Anda di halaman 1dari 14

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Air merupakan media bagi usaha budidaya ikan, maka pengelolaan air yang baik merupakan langkah awal dalam pencapaian keberhasilan budidaya ikan. Secara umum pengelolaan kualitas air dibagi dalam tiga bagian, yaitu secara biologi, kimia dan fisika. Dalam hal ini akan dibahas mengenai pengaruh kondisi air secara kimia, khususnya salinitas dalam suatu perairan (Gusrina, 2008). Salinitas adalah jumlah kandungan bahan padat dalam satu kilogram air laut, seluruh karbonat telah diubah menjadi oksida, brom dan yodium telah disetarakan dengan klor dan bahan organik telah dioksidasi. Secara langsung, salinitas media akan mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan. Apabila osmotik lingkungan berbeda jauh dengan tekanan osmotik cairan tubuh maka osmotik media akan menjadi beban bagi ikan sehingga dibutuhkan energi yang relatif besar untuk mempertahankan osmotik tubuhnya agar tetap berada pada keadaan yang ideal. Pembelanjaan energi untuk osmoregulasi, akan mempengaruhi tingkat konsumsi pakan dan konversi menjadi berat tubuh (Sharaf et al , 2004). Organisme akuatik mempunyai tekanan osmotik yang berbeda-beda dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis dalam tubuhnya berlangsung normal. Pengaturan osmotik cairan pada tubuh ikan dengan proses fisiologi berlangsung dengan baik disebut osmoregulasi (Villee et al , 2000). Osmoregulasi merupakan upaya hewan air untuk mengontrol keseimbangan air dan ion antara di dalam tubuh dan lingkungannya melalui mekanisme pengaturan tekanan osmosis. Untuk organisme akuatik, proses tersebut digunakan sebagai langkah untuk menyeimbangkan tekanan osmosis antara substansi dalam tubuhnya dengan lingkungan melalui sel yang permeabel. Dengan demikian, semakin jauh perbedaan tekanan osmotik antara tubuh dan lingkungan, semakin banyak energi metabolisme yang dibutuhkan untuk melakukan osmoregulasi sebagai upaya adaptasi, hingga batas toleransi yang dimilikinya. Pemahaman ini

sangat penting dalam mengelola kualitas air media pemeliharaan terutama salinitas (Villee et al, 2000). Dalam kondisi lingkungan buruk, ikan membutuhkan energi lebih dalam bentuk ATP yakni senyawa biokimia berenergi tinggi yang langsung dapat digunakan untuk energi sel. Ikan-ikan anadromous (berpindah dari laut ke sungai) atau sebaliknya meningkatkan sel klorid mereka ketika berada pada kondisi kritis saat terjadi guncangan salinitas. Sel klorid memiliki kemampuan lebih dalam transpor aktif ion-ion. Keberhasilan adaptasi salinitas ditunjukkan oleh kelangsungan hidup yang tinggi dan pertumbuhan yang normal (Sharaf et al , 2004). B. Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui atau mengamati respon ikan terhadap lingkungan hipoosmotik dan hiperosmotik.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistematika dan Morfologi Ikan Bawal (Colossoma macropomum)

Sistematika ikan bawal menurut Lingga dan Susanto, (2003) adalah sebagai berikut : kingdom filum kelas ordo famili genus spesies : Animalia : Chordata : Pisces : Cypriniformes : Characidae : Colossoma : Colossoma macropomum Ikan bawal memiliki kepala kecil dengan mulut terletak di ujung kepala, tetapi agak sedikit ke atas. Matanya kecil dengan lingkaran berbentuk seperti cincin. Rahangnya pendek dan kuat serta memiliki gigi seri yang tajam. Ikan bawal memiliki 5 buah sirip (pinnae), yaitu sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anal, dan sirip ekor. Sirip punggung tinggi kecil dengan sebuah jari-jari agak keras, tetapi tidak tajam, sedangkan jari-jari lainnya lemah. Berbeda dengan sirip punggung ikan bawal laut yang agak panjang, letak sirip ini pada ikan bawal air tawar agak ke belakang. Sirip dada, sirip perut, dan sirip anal kecil dan jari-jarinya lemah. Demikian pula dengan sirip ekor, jari-jarinya lemah, tetapi berbentuk cagak (Tatang, 1981). Bentuk tubuh ikan bawal air tawar agak bulat pipih. Dari arah samping tubuh ikan bawal tampak membulat (oval) dengan perbandingan antara panjang dan tinggi 2 : 1. Bila dipotong secara vertikal, ikan bawal memiliki bentuk tubuh pipih (compresed) dengan perbandingan antara tinggi dan lebar tubuh 4 : 1. Bentuk tubuh seperti ini menandakan gerakan ikan bawal tidak cepat seperti ikan lele atau grass carp, tetapi lambat seperti ikan gurame dan ikan tambakan (Masjid, 2009).

Sisiknya kecil berbentuk ctenoid, dimana setengah bagian sisik belakang menutupi sisik bagian depan. Warna tubuh bagian atas abu-abu gelap, sedangkan bagian bawah berwarna putih. Ukuran sisinya kecil-kecil. Bentuk kepalanya membulat dengan lubang hidung agak besar. Sirip dadanya terletak 6 bawah tutup insang. Sirip perut dan sirip analnya terpisah. Bagian ujung siripnya berwarna kuning sampai merah, punggungnya berwarna abu-abu tua, dan perutnya berwarna putih abu-abu dan merah (Masjid, 2009). B. Habitat Ikan bawal aslinya hidup di sungai, danau, dan lain dengan kedalaman sampai dengan 20 m. Hidupnya bergerombol di daerah yang aliran sungainya deras, tetapi ditemukan pula di daerah yang aliran sungainya tenang, terutama pada fase benih. Untuk menciptakan lingkungan yang baik bagi ikan bawal ada banyak hal yang harus diperhatikan, terutama dalam memilih lahan usaha, di antaranya ketinggian tempat, jenis tanah, dan air (Partical Fish Keeping, 2006). Daerah yang sesuai untuk mengusahakan pemeliharaan ikan ini yaitu daerah yang berada antara 150-600 meter di atas permukaan laut, pH perairan berkisar antara 6-9 dan suhu optimum 27-30 oC. Ikan bawal hidup di tempat-tempat yang dangkal dengan arus air yang tidak deras, baik di sungai danau maupun di genangan air lainnya (Kordi, 2005). C. Kebiasaan Makan Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan bawal tergolong omnivora. Meskipun tergolong omnivora, ternyata pada masa larva ikan bawal lebih bersifat karnivora. Jenis hewan yang paling disukai adalah crustacea, cladocera, copepoda, dan ostracoda. Pada umur dua hari setelah menetas, mulut larva mulai terbuka, tetapi belum bisa menerima makanan dari luar tubuh, makanannya masih dari cadangan kuning telurnya. Umur empat hari, kuning yang diserap oleh tubuh sudah habis dan pada saat itulah larva mulai mengonsumsi makanan dari luar. Apabila diamati kebiasaan makannya, ikan bawal tergolong ikan yang lebih suka makan di

bagian tengah perairan. Dengan kata lain, ikan bawal bukanlah ikan yang biasa makan di dasar perairan (bottom feeder) atau di permukaan perairan (surface feeder) (Anonim, 2011). D. Kualitas Air Ikan bawal dapat hidup dalam kisaran suhu yang luas, meskipun termasuk ikan yang hidup dengan suhu rendah yaitu 15-21 C tetapi ikan bawal juga membutuhkan suhu yang tinggi sekitar 27-30 C hal ini diperlukan saat ikan bawal akan memijah. Untuk memperoleh suhu inilah maka ketinggian air didalam tempat pemijahan diharapkan hingga 15-20 cm. (Partical Fish Keeping, 2006). Menurut Irianto (2005), nilai pH air yang optimum untuk pertumbuhan ikan bawal adalah 6-9. Pada kondisi pH rendah yang bersifat kronik, dapat terjadi gangguan kesehatan berupa terhambatnya pertumbuhan. Adapun pada kondisi pH rendah akut, ikan menjadi hiper aktif, nervous dan produksi mukus insang yang berlebihan dan pada akhirnya menyebabkan gangguan pernapasan. Oksigen yang diperlikan ikan untuk katabolisme yang menghasilkan energi bagi aktivitas seperti berenang, reproduksi, dan pertumbuhan. Kebutuhan oksigen untuk ikan bawal adalah 3 mg/L. Secara umum kriteria air yang baik untuk kelangsungan hidup ikan bawal salinitasnya tidak melebihi 5 ppt. Ababila kandungan garam pada suatu perairan melebihi batas tersebut, kelangsungan ikan patin menjadi terganggu, ikan akan mudah stres dan rentan pada penyakit yang akhirnya akan mengalami kematian (Kordi, 2005).
E. Sistem Osmoregulasi

Menurut Affandi (2001) osmoregulasi adalah proses untuk menjaga keseimbangan antara jumlah air dan zat terlarut yang ada dalam tubuh hewan. Hampir semua hewan akuatik, organ yang sering digunakan dalam pertukaran air dengan lingkungannya adalah insang, usus dan ginjal. Adapun organ-organ tubuh

yang berperan sebagai tempat berlangsungnya osmoregulasi adalah insang, saluran pencernaan, intergumen (kulit) dan organ ekskresi pada kelenjar anten. Untuk merespon adanya perubahan salinitas, biota dikelompokkan menjadi dua yaitu osmokonformer (biota secara osmotik tidak stabil karena tidak mempunyai kemampuan untuk mengatur osmolaritas cairan internalnya) dan osmoregulator (biota mempunyai mekanisme faali untuk menjaga kemantapan lingkungan internalnya dengan mengatur osmolaritas cairan internalnya) (Steffens, 2002) Mekanisme osmoregulasi dilakukan melalui aktivitas mempertahankan kemantapan osmolaritas cairan ekstrasel tanpa harus isoosmotik terhadap salinitas media dan menjaga kemantapan cairan intrasel agar tetap isoosmotik terhadap cairan ektraselnya. Mekanisme pengaturan osmose dalam tingkat sel ada tiga macam yaitu isoosmotik, hiperosmotik, dan hipoosmotik. Isoosmotik adalah tekanan di dalam sel sama dengan di luar sel, sel dalam keadaan seimbang. Hiperosmotik adalah tekanan osmose di dalam sel lebih besar daripada di luar sel lingkungan. Sedangkan hipoosmotik adalah tekanan osmose di dalam sel lebih kecil daripada di luar sel (Steffens, 2002).

III. METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat Praktikum Fisiologi Hewan Air ini dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2012 pukul 14.30 WIB sampai dengan selesai di Laboratorium Dasar Perikanan, Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Indralaya. B. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada tabel 4 yaitu sebagai berikut : Tabel 4. Alat yang digunakan untuk percobaan adalah sebagai berikut : No. 1. 2. Alat Akuarium Toples Spesifikasi 1 buah 6 buah Kegunaan Tempat ikan Tempat ikan

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada tabel 5 yaitu sebagai berikut : Tabel 5. Bahan yang digunakan saat praktikum adalah sebagai berikut : No. 1. 2. 3. Bahan Ikan Bawal Garam krosok Air Spesifikasi 7 ekor Secukupnya Secukupnya Kegunaan Objek Percobaan Penambah kadar garam Media tempat hidup

C. Cara Kerja Adapun cara kerja dari praktikum ini adalah sebagai beikut :
1. Bersihkan akuarium dan toples serta isi 6 buah toples tersebut dengan air

sebanyak 2 liter.

2. Timbang garam dengan menggunakan timbangan analitic untuk masing-

masing toples yaitu 5 ppt (10 gr), 10 ppt (20 gr), 15 ppt (30 gr), 20 ppt (40 gr), dan 25 ppt (50 gr).
3. Lalu masing-masing toples diberi garam hingga konsentrasinya mencapai 5

ppt, 10 ppt, 15 ppt, 20 ppt dan 25 ppt. Toples ke 6 diberi air dengan konsentrasi normal.
4. Masukan 1 ekor bawal pada masing-masing toples. Catat dan amati waktu

pertama kali ikan masukkan kedalam toples, amati dan catat tingkah laku ikan. Setiap 5 menit amati dan catat tingkah laku ikan.
5. Satu ekor ikan yang tersisa dalam akuarium, selanjutnya diberi perlakuan

penambahan garam pada media pemeliharaannya hingga kadar garamnya menjadi 10%, amati dan catat tingkah laku ikan, diamkan selama 30 menit. 6. Setelah 30 menit kedalam media pemeliharaan ditambahkan garam hingga kadar garam air media pemeliharaan menjadi 15%. Demikian seterusnya setiap 30 menit. 7. Amati dan catat perubahan yang terjadi pada insang dan produksi lendir ikan.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Adapun hasil yang diperoleh dari praktikum ini disajikan dalam tabel sebagai berikut : Tabel 6. Tingkah laku ikan terhadap lingkungan hipoosmotik dan hiperosmotik pada respon 5 menit pertama adalah sebagai berikut : Toples 5 ppt 10 ppt 15 ppt 20 ppt 25 ppt Lendir Ada Ada Ada Ada Ada Gerak Lambat, tidak agresif, diam Aktif Aktif Aktif Aktif Respon Operkulum Lambat Normal Normal Normal Normal Keterangan Hidup Hidup Hidup Hidup Hidup Pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan

Tabel 7. Tingkah laku ikan terhadap lingkungan hipoosmotik dan hiperosmotik pada respon 5 menit kedua adalah sebagai berikut : Toples 5 ppt 10 ppt 15 ppt 20 ppt 25 ppt Lendir Ada Ada Ada Ada Ada Gerak Lambat, tidak agresif, diam Aktif Aktif Aktif Aktif Respon Operkulum Lambat Normal Normal Normal Normal Keterangan Hidup Hidup Hidup Hidup Hidup Pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan

Tabel 8. Tingkah laku ikan terhadap lingkungan hipoosmotik dan hiperosmotik ikan diberi pakan adalah sebagai berikut : Toples 5 ppt 10 ppt 15 ppt 20 ppt 25 ppt Lendir Ada Ada Ada Ada Ada Gerak Lambat, tidak agresif, diam Aktif Aktif Aktif Diam Respon Operkulum Normal Normal Normal Normal Normal Keterangan Hidup Hidup Hidup Hidup Hidup Pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan

Tabel 9. Tingkah laku ikan terhadap lingkungan hipoosmotik dan hiperosmotik ikan dalam akuarium adalah sebagai berikut : Toples 5 ppt 10 ppt 15ppt 20 ppt 25 ppt Lendir Ada Ada Ada Ada Ada Gerak Aktif Aktif Aktif Stres Stres Respon Operkulum Normal Normal Normal Normal Normal Keterangan Hidup Hidup Hidup Hidup Hidup Pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan Tidak memakan pakan

B. Pembahasan Respon ikan terhadap lingkungan hipoosmotik dan hiperosmotik dilakukan dengan memberikan lima konsentrasi garam yang berbeda yaitu 5 ppt, 10 ppt, 15 ppt, 20 ppt dan 25 ppt. Setelah itu ikan diletakkan ke dalam toples yang berisi air 2 liter. Respon ikan dalam menghadapi lingkungan yang bersalinitas berbeda-beda. Ikan mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya. Ikan harus mencegah kelebihan atau kekurangan air. Hal inilah yang menyebabkan perbedaan adaptasi pada ikan bawal. Berdasarkan hasil praktikum kelompok kami bahwa

respon ikan bawal saat diberikan konsentrasi garam yang berbeda tetap aktif bergerak. Hal ini dikarenakan toleransi lingkungan ikan bawal yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Pada saat ikan diberikan pakan semua ikan bawal baik yang ada di toples maupun akuarium tidak ada yang mau makan (Kordi, 2005). Ikan bawal yang berada di akuarium diberi lima konsentrasi garam yang berbeda yaitu 5 ppt, 10 ppt, 15 ppt, 20 ppt dan 25 ppt secara bertahap mengalami tingkah laku yang berbeda. Pada saat konsentrasi garam 5 ppt, 10 ppt, 15 ppt respon ikan sama yaitu tetap aktif bergerak dan operculumnya normal. Namun pada saat konsentrasi ditingkatkan menjadi 20 ppt dan 25 ppt ikan mulai stress. Hal ini dikarenakan toleransi lingkungan ikan bawal yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Secara umum kriteria air yang baik untuk kelangsungan hidup ikan bawal salinitasnya tidak melebihi 5 ppt (Kordi, 2005). Menurut Affandi (2001) osmoregulasi adalah proses untuk menjaga keseimbangan antara jumlah air dan zat terlarut yang ada dalam tubuh hewan. Hampir semua hewan akuatik, organ yang sering digunakan dalam pertukaran air dengan lingkungannya adalah insang, usus dan ginjal. Adapun organ-organ tubuh yang berperan sebagai tempat berlangsungnya osmoregulasi adalah insang, saluran pencernaan, intergumen (kulit) dan organ ekskresi pada kelenjar antena (Kordi, 2005).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Perubahan salinitas dapat megakibatkan perubahan pada tingkah laku ikan. 2. Ikan akan merespon perubahan salinitas dengan ditandai pergerakan

operkulum yang semakin cepat.


3. Ikan memiliki batas toleransi tertentu terhadap salinitas. 4. Perubahan salinitas yang ekstrim dapat menyebabkan kematian pada ikan. 5. Perubahan salinitas akan berpengaruh terhadap sistem osmoregulasi pada

ikan. B. Saran Diharapkan pada praktikum selanjutnya praktikan lebih teliti lagi dalam mengamati perubahan-perubahan yang terjadi pada ikan sehingga data yang diperoleh lebih teliti lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Affandi. 2001. Fisiologi Hewan Air. Riau: Unri Press. Anonim, 2012. Kebisasaan Ikan Bawal (http://www.scribd.com/Artikel-MakanIkan- diakses tanggal 20 maret 2012). Djaridjah, Abbas Siregar. 2005. Budidaya Ikan Bawal. Yogyakarta : Kanisius. Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius (Anggota IKAPI). Yogyakarta. Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 1 untuk SMK /oleh Gusrina. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional. Kordi, M. Gufron. 2005. Budidaya Ikan Bawal. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara. Masjid, 2009. Bentuk Tubuh. (http://acehasokaya.blogspot.com/2009/07/anatomiikan.html) Diakses tanggal 24 April 2011, pukul 19.15 WIB. ParticalFishkeeping.2006.http://www.particalfishkeeping.co.uk/pfk/pages/em.php. news=547. accessed 13 maret 2011. Sharaf , S.M and El M arakby, H.I. 2004 . The Effect of Acclimatization of Freshwater Red Hybrid Tilapia in Marine Water. Pakistan Journal of Biological Sciences 7 (4): 628632, 2004. Steffens, W. 2002 . Principles of Fish Nutrition. John Wiley and Sons, New York. 384 p. Tatang, 1981. Bentuk Tubuh(http://aquaculture09.blogspot.com/2010/04/literaturikan-bawal hitamstromateus.html) Diakses tanggal 24 April 2011, pukul 19.15 WIB. Villee, C.A. dan Walker, W.F., 2000. Zoologi Umum, Terjemahan dari Zoology, oleh S. Nawangsari,Erlangga, Jakarta.

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AIR Respon Ikan terhadap Lingkungan Hipoosmotik dan Hiperosmotik

Oleh Kelompok V Menik Sri Rejeki Adrian Muhamad Reza Herna Nur Octaviana M. Arrasydin Lubis Yolanda Yusiana 05101005002 05101005011 05101005018 05111005002 05111005031

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA 2012