Anda di halaman 1dari 2

Kingdom : Plantae Divisio : Spermatophyta Sub divisio : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Bangsa : Rosales Suku : Fabaceae Marga : Pithecellobium

Spesies : Pithecellobium lobatum Benth (Corner, EJH and Watanabe, 1996): Corner, EJH and Watanabe. (1996). Collection of Illustrated Topical Plants. Kyoto. p. 300.

Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Divisi : Magnoliophyta (berbunga) Kelas : Magnoliopsida (dikotil) Ordo : Fabales Famili : Mimosaceae (polong-polongan) Genus : Pithecollobium Spesies : Pithecollobium lobatum (Benth.) (Steenis, V., 2005)

Sistematika tumbuhan jengkol (Tjitrosoepomo, 2000): Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Bangsa : Rosales Suku : Fabaceae Genus : Pithecellobium Spesies : Pithecellobium jiringa (Jack) Prain

Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Bangsa : Fabales

Suku : Mimosaceae Marga : Pithecellobium Spesies : Pithecellobium lobatum Benth. (Watanabe, 1969; Pandey, 2003).

Morfologi Tanaman jengkol berupa pohon dengan tinggi sekitar 20 meter. Batang tegak, bulat, berkayu, licin, percabangan simpodial, coklat kotor. Memiliki daun majemuk yang berhadapan, lonjong, panjang 10-20 cm, lebar 5-15 cm, tepi rata, ujung runcing, pangkal membulat, pertulangan menyirip, tangkai panjang 0,5-1 cm, hijau tua. Bunganya tersusun majemuk, bentuk tandan, di ujung dan ketiak daun, tangkai bulat, panjang sekitar 3 cm, ungu, kelopak bentuk mangkok, benang sari kuning, putik silindris, kuning, mahkota lonjong, putih kekuningan. Buah jengkol berupa bulat pipih, coklat kehitaman. Biji pipih, berkeping dua, putih kekuningan. Akar tunggang berwarna coklat kotor (Depkes RI, 1994). Corner, EJH and Watanabe. (1996). Collection of Illustrated Topical Plants. Kyoto. p. 300.

Pengukuran Aktivitas Antimikroba Penentuan kepekaan bakteria patogen terhadap antibiotik dapat dilakukan dengan salah satu dari dua metode pokok yaitu dilusi atau difusi. Penting sekali menggunakan metode standar untuk mengendalikan semua faktor yang mempengaruhi aktivitas antibiotik. a. Metode Dilusi Metode ini menggunakan antibiotik dengan kadar yang menurun secara bertahap, baik dengan media cair atau padat. Kemudian media diinokulasi bakteri uji dan dieramkan. Tahap akhir dilarutkan antimikroba dengan kadar yang menghambat atau mematikan. Uji kepekaan cara dilusi agar memakan waktu dan penggunaannya dibatasi pada keadaan tertentu saja (Jawetz et al, 2001). b. Metode Difusi Metode yang paling sering digunakan adalah metode difusi agar. Cakram kertas saring berisi sejumlah tertentu obat ditempatkan pada permukaan medium padat yang sebelumnya telah diinokulasi bakteri uji pada permukaannya. Setelah inkubasi, diameter zona hambatan sekitar cakram dipergunakan mengukur kekuatan hambatan obat terhadap organisme uji. Metode ini dipengaruhi oleh beberapa faktor fisik dan kimia, selain faktor antara obat dan organisme (misalnya sifat medium dan kemampuan difusi, ukuran molekular dan stabilitas obat). Meskipun demikian, standarisasi faktor-faktor tersebut memungkinkan melakukan uji kepekaan dengan baik (Jawetz et al, 2001).