasilnya bisa jauh lebih banyak. Puncak hasil panen biasanya pada petikan ketujuh, satu kelompok tani bisa menghasilkan lebih dari satu ton cabe dalam sekali petik. Kalau habis panen raya, cari lima puluh juta gampang mas, celetuk salah seorang petani. Duite iso sekarung(.....), yang lain menimpali. celetukan itu terdengar seperti candaan. tapi jika dihitung-hitung, kita bisa tercengang sendiri. Jika melihat kondisi sekarang, harga cabai sekitar 11.300 per Kg. Bisa dihitung sendiri berapa perputaran uang di desa ini. Kesuburan tanah di wilayah pesisir Kulon Progo memang tidak diragukan lagi. Memasuki lahan pertanian di sepanjang pesisir pantai, mata kita langsung dimanjakan dengan hamparan hijau aneka tanaman. Agak sedikit kontras jika kita melihat tanah yang kita injak: gumuk pasir kehitaman dan gersang. Hasil bumi yang berlimpah juga didapat dari kerapian sistem pertanian yang dijalankan masyarakat Kulonprogo. Setiap awal masa tanam diadakan musyawarah petani. Di situ ditentukan tanaman apa yang akan ditanam.

Petimbangannya adalah musim penghujan, hari pasaran, dan komoditas yang ditanam petani di daerah lain. Dengan begitu, hasil bumi yang dipanen bisa lebih berkualitas, harga pun tidak ditenggelamkan oleh kondisi pasar. Awal maret lalu para petani memasuki masa tanam. Banyaknya bibit dihitung per kepek (bungkus bibit). Satu kepek bisa menghasilkan satu Kwintal cabai. Dalam sekali tanam, satu petani bisa menebar tujuh kepek. Di akhir bulan Mei, cabai-cabai sudah bisa dipanen. Jika harga cabai stabil, pohon cabai dirawat terus dan bisa dipanen sampai akhir tahun. Ini kelebihan lahan pantai mas, kalau dirawat terus umur tanamannya panjang, ujar Supardi, salah seorang petani. Lahan pertanian di Kulon progo juga masih dimiliki oleh warganya sendiri. sehingga, sebagian besar petani menggarap lahannya sendiri. Buruh tani pun diupah dengan harga yang layak. Sumarni, yang menggarap lahan milik tetangganya, mengantongi upah tiga puluh ribu rupiah per hari. Suami saya juga kerja begini untuk hidup sekeluarga, tuturnya. Selain cabai, petani juga menanam melon dan semangka. Panen melon kemarin, lima puluh hari bisa dapat sekitar 30 juta, kisah Widodo, yang memiliki dua petak lahan di wilayah pesisir Kulon Progo. Besarnya peranan lahan di Kulon Progo dalam menghidupi masyarakat sekitar juga menarik perhatian para peneliti dari berbagai universitas. Salah satunys Dr. Ir. Djafar Shiddieq, Dosen Fakultas Pertanian UGM. Bersama timnya, pada 2008 lalu ia meneliti bagaimana kesuburan lahan di Kuloprogo menyokong perekonomian masyarakat sekitar. Dalam satu bulan, rata-rata satu orang petani di Kulon Progo dengan lahan 1000 meter persegi atau sekitar 0,1 hektare bisa mendapatkan penghasilan bersih sebanyak 2.250.000 rupiah. Jika dilihat secara lebih luas, penghasilan bersih wilayah lahan pasir pantai Kulonprogo lebih dari lima milyar per bulan. Angka itu didapat dari perhitungan jumlah petani yang tergabung di masing-masing kelompok tani. Di Kulon Progo terdapat 25 kelompok tani. Kelompok tersebut berada di daerah Krisik (1 kelompok), Karang Sewu (3 kelompok), Bugel (2 kelompok), Pleret (3 kelompok), Garongan (3 kelompok), Glagah (3 kelompok), Karangwaru (4 kelompok), Palian (2 kelompok), Sundatan ( 2 kelompok), Jangkaran (2 kelompok). Setiap kelompok tani beranggotakan rata-rata 100 orang petani. Jadi, dengan asumsi bahwa ada 2.500 orang petani diwilayah Kulon Progo, pohon uang yang tumbuh di wilayah lahan pasir pantai Kulonprogo berbuah 5.625.000.000 rupiah per bulan. Kesuburan itu juga mengundang tangan-tangan pengusaha untuk ikut menjamah lahan Kulon progo. Awal 2006 lalu sejumlah investor datang di bawah paying PT Jogja Magasa Iron (JMI) bersama Keraton Yogyakarta mulai melirik lahan di pesisir pantai Kulonprogo untuk dikeruk. Mereka tergiur dengan kandungan 605 juta ton cadangan pasir besi yang mengendap di tanah Kulonprogo. Selain itu, tanah Kulon progo juga mengandung Vanadium dan Titanium untuk mewujudkan niat para investor tersebut, sebuah pilot project (proyek percontohan) pun didirikan di pesisir Pantai Trisik, Kulon Progo.

rencananya, penambangan tersebut akan dilangsungkan di Kecamatan Wates, Panjatan, Temon, dan Galur. Jika proyek penambangan berjalan, lahan di Kulon progo terancam rusak. Kerusakan ini, berdasarkan penelitian yang diadakan Fakultas Pertanian UGM, karena inersi tanah di Kulon Progo akan berkurang. Sebab, proses pertambangan akan membuat gunduk lahan pasir yang selama ini menjadi unggulan wilayah pantai Kulon Progo dikeruk terus-menerus. Aktivitas ini akan membuat tanah di Kulon Progo rusak. Inilah salah satu alasan utama yang mendorong warga di Kulon Progo menolak tambang pasir besi. Berbagai gerakan dilakukan warga untuk menentang jalannya pertambangan. Buntutnya, terjadi kriminalisasi beberapa orang petani seperti Tukijo dan dua orang kerabatnya. Meskipun upaya-upaya dari pihak JMI untuk membujuk warga agar menerima proyek tambang gencar dilakukan, sebagian besar warga tetap bersikeras untuk menolak. menurut mereka, satu-satunya jalan keluar adalah pembatalan tambang. Bahkan Tukijo yang telah mendekam di penjara pun tetap tak sedikitpun mengubah niatnya untuk menolak proyek tambang. Kita akan terus melawan, dan ccara kita melawan adalah dengan terus menanami lahan. Kita melawan dengan bertani, tegasnya. Sikap serupa dinyatakan Widodo. Tidak ada win-win sollution. Sebab, kalau proyek tambang berjalan, lahan akan rusak dan pertanian akan terhenti. Artinya, Proyek tambang tidak boleh berjalan agar kami bisa terus bertani, ujar salah seorang tokoh Paguyuban Petani lahan Pantai (PPLP) itu.