Anda di halaman 1dari 23

PROPOSAL PENELITIAN Nama : Muhammad Tanzili

NIM/NIMKO : 2005.0006.2394/2005.4.037.0310.1.00071 Fakultas Jurusan Prog. Studi Angkatan Judul : Ushuluddin : Tafsir Hadist : Strata 1 (S1) : 2005 :

KONSEP ADIL MENURUT QURAISH SHIHAB DALAM TAFSIR AL-MISHBAH


A.Latar Belakang Masalah Orientasi Al-Qur'an adalah membangun kebajikan jalan kehidupan manusia, mewujudkan kemaslahatan umat, membimbing ke jalan yang lurus, menuju jalan yang lebih selamat dan sahih, baik di dunia maupun di akhirat. (Wahbah Zuhaili, 1996: viii). Kebajikan, kemaslahatan, serta keamanan tidak akan pernah terwujud jika nilai-nilai keadilan dan kebijaksaan terlepas dari ruh kehidupan manusia. Iaman Ghazali (2007: 146) mengatakan, kehidupan rumah tangga harus dilandasi keadilan, dan bahwa masyarakat secara keseluruhan dapat berkembang dan lestari hanya jika dilandasi prinsip persamaan dan keadilan. Firman Allah QS. An-Nisaa': 135:

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan". Menegakkan keadilan di atas muka bumi tidak hanya diwajibkan kepada manusia, tapi merupakan kewajiban utama para nabi yang menerima petunjuk dan syari'at Allah. Firman Allah:


"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa". (Q. S. AlHadiid: 25). Setiap tatanan kehidupan, baik dalam keluarga, masyarakat, dan dalam pemerintahan, dari tiap individunya harus tertanam sifat keadilan. Karena keadilan ialah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Hal ini dapat mengantarkan sifat saling mengerti bahwa setiap kita mempunyai hak hidup. Jadi keadilan pada pokoknya terletak pada keseimbangan atau keharmonisan antara menuntut hak dan menjalankan kewajiban.

Demikian pula, menurut Rachmat Ramadhana, (2008: 200-201), seorang yang mempunyai sifat adil akan bersikap, berbuat, dan bertindak proporsional, bijak, dan adil dalam mengambil keputusan apapun. Sebagaimana firman Allah:


"Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil" (Q. S. Al-Maidah: 42). Menurut Magnis Suseno, (1987: 81) ayat di atas menuntut agar semua orang dalam situasi yang sama diperlakukan dengan sama pula. Dan keadilan hanya akan terwujud dalam kehidupan sesama apabila kita memperlakukan objek dengan cara terbaik yang sesuai dengan keadaannya. (Thoha Faz, 2007: 280). Uraian-uraian di atas menjelaskan tentang keadilan yang sifat dasar manusia agar tercipta suatu tatanan kehidupan yang harmonis dengan tanpa ada yang merasa diperlakukan tidak adil. Setelah memaparkan sekilas keadilan di antara sesama manusia, peneliti akan memaparkan singkat tentang keadilan Allah terhadap segenap ciptaan-Nya. Penjelasan ini untuk lebih memperjelas keadilan bagaimana yang akan diteliti oleh penulis. Firman Allah:


"Sesungguhnya Allah tidak berbuat lalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat lalim kepada diri mereka sendiri". (Q.S. AtTaubah: 70). Ahmad Thoha Faz (2007: 288-289), menafsirkan ayat di atas, bahwa setiap kejadian yang tidak menyenangkan bukan berarti Allah itu kejam. Dalam beberapa konteks, memang dikatakan Allah sebagai "murka-Ku". Namun, sesungguhnya Dia tidak pernah berbuat curang dan garang. Kitalah yang merusak diri kita sendiri dengan menabrak hukum-hukum-Nya. Murka-Nya adalah keadilan-Nya. Penyakit yang kita derita adalah cambuk Allah di dunia untuk mendidik hamba-Nya untuk bersabar (mengubah diri), dan juga kreatif mencari obat. Dari pada itu keadilan Tuhan pada hakekatnya manisfestasi khusus dari cinta-Nya. Dalam sejarah Islam, berkenaan dengan keadilan Allah ada satu aliran yang menyebut golongan ahl al-'adl (golongan yang mempertahankan keadilan Tuhan), dimana aliran ini memegang lima prinsip dasar, dan di antara salah satunya adalah tentang al-'adl (keadilan Tuhan). Menurutnya, Allah tidak menyukai kerusakan dan tidak pula menciptakan perbuatan manusia. Dia mengayomi segala kebaikan yang diperintahkan, dan terlepas dari segala kejahatan yang dilarang-Nya. Dia kuasa untuk mencegah ketika manusia berbuat kejahatan. Tetapi Allah tidak melakukan hal itu, karena jika demikian berarti Dia menghilangkan ujian dan cobaan-Nya (dari manusia). (Harahap dan Nasution, 2003: 7-8). Pendapat di atas senada dengan pendapat Hamka, (2003: 171), bahwa Allah tidak melakukan aniaya terhadap hamba-Nya walau sebesar zarrah sekalipun. Dengan sifat keadilan Allah tersebut diharapkan kita dapat meneladani, karena dengan sifat ini akan mengantarkan kepada tidak menganiaya antara sesama.

Setelah menerangkan makna dan peranan keadilan dalam kehidupan manusia, nilai keadilan sungguh sangat menentukan keharmonisan suatu masyarakat dan tegaknya suatu tatanan kehidupan yang berkeadilan sosial dapat mengantarkan kepada kesejahteraan masyarakat. Namun dari realita yang ada saat ini, suatu tatanan masyarakat yang utuh justru dirusak dan dinodai oleh sifat khianat dari tiap pribadi itu sendiri, sehingga kezaliman merajalela yang mengantarkan manusia kepada kehancuran dan perpecahan antara sesama. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah "Manusia tidak pernah berselisih paham tentang pendapat bahwa akibat dari kezaliman itu mulia; oleh karena itu orang mengatakan bahwa Allah memenangkan Negara yang adil meskipun kafir dan tidak membantu Negara yang zalim meskipun mukmin". (Ahmadi Thaha, 2007: 127). Kita tahu bahwa kezaliman yang mengakar dan mendarah daging di kalangan jajaran pemerintahan Islam khususnya, bukan berarti mereka buta akan makna adil dan penerapan keadilan, akan tetapi mereka tidak dapat menundukkan dan melepaskan diri dari perbudakan dan penjara hawa nafsu mereka. Lalu seperti apa penafsiran dan pendapat Quraish Shihab dalam memaknai keadilan. Dalam buku Wawasan Al-Qur'an Quraish Shihab mengatakan, (2007: 153-154) kesejahteraan hanya dapat kita rasakan bila terdapat keseimbangan pada suatu kelompok yang di dalamnya terdapat beragam bagian yang menuju satu tujuan dan cita-cita bersama, selama syarat dan kadar tertentu terpenuhi oleh setiap bagian. Dengan terhimpunnya syarat ini, kelompok itu dapat bertahan dan berjalan menuju kesejahteraan umum. "Wahai manusia, apakah yang memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu, dan mengadilkan kamu (menjadikan susunan tubuhmu seimbang) (Q. S Al-Infithar: 6-7).

Kemudian untuk menumbuhsuburkan dan menanamkan nilai-nilai keadilan dalam diri manusia haruslah dimulai dari diri kumpulan komunitas kecil atau diri kita pribadi. Sebagaimana Quraish Shihab (2007: 172) mengatakan bahwa,

"Kesejahteraan sosial dimulai dari perjuangan mewujudkan dan menumbuhsuburkan aspek-aspek akidah dan etika pada diri pribadi, karena dari diri pribadi yang seimbang akan lahir masyarakat seimbang. Masyarakat Islam pertama lahir dari Nabi Muhammad Saw, melalui kepribadian beliau yang sangat mengagumkan. Pribadi ini melahirkan keluarga seimbang: Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Fathimah Az-Zahra', dan lain-lain. Kemudian lahir di luar keluarga itu Abu Bakar Ash-Shiddiq r. a., dan sebagainya, yang juga membentuk keluarga, dan demikian seterusnya, sehingga pada akhirnya terbentuklah masyarakat yang seimbang antara keadilan dan kesejahteraan sosialnya".

Tidak pada yang demikian itu saja, Qurasih Shihab pun memaklumatkan bahwa, salah satu sendi kehidupan bermasyarakat adalah keadilan. Berbuat baik melebihi keadilan seperti memaafkan kepada yang bersalah atau memberikan bantuan kepada yang malas akan dapat menggoyahkan sendi-sendi tatanan kehidupan bermasyarakat. Memang Al-Qur'an memerintahkan perbuatan adil dan kebajikan seperti firman-Nya, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan" (Q.S Al-Nahl: 90), karena ihsan (kebajikan) dinilai sebagai sesuatu yang melebihi keadilan. Namun dalam kehidupan bermasyarakat, keadilan lebih utama daripada kedermawanan atau ihsan. Selanjutnya Quraish Shihab, (2007: 158) menambahkan bahwa "Keadilan harus ditegakkan di mana pun, kapan pun, dan terhadap siapa pun. Bahkan, jika perlu dengan kekerasan. Karena ia adalah salah satu cara untuk menegakkan keadilan". Paling tidak ada empat makna keadilan yang diungkapkan oleh para pakar agama: pertama: adil dalam arti "persamaan (hak manusia)". Kedua: adil dalam arti "seimbang (keseimbangan dan kesesuaian bukan lawan kata keadilan)". Ketiga:

adil dalam arti "menempatkan sesuatu pada tempatnya (antara hak sesama manusia)". Dan yang keempat: "adil yang dinisbatkan kepada Ilahi" (Quraish Shihab, 2007: 152-155). Demikian untuk memahami makna keadilan secara mendetail dari penafsiran Quraish Shihab tentang keadilan dalam tafsirnya Al-Mishbah, perlu kiranya peneliti mengkaji lebih jauh lagi, sehingga diharapkan dapat mengungkap model corak penafsirannya dan interpretasi terhadap makna keadilan atau sikap adil sesama manusia. Dari ragam makna keadilan di atas maka peneliti akan mengedepankan pembahasan tentang "makna keadilan dalam Al-Qur'an". Karena dengan sikap ini manusia akan sadar betapa pentingnya keadilan yang dapat mengantarkan kepada ketakwaan dan tentunya akan melahirkan masyarakat yang damai sejahtera. Dengan dasar pemikiran di atas, peneliti tertarik untuk meneliti penafsiran Quraish Shihab terhadap ayat-ayat tentang keadilan. B.Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti kemudian membatasi masalah ini pada penafsiran Quraish Shihab tentang adil (keadilan manusia) dalam Tafsir Al-Mishbah yang selanjutnya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, sebagai berikut: 1.Bagaimana penafsiran Quraish Shihab tentang makna adil dalam tafsir Al-Mishbah? 2.Bagaimana metode Quraish Shihab dalam menafsirkan makna keadilan dalam tafsir Al-Mishbah? 3.Bagaimana konsep keadilan manusia menurut Quraish Shihab?

C.Tujuan Penelitian Sebagaimana yang dinukilkan oleh Kaelan, (2005:234) bahwa, tujuan sebuah kajian atau penelitian adalah rumusan singkat dalam menjawab masalah penelitian. Oleh karena itu, tujuan kajian ini adalah untuk mendeskripsikan penafsiran Quraish Shihab tentang makna keadilan. Tujuan penelitian ini difomulasikan dalam bentuk pernyataan sebagai berikut: 1.Mendeskripsikan penafsiran Quraish Shihab dalam mengungkap makna adil dalam tafsir Al-Mishbah. 2.Mendeskripsikan metode Quraish Shihab dalam menafsirkan makna keadilan dalam tafsir Al-Mishbah. 3.Mendeskripsikan konsep keadilan manusia menurut Quraish Shihab D.Kegunaan Penelitian Bakker dan Zubair, (1990: 11) mengungkap bahwa fungsi dari penelitian adalah sebuah formulasi atau jalan untuk menemukan dan memberikan penafsiran yang benar. Sehingga ilmu pengetahuan tidak berdiri di tempat dan surut ke belakang. Kemudian Kaelan, (2005:235) menyatakan bahwa suatu penelitian atau kajian harus memiliki nilai guna baik secara praktis maupun akademis. Berikut kegunaan dari penelitian ini: 1.Secara Akademis: Kajian ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi penting dan jembatan untuk mengkaji disiplin ilmu yang serupa terhadap penelitian mendatang. Kemudian, mengingat kajian ini merupakan salah satu sendi-sendi terpenting yang dapat mengantarkan ketakwaan dan ketakwaan menciptakan kesejahteran umat manusia. Lain dari pada itu, kajian ini berfungsi untuk

menambah literatur khususnya di Perpustakaan IDIA, berkenaan dengan kajian di bidang tafsir dan teologi. 2.Secara Praktis: Kiranya dengan mendeskripsikan penafsiran Quraish Shihab tentang makna keadilan dalam kitab tafsirnya Al-Mishbah diharapkan dapat mengurangi kezaliman, membuang khianat, kesewenang-wenangan dan diktatorisme dalam interaksi dengan sesama manusia yang lain, (Ahmadi Thaha, 2007: 127). Lebih dari pada itu, dapat mengantarkan manusia kepada ketakwaan demi mencapai kesejahteraan umat. E. Alasan Pemilihan Judul Ada dua alasan mengapa peneliti memilih judul ini: 1.Alasan Obyektif. Keadilan merupakan "salah satu organ" terpenting dalam mengantarkan manusia kepada ketakwaan yang dapat melahirkan kesejahteraan umat manusia. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Maaidah: 8. " Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Quraish Shihab, 2007: 147-148). Kemudian, keadilan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia karena dalam hidupnya manusia menghadapi hal tersebut dalam tiap harinya. (Joko Tri Prssetya, 2004: 137). Selain alasan di atas, tafsir Al-Mishbah dengan, warna keindonesiaan

penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khazanah pemahana dan penghayatan umat Islam terhadap rahasia makna ayat Allah. (http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia tafsir-Al-Mishbah) Quraish Shihab adalah salah satu mufasir kontemporer yang banyak menyumbangkan gagasan dan pemikiran dalam berbagai forum dan kajian ilmiah hususnya di bidang tafsir Al-Qur'an. Kemudian dilihat dari latar belakang pendidikannya, beliau telah menspeliasasikan pendidikannya dalam ilmu tafsir AlQur'an. 2. Alasan Subyektif. Menurut penulis, penafsiran Quraish Shihab sangat relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan mampu menjawab permasalahan kontemporer. Kemudian penafsiran Quraish Shihab sangat mudah dimengerti oleh setiap pembaca, karena ia memaparkan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh semua kalangan. Dan yang paling penting dari semua itu, kajian ini selaras dengan jurusan peneliti, kemudian tafsir Al-Mishbah disajikan dalam bahasa Indonesia, sehingga memungkinkan dan memudahkan peneliti untuk mengkaji dan menyelasaikannya. F. Batasan Istilah Dalam Judul 1.Quraish Shihab Ulama sekaligus mufasir kelahiran Rampang, lebih tepatnya di Sulawesi Selatan yang bertepatan pada 16 Februari 1944. Nama panjang pakar tafsir ini adalah, Prof, Dr, Muhammad Qurash Shihab, M.A. beliau cukup dikenal pada kalangan ilmiah kontemporer, karena telah banyak menyumbangkan gagasan dan keilmuan hususnya dalam bidang tafsir AlQur'an. Tafsir Al-Mishbah yang beliau sajikan telah menggambarkan akan keluasan ilmu dan pengetahuannya juga memperlihatkan bahwa beliau memang

ahli dalam bidang tafsir. (lihat Shihab, 2008: 5). Bahkan pada tahun 1998-2006 dipercaya sebagai Dewan Pentashih Al-Quran Departemen Agama RI (lihat Shihab, 2006: Sampul depan). 2.Makna Keadilan dalam Al-Qur'an Kata adil terambil dari kata 'adala yang terdiri dari huruf 'ain, daal, dan laam. Rangkaian huruf-huruf ini mengandung dua makna yang bertolak belakang, yakni "lurus dan sama" serta "bengkok, berbeda". Arti keadilan adalah tidak berpihaknya seseorang terhadap orang yang berselisih. (Lihat Sulaiman Al-Kumayi, 2005: 242). Setidaknya di dalam Al-Quran Allah mengungkapkan kata adil dengan macam kata al-adl, al-qisth, kemudian dengan kata al-miizaan. Pada hal demikian inilah yang akan menjadi pembahasan pokok dalam peneliti ini. Pertaman: kata al-adl Kata al-adl dalam Al-Quran terdapat sebanyak 21 kali di 11 surat dengan beragam bentuknya. Yaitu dalam surat Al-Baqarah: 48, 123, 282. Surat An-Nisaa: 3, 58, 129, 135. Al-Maaidah: 8, 95, 106. Al-Anam: 70, 150. Al-araf: 159, 181. An-Naml: 15, 60. An-Nahl: 76, 90. Asy-Syura: 15. AlHujurat: 9. Ath-Thalaaq: 2. Kedua: kata al-qisth Kemudian kata al-qisth terdapat sebanyak 23 kali di 17 surat. Di dalam surat Al-Baqarah: 282. Al-An-am: 152. Al-Hujurat: 9. An-Nisaa: 3, 127, 135. Al-Maaidah: 8, 42. Al-Anam: 152. Al-Araaf: 29. Al-Mumtahanah: 8. Al-Imraan: 18, 21. Yunus: 4, 47, 54. Hud: 85. Al-israa: 35. Al-Anbiyaa: 47. As-Syuaraa: 182. Ar-Rahman: 9. Al-Hadiid: 25. Al-Ahzab: 5.

Dan yang ketiga: kata al-miizaan Sedangkan kata Al-Miizan terdapat sebanyak 19 kali di 13 surat seperti dalam surat Al-Anam: 152. Al-raaf: 8, 85. Hud: 84, 85. As-Syura: 17. ArRahman: 7, 8, 9. Al-Hadiid: 25. Al-Kahfi: 105. Al-israa: 35. As-Syuaraa: 182. Al-Muminun: 102, 102. Al-Qaariah: 6, 8. Al-Mutaffifin: 3. Al-Anbiyaa: 47. 2.Sekilas Tentang Tafsir Al-Mishbah Tafsir Al-Mishbah oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab diterbitkan oleh Lentera Hati. tafsir al-Mishbah adalah sebuah tafsir Al-Qur'an lengkap 30 Juz pertama dalam kurun waktu 30 tahun terakhir yang ditulis oleh mufassir terkemuka Indonesia. Warna keindonesiaan penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khazanah pemahamaan dan penghayatan umat Islam terhadap rahasia makna ayat Allah SWT. Tafsir Al-Mishbah terdiri dari 15 Jilid, yaitu jilid 1 terdiri dari surah AlFatihah sampai dengan Al-Baqarah, Jilid 2 surah Ali-Imran sampai dengan AnNisa, jilid 3 surah Al-Maidah, jilid 4 surah Al-Anam, jilid 5 surah Al-Araf sampai dengan At-Taubah, jilid 6 surah Yunus sampai dengan Ar-Raad, jilid 7 surah Ibrahim sampai dengan Al-Isra, jilid 8 surah Al-Kahf sampai dengan AlAnbiya, jilid 9 surah Al-Hajj sampai dengan Al-Furqan, jilid 10 surah AsySyuara sampai dengan Al-Ankabut, jilid 11 surah Ar-Rum sampai dengan Yasin, jilid 12 surah As-Saffat sampai dengan Az-Zukhruf, jilid 13 surah AdDukhan sampai dengan Al-Waqiah, jilid 14 surah Al-Hadad sampai dengan Al-Mursalat, dan jilid 15 surah Juz Amma. (http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Tafsir-Al-Mishbah) G.Kajian Pustaka

Sepanjang pengetahuan penulis, penelitian cermat dan menyeluruh tentang keadilan dalam Al-Quran belum ditemukan. Akan tetapi pembicaraan tentang keadilan manusia banyak dibahas dalam beberapa buku dan literaturliteratur, seperti Sulaiman Al-Kumayi, (2007: 242-243) bahwa ia membagi keadilan menjadi tiga bagian. Pertama, mengenai segala yang dilakukan manusia terhadap Tuhannya. Artinya manusia harus berprilaku layaknya seorang hamba kepada tuannya, tentunya sebatas kemampuannya. Ia dituntut untuk memberikan apa yang harus diberikan kepada orang yang tepat dengan cara yang benar pula. Kedua, adalah kewajiban yang harus dijalani manusia terhadap sesama manusia lainnya. Dengan cara memenuhi semua hak-hak sesama, menghormati pemimpin mereka, amanat dalam segala hal. Kemudian yang ketiga, kewajiban manusia terhadap para leluhur mereka, yaitu dengan cara menunaikan wasiat, membayar hutang dan sebagainya. Dalam pembahasan di atas, penulis menggambarkan keadilan dari sudut pandang tasawuf. Yang mana seorang hamba harus meneladani sifat Tuhannya. Sehingga dapat menumbuhsuburkan sifat keadilan dalam dirinya dan tidak akan curang kepada siapa pun. Adapun Joko Tri Prasetya (2004: 136-137), dia meninjau keadilan dari sisi sifat-sifatnya dan membaginya menjadi tiga kelompok. Pertama, keadilan legal atau keadilan moral. Artinya, setiap orang hendaklah menjalankan pekerjaannnya menurut sifat dasarnya yang paling cocok baginya. Kedua, keadilan distributif, yaitu perlakuan sama terhadap hal-hal yang sama dan sebalinya. Ketiga, keadilan komutatif, yaitu keadilan merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Kemudian pembahasan tentang penafsiran keadilan tidak sedikit ditemukan dalam kitab tafsir-tafsir. Seperti, Al-Ghazali, (2007: 211-212) mengatakan bahwa, keadilan harus ditegakkan dan dijalin antara muslim dan

musuh mereka. Firman Allah dalam surat Al-Mumtahaanah: 8-9. Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. Al-Ghazali, (2007: 212) menafsirkan ayat di atas, bahwasanya keadilan adalah tidak akan tega seorang muslim membiarkan saudara kita terpuruk dalam pendindasan dan penjajahan kaum kafir. Artinya, harus ada rasa solidaritas antara sesama muslim dan kerjasama atau tolong-menolong untuk mengubah suatu keadaan kepada yang lebih baik. Upaya tersebut merupakan wujud dari keadilan dan penghormatan kepada nilai-nilai kemanusia. Penafsiran ini berupa perpaduan antara metode tafsir analitis dan tematis. Disini beliau menafsirkan bahwa bersifat adil adalah dengan merasakan setiap kesedihan dan penderitaan yang dirasa oleh orang lain. Berdasarkan argumentasi-argumentasi di atas belum ditemukan penelitian secara spesifik mengenai keadilan manusia dalam berinteraksi antara sesama individu masyarakat. H.Metode Kajian 1.Pendekatan dan Jenis Penelitian. Penelitian ini dilakukan melalui riset kepustakaan (library reserch), dengan melalui pendekatan kualitatif, karena objek pembahasannya terfokus pada ayat-ayat tentang keadilan yang sumber datanya diambil dari buku-buku,

literatur-literatur dan kitab-kitab tafsir yang ada hubungan langsung atau tidak langsung dengan pembahasan. Kemudian metode yang digunakan yaitu deskriptif, analitis, komparatif dan induktif. Deskriptif analitis digunakan untuk mengungkap dan menjelaskan makna keadilan dalam tafsir Al-Mishbah. Kemudian metode komparatif digunakan untuk membandingkan persamaan dan perbandingan antara penafsiran Quraish Shihab tentang ayat-ayat yang membahas tentang keadilan dengan para ulama lainnya. (Gina Maulana, 2004: 5). Dan metode induktif untuk menarik suatu kesimpulan dari pembahasan ini. 2.Sumber Data. Sumber data penelitian, sebagaiman yang diungkap oleh Kaelan, (2005: 148) bahwa sumber data harus relevan dengan penelitian yang dilakukan. Yang dibagi menjadi sumber data primer dan sekunder. Adapun, karena penelitian ini meneliti penafsiran Quraish Shihab, maka sumber data primernya adalah kitab tafsir Al-Mishbah. Karya ini dipilih, karena peneliti akan mengkaji penafsiran Quraish Shihab terhadap ayat-ayat yang berbicara tentang keadilan. Sedangkan sumber data skundernya diperoleh dari bahan-bahan pustaka tertulis yang berupa buku, laporan hasil penelitian, makalah, jurnal ilmiah, atau literatur-literatur lain. (Kaelan, 2005: 149). Untuk hal ini peneliti membaginya dalam beberapa katagori. Pertama: kitab-kitab tafsir. Seperti, Tafsir Al-Quran Majid An-Nuur: karya Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Tafsir Ibnu Katsir: karya Ibnu Katsir. Tafsir Al-Azhar karya Hamka. Dan tafsir Fi Dhilalil Quran, karya Sayyaid Kutb. Menikmati Jamuan Allah, karya Muhammad AlGhazali yang terdiri dari tiga jilid. Sumber-seumber data ini dipilih karena akan dijadikan bahan perbandingan dan pendukung pendapat Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat-ayat tentang keadilan. Kedua, buku-buku karya Qurasih Shihab sendiri yang berkaitan dengan pembahasan ini, seperti Wawasan Al-

Quran: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat. Menabur Pesan Ilahi: Al-Quran dan Dinamika Kehidupan Masyarakat. Dan yang ketiga buku karya-karya umum seperti Kisah Keadilan Para Pemimpin Islam, karya Nasiruddin S. Ag, MM. Keadilan Ilahi, karya Murtadha Murhahari. Kemudian penliti menggunakan buku Metodologi Penelitian Filsafat, karya Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair; Metologi Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat, karya Kaelan. Karya-karya ini digunakan sebagai buku panduan dalam penelitian ini. Dan untuk menentukan masalah ayat-ayat tentang keadilan, peneliti menggunakan Konkordasi Qur'an: Panduan Kata Dalam Mencari Ayat Qur'an karya Ali Audah, Ensiklopedi Al-Qur'an karya Wahbah Zuhaili, dkk., Fath AlRahmaan dan "Al-Qur'aan Al-Kariim Ma'a Al-Tafsii", edisi IV (digital). 3.Teknik Pengumpulan Data. Langkah awal yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah mengklasifikasikan ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah penelitian, yaitu ayat-ayat yang membahas tentang keadilan, seperti yang telah peneliti sebutkan. Masalah ayat-ayat yang berhubunga tersebut sepenuhnya diambil dari kitab tafsir Al-Mishbah karangan Qurasih Shihab. Langkah selanjutnya adalah mendeskripsikan ayat-ayat tersebut menurut Penafsiran Quraish Shihab. Kemudian penafsiran Quraish Shihab terhadap ayat-ayat keadilan dibandingkan dengan pendapat lain dan penafsiran para mufassir. 4.Metode Analisis Data. Dalam penyelesaina penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa metode untuk menganalisis data yang dikumpulkan, yaitu:

a.Metode Interpretasi. Dalam hal ini peneliti akan menemukan dan mendeskripsikan penafsiran Quraish Shihab tentang ayat-ayat keadilan dalam tafsir AlMishbah. Sehingga peneliti akan menemukan, menuturkan, dan mengungkapkan makna objek yang terkandung. (Kaelan, 2005: 76) Peneliti berusaha untuk menelaah dan mengungkap penafsiran Quraish Shihab tentang ayat-ayat keadilan dalam Tafsir Al-Mishbah. Untuk itu, penulis tidak hanya memahami naskah seperti apa yang diungkapkan oleh Quraish Shihab tetapi juga memaparkan makna yang terkandung di balik bahasa dalam Tafsir Al-Mishbah tentunya setelah mengadakan perbandingan dengan pendapat lain. b.Metode Deskriptif Historis. Peneliti akan melukiskan, menjelaskan dan menerangkan latar belakang Quraish Shihab yang berhubungan dengan: riwayat hidup, pendidikan, dan segala hal yang berkaitan dengan perkembangan pemikiran Quraish Shihab. c.Metode Deskripsi. Peneliti berusaha menguak secara teratur seluruh penafsiran Quraish Shihab tentang ayat-ayat tentang keadilan, yaitu dengan memberikan deskripsi mengenai metode penerapan yang dipakai oleh Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, khususnya metode penafsiran yang dipakai oleh Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat-ayat tentang keadilan. d.Komparasi. Dalam hal ini, peneliti akan mengkomparasikan antara penafsiran Quraish Shihab dengan pendapat dan penafsiran mufassir lain yang

berhubungan dengan pembahasan tentang ayat-ayat keadilan. Dalam artian membandingkan dua pemikiran atau lebih dari satu. (Kaelan, 2005, 94) e.Metode Induktif Metode ini adalah suatu proses mengambil kesimpulan setelah proses pengumpulan data dan analisis data. (Kaelan, 2005: 95). Yaitu melalui suatu sintesis dan penyimpulan secara induktif. I.Sistematika Pembahasan Penelitian ini akan dikaji secara sistematis dalam lima bab. Bab I,

pendahuluan, meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan kajian, kegunaan kajian, alasan pemilihan judul, batasan istilah dalam judul, kajian pustaka dan sistematika pembahasan. Bab II, landasan teori. Dalam bagian ini peneliti akan mengungkapkan apa sebebarnya keadilan itu dalam Al-Quran, pembahasan akan berkisar pada katakata yang menunjuk kepada makna keadilan. Yaitu kata Al-Adl, Al-Qisth, dan AlMiizaan. Pada bab ini pula akan diungkap apa makna keadilan tentunya setelah ayat-ayat tersebut diklasifikasikan. Bab III, peneliti akan memaparkan latar belakang kehidupan Quraish Shihab dan sejarah penulisan tafsir Al-Mishbah. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui latar belakang kehidupan Quraish Shihab dan paparan singkat tentang tafsir Al-Mishbah, sehingga penliti dapat menguak dan mengangkat makna penafsiran Quraish Shihab mengenai pembahasan keadilan. Bab IV, pembahasan yang meliputi: penafsiran Quraish Shihab terhadap ayat-ayat tentang keadilan, metode yang diterapkan oleh Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut dan konsep takwil menurut Quraish Shihab dalam ayat-ayat yang membahas tentang keadilan.

Bab V, berisi kesimpulan mengenai penafsiran Quraish Shihab tentang ayat-ayat keadilan dalam tafsir Al-Mishbah kemudian dilanjutkan dengan saran dari penulis. J.Daftar Pustaka (Sementara) Zuhaili, Wahbah dkk. 2007. Ensiklopedia Al-Quran. Jakarta: Gema Insani. Al-Ghazali, Muhammad. Menikmati Jamuan Allah: Inti Pesan Quran Dari Tema Ke Tema. Terjemahan oleh Ahmad Syaikhl dan Ervan Nurtawab. 2003. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semerta. Al-Kumayi, Sulaiman. 2005. Kecerdasan 99: Cara Meraih Kemenangan dan Ketenangan Hidup Lewat Penerapan 99 Nama Allah. Jakarta: Hikmah. Maulana, Ahmad Gina. 2004. Ibad Al-Rahman dalam Al-Quran: Menurut Penafsiran Syaikh Nawawi Al-Bantani. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. Skripsi ini tidak diterbitkan. Bakker, Anton dan Zubair, Achmad Charris. 1990. Metodologi Penelitian Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. Rais, Dhiauddin. 2001. Teori Politik Islam. Terjemahan oleh Abdul Hayyi alKattani. Jakarta: Gema Insani. Shihab, Quraish. 2007. Wawasan Al-Quran: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat. Jakarta: Mizan. Hamka. 1994. Falsafah Hidup. Jakarta: Pustaka Panjimas. ---------1990. Tasauf Modern. Jakarta: Pustaka Panjimas. Al-Qardawi, Yusuf. 2005. Aqidah Salaf dan Khalaf. Terjeman oleh Arif Munandar Riswanto. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Rahman, Jalaluddin. 1992. Konsep Perbuatan Manusia Menurut Al-Quran. Jakarta: Bulan Bintang. Kaelan. 2005. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat. Yogyakarta: Paradigma. Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Susanto, Ali Adi Joko. 2006. Keadilan Sahabat Dalam Periwayatan Hadis: Suatu Tinjauan Predikat Adil Sebagai Periwayat. Jakarta:UIN Syarif Hidayatullah. Skripsi ini tidak diterbitkan. Nasution, Harun. 2008. Teologi Islam: Perbandingan. Jakarta: UI-Press. Aliran-Aliran, Sejarah Analisa

Al-Banjari, Racmat Ramadhaan. Membaca Kepribadian Muslim Seperti Membaca Al-Quran . 2004. Malang: Pustaka Zamzam. Toha, Ahmad Faz. 2007. Titik Ba: Paradigm Revolusioner Dalam Kehidupan Dan Pembelajaran. Bandung: Mizan. Prasetya, Joko Tri dkk. 2004. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta. Suseno, Franz Magnis. 1987. Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta: Gramedia. Yusuf. M. Yunan. 2003. Corak Pemikiran Kalam Tafsir Al-Azhar: Sebuah Telaah Atas Pemikiran Hamka Dalam Teologi Islam. Jakarta: Permadani. Thaha, Ahmadi. 2007. Ibnu Taimiah: Sejarah Hidup Dan Pemikiran. Surabaya: PT Bina Ilmu.

Lampiran I I. Sistematika Laporan Penelitian BAGIAN AWAL Halaman Sampul Halam Judul Halaman Persetujuan Halaman Pengesahan Halaman Motto Halaman Persembahan Kata Pengantar Daftar Isi Dafatar Table (Jika ada) Daftar Gambar (Jika ada) Daftar Lampiran BAGIAN INTI BAB I : PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah B.Rumusan Masalah C.Tujuan Kajian D.Kegunaan Kajian E.Alasan Pemilihan Judul F.Metode Kajian G.Batasan Istilah Dalam Judul

H.Sistematika Penulisan BAB II :KATA-KATA ADIL DALAM AL-QUR'AN A.Interpretasi dan Klasifikasi Ayat-Ayat tentang keadilan dalam Al-Qur'an 1.AlA dl 2.AlQi sth 3.AlMi iza an B.Keadilan Menurut Para Mufassir BAB III :KULTUR KESEJARAHAN DAN TAFSIR AL-MISHBAH A.Latar Belakang Kultur B.Latar Belakang Pendidikan C.Peran Quraish Shihab dalam Kancah Intelektual Muslim D.Karya-Karya Quraish Shihab BAB IV : PEMBAHASAN A.Penafsiran Quraish Shihab terhadap Ayat-Ayat keadilan 1.Al - A dl 2.Al QURAISH SHIHAB

Q is th 3.Al M ii za a n B.Metode Quraish Shihab Dalam Menafsirkan AyatAyat keadilan C.Konsep Keadilan Menurut Quraish Shihab BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran BAGIAN AKHIR Daftar Pustaka Lampiran-lampiran