Anda di halaman 1dari 34

1

I. PEMETAAN (THEODOLITE)

A. PENDAHULUAN 1. Latar belakang Tanah memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan manusia yaitu karena kehidupan manusia sangatlah membutuhkan tanah dan manusia tidak dapat dipisahkan dari tanah. Manusia hidup dan bermukim diatas tanah dan memperoleh bahan pangan dengan cara mendayagunakan tanah. Manusia akan hidup serba kecukupan dan damai kalau mereka dapat menggunakan tanah yang dikuasainya atau dimilikinya sesuai dengan hukum yang berlaku, dan manusia akan hidup tentram dan damai kalau mereka dapat menggunakan hak-hak dan kewajibannya sesuai dengan batas-batas tertentu dalam hukum yang berlaku yang mengatur kehidupan manusia itu dalam masyarakat. Ilmu Ukur Tanah adalah ilmu yang mempelajari cara-cara pengukuran yang diperlukan untuk menyatakan kedudukan titik dipermukaan. Ilmu Ukur Tanah merupakan bagian dari ilmu yang dinamakan ilmu Geodesi. Ilmu Geodesi mempunyai dua maksud, yaitu : 1. 2. Maksud ilmiah : menentukan permukaan bumi Maksud praktis : membuat bayangan dari sebagian besar atau kecil permukaan bumi yang dinamakan peta. Pada dasarnyatujuan pengukuran adalah untuk menentukan letak atau kedudukan suatu objek di atas permukaan bumi dalam suatu system koordinat (umumnya dipergunakan apa yang disebut system koordinat geodetis). Dan dalam pelaksanaan pengukuran itu sendiri yang dicari dan dicatat adalah angka-angka, jarak dan sudut. Jadi koordinat yang akan diperoleh adalah dengan melakukan pengukuran-pengukuran sudutterhadap system koordinat geodetic tersebut (Sosrosodarsono, 1997). Theodolit adalah salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak. Berbeda dengan waterpass yang hanya memiliki sudut mendatar saja. Di dalam theodolit sudut yang dapat di baca bisa sampai pada satuan sekon (detik).

Theodolit merupakan alat ukur tanah yang universal. Selain digunakan untuk mengukur sudut harisontal dan sudut vertikal, theodolit juga dapat digunakan untuk mengukur jarak secara optis, membuat garis lurus dan sipat datar orde rendah. Pengembangan ilmu dan teknoligi pemetaan secara teristris yang saat ini makin dibutuhkan di hamper seluruh sektor pembangunan, terlebih-lebih pada era otonomi daerah dewasa ini, peran peta menjadi semakin menonjol disbanding sebelumnya. Peta yang tidak hanya menyajikan unsur toprografis dan atributif saja namun juga unsur spasial, akan memberikan informasi yang lebih bermakna. Sehingga dalam praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu ukur tanah dalam kehidupan bermasyarakat untuk memudahkan segala hal yang berkaitan dengan pemetaan ataupun pengukuran luas maupun tinggi suatu daerah. 2. Tujuan Praktikum Tujuan pada praktikum acara satu ini adalah sebagai berikut : a. Mengetahui dan mengoperasikan teodolit manual dan teodolit digital b. Mengetahui hasil pengukuran pada semua polygon 3. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum Survey dan Pemetaan Tanah acara satu ini dilaksanakan pada tanggal 6 Juni 2011 pukul 08.00 16.00 WIB di sekitar Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Ilmu Ukur Tanah Ukur tanah adalah menentukan posisi atau letak titik di atas atau pada permukaan bumi. Ukur tanah merupakan pekerjaan untuk menggambarkan keadaan fisik sebagian permukaan bumi menyerupai keadaan sebenarnya di lapangan. Ukur tanah atau dikenal dengan sebutan ukur wilayah (surveying) termasuk didalamnya pengukuran lahan pertanian (Anonima, 2009). Ilmu ukur tanah adalah bagian dari ilmu geodesi yang mempelajari cara-cara pengukuran di permukaan bumi dan dibawah tanah untuk berbagai keperluan seperti pemetaan, dan penentuan posisi relative pada daerah yang relative sempit sehingga ukuran kelengkungan permukaan buminya dapat diabaikan (Basuki, 2006). Ilmu Ukur Tanah adalah ilmu yang mempelajari cara-cara pengukuran yang diperlukan untuk menyatakan kedudukan titik dipermkaan. Ilmu Ukur Tanah merupakan bagian dari ilmu yang dinamakan ilmu Geodesi. Ilmu Geodesi mempunyai dua maksud, yaitu : 1. Maksud ilmiah : menentukan permukaan bumi. 2. Maksud praktis : membuat bayangan dari sebagian besar atau kecil permukaan bumi yang dinamakan peta. Ilmu Ukur Tanah sendiri terbagi menjadi dua bagian penting, yaitu : 1. Geodesi rendah yang disebut Ilmu Ukur Tanah (Plane Surveying) 2. Geodesi tinggi yang disebut Geodetical Surveying. Alatalat ukur tanah adalah alatalat yang dipersiapkan guna mengukur jarak dan atau sudut. Alatalat yang digunakan ada yang tergolong sederhana dan ada yang tergolong modern. Sederhana atau modernnya alat ini dapat dilihat dari komponen alatnya dan cara menggunakannya. Pada umumnya dikenal dua alat ukur yaitu Teodolit (alat ukur sudut) dan Waterpas (penyipat datar) (Frick, 1984). Ilmu ukur tanah adalah cabang dari ilmu Geodesi yang khusus mempelajari sebagian kecil dari permukaan bumi dengan cara melakukan pengukuran- pengukuran guna mendapatkan peta. Pengukuran yang di

lakukan terhadap titik- titik detail alam maupun buatan manusia meliputi posisi horizontal (x,y) maupun posisi vertikal nya (z) yang diferensikan terhadap permukaan air laut rata-rata. Agar titik-titik di permukaan bumi yang tidak teratur bentuknya dapat di pindahkan ke atas bidang datar maka di perlukan bidang perantara antara lain : bidang Ellipsoid, bidang bultan dan bidang datar (untuk luas wilayah 55 km) (Anonimb, 2009). Ilmu ukur tanah merupakan ilmu terapan yang mempelajari dan menganalisis bentuk topografi permukaan bumi beserta obyek-obyek di atasnya untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan konstruksi. Ilmu ukur tanah adalah bagian dari ilmu geodesi yang mempelajari cara-cara pengukuran di permukaan bumi dan di bawah tanah untuk menentukan posisi relatif atau absolut titik-titik pada permukaan tanah, di atasnya atau di bawahnya, dalam memenuhi kebutuhan seperti pemetaan dan penentuan posisi relatif suatu daerah (Anonimc, 2010). 2. Theodolite Theodolite merupakan alat yang paling canggih di antara peralatan yang digunakan dalam survei. Pada dasarnya alat ini berupa sebuah teleskop yang ditempatkan pada suatu dasar berbentuk membulat (piringan) yang dapat diputar-putar mengelilingi sumbu vertikal, sehingga memungkinkan sudut horisontal untuk dibaca. Teleskop tersebut juga dipasang pada piringan kedua dan dapat diputarputar mengelilingi sumbu horisontal, sehingga memungkinkan sudut vertikal untuk dibaca. Kedua sudut tersebut dapat dibaca dengan tingkat ketelitian sangat tinggi (Astanto, 2001). Theodolit adalah salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak. Berbeda dengan waterpass yang hanya memiliki sudut mendatar saja. Di dalam theodolit sudut yang dapat di baca bisa sampai pada satuan sekon (detik) (Safru, 2010). Theodolit merupakan alat ukur tanah yang universal. Selain digunakan untuk mengukur sudut harisontal dan sudut vertikal, theodolit juga dapat

digunakan untuk mengukur jarak secara optis, membuat garis lurus dan sipat datar orde rendah (Muhamadi, 2004). Bagian-bagian dari alat theodolit adalah sebagai berikut : a. Teropong yang dilengkapi dengan garis bidik b. Lingkaran skala vertical c. Sumbu mendatar d. Indeks pembaca lingkaran skala tegak e. Penyangga sumbu mendatar f. Indeks pembaca lingkaran skala mendatar g. Sumbu tegak h. Lingkaran skala mendatar i. Nivo kotak j. Nivo tabung k. Tribrach l. Skrup kaki tribrach (Wolf, et all., 2002). Theodolite adalah alat untuk mengukur sudut. Pada pandangan pertama alat ini terlihat sebagai suatu alat yang agak rumit, tetapi cara kerjanya dapat dipelajari dengan lebih cepat jika alat ini dipisah-pisahkan dalam bentuk bagan (diagram) ke dalam bagian bagiannya secara terpisah dan masing-masing dijelaskan secara mandiri. Suatu Theodolite umumnya digolong-golongkan, menurut cara yang dipakai untuk membaca lingkaran, kegunaannya dan ketelitiannya. Penggolongan yang utama adalah menurut cara yang dipakai untuk membaca lingkaran (Wongsotjitro, 2009). Theodolite adalah alat untuk mengukur dua buah sudut vertikal dan horisontal, seperti yang digunakan dalam jaringan segitiga. Theodolite merupakan alat utama dalam survei dan pekerjaan teknis, terutama pada pekerjaan pengukuran tanah, tetapi theodolites sudah disesuaikan untuk keperluan khusus lainnya seperti dalam bidang peluncuran roket meteorologi dan teknologi lainnya. Theodolite modern terdiri dari teleskop yang dapat bergerak dalam dalam dua sudut (axis) bersamaan yang tegak lurus atau trunnion sumbu horisontal, dan sumbu vertikal. Ketika teleskop terarah pada

obyek yang dikehendaki, maka sudut dari tiap-tiap axis dapat diukur dengan tepat, biasanya pada skala arcseconds (Anonimd, 2010). Theodolit Digital terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian bawah, bagian tengah, dan bagian atas. Bagian bawah terdiri dari skrup penyetel yang menyangga suatu tabung dan plat yang berbentuk lingkaran. Bagian tengah terdiri dari suatu rambu yang dimasukkan ke dalam tabung, dimana pada bagian bawah sumbu ini adalah sumbu tegak atau sumbu pertama (S1). Di atas S1 diletakkan lagi plat yang berbentuk lingkaran yang berjari-jari lebih kecil daripada jari-jari plat bagian bawah. Pada dua tempat di tepi lingkaran dibuat alat pembaca yang disebut nonius (N0). Suatu nivo diletakkan pada atas plat nonius untuk membuat sumbu tegak lurus. Bagian atas terdiri dari sumbu mendatar atau sumbu kedua (S2), pada S2 diletakkan plat berbentuk lingkaran dan dilengkapi skala untuk pembacaan skala lingkaran. Pada lingkaran tegak ini di tempatkan kedua nonius pada penyangga S2 (Sosrodarsono. 1983). 3. Polygon Polygon ialah serangkaian garis lurus yang menghubungkan titik-titik yang terletak di permukaaan bumi. Prinsip kerja pengukuran polygon yaitu mencari sudut jurusan dan jarak dari gabungan beberapa garis yang bersamasama membentuk kerangka dasar untuk keperluan pemetaan suatu daerah tertentu (Sosrodarsono, 1993). Cara membuat suatu polygon adalah cara pertama untuk menentukan tempat lebih dari satu titik. Penentuan titik dapat dilakukan dengan cara penentuan ralatif dengan menempatkan beberapa titik yang terletak di atas satu garis lurus, maka empat titik-titik itu dapat dinyatakan dengan dengan jejak dari suatu titik yang terletak di atas garis lurus itu pula. Titik-titik yang diambil sebagai dasar untuk menghitung jarak-jarak dinamakan titik nol. Karena titik-titik dapatterletak di sebelah kiri dan kanan titik nol (O) > maka kepada titik yang terletak di sebelah kanan titik nol (o) diberi jarak dengan titik positif (+)dan titik yang terletak di sebelah kiri titik nol diberi jarak dengan tanda negative (-). Buat skala dengan bagian yang sama (ke kiri dan

ke kanan) dengan satuan jarak 1 m, 10 m, atau 100 m, tergantung pada jarakjarak harus dinyatakan (Kraak, 1996). Yang diartikan dengan beda tinggi antara titik A dan titik B adalah jarak antara dua bilangan nivo yang melalui titik A dan titik B. umumnya bidang nivo adalah bidang lengkung, tetapi bila jarak antara titik A dan titik B kecil, maka kedua bidang nivo yang melalui titik A dan titik B dianggap sebagai bidang mendatar. Beda tinggi antara dua titik dapat diketahui melalui beberapa cara yaitu : a. Dengan pengukuran tinggi secara langsung menggunakan pita ukur. Misalnya pada pembuatan gedung bertingkat, tinggi masing-masing lantai dapat diukur dengan pita ukur. b. Dengan menggunakan alat barometer, pada dasarnya ada hubungan antara ketinggian tempat dengan tekanan udara, dimana semakin tinggi tempatnya semakin kecil tekanan udaranya. Dengan alat barometer ini ketinggian dapat diukur tetapi menghasilkan ukuran yang kurang teliti. c. Dengan cara trigonimetri. Beda tinggi dapat diukur dengan alat yang dilengkapi dengan pembacaan sudut vertical (theodolit) (Yuwono, 2000). 4. Kontur Kontur adalah garis hubung antara titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Garis yang dimaksud disini adalah garis khayal yang dibuat untuk menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Walaupun garis tersebut mengubungkan antara dua titik, namum bentuk dan polanya tidak merupakan garis patah-patah. Garis-garis tersebut dihaluskan (smoothing) untuk membuat kontur menjadi luwes atau tidak kaku. Hal ini diperbolehkan pada proses kartografi (Yuwono, 2004). Kontur adalah garis hubung antara titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Garis yang dimaksud disini adalah garis khayal yang dibuat untuk menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Kontur biasanya digambar dalam bentuk garis-garis utuh yang

kontinyu. Setiap kontur keempat atau kelima (tergantung pada intervalnya) dibuat indeks, dan digambarkan dengan garis yang lebih tebal

(Muhamadi, 2004). Kontur indeks dimaksudkan untuk membantu pembacaan kontur dan menghitung kontur untuk menentukan tinggi. Angka (ketinggian) kontur diletakkan pada bagian kontur yang diputus dan diurutkan sedemikian rupa agar terbaca searah dengan kemiringan ke arah atas (lebih tinggi). Semakin rapat titik detil yang diamati, maka semakin teliti informasi yang tersajikan dalam peta. Dalam batas ketelitian teknis tertentu, kerapatan titik detil ditentukan oleh skala peta dan ketelitian (interval) kontur yang diinginkan (Basuki, 2006). Sifat sifat garis kontur : a. Berbentuk kurva tertutup, tidak bercabang dan tidak berpotongan. b. Menjorok ke arah hulu jika melewati sungai, menjorok ke arah jalan menurun jika melewati permukaan jalan dan tidak tergambar jika melewati bangunan. c. Garis kontur yang rapat menunjukan keadaan permukaan tanah yang terjal, garis kontur yang jarang menunjukan keadaan permukaan yang landai dan satu garis kontur mewakili satu ketinggian tertentu.. d. Penyajian interval garis kontur tergantung pada skala peta yang disajikan. e. Penyajian indeks garis kontur pada daerah datar adalah setiap selisih 3 garis kontur, pada daerah berbukit setiap selisih 4 garis kontur sedangkan pada daerah bergunung setiap selisih 5 garis kontur. f. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf "U" menandakan punggungan gunung. Dan rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf "V" menandakan suatu lembah/jurang. (Sosrodarsono, 1983). Pada pengukuran garis kontur cara langsung, garis-garis kontur sudah langsung merupakan garis penghubung titik-titik yang diamati dengan ketinggian yang sama, sedangkan pada pengukuran garis kontur cara tidak langsung umumnya titik-titik detil itu pada ketinggian sembarang yang tidak

sama. Bila titik-titik detil yang diperoleh belum mewujudkan titik-titik dengan ketinggian yang sama, maka perlu dilakukan interpolasi linier untuk mendapatkan titik-titik yang sama tinggi. Interpolasi linier bisa dilakukan dengan cara: taksiran, hitungan dan grafis (Wirshing, 1990).

10

C. METODOLOGI PRAKTIKUM 1. Alat Praktikum pengenalan dan penggunaan alat ukur tanah untuk mengukur polygon terbuka dan tertutup ini menggunakan Theodolite. 2. Bahan Pada praktikum kali ini yang diukur adalah Luasan lahan di sekitar Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta. 3. Cara kerja a. Mendurkan sekrup pengunci perpanjangan b. Meninggikan setinggi dada c. Mengcangkan sekrup pengunci perpanjangan d. Mengatur kaki statif berbentuk segitiga sama sisi e. Menguatkan (injak) pedal kaki statif f. Mengatur kembali ketinggian statif sehingga tribar plat mendatar g. Meletakkan theodolite di tribar plat h. Mengencangkan sekrup pengunci centering ke theodolite i. Mengatur (levelkan) nivo kotak sehingga sumbu kesatu benar-benar tegak/vertical dengan menggerakkan secara beraturan sekrup pendatar / kiap di tiga sisi alat ukur tersebut. j. Mengatur (levelkan) nivo tabung sehingga sumbu kedua benar-benar mendatar dengan menggerakkan secara beraturan sekrup pendatar / kiap di tiga sisi alat ukur tersebut. k. Memposisikan theodolite dengan mengendurkan sekrup pengunci

centering kemudian geser kekiri atau kekanan sehingga tepat pada tengahtengah titi ikat (BM), dilihat dari centering optic. l. Melakukan pengujian kedudukan garis bidik dengan bantuan tanda T pada dinding. Memeriksa kembali ketepatan nilai index pada system skala lingkaran dengan melakukan pembacaan sudut biasa dan sudut luar biasa untuk mengetahui nilai kesalaha index tersebut.

11

D. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS PENGAMATAN 1. Hasil Pengamatan Tabel 3.1 Hasil pengamatan pengukuran melalui Theodolite pada Polygon tertutup
Titik Pengamatan A ke B B ke C C ke D D Koordinat S = 733'39,6" E = 11051'31,7" S = 733'39.6" E=11051'32,3" S = 733'39,5" E=11051'32,5" S = 733'39,5" E = 11051'31,9" 119 120 135 135 1,665 1,27 -0,315 -0,08 85,644 109,061 28,548 36,35 32 cm 16,5 1,805 1,35 1,51 1,18 29 16,5 118 135 1,57 -0,22 157,63 52,54 26 cm 1,70 1,44 26 117 135 1,45 0,1 46,5 15,5 14 cm 1,73 1,38 35 Elevasi Beda Tinggi (m) Theodolit BT h (h1) (h2) 3 Sudut Horisontal ( H) Sudut Vertikal ( V) BA (m) Jarak BB (m) L

Sumber: Laporan Sementara Table 3.2 hasil pengamatan pengukuran melalui theodolite pada kontur
titik pengamatan 0 0-1 0-2 0-3 0-4 0-5 Koordinat S = 733'27.5" E = 11051'39.5" S = 733'39.7" E=11051'28.5" S = 733'28.5" E=11051'39.8" S = 733'39.8" E=11051'29.1" S = 733'39.9" E = 11051'27" S = 733'39.9" E = 11051'27" 0-6 S = 733'40.6" E=11051'26.9" 0-7 S = 733'41.3" E=11051'26.7" 58 59 S = 733'41.4" E=11051'26.4" S = 733'41.8" E=11051'26.4" 105 1.242 1.88 0.638 107.812 90 1.955 1.58 60 102 1.242 2.23 0.988 107.462 101 1.24 1.705 1.795 107.205 9253'30" 90 3.92 2.33 1.465 2.01 37.903 45 105 1.24 2.525 1.285 107.715 90 0.7 2.375 30 107 1.24 0.36 0.555 108.45 9531'20" 2.145 0.285 14.861 111 111 1.24 1.24 1.275 2.21 1.225 1.49 110.225 110.49 8820'50'' 8738'40" 1.315 1.26 1.05 1.8 44.963 59.898 110 1.24 0.415 0.825 109.825 90 1.29 0.265 30 110 1.24 0.99 0.25 109.25 90 0.27 0.91 15 109 1.24 Elevasi Beda tinggi (m) theodolit BT (h2) (h2) h sudut horisontal ( H) sudut vertikal ( V) BA (m) jarak BB (m)

12

510 1011 1012 1013 1014 1015 1116 1117

S = 733'40" E=11051'27.2" S = 733'40.3" E=11051'27.7" S = 733'40.4" E=11051'28.3" S = 733'40.6" E=11051'28.7" S = 733'41" E = 11051'27" S = 733'41.6" E=11051'26.7" S = 733'40.7" E=11051'27.5" S = 733'41.9" E=11051'27.2" S = 733'41" E=11051'27.9" S = 733'42.0" E=11051'27.3"

121

1.21

0.2

1.042 0.005 0.045 0.17 3.564 3.426 -2.44 3.532 3.176 3.687 1.055 2.406 -0.89 -0.48 -0.26

109.492

90

3.09

0.12

15

118 119 118

1.21 1.21 1.21

1.215 1.165 1.04

109.487 109.537 109.622

90 90 90

2.41 2.8 2.32

1.14 1.015 0.81

15 30 45

103

1.21

2.085

105.928

10213'0"

1.82

2.015

12.389

107 103 103

1.21 1.21

0.46 3.65

106.066 107.172

950'50" 90 99

1.66 3.92 2.33 1.955

0.22 3.42 2.17 1.8

47.634 50 14.633 15.033

1.2 103 1.32

2.26 1.845 2.77

105.955 100 106.361 105.85 92 3.09 2.46 62.923

1218 1219 1320 1321 2122 923 924

102 108

1.28 1.28 2.335 108.517 90 2.41 2.26 15

S = 733'42.0" E=11051'27.3" S = 733'41" E = 11051'28" S = 733'42.2" E = 11051'28" S = 733'41.8" E =11051'26.9" S = 733'41.7" E =11051'26.6"

105 103 108 108

1.28 1.26 1.26 1.26

2.64 2.15 1.74 1.52

107.216 106.326 107.332 107.552

92 90 90 90

2.8 2.32 1.82 1.66

2.5 1.98 1.67 1.36

29.963 34 15 30

Sumber: Laporan Sementara

13

2. Analisis Hasil Pengamatan a. Analisis Hasil Polygon Tertutup 1) Beda Jarak A2 = 142 + 262 -2 x 14 x 26 x cos 52,540 = 872 442,77 = 20,71 m B2 = 262 + 322 2 x 26 x 32 x cos 28,540 = 1700 1461,797 = 15,434 m C2 = 322 + 16,52 2 x 32 x 16,5 x cos 36,350 = 1296,25 850,514 = 21,113 m 2) Beda tinggi T1 = sin 52,540 x 14 = 0,79 x 14 = 11,1 L1 = x a x t = x 26 x 11,1 = 144,3 cm2 T2 = sin 28,540 x 26 = 0,47 x 26 = 12,42 cm L2 = x a x t = x 32 x 12,42 = 198, 75 cm2 T3 = sin 36,350 x 16,5 = 0,59 x 16,5 = 9,78 cm L3 =xaxt = x 32 x 9,78 = 156,48 cm2

14

L Polygon = L1 + L2 + L3 = 144,3 + 198,75 + 156,48 = 499,53 cm2 3) Keliling Polygon OA = 14 m AB = 20,71 m BC = 15,4 m CD = 21,1 m DO = 16,5 m Keliling Polygon = OA + AB + BC + CD + DO = 14 + 20,71 + 15,4 + 21,1 + 16,5 = 87,71 m b. Analisis Hasil Theodolite Kontur 1) Beda jarak 0-1 L = 100.(ba bb) = 100 . 0,5 = 15 m 0-2 L = 100 . (ba-bb) = 100 . 0,3 = 30 m 0-3 L = 100 . (ba-bb) sin2 = 100 . 0,45 . sin 88,35 = 44,963 m 0-4 L = 100 . (ba-bb) sin2 = 100 . 1,60 . sin 87,64 = 59,898 m

15

0-5 L = 100 . (ba-bb) sin2 = 100 . 0,15 . sin295,52 = 14,861 m 0-6 L = 100 . (ba-bb) = 100 . 0,3 = 30 m 0-7 L = 100 . (ba-bb) sin2 = 100 . 0,38 . sin292,89 = 37,903 m 5-8 L = 100 . (ba-bb) = 100 . 0,45 = 45 m 5-9 L = 100 . (ba-bb) = 100 . 0,6 = 60 m 5-10 L = 100 . (ba-bb) = 100 . 0,15 = 15 m 10-11 L = 100 . (ba-bb) = 100 . 0,15 = 15 m

16

10-12 L = 100 . (ba-bb) = 100 . 0,45 = 45 m 10-13 L = 100 . (ba-bb) = 100 . 0,45 = 45 m 10-14 L = 100 . (ba-bb) sin2 = 100 . 0,13 sin2102,52 = 12,389 m 10-15 L = 100 . (ba-bb) sin2 = 100 . 0,48 sin295,01 = 47,634 m 11-16 L = 100 . (ba-bb) = 100 . 0,5 = 50 m 11-17 L = 100 . (ba-bb) sin2 = 100 . 0,15 sin299 = 14,633 m 12-18 L = 100 . (ba-bb) sin2 = 100 . 0,155 sin2100 12-19 L = 100 . (ba-bb) sin2 = 100 . 0,63 sin292 = 62,923 m

17

13-20 L = 100 . (ba-bb) = 100 . 0,15 = 15 m 13-21 L = 100 . (ba-bb) sin2 = 100 . 0,3 sin292 = 29,963 m 21-22 L = 100 . (ba-bb) = 100 . 0,34 = 34 m 9-23 L = 100 . (ba-bb) = 100 . 0,15 = 15 m 9-24 L = 100 . (ba-bb) = 100 . 0,3 = 30 m Skala 1:300 Kontur Interval C1 = x 300

= 0,15 m

18

2) Beda tinggi 109 mdpl Titik 0 1 h = h1 h2 = 1,24 0,99 = 0,25 H h = 109 + 0,25 = 109,25 mdpl = h1 h2 = 1,24 0,415 = 0,735 H = 109 + 0,875 = 109. 875 mdpl Titik 0 3 h = h1 h2 + 50 (ba-bb) 2.Cos . Sin = 1,24 1,275 + 50 . 0,45 . 2 . Cos 88,347. Sin 88,347 = 1,24 1,275 + 50. 0,45 . 2 . 0,028 = 1,24 1,275 + 1,26 = 1, 225 H = 109 + 1,225 = 110, 225 mdpl Titik 4 h = h1 h2 + 50 (ba-bb) 2.Cos 87,64. Sin 87,64 = 1,24 - 2,21 + 50 . 0,6 . 2. 0,041 = 1,49 H = 110, 49 mdpl Titik 0 2

Titik 5 h = h1 h2 + 50 (ba-bb) 2.Cos . Sin = 1,24 0,36 + 50 . 0,15 . 2. 0,0597 = - 0,55 H = 109 0,55 = 108, 45 mdpl

19

Titik 6 h = h1 h2 = 1,24 2,525 = - 1,285 H = 109 1,285 = 107,715

Titik 7 h = h1 h2 + 50 (ba-bb) 2.Sin Cos = 1,24 1,705 + 50 . 0,38 . 2 . sin 92. Cos 92 = 1,24 1,705 + 38. 0,035 = -1,795 H = 109 1,795 = 107,205 mdpl

Titik 8 h = h1 h2 = 1,242 2,23 = - 0,988 H = 108,45 0,988 = 107,462

Titik 9 h = h1 h2 = 1,242 1,88 = - 0,638 H = 107,812 = h1 h2 = 1,242 0,20 = 1,042 H = 108,45 + 1,042 = 109, 492

Titik 10 h

20

Titik 11 h = h1 h2 = 1,21 1,215 = - 0,005 H = 109,492 0,005 = 109,487

Titik 12 h = h1 h2 = 1,21 2,525 = 0,045 H = 109,492 0,045 = 109,537

Titik 13 h = h1 h2 = 1,21 1,04 = 0,17 H = 109, 492 + 0,17 = 109, 622

Titik 14 h = h1 h2 + 50 (ba-bb) 2.Cos . Sin = 1,21 2,085 + 50 (2,145-2,015) 2 . Sin 102,22,Cos 102,22 = - 3,564 H = 109,492 3,564 = 105,928 mdpl

Titik 15 h = h1 h2 + 50 (ba-bb) 2.Cos . Sin = 1,21 0,46 + 50 (0,70-0,22) 2 . Sin 95,01Cos 95,01 = - 3,426 H = 109,492 3,426 = 106, 066 mdpl

21

Titik 16 h = h1 h2 = 1,20 3,65 = - 2,44 H = 109,487 2,44 = 107,172

Titik 17 h = h1 h2 + 50 (ba-bb) 2.Cos . Sin = 1,20 2,26 + 50 (2,33-2,17) 2 . Sin 99.Cos 99 = - 3,532 H = 109,487 3,532 = 105,955 mdpl

Titik 18 h = h1 h2 + 50 (ba-bb) 2.Cos . Sin = 1,32 1,845 + 50 (1,955=1,80-2,015) 2 . Sin 100.Cos 100. = - 3,176 H = 109,537 3,176 = 106,361 mdpl

Titik 19 h = h1 h2 + 50 (ba-bb) 2.Cos . Sin = 1,28 2,77 + 50 (3,09-2,46) 2 . Sin 92.Cos92 = - 3,687 H = 109,537 3,687 = 105,85 mdpl

Titik 20 h = h1 h2 = 1,28 2,335 = - 1,055 H = 109,622 1,055 = 108,517 mdpl

22

Titik 21 h = h1 h2 + 50 (ba-bb) 2.Cos . Sin = 1,28 2,64 + 50 (2,80-2,50) 2 . Cos 92. Sin 92 = - 2,406 H = 109,622 2,406 = 106, 066 mdpl

Titik 22 h = h1 h2 = 1,26 2,15 = - 0,89 H = 107,216 0,89 = 106, 326 mdpl

Titik 23 h = h1 h2 = 1,26 1,74 = - 0,48 H = 107,812 0,48 = 107,332 mdpl

Titik 24 h = h1 h2 = 1,26 1,52 = - 0,26 H = 107,812 0,26 = 107,552 mdpl

23

c. Gambar Poligon Tertutup/Terbuka Gambar Kontur

E. PEMBAHASAN Theodolite adalah instrument atau alat yang dirancang untuk menentukan beda tinggi tanah pengukuran sudut yaitu sudut mendatar yang dinamakan dengan sudut horizontal dan sudut tegak yang dinamakan dengan sudut vertical. Dimana sudut sudut tersebut berperan dalam penentuan jarak mendatar dan jarak tegak diantara dua buah titik di lapangan. Theodolit merupakan salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk menentukan sudut mendatar dan sudut tegak. Sudut yang dibaca bisa sampai pada satuan sekon (detik). Theodolit dilengkapi dengan piringan untuk pembacaan sudut balik piringan horizontal maupun vertical. Theodolit juga dilengkapi dengan sumbu I (vertical) dan sumbu II (horizontal). Dengan demikian sumbu teropong dapat digerakkan kesegala arah. Sudut tegak (vertical) ialah sudut yang dibentuk pada bidang tegak oleh garis bidik dengan garis tegak (2) atau oleh garis bidik dan garis mendatar (m). sedangkan sudut mendatar ialah sudut yang dibentuk oleh dua garis bidik dibidang mendatar (Wongsotjitro, 1964). Menurut Farrington (1997), Theodolite merupakan alat yang paling canggih di antara peralatan yang digunakan dalam survei. Pada dasarnya alat ini berupa sebuah teleskop yang ditempatkan pada suatu dasar berbentuk membulat (piringan) yang dapat diputar-putar mengelilingi sumbu vertikal, sehingga memungkinkan sudut horisontal untuk dibaca. Teleskop tersebut juga dipasang pada piringan kedua dan dapat diputar-putar mengelilingi sumbu horisontal, sehingga memungkinkan sudut vertikal untuk dibaca. Kedua sudut tersebut dapat dibaca dengan tingkat ketelitian sangat tinggi. Fungsi dari theodolite yakni sebagai alat ukur sudut, karena alat ini disiapkan atau dirancang untuk mengukur sudut baik sudut vertikal maupun horizontal. Oleh karena itu kegunaan alat ukur ini adalah untuk mengukur sudut. Kegunaan lain alat ukur ini yaitu dengan bantuan rambu ukur dapat digunakan sebagai pengukur jarak baik jarak horizontal maupun miring dan mengukur beda tinggi dengan menggunakan metode. Theodolit dipasang pada tripod. Sumbu

24

kesatu sudah dalam keadaan tegak, yang diperlihatkan oleh kedudukan gelembung nivo kotak ada di tengah. Sumbu kedua sudah dalam keadaan mendatar, yang diperlihatkan oleh gelembung nivo tabung ada di tengah. Menurut Ramdan (2008), suatu theodolit dapat dikatakan dalam keadaan baik atau layak pakai untuk pengukuran apabila : a. Sumbu I tegak lurus Sumbu II b. Garis bidik tegak lurus sumbu II c. Kesalahan indeks pada skala lingkaran tegak harus = 0 d. Sumbu nivo alhidade (nivo tabung) tegak lurus sumbu I Dalam pekerjaan pekerjaan ukur tanah, teodolit sering digunakan dalam pengukuran polygon, pemetaan situasi maupun pengamatan matahari. Teodolit juga bisa berubah fungsinya menjadi seperti PPD bila sudut vertikalnya dibuat 90. Dengan adanya teropong yang terdapat pada teodolit, maka teodolit bisa dibidikkan ke segala arah. Untuk pekerjaan-pekerjaan bangunan gedung, teodolit sering digunakan untuk menentukan sudut siku-siku pada perencanaan / pekerjaan pondasi, juga dapat digunakan untuk mengukur ketinggian suatu bangunan bertingkat. Theodolit Digital terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian bawah, bagian tengah, dan bagian atas. Bagian bawah terdiri dari skrup penyetel yang menyangga suatu tabung dan plat yang berbentuk lingkaran. Bagian tengah terdiri dari suatu rambu yang dimasukkan ke dalam tabung, dimana pada bagian bawah sumbu ini adalah sumbu tegak atau sumbu pertama (S1). Di atas S1 diletakkan lagi plat yang berbentuk lingkaran yang berjari-jari lebih kecil daripada jari-jari plat bagian bawah. Pada dua tempat di tepi lingkaran dibuat alat pembaca yang disebut nonius (N0). Suatu nivo diletakkan pada atas plat nonius untuk membuat sumbu tegak lurus. Bagian atas terdiri dari sumbu mendatar atau sumbu kedua (S2), pada S2 diletakkan plat berbentuk lingkaran dan dilengkapi skala untuk pembacaan skala lingkaran. Pada lingkaran tegak ini di tempatkan kedua nonius pada penyangga S2. Dari uraian di atas dapat disimpulkan ada dua perbedaan antara lingkaran mendatar dengan lingkaran vertikal. Untuk skala mendatar titik harus ikut

25

berputar bila teropong diputar pada S1 dan lingkaran berguna untuk membaca skala sudut mendatar. Sedangkan lingkaran berskala vertikal baru akan berputar bila teropong diputar terhadap S2. Pembacaan ini digunakan untuk mengetahui sudut miring. Cara penggunaan theodolit digital : a. Cara seting optis 1) Alat diletakkan di atas patok, paku payung terlihat pada lensa teropong untuk centering optis. 2) Pengunci kaki statif dikendurkan, kaki statif ditancapkan ke tanah dan dikunci atau di kencangkan lagi. 3) Gelembung nivo diatur berada tepat pada tengah lingkaran. 4) Mengatur salah satu nivo tabung dengan mengatur sekrup pengatur nivo. 5) Mengatur nivo tabung yang lain. 6) Mengatur nivo teropong dengan sekrup pengatur nivo teropong. b. Cara penggunaan alat 1) Memasukkan baterai ke dalam tempatnya kemudian melakukan centering optis ke atas. 2) Menghidupkan display dan atur sesuai keperluan. 3) Untuk membaca sudut mendatar, arahkan teropong pada titik yang dikehendaki kemudian membaca pada display. 4) Untuk membaca sudut vertikal, teropong diarahkan secara vertikal dan kemudian dibaca pada display. Pada dasarnya alat theodolit konvensional atau theodolit manual sama dengan theodolit digital, perbedaannya hanya pada alat ini pembacaan sudut azimuth dan sudut zenith dilakukan secara manual. Theodolit manual dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian atas, bagian tengah, dan bagian bawah. Bagian bawah terdiri atas sumbu yang dimasukkan ke dalam tabung, di atasnya terdapat alat pembaca nonius. Di tepi lingkaran terdapat alat pembaca nonius. Bagian atas terdiri dari bagian mendatar. Di atasnya terdapat teropong dilengkapi dengan sekrup-sekrup pengatur fokus dan garis-garis bidik diagfragma.

26

Cara penggunaan theodolit manual : a. Alat dipasang di atas patok. Untuk mengetahui as pesawat tepat di atas patok atau belum, digunakan pendulum dan diusahakan ketelitiannya 3 mm. Jika alat belum tepat di atas patok, maka perlu digeser sehingga pendulum tepat berada di atas patok. b. Sebelum digunakan alat diatur sedemikian rupa sehingga alat berada dalam posisi mendatar. Pengaturan dilakukan dengan bantuan sekrup pengatur instrumen dan nivo kotak. Setelah dilakukan pengaturan dengan tepat, alat dapat digunakan. 1. Pengukuran Polygon Tertutup Pada praktikum kali ini dilakukan perhitungan polygon dan kontur yang dilakukan di lapang atau diluar lapangan. Keunggulan pengukuran di lapang adalah lebih detil karena dapat melihat jarak sebenarnya dan medan yang diukur untuk memperkecil kesalahan pengukuran. Meskipun begitu pengukuran di lapang sangat memakan banyak waktu karena area yang diukur mencakup area yang luas dan medan yang bermacam-macam. Polygon ialah serangkaian garis lurus yang menghubungkan titiktitik yang terletak di permukaaan bumi. Prinsip kerja pengukuran polygon yaitu mencari sudut jurusan dan jarak dari gabungan beberapa garis yang bersama-sama membentuk kerangka dasar untuk keperluan pemetaan suatu daerah tertentu. Macam-macam poligon: a. Poligon terbuka, yaitu poligon yang titik awal dan titik akhirnya bukan merupakan satu titik yang sama. b. Poligon tertutup, yaitu poligon yang berawal dan berakhir pada satu titik yang sama. Pengukuran polygon pada praktikum kali ini yakni polygon tertutup. Polygon tertutup merupakan polygon yang ujungnya saling bertemu (titik awal dan titik ahir menjadi satu) dan membentuk suatu loop atau kring. Tujuan pengukuran polygon tertutup adalah untuk menentukan titik koordinat titik yang diukur. Yang perlu diukur didalam polygon tertutup ini adalah sudut dan jarak. Theodolite repetisi yaitu theodolite yang pelatnya dengan

27

skala lingkaran mendatar ditempatkan sedemikian rupa sehingga pelat dapat berputar sendiri dengan tabung pada sekerup penyetel sebagai sumbu putar. Pengukuran polygon dapat dilakukan dengan cara reiterasi, replikasi, ataupun repetisi. Reiterasi yakni suatu cara pengukuran polygon dimana pengukuran sudut jurusan pertama diasumsikan sebagai titik 0. Replikasi yakni cara pengukuran polygon dimana penyetelan sudut horizontal dengan mengunci skala nonius agar tidak berubah, sedangkan, repetisi yakni suatu cara pengukuran polygon dimana pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali ulangan yang bertujuan untuk memperkecil galat. Pada pengukuran polygon kali ini digunakan cara repetisi. Pengukuran poligon yang dilakukan adalah poligon tertutup. Poligon tertutup yang dilakukan terdiri dari penembakan ke 4 titik. Penembakan titik pertama berada pada 15,5o dari utara, dengan panjang 14 m. Penembakan titik kedua berada pada 52,54o dari titik pertama, dengan panjang 26 m. Penembakan titik ketiga berada pada 28,8o dari titik kedua, dengan panjang 32 m. Penembakan titik keempat berada pada 36,35o dari titik tiga, dengan panjang 16,5 m. Berdasarkan analisis hasil penghitungan diperoleh luas poligon tertutup seluas 499,53 m2. Pada penembakan dari titik B ke C diapatkan h sebesar -0,22 m, penembakan dari titik C ke D didapatkan h sebesar -0,315, dan penembakan ke titik D didapatkan h sebesar -0,08. Ketiga pengukuran tersebut h-nya menunjukkan hasil yang negatif. Hal tersebut menunjukkan perbedaan tinggi yang lebih rendah dari titik penembakan ke titik yang ditembak. Pada kelompok lain yang mengukur polygon tertutup yang sama, data yang didapatkan juga tidak jauh berbeda dengan hasil pengukuran yang dilakukan oleh kelompok kami. Hanya ada beberapa data yang sedikit berbeda. Perbedaan hasil data yang didapatkan dapat dikarenakan oleh beberapa factor, diantaranya yaitu orang yang melakukan penembakan tidak sama dari awal sampai akhir sehingga didapatkan data yang kurang valid.

28

2. Pengukuran Kontur Kontur adalah garis hubung antara titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Garis yang dimaksud disini adalah garis khayal yang dibuat untuk menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Walaupun garis tersebut mengubungkan antara dua titik, namum bentuk dan polanya tidak merupakan garis patah-patah. Garis-garis tersebut dihaluskan (smoothing) untuk membuat kontur menjadi luwes atau tidak kaku. Hal ini diperbolehkan pada proses kartografi (Yuwono, 2004). Ada beberapa metode dalam menentukan garis kontur antara lain dengan menggunakan theodolit, abney level, waterpas selang plastik, dan ondolondol (A-frame) (Fahmuddin, 2004). Pada praktikum kali ini penentuan garis kontur dilakukan dengan menggunakan theodolit. Pembuatan kontur ini pertama-tama dengan menentukan grid atau titik-titik yang akan ditembak. Pada praktikum kali ini titik 0 dengan koordinat 733'27.5" dan 11051'39.5". Titik 0-1 dengan koordinat 733'39.7" dan 11051'28.5" diketahui jarak 0 ke titik 1 sebesar 15 m. Titik 0-2 dengan koordinat 733'28.5" dan 11051'39.8" diketahui jarak titik 0 ke 2 sebesar 30 m. Titik 0-3 dengan koordinat 733'39.8"dan 11051'29.1"diketahui jarak titik 0 ke 3 sebesar 44,962 m. Titik 0-4 dengan koordinat 733'39.9" dan 11051'27" diketahui jarak titik 0 ke 4 sebesar 59,898 m. Titik 0-5 dengan koordinat 733'39.9" dan 11051'27" diketahui jarak titik 0 ke 5 sebesar 14,861 m. Titik 0-6 dengan koordinat 733'40.6" dan 11051'26.9" diketahui jarak titik 0 ke 6 sebesar 30 m. Titik 0-7 dengan koordinat 733'41.3" dan 11051'26.7" diketahui jarak titik 0 ke 7 sebesar 37,903 m. Titik 5-8 dengan koordinat 733'41.4" dan 11051'26.4" diketahui jarak titik 5 ke 8 sebesar 45 m. Titik 5-9 dengan koordinat 733'41.8" dan 11051'26.4" diketahui jarak titik 5 ke 9 sebesar 60 m. Titik 5-10 dengan koordinat 733'40" dan 11051'27.2" diketahui jarak titik 5 ke 10 sebesar 15 m. Titik 10-11 dengan koordinat 733'40.3" dan 11051'27.7" diketahui jarak titik 10 ke 11 sebesar 15 m. Titik 10-12 dengan koordinat 733'40.4" dan 11051'28.3" diketahui jarak titik 10 ke 12 sebesar 30 m. Titik 10-13 dengan koordinat 733'40.6"

29

dan 11051'28.7" diketahui jarak titik 10 ke 13 sebesar 45 m. Titik 10-14 dengan koordinat 733'41"dan 11051'27" diketahui jarak titik 10 ke 14 sebesar 12,389 m. Titik 10-15 dengan koordinat 733'41.6" dan 11051'26.7" diketahui jarak titik 10 ke 15 sebesar 47,634 m. Titik 11-16 dengan koordinat 733'40.7" dan 11051'27.5" diketahui jarak titik 11 ke 16 sebesar 50 m. Titik 11-17 dengan koordinat 733'41.9" dan 11051'27.2" diketahui 733'41" dan 11051'27.9" diketahui jarak titik 11-17 sebesar 14,633 m. Titik 12-18 dengan koordinat 733'41" dan 11051'27.9" diketahui jarak titik 12 ke 18 sebesar 15,033 m. Titik 12-19 dengan koordinat 733'42.0"dan 11051'27.3" diketahui jarak titik 12 ke 19 sebesar 62,923 m. Titik 13-20 dengan koordinat 733'42.0" dan 11051'27.3" diketahui jarak titik 13 ke 20 sebesar 15 m. Titik 13-21 dengan koordinat 733'41" dan 11051'28" diketahui jarak titik 13 ke 21 sebesar 29,963 m. Titik 21-22 dengan koordinat 733'42.2" dan 11051'28" diketahui jarak titik 21 ke 22 sebesar 34 m. Titik 9-23 dengan koordinat 733'41.8" dan 11051'26.9"diketahui jarak titik 9 ke 23 sebesar 15 m. Titik 9-24 dengan koordinat 733'41.7" dan 11051'26.6" diketahui jarak titik 9 ke 24 sebesar 30 m. Diketahui elevasi titik 0 setinggi 109 m. Titik elevasi 0-1 setinggi 110 m dengan tinggi tempat 109.25. Titik elevasi 0-2 setinggi 110 m dengan tinggi tempat 109.825. Titik elevasi 0-3 setinggi 111 m dengan tinggi tempat 110.225. Titik elevasi 0-4 setinggi 111 m dengan tinggi tempat 110,49. Titik elevasi 0-5 setinggi 107 m dengan tinggi tempat 108,45. Titik elevasi 0-6 setinggi 105 m dengan tinggi tempat 107,715. Titik elevasi 0-7 setinggi 101 m dengan tinggi tempat 107,205. Titik elevasi 5-8 setinggi 102 m dengan tinggi tempat 107,462. Titik elevasi 5-9 setinggi 105 m dengan tinggi tempat 107,812. Titik elevasi 5-10 setinggi 121 m dengan tinggi tempat 109,482. Titik elevasi 10-11 setinggi 118 m dengan tinggi tempat 109,487. Titik elevasi 10-12 setinggi 119 m dengan tinggi tempat 109,537. Titik elevasi 1013 setinggi 118 m dengan tinggi tempat 109,622. Titik elevasi 10-14 setinggi 103 m dengan tinggi tempat 105,928. Titik elevasi 10-15 setinggi 107 m dengan tinggi tempat 106,066. Titik elevasi 11-16 setinggi 103 m dengan

30

tinggi tempat 107,172. Titik elevasi 11-17 setinggi 103 m dengan tinggi tempat 105,955. Titik elevasi 12-18 setinggi 103 m dengan tinggi tempat 106,361. Titik elevasi 12-19 setinggi 1021 m dengan tinggi tempat 105,85. Titik elevasi 13-20 setinggi 108 m dengan tinggi tempat 108,517. Titik elevasi 13-21 setinggi 105 m dengan tinggi tempat 107,216. Titik elevasi 2122 setinggi 103 m dengan tinggi tempat 106.326. Titik elevasi 9-23 setinggi 108 m dengan tinggi tempat 107,332. Titik elevasi 9-24 setinggi 108 m dengan tinggi tempat 107,552. Setelah didapatkan data-data pengukuran yang dihasilkan dari penembakan dibuat peta untuk membentuk garis kontur. Garis-garis kontur tersebut dibuat untuk mengetahui bada tinggi suatu tempat dengan tempat yang lain. Hasil pengukuran dari penembakan pada kelompok ini, hasilnya hampir sesuai dengan dilapang. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa perbedaan antara hasil pengukuran dengan keadaan sebenarnya dilapang. Perbedaan hasil pengukuran tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran, antara lain sebagai berikut : a. Keadaan alam yang tidak menentu Penggunaan GPS sangat ditentukan oleh keadaan cuaca yang ada. Apabila langit tertutup awan, maka GPS sulit untuk membaca lokasi yang diukur. Begitu pula dengan medan lokasi yang akan diukur, medan yang tidak beraturan akan mempengaruhi hasil dari pengukuran. Cahaya yang kurang akan mempengaruhi pembacaan sudut vertical maupun horisontal karena teropong tidak begitu jelas sehingga dalam pembacaan agak sukar. b. Kesalahan dalam pemasangan dan penyetingan alat Pada pemasangan dan penyetingan alat diperlukan tingkat ketelitian yang tinggi. Jika ada yang terlewat maka hasil yang diperoleh tidak maksimal dan hasil pembacaan bisa saja tisak ssuai dengan keadaan di lapang.

31

c. Kesalahan dalam pembacaan Pembacaan sebaiknya dilakukan oleh satu orang saja karena pemahaman dalam pembacaan satu orang dengan yang lain itu berbeda-beda. Keadaan mata dari pembaca akan mempengaruhi hasil. Kebanyakan orang pada waktu mengukur menggunakan satu mata saja, maka mata itu akan lelah dan lambat laun akan mengakibatkan kasarnya pembacaan. Selain itu, kurang telitinya pembaca saat menafsirkan pengukuran atau kurannya pemahaman mengenai pembacaan mistar akan mempengaruhi hasil pengukuran juga.

32

F. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan a. Polygon tertutup a) Poligon tertutup yang dilakukan terdiri dari penembakan ke 4 titik. b) Penembakan titik pertama berada pada 15,5o dari utara, dengan panjang 14 m. c) Penembakan titik kedua berada pada 52,54o dari titik pertama, dengan panjang 26 m. d) Penembakan titik ketiga berada pada 28,8o dari titik kedua, dengan panjang 32 m. e) Penembakan titik keempat berada pada 36,35o dari titik tiga, dengan panjang 16,5 m. f) Berdasarkan analisis hasil penghitungan diperoleh luas poligon tertutup seluas 499,53 m2. g) Pada penembakan dari titik B ke C, C ke D, dan titik D pengukuran h-nya menunjukkan hasil yang negatif, hal tersebut menunjukkan perbedaan tinggi yang lebih rendah dari titik penembakan ke titik yang ditembak. b. Pengukuran kontur a) Ada beberapa perbedaan antara hasil pengukuran dengan keadaan sebenarnya dilapang. b) Pembacaan pengukuran yang dilakukan oleh orang yang berbeda dan kondisi yang berbeda maka hasilnya juga berbeda. c) Faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran yaitu keadaan alam yang tidak menentu, kesalahan dam pemasangan dan penyetingan alat serta kesalahan dalam pembacaan. 2. Saran Sebaiknya diadakan buku petunjuk praktikum agar praktikan dapat mempelajari terlebih dahulu gambaran praktikum yang akan dilaksanakan.

33

DAFTAR PUSTAKA Anonima. 2009. Alat Ukur Tanah. http://kambingonline.com. Diakses pada tanggal 22 Juni 2011. Anonimb. 2009. Definisi Ilmu Ukur Tanah (Surveying). http://pksm.mercubuana.ac.id/modul/. Diakses pada tanggal 22 Juni 2011. Anonimc. 2010. Ilmu Ukur Tanah. http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_ukur_tanah. Diakses pada tanggal 22 Juni 2011. Anonimd, 2010. Pengertian Penginderaan Jauh. http://www.w3.org/TR/html4/. Diakses pada tanggal 22 Juni 2011. Astanto, Triono Budi. 2001. Pekerjaan Dasar Survei. Kanisius. Yogyakarta. Basuki, Slamet. 2006. Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Fahmuddin Agus dan Widianto (2004). Petunjuk Praktis Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering. Bogor: WORLD AGROFORESTRY CENTRE ICRAF Southeast Asia. Hal 42 44 Frick, Heinz. 1984. Ilmu dan Alat Ukur Tanah. Kanisius. Yogyakarta Kraak, M.J. & Omerling, F.J. (1996). Cartography Visualization of spasial data. London. Muhamadi, Mansur. 2004. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Teknis Pengukuran dan Pemetaan Kota. http://oc.its.ac.id/ambilfile. Diakses pada tanggal 23 Juni 2011. Muhamadi, Mansur. 2004. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Teknis Pengukuran dan Pemetaan Kota. Materi : Bab XVI. Theodolit. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Safru, Urly. 2010. Ilmu Ukur Tanah 2 tentang Theodolit. Diakses di http://oerleebook.files.wordpress.com. pada tanggal 22 Juni 2010. Soetomo. 1964. Ilmu ukur tanah. Kanisius. Jakarta Sosrodarsono, S. dan Takasaki, M. (Editor), (1993), Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan, PT Pradnya Paramita, Jakarta, Bab 5. Sosrodarsono, Suyono. 1983. Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan. PT Pradnya Paramita. Jakarta. Wirshing, J.R. and Wirshing, R.H., (1990), Teori dan Soal Pengantar Pemetaan Terjemahan, Introductory Surveying, Schaum Series, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1995, Bab 8. Wolf, Paul R & Ghilani, Charles D. 2002. Elementary Surveying : An Introduction to Geomatics. Prentice Hall. New Jersey.

34

Wongsotjitro, Soetomo. 2009. Theodolite sebagai Alat Ukur Tanah. Kanisius. Yogyakarta. Yuwono. 2000. Kartograi Dasar. Program Studi Teknik Geodesi FTSP-ITS Surabaya. Yuwono. 2004. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Teknis Pengukuran dan Pemetaan Kota. Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya.