Anda di halaman 1dari 1

Epidemiologi Survei epidemiologi menunjukkan adanya kenaikan fenomena alergi yang cepat.

Di negara berkembang, fenomena ini merupakan penyakit kronis yang paling sering dijumpai dan mencapai sekitar 15% dan 30% dari seluruh populasi. Pada bayi dan anak kecil, prevalensi alergi makanan diperkirakan terjadi sekitar 2-3%. Faktor-faktor yang mempengaruhi prevalensi alergi makanan pada berbagai populasi memberikan perhatian mengenai dasar genetik dan lingkungan dari kenaikan penyakit atopik pada anak. Di Asia Tenggara, terdapat variasi yang sangat tinggi mengenai budaya, ras dan makanan yang mungkin dapat berpengaruh terhadap prevalensi alergi makanan. Di Australia, telur (3,2%), susu sapi (2%) dan kacang tanah (1,9%) merupakan alergen makanan yang paling sering dijumpai pada anak hingga berusia 2 tahun. Di Asia, prevalensi alergi makanan tidak banyak diketahui. Terdapat pandangan umum bahwa alergi nasi tidak umum dijumpai, sebaliknya alergi terhadap kerangkerangan lebih sering dijumpai di Filipina dan Singapura yang merupakan bagian dari makanan sejak bayi usia dini. Berbeda dengan insiden hipersensitivitas terhadap kacangtanah di Malaysia, Jepang dan Filipina yang rendah, di Indonesia dan Australia insidensi alergi terhadap bahan makanan tersebut relatif tinggi. Di Amerika Serikat, hingga sepertiga rumah tangga menyatakan bahwa salah satu keluarganya pernah mengalami reaksi makanan yang merugikan, tetapi prevalensinya pada anak-anak hanya 6%-8%. Djuprie Liek, Soeparto Pitono. Alergi Makanan (Food Alergy) dalam Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2010. hal 179-99