Anda di halaman 1dari 40

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Kognitif adalah kemampuan berpikir dan memberikan rasional, termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan. Kognitif memberikan peran penting dalam intilegensi seseorang, yang paling utama adalah mengingat, dimana proses tersebut melibatkan fungsi kerja otak untuk merekam dan memanggil ulang semua atau beberapa kejadian yang pernahh dialami. Kognisi meliputi kemampuan otak untuk memproses , mempertahankan , dan menggunakan informasi. Kemampuan kognitif ini penting pada kemapuan inidvidu dalam membuat keputusan, menyelesaikan

masalah,menginterpretasikan lingkungan dan mempelajari informasi yang baru, untuk memberikan nama pada beberapa hal. Gangguan kognitif merupakan gangguan atau kerusakan pada fungsi otak yang lebih tinggi dan dapat memeberikan efek yang merusak pada kemampuan individu untuk melakukan funsi sehari hari sehingga individu tersebut lupa nama anggota keluarga atau tidak mampu melakukan tugas rumah tangga harian atau melakukan hygiene personal (Caine & lyness,2000). Gangguan kognitif yang paling sering ditemui meliputi Demensia dan Delirium. Banyak orang mensalah artikan antara Demensia, Delirium dan Depresi. Juga tentang respon kognitif yang maladaptive pada seseorang. Hal ini merupaka tugas perawat sebagai tenaga professional yang mencakup bio-psiko-sosial yang memberikan asuhan keperawatan khususnya pada klien dengaan gangguan kognitif yang akan dibahas oleh kelompok kali ini. Delirium dan demensia merupakan kelainan yang sering ditemukan pada pasien pada semua usia, namun kelainan ini paling sering ditemukan pada pasien usia lanjut. Delirium adalah suatu keadaan kebingungan (confusion) mental yang dapat disertai fluktuasi kesadaran, kecemasan, halusinasi, ilusi, dan waham (delusi). Kelainan ini dapat menyertai infeksi, kelainan metabolik, dan kelainan medis atau neurologis lain atau berhubungan dengan penggunaan obat-obatan atau gejala putus obat. Demensia, sebaliknya, merupakan kondisi dimana memori dan fungsi kognitif lain terganggu sehingga kegiatan sosial normal atau pekerjaan menjadi terhambat. Sebagian besar demensia merupakan hasil dari penyakit degenerasi otak namun stroke dan infeksi juga dapat menimbulkan demensia.

1.2 Permasalahan

1.3 Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari Demensia dan Delirium? 2. Apa saja macam-macam dari Demensia dan Delirium? 3. Apa perbedaan dari Delirium dan Demensia? 4. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi dari gangguan kognitif delirium) ? 5. Bagaimana proses pembuatan Asuhan Keperawatan Jiwa pada pasien dengan Demensia dan Delirium? 1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, adalah: 1.3.1 Tujuan umum Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa pada semester 4. Dan diharapkan untuk dapat memahami tentang asuhan keperawatan jiwa khususnya pada klien dengan gangguan kognitif. 1.3.2 Tujuan khusus 1. Mahasiswa mampu memahami tentang Demensia dan Delirium 2. Mahasiswa mampu mengetahui tentang macam-macam dari Demensia dan Delirium 3. Mahasiswa mampu memahami tentang perbedaan dari Demensia dan Delirium 4. Mahasiswa mampu memahami faktor apa saja yang mempengaruhi dari gangguan kognitif (demensia dan delirium) 5. Mahasiswa mampu membuat Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Demensia dan Delirium (demensia dan

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 DELIRIUM 2.1.1 Definisi Delirium


Delirium adalah suatu sindrom yang mencakup gangguan kesadaran yang disertai dengan perubahan kognisi. Delirium biasanya terjadi dalam waktu singkat, kadang kadang tidak lebih dari beberapa jam, dan berfluktuasi atau berubah sepanjang hari. Klien sulit memberikan perhatian, mudah terdistraksi, disorientasi, dan dapat mengalami gangguan sensori seperti ilusi, salah interpretasi atau halusinasi. Suara keras dari kereta cucian di lorong dapat disalahartikan sebagai suara tembak (salah interpretasi), kabel listrik yang terletak di lantai dapat terlihat seperti ular (ilusi) atau individu dapat melihat malaikat melayang layang di udara ketika tidak ada sesuatu di sana ( halusinasi ). Kadang kadang individu juga mengalamai gangguan siklus tidur-bangun, perubahan aktivitas psikomotor dan gangguan emosionalseperti ansietas, takut,iritabilitas, euforia, atau apati (DSM-IV-TR,2000). Kira-kira 10% sampai 15% individu yang berada di rumah sakit karena kondisi medis umum mengalami delirium pada waktu tertentu. Delirium biasa terjadi pada klien lansia yang sakit akut. Kira kira 30% sampai 50% klien geriatri yang sakit akut menjadi delirium pada suatu waktu selama dirawat di rumah sakit. Faktor resiko untuk perkembangan delirium mencakup peningkatan keparahan penyakit fisik, usia tua, dan kerusakan kognitif dasar (misalnya, seperti yang terlihat pada demensia; Caine & Lyness, 2000). Anak- anak dapat lebih rentan terhadap delirium, terutama ketika hal tersebut berkaitan dengan penyakit xemam atau obat tertentu, seperti antikolinergik (DSM-IV-TR,2000). 2.1.2 Manifestasi klinis Delirium

Delirium dapat diawali dengan berbagai gejala, dan kasus yang ringan mungkin sulit untuk dikenali. Tingkah laku seseorang yang mengalami delirium bervariasi, tetapi kira-kira sama seperti orang yang sedang mengalami mabuk berat. Ciri utama dari delirium adalah tidak mampu memusatkan perhatian. Penderita tidak dapat berkonsentrasi, sehingga mereka memiliki kesulitan dalam
3

mengolah informasi yang baru dan tidak dapat mengingat peristiwa yang baru saja terjadi. Hampir semua penderita mengalami disorientasi waktu dan bingung dengan tempat dimana mereka berada. Fikiran mereka kacau, mengigau dan terjadi inkoherensia. Pada kasus yang berat, penderita tidak mengetahui diri mereka sendiri. Beberapa penderita mengalami paranoia dan delusi (percaya bahwa sedang terjadi hal-hal yang aneh). Respon penderita terhadap kesulitan yang dihadapinya berbedabeda; ada yang sangat tenang dan menarik diri, sedangkan yang lainnya menjadi hiperaktif dan mencoba melawan halusinasi maupun delusi yang dialaminya. Jika penyebabnya adalah obat-obatan, maka sering terjadi perubahan perilaku. Ker acunan obat tidur menyebabkan penderita sangat pendiam dan menarik diri, sedangkan keracunan amfetamin menyebabkan penderita menjadi agresif dan hiperaktif. Delirium bisa berlangsung selama berjam-jam, berhari-hari atau bahkan lebih lama lagi, tergantung kepada beratnya gejala dan lingkungan medis penderita. Delirium sering bertambah parah pada malam hari (suatu fenomena yang dikenal sebagai matahari terbenam). Pada akhirnya, penderita akan tidur gelisah dan bisa berkembang menjadi koma (tergantung kepada penyebabnya).

Delirium ditandai oleh kesulitan dalam:


Konsentrasi dan memfokus Mempertahankan dan mengalihkan daya perhatian Kesadaran naik-turun Disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang Halusinasi biasanya visual, kemudian yang lain Bingung menghadapi tugas se-hari-hari Perubahan kepribadian dan afek Pikiran menjadi kacau Bicara ngawur Disartria dan bicara cepat Neologisma Inkoheren

Selain itu dapat dikenali dari gejala umum delirum antara lain : 1. Sulit memberikan perhatian 2. Mudah terdistraksi 3. Disorientasi 4. Dapat mengalami gangguan sensori seperti ilusi, salah interpretasi, atau halusinanasi 5. Dapat mengalami gangguan siklus tidur bangun 6. Perubahan aktivitas psikomotor 7. Dapat mengalami ansietas, takut, iritabilitas, euforia atau apati 2.1.3 Proses klinis Delirium

1. Biasanya delirium mempunyai kemunculan tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari). Perjalanan penyakitnya singkat dan berfluktuasi. Perbaikan cepat terjadi apabila faktor penyebabnya telah dapat diketahui dan dihilangkan. 2. Walaupun delirium biasanya terjadi mendadak, gejala-gejala prodromal mungkin telah terjadi beberapa hari sebelumnya. Gejala delirium biasanya berlangsung selama penyebabnya masih ada namun tidak lebih dari 1 minggu.

2.1.2 Etiologi Delirium Delirium hampir selalu diakibatkan oleh gangguan atau penyakit

fisiologis,metabolik, atau serebral yang dapat diidentifikasi, intoksikasi obat , atau putus obat. Penyebab delirium yang paling umum adalah : 1. Fisiologis Hipoksemia , gangguan elektrolit, gagal ginjal atau hati, hipoglikemia atau

hiperglikemia, dehidrasi, deprivasi tidur, gangguan tiroid, atau glukokkortikoid,

defisiensi tiamin atau vitamin B12,vitamin C, niasin, atau defisiensi protein, syok

kardiovaskuler, tumor ptak, cedera kepala dan pajanan terhadap bensin, pelarut cat, insektisida, dan zat terkait. 2. Infeksi Sistemik : sepsis ,infeksi saluran kemih, pneumonia

Serebral : meningitis,ensefalitis, HIV, sifilis 3. Terkait obat Intoksikasi : antikolergenik,litium, alkohol , sedatif,dan hipnotik Putus obat : alkohol,sedatif, dan hipnotik Reaksi terhadap anestesi,obat yang

diresepkan atau obat terlarang

Delirium sering kali diakibatkan oleh penyakit multiple yang memerlukan pemeriksaan fisik yang cermat dan menyeluruh serta pemeriksaan laboratorium untuk menentukan penyebab yang tepat.

2.1.3 Faktor predisposisi Faktor predisposisi gangguan otak organic: seperti demensia, stroke penyakit Parkinson, umur lanjut, gangguan sensorik dan gangguan multiple. 2.1.4 Faktor prepisipitasi Termasuk penggunaan obat baru lebih dari 3 macam, infeksi, dehidrasi, imobilisasi, malagizi, dan pemakaian kateter.penggunaan anastesi juga meningkatkan resiko delirium, terutama pada pembedahan yang lama. Demikian juga pada pasien lanjut usia. Faktor presipitasi termasuk penggunaan obat baru lebih dari 3 macam, infeksi, dehidrasi, imobilisasi, malagizi, dan pemakaian kateter buli-buli. Penggunaan anesthesia juga meningkatkan resiko delirium , terutama pada pembedahan yang lama. Demikian pula pasien lanjut usia yang dirawat di bagian ICU beresiko lebih tinggi. 2.1.5 Prognosis dan penatalaksanaan delirium Terapi untuk delirium adalah mengidentifikasi dan mengatasi setiap kondisi medis penyebab atau yang berperan. Delirium hampir selalu merupakan kondisi sementara yang sembuh apabila penyebab yang mendasarinya berhasil diatasi. Akan tetapi, beberapa penyebab delirium, seperti cedera kepala atau ensefalitis, dapat menyebabkan klien
6

mengalami gangguan kognitif, perilaku, atau emoisonal, bahkan setelah penyebab yang mendasarinya diatasi. a. Psikofarmakologi Klien yang mengalami delirium hipoaktif dan tenang tidak mememrlukan terapi farmakologis yang spesifik kecuali yang didindikasikan untuk kondisi kausatif. Akan tetapi, banyak klien delirium menunjukkan agitasi psikomotor intermitten atau persisten yang dapat mengganggu terapi yang efektif atau menimbulkan risiko terhadap keamanan klien. Sedasi untuk mencegah cedera-diri akibat kurang hati-hati dapat diindikasikan. Antipsikotik seperti haloperiol ( haldol) dapat digunakan dalam dosis 0,5 sampai 1 mg untuk mengurangi agitasi. Sedatif dan bemzodiazepin dihindari karena obat-obatan tersebut dapat memperburuk delirium (Caine & Lyness, 2000). Klien dengan gangguan fungsi hati atau ginjal dapat mengalami kesulitan metabolisme atau mengekskresikan sedatif. Pengecualiannya adalah delirium akibat putus alkohol, yang biasanya diobati dengan benzodiazepin. b. Terapi medis lain Ketika penyebab yang mendasari deirium diatasi, klien juga dapat memerlukan tindakan fisik pendukung lain. Asupan makanan dan cairan yang adekuat dan bergizi akan mempercepat penyembuhan. Cairan intervena atau bahkan nutrisi parenteral total mungkin diperlukan jika kondisi fisik klien memburuk dan klien tidak dapat makan dan minum. Jika klien menjadi agitasi dan mengancam akan mencabut slang intravena atau kateter,restrein fisik mungkin diperlukan sehingga terapi medis yang dibutuhkan dapat berlanjut. Restrein digunakan hanya jika diperlukan dan tetap terpasang tidak lebih dari waktu yang diperlukan karena restrein dapat meningkatkan agitasi klien.

2.2 DEMENSIA 2.2.1 Definisi Demensia


Demensia merupakan gangguan jiwa yang meliputi defisit kognitif multipel, kerusakan memori utama dan minimal salah satu gangguan kognitif berikut : afasia

(deteriosasi fungsi bahasa) , apraksia (gangguan kemampuan untuk melakukan fungsi motorik walaupun kemampuan motorik utuh), agnosia (ketidakmampuan untuk mengenali atau menyebutkan nama benda walaupun kemampuan sensori utuh) atau gangguan fungsi eksekutif ( kemampuan untuk berpikir abstrak dan merencanakan, memulai, mengurutkan, memantau, dan menghentikan perilaku yang kompleks; DSR-IV-TR,2000). Defisit kognitif ini harus cukup parah untuk mengakibatkan gangguan fungsi sosial atau okupasional dan harus menunjukkan suatu penurunan dari tingkat fungsi individu sebelumnya. Demensia harus dibedakan dari delirium; apabila dua diagnosis muncul secara bersamaan , gejala demensia tetap ada walaupun delirium telah sembuh. Kerusakan memori merupakan tanda awal demensia yang mencolok. Klien mengalami kesulitan mempelajari hal-hal baru dan melupakan hal-hal yang telah dipelajari. Pada awalnya, memori yang baru mengalami kerusakan, seperti lupa dimana meletakkan benda tertentu atau lupa sedang memasak makanan di kompor. Pada tahap demensia selanjutnya, memori masa lalu berpengaruh; klien melupakan nama anak-anaknya yang telah dewasa, pekerjaan sepanjang hidupnya, atau bahkan namanya sendiri. Afasia biasanya dimulai dengan ketidakmampuan untuk menyebutkan nama benda atau orang yang telah dikenal, kemudian berkembang menjadi bicara yang tidak jelas atau kosong, dengan penggunaan istilah yang berlebihan seperti ini atau sesuatu. Klien dapat menunjukkan ekolalia (mengulang kata kata yang di dengar) atau palilalia ( mengulangi kata atau suara terus menerus) (DSM IV-TR,2000). Apraksia dapat meneyebabkan klien kehilangan kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri yang rutin seperti berpakaian atau memasak. Agnosia membuat klien frustasi : klien dapat melihat meja dan kursi, tetapi tidak mampu menyebutkan nama kedua benda tersebut. Gangguan fungsi eksekutif terlihat ketika klien kehilangan kemampuan untuk memmpelajari hal-hal baru, 8

menyelesaikan masalah , atau melakukan aktivitas sehari-hari seperti merencanakanatau membuat anggaran untuk makan. Klien demensia juga dapat meremehkan risiko yang berkaitan dengann aktivitasatau menganggap lebih kemampuannya dalam melaksanakan fungsi pada situasi tertentu. Misalnya , klien dapat menyalip ketika mengemudi , menabrak mobil yang parkir atau gagal memperlambat kecepatan mobil ketika ia harus melakukannya. 2.2.2 Manifestasi kinis Demensia

a. Afasia

: kehilangan kemampuan berbahasa; kemampuan berbicara meburuk dank lien sulit menemukan kata kata.

b. Apraksia

: rusaknya motorik

kemampuan sekalipun

melakukan

aktivitas tidak

fungsi

sensoriknya

mengalami kerusakan. c. Agnosia : kegagalan mengenali atau mengidentifikasikan objek atau benda umum walaupun fungsi

sensoriknya tidak mengalami kerusakan. d. Konfabulasi : mengisi celah celah ingatannya dengan fantasi yang diyakini oleh individu yang terkena. e. Sundown syndrome f. Reaksi katastrofik : memburuknya disorientasi di malam hari. : respons takut atau panic dengan potensi kuat menyakiti diri sendiri atau orang lain. g. Perseveration phenomenon : perilaku berulang, meliputi mengulangi kata kata orang lain. h. Hiperoralitas : kebutuhan untuk mencicipi dan mengunyah benda benda yang cukup kecil untuk dimasukkan ke mulut.

i. Kehilangan memori

: awalnya hanya kehilangan memori tentang hal hal yang baru terjadi, dan akhirnya gangguan ingatan masa lalu.

j. Disorientasi waktu, tempat, dan orang. k. Berkurangnya kemampuan berkonsentrasi atau mempelajari materi baru. l. Sulit mengambil keputusan m. Penilaian buruk : individu ini mungkin tidak mempunyai

kewaspadaan lingkungan tentang keamanan dan keselamatan Gambaran perbandingan Delirium dengan Demensia : Gambaran Riwayat Awal Sebab Delirium Penyakit akut Cepat Terdapat (infeksi, guna/putus obat Lamanya Perjalanan sakit Taraf Kesadaran Orientasi Afek Alam pikiran Bahasa Berhari-hari /-minggu Naik turun Naik turun Terganggu, periodic Cemas dan iritabel Sering terganggu Lamban, inadekuat penyakit Demensia Penyakit kronik Lambat laun lain Biasanya penyakit (spt otak

dehidrasi, kronik

Alzheimer,

demensia vaskuler) Berbulan-bulan/-tahun Kronik progesif Normal Infak pada awalnya Labil tapi tak cemas Turun jumlahnya inkoheran, Sulit menemukan istilah tepat

10

Daya ingat

Jangka nyata

pendek

terganggu Jangka pendek & panjang terganggu Halusinasi sundowning jarang kecuali

Persepsi

Halusinasi (visual)

Psikomotor Tidur

Retardasi, agitasi, campuran Terganggu siklusnya

Normal Sedikit tidurnya terganggu siklus

Atensi dan kesadaran Reversibilitas Penanganan

Amat terganggu Sering reversible Segera

Sedikit terganggu Umumnya tak reversible Perlu tapi tak segera

2.2.3 Awitan dan proses klinis Demensia Ketika tidak ada penyebab yang mendasar yang dapat ditangani, proses demensia biasanya progresif. Demensia sering digambarkan dalam tahap-tahap : 1. Ringan Pelupa merupakan tanda awal demensia ringan. Pelupa dalam hal ini melebihi kesulitan dalam menemukan kata-kata , sering kehilangan barang, dan mulai mengalami ansietas karena kehilangan barang tersebut. Lingkungan pekerjaan dan sosial kurang dinikmati oleh individu tersebu mungkin menghindarinya. Kebanyakan individu tetap berada di masyarakat selama tahap ini. 2. Sedang Kebingungan muncul bersamaan dengan kehilangan memori progresif. Individu tidak dapat lagi melakukan tugas yang kompleks , tetapi tetap terorientasi terhadap orang dan tempat. Orang yang dikenal masih tetap dikenali. Pada akhir tahap ini, individu tidak mampu hidup mandiri dan membutuhkan bantuan akibat disorientasi terhadap waktu dan kehilangan informasi seperti alamat dan nomor teleponnya. Individu dapat tetap berada di 11

masyarakat apabila ada dukungan pemberi perawatan yang adekuat , tetapi beberapa individu akan pindah ke situasi kehidupan yang diawasi. 3. Berat Perubahan kepribadian dan emosional terjadi. Indiviud dapat mengalami waham, berkeluyuran di malam hari, melupakan nama pasangan dan anak-anaknya, dan memerlukan bantuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (Ribby & Cox, 1996 ) . Kebanyakan individu tinggal di fasilitas perawatan ketika mencapai tahap ini kecuali jika tersedia dukungan yang sangat besar di masyarakat.

2.2.4 Etiologi Demensia a. Penyakit Alzheimer, penyakit ini disebabkan oleh atrofi difus dengan pendataran sulkus kortikal dan pembesaran vertikel serebral. Pada temuan mikroskopik klasik dan patognomonik terdapat bercak bercak senilis, kekusutan neurofibriler, hilangnya neuronal dan degenerasi granulovascular pada neuron. Kekusutan neurofibriler bercampur dengan elemen sitoskeletal terutama protein tau berfosforilasi. Kekacauan neurofibriler biasanya ditemukan di korteks, hipocampus, substantia nira, dan locus sereleus. Pada penyakit Alzheimer juga terjadi kelainan neurotransmiter, yaitu terjadi degenerasi spesifik pada neuron kolinergik ditemukan pada nukleus basalis Meynerti dan terjadi penurunan konsentrasi asetilkolin dan kolin asetil trensferase di dalam otak. Karena terlalu banyak antagonis kolinergik, yaitu scopilamine dan atropine, dapat mengganggu kemampuan kognitif. b. Penyakit vascular, seperti hipertensi, arteriosclerosis, dan aterosklerosis dapat menyebabkan stroke. Gangguan terjadi pada pembuluh darah serebral kecil dan sedang yang mengalami infark dan mengalami lesi parenkim multiple yang menyebar pada daerah otak yang luas. Peyebab infark termasuk oklusi pembuluh

12

darah oleh plak arteriosklerotik atau trombo emboli, seperi berasal dari katup jantung. c. Penyakit Parkinson, demensia menyerang 40 % dari pasien pasien ini. Pada penyakit ini terjadi gangguan otak progresif yang ditandai oleh degenarasi neuron neuron penghasil dopamin yang terletak dalam di hemisfer serebrum di bagian ganglion basal. Tanpa dopamin, korteks serebrum, ganglion basal dan thalamus akan mengalami perangsangan yang berlebihan oleh asetilkolin dan

menimbulkan tonus otot berlebihan, yang ditandai adanya tremor dan rigiditas. Tonus tonus otot wajah ang terfiksasi memperlihatkan tidak adanya responsivitas emosi. Jika penyakit ini tidak segera ditangani, maka dapat mengalami gangguan kognitif atau emosi. d. Gangguan genetika, penyakit korea ( Huntington ). Penyakit ini merupakan penyakit degenerasi ganglion basal dan korteks serebrum. Penyakit ini diturunkan melalui gen sebagai suatu kelainan dominant-otosom yang tampaknya disebabkan oleh ekspansi suatu kodon berulang yang terletak di kromosom 4. Pada degenerasi ganglion basal dan korteks serebrum beberapa neurotransmitter lenyap, antara lain inhibitorik asam gama-aminobutirat ( GABA ), sehingga terjadi kelainan pembentukan energi oleh mitokondria neuron. Gerakan gerakan abnormal dapat terjadi di seluruh tubuh dan menyebabkan kelelahan fisik. Pasien akhirnya mengalami progresif fungsi mental yang akhirnya menyebabkan demensia, biasanya pada tipe demensia subkortikal, yang ditandai oleh kelainan motorik yang lebih banyak dan kelainan bicara yang lebih sedikit dibandingkan tipe demensia kortikal. e. Penyakit Prion ( protein yang terdapat dalam proses infeksi penyakit Creutzfeldt-Jakob )

13

f. Penyakit Pick. Penyakit ini diakibatkan oleh atrofi yang lebih banyak di daerah fronto temporal, sehingga penderita mengalami gangguan intelektual,fisik, dan kemampuan menginterpretasikan pengalaman visual dan auditori. g. Penyakit huntingon. Merupakan penyakit gen dominan yang diturunkan yang terutama mencakup atrofi serebral, demielinasi, dan pembesaran vetrikel otak. Pada awalnya,terdapat gerakan menyerupai korea yang terus menerus selama waktu bangun dan mencakup wajah meringis, gerakan melingkar,berputar,dan gerakan lidah. Perubahan kepribadian merupakan manifestasi psikososial awal, yang diikuti dengan kehilangan memori, penurunan fungsi intelektual, dan tanda demensia lainnya. Penyakit ini dimulai pada akhir usia 30-an atau awal usia 40an dan dapat berlangsung selama 10-20 tahun atau lebih sebelum meninggal. h. Penyakit Creutzfeld-jakob. Merupakan gangguan sistem saraf pusat yag biasa terjadi pada orang dewasa yang berusia 40 sampai 60 tahun dan mencakup perubahan penglihatan, kehilangan koordinasi atau gerakan yang abnormal dan demensia yang biasanya berkembang secara cepat selama beberapa bulan proses penyakit. Ensefalopati disebabkan oleh partikel infeksius yang resisten terhadap perebusan, beberapa desinfektan (seperti formalin dan alkohol), dan radiasi ultraviolet, tetap partikel tersebut dapat diinaktivasikan melalui pengguanaan autoklaf bertekanan atau sterilisasi dengan pemutih. i. Infeksi HIV dapat menyerang system saraf pusat, menyebabkan enselofati HIV atau kompleks demensia AIDS j. Gangguan struktur jaringan otak, seperti tekanan normal hidrosefalus dan cedera akibat trauma kepala. Derajat dan jenis kerusakan kognitif dan gangguan perilaku bergantung pada lokasi dan luas cedera otak, ketika demensia terjadi dalam korteks cedera tunggal,demensia ini biasanya stabil bukan progresif. Akan

14

tetapi cedera kepala yang berulang (misalnya akibat bertinju) dapat menimbulkan demensia progresif. Kira-kira 5 juta orang di amaerika serikat mengalami demensia sedang sampai berat dari berbagai penyebab (Alzheimers Association, 1999). Prelevansi demensia meningkat sejalan dengan usia. Perkiraan prebalensi demensia sedang sampai berat pada individu yang berusia lebih dari 65 tahun sekitar 5%. Demensia jenis alzheimer meruakan jenis demensia yang paling banyak terjadi di amerika utara, skandinavia, dan eropa sedangkan demensia vaskular lebih sering terjadi di rusia dan jepang. Demensia jenis alzheimer lebih banyak terjadi pada wanita; demensia vaskular lebih banyak terjadi pada pria. 2.2.5 Prognosis dan Penatalaksanaan Demensia Ketika memungkinkan, penyebab demensia yang mendasar diidentifikasi sehingga terapi dapat dilakukan. Misalnya, perkembangan demensia vaskular,jenis demensia yang paling sering terjadi dapat dihentikan dengan terapi yang tepat pada kondisi vaskular mendasar (misalnya, perubahan diet, plahraga, kontrol hipertensi atau diabetes). Perbaikan aliran darah serebral dapat menghentikan perkembangan demensia vaskuler pada beberapa individu (Caine & Lyness,2000). Prognosis untuk jenis demensia progresif dapat bervariasi, seperti yang dijelaskan diatas, tetapi semuanya mencakup deteriorasi progresif kemampuan fisik dan mental seseorang sampai meninggal. Pada tahap akhir, klien biasanya memiliki fungsi kognitif dan motorik minimal, secara total bergantung pada pemberi perawatan harian dan tidak menyadari lingkungan sekitarnya atau orang-orang di lingkungan tersebut. Klien tidak dapat berkomunikasi secara total atau membuat suara suara atau berusaha mengungkapkan hal hal yang tidak dapat dimengerti.

15

PSIKOFARMAKOLOGI Untuk demensia degeneratif, tidak ada terapi langsung yang ditemukan untuk mengembalikan taua memperlambat proses patofisiologi dasar (Caine & Ilness,2000). Kadar beberapa neurotransmitter, seperti asetilkolin, dopamin, norepinefrin, dan serotonin menurun pada demensia. Hal ini menyebabkan upaya terapi penggantian dengan prekursor asetilkolin, agonis kolinergik dan inhibitor kolinesterase. Takrin (Cognex), suatu agonis kolinergik, dan donepezil (aricept), suatu inhibitor kolinesterase, menunjukkan efek terapeutik sedang, yang memperlambat perkembangan demensia untuk satu periode waktu. Akan tetapi, keseluruhan proses penyakit tetap tidak terpengaruh. Takrin memnyebabkan peningkatan enzim hati pada sekitar 505 klien yang menggunakan obat ini; oleh karena itu,fungsi hati dikaji setiap 2 sampai 2 minggu. Klien demensia menunjukkan rentang luas perilaku yang dapat diobati secara simptomatik. Dosis obat adalah satu setengan sampai dua pertiga lebih rendah dari yang biasanya diresepkan (Caine & Lyness, 2000). Antidepresan efektif untuk geja depresif yang signifikan. Antipsikotik seperti haloperidol (Haldol) dapat digunakan untuk mengatasi gejala psikotik waham,halusinasi atau paranoia. NAMA RENTANG DOSIS DAN CARA PEMBERIAN 1. Takrin (Cognex) PERTIMBANGAN KHUSUS

40-160mg per oral setiap hari -pantau enzim hati untuk yang dibagi atas 4 dosis mengetahui adanya efek hepatotoksik -dapat menyebabkan gangguan GI,gejala seperti flu.

16

2. Donepezil (Aricept)

5-10mg per oral setiap hari

-pantau adanya mual,diare,insomnia -lakukan pemeriksaan feses secara periodik untuk mengetahui adanya pendarahan pada GI

2.2.6 Pencegahan Demensia Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak, seperti: 1. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat

adiktif yang berlebihan 2. hari. 3.


o o

Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap

Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama. Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang memiliki

persamaan minat atau hobi 4. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan

sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.

17

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Asuhan Keperawatan Delirium 3.1.1 Pengkajian 1. Identitas Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa/latar belakang kebudayaan, status sipil, pendidikan, pekerjaan dan alamat. 2. Keluhan utama 3. Keluhan utama atau sebab utama yang menyebbkan klien datang berobat (menurut klien dan atau keluarga). Gejala utama adalah kesadaran menurun. 4. Faktor predisposisi 5. Menemukan gangguan jiwa yang ada sebagai dasar pembuatan diagnosis serta menentukan tingkat gangguan serta menggambarkan struktur kepribadian yang mungkin dapat menerangkan riwayat dan perkembangan gangguan jiwa yang terdapat. Dari gejala-gejala psikiatrik tidak dapat diketahui etiologi penyakit badaniah itu, tetapi perlu dilakukan pemeriksaan intern dan nerologik yang teliti. Gejala tersebut lebih ditentukan oleh keadaan jiwa premorbidnya, mekanisme pembelaaan psikologiknya, keadaan psikososial, sifat bantuan dari keluarga, teman dan petugas kesehatan, struktur sosial serta ciri-ciri kebudayaan sekelilingnya. Gangguan jiwa yang psikotik atau nonpsikotik yang disebabkan oleh gangguan jaringan fungsi otak. Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengenai otak (meningoensephalitis, gangguan pembuluh darah ootak, tumur otak dan sebagainya) atau yang terutama di luar otak atau tengkorak (tifus, endometriasis, payah jantung, toxemia kehamilan, intoksikasi dan sebagainya). 6. Pemeriksaan fisik Kesadran yang menurun dan sesudahnya terdapat amnesia. Tensi menurun, takikardia, febris, BB menurun karena nafsu makan yang menurun dan tidak mau makan. 7. Psikososial a. Genogram Dari hasil penelitian ditemukan kembar monozigot memberi pengaruh lebih tinggi dari kembar dizigot . b. Konsep diri

18

ganbaran diri, tressor yang menyebabkan berubahnya gambaran diri karena proses patologik penyakit. Identitas, bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan individu. Peran, transisi peran dapat dari sehat ke sakit, ketidak sesuaian antara satu peran dengan peran yang lain dan peran yang ragu diman aindividu tidak tahun dengan jelas perannya, serta peran berlebihan sementara tidak mempunyai kemmapuan dan sumber yang cukup.

Ideal diri, keinginann yang tidak sesuai dengan kenyataan dan kemampuan yang ada. Harga diri, tidakmampuan dalam mencapai tujuan sehingga klien merasa harga dirinya rendah karena kegagalannya.

c. Hubungan sosial Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang disingkirkan atau kesepian, yang selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul akibat berat seperti delusi dan halusinasi. Konsep diri dibentuk oleh pola hubungan sosial khususnya dengan orang yang penting dalam kehidupan individu. Jika hubungan ini tidak sehat maka individu dalam kekosongan internal. Perkembangan hubungan sosial yang tidak adeguat menyebabkan kegagalan individu untuk belajar mempertahankan komunikasi dengan orang lain, akibatnya klien cenderung memisahkan diri dari orang lain dan hanya terlibat dengan pikirannya sendiri yang tidak memerlukan kontrol orang lain. Keadaa ini menimbulkan kesepian, isolasi sosial, hubungan dangkal dan tergantung. d. Spiritual Keyakina klien terhadapa agama dan keyakinannya masih kuat.a tetapi tidak atau kurang mampu dalam melaksnakan ibadatnmya sesuai dengan agama dan kepercayaannya. 8. Status mental a. Penampila klien tidak rapi dan tidak mampu utnuk merawat dirinya sendiri. b. Pembicaraan keras, cepat dan inkoheren. c. Aktivitas motorik, Perubahan motorik dapat dinmanifestasikan adanya peningkatan kegiatan motorik, gelisah, impulsif, manerisme, otomatis, steriotipi. d. Alam perasaan

19

Klien nampak ketakutan dan putus asa.

e. Afek dan emosi. Perubahan afek terjadi karena klien berusaha membuat jarak dengan perasaan tertentu karena jika langsung mengalami perasaa tersebut dapat menimbulkan ansietas. Keadaan ini menimbulkan perubahan afek yang digunakan klien untukj melindungi dirinya, karena afek yang telah berubahn memampukan kien mengingkari dampak emosional yang menyakitkan dari lingkungan eksternal. Respon emosional klien mungkin tampak bizar dan tidak sesuai karena datang dari kerangka pikir yang telah berubah. Perubahan afek adalah tumpul, datar, tidak sesuai, berlebihan dan ambivalen. f. Interaksi selama wawancara Sikap klien terhadap pemeriksa kurawng kooperatif, kontak mata kurang. g. Persepsi Persepsi melibatkan proses berpikir dan pemahaman emosional terhadap suatu obyek. Perubahan persepsi dapat terjadi pada satu atau kebiuh panca indera yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan. Perubahan persepsi dapat ringan, sedang dan berat atau berkepanjangan. Perubahan persepsi yang paling sering ditemukan adalah halusinasi. h. Proses berpikir Klien yang terganggu pikirannya sukar berperilaku kohern, tindakannya cenderung berdasarkan penilaian pribadi klien terhadap realitas yang tidak sesuai dengan penilaian yang umum diterima. Penilaian realitas secara pribadi oleh klien merupakan penilaian subyektif yang dikaitkan dengan orang, benda atau kejadian yang tidak logis.(Pemikiran autistik). Klien tidak menelaah ulang kebenaran realitas. Pemikiran autistik dasar perubahan proses pikir yang dapat dimanifestasikan dengan pemikian primitf, hilangnya asosiasi, pemikiran magis, delusi (waham), perubahan linguistik (memperlihatkan gangguan pola pikir abstrak sehingga tampak klien regresi dan pola pikir yang sempit misalnya ekholali, clang asosiasi dan neologisme. i. Tingkat kesadaran Kesadran yang menurun, bingung. Disorientasi waktu, tempat dan orang.
20

j. Memori Gangguan daya ingat yang baru saja terjadi )kejadian pada beberapa jam atau hari yang lampau) dan yang sudah lama berselang terjadi (kejadian beberapa tahun yang lalu). k. Tingkat konsentrasi Klien tidak mampu berkonsentrasi l. Kemampuan penilaian Gangguan ringan dalam penilaian atau keputusan. POHON MASALAH

DISFUNGSIONAL ORGAN OTAK

21

3.1.2 Diagnosa Keperawatan a. Risiko terhadap penyiksaan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan berespon pada pikiran delusi dan halusinasi. b. Koping individu yang tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan cara mengekspresikan secara konstruktif. c. Perubahahn proses berpikir berhubungan dengan ketidakmampuan untuk

mempercayai orang d. Risiko terjadi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, status emoosional yang meningkat. e. Kesukaran komunikasi verbal berhubungan dengan pola komunikasi yang tak logis atau inkohern dan efek samping obat-obatan, tekanan bicara dan hiperaktivitas. f. Kurangnya interaksi sosial (isolasi sosial) berhubungan dengan sistem penbdukung yang tidak adequat. g. Kurangnya perawatan diri berhubugan dengan kemauan yang menurun h. Perubahan pola tidur berhubungan dengan hiperaktivitas, respon tubuh pada halusinasi. i. Ketidaktahuan keluarga dan klien tentang efek samping obat antipsikotik berhubungan dengan kurangnya informasi.

3.1.3 Rencana Tindakan 1. Risiko terhadap penyiksaan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan berespon pada pikiran delusi dan halusinasi.

Batasan kriteria : Sasaran jangka pendek : Dalam 2 minggu klien dapat mengenal tanda-tanda peningkatan kegelisahan dan melaprkan pada perwat agasr dapat diberikan intervensi sesuai kebutuhan. Sasaran jangka panjang :Klien tidak akan membahayakan diri, orang lain dan lingkungan selama di rumah sakit.

22

Intervensi 1. Pertahankan agar lingkungan klien pada tingkat stimulaus yang rendah (penyinaran rendah, sedikit orang, dekorasi yang sederhana dan

Rasional 1. Tingkat ansietas atau gelisah akan meningkat dalam lingkungan yang penuh stimulus.

tingakat kebisingan yang rendah) 2. Ciptakan lingkungan psikososial : sikap perawat yang bersahabat, penuh perhatian, lembuh dan hangat) Bina hubungan saling percaya (menyapa klien dengan rama 2. Lingkungan psikososial yang terapeutik akan menstimulasi kemampuan

perasaan kenyataan.

memanggil nama klien, jujur , tepat janji, empati dan

menghargai. Tunjukkan perwat yang

bertanggung jawab 3. Observasi ketat merupakan hal yang 3. Observasi secara ketat perilaku klien (setiap 15 menit) penting, karena dengan demikian

intervensi yang tepat dapat diberikan segera dan untuk selalu memastikan bahwa kien berada dalam keadaan aman

4. Kembangkan orientasi kenyataan : Bantu kien untuk mengenal

4. Klien

perlu

dikembangkan

kemampuannya untuk menilai realita secara adequat agar klien dapat

persepsinya Beri umpan balik tentang perilaku klien tanpa menyokong atau

beradaptasi dengan lingkungan.Klien yang berada dalam keadaan gelisah, bingung, klien tidak menggunakan

membantah kondoisinya Beri kesempatan untuk

benda-benda

tersebut

untuk

mengungkapkan persepsi an daya orientasi

membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

23

5. Lindungi klien dan keluarga dari 5. Klien halusinasi pada faase berat tidak bahaya halusinasi : Kajiu halusinasi klien Lakukan tindakan pengawasan ketat, upayakan pengikatan. tidak melakukan dapat mengontrol yang perilakunya. aman dan

Lingkungan

pengawasan yang tepat dapat mencegah cedera.

6. Tingkatkan peran serta keluarga pada tiap tahap perawatan dan jelaskan 6. Klien yang sudah dapat mengontrol prinsip-prinsip halusinasi. 7. Berikan obat-obatan tindakan pada halusinasinya perlu sokongan keluarga untuk mempertahnkannya. antipsikotik 7. Obat ini dipakai untuk mengendalikan psikosis dan mengurangi tanda-tanda agitasi.

sesuai dengan program terapi (pantau keefektifan dan efek samping obat).

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, status emosional yang meningkat. Batasan kriteria : Penurunan berat badan, konjunctiva dan membran mukosa pucat, turgor kulit jelek, ketidakseimbangan elktrolit dan kelemahan) Sasaran jangka pendek : 1. Klien dapat mencapai pertambahan 0,9 kg t hari kemudian 2. Hasil laboratorium elektrolit sserum klien akan kembali dalam batas normal dalam 1 minggu Sasaran jangka panjang : Klien tidak memperlihatkan tanda-tanda /gejala malnutrisi saat pulang. Intervensi 1. Monitor masukan, haluaran dan jumlah kalori sesuai kebutuhan. Rasional 1. Informasi ini penting untuk membuat pengkajian nutrisi yang akurat dan mempertahankan keamanan klien.
24

2. timbang berat badan setiap pagi sebelum bangun

2. Kehilangan informasi

berat penting

badan untuk

merupakan mengethui

perkembangan status nutrisi klien.

3. Jelaskan pentingnya nutrisi yang cukup bagi kesehatan dan proses penyembuhan.

3. Klien

mungkin

tidak

memiliki

pengetahuan yang cukup atau akurat berkenaan dengan kontribusi nutrisi yang baik untuk kesehatan.

4. Kolaborasi: Dengan ahli gizi untuk menyediakan makanan dalam porsi yang cukup sesuai dengan kebutuhan Pemberian cairan perparenteral (IVline)

4. Kolaborasi : Klien lebih suka menghabiskan

makan yang disukai oleh klien.

Cairan infus diberikan pada klien yang tidak, kurang dalam mengintake makanan.

Pantau hasil laboraotirum (serum elektrolit)

Serrum

elektrolit

yang

normal

menunjukkan dalam tubuh.

adanya

homestasis

5. Sertakan kebutuhan

keluarga

dalam

memnuhi dan

5. Perawat

bersama

keluarga

harus

sehari-hari

(makan

memperhatikan pemenuhan kebutuhan secara adequate.

kebutuhan fisiologis lainnya)

3. Kurangnya interaksi sosial (isolasi sosial) berhubungan dengan sistem penbdukung yang tidak adequat. Batasan kriteria : Kurang rasa percaya pada orang lain, sukar berinteraksi dengan orang lain, komnuikasi yang tidak realistik, kontak mata kurang, berpikir tentang sesuatu menurut pikirannya sendiri, afek emosi yang dangkal. Sasaran jangka pendek : Klien siap masuk dalam terapi aktivitas ditemani oleh seorang perawat yang dipercayai dalam 1 minggu. Sasaran jangka panjang :
25

Klien dapat secara sukarela meluangkan waktu bersama klien lainnya dan perawat dalam aktivitas kelompok di unit rawat inap. Intervensi 1. Ciptakan lingkungan terapeutik : bina hubungan klien saling dengan percaya rama Rasional 1. Lingkungan fisik dan psikososial yang terapeutik akan menstimulasi

(menyapa

kemmapuan klien terhadap kenyataan.

memanggil nama klien, jujur , tepat janji, empati dan menghargai). tunjukkan perawat yang bertanggung jawab tingkatkan kontak klien dengan

lingkungan sosial secara bertahap Perlihatkan penguatan positif pada klien. 2. Temani klien untuk memperlihatkan dukungan selama aktivitas kelompok yang mungkin mnerupakan hal yang sukar bagi klien. 3. Orientasikan klien pada waktu, tempat dan orang. 3. kesadran diri yang meningkat dalam hubungannya dengan lingkungan waktu, tempat dan orang. 4. Berikan obat anti psikotik sesuai dengan program terapi. 4. Obat ini dipakai untuk mengendalikan psikosis dan mengurangi tanda-tanda agitasi 2. hal ini akan membuat klien merasa menjado orang yang berguna.

4. Kurangnya perawatan diri berhubugan dengan kemauan yang menurun Batasan kriteria : Kemauan yang kurang untuk membersihkan tubuh, defekasi, be3rkemih dan kurang minat dalam berpakaian yang rapi. Sasaran jangka pendek :

26

Klien dapat mengatakan keinginan untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari dalam 1 minggu Sasaran jangka panjang : Klien mampu melakukan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri dan

mendemosntrasikan suatu keinginan untuk melakukannya. Intervensi 1. Dukung klien untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari sesuai dengan tingkat kemampuan kien. 2. Dukung kemandirina klien, tetapi beri bantuan kien saat kurang mampu Rasional 1. Keberhasilan menampilkan kemandirian dalam melakukan suatu aktivitas akan meningkatkan harga diri. 2. Kenyamanan merupakan keperawatan. dan keamanan klien dalam

priotoritas

melakukan beberapa kegiatan. 3. Berikan pengakuan dan penghargaan positif untuk kemampuan mandiri.

3. Penguatan positif akan menignkatakan harga diri dan mendukung terjadinya

4. Perlihatkan secara konkrit, bagaimana melakukan kegiatan yang menurut kien sulit untuk dilakukaknya.

pengulangan perilaku yang diharapkan. 4. Karena berlaku pikiran yang konkrit, penjelasan harus diberikan sesuai tingkat pengetian yang nyata.

5. Ketidaktahuan keluarga dan klien tentang efek samping obat antipsikotik berhubungan dengan kurangnya informasi. Batasan kriteria : Adanya pertanyaan kurangnya pengetahuan, permintaaan untuk mendaptkan informasi dan mengastakan adanya permaslah yang dialami kien Sasaran jangka pendek : Klien dapat mengatakan efek terhadap tubuh yang diikuti dengan implemetasi rencana pengjaran. Sasaran jangka panjang :
27

Klien dapat mengatan pentingnya mengetahui dan kerja sama dalam memantau gejala dan tanda efek samping obat. Intervensi 1. Pantau tanda-tanda vital Rasional 1. Hipotensi ortostatik mungikn terjadi pada pemakain obat antipsikotik, Pemeriksaan tekanan darah dalam posisi berbaring, dudujk dan berdiri. 2. Beberapa 2. Tetaplah bersama klien ketika minum obat antipsikotik 3. Amati klien akan adanya EPS, 4. Pantau keluaran urine,dan glukosa urine klien mungkin

menyembusnyikan oabt-obat tersebut. 3. distonia akut (spame lidah, wajah, leher dan punggung), akatisia (gelisah, tidak dapat duduk dengantenag, mengetuknegetukan kaki,pseudoparkinsonisme

(tremor otot, rifgiditas, berjalan dengan menyeret kaki) dan diskinesia tardif (mengecapkan bibir, menjulurkan lidah dan gerakan mengunyah yang konstan). 4. Wanita dapat yang mempunyai tidak periode atau

menstruasi

teratus

amenorhea dan pria mungkin mengalmi impotens atau ginekomastik.

4. Beritahu klien bahwa dapat terjadi perubahan yang berkaitandengan fungsi seksual dan menstruasi.

3.2 Asuhan Keperawatan Demensia 3.2.1 Pengkajian 1. Identitas Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa/latar belakang kebudayaan,status sipil, pendidikan,, pekerjaan, alamat. 2. Keluhan Utama
28

Keluhan utama atau sebab utama yang menyebabkan klien datang berobat (menurut klien dan/atau keluarga). 3. Faktor Predisposisi Proses pengkajian dapat tampak membingungkan dan rumit bagi klien demensia. Klien mungkin tidak mengetahui atau lupa tujuan wawancara. Perawat memberikan penjelasan sederhana dengan seiring sesuai kebutuhan klien. Klien dapat menjadi bingung atau cepat lelah sehingga istirahat yang sering dalam wawancara dapat diperlukan. Hal ini membantu untuk mengajukan pertanyaan kompleks dan memungkinkan klien memiliki cukup waktu untuk menjawab. 4. Riwayat Klien mungkin tidak mampu memberikan riwayat yang lengkap dan akurat tentang awitan masalah, yang menunjukkan kerusakan memori yang baru. Anamnesa dengan keluarga, teman, atau pemberi perawatan dapat diperlukan untuk memperoleh data. 5. Penampilan umum dan perilaku motorik Kemampuan klien untuk melakukan percakapan yang berarti secara progresif terganggu sepanjang waktu. Afasia terlihat ketika klien tidak dapat menyebutkan nama objek atau orang yang dikenal. Percakapan klien menjadi repetitive, sering mengulang-ulang satu ide. Pada akhirnya, bicara klien dapat menjadi kacau, yang diikuti dengan kehilangan total fungsi bahasa. Temuan awal tentang perilaku motorik adalah kehilangan kemampun untuk melakukan tugas yang biasa dilakukan ( apraksia ). Pada tahap yang berat, klien dapat mengalami gangguan cara berjalan yang membuat ambulansi tanpa bantuan menjadi tidak aman. Beberapa klien demensia menunjukkan perilaku yang tidak malu-malu, yang mencakup membuat lelucon yang tidak tepat, mengabaikan hygiene personal, menunjukkan keakraban yang semestinya tidak ditunjuukan pada orang asing, atau tidak menghormati aturan social untuk perilaku yang dapat diterima. 6. Mood dan efek Pada awalnya, klien demensia mengalami ansietas dan ketakutan selama awal kehilangan memori dan fungsi kognitif, tetapi tidak dapat mengekspresikan perasaan ini kepada siapapun. Mood klien menjadi lebih labil sepanjang waktu dan dapat berubah secara cepat dan tanpa alasan yang jelas. Ledakan emosional umum terjadi dan biasanya mereda dengan cepat. Klien dapat menunjukkan kemarahan dan
29

permusuhan, kadang-kadang terhadap orang lain. Klien mulai menunjukkan reaksi emosional katastrofik sebagai respon terhadap perubahan lingkungan yang tidak dapat dipersepsikan atau dipahami klien secara akurat, atau ketika klien tidak dapat berespons secara adaptif terhadap situasi. Klien dapat menunjukkan pola menarik diri dari duniayang ia tidak lagi pahami. Klien menjadi letargi, tampak apatis, dan member sedikit perhatian pada lingkungan atau orang-orang di dalamnya. Klien tampak kehilangan semua afek emosional dan tampak bingung serta lesu. 7. Sensorium dan proses intelektual Klien kehilangan fungsi intelektual, yang pada akhirnya mencakup kehilangan kemampuan secara menyeluruh. Deficit memori merupakan gambaran awal dan gambaran penting demensia. Memori yang baru dan sangat baru terpengaruh pertama kali, disertai kegagalan akhir untuk mengenali anggota keluarga dekat dan bahkan dirinya sendiri. Agnosia merupakan tanda lain demensia hubungan spasial visual hilang, yang seringditandai dengan penurunan kemampuan klien untuk menulis dan menggambar benda yang sederhana Rentang perhatian klien dan kemampuan berkonsentrasi semakin terganggu sampai kemampuan untuk melakukannya juga hilang. Halusinasi merupakan masalah yang biasa terjadi. Halusinasi penglihatan paling sering terjadi dan mungkin klien meyakini sebagai suatu realitas. 8. Penilitian dan daya tilik Klien demensia memiliki penilaian yang buruk dengan mempertimbangkan kognitifnya. Klien meremehkan resiko dan menilai kemampuanya secara tidak realistis, yang mengakibatkan resiko tinggi cidera. Daya tilik klien terbatas. Pada awalnya, klien mungkin menyadari masalah pada memori dan kognisi serta merasa khawatir bahwa ia kehilangan ingatan akan tetapi dengan sangat cepat kekhawatiran terhadap kemampuan fungsi berkurang, dan tidak menyadari defisit yang lebih serius berkembang 9. Konsep diri Pada awalnya, klien dapat marah atau frustasi dengan dirinya sendiri karena kehilangan benda atau melupakan sesuatu yang penting. Beberapa mengekspresikan kesedihan karena tubuhnya yang menua dan mulai kehilangan fungsi. Akan tetapi dengan segera klien kehilangan kesadaran dirinya, dan kesadaran tersebut secara bertahap menurun sampai klien dapat bercermin dan gagal mengenali bayangannya sendiri. 10. Peran dan hubungan
30

Peran dan hubungan klien sangat terpengaruh oleh demensia. Pada tahap demensia ringantidak memungkinkan lagi untuk bekerja, yang disebabkan oleh deficit memori dan kognitif. Peran klien sebagai pasangan, rekan, atau orang tua terganggu saat kemampuan untuk melakukan tugas rutin atau mengenali orang yang dikenal hilang. Ketidakmampuan klien untuk berpartisipasi dalam percakapan yang berarti atau acara social sangat membatasi hubungan 11. Pertimbangan fisiologi dan perawatan diri Klien demensia sering mengalami gangguan siklus tidur-bangun, tidur siang, dan berkleluyuran pada malam hari. Beberapa klien dapat isyarat internal seperti lapar atau haus, klien lain mengalami sedikit kesulitan untuk makan dan minim sampai demensia menjadi berat. Klien dapat mengalami inkontenensia urin atau mengalami kesulitan untuk membersihkan diri sendiri setelah eliminasi. Aktivitasn seperti mandi dan berhias sering terabaikan. 12. Pemeriksaan lengkap a. Pemeriksaan fisik b. Pemeriksaan neurologis lengkap c. Mini mental state examination (MMSE) d. Pemeriksaan medikasi dan kadar obat e. Skrining darah dan urin untuk alkohol f. Pemeriksaan fisiologis 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Elektrolit, glucosa, Ca, Mg Tes fungsi hati dan ginjal SMA 12 atau kimia serum yang ekuivalen Urinalisasi Hitung sel darah lengkap dan sel deferensiasi Tes fungsi tiroid FTA ABS B12 Kadar folat

10. Kortikosteroid urine 11. Laju endap eritrosit 12. Antibodi antinuklear, C3C4, anti DSDNA 13. Gas darah arterial 14. Skrining HIV
31

15. Porpobilinogen urine g. Sinar X dada h. Elektrokardiogram (EKG) i. Pemeriksaan Neurologis 1. CT atau MRI kepala 2. SPECT 3. Pungsi lumbal 4. EEG j. Tes neuropsikologis

3.2.2 Diagnosa 1. Gangguan proses pikir: Konfusi kronis b.d degenerasi neuron ireversibel 2. Perubahan pola perilaku b.d disorientasi waktu, orang, dan ruang 3. Gangguan pola tidur b.d perubahan pola perilaku 4. Resiko perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan proses pikir 5. Resiko cedera b.d disorientasi agitasi atau agresif
Defisit Perawatan Diri

Harga Diri Rendah

Perubahan Pola Perilaku

Gangguan Proses Pikir : konfusi kronis

Degenerasi Neuron Irreversible

32

3.2.3 Intervensi dan Rasional

N o. 1.

Diagnosa

Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional

Gangguan proses pikir : Konfusi kronis b.d degenerasi neuron irreversibel

mengalami penurunan tingkat frustasi, khususnya ketika berpartisipasi dalam aktifitas sehari-hari.

Mandiri: 1. Pertahankan kenyamanan, lingkungan yang tenang

Mandiri : 1. mengurangi input yang mengganggu, kepadatan, kekacauan, dan suara ribut meningkatkan sensori yang berlebihan yang memperberat kerusakan neuron

2. Lakukan pendekatan dengan pola yang lambat dan tenang

2. komunikasi non-verbal ini memperkecil kesempatan untuk terjadinya kesalahan interpretasi dan potensi agitasi. Pendekatan yang terburu-buru dapat mengejutkan dan mengancam klien salah menginterpretasikan atau merasa terancam oleh orang dan atau situasi imajiner. 3. Mempertahankan realitas,

3. Berhadapan dengan individu ketika berbicara

meng- ekspresikan ketertarikan, dan meningkatkan perhatian, khususnya pada klien dengan gangguan persepsi

4. Panggil klien sesuai namanya

4. Nama membentuk identitas diri kita dan membangun realitas serta mengenalkan individu. Klien mungkin

33

merespon namanya sendiri lama setelah gagal mengenali nama seseorang. 5. Gunakan suara rendah dan bicara dengan perlahan kepada klien. 5. Meningkatkan kesempatan untuk pemahaman. Suara yang nyaring, nada yang keras mengundang kemarahn dan stres, yang dapat memicu ingatan terutama konfrontasi dan provokasi respon marah. 6. Selingi interaksi dengan humor 6. tertawa dapat membantu komunikasi dan membantu mengembalikan labilitas emosional.

Kolaborasi : Kolaborasi: 1. Berikan obat-obatan sesuai indikasi a. Antipsikotik: haloperidol(haldol), tioridasin(mellaril) b. Takrin (cognex) 1. Dosis kecil dapat digunakan untuk mengontrol agitasi, delusi, halusinasi. Mellaril sering digunakan karena efek samping ekstrapiramidal yang lebih kecil (misal distonia, akatisia), maslah penglihatan, dan khususnya cara berjalan. 2. Meningkatkan kadar asetilkolin di korteks serebral untuk mengembangkan fungsi kognitif dan otonomi pada demensia ringan dan sedang.

34

Cognex tampak tidak mengubah perjalanan penyakit, dan efeknya lebih sedikit sejalan dengan kemajuan penyakit. Catatan: obat toksik untuk hati, tapi efeknya reversibel. 2. Perubahan pola perilaku b.d disorientasi waktu, orang dan ruang Mengenali perubahan dalam berpikir/ bertingkah laku 4 meningkatkan komunikasi yang meningkatkan perasaan integritas seseorang 5 bantu individu untuk membedakan antara pikiran dengan realita 6 berikan individu kesempatan untuk sosialisasi positif 3. Gangguan pola tidur b.d perubahan pola perilaku a. membangun pola tidur yang adekuat dengan pengurangan kegiatan yang tidak berguna. b. Klien akan mempertahankan keseimbangan aktifitas dan istirahat 2. Sediakan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi, menggosok atau memijat bagian punggung dengan pelembab. 3. Kurangi asupan cairan pada malam hari. Ke kamar mandi sebelum
35

1. meningkatkan percaya diri klien dan bisa mengarahkan jika ada perubahan perilaku.

2. pikiran yang realistis akan membuat perilaku menjadi realistis. 3. Dengan bersosialisasi, perilaku yang timbul akan terarah. 1. walaupun aktifitas fisik dan mental yang panjang menyebabkan kelelahan yang dapat meningkatkan konfusi, aktifitas terprogram tanpa stimulasi berlebihan akan meningkatkan tidur. 2. Memberikan rasa relaksasi dan ras kantuk serta membantu memenuhi kebutuhan perawatan kulit.

1. Berikan waktu untuk istirahat yang adekuat.

3. Mengurangi kebutuhan untuk bangun ke kamar mandi/inkontinensia pada

tidur 4. Alunkan musik yang lembut atau suara lembut.

malam hari. 4. Mengurangi stimulasi sensori dengan memblok suara dari lingkungan yang dapat mengganggu istirahat tidur.

Kolaborasi : 1. Berikan medikasi sesuai indikasi untuk tidur. a. Antidepresan Misal: amitriptilin (elavil), doksepin (sinequan) b. Hipnotik-sedatif Misal: kloral hidrat (noctec), oksazepam (serax), triazolam (halcion). 4. Resiko perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan proses piker a. Klien akan makanmakanan bergizi dengan seimbang b. Klien akan mempertahankan atau penambahan berat badan dengan tepat 2. Tawarkan makanan ringan satu atau dua jenis selama satu hari sesuai indikasi. 1. Tentukan jumlah latihan fisik/langkah yang telah dilakukan klien.

Kolaborasi : 1. Medikasi untuk tidur

a. Mungkin efektif dalam menangani pseudodemensia atau depresi, meningkatkan kemampuan untuk tidur. b. Bila digunakn dengan hemat, hipnotik dosis rendah efektif dalam mengatasi insomnia, atau sundowner. 1. Asupan nutrisi perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang berhubungan dengan individu.
2. Makanan porsimkecil dapat

memperkuat asupan yang sesuai. Membatasi jenis makanan yang ditawarka pada satu waktu mengurangi kebingungan yang berkaitan dengan pilihan makanan.

36

37

3.3 Evaluasi Askep Delirium dan Demensia S : Pasien menyatakan dapat menerima apa yang telah terjadi\. Pasien menyatakan dapat beraktifitas dengan normal. O : Pasien terlihat dapat menerima keadaannya. Pasien terlihat lebih senang dari sebelumnya. Koping pasien lebih baik. Pasien dapat beraktivitas dengan normal A : Masalah teratasi. P : Intervensi berhasil.

38

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Kognitif adalah kemampuan berpikir dan memberikan rasional, termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan. Kognitif memberikan peran penting dalam intilegensi seseorang, yang paling utama adalah mengingat, dimana proses tersebut melibatkan fungsi kerja otak untuk merekam dan memanggil ulang semua atau beberapa kejadian yang pernahh dialami. Gangguan kognitif yang paling sering ditemui meliputi Demensia dan Delirium.
Delirium adalah suatu sindrom yang mencakup gangguan kesadaran yang disertai dengan perubahan kognisi. Delirium biasanya terjadi dalam waktu singkat, kadang kadang tidak lebih dari beberapa jam, dan berfluktuasi atau berubah sepanjang hari. Sedangkan demensia merupakan gangguan jiwa yang meliputi defisit kognitif multipel, kerusakan memori utama dan minimal salah satu gangguan kognitif.

Delirium dan demensia merupakan kelainan yang sering ditemukan pada pasien pada semua usia, namun kelainan ini paling sering ditemukan pada pasien usia lanjut. Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia maupun delirium diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak.

39

DAFTAR PUSTAKA

Harvey, R. J., Robinson, M. S. & Rossor, M. N. (2003). The prevalence and causes of dementia in people under the age of 65 years. Journal Neurosurg Psychiatry, 74: 12061209. Mace, N. L. & Rabins, P. V. (2006). The 36-hour day: a family guide to caring for people with Alzheimer disease, other dementias, and memory loss in later life (4th Ed.) Baltimore, USA: The Johns Hopkins University Press.
Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. (1998). Behavioral symptom of dementia. In Volicer, L., Hurley, A.C. (Eds), Hospice care for patients with advance progressive dementia. New York: Springer Publishing Company

Carpenito. 2000. Diagnosis keperawatan. Jakarta : egc Isaacs, ann.2005. Keperawatan kesehatan jiwa dan psikiatrik edisi ketiga. Jakarta : EGC Towsend, M.C. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Psikiatri edisi ketiga.Jakarta : EGC

40