Anda di halaman 1dari 4

B-Blockers, pemberian obat tunggal atau bersamaan dengan nitrogyserin secara intravena , harus diberikan lebih awal pada

semua pasien dengan tanpa kontraindikasi* KONTRAINDIKASI PEMBERIAN B-BLOCKER PADA ACUTE CORONARY SYNDROME: Denyut Jantung < 50x/menit Gagal jantung ventrikel kiri (Left Ventricular Failure) sedang-berat yang tak terkompensasi Syok Atrioventrikular Block (AV Block) derajat I PR interval >0,24 sec Atrioventrikular Block derajat II (type I atau type II) atau Atrioventrikular Block derajat III (Total AV Block) TD Sistolik < 90 mmHg Hipoperfusi perifer Penyakit brochospasme aktif (asma atau PPOK)

Pada awal-awal jam pertama setelah onset serangan ACS, B-bloker dapat mengurangi kebutuhan oksigen pada miokardium dengan mengurangi denyut jantung, tekanan arteri sistemik, dan kontraktilitas miokardium. Selain itu, diastol yg memanjang yang disebabkan oleh penurunan denyut jantung dapat meningkatkan perfusi ke daerah miokardium yg mengalami iskemik, khususnya pada subendomiokardium. Pemberian B-Blocker intravena dapat memberikan onset kerja yang cepat, dan jika agent short-acting yang digunakan , hipotensi dapat terjadi berbalik secara cepat. Pada keadaan nyeri dada yang masih sedang berlangsung, pemberian loading dose B-Blocker harus diberikan secara intravena dan dilamjutkan dengan pemberian oral. Nondihydropyridine CCB (Calcium Channel Blockers) contohnya seperti: diltiazem, tidak dapat mengurangi resiko infark miokard, namun dapat dipertimbangkan (jika tidak ada kontraindikasi) jika pasien tidak dapat diberikan B-Blocker ataupun gejalagejala simtomatik infark miokard tidak dapat dikendalikan dengan pemberian nitroglycerin dan B-Blocker secara bersama-sama.

Obat-obat antiplatelet dan antitrombin merupakan obat yang penting digunakan pada Unstable Angina dan NSTEMI, karena berkaitan dengan aktivasi platelet/agregasi dan sistem koagulasi terhadap pembentukan thrombus yang kaya akan platelet. Terdapat tiga golongan obat antiplatelet yang bermanfaat digunakan pada iskemik miokardia: aspirin, adenosine diphospate inhibitor (clopidogrel dan ticlopidine) dan glycoprotein (GP) IIb/IIIa inhibitor. *

OBAT-OBAT ANTIPLATELET & ANTITHROMBIN PADA ACUTE CORONARY SYNDROME Pemberian Secara Oral Aspirin Adenosine Diphosphate Inhibitors Clopidogrel Ticlopidine Pemberian Secara Intravena Glycoprotein IIb/IIIa Inhibitors Abciximab Eptifibatide Tirofiban

Intensitas pemberian terapi dengan golongan obat tersebut sering disesuaikan terhadap penilaian resiko pasien dan rencana selanjutnya untuk prosedur tindakan invasif. Aspirin (tanpa lapis enteric) dengan dosis 162 325 mg harus segera diberikan secepatnya (dengan cara dikunyah), diberikan kepada seluruh pasien dengan UA/NSTEMI dan dilanjutkan terus menerus. Clopidogrel harus dipertimbangkan sebagai alternative antiplatelet jika terdapat kontraindikasi terhadap pemberian aspirin. Clopidogrel lebih disukai/dipilih dibandingkan ticlodipine karena lebih cepat menghambat aktivasi platelet dan resiko rendah terjadinya neutropenia.

Jika tidak ada rencana dilakukan tindakan invasive terhadap pasien, maka ditambahkan pemberian clopidogrel selain aspirin untuk mengurangi resiko terjadinya kematian terhadap kardiovaskular, infark miokard dan stroke. Penambahan terapi clopidogrel pada pasien yang akan menjalani Percutaneous Coronary Interventions (PCIs) didapatkan hasil yang lebih bermanfaat.

Pemberian terapi clopidogrel direkomendasikan minimal untuk 1 bulan sampai 12 bulan, tetapi jangka waktu optimalnya belum dapat ditentukan.

Pasien-pasien dengan resiko tinggi (dengan iskemi berlanjut, peningkatan level troponin) dapat menjadi pertimbangan untuk pemberian terapi antiplatelet golongan glycoprotein IIb/IIIa inhibitor. Beberapa hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat adanya penurunan tingkat kematian atau infark miokard dengan menggunakan golongan GP IIb/IIIa yang dikombinasikan dengan heparin. Penggunaan terapi GP IIb/IIIa dikaitkan dengan adanya sedikit peningkatan resiko terjadinya perdarahan, terutama di lokasi yang terdapat akses vena. Pemberian terapi GP IIb/IIIa juga harus diberikan jika terdapat rencana dilakukan tindakan PCI, tetapi dapat diberikan sesaat sebelum dilakukan tindakan intervensi. Pemilihan jenis obat tertentu yang diberikan tergantung pada ketersediaan obat dan preferensi dari ahli jantung intervensi. Pemeriksaan koagulasi dan platelet harus diketahui sebelum diberikan terapi GP IIb/IIIa inhibitor.

Kombinasi pemberian aspirin dan heparin didapatkan hasilnya lebih bermanfaat bila dibandingkan hanya menggunakan terapi tunggal aspirin pada ACS. Unfractionated Heparin (UH) atau Low-Molecular-Weight Heparin (LMWH) harus diberikan sebagai antitrombin kecuali pada pasien yang memiliki kontraindikasi yang signifikan terhadap pemberian heparin. Pemberian LMWH (khususnya enoxaparin) lebih dianjurkan daripada UH pada pasienpasien dengan UA/NSTEMI, kecuali terdapat rencana tindakan bedah revaskularisasi yang dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam. Pemeriksaan jumlah platelet/trombosit serial diperlukan untuk memantau terjadinya trombositopeni yang diakibatkan oleh heparin.

Peranan secara langsung dari trombin inhibitor (hirudin, lepirudin dan bivalrudin) pada pasien dengan ACS masih terus dilakukan penelitian.

Angiotensin-converting Enzyme inhibitor (ACE inhibitor) dapat diberikan sebagai terapi awal tambahan apabila hipertensi masih belum dapat diturunkan/tidak memberikan efek pada pemberian terapi nitrogliserin dan B-Blocker sebelumnya. Pemberian obat trombolitik terbukti tidak bermanfaat pada kasus pasien dengan UA/NSTEMI.