Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENGAWETAN TANAH DAN AIR (Pembagian Jenis Teras dan Perhitungan Jumlah Teras)

Oleh :

Kelompok Kelas/ Hari/ Tanggal Nama dan NPM

:5 : A1/ Kamis/ 26 April 2012 : 1. Gardhi DW 2. Lulu Labida 3. Bobby A. Palem (240110090029) (240110090031) (240110090033)

4. Rommy A. Mirhadi (240110090034) 5. Adinda Nurfadillah (240110090035)

Asisten

: Riando Simbolon

LABORATORIUM KONSERVASI TANAH DAN AIR JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Erosi pada dasarnya proses perataan kulit bumi . Proses ini terjadi dengan

penghancuran, pengangkutan dan pengendapan. Di alam ada dua penyebab utama yang aktif dalam proses ini yakni angin dan air. Selain itu Erosi erat kaitannya dengan penggunaan lahan dan tindakan konservasi tanah di suatu kawasan. Untuk mencegah erosi, masyarakat harus memperbaiki pola dan praktek-praktek penggunaan lahan dan melakukan usaha-usaha konservasi tanah dan air. Suatu bagian lereng mendapat input bahan-bahan tanah yang dapat dierosikan dari lereng atas serta penghancuran tanah di tempat tersebut oleh pukulan curah hujan dan pengikisan aliran permukaan. Disamping itu terdapat out put akibat pengangkutan tanah oleh curahan air hujan dan aliran pengangkutan tanah oleh curahan air hujan dan aliran permukaan bila total daya angkut dari air tersebut (curahan air hujan + aliran permukaan) lebih besar dari tanah yang tersedia untuk diangkut (total tanah yang dihancurkan), maka akan terjadi erosi. Sebaliknya bila total daya angkut lebih kecil dari total tanah yang dihancurkan akan terjadi pengendapan di bagian lereng tersebut. Oleh karena itu salah satu teknik pengolahan nya adalah dengan pembuatan teras. Pengelolaan lahan miring dengan menerapkan kaidah pengawetan tanah pada dasarnya bertujuan untuk : 1. memperbaiki dan menjaga tanah agar tahan terhadap pukulan butiran hujan dan kekuatan penghanyutan aliran air; 2. menutup permukaan tanah agar terlindung dari daya perusak/pukulan air; 3. memperbesar daya resapan tanah dan mengatur aliran permukaan agar tidak merusak tanah. Sebagai mahasiswa khususnya jurusan teknik pertanian seharusnya menguasai teknik pengolahan lahan miring. Oleh karena itu, praktikum ini diadakan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam perhitungan jumlah

teras yang kemudian dapat digunakan masyarakat untuk media pengolahan tanaman.

1.2

Tujuan Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui cara menghitung

jumlah teras yang harus dibuat pada suatu lahan serta dapat membuat bermacammacam teras.

1.3

Metodologi Pengamatan dan Pengukuran 1.3.1 Waktu dan tempat a) Waktu : Kamis, 26 April 2012 pukul 10.00-12.00 WIB

b) Tempat : Laboratorium Konservasi

1.3.2 Alat dan Bahan a) Alat tulis. b) Mistar/penggaris. c) Data suatu lahan. d) Alat pengukur kemiringan lahan. e) Patok. f) Meteran.

1.3.3 Prosedur Praktikum a) Memasang patok setiap 5 meter sepanjang 30 meter lahan miring. b) Mengukur sudut kemiringan lahan setiap 5 meter dengan alat pengukuran (kelompok kami menggunakan Hagameter). c) Mencatat semua hasil data kemiringan setiap 5 meter tersebut. d) Menghitung panjang lereng dan jumlah teras.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Teras bangku atau teras tangga Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang

lereng dan meratakan tanah di bagian

bawahnya sehingga terjadi deretan

bangunan yang berbentuk seperti tangga. Pada usaha tani lahan kering, fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran permukaan; (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak; (3) meningkatkan laju infiltrasi; dan (4) mempermudah pengolahan tanah. Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar, membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal), miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli), dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli). Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan, lahan tegalan, dan berbagai sistem wanatani. Tipe teras bangku dapat dilihat pada gambar dibawah ini:.

Gambar 2.1 Sketsa empat tipe teras bangku (Sumber: http://www.litbang.deptan.go.id/regulasi/one/12/file/BAB-IV.pdf)

Teras bangku miring ke dalam (goler kampak) dibangun pada tanah yang permeabilitasnya rendah, dengan tujuan agar air yang tidak segera terinfiltrasi menggenangi bidang olah dan tidak mengalir ke luar melalui talud di bibir teras. Teras bangku miring ke luar diterapkan di areal di mana aliran permukaan dan infiltrasi dikendalikan secara bersamaan, misalnya di areal rawan longsor. Teras bangku goler kampak memerlukan biaya relatif lebih mahal dibandingkan dengan teras bangku datar atau teras bangku miring ke luar, karena memerlukan lebih banyak penggalian bidang olah. Efektivitas teras bangku sebagai pengendali erosi akan meningkat bila ditanami dengan tanaman penguat teras di bibir dan tampingan teras. Rumput dan legum pohon merupakan tanaman yang baik untuk digunakan sebagai penguat teras. Tanaman murbei sebagai tanaman penguat teras banyak ditanam di daerah pengembangan ulat sutra. Teras bangku adakalanya dapat diperkuat dengan batu yang disusun, khususnya pada tampingan. Model seperti ini banyak diterapkan di kawasan yang berbatu. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pembuatan teras bangku adalah: 1. Dapat diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, tidak dianjurkan pada lahan dengan kemiringan >40% karena bidang olah akan menjadi terlalu sempit. 2. Tidak cocok pada tanah dangkal (<40 cm) 3. Tidak cocok pada lahan usaha pertanian yang menggunakan mesin pertanian. 4. Tidak dianjurkan pada tanah dengan kandungan aluminium dan besi tinggi. 5. Tidak dianjurkan pada tanah-tanah yang mudah longsor. Pedoman Umum Budidaya Pertanian di Lahan Pegunungan

2.2

Teras gulud Teras gulud adalah barisan guludan yang dilengkapi dengan saluran air di

bagian belakang gulud. Metode ini dikenal pula dengan istilah guludan bersaluran. Bagian-bagian dari teras gulud terdiri atas guludan, saluran air, dan bidang olah.

Gambar 2.2 Sketsa penampang samping teras gulud (Sumber: http://www.litbang.deptan.go.id/regulasi/one/12/file/BAB-IV.pdf)

Fungsi dari teras gulud hampir sama dengan teras bangku, yaitu untuk menahan laju aliran permukaan dan meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah. Saluran air dibuat untuk mengalirkan aliran permukaan dari bidang olah ke saluran pembuangan air. Untuk meningkatkan efektivitas teras gulud dalam menanggulangi erosi dan aliran permukaan, guludan diperkuat dengan tanaman penguat teras. Jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai penguat teras bangku juga dapat digunakan sebagai tanaman penguat teras gulud. Sebagai kompensasi dari kehilangan luas bidang olah, bidang teras gulud dapat pula ditanami dengan tanaman bernilai ekonomi (cash crops), misalnya tanaman katuk, cabai rawit, dan sebagainya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud diantaranya: 1. Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, dapat juga pada lahan dengan kemiringan 40-60% namun relatif kurang efektif. 2. Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi, guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah, guludan dibuat miring terhadap kontur, tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah.

2.3

Teras individu Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman

terutama tanaman tahunan. Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan, tanaman legume atau rumput dan tanaman tahunan.

Gambar 2.3 Sketsa teras individu pada areal pertanaman tahunan (Sumber: http://www.litbang.deptan.go.id/regulasi/one/12/file/BAB-IV.pdf)

2.4

Teras kebun Teras kebun adalah jenis teras untuk tanaman tahunan, khususnya tanaman

pekebunan dan buah-buahan.

Gambar 2.4 Teras kebun (Sumber: http://www.litbang.deptan.go.id/regulasi/one/12/file/BAB-IV.pdf)

Teras dibuat dengan interval yang bervariasi menurut jarak tanam. Pembuatan teras bertujuan untuk: 1. Meningkatkan efisiensi penerapan teknik konservasi tanah. 2. Memfasilitasi pengelolaan lahan (land management facility), diantaranya untuk fasilitas jalan kebun dan penghematan tenaga kerja dalam pemeliharaan kebun.

2.5

Rorak Rorak merupakan lubang penampungan atau peresapan air, dibuat di

bidang olah atau saluran resapan. Pembuatan rorak bertujuan untuk memperbesar peresapan air ke dalam tanah dan menampung tanah yang tererosi. Pada lahan kering beriklim kering, rorak berfungsi sebagai tempat pemanen air hujan dan aliran permukaan. Dimensi rorak yang disarankan sangat bervariasi, misalnya kedalaman 60 cm, lebar 50 cm, dan panjang berkisar antara 50-200 cm. Panjang rorak dibuat sejajar kontur atau memotong lereng. Jarak ke samping antara satu rorak dengan rorak lainnya berkisar 100-150 cm, sedangkan jarak horizontal 20 m pada lereng yang landai dan agak miring sampai 10 m pada lereng yang lebih curam. Dimensi rorak yang akan dipilih disesuaikan dengan kapasitas air atausedimen dan bahan-bahan terangkut lainnya yang akan ditampung. Sesudah periode waktu tertentu, rorak akan terisi oleh tanah atau serasah tanaman. Agar rorak dapat berfungsi secara terus menerus, bahan-bahan yang masuk ke rorak perlu diangkat ke luar atau dibuat rorak yang baru.

Gambar 2.5 Rorak dengan teras gulu (Sumber: http://www.litbang.deptan.go.id/regulasi/one/12/file/BAB-IV.pdf)

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 3.1.1

Hasil Soal Resitasi

1. Tentukan jumlah teras yang dapat dibuat pada suatu lahan apabila diketahui data sebagai berikut : panjang lereng 200 m, kemiringan (slope) 20% serta erodibilitas 0,65. Untuk daerah yang mudah ter erosi gunakan VI = 8S + 60 cm Untuk daerah yang tidak mudah ter erosi gunakan VI = 10S + 60 cm Jawab : VI = 8S + 60 cm = 8. 20 + 60 cm = 220 cm

VI = Wt . S/100 Wt = 220.100/20 = 1100 cm = 11 m

Jumlah Teras = panjang lereng/Wt = 200/11 = 18,18 teras

VI = 10S + 60 cm = 10. 20 + 60 cm = 260 cm

VI = Wt . S/100 Wt = 260.100/20 = 1300 cm = 13 m

Jumlah Teras = panjang lereng/Wt = 200/13 = 15,38 teras

2. Diketahui lebar bangku dari sebuah teras bangku datar yang akan dibuat adalah 3 meter, panjang lereng 150 meter, kemiringan (slope) 30% dan rasio kemiringan tampingan (vertikal : horizontal = 1 : 0,75), Tentukanlah a. Jarak Vertikal b. Lebar teras dan bidang tampingan c. Jumlah teras yang dibuat Jawab : a. VI = Wb . s/100 (Sxu) = 3.30/100 (30x0,75) = 1,16 m b. VI = Wt . S/100 Wt = 1,16.100/30 = 3,87 m

Lebar tampingan = Wt-Wb = 3,87 3 = 0,87 c. Jumlah teras = 150/3,87 = 38,78 teras

3.1.2

Hasil Pengukuran Lapangan Jarak (m) 15 5 10 10 15 15 20 Sudut (%) 14% 13% 10% 17%

20 25 25 30 Rata Rata

14% 15% 13,83%

Berdasarkan pola tanam jagung yaitu 40 x 100 cm, maka: VI = Wb . s/100 (Sxu) = 1. 13,83/100 (13,83x0,4) = 0,146 m

VI = Wt . S/100 Wt = 0,146.100/13,83 = 1,058 m

= arc tgn 0,1383 = 7,874o

Perhitungan 1 Jumlah teras = h/VI = 30 sin 7,874/ 0,146 = 28,149 teras Perhitungan 2 Jumlah teras = x/VI = 30 cos 7,874/ 1,058 = 28,088 teras Perhitungan 3 Jumlah teras = panjang lerang/Wt = 30 / 1,058 = 28,355 teras

3.2

Pembahasan Pada praktikum kali ini, praktikan membahas mengenai perhitungan

jumlah teras pada lahan miring. Seperti yang telah dijelaskan pada awal materi bahwa pembuatan teras atau penterasan adalah salah satu tindakan konservasi tanah secara mekanik untuk menghindari dan memperbaiki kerusakan lahan akibat erosi air. Spesikfikasi teras dalam pembuatan teras harus memperhatikan dan mempertimbangkan kemiringan dan kedalaman teras.

3.2.1

Analisis hasil resitasi Berdasarkan hasil perhitungan dari kedua soal resitasi, maka dapat kita

bandingankan bahwa pada soal pertama dengan panjang lereng 200 m dengan tanah yang mudah tererosi memiliki jumlah teras sebanyak 18 buah sedangkan pada tanah yang tidak mudah tererosi memiliki jumlah teras sebanyak 15 buah. Dari hasil ini dapat kita lihat bahwa pada tanah yang mudah tererosi dengan panjang lereng yang sama harus memiliki jumlah teras yang lebih banyak daripada tanah yang tidak mudah tererosi sehingga panjang lereng dapat semakin pendek yang dapat mengurangi tingkat erosi pada lahan tersebut. Pada soal kedua dengan panjang lereng 150 dapat dibuat 38 buah teras untuk konservasi lahan terhadap erosi. Pada soal pertama dan kedua panjang lereng tidak jauh berbeda sehingga memungkinkan untuk mendapatkan jumlah teras yang hampir sama pula, namun berdasarkan perhitungan didapatkan jumlah teras yang cukup jauh berbeda. Hal ini disebabkan oleh adanya kemiringan lereng dan nilai erodibilitas pada kedua lereng tersebut yang berbeda, pada soal pertama kemiringan lereng sebesar 20% dengan nilai erodibilitas tanah sebesar 0.65, sedangkan untuk soal kedua memiliki kemiringan lereng 30% dan nilai erodibilitas tanah sebesar 0.75. Kemiringan lahan memiliki pengaruh besar dalam permasalahan erosi, dan berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa, kemiringan pada suatu lahan atau lereng merupakan faktor yang sangat perlu diperhatikan. Pengaruh kemiringan lereng lebih besar dibandingkan pengaruh panjang lereng karena pergerakan air serta kemampuannya memecahkan dan membawa partikel tanah akan bertambah dengan bertambahnya sudut kemiringan lereng. Begitu pula, teori konservasi tanah mengatakan bahwa semakin miring keadaan suatu lahan atau

lereng tersebut maka erosi yang dapat terjadi pun akan semakin besar. Oleh karena itu, semakin besar presentase kemiringan suatu lahan maka teknik konservasi tanah dengan cara mekanik yaitu pembuatan teras pun akan semakin banyak guna untuk mengurangi erosi. Maka dari itu pada soal kedua dengan kemiringan 30% memiliki jumlah teras yang lebih banyak dibandingkan dengan dengan soal pertama dengan kemiringan lahan/lereng sebesar 20%. Erodibilitas merupakan kemudahan suatu tanah untuk mengalami erosi. Sama halnya dengan kemiringan lahan, suatu besar kecilnya nilai erodibilitas tanah pun berpengaruh penting dalam menentukan jumlah teras guna untuk menekan erosi yang terjadi. Karena erodibilitas menyangkut ketahanan tanah terhadap pelepasan dan pengangkutan, serta kemampuan tanah untuk menyerap air ke tanah, sehingga yang memberi pengaruh adalah karakteristik sifat fisik tanah meliputi tekstur, struktur, bahan organik, dan infiltrasi. Pada soal pertama nilai erodibilitas tanah sebesar 0.65 dan pada soal kedua sebesar 0.75, dengan menganggap curah hujan dan intensitas hujan yang terjadi pada lereng satu dan kedua adalah sama, maka erosi yang lebih tinggi akan terjadi pada lereng yang memiliki erodibilitas sebesar 0.75. Hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi atau besarnya nilai erodibilitas suatu tanah maka erosi yang dapat terjadi pun akan besar. Maka dari itu pada soal kedua ini dengan nilai erodibilitas tanah sebesar 0.75, akan memiliki jumlah teras yang lebih banyak dibandingkan dengan dengan soal pertama dengan erodibilitas tanah sebesar 0.65. Dari hasil yang didapatkan baik pada soal pertama maupun soal kedua memiliki jumlah teras yang tidak bernilai bulat (misalnya pada soal pertama jumlah teras sebesar 18,18). Hal ini berarti terdapat teras dengan jumlah 18 buah, sedangkan 0.18 tanah yang tersisa dapat dimanfaatkan untuk pembuatan guludan, pembuatan saluran air, penambahan tanah untuk pembuatan jalan disekitar teras tersebut.

3.2.2

Analisis data lapangan Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan di lapangan dengan

menggunakan alat pengukur kemiringan suatu lahan yaitu hagameter dengan panjang lereng 30 m, didapatkan rata-rata persentase kemiringan lahan sebesar

13.83%. Pada perhitungan ini, praktikan mengasumsikan bahwa pada lahan tersebut ditanami tanaman jagung yang mempunyai pola tanam 40 x 100 cm, sehingga dari perhitungan yang dilakukan maka pada lahan dengan kemiringan 13,83% dan jarak sebesar 30 m harus dibuat teras sebanyak 28 buah. Dari perhitungan teras dengan rumus berbeda yang dilakukan ternyata memiliki hasil yang hampir sama yaitu pada perhitungan pertama sebesar 28,149 teras, perhitungan kedua sebesar 28,088 teras, dan perhitungan ketiga sebesar 28,355 teras. Perbedaan ini tidak terlalu menjadi masalah karena jumlah teras yang dibuat tetap sama yaitu sebesar 28 teras dan kelebihan dari tanah yang tersisa dapat dimanfaatkan untuk pembuatan guludan, pembuatan saluran air, penambahan tanah untuk pembuatan jalan disekitar teras tersebut. Dengan pembuatan teras dengan jumlah 28 buah ini akan mengurangi aliran run off yang mengalir dari bagian lereng paling atas dan menuruni bagian bawah lereng. Sehingga dengan adanya pembuatan teras yang merupakan salah satu cara mekanik dari konservasi tanah akan mengurangi erosi dan vegetasi/tanaman yang ditanam pada lahan tersebut biasanya petani menanam tanaman jagung dapat terhindar dari erosi air dan hasil produksi yang didapatkan akan meningkat.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1

Kesimpulan Kesimpulan dari praktikum kali ini adalah:

a.

Pada tanah yang mudah tererosi dengan panjang lereng yang sama harus memiliki jumlah teras yang lebih banyak daripada tanah yang tidak mudah tererosi sehingga panjang lereng dapat semakin pendek yang dapat mengurangi tingkat erosi pada lahan tersebut.

b.

Kemiringan lereng dan nilai erodibilitas pada suatu lahan sangat berpengaruh pada banyaknya teras yang akan dibuat untuk pengendalian erosi pada lahan tersebut.

c.

Semakin besar kemiringan lereng dan nilai erodibilitas pada suatu lahan maka semakin banyak pula jumlah teras yang dibuat pada lahan tersebut.

d.

Pada perhitungan di lapangan dengan kemiringan lahan 13,83% dan jarak sebesar 30 m, dimana praktikan mengasumsikan bahwa pada lahan tersebut ditanami tanaman jagung yang mempunyai pola tanam 40 x 100 cm harus dibuat teras sebanyak 28 buah.

e.

kelebihan tanah yang tersisa dari perhitungan teras dapat dimanfaatkan untuk pembuatan guludan, pembuatan saluran air, penambahan tanah untuk pembuatan jalan disekitar teras tersebut.

f.

Dengan pembuatan teras dengan jumlah 28 buah ini akan mengurangi aliran run off yang mengalir dari bagian lereng paling atas dan menuruni bagian bawah lereng.

4.2

Saran Saran yang diberikan untuk praktikum adalah:

a.

Diperlukan alatalat praktikum yang lengkap dan baik kondisinya agar praktikan dapat melakukan praktikum dengan baik tanpa harus kekurangan alat.

b.

Ketelitian dalam melakukan praktikum harus ditingkatkan agar data yang didapatkan akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Institut Pertanian Bogor: Bogor. Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. UGM Press: Yogyakarta. Nurpilihan, Bafdal.2011.Buku ajar Teknik Pengawetan Tanah dan Air.Bandung. Tani Muda http://wahyuaskari.wordpress.com/literatur/ Diakses pada Senin, 1 Mei 2012 pukul 18.19 WIB Faktor Penentu Kepekaan Tanah Terhadap Longsor dan erosi. www.litbang.deptan.go.id/regulasi/one/12/file/BAB-II.pdf Diakses pada Senin, 1 Mei 2012 pukul 18.19 WIB

LAMPIRAN

Gambar 1. Proses Kalibrasi

Gambar 2. Mengukur Kemiringan Lereng