Anda di halaman 1dari 8

BBM, Kebijakan Energi, Subsidi, dan Kemiskinan di Indonesia

Ditulis oleh Teguh Dartanto



ukuran huruf Cetak E-mail

Beri penilaian

1 2 3 4 5
(9 suara)

1. Pendahuluan Kenaikan harga minyak yang mencapai 60.63 US$/Barel memberikan masalah tersendiri bagi negara-negara pengimpor minyak. Kenaikan harga minyak secara langsung akan meningkatkan biaya produksi barang dan jasa dan beban hidup masyarakat dan pada akhirnya akan memperlemah pertumbuhan ekonomi dunia. Terdapat empat faktor utama yang mempengaruhi kenaikan harga minyak secara tajam. Pertama, invasi Amerika Serikat ke Irak: invasi ini menyebabkan ladang minyak di Irak tidak dapat berproduksi secara optimal sehingga supply minyak mengalami penurunan. Kedua, permintaan minyak yang cukup besar dari India dan Cina. Ketiga, badai Katrina dan Rita yang melanda Amerika Serikat dan merusak kegiatan produksi minyak di Teluk Meksiko [7]. Keempat, ketidakmampuan dari OPEC untuk menstabilkan harga minyak dunia.

Gambar 1. Rata-rata mingguan fluktuasi harga minyak mentah OPEC Kenaikan harga minyak menjadi petaka tersendiri bagi pemerintah Indonesia. Pada kenyataannya Indonesia yang saat ini dikenal sebagai salah satu penghasil minyak dunia sekarang merupakan salah satu negara pengimpor minyak [6]. Kenaikan ini akan meningkatkan beban anggaran pos subsidi BBM dan pada akhirnya akan meningkatkan defisit APBN dari sekitar 0.7% Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi 1.3% PDB [2]. Upaya pemerintah untuk menutupi defisit APBN adalah menaikkan BBM pada bulan Maret 2005 sebesar 29% dan disusul

kenaikan yang tidak wajar dibulan Oktober 2005 sebesar lebih dari 100%. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) selalu menimbulkan pro-kontra dikalangan masyarakat dan banyak opini/pendapat muncul tanpa diikuti oleh data-data yang akurat sehingga membingungkan masyarakat. Pemahaman yang komprehensif mengenai permasalahan BBM akan membuka cakrawala dan pola pikir baru terhadap permasalahan yang terjadi. Pada tulisan ini, penulis berupaya memberikan gambaran yang obyektif terhadap permasalahan BBM di Indonesia baik dari sisi produksi, kebijakan energi nasional, alokasi pemanfaatan BBM, dampak kenaikan BBM terhadap inflasi, kemiskinan dan permasalahan sosial lainnya. 2. Produksi Minyak Indonesia Cadangan minyak Indonesia pada tahun 1974 sebesar 15.000 metrik barel dan terus mengalami penurunan. Pada tahun 2000 cadangan minyak Indonesia sekitar 5123 metrik barel (MB) dan tahun 2004 menjadi sekitar 4301 MB. Penurunan cadangan minyak disebabkan oleh dua faktor utama yaitu eksploitasi minyak selama bertahun-tahun dan minimnya eksplorasi atau survei geologi untuk menemukan cadangan minyak terbaru. Tanpa ditemukan cadangan minyak baru, praktis persedian minyak di Indonesia hanya dapat dieksploitasi sampai sekitar 30 tahunan. Tabel 1 menunjukkan bahwa produksi minyak di Indonesia juga mengalami penurunan dari tahun ketahun. Produksi minyak tertinggi di Indonesia terjadi pada tahun 1977 yaitu 1686.2 (ribu barel/hari) dan terus mengalami penurunan hingga tahun 2004 yaitu sebesar 1094.4 (ribu barel/hari). Penurunan ini disebabkan oleh sumur-sumur yang ada sudah tua, teknologi yang digunakan sudah ketinggalan dan iklim investasi disektor pertambangan minyak kurang kondusif sehingga tidak banyak perusahaan asing maupun nasional melakukan investasi disektor perminyakan. Sedangkan disisi konsumsi, konsumsi terhadap produk minyak/Bahan Bakar Minyak terus mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Sejak tahun 2004, jika hasil produksi minyak Indonesia di semua kilang dihitung, maka hasilnya tetap tidak dapat mencukupi kebutuhan dalam negeri. Sejak tahun 2004, Indonesia telah mengalami defisit sebesar 49.3 ribu barel/hari. Tabel 1. Kondisi perminyakan di Indonesia

Kondisi perminyakan Indonesia2000 2001 2002 2003 2004 Produksi minyak 1272.51214.21125.41139.61094.4 Konsumsi minyak 996.4 1026 1075.41112.91143.7 Impor minyak mentah 219.1 326 327.7 306.7 330.1 Ekspor minyak mentah 622.5 599.2 639.9 433 412.7 Kapasitas pengilangan 1057 1057 1057 1057 1055.5 Output pengilangan 968.2 1006.11002.4944.4 1011.6 Cadangan minyak(MB)* 5123 5095 4722 4320 4301
* Data ini merupakan data stock (1000 barel/hari) Sumber: OPEC [5] * Data ekspor dan impor minyak mentah menunjukkan bahwa Indonesia adalah net-eksportir, tetapi sebagian besar ekspor dilakukan oleh Kontraktor KPS sehingga penerimaannya tidak masuk APBN sedangkan impor seluruhnya dilakukan oleh Pertamina sehingga masuk pos APBN. Tetapi perlu diingat bahwa produksi minyak Indonesia bukan hanya milik Pemerintah Indonesia saja tetapi hasil minyak produksi Indonesia tersebut harus dibagi dengan Kontraktor perusahaan minyak asing (Production Sharing Contract(dikenal dengan istilah KPS)) yang beroperasi di Indonesia. Skema bagi hasil yaitu sebesar 85% Pemerintah Pusat dan 15% Kontraktor. Perlu diingat bahwa pembagian 85% da 15% bukanlah hasil produksi kotor, tapi merupakan hasil produksi minyak bersih artinya nilai produksi dikurangi dengan biaya ekploitasi, pajak, land-rent, royalti,dll. Sehingga bagi hasil minyak mentah antara pemerintah dan KPS bisa menjadi 60% dan 40% seperti yang ditulis Kwik Kian Gie berikut: "Tabel 1 menjelaskan bahwa produksi minyak mentah sebanyak 1.125.000 barel perhari yang dibagi menjadi Bagian Pemerintah dan Pertamina sebanyak 663.500 barel atau 58,98% dan Bagian

Kontraktor Production Sharing (KPS) sebesar 461.500 barrel atau 41,02%. Yang dipahami oleh rakyat adalah bagian Indonesia 85% dan bagian kontraktor asing 15%. Bagaimana dapat dijelaskan pembagian yang demikian signifikan perbedaannya?" [5]. Berdasarkan perhitungan diatas maka minyak mentah yang diterima pemerintah adalah sebesar 656.64 ribu barel/hari (60%x1094,4) sedangkan KPS menerima 437.76 ribu barel/hari. Bagian minyak KPS diekspor keluar negeri dan semua hasilnya merupakan milik KPS. Berdasarkan UU No.25 tahun 1999 dan UU No.33 tahun 2004 mengenai Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, maka hasil minyak yang diperoleh pemerintah pusat harus dibagi dengan daerah penghasil dengan proporsi 85% dan 15%. Berdasarkan skema bagi hasil tersebut maka pemerintah pusat menerima bagian minyak sebesar 558.14 ribu barel/hari dan sisanya adalah miliki pemerintah daerah penghasil. Bagian daerah penghasil tidak diberikan dalam bentuk minyak tetapi diberikan dalam bentuk tunai sebesar harga minyak yang ditetapkan dalam APBN. Jadi pada dasarnya pemerintah pusat mengimpor minyak dari pemerintah daerah. Berdasarkan data diatas dapat dilakukan perhitungan sederhana berapa harga BBM yang dapat dijual ke masyarakat dengan asumsi harga bagian pemerintah pusat adalah 0. Perhitungan sederhana adalah sebagai berikut. Tabel 2. Perhitungan dana pembelian BBM

. Minyak pemerintah pusat Minyak pemerintah daerah Impor minyak mentah** Impor BBM jadi*** Pengilangan, transportasi,dll**** Jumlah

Barel Minyak 558,144 98,496 330,100 132,100 1,011,600

Harga Hari US$/Barel 0 365 45* 365 60 365 65 365 5 365

Jumlah 0 1,617,796,800 7,229,190,000 3,134,072,500 1,846,170,000 13,827,229,300

Sumber: Perhitungan Penulis, 2005 *Harga minyak asumsi APBN **Data impor minyak mentah Tabel 1 ***Data impor BBM jadi adalah selisih antara konsumsi minyak dan output pengilangan pada Tabel 1 **** Data ini berasal dari jumlah output yang minyak yang dikilang Jadi dana penyediaan BBM dalam setahun adalah sebesar 13.827.229.300US$ atau setara dengan Rp. 138 triliun rupiah. Dengan asumsi 1 barel=159 liter (1 barrelbervariasi antara 120 hingga 159 liters.www.answer.com) maka harga jual rata-rata BBM adalah sebesar Rp 2.360/liter (harga jual break-even point). Tetapi konsekuensi dari kebijakan mengasumsikan minyak milik pemerintah pusat 0US$ berarti pos penerimaan minyak di APBN tidak ada dan hal ini akan menurunkan/menghilangkan jumlah penerimaan negara sebesar Rp. 120 triliun dan semakin memperbesar defisit APBN. Tetapi jika harga minyak bagian pemerintah pusat dianggap sebagai penerimaan negara dan dihargai sesuai dengan harga asumsi APBN maka biaya penyediaan BBM Rp.230 triliun rupiah dan harga jual rata-rata BBM adalah sebesar Rp. 3920/liter. Dengan mengasumsikan minyak milik pemerintah pusat dianggap sebagai penerimaan negara maka terdapat pos penerimaan minyak di APBN, terjadi peningkatan penerimaan APBN dan defisit anggaran menurun. Dengan mengasumsikan harga minyak mengikuti harga dunia sebesar 60US$/barel maka dana penyediaan BBM adalah sebesar Rp. 266 triliun dan harga jual rata-rata BBM adalah sebesar Rp. 4.530/liter. Kenaikan asumsi harga minyak akan memberatkan APBN, selain itu kenaikan harga BBM akan meningkatkan penerimaan pemerintah pusat. Konsekuensi kenaikan penerimaan dalam APBN maka pemerintah pusat harus meningkatkan Dana Bagi Hasil baik dalam bentuk Dana Alokasi Umum (DAU) maupun Dana Bagi Hasil Minyak

(DBHM) kepada daerah. Sedangkan disisi lain kenaikan harga minyak akan meningkatkan dana penyediaan harga BBM. Dari perhitungan sederhana diatas terlihat penentuan harga BBM sangat tergantung terhadap asumsi harga BBM dan asumsi apakah penerimaan minyak dianggap sebagai penerimaan negara atau bukan. 3. Kebijakan Energi Nasional Kebijakan penentuan harga energi di Indonesia tidak dilakukan melalui mekanisme pasar melainkan ditetapkan secara administrasi oleh pemerintah. Dalam penentuan harga energi ada empat hal yang harus dipertimbangkan yaitu : 1. Tujuan efisiensi ekonomi : untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri dengan harga serendah rendahnya dan memelihara cadangan minyak untuk keperluan ekspor, khususnya dengan mendorong pasar domestik untuk mensubstitusikan konsumsinya dengan alternatif bahan bakar lain yang persediaannya lebih melimpah (gas dan batubara) atau sumber energi yang nontradable seperti tenaga air (hydropower) dan panas bumi (geothermal). Tujuan mobilisasi dana : dengan memaksimumkan pendapatan ekspor dan pendapatan anggaran pemerintah dari ekspor sumber energi yang tradable seperti migas, dan batubara dan memungkinkan produsen dari sumber sumber energi untuk menutupi biaya biaya ekonominya dan memperoleh sumber sumber dana untuk membiayai pertumbuhan dan pembangunan. Tujuan sosial (pemerataan) : mendorong pemerataan melalui perluasan akses bagi kebutuhan pokok yang bergantung pada energi seperti penerangan, memasak dan transportasi umum. Tujuan kelestarian lingkungan : mendorong agar pencemaran lingkungan seminum mungkin sebagai dampak pembakaran sumber sumber energi. Keempat tujuan di atas merupakan faktor faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan tujuan di atas, sehingga kemungkinan bentrokan antar tujuan dapat di atasi. Keempat tujuan di atas tidak mungkin dicapai karena konflik antar tujuan pasti akan terjadi. Sebagai contoh studi yang dilakukan Pitt (1985 dalam [4]) menunjukkan tujuan untuk mengurangi dampak lingkungan praktis tidak tercapai. 4. Alasan Kenaikan Harga Minyak di Indonesia Argumen yang dilakukan pemerintah untuk dan kalangan pendukung kenaikan BBM adalah sebagai berikut: 1. perbedaan harga jual domestik dengan harga luar negeri yang sangat timpang akibat peningkatan harga minyak bumi yang dewasa ini telah mencapai US$ 50 per barrel, jauh di atas harga minyak bumi yang ditetapkan dalam asumsi harga minyak dalam APBN 2005 sebesar US$ 24 per barrel. Perbedaan harga ini menimbulkan kemudian pembengkakan subsidi. Tabel 3. Tambahan defisit APBN 2005 akibat kenaikan harga minyak

2.

3. 4.

Harga Minyak $28/bbl $30/bbl $32/bbl $38/bbl $40/bbl Rp (triliun) 2.9 4.3 5.7 8.5 11.4 % thd PDB 0.1 0.2 0.2 0.3 0.4
Sumber: Estimasi Staf[4] 2. penyesuaian harga BBM telah dilakukan oleh hampir semua negara di dunia termasuk negara-negara yang berpendapatan lebih rendah dari Indonesia seperti India, Bangladesh atau negara-negara di Afrika. Bahkan di Timor Timur - yang merupakan salah satu negara termiskin di dunia - harga domestik BBM jauh di atas harga BBM di Indonesia.

Grafik 2. Perbandingan harga premium di berbagai negara 3. harga domestik yang terlalu rendah juga telah mendorong pertumbuhan tingkat konsumsi yang sangat tinggi. Sepanjang tahun 2004 lalu pertumbuhan BBM antara 5 % per tahun. Sementara produksi minyak mentah Indonesia terus mengalami penurunan. Selain itu perbedaan harga domestik dan international yang cukup tinggi mendorong terjadinya penyelundupan 4. alasan lain yang menjadi dasar adalah menyangkut masalah keadilan. Subsidi BBM lebih banyak dinikmati oleh kelompok 40% kelompok teratas temasuk untuk minyak tanah sekalipun Tabel 4. Proporsi komsumsi BBM berdasarkan kelompok pengeluaran

Kelompok PengeluaranBBMMinyak Tanah 20% Terbawah 7 10 20% Kedua Terbawah 11 15 20% Ditengah 16 20 20% Kedua Teratas 23 24 20% Teratas 43 31
Sumber: Susenas 2002 5. Penyesuaian harga BBM ini memungkinkan pemerintah dengan persetujuan DPR mengalokasikan lebih banyak untuk program penanggulangan kemiskinan dan pembangunan pedesaan baik yang bersifat investasi jangka panjang (pendidikan dan kesehatan) maupun pengurangan biaya transaksi (infrastruktur pedesaan) dan 6. pengurangan beban keluarga miskin dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang kebijakan ini juga akan mengoreksi kebijakan energi yang dewasa ini tidak rasional. Harga relatif BBM dibandingkan dengan batubara atau gas yang lebih murah menyebabkan insentif penggunaan sumber energi yang lebih murah dan sumber domestik relative melimpah berkurang. Prasyarat utama untuk mendorong penggunaan sumber energi ini (termasuk yang renewable) adalah mengoreksi harga BBM sehingga diharapkan efisiensi penggunaan energi akan tercapai dalam jangka panjang. 5. Dampak Kenaikan BBM Terhadap Inflasi Kenaikan harga BBM secara langsung akan mempengaruhi kenaikan harga-harga barang lain karena BBM merupakan bagian dari faktor input. Dengan menggunakan model ekonomi keseimbangan umum (CGE) LPEM-UI [4], secara keseluruhan dampak inflasi dari kenaikan BBM Maret 2005 adalah sebesar 0.9718%. Berdasarkan kenyataan diatas bahwa kenaikan BBM bulan Oktober 2005 diperkirakan akan menambah kenaikan inflasi tahun 2005 sebesar 2.8-3.0%. Estimasi dampak inflasi diatas hanya mencakup perhitungan yang wajar didasarkan pada struktur konsumsi rumah tangga dan struktur biaya produksi industri. Dengan demikian perhitungan diatas tidak memperhitungkan kenaikan inflasi yang disebabkan oleh faktor lain seperti perilaku pengusaha untuk menggeserkan beban kenaikan harga BBM kepada konsumen dengan menaikkan harga produk mereka secara tidak wajar. Inflasi yang terjadi adalah gabungan dari inflasi murni dan inflasi psikologis. Inflasi yang terjadi pada bulan Maret 2005 sebulan setelah kenaikan harga BBM adalah sebesar 1,93% dan bulan berikutnya mengalami deflasi. Inflasi

psikologis disebabkan oleh para pengusaha yang tidak wajar dalam menggeser beban kenaikan BBM. Salah satu contoh upaya untuk menggeserkan beban kenaikan BBM secara tidak wajar adalah tuntutan sopir angkutan dan organda untuk menaikkan tarif sebesar 30%. Perlu dicatat bahwa total biaya angkutan tidak hanya biaya operasi tapi juga ada biaya kapital yang sangat besar. Kalau dihitung dari biaya total biaya secara keseluruhan, biaya BBM di sektor angkutan darat rata-rata mencapai 13% pada akhir tahun 2001. Setelah kenaikan harga BBM tahun 2002, diperkirakan diperkirakan pengeluaran BBM tidak mencapai 20% dari total biaya produksi. Dengan demikian, kenaikan yang wajar dari tarip hanya sebesar 5.8% (29% 20%=5,8%) [4]. Tabel 5. Dampak inflasi dari kenaikan harga BBM Maret 2005

Jenis Barang Kenaikan Harga (%)Jenis Barang Kenaikan Harga (%) Padi 0.23 Konstruksi 2.041 Sayuran 0.26 Perdagangan 1.025 Hasil Ternak 0.441 Restoran 0.821 Perikanan Laut 0.995 Hotel 0.767 Minyak Goreng0.471 Angkutan Kereta Api2.824 Beras 0.561 Angkutan Darat 4.117 Gula 0.65 Pelayaran 3.082 Pertambangan 0.798 Angkutan Air 4.21 Pupuk 0.537 Angkutan Udara 0.097 Industri Baja 0.916 Komunikasi 0.481 Listrik 0.08 Keuangan 0.522 Gas 0.325 Jasa-Jasa Lain 0.639 Air Bersih 0.477 . .
Sumber: Hasil Simulasi Model CGE [4] Hal ini juga didukung oleh temuan dari pengolahan data statistik industri. Ternyata, dari total input industri di Indonesia pada tahun 2003, bahan bakar minyak merupakan input dengan porsi sedikit. Hanya sekitar 3,68 persen dari total input industri. Secara sederhana, jika terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 80 persen sekalipun, maka implikasi peningkatan biaya input produksi hanya sekitar 2,94 persen (Syarif Syahrial, Kompas, 1 Oktober 2005). 6. Dampak Kenaikan BBM Terhadap Kemiskinan Dampak kenaikan harga BBM terhadap kemiskinan sangat tergantung terhadap kenaikan harga BBM terhadap inflasi. Inflasi akan mendorong peningkatan garis kemiskinan. Jika inflasi yang ditimbulkan oleh kenaikan BBM khususnya inflasi bahan makanan cukup tinggi maka dampak kenaikan BBM terhadap kemiskinan juga tinggi. Berdasarkan hasil simulasi data Susenas 2002 menunjukkan bahwa kenaikan jumlah penduduk miskin akibat kenaikan harga BBM bulan Maret 2005 (asumsi inflasi sebesar 0.9%) adalah sebesar 0.24% (dari 16.25%-1649%) dan jika inflasi yang terjadi semakin besar maka angka kemiskinan juga akan membesar. Berdasarkan kenyataan diatas kemungkinan besar kenaikan BBM Oktober 2005 akan meningkatkan jumlah penduduk miskin sebesar 1% atau sekitar 2 juta orang. Tabel 6. Dampak Kenaikan Inflasi dan Kemiskinan di Indonesia

. Initial Expected Inflation . Condition1X 2X 3X 4X Poverty (HCI)16,25 16,4916,6816,9517,18

Source: Working Paper [4]: The impact study of the increasing fuel price 2005 to the poverty incidence Calculation from Susenas 2002 * garis kemiskinan yang digunakan adalah garis kemiskinan BPS 2002 yaitu perkotaan=Rp. 130.499/bulan/kapita dan pedesaan=Rp. 96.512/bulan/kapita. * Data Tabel 6 merupakan angka simulasi dan data Susenas 2002 tidak termasuk Aceh dan Papua. 7. Dampak Kompensasi BBM Terhadap Kemiskinan dan Problematika Sosial Tujuan utama kebijakan dana kompensasi BBM berupa Raskin dan Subsidi Tunai Langsung (SLT) adalah sebagai jaring pengaman sosial yang bersifat sementara yaitu mengamankan orang-orang yang berada dibawah garis kemiskinan dan hampir miskin terhadap gejolak perekonomian. Secara teoritis kebijakan ``Cash Transfer`` lebih baik jika dibandingkan subsidi BBM seperti yang terjadi selama ini dimana sebagian besar BBM dinikmati kelompok nonmiskin. Berdasarkan teori compensating variation (Varian, 1996 dalam Dartanto,Media Indonesia, 2005) menunjukkan bahwa ``Cash Transfer`` akan mengembalikan daya beli kelompok miskin pada kondisi yang semula yaitu kondisi daya beli sebelum adanya kenaikan harga BBB. Dana Kompensasi BBM Raskin dan SLT bukanlah program pengentasan kemiskinan yang bersifat jangka panjang dan berkelanjutan, tetapi lebih bersifat sementara dan konsumtif. Kebijakan dana kompensasi BBM menimbulkan berbagai problematika sosial tersendiri. Dampak yang sangat besar dari kebijakan ini adalah dampak sosial. Walaupun dampak ini tidak mudah untuk dikuantifisir, tetapi kebijakan masif transfer menyimpan potensi yang besar untuk menyulut kecemburuan sosial, merusak tatanan dan ikatan sosial dilevel bawah. Berdasarkan pengamatan penulis pada kasus penyaluran Raskin disebuah desa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa ketika raskin hanya diberikan kepada kelompok miskin ternyata menimbulkan kecemburuan bagi kelompok yang nyaris miskin dan tidak miskin (Teguh Dartanto, Media Indonesia, 12 September 2005). Permasalahan lain yang muncul belakangan ini adalah banyak warga miskin yang tidak terdaftar sebagai penerima dana kompensasi, salah sasaran, keributan antar warga, pengrusakan kantor pos dan gedung kelurahan, mati berdesak-desakan saat pengambilan SLT, ketua RT bunuh diri, warga bunuh diri,dll. 8. Rekomendasi Kebijakan 1. Sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak, pemerintah seharusnya berupaya untuk meningkatkan produksi minyak nasional dengan perbaikan iklim investasi di sektor pertambangan minyak sehingga mampu menggairahkan kegiatan eksplorasi dan eksplitasi minyak bumi. Walaupun pencabutan subsidi BBM secara teori ekonomi memiliki argumentasi yang kuat, pemerintah juga harus memperhatikan faktor sosial dan politik akibat pencabutan subsidi BBM. Untuk meningkatkan kepercayaan publik, pemerintah seharusnya melakukan pembenahan dan audit Pertamina. Upaya untuk menolong dunia usaha yang kian terpuruk akibat kenaikan BBM, maka pemerintah dapat melakukan: penghapusan ekonomi biaya tinggi, penghapusan berbagai pungutan resmi maupun tidak resmi, penyederhanaan rantai perijinan serta insentif fiskal. Pemerintah harus bersikap dan bertindak tegas terhadap pengusaha yang menggeser kenaikan harga BBM dengan menaikkan harga secara tidak wajar dan tidak didukung data yang kuat. Kenaikan kebutuhan bahan pokok dapat meningkatkan kemiskinan secara tajam, oleh karena itu pemerintah seharusnya mampu mengendalikan harga kebutuhan pokok ditingkat yang wajar sehingga tidak memberatkan kalangan konsumen miskin dan kalangan petani sebagai produsen. 7. Pengalihan subsidi BBM ke subsidi langsung sebaiknya diarahkan kearah kegiatan yang bersifat produktif, jangka panjang, berkelanjutan dan mampu meningkatkan kapasitas modal manusia seperti program padat karya, pengembangan usaha kecil menengah, pendidikan dasar dan kesehatan. Raskin dan Subsidi Tunai Langsung secara masif seperti saat ini harus diposisikan sebagai Jaring Pengaman Sosial yang bersifat emergency dan sementara. i. Subsidi Langsung Tunai untuk selanjutnya seharusnya diberikan kepada

2. 3. 4.

5. 6.

8.

kelompok usia non-produktif diatas 60 tahun yang miskin sebagai Jaminan Sosial. Sedangkan kelompok miskin usia produktif diarahkan untuk berusaha dan bekerja. 9. Kesimpulan Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Cadangan minyak dan produksi minyak dunia terus mengalami penurunan sedangkan komsumsi minyak semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan perekonomian sehingga sejak tahun 2004, Indonesia merupakan net-importer. 2. 3. Penentuan harga jual BBM di Indonesia sangat ditentukan oleh asumsi harga minyak APBN dan asumsi apakah minyak dianggap sebagai penerimaan negara atau bukan. Alasan kenaikan harga BBM di Indonesia antara lain: defisit APBN, kenaikan BBM dilakukan banyak negara, harga BBM rendah mendorong peningkatan konsumsi, disparitas harga mendorong penyelundupan, subsidi BBM banyak dinikmati golongan kaya, realokasi subsidi BBM ke subsidi yang bersifat produktif, dan insentif berkembangnya energi alternatif. 4. Dampak kenaikan BBM terhadap kemiskinan sangat tergantung dari dampak kenaikan BBM terhadap inflasi khususnya inflasi bahan makanan. 10. Daftar Pustaka 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Dartanto, Teguh, 2004, Is The Economic Growth Enough for Reducing The Poverty Incidence In Indonesia?, Presentasi Paper: ISA 2004. -----------------------, 2005a, Mengkritik Kebijakan Cash Tranfer, Media Indonesia:12/9/2005. -----------------------, 2005b, Kontroversi Kenaikan Harga BBM 2005. Wacana Alumni, LPEM FEUI. Ikhsan, Dartanto, Usman, dan Herman, 2005, Kajian Dampak Kenaikan Harga BBM 2005 Terhadap Kemiskinan, Working Paper:LPEM FEUI. Kwik Kian Gie, 2005, Minyak: Teka-teki, manipulasi atau 'So What Gitu Lho'. Bisnis Indonesia, 12/09/2005. OPEC, 2004, Annual Statistic Bulletin. -------, 2005, Monthly Oil Market Report. Syahrial, Syarif. "Redam Ekspektasi Kenaikan Harga". Kompas,01/10/2005.