Anda di halaman 1dari 13

BAB 1 Pendahuluan 1.1.

Latar Belakang Salah satu lembaga yang sesuai dengan pembangunan masyarakat pedesaan dalam upaya pemberdayaan ekonomi rakyat adalah koperasi.Hal ini dikarenakan koperasi memiliki prinsip gotong royong, rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan. Organisasi koperasi yang diperlukan masyarakat adalah koperasi yang jujur dan dinamis sehingga potensi anggota dalam menghimpun dana dapat terwujud (Badaruddin dkk, 2005).Pembangunan koperasi identik dengan mengatasi kemiskinan. Menurut Bung Hatta,koperasi yang berazaskan pasal 33 UUD 1945 merupakan satusatunya jalan untuk mendekatkan jurang perbedaan antara yang kaya dengan yang miskin (Mubyarto 2003:10). Secara makro dapat dilihat peranan koperasi yang semakin melembaga dalam perekonomian, antara lain; meningkatnya manfaat koperasi bagi masyarakat dan lingkungan, pemahaman yang lebih mendalam terhadap azas, sendi serta tata kerja koperasi; meningkatnya produksi, pendapatan dan kesejahteraan; meningkatnya pemerataan dan keadilan; meningkatnya kesempatan kerja.Semua ini mengakibatkan pertumbuhan struktural dalam perekonomian nasional yang tergantung pada Co-operative (Sukamdiyo, 1996)., Dr. Mustafa Didjaya (1997 : 7 ) : administrasi pembangunan adalah ilmu dan seni tentang bagaimana pembangunan suatu sistem administrasi tersebut mampu menyelenggarakan brbagai fungs pemerintahan dan pembangunan secara efektif dan efesien. Sehubungan itu ditambahkan oleh Fred W.Riggs (1986:75) Adminsitrasi pembangunan menunjuk pada berbagai usaha yang diorganisasikan untuk melaksanakan program program atau proyek proyek yang terkait guna mencapai sasaran pembangunan. Growth,CooperativeShare dan Co-operativeEffect yang melibatkan, memberdayakan segenap lapisan masyarakat, sehingga dapat mengatasi kemiskinan

Bila dihubungkan administrasi pembangunan yang didefenisikan oleh para ahli ahli ini dengan model model pembangunan di Indonesia maka masih dijumpai kelemahan kelemahan paradigma pembangunan berikut ini karena tidak dapat mengurangi kemiskinan di Indonesia. Berikut ini adalah beberapa model paradigma pembangunan yang pernah diterapkan di Indonesia:
1. Model I Paradigma Pertumbuhan GNP (1950-1960)

Model ini sesuai dengan teori dan strategi pembangunan pada Model pembangunan yang berorientasi pada peningkatan pertumbuhan GNP yang beranggapan bahwa hal tersebut dapat dicapai dengan menempuh industrialisasi dan penamaman modal secara big push dengan semangat modernisasi yang beranggapan supeioritas unsur- unsur eksternal, dimana peningkatan pendapatan perkapita dan pemerataan akan dicapai otomatis sebagai akibat proses trickle down, maka peranan aparatur pemerintah dan fungsi administrasi public di Negara- Negara berkembang adalah melakukan perencanaan dari berbagai upaya dan langkah- langkah kebijakan guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang di inginkan.
2. Model II Paradigma Pemerataan (1970)

Ketidakpuasan terhadap pembangunan dan administrasi pembangunan model 1, menimbulkan kritik , krisis, dan mendorong lahirnya pembangunan dan administrasi pembangunan model II. Pusat perhatian pada model II adalah pada deliveri service sistem yang berhubungan langsung dengan kelompok sasaran pada organisasi local dan sektoral. Sungguhpun maksud dari model pembangunan kedua ini adalah pada upaya pemerataan hasil- hasil pembangunan yang berdampak pada kemandirian dan keadilan sosial , inilah yang mendorong lahirnya pemikiran baru yang lebih berorientai pada usaha pemberdayaan masyarakat agar mereka lebih mandri , tidak saja dalam artian ekonomi tetapi juga sebagai sikap budanya.
3. Model III Para Pembangunan Manusia (1980-an)

Model III. Menekankan kegiatan aparatur yang penuh tanggung jawab dan berupaya membangkitkan kesadaran dan kemampuan instansi baik secara

individual maupun secara kolektif. Untuk itu perlu dilakukan pembangunan manusia seutuhnya , yang menurut UI Haq (1995 ) juga berarti dan mempunyai implikasi memperluas pilihan pilihan manusia. Dalam rangka itu diperlukan langkah- langkah pemberdayaan (empowerment) baik dalam arti peningkatan kemampuan masyarakat melalui pelatihan dan penyediaan berbagai akses ekonomi dan sosial, juga pengakuan atas hak- hak manusia dan masyarakat , serta penyaluran aspirasinya. Kegagalannya :
4. Model IV Pembangunan Daya Saing

Dewasa ini bangsa bangsa tengah memasuki era perdagangan bebas, masing masing berupaya untuk mengoptimalkan manfaat perkembangan bordeles word economy tersebut dengan kesadaran yang semaikn tinggi bahwa untuk itu diperlukan peningkatan daya saing sebagai karakteristik pokok dari pembangunan dan administrasi pembangunan. Model IV, yang juga mempunyai macam- macam implikasi dan berbagai persyaratan kelembagaan tertentu dalam manajemen pembangunan Negara- Negara berkembang , bukan saja dalam menghadapi perkembangan internal tetapi juga dalam hubungan internasionalnya. Munculnya pemberdayaan masyarakat secara spesifik sangat diperlukan saat ini untuk mengurangi beban pemerintah dan mencari alternatif yang lebih bersifat biaya efektif, dampak positif dari pemberdayaan masyarakat bila dikaitkan dengan pendapat Diohon(2003) berdasarkan pengalaman di eropa menyebutkan bahwa ada 5 faktor yagn emnyebabkan pergeseran kebijakan pembangunan dari pendekatan top down ke pendekatan buttom up: 1. Pemerintah dengan anggaran terbatas mencari alternatif biaya yang bersifat efektif 2. Lingkungan ekonomi semakin tidak dapat diprediksi pada tingkat nasional maupun regional 3. Banyak industri besar mengalami proses restrukritasi dan mengubah stratergi yang meningkatkan jumlah dan saling ketergantungan para pemangku kepentingan atau stakeholder. alternantif

4. Semakin berkembangnya persepsi bahwa kebijakan top down atau tradisional itu tidak memperoleh hasil yang diharapkan 5. Perkembangan industri di beberapa wilayah di Eropa menunjukkan adanya difusi kewilayahan dan semakin besarnya peran peran usaha usaha kecil yang menunjukkan bahwa perbedaan perbedaan spasial dalam hal institusi, sosial, budaya, faktor faktor politik di dalam bangsa dan wilayah berinteraksi untuk mempengaruhi sikap dan cakupan pembangunan ekonomi ( Lincolih Arshad dkk.2011 : 15 16 ) Sehubungan dengan pendapat diatas maka sangat dibutuhkan pemberdayaan koperasi untuk dapat mengurani kemiskinan di Indonesia melalui pemberdayaan usaha usaha kecil dan usaha pemberdayaan perbedaan pebedaan spasial dalam hal institusi, sosial, budaya, dan politik di dalam bangsa dan wilayah berinteraksi mempengaruhi pembangunan ekonomi pedesaan. 1.2 Perumusan Masalah I. Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan masalah adalah:
1. Bagaimanakah

Pemberdayaan

masyarakat

melalui

partisipasi

masyarakat

untuk

mengentaskan kemiskinan di Indonesia. 2. Bagaimanakah pemberdayaan koperasi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat miskin. 3. Bagaimanakah peran pemerintah di dalam mendukung peran koperasi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.
4. Bagaimana peran pemeritnah mendukung koperasi KUD dan koperasi yang dibina oleh

masyarakat untuk melakukan pembangunan pedesaan yang mempunyai keterkaitan dengan pembangunan nasional II.

IIa.Pembangunan atau penyempurnaan administrasi negara agar lebih dapat mendukung tugas tugas pemerintah : 1. Kepemimpinan adminsitratif, kepemimpinan inovatif dan adminsitrasi pembangunan 2. Pendayagunaan kelembagaan ( organisasi pembangunan) 3. Pendayagunaan kepegawaian ( pengadaan, pembinaan, pendidikan dan pealtihan ) 4. Pendayagunaan ketatalaksanaan (kalau dikaitkan dengan organisasi disebut masalah organisasi dan tata laksana termasuk prosedur dan tata kerja ). II.b penyempurnaan Adminsitrasi Bagi penyelenggaraan proses pembangunan . ini juga disebut sebagai administrasi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan atau ketatalaksanaan pembangunan meliputi hal hal antara lain : 1. Adminsitrasi perencanaan dan pemrograman pembangunan ( misalnya kemampuan mekanisme analisa dan pembentukan kebijaksanaan pembangunan, sistem perencanaan dan penganggaran)/ 2. Administrasi pembiayaan pembangunan (penyaluran biaya untuk ebrbagai macam kegiatan pembangunan yang berbeda beda sifatnya ) 3. Administrasi / manajemen program dan proyek pembangunan. Termasuk berbagai cara koordinasinya 4. Administrasi / sistem pengendalian dan pengwasan ( pengawasan atasan langsung fungsional ). organisasi pemerintah untuk melaksanakan

Bab 2

Pembahasan 1.2.Pengertian Administrasi Pembangunan 1.2.1. Pengertian Administrasi Pembangunan Dr. Mustafa Didjaya (1997 : 7 ) : administrasi pembangunan adalah suatu sistem administrasi tersebut mampu menyelenggarakan berbagai fungsi pemerintahan dan pembangunan secara efektif dan efisien. Sp. Siagian (1972:1-2 ) : menambahkan jika pembangunan dianalisa lebih lanjut yang terlihat dari beberapa ide pokok : 1. Pembangunan sebuah proses 2. Pembangunan merupakan usaha yang secara sadar dilaksanakan 3. Pembangunan dilaksanakan secara berencana 4. Pembangunan mengarah ke modernitas 5. Modernitas yang dicapai melalui pembangunan itu melalui multidimensional 6. Ditujukan kepada pembangunan bangsa.
Coralie Bryant, Louise G. White (1989: 22-28) menyatakan bahwa pembangunan

mencakup: a. Kapasitas Pembangunan mencakup pengembangan kapasitas untuk menentukan masa depan seseorang. Dalam konteks ini, kapasitas, meliputi faktor-faktor ekonomi seperti fasilitasfasilitas produksi. b. Keadilan Pembangunan ini menyangkut masalah-masalah distribusi. Betapapun majunya suatu perekonomian, apabila hanya sebagian kecil penduduk yang menikmati manfaatnya, pembangunan dalam arti sesungguhnya belumlah terjadi. Dalam jangka panjang, pembangunan ekonomi digalakkan dengan cara meningkatkan sumber daya manusia di suatu negara dan dengan menyeimbangkan kemampuan untuk mengkonsumsi.

c. Penumbuhan kuasa dan wewenang (Empowerment) Pembangunan juga berarti penumbuhan kekuasaan dan wewenang bertindak yang lebih besar kepada simiskin. Mengingat pertumbuhan ekonomi tidak dengan sendirinya akan retdistribusi secara meluas, maka pertanyaan mengenai manfaatnya adalah suatu masalah politik. d. Kelangsungan yang tertunjang (Sustainability) Pembangunan yang mencakup perhatian jangka panjang terhadap masa depan yang terangkum dalam istilah "sustainability" karena faktor-faktor seperti tanah tandus, energi dan sumber-sumber mineral yang terbatas, dan soal-soal pencemaran, keputusankeputusan produksi harus memperhitungkan masa depari. e. Saling ketergantungan Soal sustainability pada gilirannya memunculkan masalah saling ketergantungan yang rumit dan sulit dipahami. Seperti dicatat oleh teoritisi ketergantungan, dunia ketiga secara ekonomi bergantung kepada negara-negara industri. Tetapi benar jugalah bahwa sebagian besar pertumbuhan negara-negara industri bergantung kepada dunia ketiga. f. Ketidakmampuan Administrasi Pembangunan dan pengertian seluas pengertian yang dipakai disini, memunculkan masalah-maslah khusus dalam tiap cabang ilmu sosial. Dalam bidang manajemen dan administrasi, pokok-pokok persoalan itu mendapatkan perhatian yang sedikit. Padahal dalam komunitas, negara dan dalam forum internasional, para administrator memainkan peran-peran penting yang berpengaruh.Persoalannya, administrasi dikebanyakan negara dunia ketiga lebih bercirikan ketidakmampuan daripada sifat imajinatif dan responsif dari lembaga-lembaga yang ada.
1.3.

Perkembangan Koperasi di Indonesia

1.3.1. Latar Belakang Sejarah kelahiran dan berkembangnya koperasi di negara maju (barat) dan negara berkembang memang sangat diametral. Di barat koperasi lahir sebagai gerakan untuk melawan ketidakadilan pasar, oleh karena itu tumbuh dan berkembang dalam suasana persaingan pasar. Bahkan dengan kekuatannya itu koperasi meraih posisi tawar dan kedudukan penting dalam konstelasi kebijakan ekonomi termasuk dalam perundingan internasional. Peraturan perundangan

yang mengatur koperasi tumbuh kemudian sebagai tuntutan masyarakat koperasi dalam rangka melindungi dirinya. Di negara berkembang koperasi dirasa perlu dihadirkan dalam kerangka membangun institusi yang dapat menjadi mitra negara dalam menggerakkan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu kesadaran antara kesamaan dan kemuliaan tujuan negara dan gerakan koperasi dalam memperjuangkan peningkatan kesejahteraan masyarakat ditonjolkan di negara berkembang, baik oleh pemerintah kolonial maupun pemerintahan bangsa sendiri setelah kemerdekaan. Berbagai peraturan perundangan yang mengatur koperasi dilahirkan dengan maksud mempercepat pengenalan koperasi dan memberikan arah bagi pengembangan koperasi serta dukungan/perlindungan yang diperlukan. 1.3.2. Sejarah Koperasi Pada saat ini dengan globalisasi dan runtuhnya perekonomian sosialis di Eropa Timur serta terbukanya Afrika, maka gerakan koperasi di dunia telah mencapai suatu status yang menyatu di seluruh dunia. Dimasa lalu jangkauan pertukaran pengalaman gerakan koperasi dibatasi oleh blok politik/ekonomi, sehingga orang berbicara koperasi sering dengan pengertian berbeda. Meskipun hingga tahun 1960-an konsep gerakan koperasi belum mendapat kesepakatan secara internasional, namun dengan lahirnya Revolusi ILO-127 tahun 1966 maka dasar pengembangan koperasi mulai digunakan dengan tekanan pada saat itu adalah memanfaatkan model koperasi sebagai wahana promosi kesejahteraan masyarakat, terutama kaum pekerja yang ketika itu kental dengan sebutan kaum buruh. Sehingga syarat yang ditekankan bagi keanggotaan koperasi adalah Kemampuan untuk memanfaatkan jasa koperasi. Dalam hal ini resolusi tersebut telah mendorong tumbuhnya program-program pengembangan koperasi yang lebih sistematis dan digalang secara internasional. Pada akhir 1980-an koperasi dunia mulai gelisah dengan proses globalisasi dan liberalisasi ekonomi dimana-mana, sehingga berbagai langkah pengkajian ulang kekuatan koperasi dilakukan. Hingga tahun 1992 Kongres ICA di Tokyo melalui pidato Presiden ICA (Lars Marcus) masih melihat perlunya koperasi melihat pengalaman swasta, bahkan laporan Sven Akheberg menganjurkan agar koperasi mengikuti layaknya private enterprise. Namun dalam perdebatan Tokyo melahirkan kesepakatan untuk mendalami kembali semangat koperasi dan mencari

kekuatan gerakan koperasi serta kembali kepada sebab di dirikannya koperasi. Sepuluh tahun kemudian Presiden ICA saat ini Roberto Barberini menyatakan koperasi harus hidup dalam suasana untuk mendapatkan perlakuan yang sama equal treatment sehingga apa yang dapat dikerjakan oleh perusahaan lain juga harus terbuka bagi koperasi (ICA, 2002). Koperasi kuat karena menganut established for last. Pada tahun 1995 gerakan koperasi menyelenggarakan Kongres koperasi di Manchester Inggris dan melahirkan suatu landasan baru yang dinamakan International Cooperative Identity Statement (ICIS) yang menjadi dasar tentang pengertian prinsip dan nilai dasar koperasi untuk menjawab tantangan globalisasi. Patut dicatat satu hal bahwa kerisauan tentang globalisasi dan liberalisasi perdagangan di berbagai negara terjawab oleh gerakan koperasi dengan kembali pada jati diri, namun pengertian koperasi sebagai enterprise dicantumkan secara eksplisit. Dengan demikian mengakhiri perdebatan apakah koperasi lembaga bisnis atau lembaga quasi-sosial. Dan sejak itu semangat untuk mengembangkan koperasi terus menggelora di berbagai sistim ekonomi yang semula tertutup kini terbuka. Di kawasan Asia Pasifik hal serupa ini juga terjadi sehingga pada tahun 1990 diadakan Konferensi Pertama Para Menteri-Menteri yang bertanggung jawab dibidang koperasi di Sydney, Australia. Pertemuan ini adalah kejadian kali pertama untuk menjembatani aspirasi gerakan koperasi yang dimotori oleh ICA-Regional Office of The Asian dan Pacific dengan pemerintah. Pertemuan ini telah melicinkan jalan bagi komunikasi dua arah dan menjadi pertemuan regional yang reguler setelah Konferensi ke II di Jakarta pada tahun 1992. Pesan Jakarta yang terpenting adalah hubungan pemerintah dan gerakan koperasi terjadi karena kesamaan tujuan antara negara dan gerakan koperasi, namun harus diingat program bersama tidak harus mematikan inisiatif dan kemurnian koperasi. Pesan kedua adalah kerjasama antara koperasi dan swasta (secara khusus disebut penjualan saham kepada koperasi) boleh dilakukan sepanjang tidak menimbulkan erosi pada prinsip dan nilai dasar koperasi. 1.3.3. Pengalaman Koperasi Di Indonesia Di Indonesia pengenalan koperasi memang dilakukan oleh dorongan pemerintah, bahkan sejak pemerintahan penjajahan Belanda telah mulai diperkenalkan. Gerakan koperasi sendiri

mendeklarasikan sebagai suatu gerakan sudah dimulai sejak tanggal 12 Juli 1947 melalui Kongres Koperasi di Tasikmalaya. Pengalaman di tanah air kita lebih unik karena koperasi yang pernah lahir dan telah tumbuh secara alami di jaman penjajahan, kemudian setelah kemerdekaan diperbaharui dan diberikan kedudukan yang sangat tinggi dalam penjelasan undang-undang dasar. Dan atas dasar itulah kemudian melahirkan berbagai penafsiran bagaimana harus mengembangkan koperasi. Paling tidak dengan dasar yang kuat tersebut sejarah perkembangan koperasi di Indonesia telah mencatat tiga pola pengembangan koperasi. Secara khusus pemerintah memerankan fungsi regulatory dan development secara sekaligus (Shankar 2002). Ciri utama perkembangan koperasi di Indonesia adalah dengan pola penitipan kepada program yaitu : (i) Program pembangunan secara sektoral seperti koperasi pertanian, koperasi desa, KUD; (ii) Lembagalembaga pemerintah dalam koperasi pegawai negeri dan koperasi fungsional lainnya; dan (iii) Perusahaan baik milik negara maupun swasta dalam koperasi karyawan. Sebagai akibatnya prakarsa masyarakat luas kurang berkembang dan kalau ada tidak diberikan tempat semestinya. Selama ini koperasi dikembangkan dengan dukungan pemerintah dengan basis sektorsektor primer dan distribusi yang memberikan lapangan kerja terbesar bagi penduduk Indonesia. Sebagai contoh sebagian besar KUD sebagai koperasi program di sektor pertanian didukung dengan program pembangunan untuk membangun KUD. Disisi lain pemerintah memanfaatkan KUD untuk mendukung program pembangunan pertanian untuk swasembada beras seperti yang selama PJP I, menjadi ciri yang menonjol dalam politik pembangunan koperasi. Bahkan koperasi secara eksplisit ditugasi melanjutkan program yang kurang berhasil ditangani langsung oleh pemerintah bahkan bank pemerintah, seperti penyaluran kredit BIMAS menjadi KUT, pola pengadaan beras pemerintah, TRI dan lain-lain sampai pada penciptaan monopoli baru (cengkeh). Sehingga nasib koperasi harus memikul beban kegagalan program, sementara koperasi yang berswadaya praktis tersisihkan dari perhatian berbagai kalangan termasuk para peneliti dan media masa. Dalam pandangan pengamatan internasional Indonesia mengikuti lazimnya pemerintah di Asia yang melibatkan koperasi secara terbatas seperti disektor pertanian (Sharma, 1992).

1.3.4. Pengalaman Umum Kemajuan Koperasi Sejarah kelahiran koperasi di dunia yang melahirkan model-model keberhasilan umumnya berangkat dari tiga kutub besar, yaitu konsumen seperti di Inggris, kredit seperti yang terjadi di Perancis dan Belanda kemudian produsen yang berkembang pesat di daratan Amerika maupun di Eropa juga cukup maju. Namun ketika koperasi-koperasi tersebut akhirnya mencapai kemajuan dapat dijelaskan bahwa pendapatan anggota yang digambarkan oleh masyarakat pada umumnya telah melewati garis kemiskinan. Contoh pada saat Revolusi Industri pendapatan/anggota di Inggris sudah berada pada sekitar US$ 500,- atau di Denmark pada saat revolusi pendidikan dimulai pendapatan per kapita di Denmark berada pada kisaran US$ 350,-. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya dukungan belanja rumah tangga baik sebagai produsen maupun sebagai konsumen mampu menunjang kelayakan bisnis perusahaan koperasi. Pada akhirnya penjumlahan keseluruhan transaksi para anggota harus menghasilkan suatu volume penjualan yang mampu mendapatkan penerimaan koperasi yang layak dimana hal ini ditentukan oleh rata-rata tingkat pendapatan atau skala kegiatan ekonomi anggota. Didaratan Eropa koperasi tumbuh melalui koperasi kredit dan koperasi konsumen yang kuat hingga disegani oleh berbagai kekuatan. Bahkan 2 (dua) bank terbesar di Eropa milik koperasi yakni "Credit Agricole" di Perancis, RABO-Bank di Netherlands Nurinchukin bank di Jepang dan lain-lain. Disamping itu hampir di setiap negara menunjukkan adanya koperasi kredit yang kuat seperti Credit Union di Amerika Utara dan lain-lain. Kredit sebagai kebutuhan universal bagi umat manusia terlepas dari kedudukannya sebagai produsen maupun konsumen dan penerima penghasilan tetap atau bukan adalah "potensial customer-member" dari koperasi kredit. Di manapun baik di negara berkembang maupun di negara maju kita selalu disuguhkan contoh koperasi yang berhasil, namun ada kesamaan universal yaitu koperasi peternak sapi perah dan koperasi produsen susu, selalu menjadi contoh sukses dimana-mana. Secara spesial terdapat contoh yang lain seperti produsen gandum di daratan Australia, produsen kedele di Amerika Utara dan Selatan hingga petani tebu di India yang menyamai kartel produsen. Keberhasilan universal koperasi produsen susu, baik besar maupun kecil, di negara maju dan berkembang nampaknya

terletak pada keserasian struktur pasar dengan kehadiran koperasi, dengan demikian koperasi terbukti merupakan kerjasama pasar yang tangguh untuk menghadapi ketidakadilan pasar. Corak ketergantungan yang tinggi kegiatan produksi yang teratur dan kontinyu menjadikan hubungan antara anggota dan koperasi sangat kukuh. Di negara berkembang, termasuk Indonesia, transparansi struktural tidak berjalan seperti yang dialami oleh negara industri di Barat, upah buruh di pedesaan secara rill telah naik ketika pengangguran meluas sehingga terjadi Lompatan ke sektor jasa terutama sektor usaha mikro dan informal (Oshima, 1982). Oleh karena itu kita memiliki kelompok penyedia jasa terutama disektor perdagangan seperti warung dan pedagang pasar yang jumlahnya mencapai lebih dari 6 juta unit dan setiap hari memerlukan barang dagangan. Potensi sektor ini cukup besar, tetapi belum ada referensi dari pengalaman dunia. Koperasi yang berhasil di bidang ritel di dunia adalah sistem pengadaan dan distribusi barang terutama di negara-negara berkembang user atau anggotanya adalah para pedagang kecil sehingga model ini harus dikembangkan sendiri oleh negara berkembang. Koperasi selain sebagai organisasi ekonomi juga merupakan organisasi pendidikan dan pada awalnya koperasi maju ditopang oleh tingkat pendidikan anggota yang memudahkan lahirnya kesadaran dan tanggung jawab bersama dalam sistem demokrasi dan tumbuhnya kontrol sosial yang menjadi syarat berlangsungnya pengawasan oleh anggota koperasi. Oleh karena itu kemajuan koperasi juga didasari oleh tingkat perkembangan pendidikan dari masyarakat dimana diperlukan koperasi. Pada saat ini masalah pendidikan bukan lagi hambatan karena rata-rata pendidikan penduduk dimana telah meningkat. Bahkan teknologi informasi telah turut mendidik masyarakat, meskipun juga ada dampak negatifnya.
1.3.5. Potret Koperasi Indonesia

Dukungan yang diperlukan bagi koperasi untuk menghadapi berbagai rasionalisasi adalah keberadaan lembaga jaminan kredit bagi koperasi dan usaha kecil di daerah. Dengan demikian kehadiran lembaga jaminan akan menjadi elemen terpenting untuk percepatan perkembangan koperasi di daerah. Lembaga jaminan kredit yang dapat dikembangkan Pemerintah Daerah dalam bentuk patungan dengan stockholder yang luas. Hal ini akan dapat mendesentralisasi pengem-

bangan ekonomi rakyat dan dalam jangka panjang akan menumbuhkan kemandirian daerah untuk mengarahkan aliran uang di masing-masing daerah. Dalam jangka menengah koperasi juga perlu memikirkan asuransi bagi para penabung. Potensi koperasi pada saat ini sudah mampu untuk memulai gerakan koperasi yang otonom, namun fokus bisnis koperasi harus diarahkan pada ciri universalitas kebutuhan yang tinggi seperti jasa keuangan, pelayanan infrastruktur serta pembelian bersama. Dengan otonomi selain peluang untuk memanfaatkan potensi setempat juga terdapat potensi benturan yang harus diselesaikan di tingkat daerah. Dalam hal ini konsolidasi potensi keuangan, pengembangan jaringan informasi serta pengembangan pusat inovasi dan teknologi merupakan kebutuhan pendukung untuk kuatnya kehadiran koperasi. Pemerintah di daerah dapat mendorong pengembangan lembaga penjamin kredit di daerah. Pemusatan koperasi di bidang jasa keuangan sangat tepat untuk dilakukan pada tingkat kabupaten/kota atau kabupaten dan kota agar menjaga arus dana menjadi lebih seimbang dan memperhatikan kepentingan daerah (masyarakat setempat). Fungsi pusat koperasi jasa keuangan ini selain menjaga likuiditas juga dapat memainkan peran pengawasan dan perbaikan manajemen hingga pengembangan sistem asuransi tabungan yang dapat diintegrasikan dalam sistem asuransi secara nasional.