Anda di halaman 1dari 2

Pemilihan dan Sistem Partai Amerika Latin mungkin memiliki reputasi internasional untuk politik yang tidak stabil,

tetapi dalam kenyataannya ada banyak negara yang memiliki pemilihan umum dan sistem politik yang stabil. Sejak runtuhnya kediktatoran pada tahun 1980 karena tekanan internasional dan resistensi domestik,aturan demokratis telah dikonsolidasikan hampir di seluruh benua. Berdasarkan pada Cambridge History of Latin America mengatakan: "Negara-negara Amerika Latin (kecuali Brasil) berbagi dengan Amerika Serikat mengenai pengalaman menjadi republik tertua di dunia sekarang. (Hartlyn dan Valezuela, 1998: 63). Meskipun banyak republik terbukti rentan terhadap intervensi militer seperti yang kita lihat pada bab 2, akan sangat salah jika kita berpikir dalam hubungan 'banana republic'. Istilah merendahkan ini memang mencerminkan realitas dari beberapa negara kecil di Amerika Tengah selama tahun 1950 ketika mereka dijajah oleh raksasa internasional AS seperti United Fruit , tetapi kenyataan di Amerika Latin secara keseluruhan lebih biasa sebagaimana yang akan kita lihat. Sebagian besar republik Amerika Latin berkarakteristik 'poliarki' (partisipasi yang tinggi dan kekuasaan tersebar di antara persaingan kelompok terorganisir), artinya rezim mereka berdasarkan persaingan elit-elit politik yang mengakui pembatasan atas kekuasaan mereka. Partisipasi massa, seperti dalam demokrasi klasik, DITolak kecuali dengan cara-cara tokenistic. Di sisi positif, poliarki dikatakan memiliki pemilu yang bebas dan kompetitif, serta kebebasan berekspresi dan berasosiasi mugkin saja terjadi. Tentu saja model ini tidak berlaku di seluruh daerah. Poliarki Amerika Latin tertua, Kosta Rika, diikuti oleh Chili dan Uruguay sejak berakhirnya kekuasaan militer, dan kemudian kita memiliki Kolombia dan Venezuela dengan sistem politik yang mapan. Kebanyakan negara-negara lain memenuhi syarat untuk beberapa kriteria poliarki, tetapi ada juga yang tidak memiliki. Namun, Haiti, Peru, Republik Dominika dan, untuk beberapa pengamat, Meksiko tidak memenuhi kriteria dasar seperti transparansi pemilu. Kekurangan mendasar dalam sistem pemilu Amerika Latin adalah kelaziman 'presidentialism', yang didefinisikan bahwa tidak semestinya kekuatan eksekutif dalam pemerintah dibandingkan dengan legislative dan yudikatif. Bagaimanapun, yang harus dicatat bahwa kita tidak membandingkan dua sistem murni, yang satu didasarkan pada keunggulan presiden dan yang lainnya pada keunggulan parlemen. Tidak semua sistem presidential sama: Presiden Pinochet tidak sama dengan presiden Kosta Rika. Kekuatan dari presiden dapat berasal dari sumber yang berbeda dan hal itu tidak selalu buruk. Ketika Presiden berusaha untuk mengubah hukum untuk memungkinkan pemilihan kembali seringkali menimbulkan prasangka untuk alasan buruk: Presiden Fujimori tidak sama dengan Presiden Cardoso di Brasil. Dari perdebatan mungkin akan disimpulkan bahwa sistem preidensial pada umumnya belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap masalah pemerintahan yang demokratis dan masalah stabilitas meskipunitu mungkin telah dilakukan pada beberapa kasus khusus. (Mainwaring dan Shugart, 1997: 1). Faktor utama lainnya yang menggagalkan konsolidasi demokrasi secara penuh ialah budaya politik yang lazim, beberapa pengamat melihat kekurangannya dari asal usul otoriter Catholic Hispanic. Studi kontemporer klasik budaya politik yaitu The Civic Culture Almond dan Verba (1963), yang secara tegas dalam tradisi pendekatan modernisasi 1950. Ada hubungan langsung antara level mikro (sikap politik individu) dan level makro yaitu tipe rezim. Ada banyak masalah dengan penelitian ini termasuk pembatasan survei untuk daerah perkotaan, metode pembatasan kuantitatif dalam analisis politik dan tidak adanya kepekaan terhadap variasi daerah. Pendekatan ini didasarkan pada asumsi keunggulan dari norma AS kemudian diambil

sebagai patokan untuk semua masyarakat lainnya. dalam melihat masalah demokrasi di Amerika Latin rezim otoriter seolah-olah menjadi satu-satunya alasan. Sejak penolakan ide budaya kebangsaan AS, konsep budaya politik kembali pada studi demokrasi Amerika Latin. Bahkan sekarang terdapat ketergantungan antara peran budaya politik dalam hubungannya dengan demokratisasi. Hal ini menuntut sebuah langkah structural yang melihat hubungan langsung antara kondisi ekonomi dan politik, untuk mengakui betapa pentingnya tingkah laku dan budaya. Setelah runtuhnya kediktatoran militer , akibat dari otoritarianisme dalam budaya politik umum perlu ditangani. Sikap demokratis mungkin tidak menciptakan masyarakat yang demokratis, tetapi akan tampaknya menjadi prasyarat yang diperlukan dalam proses demokratisasi. Jika kita melihat sifat dasar partai politik dalam wilayah ini yang lebih bernuansa dan dapat menerimanya, pemahaman akan demokrasi mungkin muncul. Untuk mengkonsolidasikan demokrasi, secara umum berpendapat bahwa sistem partai politik harus dilembagakan sebagai benteng melawan kebangkitan rezim otoriter. Demokrasi liberal didefinisikan secara tepat di mana partai politik dilembagakan serta berfungsinya sistem pemilu dan partai. Partai politik dalam teori adalah persaingan jutaan suara individu yang kemudian menjadi keputusan kolektif. Apa yang kita miliki untuk Amerika Latin adalah indeks institusional yang sangat berguna (versus sistem partai yang belum lengkap) berdasarkan kriteria: keteraturan persaingan partai; pengembangan kestabilan dalam masyarakat; legitimasi sistem pemilu dan partai di mata warga negara; dan soliditas relatif dari organisasi partai. Pemilihan Umum di Amerika Latin saat ini telah mengalami perubahan dari decade yang lalu. Partai politik dan perkumpulan massa telah kehilangan kekuasaan, saat ini yangmemegang kekuasaan adalah pusaran ilmuan dan focus group. Pada 1989 pemilu di Brasil, Color de Mello yang tidak di kenal dalam perintahan dan melalui kontrolnya pada perusahaan televisi yang penting Rede Globo, dia berhasil menjadipresiden. Pertemuanpertemuanpublik telah kehilangan perannya dalammelakuakn kampanye dan digantikan oleh TV. Lebih penting lagi terjadi kemunduran peranpartai politik dan anggotanya, politik telah didominasi oleh elemen mediamassa. Sekalipun di Chili strukturpartai tradisional masih kuat, tetap saja media massa dan TV menjadi kunci dalam kesusksesan pemilu sejak 1989. Transformasi dasar lainnya partai politik sudah mulai melibatkan perempuan. Selama era dictator, partai politik didominasi oleh laki-laki. Banyak organisasi perempuan menyeruakan HAM. Dengan adanya proses demokratisasi, perempuan coba memperjuangkan isu gender. Perempuan kemudian memiliki peran penting dalam politik di beberapa negara.