Anda di halaman 1dari 19

PENDAHULUAN

Penyakit akibat kerja disebabkan oleh paparan terhadap bahan kimia dan biologis, serta bahaya fisik di tempat kerja. Meskipun angka kejadiannya tampak lebih kecil dibandingkan dengan penyakit penyakit utama penyebab cacat lain, terdapat bukti bahwa penyakit ini mengenai cukup banyak orang, khususnya di negara negara yang sedang giat mengembangkan industri. Pada banyak kasus, penyakit akibat kerja ini bersifat berat dan mengakibatkan kecacatan. Akan tetapi ada dua faktor yang membuat penyakit penyakit ini mudah dicegah. Pertama, bahan penyebab penyakit dapat diidentifikasi, diukur dan dikontrol. Kedua, populasi yang berisiko biasanya mudah didatangi dan dapat diawasi secara teratur serta diobati. Selain itu, perubahan perubahan awal seringkali dapat pulih dengan penanganan yang tepat. Oleh karena itu, deteksi dini penyakit akibat kerja sangatlah penting. Dengan demikian, tenaga kerja yang sakit dapat segera diobati sehingga penyakitnya tidak berkembang dan dapat sembuh dangan segera. Selain itu juga dapat dilakukan pencegahan agar tenaga kerja lainnya dapat terlindung dari penyakit.

PENYAKIT AKIBAT KERJA (PAK)


Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian Penyakit Akibat Kerja merupakan penyakit yang artifisial atau man made disease. Mengenal dan memahami berbagai aspek penyakit akibat kerja sebagai salah satu resiko akibat pekerjaan atau lingkungan kerja merupakan langkah awal guna meminimalisir akibat yang tidak dikehendaki. Dalam menentukan diagnosis penyakit yang diderita seorang pekerja, seorang dokter akan menghadapi berbagai permasalahan terutama dalam mencari ada tidaknya hubungan antara pekerjaan dengan kondisi kesehatannya. Berbagai variable yang berkaitan dengan pekerja, lingkugan kerja, bahan/proses kerja, dan teknologi pengendalian akan mempengaruhi terjadinya gangguan kesehatan pekerja. Oleh karenanya seorang pekerja dapat mengalami berbagai penyakit yang dapat dikelompokkan dalam : a. Penyakit yang juga diderita oleh masyarakat umum lainnya (general disease) b. Penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan tetapi bukan akibat pekerjaan atau lingkungan kerja (work related disease) c. Penyakit yang diakibatkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja (occupational disease). Kemampuan mendiagnosis dan membedakan ketiga jenis penyakit tersebut perlu dimiliki oleh dokter perusahaan khussnya dalam hal penyakit akibat kerja (occupational disease) dan penyakit yang berhubungan/berkaitan dengan pekerjaan (work related disease). Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 01/1981 tentang kewajiban melaporkan penyakit akibat kerja disebutkan bahwa: Penyakit akibat kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. Menurut WHO (1985) pengertian tentang kedua jenis penyakit tersebut masing-masing adalah:

Occupational disease: the relationship to specific causative factors at work has been fully established and the factors concerned can be identified, measured and eventually controlled. Work related disease: may be partially cause by adverse working conditions. They may be aggravated, accelerated or exacerbated by workplace exposures and may impair working capacity. Personal characteristics, environmental and socio cultural factors usually play a role at risk factors and are often more common than occupational disease. WHO membedakan empat kategori Penyakit Akibat Kerja :

1. Penyakit

yang

hanya

disebabkan

oleh

pekerjaan,

misalnya

Pneumoconiosis. 2. Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya Karsinoma Bronkhogenik. 3. Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab di antara faktor-faktor penyebab lainnya, misalnya Bronkhitis khronis. 4. Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya, misalnya asma. Faktor penyebab Faktor penyebab Penyakit Akibat Kerja sangat banyak, tergantung pada bahan yang digunakan dalam proses kerja, lingkungan kerja ataupun cara kerja, sehingga tidak mungkin disebutkan satu per satu. Pada umumnya faktor penyebab dapat dikelompokkan dalam 5 golongan: 1. Golongan fisik : suara (bising), radiasi, suhu (panas/dingin), tekanan yang sangat tinggi, vibrasi, penerangan lampu yang kurang baik. 2. Golongan kimiawi : bahan kimiawi yang digunakan dalam proses kerja, maupun yang terdapat dalam lingkungan kerja, dapat berbentuk debu, uap, gas, larutan, awan atau kabut. 3. Golongan biologis : bakteri, virus atau jamur 4. Golongan fisiologis : biasanya disebabkan oleh penataan tempat kerja dan cara kerja 5. Golongan psikososial : lingkungan kerja yang mengakibatkan stress.

Ketidaktepatan dalam mendiagnosis penyakit tersebut akan banyak merugikan pekerja, perusahaan maupun pihak asuransi. Penyakit akibat kerja yang dialami oleh pekerja memungkinkan untuk mendapatkan kompensasi/ganti rugi sedang penyakit umum dan work related disease bukan termasuk kategori penyakit yang dapat diberikan ganti rugi (non compensable). Secara umum perbedaannya adalah seperti tercantum berikut ini: Occupational Disease Populasi pekerja Penyebab: spesifik Pemajanan di tempat kerja Work Related Disease Populasi masyarakat Penyebab: multi factor Pemajanan di tempat kerja

sangat menentukan Kompensasi (+) Contoh: keracunan Pb, asbestos, silicosis

merupakan salah satu factor Kompensasi (-) Contoh: hipertensi, bronchitis, tuberculosis

Cara

menegakkan

diagnosis

penyakit

akibat

kerja

benar-benar

memerlukan suatu keahlian khusus disamping perlunya partisipasi dan kerjasama dengan berbagai disiplin lainnya seperti ahli hygiene perusahaan, ahi kesehatan kerja, ahli toksikologi atau dokter spesialis lainnya. Secara garis besar, ringkasan berikut dapat merupakan pedoman untuk diagnosis: Bernardine Ramazzin (1633-1714) dalam De Morbis Artificium Diatriba menganjurkan satu pertanyaan yang sangat spesifik yakni : What is your job? Yang sangat relevan untuk: a) Menilai hubungan pekerjaan dengan penyakit b) Memprediksi kemungkinan ada pengaruh jangka panjang/kronis dan kekambuhan suatu penyakit c) Mengatahuistatus/tingkat pendidikan/status sosioekonomi Secara teknis penegakan diagnosis dilakukan melalui: 1) Anamnesis/wawancara meliputi: identitas, riwayat kesehatan, riwayat penyakit, keluhan. 2) Riwayat pekerjaan (kunci awal untuk diagnosis)

Sejak pertama kali bekerja. Kapan, bilamana, apa yang dikerjakan, bahan yang digunakan, jenis bahaya yang ada, kejadian sama ada pekerja lain, pemakaian alat pelindung diri, cara melakukan pekerjaan, pekerjaan lain yang dilakukan, kegemaran (hobby), kebiasaan lain (merokok, alkohol).

Sesuai tingkat pengetahuan, pemahaman pekerja,

3) Membandingkan gejala enyakit waktu bekerja dan dalam keadaan tidak bekerja Waktu bekerja gejala timbul/lebih berat, waktu tidak berkerja/istirahat gejala berkurang/hilang. Perhatikan juga kemungkinan pemajanan di luar tempat kja. Informasi tentang ini dapat ditanyakan dalam anamnesis atau dari data penyakit di perusahaan. 4) Pemeriksaan fisik, yang dilakukan oleh dokter dengan catatan Gejala & tanda mungkin tidak spesifik. Pemeriksaan laboratorium penunjang membantu diagnosis klinik. Dugaan adanya penyakit akibat kerja dilakukan juga melalui pemeriksaan laboratorium khusus/pemeriksaan biomedik. 5) Pemeriksaan laboratorium khusus/pemeriksaan biomedik Missal pemeriksaan spirometri, foto paru (pneumoconiosispembacaan standar ILO). Pemeriksaan audiometric. Pemeriksaan hasil metabolit dalam darah/urin.

6) Pemeriksaan/pengujian lingkungan kerja atau data hygiene perusahaan, yang memerlukan: Kerjasama dengan tenaga ahli hygiene perusahaan. Kemampuan mengevaluasi factor fisik/kimia berdasarkan data yang ada.

Pengenalan langsung cara/system kerja, intensitas dan lama pemajanan.

7) Konsultasi keahlian medis/keahlian lain Seringkali penyakit akibat kerja ditemaukan setelah ada diagnostic klinik, kemudian dicari factor kausa di tempat kerja, atau melalui pengamatan/penelitian yang relative lebih lama. Dokter spesialis lainnya, ahli toksikologi dan dokter penasehat (kaitan dengan kompensasi).

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi No. 01/1981 tentang Kewajiban Melaporkan Penyait Akibat Kerja tercantum 30 jenis penyakit, sedang Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 22/1993 tentang Penyakit yang Timbul Karena Hubungan Kerja memuat jenis penyakit yang sama, ditambah penyakt yang disebabkan bahan kimia lainnya termasuk bahan obat. Daftar selengkapnya adalah sebagai berikut: 1. Pneumoconiosis yang disebabkan debu mineral pembentukan jaringan parut (silikosis, antrakosilikosis, sebestosis) dan silikotuberkulosis yang silikosisnya merupakan factor utama penyebab cacat atau kematian. 2. Penyakit paru dan saluran pernapasan (bronkhopulmoner) yang

disebabkan oleh debu logam keras. 3. Penyakit paru dan saluran pernapasan (bronkhopulmoner) yang

disebabkan oleh debu kapas, vlas, henep, dan sisal (blssinosis). 4. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat perangsang yang dikenal yang berada dalam proses pekerjaan. 5. Alveolitis allergika yang disebabkan oelh factor dari luar sebagai akibat penghirupan debu organic. 6. Penyakit yang disebabkan oleh berilium atau persenyawaannya yang beracun. 7. Penyakit yang disebabkan oleh cadmium atau persenyawaannya yang beracun.

8. Penyakit yang disebabkan oleh fosfor atau persenyawaannya yang beracun. 9. Penyakit yang disebabkan oleh krom atau persenyawaannya yang beracun. 10. Penyakit yang disebabkan oleh mangan atau persenyawaannya yang beracun. 11. Penyakit yang disebabkan oleh arsen atau persenyawaannya yang beracun. 12. Penyakit yang disebabkan oleh raksa atau persenyawaannya yang beracun. 13. Penyakit yang disebabkan oleh timbale beracun. 14. Penyakit yang disebabkan oleh fluor atau persenyawaannya yang beracun. 15. Penyakit yang disebabkan olehkarbon disulfide. 16. Penyakit yang disebabkan oleh derivate halogen dari persenyawaan hidrokarbon alifatik atau aromatic yang beracun. 17. Penyakit yang disebabkan oleh benzene atau homolognya yang beracun. 18. Penyakit yang disebabkan oleh derivate nitro dan amina dari benzene atau homolognya yang beracun. 19. Penyakit yang disebabkan oleh nitrogliserin atau ester asam nitrat lainnya. 20. Penyakit yang disebabkan oleh alcohol, glikol, atau keton. 21. Penyakit yang disebabkan oleh gas atau uap penyebab asfiksia atau keracunan seperti karbon monoksida, hidrogensianida, hydrogen sulfide, atau derivatnya yang beracun, amoniak seng, braso dan nikel. 22. Kelainan pendengaran yang disebabkan oelh kebisingan. 23. Penyakit yang disebabkan oleh getaran mekanik (kelainan-kelainan otot, urat, tulang persendian, pembuluh darah tepi atau syaraf tepi). 24. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan lebih. 25. Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektro magnetic dan radiasi yang mengion. 26. Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab fisik, kimiawi atau biologic. atau persenyawaannya yang

27. Kanker kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh ter, pic, bitumen, minyak mineral, antrasena atau persenyawaan, produk atau residu dari zat tersebut. 28. Kanker paru atau mesotelioma yang disebabkan oleh asbes. 29. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang didapat dalam suatu pekerjaan yang memiliki risiko kontaminasi khusus. 30. Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi atau rendah atau panas radiasi atau kelembaban udara tinggi. 31. Penyakit yang disebabkan bahan kimia lainnya termasuk bahan obat. Dalam kaitan dengan kompensasi, penyakit yang tercantum dalam daftar tersebut merupakan penyakit yang dianggap sebagai kecelakaan kerja dan dapat memperoleh ganti rugi/kompensasi. Enilaian kecacatan diperhitungkan berdasar kecacatan fungsi yang terjadi dan masih dapat diberikan dalam waktu paling lama 3 tahun sejak hubungan kerja di perusahaan berakhir. Apabila acuan yang digunakan semata-mata hanya pada daftar penyakit, menentukan enyakit akibat kerja terlihat mudah dan sepenuhnya tergantung pada diagnosis dokter, akan tetapi sering terdapat berbagai hal yang merupakan kendala seperti: 1. Kesulitan dalam diagnosis penyakit akibat kerja. Kekurang mampuan dan kesulitan menentukan apakah suatu penyakit merupakan penyakit akibat kerja atau bukan sering dihadapi oeh seorang dokter, sehingga pelaporan penyakit akibat kerja sangat sedikit. Hal tersebut sering digambarkan sebagai ice berg phenomen berupa:

Dilaporkan Tidak dilaporkan Penyakit yang ada kaitan dengan pekerjaan

Ada upaya medik, hubungan sebab akibat tidak jelas

Ada gejala, penelitian lebih lanjut tidak dilakukan

Ada potensi bahaya, faktor risiko dan pemaparan, gejala penyakit tidak ada

Oleh karenanya keahlian atau expertise khusus perlu dimiliki oleh dokter, disamping perlunya kerjasama dengan berbagai keahlian lain.

2. Data pendukung diagnosis penyakit akbat kerja kurang, terutama hasil pengujian kingkungan kerja dan pemantauan biologic. Pengujian lingkungan kerja umumnya tidak dimiliki oleh tiap perusahaan, padahal data yang diperoleh akan membantu penilaian tingkat pemaparan pada pekerja dan sekaligus juga menentukan langkah pengendalian selanjutnya, yakni dengan membandingkan hasil pengujian dengan NAB (Niali Ambang Batas) atau norma/standar lain yang beraku. Demikian juga pemantauan biologic yang dilakukan khususnya pada pekerjaan dengan bahan kimia, serta pemeriksaan spesifik lainnya seperti pengujian audiometric, spirometri, rontgen photo dan sebagainya akan sangat

berperanan dalam menentukan ada tidaknya hubungan sebab akibat suatu penyakit. 3. Adanya beberapa cirri khusus penyakit akibat kerja yang sering kali merupakan kendala dalam diagnosis seperti misalnya: timbulnya penyakit akibat kerja memerlukan jangka waktu yang lama, dan seperti telah disebutkan di atas penyakit kerja akibat kerja sulit/tidak dapat disembuhkan atau diobati. Obat atau alat bantu yang diberikan oleh dokter hanya untuk mengurangi keluhan atau gejala yang ada, atau sekedar member penawar agar penyakit tidak berlanjut. Hasil pembacaan pemeriksaan medic lainnya seringkali juga menunjukkan adanya tanda yang spesifik misalnya pada analisis audiogram berupa penurunan tajam pada frekuensi 4000Hz, hasil foto thorax dengan tanda khas untuk pneumoconiosis, nilai indeks biologic yang lebih besar atau sebagainya. 4. Pendapat atau persepsi salah yang masih sering terjadi, yang kemungkinan disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap penyakit akibat kerja, sebagai contoh: setiap penyakit atau gangguan kesehatan yang timbul pada saat bekerja dianggap sebagai penyakit akibat kerja atau dikaitkan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja missal muntah darah atau betuk darah karena menghirup bahan kimia, ingsan karena bekerja di tempat panas, hernia karena mengangkat beban, stroke Karen aterjatuh, yang ternyata disebabkan oleh factor non occupational dan merupakan penyakit yang tergolong work related. Sebaliknya pula terdapat pendapat yang seolaholah mengabaikan kemungkinan terjadinya penyakit akibat kerja.

Penerapan Upaya Pencegahan Secara total perlu diterapkan system manajemen kesehatan kerja yang memerlukan komitmen dan kebijakan pihak manajemen yang didukung oleh saling pengertian dan kerjasama antar semua pihak terkait dengan melaksanakan kegiatan seperti: 1) Menerapkan peraturan perundangan, yang hakikatnya merupakan upaya perlindungan dan pencegahan terhadap akibat yang merugikan perusahaan maupun tenaga kerja. Penerapan standar prosedur kerja, petunjuk cara

10

kerja dan penetapan norma kerja lainnya yang mengacu pada ditaatinya undang-undang Keselamatan dan berbagaii Surat peraturan yang berkaitan dengan No.

Kerja,

Edaran,

Menteri

Tenaga

Kerja

SE.01/MEN/1997 tentang NAB Faktor Kimia di Udara Lingkungan Kerja, Kepmen Tenaga Kerja No. 51/MEN/1999 tentang NAB Faktor Fisika di Tempat Kerja dan lain sebagainya, merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan. 2) Identifikasi potensi bahaya dan penilaian risiko melalui pengenalan kondisi tempat kerja, cara bekerja dan berbagai factor lingkungan kerja yang dapat dilakukan secara intern melalui kerjasama antar pengurus dan anggota P2K3, supervisor dan pekerja. Analisis potensi bahaya dan penilaian risiko, merupakan hal penting dalam penerapan pencegahan. 3) Pengujian dan pemantauan lingkungan kerja yang dlakukan guna memperoleh data mengenai factor fisika, kimia, biologic maupun ergonomic di tempat kerja, melalui pengujian menggunakan peralatan atau analisis labortorium. Dari kegiatan tersebut dapat diketahui berapa tingkat kebisingan, suhu udara, getaran, kadar debu, konsentrasi gas, dan bahan kimia lain secara teratur atau pada saat proses produksi berjalan maksimal, memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang kondisi tempat kerja tersebut. 4) Pengujian kesehatan tenaga kerja dan pemantauan biologic, terutama pengujian kesehatan berkala yang bertujuan untuk menilai pengaruh pekerjaan pada pekerja dan sekaligus mendeteksi kemungkinan timbulnya penyakit akibat kerja. Pada kelompok pekerja tertentu seperti pekerja yang habis sakit atau mengalami kecelakaan dengan perawatan yang cukup lama, penyandang cacat atau pekerja dengan risiko tinggi dilakukan pengujian kesehatan khusus. Pemantauan biologic digunakan untuk menentukan kelainan fungsi organ tubuh melalui penilaian kadar zat yang terserap, hasil metabolismenya atau perubahan enzim dalam tubuh. Seperti disebutkan di atas, pemeriksaan lainnya sering diperlukan juga. Audiometric misalnya disamping bermanfaat untuk deteksi dini juga dapat menjadi pedoman untuk pencegahan selanjutnya.

11

5) Penerapan teknologi pengendalian factor penyebab khususnya pada lingungan kerja yang bisa dibedakan dalam: a. Eliminasi atau meniadakan/menghilangkan sama sekali factor penyebab, sehingga dianggap sebagai cara yang paling ideal meskipun dalam pelaksanaannya perlu mempertimbangkan

berbagai aspek yang berkaitan dengan produksi. Sebagai contoh bila dalam proses produksi digunakan bahan atau cara yang sangat berbahaya atau memiliki risiko yang berakibat fatal meka alternatifnya adalah hindarai atau hilangkan sama sekali. b. Substitusi yakni mengganti suatu proses atau bahan yang berbahaya dengan yang kurang behayanya namun menghasilkan produk atau manfaat yang tidak berbeda missal mengganti asbestos dengan fiber glass, bahan karbon tetra klorida dengan hydrocarbon, perubahan penggunaan wadah yang lebih kecil untuk mengganti wadah yang lebih besar dalam proses pengepakan. Dalam pelaksanaannya, cara substitusi ini perlu senantiasa dievaluasi kembali mengingat proses atau bahan pengganti dapat juga menimbulkan pengaruh lain. c. Pengendalian teknis atau engineering control yang meliputi modifikasi atau penerapan cara teknis guna meminimalkan pemaparan pada pekerja misalnya melalui cara isolasi/pemisahan atau pemasangan penyekat, ventilasi local atau umum atau melalui proses otomatik serta penyelenggaraan tata rumah tangga yang baik (good haouse keeping). Metode engineering control ini banyak dilakukan di tempat kerja dan sangat bermanfaat dalam upaya mencegah kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Pemasangan alat pengaman mesin, penggunaan peralatan mekanik untuk kegiatan angkat-angkut, tersedianya ruang panel/kendali, exhaust fan atau penyedot lainnya, tata letak (lay out) yang memenuhi syarat, kebersihan dan kerapihan tempat kerja, merupakan contoh lebih rinci dari pengendalian teknis tersebut.

12

d. Pengendalian administrative untuk mendukung cara pengendalian lainnya misalnya melalui: peningkatan hygiene perorangan atau penyediaan fasilitas saniter, tanda peringatan, pertimbangan aspek keselamatan dan kesehatan dalam proses pembelian

bahan/peralatan, petunjuk cara kerja yang sehat dan aman atau bahkan penerapan system rotasi untuk mengurangi pemaparan. e. Penggunaan alat pelindung diri oleh pekerja sebagai alternatif paling akhir atau diterapkan bersamaan dengan teknologi pengendalian lainnya. Kesulitan atau problem tertentu yang dikeluhkan baik oleh perusahaan atau pekerja sering pula terjadi, misalnya telah disediakan namun tidak digunakan, tidak tersedia atau tidak terpelihara dengan baik, terasa tidak nyaman, kurang cocok, mengganggu pekerja dan sebagainya. Pedoman umum untuk alat pelindung diri perlu diperhatikan, antara lain adalah pemilihannya benar sesuai untuk potensi bahaya yang dihadapi, pemeliharaan dilakukan secara teratur, dipakai secara benar atau apabila diperlukan, disimpan secara aman dan dipahami benar manfaatnya. 6) Pelatihan yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan, tidak hanya mengenai penyakit aibat kerja melainkan juga mengenai berbagai aspek hygiene perusahaan, ergonomic, kesehatan kerja melainkan juga mengenai berbagai segi keselamatan kerja serta pengetahuan lain yang terkait. Pelatihan ini dapat diselenggarakan secara khusus maupun langsung pada saat sebelum, selama dan sesudah bekerja atau melalui forum komunikasi, diskusi, pertemuan dan sebagainya. 7) Pemantauan dan evaluasi pada penerapan system pencegahan yang disebut di atas melalui audit untuk menjawab berbagai pertanyaan seperti apakah potensi bahaya dan risiko masih belum berkurang, keluhan atau gangguan kesehatan yang ada, adakah penurunan kejadian kecelakaan atau penyakit, sejauh mana efektivitas alat pengendali yang digunakan, mungkinkah terdapat perubahan sikap atau persepsi terhadap penerapan kesehatan dan keselamatan kerja dan sebagainya.

13

Alternative penerapan tentu saja berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain, tergantung berbagai factor, namun pilihan yang lebih banyak akan jauh lebih baik dibandingkan satu atau dua alternative saja. Harus diakui bahwa upaya pencegahan memang membutuhkan biaya, tenaga dan pemikiran akan tetapi bila dibandingkan dengan kerugian akibat terjadinya penyakit akibat kerja baik berupa penderitaan berkepanjangan yang dialami oleh penderita karena penyakit yang tidak terobati, biaya

kompensasi/ganti rugi/santunan yang bagi penderita sebenarnya relative tidak memadai, beban moral, penurunan produktivitas kerja dan berbagai kerugian lainnya baik yang dialami pekerja mauun perusahaan, pencegahan tetap merupakan upaya yang paling baik.

14

Penyakit Akibat Kerja Sesuai Dengan Organ yang Diganggu Sistem Pernapasan (Respiratory System) Penyakit yang dapat terjadi akibat kerja antara lain : Byssinosis penyebabnya cotton sisal Pneumokoniosis penyebabnya silica, coal, asbes Asma akibat kerja penyebabnya gandum, tembakau, kayu, jamur, kutu, burung, tikus, metal, obat-obatan. Kulit Penyakit yang dapat terjadi akibat kerja : Dermatitis kontak penyebabnya karet, kulit, nikel, merkuri, kobalt, vinyl, epoxy. Infeksi kulit penyebabnya bakteri, jamur, virus Neonasi kulit penyebabnya tar, sinar matahari Acne penyebabnya cuttingoils, chlorinated napthylenes Tumor paru penyebabnya asbes

Sistem saraf Kelainan saraf perifer Penyebab : organo arposotate pestiside, urbamate pestisida, lea arsenic, thallium, karbon disulfide, dan anthimoni. Kelainan system saraf pusat Penyebab : arsenic, mangan, carbon disulfide, toluene, benzene, dan metilin klorida. Ginjal dan Saluran Kemih Gagal Ginjal Akut Penyebab : karbon tatraklorit, arsen, logam berat, dan pelarut hidrokarbon. Gagal Ginjal Kronik Penyebab : Logam berat dan radiasi mengion. Neoplasma Vesika Urinaria Penyebab : Bezidine, auramin, difenil, dan beta naftilamin. Neoplasma Ginjal Penyebab : paparan asbes, core- over woker.

15

System Jantung dan Pembuluh Darah Iskemia dengan menyebabkan penyakit koroner Penyebab : karbon disulfide, karbon monoksida, metilin klorida, dan arsen nitrat. Iskemia tanpa mengakibatkan penyakit koroner Penyebab : karbon monoksida, metilin klorida, dan nitrit. Dirsitmia Penyebab : fluocarbon, chroniated hydrocarbon nitrat. Kardiomiopati Penyebab : karbon disulfide, karbon monoksida dan metilyn clorida Cor Pulmonale Penyebab : debu fibrogenik Muskuloskleletal Fenomena Raynaud Penyebab : trauma fibrasi dan vinil klorida Carpal Tunnel Syndrome Penyebab : fleksi yang kuat pada pergelangan tangan dan ekstensi Torsal Tunnel Syndrome Penyebab : N.tibialis posterior pada pergelangan kaki medial tertekan sepatu yang terlalu sempit. Artritis Degeneratif Penyebab : sikap bahu (bor, gerinda, gergaji), sikap kaki (penari), sikap genu (pramuwisma), sikap jari tangan (pekerja tekstil, pemetik kapas) Artralgia dan Myalgia Penyebab : uap logam, pestisida, timah hitam, dan pelarut kimia. Kesehatan Mental Anxietas Penyebab : stress pekerjaan, zat toksik Depresi Penyebab : stress pekerjaan, zat toksik

16

Lesu kerja Penyabab : stress pekerjaan

THT Tuli akibat kerja (Noise Inaero Hearingloss) Penyebab : bising tempat kerja, misalnya mesin generator, pencetak mesin peasat, gerinda, dan pekerjaan konstruksi. Mata Keratokonjungtivitis Penyebab : sinar las, expose zat kimia Trauma mata Penyebab : granda, pekerjaan pabrik mobil, petani pekerjaan konstruksi Reproduksi Mandul Penyebab : timah hitam, cadmium, chlodecone, dan panas. Abortus Penyebab : kerja berat, dan obat toksik Premature Penyebab : peb, radiasi ion. Lahir cacat Penyebab : peb, radiasi ion, dan menthyl merkuri Kerusakan sperma Penyebab : dioxin, dan anaesthetic gates

17

PENUTUP
Kesimpulan Dalam dunia usaha, peran kesehatan sangat penting guna meningkatkan kesehatan para pekerjanya. Dengan begitu produktivitas pun akan meningkat. Standar pelayanan yang harus dilengkapi dalam kesehatan kerja ini harus sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Baik itu untuk instansi kesehatan maupun sumber dayanya yaitu dokter perusahaan. Dokter perusahaan tersebut memiliki tugas dan fungsi dalam pengendalian dan mengatasi PAK yang terjadi pada para pekerja. Jika sudah terjadi PAK maka akan berdampak buruk baik bagi perusahaan maupun pekerja itu sendiri. Saran Penulis menyarankan pembaca dapat termotivasi untuk mendalami materi yang penulis ulas, sehingga nantinya saat diklinik atau rotasi klinik para mahasiswa dapat menerapkannya. Mengingat masih banyaknya kekurangan dari makalah ini, baik dari penulisan tugas tertulis dan sebagainya, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.

18

DAFTAR PUSTAKA
Djojodibroto, R. Darmanto.1999. Kesehatan Kerja Di Perusahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No : PER/02/MEN/1980 Tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No : PER/01/MEN/1981 Tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja Sumamur. 1995. Kesehatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Toko Sumber Agung, Jakarta. Suyono, Joko.1993. Deteksi Dini Penyakit Akibat Kerja. Jakarta: EGC

19