P. 1
Prinsip Fundamental Bioetika Ditinjau Dari Sisi Tidak Merugikan

Prinsip Fundamental Bioetika Ditinjau Dari Sisi Tidak Merugikan

|Views: 55|Likes:
Dipublikasikan oleh rahma_ch

More info:

Published by: rahma_ch on May 30, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2012

pdf

text

original

LAPORAN KAJIAN PRINSIP FUNDAMENTAL BIOETIKA BERDASARKAN PRINSIP “TIDAK MERUGIKAN”

ILUSTRASI KASUS : Seorang Ibu G1 P0 A0, hamil aterm (40 minggu) datang ke tempat Bidan Praktik Mandiri karena sudah merasa saatnya untuk melahirkan, pasien mengatakan kontraksi sudah sangat kuat sekali dan sudah mengeluarkan cairan ngepyoh dari jalan lahirnya (air ketuban) sejak dari rumah. Kemudian bidan melakukan pemeriksaan dalam didapatkan hasil presentasi bokong dan pembukaan hamper lengkap (8-9 cm). Karena melihat ibunya yang sudah sangat kesakitan maka bidan tersebut langsung menyiapkan alat-alat untuk menolong persalinan (tanpa memperdulikan bahwa itu bukan kewenangannya), dan bidan tersebut juga tidak melakukan anamnesa lebih lanjut/secara detail kepada pasien tersebut untuk mengetahui riwayat kehamilannya (padahal diketahui ternyata bayi mengalami hidrosefalus, karena selama kehamilan ibu tersebut selalu periksa ke dokter, dan dokter menyarankan bahwa nanti melahirkan harus di RS karena bayi mengalami kelainan). Setelah bidan memimpin persalinan selama ± 2 jam, akhirnya bokong, kaki, perut dan bahu bayi bisa lahir, tetapi kemudian terjadi kesulitan dalam melahirkan kepala (terjadi after coming head). Karena merasa sudah tidak mampu menolong melahirkan kepala tersebut akhirnya bidan tersebut merujuk pasien ke RSUD setempat (yang sebenarnya hanya berjarak ± 2 km dari rumah bidan tersebut). Sampai di RS sudah sekitar tengah malam dan pada waktu itu hanya ada bidan jaga 3 orang, kondisi bayi sudah sangat mengenaskan (tubuh berwarna biru kehitaman karena hipoksia). Kemudian bidan RS melakukan kolaborasi/konsultasi dengan dr.SpOg, dan advis dokter menyarankan untuk di SC, namun pasien dan keluarga menolak untuk di SC dengan alas an biaya serta kondisi bayinya yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi, pasien menginginkan agar tetap dilahirkan secara pervaginam. Akhirnya setelah melalui persetujuan/informconsent dengan pasien & keluarga, maka dilakukanlah persalinan pervaginam. Akibatnya terjadilah rupture vagina totalis.

KAJIAN/PEMBAHASAN KASUS KAITANNYA DENGAN PRINSIP FUNDAMENTAL BIOETIKA BERDASARKAN PRINSIP “TIDAK MERUGIKAN” : 1. Keterkaitan dengan hak asasi Berdasarkan kasus tersebut diatas, jika dikaitkan dengan hak asasi pasien, maka Bidan Praktik Mandiri yang melakukan pertolongan persalinan pada pasien tersebut telah melakukan pelanggaran hak, yaitu HAK UNTUK TIDAK DISAKITI DAN DILUKAI .Pasien harusnya diberikan pelayanan secara baik sesuai prosedur

PRINSIP SARANA BIASA DAN SARANA LUAR BIASA . maka berdasarkan kasus diatas telah terjadi pelanggaran yang mengakibatkan kerugian fisik dimana bidan melakukan tindakan yang bukan merupakan kewenangannya yaitu menolong persalinan primigravida dengan presentasi bokong/sungsang. 2) Ibu/pasien mengalami rupture vagina total. melainkan anamnesa juga bisa dilakukan ketika bidan tersebut sambil melakukan pemeriksaan VT atau pemeriksaan yang lainnya. yaitu : 1) Bayi Pasien meninggal dunia . Dan akhirnya setelah dilakukan persetujuan/informconsent. maka berdasarkan kasus dapat dikategorikan kedalam : a. meskipun anamnesa tersebut tidak harus selalu dilakukan secara formal atau dalam waktu kusus. c. PRINSIP TOTALITAS Hal ini bisa dilihat dari tindakan bidan RS yang sudah melakukan kolaborasi dengan dr.dan standar yang berlaku. Sehingga bidan tersebut dapat dikatakan telah melaksanakan prinsip totalitas. SpOg untuk tindakan SC namun ditolak oleh pasien. b. PRINSIP EFEK GANDA Hal ini bisa dilihat dari tindakan yang dilakukan oleh Bidan Praktik Mandiri yang melakukan pertolongan persalinan pada kasus sungsang disertai hidrosefalus. dan pasien menghendaki persalinan pervaginam dengan apapun resikonya. 3. keluarga dan dokter. dimana setiap pasien inpartu harusnya dilakukan anamnesa secara lengkap terutama kaitannya dengan riwayat kehamilannya. Akibatnya pasien yang dirugikan karena ketledoran bidan tersebut akhirnya bayi meninggal dan pasien mengalami rupture vagina total. Bidan melakukan tindakan tersebut karena sudah atas seijin pasien. 2. maka bidan tersebut dengan segala kemampuannya mencoba untuk melahirkan pervaginam meskipun pada akhirnya mengakibatkan ruptul vagina total pada pasien tersebut. Dimana dari tindakan tersebut menimbulkan efek kerugian ganda bagi pasien. Ruang lingkup pelanggaran Ditinjau dari ruang lingkup pelanggaran. Pelengkap prinsip tidak merugikan Ditinjau dari aspek pelangkap prinsip tidak merugikan.

d. dimana seharusnya Bidan bisa melakukan tindakan medis yang lain yaitu dengan merujuk pasien ke RS dan bukan menolong persalinan sendiri yang akhirnya mengakibatkan bayi meninggal. e. Sehingga bayi bisa dilahirkan pervaginam tanpa menimbulkan trauma rupture pada si ibu dan membebani biaya yang tinggi bagi keluarga pasien. dimana bidan tidak boleh melakukan pertolongan persalinan pada primigravida dengan presentasi bokong. SpOg bisa melakukan tindakan lain yang lebih terjangkau biayanya daripada SC. seharusnya dr. PRINSIP MEMBUNUH DAN MEMBIARKAN PASIEN MENINGGAL Hal ini bisa dilihat dari tindakan yang dilakukan Bidan Praktik Mandiri. yaitu dengan melakukan punksi kepala karena mengingat kondisi bayi tersebut yang sudah meninggal. MAL PRAKTIK LAYANAN KESEHATAN Hal ini bisa dilihat dari tindakan bidan yang diluar kewenangannya. .Berdasarkan kasus diatas.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->