Anda di halaman 1dari 20

BAB IV

KOMPLEKSOMETRI
4.1. Tujuan Percobaan
- Memahami prinsip-prinsip dasar titrasi kompleksometri.
- Menentukan kesadahan air.
4.2. Tinjauan Pustaka
Kompleks adalah dibentuk melalui reaksi ion logam, sebuah kation,
dengan sebuah anion atau molekul netral yang larut namun sedikit terdisosiasi.
Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan senyawa
kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks. Salah satu zat
pembentuk kompleks yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri
adalah garam dinatrium etiln diamina tetra asetat (dinatrium EDTA).
EDTA merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA
sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion
logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan
multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul. Suatu
EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah besar
ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan
yang agak asam, dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna
kompleks logam, yang menghasilkan produk baru seperti CuHY
-
.
Faktor-faktor yang membuat EDTA sebagai titrimetri:
1. selalu membentuk kompleks ketika direaksikan dengan ion logam
2. kestabilannya dalam membentuk kelat sangat konstan sehingga reaksi berjalan
sempurna (kecuali dengan logam alkali)
3. dapat bereaksi cepat dengan banyak jenis ion logam
4. telah dikembangkan indikatornya secara khusus
5. mudah diperoleh bahan baku primernya
6. dapat digunakan baik sebagai bahan yang dianalisis maupun sebagai bahan
untuk standardisasI
[4]

EDTA akan membentuk kompleks yang stabil dengan semua logam
kecuali logam alkali seperti natrium dan kalium. Logam alkali tanah seperti
kalsium dan magnesium membentuk kompleks yang tidak stabil dengan EDTA
pada pH rendah, karena titrasi logam-logam ini dengan EDTA dilakukan pada
larutan buffer ammonia pH 10. Persamaan reaksi umum pada titrasi
kompleksometri adalah:
M
n+
+ Na
2
EDTA (MEDTA)
n-4
+ 2H
+ [1]

Untuk mendeteksi titik akhir titrasi digunakan zat warna. Indikator zat
warna ditambahkan pada larutan logam pada saat awal sebelum dilakukan titrasi
dan akan membentuk kompleks berwarna dengan sejumlah logam kecil.
[1]

Indikator yang dapat digunakan untuk titrasi kompleksometri ini antara lain:
1. Mureksida
garam monium dari asam purpurat dan anionnya mempunyai struktur (1),
marupakan indikator ion logam pertama yang digunakan dalam titrasi EDTA,
berwarna ungu kemerahan pH 9 sampai pH 11 dan biru di atas pH 11.
2. Biru Tua Solokrom atau Kalkon
Nama lain hitam eriokrom RC mempunyai 2 atom hidrogen fenolat yang dapat
terionisasi secara bertahap dengna pK masing-masing 7,4 dan 13,5, pada titrasi
kalsium secara kompleksometri dengna adanya magnesium ini harus dilakukan
pada pH kira-kira 12,3.Perubahan warnanya dari merah jambu menjadi biru
murni.
3. Kalmagit
Indikator ini mempunyai perubahan warna ayng sama seperti hitam solokrom,
tetapi warnanya agak lebih jelas dan tajam. Larutan indikator ini stabil hampir
tanpa batas waktu.
4. Kalsikrom
Mempunyai struktur lingkaran dan sangat selektif untuk kalsium. Zat ini
sebenarnya tidak begitu sesuai sebagai indikator EDTA.
[3]
5. Hitam Solokrom (Hitam Eriokrom T)
Indikator ini peka terhadap perubahan kadar logam dan pH larutan. Pada pH 8 -
10 senyawa ini berwarna biru dan kompleksnya berwarna merah anggur. Pada
pH 5 senyawa itu sendiri berwarna merah, sehingga titik akhir sukar diamati,
demikian juga pada pH 12. Umumnya titrasi dengan indikator ini dilakukan
pada pH 10.
6. Jingga xilenol
Indikator ini berwarna kuning sitrun dalam suasana asam dan merah dalam
suasana alkali. Kompleks logam-jingga xilenol berwarna merah, karena itu
digunakan pada titrasi dalam suasana asam.
[4]
Berikut adalah kurva titrasi kompleksometri

Gambar 4.2.1. Kurva titrasi 50 mL 0,01 M Ca
2+
dititrasi dengan 0,01 M EDTA pada
pH 8, 10, dan 12
Macam-macam titrasi komplesometri
A. Titrasi langsung
Merupakan metode yang paling sederhana dan sering dipakai. Larutan ion
yang akan ditetapkan ditambah dengan buffer, misalnya buffer pH 10 lalu
ditambah indicator logam yang sesuai dan dititrasi langsung dangan larutan
baku dinatrium edetat. Untuk mecegah pengendapan logam hidroksida atau
garam basa dengan buffer, dilakukan dengan penambahan pembentuka
kopleks pembantu misalnya tartrat, sitrat, atau trietanol amin.
B. Titrasi kembali
Cara ini penting untuk logam yang mengendap dengan hidrokasida pada pH
yang dikehendaki untuk titrasi, untuk senyaw yang tidak larut misalnya: sulfat,
kalsium oksalat, untuk senyawa yang membentuk kompleks yang sangat
lambat dan ion logam yang membentuk kompleks lebih stabildengan natrium
edeta daripada dengan indicator. Pada keadaan demikian, dapat ditambahkan
larutan baku dinatrium edetat berlebihan kemudian larutan ditambah buffer
pada pH yang diinginkan, dan kelebihan dinatrium edetat dititrasi kembali
dengan larutan baku ion logam. Titik akhir ditunjukkan dengan pertolongan
indikator logam.
C. Titrasi subtitusi
Cara ini dilakukan bila ion logam tersebut memberikan itik akhir yang jelas
apabila dititrasi secara langsung atau dengan titrasi kembali, atau juga ion
logam tersebut membentuk komples dengna dinatrium edetat lebih stabil
daripada logam lain seperti magnesium dan kalsium. Kalsium, timbal dan
raksa dapat ditetapkan dengan cara ini dengan indikator hitam eriokrom
dengan hasil yang memuaskan.
D. Titrasi tidak langsung
Cara titrasi tidak langsung dapat digunakan untuk menetukan kadar ion-ion
seperti anion yang tidak bereaksi dengna pengkelat. Sebagi contoh barbiturate
tidat bereaksi dengan EDTA, akan tetapi secara kuantitatif dapt diendapkan
dengan ion merkuri dalam keadaan bas sebagai ion kompleks. Setelah
pengendapan dengan kelebihan Hg(II), kompleks dipindahkan dengan cara
penyaringan dan dilarutkan kembali dalam larutan baku EDTA berlebihan.
E. Titrasi alkalimetri
Pada titrasi ini, proton dari dinatrium edetat, Na
2
H
2
Y dibebaskan oleh logam
berat dan dititrasi dengan larutan baku alkali sesuai dengan persamaan reaksi
berikut:
M
n+
+ H
2
Y
2-
(MY)
+n-4
+ 2H
- [1]

Logam larutan yang ditetapkan dengan metode ini sebelum dititrasi harus
dalam suasana netral terhadap indikator yang digunakan. Penetapan titik akhir
menggunakan indikator asam-basa atau secara potensiometri.
[1]


Titrasi kompleksometri digunakan untuk menentukan kandungan garam-
garam logam seperti:
- bismut subkarbonat

- bismut subnitrat

- kalsium karbonat

- kalsium klorida

- kalsium glukonat

- kalsium hidrogen fosfat

- kalsium hidroksida

- larutan topikal kalsium pantotenat

- kalsium sulfat

- magnesium karbonat

- magnesium stearat

- magnesium sulfat

- mangan sulfat

- zink sulfat
[4]
Kesadahan adalah salah satu sifat kimia yang dimiliki oleh air. Penyebab
air menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion Ca
2+
, Mg
2+
, atau juga dapat
disebabkan karena adanya ion-ion lain dari polyvalent metal (logam bervalensi
banyak) seperti Al, Fe, Mn, Sr, dan Zn dalam bentuk garam sulfat, klorida dan
bikarbonat dalam jumlah kecil.
Pengertian kesadahan air adalah kemampuan air mengendapkan sabun,
dimana sabun ini diendapkan oleh ion-ion Ca
2+
dan Mg
2+
. Karena penyebab
dominan/utama kesadahan adalah Ca
2+
dan Mg
2+
, khususnya Ca
2+
maka arti dari
kesadahan dibatasi sebagai sifat/karateristik air yang menggambarkan konsentrasi
jumlah dari ion Ca
2+
yang dinyatakan sebagai CaCO
3
.




Kesadahan ada dua jenis, yaitu:
- Kesadahan sementara adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya garam-
garam bikarbonat, seperti Ca(HCO
3
)
2
, kesadahan sementara ini dapat dengan
mudah dieliminir dengan pemanasan (pendidihan), sehingga terbentuk endapan
CaCO
3
atau MgCO
3
.
Ca(HCO
3
)
2

(dipanaskan)
CO
2(gas)
+ H
2
O
(cair)
+ CaCO
3(endapan)

Mg(HCO
3
)
2(dipanaskan)
CO
2(gas)
+ H
2
O
(cair)
+ MgCO
3(endapan)
[4]
- Kesadahan tetap adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya garam-garam
klorida, sulfat dan karbonat, misal CaSO
4
, MgSO
4
, Cal
2
, MgCl
2
. Kesadahan
tetap dapat dikurangi dengan penambahan larutan soda kapur (terdiri dari
larutan natrium karbonat dan manesium hidroksida) sehingga terbentuk
endapan kalium karbonat (padatan/endapat) dan magnesium hidroksida
(padatan/ endapan) dalam air.
[4]

Kation penyebab kesadahan dapat dikurangi atau dihilangkan dengan proses-
proses sebagai berikut:
- Pemanasan
Penghilang kesadahan dengan cara pemanasan hanya dapat menghilangkan
kesadahan sementara yakni garam Ca(HCO
3
)
2
dan Mg(HCO
3
)
2
. Jika air yang
mengandung garam-garam tersebut dipanaskan maka akan terjadi senyawa
CaCO
3
dan MgCO
3
yang mempunyai sifat kelarutan kecil di dalam air
sehingga dapat diendapkan.
- Proses pengendapan kimia
Di dalam proses penghilang kesadahan dengan pengendapan kimia tujuanya
adalah untuk membentuk garam-garam kalsium dan magnesium menjadi
bentuk garam-garam yang tidak larut, sehingga dapat diendapkan dan dapat
dipisahkan dari air.
- Proses pertukaran ion
Pada proses pertukaran ion, kalsium dan magnesium ditukar dengan sodium.
Pertukaran ini berlangsung dengan cara melewatkan air sadah ke dalam tempat
butiran yang terbuat dari bahan yang mempunyai kemampuan menukarkan
ion. Bahan penukar ion pada awalnya menggunakan bahan yang berasal dari
alam yaitu greensand yang biasa disebut zeloit.
[5]

Tabel 4.2.2 derajat kesadahan
Drajat Kesadahan Ca (ppm) Mg (ppm) CaCO
3
mg/L
Lunak < 50 < 2,9 1-75
Agak sadah 50-100 2,9-5,9 75-150
Sadah 100-200 5,9-11,9 150-300
Sangat sadah >200 > 11,9 > 300

4.1. Tinjauan Bahan
Amonia (NH
3
) atau azane adalah senyawa dari nitrogen dan hydrogen,
tidak berwarna dengan karateristik berbau tajam. Gas ammonia dapat
menyebabkan kerusakan paru-paru dan kematian. Amonia memberikan signifikasi
terhadap gizi kebutuhan organism, baik langsung atau tidak langsung juga
merupakan bahan untuk sintesis banyak obat-obatan dan digunakan di banyak
produk pembersih.
Masa molar : 17,031 g / mol
Penampilan : gas yang tidak berwarna dan berbau sangat menyengat
Titik lebur : -77,73 C
Titik didih : -33,34 C
Keasaman (pKa) : 32,5
Kebasahan (pKb) : 4,75
Amonium klorida (NH
4
Cl) sebuah senyawa anorganik. Kristal putih
garam, sangat larut dalam air. Mineral ini umumnya terjadi pada pembakaran
(dibentuk oleh kondensasi dari gas batubara yang diturunkan). Amonia klorida
terjadi secara alami di gunung berapi daerah pembentukan pada batuab volkanik
dekat asap-releasing ventilasi (fumarol). Kristal langsung membentuk gas, dan
cenderung berumur pendek, karena mereka larut dalam air.
Masa molar : 53,491 g / mol
Penampilan : putih, hidroskopis
Titik lebur : 338 C
Keasaman (pKa) : 9,245
EDTA (C
10
H
16
N
2
O
5
) adalah asam karboksilat poliamino dan berwarna,
tidak larut dalam air padat. Merupakan anggota dari asam karboksilat poliamino
keluarga ligan. EDTA 4 - biasanya mengikat kation logam melalui dua amina dan
empat karboksilat.
Masa molar : 292,24 g / mol
Penampilan : putih, hidroskopis
Titik lebur : 237-245 C
Keasaman (pKa) : 1,5
Murexide (NH
4
C
8
H
4
N
5
O
6
) juga disebut ammonium purpurate atau MX,
adalah amonium garam dari asam purpura . Ini dapat dibuat dengan memanaskan
alloxantin dalam amonia gas sampai 100 C, atau dengan uramil mendidih (5-
aminobarbituric asam) dengan oksida merkuri. Murexide sedikit larut dalam air.
Dalam larutan asam kuat berwarna kuning, larutan asam lemah berwarna ungu-
kemerahan, larutan basa berwarna biru-ungu.
Rumus molekul : NH
4
C
8
H
4
N
5
O
6

Massa molar : 284,19 g / mol
Penampila : bubuk ungu kemerahan
Natrium hidroksida (NaOH) juga dikenal sebagai soda kaustik
atau sodium hidroksida adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium hidroksida
membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air, natrium
hidroksida digunakan di berbagai macam bidang industri sebagai basa dalam
proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen.
Natrium hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan dalam laboratorium
kimia. Natrium hidroksida lembab cair dan secara spontan, menyerap karbon
dioksida dari udara bebas, sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas
ketika dilarutkan, juga larut dalam etanol dan methanol, tidak larut dalam dietil
eter, meninggalkan noda kuning pada kain dan kertas.

Masa molar : 39,9971 g /mol
Penampilan : zat padat putih
Titik lebur : 318 C
Titik didih : 1390 C
Densitas : 2,1g /mol
Kebasahan (pKb) : -2,43
Seng sulfat (ZnSO
4
) adalah senyawa anorganik dengan rumus ZnSO
4
berupa padatan tak berwarna yang merupakan sumber umum dari ion seng larut.
Berat molekul : 161,47 g/mol
Titik lebur : 680
o
C
Titik didih : 740
o
C
Densitas : 5,7 g/100 ml
4.3. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan
- batang pengaduk
- beakerglass
- botol aquadest
- buret
- corong
- Erlemeyer
- gelas arloji
- kertas saring
- labu ukur
- neraca analitik
- pipet tetes
- pipet volume
- statif dan klem
- termometer
B. Bahan-bahan yang digunakan
- air sumur
- ammonia (NH
3
)
- ammonium klorida (NH
4
Cl)
- aquadest (H
2
O)
- etiendiamintetraasetat
(HO
2
CCH
2
)
2
NHCH
2
CH
2
N(CH
2
CO
2
CO
2
H)
2
)
- indikator EBT-NaCl
- indikator Murexide
(NH
4
C
8
H
4
N
5
O
6
)-NaCl
- natrium hidroksida (NaOH)
- seng sulfat (ZnSO
4
)



4.4. Prosedur percobaan
A. Preparasi larutan
- membuat larutan seng sulfat 0,01 M sebanyak 100 mL
- membuat larutan buffer pH 10 sebanyak 100 mL (6,75 gram amonium
klorida ditambahkan dengan 57 mL larutan amonium pekat)
- membuat larutan natrium hidroksida 2 M sebanyak 100 mL
- membuat larutan EDTA 0,01 M sebanyak 500 mL
- membuat campuran EBT-NaCl dan Murexide-NaCl.
B. Standarisasi larutan EDTA 0,01 M
- memipet 25 mL larutan seng sulfat 0,01 M, memasukkan ke dalam
Erlenmeyer 250 mL
- menambahkan kurang lebih 75 mL aquadest dan 2 mL larutan buffer pH
10
- mengocok lalu menambahkan sedikit indikator EBT-NaCl sampai warna
larutan merah anggur
- mentitrasi dengan larutan EDTA 0,01 M sampai warna lasrutan menjadi
biru
- mengulangi percobaan sampai 3 kali.
C. Menentukan kesadahan total
- memipet 25 mL larutan contoh, memasukkan ke dalam Erlenmeyer 250
mL
- menambahkan 20 tetes larutan NaOH 2 M dan sedikit indikator
Murexide-NaCl
- mentitrasi dengan larutan EDTA sampai terjadi warna merah anggur
- melakukan percobaan samapi 3 kali.




4.5. Data Pengamatan
4.5.1 Data pengamatan standarisasi larutan EDTA
Keterangan I II II
Volume larutan seng sulfat dititrasi (mL) 102 102 102
Volume larutan EDTA - peniter (mL) 43,1 42,9 43,4
Volume rata-rata larutan seng sulfat dititrasi (mL) 43,1
4.5.2 Data pengamatan penentuan kesadahan total
Keterangan I II III
Volume larutan dititrasi - sampel (mL) 25 25 25
Volume larutan EDTA - peniter (mL) 5,1 4,4 5
Volume rata-rata larutan yang dititrasi-sampel (mL) 4,8
4.5.3 Data pengamatan penentuan kesadahan tetap
Keterangan I II III
Volume larutan dititrasi - sampel (mL) 25 25 25
Volume larutan EDTA - peniter (mL) 10,3 9,1 10,2
Volume rata-rata larutan yang dititrasi-sampel (mL) 9,9
Tabel 4.6.4. Data pengamatan perubahan standarisasi EDTA
Standarisasi larutan EDTA Perubahan Warna
Larutan titran dengan indicator EBT-NaCl
ZnSO
4
+ Larutan bufer

H
+

Merah anggur
Standarisasi larutan EDTA
ZnSO
4
+ Larutan buffer + EDTA
Biru
Tabel 4.6.5. Data pengamatan perubahan penentuan kadar Ca
2+

Menentukan kesadahan total Perubahan Warna
Larutan titran dengan indicator Murexide-NaCl
Larutan sampel + NaOH + Murexide NaCl
Ungu
Penentuan kadar Ca
2+
dengan EDTA
Larutan sampel + NaOH + Murexide NaCl +
EDTA
Merah anggur


Tabel 4.6.6. Data pengamaan perubahan penentu kadar Mg
2+

Menentukan kesadahan tetap Perubahan Warna
Larutan titran dengan indicator EBT-NaCl
Larutan sampel + NaOH + EBT NaCl
Ungu
Penentuan kadar Mg
2+
dengan Murexide-NaCl
Larutan sampel + NaOH + EBT NaCl + EDTA
Merah angur
4.6. Persamaan Reaksi
A. Standarisasi larutan EDTA
Zn
2+
+ HIn
2-
(biru)
ZnIn
-
(merah)
+ H
+

(seng) (EDTA) (seng EDTA) (hidrogen)
(Khopkar)
B. Menetukan kandungan Ca
2+

Ca
2+
+ HIn
2-
(biru)
CaIn
-
(merah)
+ H
+

(Kalsium) (EDTA) (kalsium EDTA) (hidrogen)
(Khopkar)
C. Menentukan kadar Ca
2+
dan Mg
2+

Ca
2+
+ Mgy
2-
(biru)
-
Cay
2-
+ Mg
2+
(kalsium) (magnesium) (kalsium EDTA) (magnesium)

Mg
2+
+ Hin
2-
(biru)
MgIn
-

(merah)
+ H
+
(magnesium) (EDTA) (magnesium EDTA) (hidrogen)
(Khopkar)

4.7. Pembahasan
1. Memahami Kompleksometri
- Kompleksometri ialah jenis titrasi dimana titrant dan titrat sailing
mengkompleks, jadi membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi-reaksi
pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleksbanyak sekali,
dan penerpan juga banyak, tidak hanya dalam titrasi
- Penambahan indikator bertujuan untuk mengetahui kadar kesadahan total
dan kesadahan tetap. Kesadahan tetap menggunakan indikator EBT-
NaCl, kesadahan tetap menggunakan indikator Murexide. Karena pada
pH diatas 11, murexide berubah menjadi biru
- EDTA sbagai lartan baku skunder karena EDTA lalu membentuk
kompleks ketika direksiakan dengan ion logam dan kestabilan EDTA
sangat konstan sehingga reaksi sempurna
- ZnSO
4
sebagai larutan baku primer karena mudah bereaksi dengan
larutan EDTA
- Perubahan warna terjadi karena larutan tersebut sudah mencapi titik
ekuivalen
- Konsentrasi EDTA yang didapat pada saat praktikum adalah 0,00575M,
sedangkan secara teori 0,01M. Ini disebabkan karena EDTA membentuk
senyawa kompleks yang lebih stabil.
2. Memahami Kesadahan
- Menentukan kesadahan air menggunakan titrasi karena untuk
menentukan kesadahan diperlukan volume titrasi dari air sampel
- Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air,
umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam
karbonat. Air sadah adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi,
sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Selain
ion kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan juga bisa merupakan
ion logam lain maupun garam-garam bikarbonat dan sulfat. Metode
paling sederhana untuk menentukan kesadahan air adalah dengan sabun.
Dalam air lunak, sabun akan menghasilkan busa yang banyak
- Penyebab kesalahan dari pratikum yang kami lakukan, kami
menyimpulkan kesalahan yang terjadi karena faktor penimbangan
EDTA, peimbangan tidak bisa dipastikan secara sempurna karena
menggunakan timbangan neraca
- Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan, kami menyimpulkan
bahwa kesadahan air, berbeda-beda tergantung air yang kita uji dan
tingkat kesadahan air tersebut.
4.8. Kesimpulan
- Kompleksometri merupakan titrasi dimana reaksi antara titran dan titrat
membentuk senyawa kompleks
- Kadar kesadahan dalam air sampel
Kadar Ca dalam air sampel
Kandungan Ca pada air sampel sumur 1 yang pertama mencapai 81,6
ppm, air tersebut masih bisa digunakan karena masih dalam ambang
batas kesadahan air.
Kadar Ca pada air sampel sumur 2 tingkat kesadahan mencapai 70,4
ppm, air tersebut masih bisa digunakan karena masi di baha batas
kesadahan air
Kadar Ca pada air sampel yang ketiga, mengunakan air kran tingkat
kesadahan mencapai 80 ppm air tersebut masih bisa digunakan karena
masih di bawah batas kesadahan air
Kadar Mg dalam air sampel
Kadar Mg pada air sammpel sumur 1, tingkat kesadahan mencapai
80,2872 ppm air tersebut sudah tidak bisa digunakan karena melampaui
batas kesadahan air
Kadar Mg pada air sampel sumur 2 tingkat kesadahan mencapai 71,3448
ppm, air tersebut sudah tidak bisa digunakan karena melampaui batas
kesadahan air
Kadar Mg pada air sampel 3, mengunakan air kran tingkat kesadahan
mencapai 79,704ppm, air terseb ut sudah tidak bisa digunakan karena
melampaui batas kesadahan air
Kadar Ca dan Mg dalam air sampel
Kadar Ca dan Mg dalam air sampel yang pertama mencapai 165 ppm, air
masih bisa digunakan
Kadar Ca dan Mg dalam air sampel yang kedua mencapai 364 ppm air
tidak bisa digunakan karena melebihi ambang batas kesadahan air.
Kadar Ca dan Mg dalam air sampel yang ketiga mencapai 163 ppm air
masih bisa digunakan karena pada batas normal kesadahan air








IV Kompleksometri
1. Pembuatan larutan standard seng sulfat 0,01 M
M ZnSO
4
=
g
Mr

1000
mL

0,01 M =
g
161

1000
100

W = 0,161 gram
Jadi untuk membuat larutan standard ZnSO
4
0,01 M yaitu dengan
menimbang 0,161 gram ZnSO
4
dan melarutkannya didalam labu ukur 100
mL sampai tanda batas.
2. Pembuatan larutan NaOH 2 M
M NaOH =
g
Mr

1000
mL

2 M =
g
40

1000
100

W = 8 gram
Jadi untuk membuat larutan standard NaOH 2 M yaitu dengan menimbang
8 gram NaOH dan melarutkannya didalam labu ukur 100 mL sampai tanda
batas.
3. Pembuatan larutan standard EDTA 0,01 M
MEDTA =
g
Mr

1000
mL

0,01 M =
g
292

1000
500

W = 1,46 gram
Jadi untuk membuat larutan EDTA 0,01 M yaitu dengan menimbang 1,46
gram dan melarutkannya didalam labu ukur 500 mL sampai tanda batas.
4. Perhitungan Standarisasi
Diketahui :
M
ZnSO4
= 0,01 M
V
ZnSO4
= 25 mL
M
EDTA
= 0,01 M
V
EDTA1
= 43,1 mL
V
EDTA2
= 43,9 mL
V
EDTA3
= 43,4 mL
Vrata-rata =
V
EDTA1
V
EDTA2
V
EDTA3
3

=
43,1 43,9 43,4
3

= 43,47 mL
V
ZnSO4
M
ZnSO4
= V
EDTA
M
EDTA

25 0,01 = 43,47 M
EDTA

M
EDTA
= 0,00575 M
Jadi Molaritas EDTA adalah 0,00575 M.
5. Menentukan kadar Ca
2+

Diketahui :
V sampel1 = 25 mL
V sampel2 = 25 mL
V sampel3 = 25 mL
M
EDTA
= 0,01 M
V
EDTA1
= 5,1 mL
V
EDTA2
= 4,4 mL
V
EDTA3
= 6 mL
BM Ca
2+
= 40
Ditanya : Kadar Ca+ pada tiap-tiap sampel?
Ca
2+
=
V
EDTA1
M
EDTA
Ca 1000
Vsampel1

=
5,1 0,01 40 1000
25

= 81,6 ppm
Jadi kadar Ca
2+
dari air sampel 1(air sumur 1 ) adalah 81,6 ppm.
Ca
2+
=
V
EDTA2
M
EDTA
Ca 1000
Vsampel1

=
4,4 0,01 40 1000
25

= 70,4 ppm
Jadi kadar Ca
2+
dari air sampel 2 (air sumur 2) adalah 70,4 ppm.
Ca
2+
=
V
EDTA3
M
EDTA
Ca 1000
Vsampel3

=
5 0,01 40 1000
25

= 80 ppm
Jadi kadar Ca
2+
dari air sampel 3(air kran) adalah 80 ppm.
6. Menentukan kadar Ca
2+
dan Mg
2+

Diketahui :
V sampel1 = 25 mL
V sampel2 = 25 mL
V sampel3 = 25 mL
M
EDTA
= 0,01 M
V
EDTA1
= 10,3 mL
V
EDTA2
= 9,1 mL
V
EDTA3
= 10,2 mL
BM
CaCO3
= 100
Ditanya : Kadar Ca
2+
dan Mg
2+
?
Ca
2+
dan Mg
2+
=
V
EDTA1
M
EDTA
BM CaCO
3
1000
25

=
(10,3 0,01) 100 1000
25

= 412 ppm
Jadi kadar Ca
2+
dan Mg
2+
dalam air sampel 1 (air sumur 1) adalah 165
ppm.
Ca
2+
dan Mg
2+
=
V
EDTA2
M
EDTA
BM CaCO
3
1000
25

=
(9,1 0,01) 100 1000
25

= 364 ppm
Jadi kadar Ca
2+
dan Mg
2+
dalam air sampel 2 (air sumur 2) adalah 364
ppm.
Ca
2+
dan Mg
2+
=
V
EDTA
M
EDTA
BM CaCO
3
1000
25

=
(10,2 0,01) 100 1000
25

= 408 ppm
Jadi kadar Ca
2+
dan Mg
2+
dalam air sampel 3 (air kran) adalah 163 ppm.
7. Menentukan kadar Mg
2+

Diketahui :
Kadar Ca
2+
sampel1
= 81,6 ppm
Kadar Ca
2+
sampel2
= 70,4 ppm
Kadar Ca
2+
sampel3
= 80 ppm
Kadar Ca
2+
dan Mg
2+
sampel1
= 412 ppm
Kadar Ca
2+
dan Mg
2+
sampel2
= 364 ppm
Kadar Ca
2+
dan Mg
2+
sampel3
= 408 ppm
BM Mg
2+
= 24,3
BM CaCo
3
= 100
Ditanya : Kadar Mg
2+
pada tiap-tiap sampel?
Mg
2+
= [(Kadar Ca
2+
dan Mg
2+
sampel1
) Kadar Ca
2+
sampel1
)]
BM Mg
2
BM CaCo
3

= [(412) 81,6)
24,3
100
]
= 330,4 0,243
= 80,2872 ppm
Jadi kadar Mg
2+
dalam air sampel 1 (air sumur 1) adalah 80,2872 ppm.
Mg
2+
= [(Kadar Ca
2+
dan Mg
2+
sampel2
) Kadar Ca
2+
sampel2
)]
BM Mg
2
BM CaCo
3

= [(364) 70,4)
24,3
100
]
= 293,6 0,243
= 71,3448 ppm
Jadi kadar Mg
2+
dalam air sampel2 (air sumur 2) adalah 71,3448 ppm.
Mg
2+
= [(Kadar Ca
2+
dan Mg
2+
sampel3
) Kadar Ca
2+
sampel3
)]
BM Mg
2
BM CaCo
3

= [(408) 80)
24,3
100
]
= 328 0,243
= 79,704 ppm
Jadi kadar Mg
2+
dalam air sampel3 (air kran) adalah 79,704 ppm.























DAFTAR PUSTAKA
1. Gholib, Ibnu, Kimia Farmasi Analisi, Pustaka Belajar, Yogyakarta, 2007.
2. Khopkar, konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia, Jakarta,
1990.
3. Basset, J,Vogel Kimia Analisis Kuatitatif Anorganik, Buku Kedokteran
EGC, 1994.
4. (____,http//www.wikipedia.com/27/04/2012.
5. (____,http//www.pdf BAB9 Sadah Air.com/12/05/2012.