P. 1
Rakor Jkt (Kerangka Ekonomi Makro 2013)

Rakor Jkt (Kerangka Ekonomi Makro 2013)

|Views: 332|Likes:
Dipublikasikan oleh Pramudya Yunanda

More info:

Published by: Pramudya Yunanda on May 30, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/16/2014

pdf

text

original

KEMENTERIAN KEUANGAN RI

KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN POKOK-POKOK KEBIJAKAN FISKAL TAHUN 2013
Disampaikan pada Rapat Koordinasi Persiapan Pembicaraan Pendahuluan Dalam Rangka Penyusunan RAPBN 2013
23 MEI 2012
1

Dasar Hukum … (1)
UU No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pasal 13 1. Pemerintah Pusat menyampaikan pokok-pokok kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro tahun anggaran berikutnya kepada Dewan Perwakilan Rakyat selambat-lambatnya pertengahan bulan Mei tahun berjalan. 2. Pemerintah Pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat membahas kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal yang diajukan oleh Pemerintah Pusat dalam pembicaraan pendahuluan rancangan APBN tahun anggaran berikutnya. 3. Berdasarkan kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal, Pemerintah Pusat bersama Dewan Perwakilan Rakyat membahas kebijakan umum dan prioritas anggaran untuk dijadikan acuan bagi setiap kementerian negara/lembaga dalam penyusunan usulan anggaran.
2

Dasar Hukum … (2)
UU No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3) Pasal 157 ayat (1) 1) Pembicaraan pendahuluan dalam rangka penyusunan RAPBN dilakukan segera setelah Pemerintah menyampaikan bahan KEM dan PPKF pada pertengahan bulan Mei, yang meliputi: a. KEM dan PPKF tahun anggaran berikutnya; b. kebijakan umum dan prioritas anggaran untuk dijadikan acuan bagi setiap K/L dalam penyusunan usulan anggaran; dan c. rincian unit organisasi, fungsi, program, dan kegiatan.
3

KERANGKA EKONOMI MAKRO TAHUN 2013

Perkembangan Perekonomian Global Terkini
Indikator Pertumbuhan Dunia 2012 AS Kinerja 3,5% (meningkat dari perkiraan sebelumnnya 3,3%) est. Apr 12 • PDB Q1-2012 tumbuh sebesar 2,2%( QoQ), lebih rendah dari kuartal sebelumnya (3,0%) • Tingkat pengangguran Apr 2012 8,1% ( level terendah sejak Maret 2009)

Eropa

 Tingkat pengangguran meningkat dari 10,8% menjadi 10,9%  Perubahan konstelasi politik di beberapa negara Eropa yang ancam disiplin fiskal pemulihan ekonomi Eropa (Perancis, Yunani, Belanda)  Inggris mengalami double dip recession Q4-2011 sebesar -0,3% (QoQ), Q1 2012 tumbuh -0,2% (QoQ),
 China tumbuh 8,1% Q1-2012 ( terendah dalam 3 tahun terakhir), dan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 5,3 miliar, di mana ekspor tumbuh 8.9% (yoy) dan impor 5.3% (yoy).  India alami revisi credit rating BBB- ‘stable’ menjadi ‘negative’ oleh S&P karena defisit anggaran 5,69% PDB, growth 6,1% (Q1 2012) terendah sejak 2009, inflasi 9,5% per Maret 2012, dan ‘political gridlock’. 5

Asia

Perkembangan Perekonomian Domestik Terkini
Indikator Nilai Tukar IHSG Inflasi Arus Modal Masuk Pertumbuhan PDB Indikator Konsumsi Kinerja
Rp9.228/USD atau terdepresiasi 1,73% (ytd) per 7 Mei 2012 4.158,82 atau menguat 8,81%(ytd) per 7 Mei 2012 0,21% (mtm) – 1,09% (ytd) – 4,50% (yoy) per April 2012 Saham Rp1,46 T; SUN Rp3,47 T; SBI Rp0,22 T; Sehingga total Rp5,15 T; (Selama April 2012) 6,3% (yoy) di Q1-2012 • Indeks Keyakinan Konsumen turun 4,7 poin menjadi 102,5 (masih di atas 100) per April 2012 • PMA sebesar Rp51,5T dan PMDN sebesar Rp19,7T di Q1-2012 • Investasi Q1-2012 meningkat 32% dibandingkan 2011. • Ekspor barang jasa 7,8% (yoy); Impor barang jasa 8,2% (yoy) di Q12012 • Surplus Neraca Perdagangan Q1 2012 sebesar S$840 juta

Investasi Perdagangan Internasional

6

Di tahun 2013, Pertumbuhan ekonomi Dunia dan Volume perdagangan internasional meningkat
6.0 5.0

Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi GLobal
12.9 5.8 5.6 4.0

15.0

10.0

4.0 3.0 2.0 1.0 0.0

5.0

2.9

5.3

3.9

3.5

4.1

0.0

2.8

-10.5

-5.0

-10.0

-1.0
2008 2009

-0.6
2010 2011 2012* 2013**

-15.0

PDB Dunia

Volume Perdagangan Dunia

1. 2. 3.

Pertumbuhan ekonomi dunia 2013 diperkirakan naik menjadi 4,1%; Pertumbuhan volume perdagangan dunia meningkat (5,6%); Tekanan inflasi dunia turun dari 4,0% (2012) menjadi 3,7% (2013)
7

Di tahun 2013 masih terdapat beberapa risiko
120 100 80 60 40 20 0
34.7 32.6 35.6 39.4 36.0 33.6 32.0 74.0 81.0

Utang Pemerintah (% PDB)
94.7 100.7 109.5 104.8 107.9
130.0 120.0 110.0 100.0 90.0 80.0 70.0 60.0

Harga Minyak Mentah Dunia
Brent WTI
91.8 110,0 123.0 123.8 107.9 115

103,0 98,6

111,5

89,1
Apr Apr Jul Jul Okt

2012-Jan Mar

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Negara Maju Neg. Berkembang

• Peningkatan beban utang pemerintah negara maju, khususnya di kawasan Eropa, dapat mengganggu proses pemulihan ekonomi. • Risiko peningkatan harga minyak mentah dunia, antara lain terkait masih tersisa potensi gejolak geo politik.
8

2010 -jan

2011-Jan

est 2013

Est 2012

Okt

Di tengah ekonomi global yang kurang kondusif, diharapkan ekonomi nasional mampu tumbuh 6,5% …
Pertumbuhan dan Sumber-Sumber Pertumbuhan PDB (yoy,%)

Sumber-Sumber PDB Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Pemerintah PMTB Ekspor Impor
Sumber: BPS dan Kemenkeu

Pertumbuhan
2011 2012 Q1 2012 2011

Kontribusi
2012 Q1 2012

6.5 4.7 3.2 8.8 13.6 13.3

6.5 4.9 6.8 9.9 10.9 11.4

6.3 4.9 5.9 9.9 7.8 8.2

6.5 2.7 0.3 2.1 6.3 -4.8

6.5 2.8 0.6 2.7 4.9 -4.4

6.3 2.8 0.4 2.3 3.7 3

• Pertumbuhan ekonomi 2012 diperkirakan mencapai 6,5 persen (yoy) • Sumber-sumber pendorong pertumbuhan ekonomi utama konsumsi masyarakat dan investasi • Sisi eksternal sedikit tertekan akibat pelemahan permintaan dunia
9

Pertumbuhan dan Kontribusi Pertumbuhan PDB 2011-2012 (YoY, %)
Pertumbuhan 2011 2012 Q1 2012 PDB 6.5 6.5 6.3 Pertanian 3.0 3.5 3.9 Pertambangan 1.4 2.0 2.9 Industri Pengolahan 6.2 6.1 5.7 Listrik, Gas & Air Bersih 4.8 6.2 6.1 Konstruksi 6.7 7.0 7.3 Perdagangan 9.2 8.9 8.5 Pengangkutan & Komunikasi 10.7 11.2 10.3 Keuangan 6.8 6.3 6.3 Jasa-jasa 6.7 6.2 5.5 Lapangan Usaha
Sumber: BPS dan Kemenkeu

Kontribusi 2011 2012 Q1 2012 6.5 6.5 6.3 0.4 0.4 0.5 0.1 0.2 0.2 1.6 1.6 1.4 0.0 0.1 0.0 0.4 0.5 0.5 1.6 1.6 1.5 1.0 1.1 1.0 0.7 0.6 0.6 0.6 0.6 0.5

• Sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor konstruksi, sektor perdagangan, dan sektor pengangkutan masih menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi • Sektor industri manufaktur kembali memberikan kontribusi yang cukup besar didukung oleh investasi dan permintaan domestik.

10

Komposisi Struktur PDB 2013 dari Sisi Pengeluaran dan Penawaran Struktur PDB Pengeluaran 2013
Impor, (27.9%)
Konsum si RT, 53.9%
KEUANGAN, 7.0% TRANSPOR, 6.8%

Struktur PDB Penawaran 2013
JASA LAINNYA, 10.9%

PERTANIAN, 14.3%

PERTAMBA NGAN, 11.5%

Ekspor, 29.3%

Investa si, 34.6%

Konsum si Peme rintah, 9.6%

PERDAGANG AN, 13.9%

MANUFAK TUR, 24.7% LISTRIK, 0.8%

KONSTRUK SI, 10.2%

• Pendorong utama pertumbuhan ekonomi 2013 sisi pengeluaran adalah konsumsi dan investasi • Sektor manufaktur, perdagangan dan pertanian masih merupakan 3 sektor dominan dalam PDB penawaran.
11

Proyeksi Pertumbuhan dan Struktur PDB 2013
Pertumbuhan PDB (yoy,%) 2007-2013
7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 7.2

2012 PDB Konsumsi RT Konsumsi Pemerintah PMTB Ekspor barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa
Sumber: Kemenkeu

6.3 6.0 6.2

6.5 6.5 6.8

5.0
4.5 4.0 2007 2008 2009 2010 2011 2012* 2013**

4.6

6.5 4.9 6.8 10.9 9.9 11.4

2013 Range 6.8 - 7.2 4.8 - 5.2 6.7 - 7.1 11.9 - 12.3 11.7-12.1 13.5 - 13.9

Sumber: BPS dan Kemenkeu

• Pertumbuhan PDB tahun 2013 diperkirakan berada pada range 6,8-7,2 persen
12

Pertumbuhan PDB Penawaran 2013
2012 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Manufaktur Listrik, Air Bersih, Gas Konstruksi Perdagangan, Hotel, Restoran Transportasi dan Komunikasi Jasa Keuangan, Jasa Perusahaan, Ril Estat Jasa Lainnya 3.5 2.0 6.1 6.2 7 8.9 11.2 6.3 6.2 2013 Range 3,7-4,1 2,8-3,2 6,5-6,9 6,6-7,0 7,5-7,9 8,9-9,3 12,1-12,5 6,1-6,5 6,0-6,4

• Sektor pertanian diharapkan tumbuh tinggi untuk mencapai surplus beras 10 juta di tahun 2014/2015. • Sektor Industri tumbuh tetap tinggi didukung permintaan domestik yang cukup tinggi dan investasi yang cukup baik • Sektor Perdagangan dan sektor Transportasi & Komunikasi diharapkan terdorong tinggi seiring program infrastruktur MP3EI untuk meningkatkan domestic conectivity (MP3EI)
Sumber: BPS dan Kemenkeu 13

Kontribusi Pertumbuhan PDB 2013
2013 Range PDB Konsumsi RT Konsumsi Pemerintah PMTB Net Ekspor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Manufaktur Listrik, Air Bersih, Gas Konstruksi Perdagangan, Hotel, Restoran Transportasi dan Komunikasi Jasa Keuangan, Jasa Perusahaan, Ril Estat Jasa Lainnya
Sumber: RKP 2013 diolah Kemenkeu

2.63 - 2.85 0.55 - 0.59 3.03 - 3.13 0.58 - 0.63 0.45 - 0.50 0.20 - 0.23 1.66 - 1.76 0.05 - 0.05 0.49 - 0.51 1.61 - 1.68 1.24 - 1.29 0.58 - 0.62 0.57 - 0.60

• Terjadi pergeseran pendorong utama pertumbuhan ekonomi di tahun 2013, yaitu dari konsumsi masyarakat ke investasi/PMTB, dimana kontribusi investasi/PMTB sekitar 3,0 – 3,1 persen sementara konsumsi masyarakat sekitar 2,63-2,85 persen • Tingginya kontribusi investasi karena berbagai faktor pendorong investasi al. investment grade, ease of doing business, pemberian insentif fiskal dan MP3EI • Sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran memberikan kontribusi terbesar • Hal ini terkait dengan meningkatnya kinerja konsumsi dan investasi, serta impor
14

Inflasi 2013 diperkirakan 4,5% - 5,5% mengingat ketidakpastian pemulihan ekonomi global …
12%

11.1%
10%

8%

6.6%

7.0%

6.8% 5.5%

6%

4%

4.5% 3.8% 2.8%
2007 2008 2009 2010 2011 2012* 2013**

2%

0%

Arah Kebijakan
• Menjaga ketersediaan pasokan barang kebutuhan dan distribusi yang lancar
- Program2 peningkatan produk pertanian dan pangan - Operasi pasar melalui penyediaan anggaran subsidi pangan dan harga pangan - Perbaikan infrastruktur untuk menjamin pasokan ke seluruh wilayah RI (MP3EI) • Koordinasi kebijakan Fiskal, Moneter, Sektor Riil
15

Nilai Tukar 2013 : Rp8700/USD – Rp9300 /USD, Suku Bunga SPN 3 Bulan 2013 : 4,5% - 5,5% …
11000 10500 10000 9500 9691

Nilai Tukar Rp/USD
10408

Faktor Apresiasi :
• Arus modal masuk : FDI masih terus tumbuh
9300

9087
9140 8799

9000

• Global demand meningkat ekspor tumbuh

9000
8500 8000 7500

Faktor Depresiasi :
8700

• Aktivitas ekonomi, investasi Peningkatan impor • Flight to quality • Tingginya impor BBM

2007

2008

2009

2010

2011

2012*

2013**

Suku bunga SPN 3 bulan tahun 2013: 4,5 – 5,5
 Faktor Eksternal
•Membaiknya perekonomian global, namun masih terdapat risiko di kawasan Eropa • Likuiditas global yang masih cukup tinggi, kebijakan negara-negara maju: insentif bagi pemulihan ekonomi, pengucuran likuiditas dan tingkat bunga

 Faktor internal
•Tingkat imbal hasil investasi portofolio yang cukup bersaing.
•Investor masih melihat Obligasi Pemerintah sbg instrumen yang aman dan menarik
16

Asumsi ICP US$ 100-120/barel, Lifting Minyak 910940 ribu barel/hari, lifting gas 1.290-1.360 MBOEPD
130.0 120.0 110.0 100.0 90.0 80.0 70.0 60.0 50.0 40.0 2007 2008 2009 2010 2011 2012* 2013**

Harga ICP (USD/barel)
105 111.5 97.0 79.4 72.3 61.6 120

100

BRENT EIA-WTI ICP

2010 79,6 79,4 79,4

2011 111,1 95,1 111,5

2012* 115 105,72 105

2013** 115 105,75 100-120

Pergerakan dipengaruhi faktor fundamental, kondisi geopolitik, spekulasi, dan cuaca.
17

Asumsi ICP US$ 100-120/barel, Lifting Minyak 910-940 ribu barel/hari, lifting gas 1290-1.360 rb barel setara minyak/hari
Lifting Minyak Ribu Barel/Hari Produksi Gas Ribu Barel Ekuivalen Minyak/Hari

2008 2009 2010 2011 2012* 2013**

931 944 954 898 930 910-940

1329 1418 1577 1461 1348 1290-1360 (lifting)

Sumber: Kem. ESDM dan BP Migas

1. Target lifting minyak 2013 sebesar 910 ribu – 940 ribu barel per hari dengan upaya-upaya:
• Put on Production - percepatan produksi lapangan yang belum masuki usia produksi; • teknologi tingkat lanjut untuk mengangkat minyak (enhanced oil recovery/EOR).

2. Cadangan gas Indonesia cukup besar, 3% total cadangan dunia  potensi PNBP. 3. Lifting gas 2013 diperkirakan sebesar 1290 -1360 Thousand Barrel Oil Equivalent 18 per Day. 18

Asumsi Dasar Ekonomi Makro 2013
Indikator Pertumbuhan Ekonomi (%) Nilai Tukar (Rp/US$) Inflasi (%) Suku Bunga SPN 3 Bulan (%) Harga Minyak ICP (US$/barel) Lifting Minyak (rb barel/hari) APBN-P 2012 6,5 9.000 6,8 5,0 105 930 2013 6,8 – 7,2 8.700 – 9.300 4,5 - 5,5 4,5 – 5,5 100 – 120 910 – 940

Sasaran Pembangunan
Indikator Pertumbuhan Ekonomi (%) Tingkat pengangguran (%) Angka Kemiskinan (%) APBN-P 2012 6,5 6,4 – 6,6 10,5 – 11,5 2013 6,8 – 7,2 5,8 – 6,1 9,5 – 10,5
19

POKOK-POKOK KEBIJAKAN FISKAL TAHUN 2013

ARAH KEBIJAKAN FISKAL 2013
Tema RKP 2013 Memperkuat Perekonomian Domestik bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

4 Pilar Pembangunan
Pro Growth

Pro Job

Pro Poor

Pro Environment

Arah Kebijakan Fiskal Mendorong Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan melalui Upaya Penyehatan fiskal Optimalisas i Pendapatan Negara Meningkatk an kualitas belanja negara Pengendali an defisit APBN Mengurangi Ratio Utang terhadap PDB

21

Tantangan Pembangunan 2013
A

Peningkatan Daya Saing

1. Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha 2. Percepatan pembangunan infrastruktur untuk domestic connectivity; 3. Peningkatan pembangunan industri di berbagai koridor ekonomi; 4. Penciptaan kesempatan kerja khususnya tenaga kerja muda
5. Peningkatan ketahanan pangan; 6. Peningkatan rasio elektrifikasi dan konversi energi 7. Peningkatan pembangunan SDM; 8. Percepatan pengurangan kemiskinan (sinergi kluster 1-4) 9. Persiapan Pemilu 2014 10. Perbaikan kineja birokrasi & pemberantasan korupsi; 11. Pencapaian pembangunan MEF
22

B

Peningkatan Daya Tahan Ekonomi Peningkatan dan Perluasan Kesra Pemantapan Stabilitas Sospol

C

D

Menjaga defisit APBN pada kisaran 1,3-1,9%

Kebijakan Perpajakan ( 1 )
Kebijakan & langkah-langkah penting di tahun 2012 dan tahun 2013: 1. Kebijakan di bidang PPh yang diarahkan bagi perluasan basis pajak dan sekaligus perbaikan daya beli golongan masyarakat berpendapatan rendah, antara lain: • Penyesuaian PTKP (Pendapatan Tidak Kena Pajak); • Penyederhanaan metode pengenaan PPh atas golongan usaha tertentu sesuai dengan karakteristik usaha dan kemampuan ekonominya; • Penyesuaian tarif PPh final atas penghasilan dari transaksi ekonomi tertentu. 2. Penyesuaian kebijakan dibidang pemungutan PPN dan aturan pengukuhan PKP (Pengusaha Kena Pajak), termasuk melakukan registrasi ulang bagi pengusaha kena pajak dan penyempurnaan sistem informasi dan monitoring PPN;
23

Kebijakan Perpajakan ( 2 )
3. Perbaikan metode penggalian potensi pajak atas beberapa komoditas pertanian dan pertambangan, termasuk pembentukan KPP Khusus Bidang Pertambangan dan Migas, serta pemanfaatan lembaga surveyor bagi peningkatan akurasi data produksi dan penjualan; 4. Pengembangan satuan/unit quality assurance perbaikan kualitas pemeriksaan dan penyidikan agar tercipta kepastian hukum, termasuk penegakan hukum yang lebih tegas dan adil; 5. Pengintegrasian Sistem IT DJP (SIDJP) dari seluruh KPP di wilayah Indonesia, termasuk pengintegrasiannya dengan program PINTAR (Project for Indonesia Tax Administration Reform); 6. Peningkatan kegiatan Sensus Pajak Nasional dengan metode yang lebih efektif dan akses pasar yang lebih luas, termasuk perbaikan sistem perekaman dan pengolahan data perpajakan yang berbasis IT;
24

Kebijakan Perpajakan ( 3 )
7. Renegosiasi Tax Treaty dengan beberapa negara yang mengacu kepada kepentingan nasional dan mencegah penghindaran pajak, termasuk penerbitan peraturan terkait transfer pricing dan mendorong perjanjian MAP (Mutual Agreement Procedure) dan APA (Advance Pricing Agreement); 8. Pengenaan bea keluar atas ekspor barang tambang Minerba dalam bentuk mentah (bijih) untuk menjaga pasokan dalam negeri dan pemurnian barang tambang dalam negeri; 9. Ekstensifikasi Cukai dan Bea Keluar; 10. Renegosiasi Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara; 11. Otomatisasi administrasi piutang bea dan cukai; 12. Penerapan billing system untuk pelayanan cukai.
25

Kebijakan PNBP 2013
1. Optimalisasi PNBP dari SDA dengan tetap memperhatikan kesinambungan produksi dan kelestarian lingkungan hidup; a) Peningkatan lifting migas dan penurunan rasio cost recovery terhadap gross revenue ; b) Pengembangan lapangan gas baru dan percepatan siklus produksi gas; c) Penambahan Wilayah Kerja Pertambangan Migas; d) Peningkatan penerimaan Pertambangan Umum melalui revisi tarif dan jenis sesuai PP No.9 Tahun 2012; e) Penyelesaian renegosiasi kontrak pertambangan dilakukan dengan mengutamakan peningkatan PNBP 2. Optimalisasi penarikan dividen BUMN melalui penetapan payout ratio mengacu pada business plan BUMN; 3. Perbaikan pemungutan dan penyetoran PNBP K/L.
26

Arah Kebijakan Umum Belanja Negara 2013 Langkah-langkah menuju Belanja yang produktif
1. Meneruskan pemberian gaji dan pensiun ke-13 dan penyesuaian gaji pokok dan pensiun pokok sekitar 7% mengacu pada inflasi, serta penyesuaian gaji hakim; 2. Menuntaskan program reformasi birokrasi K/L; 3. Menjaga agar pelaksanaan operasional pemerintahan lebih efisien untuk peningkatan kualitas pelayanan masyarakat melalui flat policy pada belanja barang operasional perkantoran; 4. Mengarahkan peningkatan anggaran infrastruktur dalam rangka mendukung domestic connectivity, ketahanan energi dan ketahanan pangan; 5. Meningkatkan kapasitas mitigasi dan adaptasi perubahan iklim (climate change) melalui dukungan anggaran untuk konservasi lingkungan dan pengembangan energi terbarukan
27

Arah Kebijakan Umum Belanja Negara 2013
Langkah-langkah menuju Belanja yang produktif
6. Penguatan program perlindungan sosial dan penguatan program pro rakyat (klaster 4) dan sinergi antar klaster dalam rangka mendukung MP3KI; 7. Dukungan anggaran untuk BPJS dan peningkatan efisiensi pelaksanaan anggaran Bantuan Sosial; 8. Mendukung program MP3EI dengan mengarahkan pembangunan infrastruktur pada 6 (enam) koridor ekonomi; 9. Dalam rangka meningkatkan kualitas belanja negara dan menjaga pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, diperlukan kebijakan subsidi yang efisien dengan penerima subsidi yang tepat sasaran, melalui pengendalian besaran subsidi baik subsidi energi maupun subsidi non energi; 10. Menyediakan tambahan anggaran untuk antisipasi subsidi tepat sasaran;
28

Arah Kebijakan Umum Belanja Negara 2013

Langkah-angkah menuju Belanja yang produktif
11. Mengantisipasi ketidakpastian perekonomian global melalui dukungan cadangan risiko fiskal; 12. Mengantisipasi persiapan tahapan pelaksanaan Pemilu 2014; 13. Penyempurnaan pelaksanaan PBB (Performance Based Budgeting) dan MTEF (Medium Term Expenditure Framework); 14. Menyediakan alokasi anggaran untuk pembentukan dan kegiatan OJK. 15. Mengalokasikan anggaran untuk pembangunan shelter di daerah rawan bencana alam, pemetaan bencana, dan pembangunan perumahan warga baru diperbatasan Timor Timur; 16. Persiapan sebagai tuan rumah penyelenggaraan APEC Meeting 2013.
29

Arah Kebijakan Belanja Subsidi 2013
1. Pengendalian subsidi energi untuk meningkatkan belanja modal secara signifikan dalam jangka menengah dan meningkatkan daya saing; 2. Mengendalikan konsumsi BBM Bersubsidi melalui pengaturan, pengawasan dan manajemen distribusi; 3. Menurunkan pemakaian BBM pada pembangkit listrik dengan meningkatkan penggunaan batubara, gas, panas bumi, air, dan biodiesel, termasuk energi tenaga surya; 4. Meningkatkan ketahanan pangan; 5. Peningkatan daya saing usaha dan akses permodalan UMKM melalui bantuan subsidi kredit program seperti KKPE, KPEN-RP, dan KUPS; 6. Pemberian insentif dalam rangka pengembangan low cost green car .
30

Arah Kebijakan Belanja K/L 2013 (1)
1. Meningkatkan efisiensi belanja barang non operasional non prioritas antara lain perjalanan dinas, seminar, dan konsinyering; 2. Meningkatkan belanja infrastruktur terutama untuk pembangunan infrastruktur listrik, jalan raya, jalan KA, dan pelabuhan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable economic growth) dan memantapkan stabilitas perekonomian domestik 3. Memperkuat ketahanan pangan, termasuk upaya mencapai surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014 4. Mendukung pemanfaatan anggaran dalam rangka peningkatan kemampuan pertahanan menuju minimum essential force (MEF) dengan fokus pada pemberdayaan industri dalam negeri; 5. Mengarahkan pemanfaatan anggaran pendidikan untuk peningkatan sarana dan prasarana dan infrastruktur pendidikan serta memperluas akses masyarakat terhadap dunia pendidikan;

31

Arah Kebijakan Belanja K/L 2013 (2)
6. Keberpihakan (affirmative actions) untuk mengurangi kesenjangan ekonomi: a) Pembangunan Daerah tertinggal/terluar di fokuskan untuk infrastruktur listrik, dan Jalan serta sarana dan prasarana pendidikan yang memadai b) Mendukung pengembangan industri kecil dan industri kreatif dalam rangka peningkatan daya saing 7. Untuk mendorong pencapaian pertumbuhan ekonomi sesuai yang ditargetkan diharapkan penyerapan belanja K/L mencapai 95%. 8. Sebagai pelaksanaan Pasal 157 ayat 1c UU No.27/2009Tentang MD3, Pemerintah akan menyampaikan rincian belanja negara menurut organisasi, fungsi, program, dan kegiatan. Namun pada tahap penyampaian KEM dan PPKF ini baru disampaikan rincian anggaran belanja menurut organisasi terlampir.

32

Beberapa kegiatan yang harus dibatasi dalam rangka efisiensi Belanja K/L
1. 2. 3. 4. Perjalanan dinas dalam dan luar negeri; Rapat dan konsinyering di luar kantor; Honorarium tim; Pembangunan gedung baru yang tidak langsung menunjang tugas dan fungsi K/L (mess, wisma, rumah dinas, rumah jabatan, gedung pertemuan); 5. Pengadaan kendaraan bermotor kecuali: a) Kendaraan fungsional (ambulan untuk rumah sakit, kendaraan untuk tahanan, kendaraan roda dua untuk penyuluh); b) Penggantian kendaraan yang rusak berat (sejalan dengan program penghematan dan/atau konversi energi); 6. Komponen lain yang sejenis atau serupa.
33

Kebijakan Perimbangan Keuangan (1)
DANA BAGI HASIL 1. Menyempurnakan proses perhitungan dan penetapan alokasi DBH menjadi lebih transparan dan akuntabel; 2. Menyempurnakan sistem penyaluran DBH lebih tepat waktu dan jumlah. DANA ALOKASI UMUM 1. Mengalokasikan DAU sebesar 26% dari PDN neto yang ditetapkan dalam APBN; 2. Menyempurnakan formula dan komponen yang digunakan dalam perhitungan terutama mengurangi porsi/unsur belanja Pegawai; 3. Meningkatkan akurasi data dasar perhitungan DAU melalui koordinasi antar lembaga/instansi. DANA ALOKASI KHUSUS

Mempersiapkan percepatan pengalihan dekonsentrasi/tugas pembantuan K/L teknis yang mendanai urusan daerah menjadi DAK, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 108 UU 33/2004 Tentang PKPD

34

Kebijakan Perimbangan Keuangan (2)
DANA OTONOMI KHUSUS Mengalokasikan dana otsus untuk provinsi Aceh setara 2 persen DAU nasional dan untuk provinsi Papua dan Papua Barat setara 2 persen DAU nasional . DANA PENYESUAIAN 1. Mengalokasikan tunjangan profesi untuk guru yang sudah memiliki sertifikasi dan dana tambahan penghasilan untuk guru yang belum memiliki sertifikasi; 2. Mengalokasikan dana BOS; 3. Mengalokasikan dana insentif daerah (DID) untuk daerah yang berprestasi dalam pengelolaan keuangan dan pencapaian kinerja kesejahteraan masyarakat; 4. Mengalokasikan dana proyek pemerintah daerah dan desentralisasi untuk beberapa daerah tertentu yang dinilai berhasil memanfaatkan alokasi DAK. PEMBIAYAAN DAERAH MELALUI OBLIGASI DAERAH Memfasilitasi Pemda untuk menerbitkan obligasi daerah sebagai salah satu alternatif pembiayaan infrastruktur.
35

Kebijakan Pembiayaan Non Utang Tahun 2013
1. Pemanfaatan dana SAL untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis pasar SBN dan pemanfaatan di awal tahun untuk membiayai pembangunan infrastruktur; 2. Mengarahkan penggunaan Dana Investasi Pemerintah untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur; 3. Pengalokasian dana PMN dan investasi untuk meningkatkan penjaminan program KUR dan memenuhi kewajiban Indonesia sebagai anggota Organisasi/Lembaga Keuangan Internasional dan ASEAN Infrastructure Fund; 4. Peningkatan governance dan melakukan secara selektif alokasi investasi dan PMN (PT PII, PT Inalum); 5. Pengalokasian dana bergulir untuk Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB KUMKM), Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan (BLU PPP), dan Geothermal; 6. Pengalokasian dana kewajiban penjaminan terhadap kredit PT PLN, PDAM, dan CJPP (Central Java Power Plant).
36

Kebijakan Pembiayaan Utang Tahun 2013
1. Memanfaatkan pinjaman luar negeri secara cermat dan menurunkan tambahan utang baru untuk mempertahankan kebijakan net negative flow pinjaman luar negeri; 2. Mengupayakan tercapainya rasio utang terhadap PDB berkisar 21% -23% pada akhir tahun 2013; 3. Melakukan penerusan pinjaman secara selektif berdasarkan tujuan penggunaan yang diprioritaskan pada pembangunan infrastruktur. 4. Mengembangkan pasar SBN dan instrumen pembiayaan SBSN untuk infrastruktur. 5. Mengupayakan fleksibilitas pembiayaan utang melalui penggantian instrumen utang untuk memenuhi target pembiayaan utang dengan biaya yang relatif rendah dan risiko yang terkendali. 6. Melakukan konversi surat utang Pemerintah di BI yang tidak dapat diperdagangkan, menjadi SBN yang dapat diperdagangkan untuk mendukung efisiensi pengelolaan moneter dan pengembangan pasar keuangan
37

TERIMA KASIH

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->