Anda di halaman 1dari 37

INME

Kumpulan Cerpen

Andri E. Tarigan

DAFTAR ISI

Cinta? Korban Urban

6 13 19

Yang Saya Tahu, Tuhan Penuh Cinta Berdoa Aarde 24 30

Aku sadar. Aku sadar akan keberadaanku sebagai mahkluk yang ingin tahu, dan Dia yang baik menempatkanku di dunia yang padat akan pengetahuan.

PRESENT

INME merupakan kumpulan cerpen yang berisi lima cerita dengan tokoh utama yang sama, tetapi kelimanya bisa dibaca terpisah. Cerpen-cerpen ini membahas berbagai kebenaran tentang cinta, baik itu cinta lawan jenis, cinta sesama, termasuk cinta Sang Pencipta. Tujuan saya membuat kumpulan cerpen ini adalah untuk berbagi pemahaman saya tentang cinta, hal yang saya anggap paling esensial bagi kehidupan manusia. Tokoh utama dalam cerita ini sengaja tidak saya beri nama, yang perlu anda lakukan adalah memahami psikologi mereka. Inti ceritanya seperti ini: Tokoh Aku yang merupakan si pencerita adalah seorang perempuan yang jatuh cinta dengan tokoh Kau, seorang pria yang berpemikiran bebas. Saya sengaja menulis dengan sudut pandang tokoh Aku, seorang perempuan, karena melalui cerpen-cerpen ini saya ingin bereksperimen untuk menilai tingkat empati saya terhadap perempuan. Karena, saya beranggapan bahwa setiap lelaki wajib berusaha untuk memiliki empati tinggi terhadap perempuan. Jadi, buat anda para lelaki, mari bersama dengan saya, melatih empati kita terhadap para perempuan dengan INME. Untuk para perempuan, anda tidak perlu pusing lagi untuk menyatu dengan tokoh Aku. Kumpulan cerpen ini memang tercipta untuk kaum anda. INME ditulis demi cinta. Saya mencintai anda.

Andri E. Tarigan

INME
Kumpulan Cerpen

Andri E. Tarigan

Cinta?
Oleh: Andri E. Tarigan

ku adalah seorang perempuan yang selalu berada di sampingmu. Hari-hariku penuh

dengan dialektika yang indah bersamamu. Tak tergambarkan entitas apa yang mengikat kita. Yang pasti, aku dan kau berjalan beriringan. Suatu hari, kau berkata, Aku jatuh cinta. Dengan cepat aku memberi respon, Oh ya, dengan siapa? Dengan dunia. Oh... Aku menghela nafas. Kata-kata yang kau ucap seringkali memberi efek getar yang tinggi di sekujur tubuhku. Kali ini, efek yang kau timbulkan cukup tinggi. Tak biasanya kau yang memulai percakapan, dengan tema cinta pula. Kali ini kau terasa berbeda. Kegilaanmu sepertinya mulai terarah. Kok bisa seperti itu? Kau menjawab, Aku sadar. Aku sadar akan keberadaanku sebagai mahkluk yang ingin tahu, dan Dia yang baik menempatkanku di dunia yang padat akan pengetahuan. Di setiap sendi kehidupan, ada kegilaan, ada hal-hal yang diluar pemikiran awam, ada hal-hal yang membuat logikaku menjadi sedemikian beromantika. Bagi orang yang suka berpikir, sudah tentu dunia dan segala problemanya adalah surga yang nyata. Dan itu kau namakan cinta? Ya. Jawabmu singkat. Oh... Begitu ya. Alasannya? Alasannya... Mmm... Menurutmulah dulu, apa itu cinta? Kujawab, Ya, kalau menurutku, cinta itu adalah pengorbanan. Pada saat kita berani meruntuhkan ego kita, untuk memenuhi kebutuhan dia yang kita cintai. Tepat, sepakat.
7

Aku sedikit bangga. Kau memujiku hanya sesekali, itu cukup membuatku begitu rindu akan pujianmu dan setiap pujianmu menjadi begitu berrnilai. Kemudian aku bertanya, melanjutkan pembicaraan, Terus apa hubungannya dengan dunia? Ya jelas berhubungan. Aku adalah ego, dan dunia ini menawarkan sejuta keindahan yang bisa membuat kehidupanku menjadi begitu bermakna. Tak salahkan kalau aku meleburkan eksistensi egoku, pastinya tanpa kehilangan esensinya, untuk menyelami tarian-tarian terindah dari kehidupan dunia? Katamu sembari tersenyum kecil. Aku bingung, dan inilah yang terjadi setiap aku berbicara denganmu. Pikiranmu tak terpikirkan, senyummu tak pernah bisa terdefenisikan. Kau punya sejuta misteri dalam setiap kata yang kau ucapkan. Kutanya demi memperjelas, Maksudnya? Kau bingung? Aku diam. Aku mengelak agar kau tidak mengejekku. Itu yang selalu terjadi ketika aku tampak bingung karena perkataanmu. Dalam hal ini, sisi burukmu adalah kau sombong. Sisi baiknya, kau menyampaikannya dengan jenaka, dengan tujuan mengindahkan. Pasti kau sedang bingung. Hahaha Makanya, jelaskan! Responku dengan kesal. Apanya? Ya perkataanmulah! Males.. Dasar jahat. Dasar lemah.

Aku terbawa dalam dialog rekaanmu yang berujung pada ejekan buatku. Aku seringkali kau bawa dalam dialog yang membingungkan dan sama sekali tak terarah, dan anehnya, aku tetap memperoleh makna yang jelas di dalamnya. Gila. Kau pernah tenggelam dalam cinta? Tanyamu. Pernah, tenggelamnya sangat dalam, begitu dalam sehingga aku melupakan segala hal. Yang ada dalam pikiranku hanya dia. Entahpun aku tak berpikir, hanya mengikuti perasaanku saja. Aku merasa dia adalah tujuan hidupku. Senyumnya menjadi sumber energiku. Terus? Tanyamu lagi. Ya kami sering bersama, sekalipun dia enggan menunjukkan kalau dia perhatian terhadapku. Tapi aku tahu, dengan intuisiku, bahwa dia menempatkanku pada tempat khusus nan indah di kehidupannya yang berantakan. Kau senang? Jawabku, Ya, sangat senang. Sekalipun dia enggan mengakui kebutuhannya terhadapku, aku senang. Barangkali itu merupakan bagian dari ketulusan dia, dimana dia tak membutuhkan imbalan atas segala hiasan yang ditorehkannya dalam kehidupanku. Seberapa dalam kau mampu berkorban untuknya? Tergantung. Aku tak bisa memikirkannya. Setiap kali hendak memikirkan dia, otakku seperti kehilangan daya. Giliran emosiku yang menjadi raja. Kala emosiku sangat meninggi, maka aku bisa menyerahkan segalanya buat dia, tentu dengan dibatasi kontrol spiritual. Tapi cinta berhasil membuatku buta akan ketidaksempurnaannya. Tiba-tiba aku menjadi lancar berteori. Entah karena memang terlalu sering berdialektika dengan ahli retorika sepertimu, atau karena topik yang dibahas adalah cinta, satu kata yang menjadi penentu dalam setiap gerak langkahku. Mmm... Jadi, dengan cinta, dunia manusia yang apabila dipandang dengan logika awam adalah tidak sempurna, akan menjadi sempurna? Yups. Jawabku optimis.
9

Cerdas. Cerdas? Sebuah pujian yang telah lama kunantikan dan akhirnya kau ucapkan. Dialog kita kini kau bawa dalam kesenangan yang bertubi-tubi bagiku. Aku balik bertanya, Bagaimana kau mencintai dunia? Takkah kau memikirkan cinta untuk lawan jenismu? Lawan jenis? Itu berawal dari ketertarikan, dan aku hanya akan membahasnya dengan orang yang memang saling tertarik denganku. Dan untuk mencintai dunia, aku lebih memilih memakai pepatah lama: Tak kenal maka tak sayang. Jadi, tahap awalnya adalah terlebih dahulu mengenali dunia, baru menyayangi dunia. Mmm... Caranya? Filsafat. Filsafat. Makanan orang pintar yang dengan alasan yang cukup romantis kau memilihnya. Ini benar-benar nilai lebihmu di mataku. Pola berpikirmu kurasakan sebagai hal yang seksi. Kau melanjutkan jawabanmu, Aku lebih memilih menyederhanakan diri dan memperkaya pikiran, berharap dapat menjadi cahaya terang bagi dunia yang menjadi bagian dari diriku. Termasuk kau. Akh, maksudnya? Kembali aku sulit mencerna perkataanmu. Logikaku kehilangan daya, emosiku menutup kemungkinanku untuk berdebat lebih jauh. Aku dikomando untuk sesegera mungkin menggali yang kau rasakan. Seluruh dunia ini merupakan bagian dari diriku, seluruhnya adalah tanggung jawabku. Tidak lagi kupandang segala yang ada sebagai pemuas kebutuhanku. Yang perlu kulakukan adalah membiarkannya tumbuh sealami mungkin, tanpa membiarkan segala gerak eksploitatif lagi destruktif menghambat kealamian itu. Aku akan menghidupkan seluruh bagian hidupku, termasuk kau.
10

Spontan kutanya, Aku bagian dari dirimu? Ya. Aku diam, kau juga. Hampir semenit kita diam. Lalu kau beranjak dari ruangan tempat kita berada. Pembicaraan kita sebenarnya masih tanggung, kau belum memberitahu tindakan nyata yang akan kau lakukan dalam rangka mencintai dunia. Tapi yang kurasa, pembicaraan kita sudah mencapai klimaks dan layak untuk disudahi. Cara kita diam kini menyisakan misteri, membangkitkan data-data di otakku tentang pemikiranmu yang seksi, senyummu yang tak terdefenisikan, kegilaanmu, dan jatuh cintamu yang kuanggap mulia. Otakku sepertinya hanya mampu merespon data-data itu. Selebihnya, giliran emosiku yang meraja. ***

11

INME

12

Korban Urban
Oleh: Andri E. Tarigan

13

Korban urban.
Siapa? Semua. Aku memperhatikan sekelilingku. Cuaca panas mengacaukan suasana, ditambah lagi suasana kumuh yang terlihat di segala sudut. Bahkan mobil mewah yang berjejer di sekitar bis kota tempat kita berada juga terlihat kumuh, kumuh karena tak peduli dengan keterpurukan di sekitarnya. Lampu merah di kota besar selalu menggambarkan suasana menyedihkan. Semua adalah korban urban, berarti kita juga kan? Di depan ada dua jalan, kiri dan kanan, kita kemana? tanyaku padamu dengan pandangan penuh perhatian. Aku sengaja tidak menyambung masalah korban urban, karena aku sudah mengerti dan cukup muak dengan realitanya. Menurutmu? Bertanya balik, kebiasaanmu. Aku mulai menganalisa. Jalan ke kiri merupakan jalan ke luar kota, sedangkan kanan ke pusat kota. Kemarin, kau mengatakan bahwa kita akan melakukan perjalanan mencari kebenaran. Melihat pribadimu yang sederhana, sudah pasti jawabannya adalah kiri, jalan yang akan menjauhkan kita dari munafiknya kota. Optimis kujawab, Kiri. Analisamu murahan, tapi benar. Apaan sih! Aku mendadak kesal. responmu benar-benar terdengar tidak enak di telingaku. Seperti tak bersalah sama sekali, kau melanjutkan perkataanmu, Di depan kita ada dua jalur keindahan. Dan sesuai analisamu, aku memilih keindahan yang ditawarkan jalur kiri. Ada apa di jalur kiri? Petualangan besar. Disana akan kita temukan ragam dunia yang sebenarnya adalah sejalan dan saling mengindahkan. Akan kita lihat orang-orang bahagia, yang menjalani kehidupan
14

sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Mereka bebas dari ilusi-ilusi lemah dan melemahkan yang ditawarkan kota. Stres tidak menghampiri mereka. Senyum bersahaja yang senantiasa menemani keseharian mereka. Pembicaraan kau hentikan beberapa detik. Kau melihat ke segala arah saat lampu hijau menyala dan bis mulai berjalan. Setelah itu, kau melanjutkan penjelasanmu. Mereka bertindak seperti alam. Hubungan sosialnya harmonis, tidak timpang. Sejatinya, kita merupakan bagian dari alam yang selayaknya kita bertindak alami . Semakin jauh kita dari kota, akan semakin jauh kita dari kesesatan alam. Kesesatan alam? Iya. Hehe... Itu kosakata rekaanku, biar agak didramatisir, serius kali kulihat kau. Hahaha. Aku turut tertawa. Aku setuju dengan pemikiranmu. Kalau di jalur kanan? Kalau di jalur kanan, tetap saja keindahan. Tapi terlalu muluk-muluk. Tidak ada kesejatian di sana, yang ada kesenangan-kesenangan yang mengindahkan manusia bermemori pendek. Sarat pula akan hal-hal eksploitatif dan destruktif. Kalau memang begitu mengerikannya, mengapa orang berbondong-bondong ke sana? Ilusi. Para pengendali kota pintar sekali memainkan ilusi. Mereka mampu membuat kita lupa kebutuhan dan bernafsu besar terhadap keinginan. Memang mereka banyak membawa pembaharuan. Tapi lihat fakta yang ada, sungguh miris. Betapa suburnya depresi-depresi yang bertumbuh di kota. Kau menjelaskan panjang-lebar tentang kebenaran yang kau yakini tentang kebusukan kota. Mungkin kau bisa sedemikian lancar karena menyadari bahwa kau pun sudah lama terpuruk sebagai korban urban. Lalu kurespon, Mmm... Kemarin di toko buku ada banyak buku pengembangan diri yang menawarkan kesuksesan dan kebahagiaan sepanjang hidup. Sampulnya selalu dihiasi den-

15

gan penampilan seorang manusia berpakaian rapi penuh senyum. Buku itu membanjiri pasar. Bukankah itu berarti sudah ada formula penawar untuk depresi yang menjangkiti penduduk kota? Hahahaha Kok malah ketawa? Lucu. Ternyata kau salah satu korban urban terparah. Hahahahah... Aku tidak mengerti maksudmu. Kau tidak menjelaskan alasannya. Mungkin kau tertawa untuk mengulur waktu. Sembari otakmu berputar memikirkan retorika apa yang akan kau gunakan sebagai tameng. Beri penjelasanmu. Tanyaku, dengan nada menjebak. Baiklah, kuberi alasanku. Pertama, kota selalu menyenangkan. Dan itu terasa penting bagi orang berpikiran singkat. Bahkan banyak orang yang dengan bangganya menyatakan bahwa tujuan hidupnya adalah untuk bersenang-senang. Terus? Keinginan bersenang-senang itu mempengaruhi pikiran setiap individu dan karena banyaknya afirmasi terhadapnya, jadilah keinginan bersenang-senang menjadi dasar dari belief system penduduk kota. Sampai disini paham? Ya. Terus? Lalu, ditawarkanlah berbagai produk, oleh para pemodal, yang hanya memikirkan dua hal, yaitu keuntungan yang sebesar-besarnya dan kepuasan konsumen sebagai jaminan kontinuitas bisnis. Produk yang ada bertugas memenuhi keinginan bersenang-senang dari para konsumen. Keinginan bersenang-senang dijadikan kebutuhan bahkan tujuan. Sayang sekali, penduduk kota lupa bahwa keinginan manusia itu tak terbatas sehingga pada akhirnya mereka terjebak dalam kompetisi pemenuhan keinginan yang tiada habis, semacam lingkaran setan yang tak berujung. Karena itu, banyak penduduk kota yang akhirnya depresi?

16

Tepat sekali, sayang. Katamu sambil tersenyum. Ah, kau mengatakan sayang? Apa maksudmu? Sial. Disaat aku begitu tenggelam dalam dialog yang cukup penting, kau malah membelokkannya dengan kata sayang. Kau sedang menggodaku. Ya, kau menggodaku karena aku begitu serius. Aku akan tetap fokus. Dan datanglah buku pengembangan diri yang dapat menyelesaikan masalah itu sehingga kota tetap eksis dengan produk-produknya. Kataku menegaskan. Kau menjawab, Hahahah... disitulah letak ketertindasanmu sebagai korban urban terparah. Beri alasanmu. Hal utama yang harus kau sadari adalah kenyataan bahwa buku pengembangan diri merupakan produk! Hm. Banyak orang yang tak memiliki harta, terlalu suka berpikir singkat, tapi ingin bahagia dengan cara yang singkat. Buku pengembangan diri adalah salah satu jawabannya. Lihat bagaimana gambar dan judulnya berusaha menghipnotis para konsumen, membentuk ilusi-ilusi akan kesuksesan yang tampaknya bisa dicapai dalam sekejap mata. Padahal, yang mereka lakukan adalah reframing, hanya mengubah bingkai berpikir ke arah yang lebih sempit, yang lebih praktis. Orang pun dibuat sibuk memikirkan dirinya sendiri. Jadilah, korban urban terparah, dijajah mulai dari dasar berpikirnya. Hah, separah itu? ***

17

INME

18

Yang Saya Tahu, Tuhan Penuh Cinta


Oleh: Andri E. Tarigan

19

K au membawaku ke sebuah rumah kayu di wilayah perbatasan kota, rumah paling akhir yang
bisa dicapai dengan bis kota. Rumah itu terlihat sangat sederhana. Di depan, terparkir sebuah sepeda motor klasik yang didesain dengan cukup jantan. Pastilah sepeda motor itu milik seorang pria tampan yang selera seninya tinggi, seperti itu benakku. Ayo, biar kuperkenalkan kau dengan para sahabatku. Katamu dengan penuh percaya diri. Kita memasuki rumah. Di dalam, terdapat dua orang pria. Keduanya berbadan ramping. Mereka duduk santai di sebuah ruangan 5x4 meter, yang didalamnya terdapat dua rak buku berisi buku-buku filsafat dan psikologi, sebuah lukisan bergambar tokoh mirip Kahlil Gibran, dan satu set kursi kayu beserta mejanya. Nuansa yang ada membuatku merasa sangat nyaman. Sobat! Kata Kia, sobatmu yang senyumnya paling indah. Rambut lurus berponi, mata yang tajam, fashion ala post modern dan berbagai kesan yang terasa menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang sangat menarik. Kia adalah seorang bartender yang suka begonta-ganti pasangan. Sapaannya terhadapmu berlanjut menjadi sebuah obrolan hangat. Bukankah atas semua pemikiran anehmu, kau memberi pembenaran dengan mengatakan bahwa Tuhan itu penuh cinta? Kata Kia di tengah pembicaraan kalian. Hei, itu bukan pembenaran. Thats fact. Yang saya tahu, Tuhan penuh cinta. Jawabmu. Redi, sahabatmu yang satunya lagi berkata, Ya, itu benar. Bukankah itu yang kita anut bersama sebagai dasar sehingga kita menjadi sangat bahagia dalam memaknai hidup kita? Kalian serentak tersenyum lebar dan kemudian tertawa. Kalian terlihat sangat kompak. Percakapan terus berlanjut. Kalian saling menceritakan praktik yang kalian jalani dalam hal menyatu dengan Tuhan, atau duniawinya, menyatu dengan cinta. Ya... dengan cara bercinta dengan banyak wanita, aku sudah menyebar cinta. Faktanya, tak satupun dari mereka yang keberatan kalau aku pasang banyak. Aku sanggup membuat harihari mereka bergejolak indah, sekaligus. Kata Kia, memberi penjelasan atas kebiasaannya yang setiap hari kencan dengan wanita yang berbeda.

20

Redi, sahabatmu yang merupakan pemilik rumah, berkata, Hanya satu wanita yang kupersilahkan berduaan denganku di tempat ini. Hanya dia yang berhak memasuki ruangku yang sangat pribadi. Hanya dia yang spesial yang berhak mendapat tempat spesial. Redi adalah orang yang sangat menghargai komitmen. Dia tidak peduli dengan tren kehidupan. Dia begitu berkomitmen dengan apa yang dianggap dikaruniakan baginya. Dia mencintai apa yang telah ada pada dirinya. Aku memilih satu perempuan, yang mampu bersifat layaknya bumi, sehingga aku tinggal menjadi langitnya. Jelas Redi. Ya, langit! Satu kata itulah yang paling tepat untuk menggambarkan Redi. Kepribadiannya terlihat tinggi dan tak tersentuh. Aku langsung berimajinasi seandainya aku bersifat seperti bumi, sifat dasar seorang bunda. Dan ketika aku mendapati seorang pria bersifat langit yang mencintaiku, bersedia menjadi payung, penghias, dan pemberi cahaya bagiku. Ah, sungguh indah! Di hadapanku, tiga pemuda yang hanya dengan mengobrol satu sama lain, bukan denganku, berhasil membuatku terpesona. Kia, pria yang cool, yang menyejukkan. Seandainya aku diajak berbincang olehnya, dengan sorot mata tajamnya, tiga puluh menit saja mungkin aku sudah tergila-gila padanya. Redi, pria yang berkepribadian layaknya langit. Seandainya aku adalah perempuan sang bumi yang kini menjalin hubungan dengannya, sudah pasti hari-hariku sangat bahagia. Takkan kupandang lagi penampilannya yang aneh. Dan yang paling membuatku terpesona, kau. Giliran Kia bertanya padamu, Kalau kau seperti apa? Aku masih mengumpulkan materi. Aku sedang mencari jalan untuk cinta yang universal. Jawabmu dengan penuh percaya diri. Kepercayaan dirimu adalah bius utamamu, yang membuatku begitu tertawan. Kau memang luar biasa. Setelah sebelumnya kau mampu mendoktrin aku dan Kia, untuk menjadi pecinta, kini kau mencari jalan untuk cinta yang universal. Yang kutakutkan, hidupmu keburu selesai selagi mengumpulkan materi. Kau tak sempat bercinta. Kritik Redi.
21

Kalian terdiam. Jauh di dasar pemikiran Kia dan Redi, termasuk juga aku, menaruh besar harapan terhadapmu, sang pemikir. Kau selalu berupaya menjadi jalan, jalan yang lebih cerah. Kau bertanya pada Kia, Apa spesialisasimu dalam bercinta? Spesialisasiku adalah aku menjadi apa yang perempuan inginkan. Senyum yang manis, fashion yang oke, obrolan yang tidak kaku, mata yang tajam, dan yang terutama, sifat kepemimpinan. Kata Kia membanggakan diri. Kau dan Redi memandang Kia dengan mimik wajah yang suportif, kalian benar-benar menghargai kelebihan Kia. Lalu kau memilih menghabiskan waktumu untuk membahagiakan para wanita. Itu perjuangan mengindahkan dunia, versimu? Tanyamu lagi. Tepat sekali sobat. Semua wanita yang bersedia kencan denganku, hanya kuajak ngobrol. Mereka kutenggelamkan dalam peristiwa-peristiwa yang romantis. Lalu, kubawa mereka berbicara menuju alam pikiran yang mencerdaskan. Aku tidak mencederai mereka dengan seks. Paling-paling, keuntunganku hanya ditraktir makan siang dan upgrade sepeda motor. Hehe... Kia menjawab sambil tersenyum nakal. Lalu kau bertanya hal yang sama ke Redi. Redi menjawab, Perempuan tak akan mendapat hal yang nyata dariku. Tapi dia yang menjadi dewiku, selalu kubawa ke imajinasinya yang tertinggi, ke puncak keindahan yang mampu diakses otaknya. Aku ahli menggetarkan hatinya. Jawaban Redi menggambarkan siapa dirinya, sang raja khayalan. Dia mampu menciptakan kondisi dimana dia adalah pangeran yang dinanti-nanti. Kia, yang menjalin cinta dengan banyak perempuan, mengaku bahwa itu merupakan wujud pengabdiannya terhadap Tuhan, yang dibahasakannya dengan memasyarakatkan cinta. Saling menggali kelebihan, berbagi kisah indah beserta pemahaman, kalian melanjutkan percakapan. Aku tetap nyaman dengan posisiku sebagai pengamat.

22

Dengan berdasarkan pernyataan Yang saya tahu, Tuhan penuh cinta, kalian mengisi hari-hari dengan kebahagiaan. Hari yang penuh cinta. Kalian terlihat begitu bahagia, dan aku tertarik. ***

23

INME

24

Berdoa
Oleh: Andri E. Tarigan

25

Sedang apa kau tadi? Tanyaku.


Tak perlu kau tanya, itu urusan pribadiku. Jawabmu. Sedang apa? Tanyaku dengan nada membentak. Kali ini aku cukup khawatir dengan kondisimu. Kulihat pancaran wajahmu yang mengekspresikan kesenangan aneh. Aku takut. Begitu takutnya sehingga berani membentakmu. Itu urusan pribadi. Tetap aku tidak puas dengan jawabanmu. Kugenggam tanganmu erat dan kutatap tajam kedua matamu. Selang sekitar lima belas detik kita begitu, tanpa sadar air mataku menetes ke pipi kananku. Sedang apa? Tanyaku memelas. Berdoa. Jawabmu. Akhirnya kau luluh. Layak kau luluh dengan kepedulianku. Aku peduli terhadapmu, aku sayang terhadapmu. Baru kali ini kulihat kau melakukan aktivitas aneh. Jam dua pagi terbangun, masuk ke ruangan sempit di sudut dapur, dan samar terdengar bisik dialog padahal kau sedang sendirian. Ada cahaya menyilaukan ketika aku coba mengintip lewat lubang kunci. Beri aku pencerahan, aku penasaran dengan doamu. Tanyaku dengan senyum. Senyum terpaksa, sesungguhnya aku masih khawatir. Penting? tanyamu. Iya, penting. Siapa tahu cara doamu cocok untukku. Ah, kujelaskan pun tak bakal kau mengerti. Kan otakmu lemah! Kau mengejekku. Aku mencoba tenang kucoba mengendalikan suasana. Hei! Please... kuucap dengan senyum terpaksa yang semakin melebar.

26

Kau diam, dan mengambil posisi santai di sofa. Selang sekitar tiga menit, kau mulai berbicara, Tadi aku berdialog dengan Tuhan. Emang bisa? Ya bisa. Bukannya Tuhan di sorga? Hahahaha. Cantik-cantik bodoh. Kembali aku diejek. Tapi jujur, itu membuat aku semakin tertarik terhadap kelelakiannya. Baiklah. Sedikit pencerahan buatmu pagi ini. Aku adalah seorang yang mempercayai Tuhan. Bedanya, aku tidak percaya dengan bualan-bualan orang berpakaian sok suci di atas sana, yang berkoak-koak seakan mereka pernah bertemu Tuhan. Sekalipun ternyata konsep Tuhan yang mereka tawarkan adalah benar yang sesungguhnya, aku belum punya pegangan yang pasti tentang itu sehingga tidak ada alasan yang tepat untukku menyerahkan hidup demi konsep mereka. Gak ngerti. Aku kurang sepakat dengan konsep mereka, tapi aku tetap percaya Tuhan. Aku memiliki konsepku sendiri tentang Tuhan. Yaitu Tuhan yang membebaskan, Tuhan yang dialektis. Otakku bergejolak. Satu sisi sepakat, satu sisi merasa kau salah. Akh! Tapi aku semakin penasaran dan kembali bertanya padamu. Tolong bagikan pengalamanmu berdoa tadi, aku ingin tahu, baru kali ini kulihat kau seperti itu. Kau tersenyum, lalu menjawab, Hehehe, memang aku sangat jarang berdoa. Tapi menurutku Tuhan tidak mempermasalahkan itu, karena yang kutahu Tuhan penuh cinta. Dia maha pengasih. Tadi aku membuat laporan padanya. Laporan apa? Aku melapor tentang visi hidupku.
27

Nadiku bergetar. Kau selalu mempesonaku setiapkali memperlihatkan karaktermu yang visioner. Kutanya, Seperti apa laporanmu? Begini. Pertama-tama, aku berterimakasih kepadaNya karena Dia telah memberiku kesempatan menikmati mulianya kehidupan. Dia juga telah meletakkanku dalam sebuah wadah yang sempurna, yakni semesta yang kompleks dan harmonis. Untuk itu, untuk kebesaran yang telah dianugerahkanNya kepadaku, aku memilih untuk menyerahkan seluruh hidupku kepadaNya, sebagai persembahan. Kau mau disembelih, gitu? Terus direndang? Hahaha Aku tertawa lepas, akhirnya aku berhasil membalas ejekanmu. Hehehe, ya enggaklah! Katamu tanpa mengejek balik. Terlihat kau lagi malas mencari gara-gara terhadapku. Kau hanya tersenyum. Terus gimana caramu mempersembahkan diri? Tanyaku kembali serius. Aku sadar akan keberadaan Tuhan sebagai maha pencipta. Terlihat dari keberadaanku sebagai ciptaanNya dan semesta sebagai ciptaan yang paling sempurna. Untuk membalasnya, aku akan merangkai sisa hidupku dengan desain yang agung di mataNya. Kehidupanku sendiri akan menjadi karya seni terbesarku yang akan kuletakkan tepat di depan singgasanaNya di akhir hayatku nanti. Amin. Kataku spontan. Aku merasakan kebesaran seorang hamba di hadapanku saat ini. Aku tercengang karena kau membahasakan makna hidupmu dengan indah dan sederhana. Tapi tetap saja aku beragama! Kau berseru. Lho, kok? Katanya tadi tak percaya dengan orang yang kau sebut sok suci! Tanyaku dengan pikiran yang bercampur aduk. Kau sepertinya tahu yang menjadi kegelisahanku. Aku takut kau atheis. Aku memang tidak percaya dengan omongan orang itu, harus kritis dong! Mereka kan bukan nabi. Hanya penyampai, mereka membahasakan firman dari kitab dengan batasan ka28

pasitas otak mereka. Jadi, semakin rendah kapasitas otak mereka, semakin mungkin para pendengar tersesat! Hehehe, tetap saja aku beragama. Keimananku tak akan kugadaikan hanya karena orang-orang terbatas itu. Jawabmu. Sombong. Responku. Biarin, namanya anak muda. Laki-laki pula! Emang laki-laki harus berdosa? Emang begituan dosa? Iyalah! Hehehe, lemah! Ejekmu menutup pembicaraan. Kau tarik selimutmu lalu tidur. Aku masih menikmati kebingunganku. ***

29

INME

30

Aarde
Oleh: Andri E. Tarigan

31

angit mulai menguning. Sinar mentari kian menerangi kita yang tengah asyik bercengkrama

menikmati pagi. Indahkan? Tanyamu padaku. Jiwaku saat ini sungguh damai, damai karena pagi yang indah, damai karena kau menemaniku dalam pagi yang indah. Hari ini berbeda, kau membawaku dalam suasana bebas dari hiruk-pikuk kota, buruknya kota. Sekarang, aku telah menjadi khusus di kehidupanmu. Aku senang karena kau membawaku turut serta dalam pencarian mimpimu. Hei! Kata Kia, sobatmu. Dia menemui kita. Senyum Kia yang sebetulnya manis dan penuh daya tarik kini membuatku kesal. Kia telah mengganggu pagi kita, seharusnya hanya aku dan kau. Kia datang membawa seorang gadis. Sangat manis gadis itu. Manis wajahnya, manis pembawaannya. Kau memandang gadis itu dengan terkejut. Aku tahu kau terkejut meskipun kau berusaha berekspresi setenang mungkin. Beberapa detik kau terpaku menatapnya kemudian tersenyum dan berkata, Hi, Aarde. Senyummu penuh ekspresi, begitu juga Kia dan gadis itu. Namanya Aarde. Dia menatapmu. Sehat? tanyanya. Selalu sehat. Gak nyangka, kau datang. Katamu, masih dengan senyum penuh ekspresi. Obrolan berlanjut dan semakin menghangat. Seperti biasa aku terlupakan. Aarde duduk di sampingmu, Kia pergi dengan alasan tidak mau mengganggu. Setelah kuikuti beberapa masa obrolan kalian, aku menemukan jawaban atas senyum penuh ekspresimu. Ternyata dia adalah cinta pertamamu, orang yang pernah membuatmu sedemikian tergila-gila. Apa sekarang kegiatanmu? Aktivis. Orang secantik kau jadi aktivis? Makasih.
32

Kau kehilangan kata-kata. Baru kali ini kulihat kau begitu bodoh. Tatapan matanya membuatmu kehilangan kesadaran. Kau sendiri, sekarang jadi apa? giliran Aarde yang balik bertanya padamu. Jadi pemujamu. Jawabmu tersenyum. Aarde spontan tertawa. Tawanya manis, kau terpesona. Aku cemburu dengan gadis itu. Aarde, sungguh sempurna memang dia, dan kau layak sedemikian terpesona terhadapnya. Tapi sadarkah kau, aku disampingmu, aku menyayangimu! Tetap saja, kau cuek terhadapku dan menikmati dialogmu dengannya. Ardee... Ya. Bagaimana kau memahami cinta? Tanyamu, berharap mendapat jawaban yang mendasar. Berkorban demi kesejahteraan manusia lain. Jawab Aarde. Kau penganut Marxisme? Tanyamu. Tidak, tapi aku berada di lingkungan yang seperti itu. Oh... Kau menganggukkan kepala. Lalu kalian berdua serempak melihat ke arah timur. Kemilau emas sang surya turut menjadi saksi senyum lepas rindu kalian. Aku tetap terpojok sebagai orang ketiga. Matahari pagi yang menandakan awal dan keberadaanmu di sampingku membawaku kembali ke angan masa belia, dimana aku masih tergila-gila padamu. Katamu dengan wajah serius. Sampai sekarang juga, kan? Aarde sedikit merayu. Enggak. Sahutmu singkat. Raut wajahmu menyatakan seperti itu. Kata Aarde. Lalu dia tertawa kecil.
33

Kau terlihat tersipu. Di hadapannya kau kehilangan kejantananmu, entah kenapa. Dan, itu sedikit mengecewakanku. Lalu sekarang, siapa wanita yang menjadi pendampingmu? Ayo, beritahu aku dong. Aku kan kisah lamamu. Aarde menyambung percakapan. Rahasia. Ada, tapi takkan kuberitahu padamu. Yang perlu kau tahu, kau bukan kisah lamaku, tapi kisah abadiku. Sejauh ini, masih kau perempuan yang berhasil menaklukkanku dan membuatku mau terlunta-lunta. Aarde bertanya sembari tersenyum kecil, Kayaknya gak ada tuh aku melakukan usaha menaklukkanmu? Hehe, justru itu. Kau telah menaklukkanku tanpa usaha apapun. Disitulah apresiasi tinggi kulekatkan padamu. Siapapun jodohmu nanti, harus lebih berkualitas dari aku. Aku tidak akan memaafkanmu kalau tidak begitu. Lagi-lagi, kalian berdua tertawa. Kali ini mesra. Setelah kurang lebih dua jam kalian bercengkrama melepas kerinduan, sedari sinaran mentari masih hangat hingga kini mulai membakar, Kia datang menjemput Aarde. Mereka pergi. Tinggal kita berdua. Kau mengajakku berpindah tempat ke bawah pohon rindang. Kau terlihat masih sangat senang. Kemana dia? Tanyaku membuka dialog. Entah. Mungkin latihan konser. Keduanya mengikuti kursus musik yang sama sedari kecil. Dia cantik ya? Begitulah. Kau tidak usah cemburu, aku menggilainya bukan karena aku begitu menyayanginya, tapi karena ketertaklukanku terhadapnya. Takluk bagaimana? Aku penasaran. Dia mengalahkanku. Secara fisik, dia gadis impianku. Dari segi musik, dia sangat pintar memainkan musik yang harmonis, aku sungguh terpesona dengan itu. Masalah idealisme, aku
34

kalah telak terhadapnya. Dia memahami cinta jauh lebih mendalam dari aku sekalipun aku lebih ambisius dalam belajar memaknai cinta daripada dia. Pisau analisisnya juga lebih tajam dari aku. Mengapa kau tak memperjuangkan cintamu terhadapnya? Mencintainya membuatku tak mencintai diriku sendiri. Dia begitu berkuasa atas logikaku sehingga dekat dengannya membuatku kehilangan kejantananku. Aku tak mau itu. Aku lega. Aku telah mendapat jawaban sehingga tak lagi takut kalau-kalau posisiku sebagai perempuan spesialmu terganti olehnya. Kau kembali menerangkan, Aarde adalah cewek yang idealis, itu yang membuatku tergila-gila terhadapnya. Uniknya, idealisme itu terbungkus dengan kepribadian yang ayu nan lemah lembut. Dia mampu menunjukkan yang terbaik dari dirinya. Seandainya aku mampu menaklukkan diriku sehingga tidak merendah di hadapannya, bisa kupastikan diapun takluk terhadapku. Tapi aku tak mau itu, karena itu bisa membuat dia nantinya berubah, apabila telah jatuh hati. Aku takut kepribadian atau idealismenya salah satu akan pudar. Aku ingin dia tetap menjadi yang terbaik, aku rasa dunia butuh Aarde yang seperti itu. ***

35

INME
(Part 2) Wait, and Ill give you more romantic-educative stories...

36

Hi! Saya Andri Ersada Tarigan. Terimakasih telah membaca cerpen saya. Semoga mampu mengindahkan alam pikir anda. GYH

37