Anda di halaman 1dari 5

Potensi Tegal dan Pekarangan dalam Menghasilkan Kayu di Gunung Kidul

Nilai keberadaan kayu dirasa akan semakin penting mengingat semakin bertambahnya jumlah penduduk yang mengakibatkan bertambahnya kebutuhan akan kayu sedangkan jumlah lahan yang tersedia tetap atau bahkan berkurang. Oleh itu di banyak tempat di Jawa, rakyat melakukan penanaman pohon-pohonan di wilayah tegal atau pekarangan bersama dengan tanaman pangan. Selain itu kegiatan penanaman ini juga dapat menjaga kelestarian lingkungan, menahan erosi, dan memperbaiki kesuburan tanah. Untuk mengetahui potensi kayu dari tegal dan pekarangan di Kabupaten Gunung Kidul diambil beberapa responden sebagai sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik multistage sampling with unequal size. Pemilihan teknik ini dalam pengambilan sampel biasanya dilatarbelakangi oleh keterbatasan biaya, sedang populasi yang dihadapi cukup besar. Sebelum pengambilan sampel, dibuat beberapa lapisan berdasarkan keadaan jenis tanah dan topografinya, yang diduga berpengaruh pada keadaan dan isi tanaman tegal serta pekarangan. Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah actual standing stock, luas tegal/pekarangan di seluruh Kabupaten Gunung Kidul, umur penebangan berbagai jenis pohon, serta harga pasaran kayu per satuan volume. Actual standing stock diperoleh dari pengukuran 100% tegal/pekarangan milik responden terpilih.Tiap pohon diukur tinggi dan diameternya dan diidentifikasi jenisnya dengan nama lokal. Pemilihan responden dilakukan dengan metode multistage sampling with unequal size. Untuk itu populasi dibagi menjadi 3 unit yaitu :

Unit I : Patuk, Playen, Nglipar, dan Ngawen Unit II : Wonosari, karangmojo, Semanu, dan Semin Unit III: Panggang, Paliyan, Tepus Rongkop dan Ponjong.

Kemudian dari tiap unit diambil sampel sebanyak 2 kecamatan secara random.

Dari setiap kecamatan diambil sebuah desa contoh yang diwakili oleh sebuah dukuh, yang dipilih secara random. Dari tiap dukuh dipilih sebanyak 4 keluarga secara random berdasarkan pada luas pemilikan tanahnya menurut Letter C. Dimana kepemilikan tanah digolongkan menjadi 3, yaitu :

  • 1. Kepemilikan tanah lebih dari 1,0 ha

  • 2. Kepemilikan tanah 0,5 1,0 ha

  • 3. Kepemilikan tanah kurang dari 0,5 ha.

Actual standing stock dihitung dengan menjumlahkan volume seluruh pohon yang tumbuh di tegal / pekarangan responden, kemudian dijumlahkan untuk seluruh tegal / pekarangan responden.

Volume pohon = lbd x t x f …….( I )

Lbd

= luas penampang lintang pohon tanpa kulit pada ketinggian 1,3 m.

t

= tinggi pohon dari pangkal batang sampai ujung pohon (m)

f = bilangan bentuk = 0,6 , karena kebanyakan pohon yang tumbuh di

tegal/pekarangan mempunyai cabang yang lebih banyak. Kemudian menghitung riap tahunan dengan rumus Von Mantel, yaitu

I

= riap tahunan (m 3 )

V

= volume actual standing stock (m 3 )

r

= umur tebang pohon ( tahun )

Perhitungan volume pohon tersebut dibedakan antara pohon yang kayunya dapat

dijadikan kayu

perkakas dan pohon yang tidak dapat dipakai untuk kayu perkakas. Bagian

pohon yang dipakai untuk kayu perkakas ini besarnyatidak dihitung secara khusus dalam penelitian, tapi diambil dari angka yang berlaku untuk tegakan jati yaitu 55%. Tapi kayu perkakas ini merupakan volume kayu perkakas kasar (belum kayu perkakas yang siap dipakai). Rata rata riap tahunan seluruh Gunung Kidul baik kayu bakar maupun kayu perkakas dihitung dengan rumus

̿

̅

̿

=

= harga rata rata seluruh sample mi = jumlah sample ̅ i = harga rata rata sampel ke i. Besarnya kesalahan sampling ( sampling error) dapat dihitung degan rumus :

MSE (

̅

) =

+

∑ ( ̅̅̅ - ̿a ) + ( ̅a

-

̿ )

(within units)

( between units)

( bias )

=

∑ ( Xij - ̅̅̅ ) 2

N = jumlah unit M i = jumlah elemen dalam unit (populasi) m i = jumlah elemen di dalam unit (sample)

̅ = rata rata per elemen unit ke i xi = m ii

X

=

Sx i

̿ = rata rata per elemen

̅

= rata rata per unit (

)

x ii = rata rata kelompok dalam unit

Dari hasil perhitungan ternyata hasil kayu dari tegal / pekarangan di Kabupaten Gunung Kidul cukup tinggi, yaitu 1,77 m 3 /ha/th untuk kayu perkakas dan 3,55 m 3 /ha/th untuk kayu bakar. Kecuali tanaman pohon pohonan, di tegal dan pekarangan masih ditanam jenis jenis tanaman buah, sayur, dan pangan. Dengan adanya tanaman non kayu tersebut secara kualitatif dapat diterima bahwa produktivitas tanah di Kabupaten Gunung Kidul cukup tinggi.

TUGAS MATA KULIAH INVENTARISASI HUTAN

RESUME BUKU

“DINAMIKA HUTAN RAKYAT”

POTENSI TEGAL DAN PEKARANGAN DALAM MENGHASILKAN

KAYU DI GUNUNG KIDUL

TUGAS MATA KULIAH INVENTARISASI HUTAN RESUME BUKU “DINAMIKA HUTAN RAKYAT” POTENSI TEGAL DAN PEKARANGAN DALAM MENGHASILKAN

Oleh :

DESTARA DWI HARDHITYA 07/ 254781/ KT/ 06154

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

2011