Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PEMULIAAN TANAMAN TEKNIK PERSILANGAN BUATAN PADA PADI

LAPORAN PEMULIAAN TANAMAN


TEKNIK PERSILANGAN BUATAN PADA PADI

NAMA BP

: LIONEL RUBBY GINTING : 1010212008

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Perkembangbiakan tanaman secara generatif adalah melalui prosesperkawinan / penyerbukan. Pembuahan sel telur dan perkembangannya hanyaakan terjadi jika butir serbuk sari sampai kepada stigma. Penyerbukan berbedadengan pembuahan, penyerbukan adalah peleburan gamet jantan dan gametbetina. Penyerbukan ada dua macam, yaitu penyerbukan sendiri dan penyerbukansilang. Penyerbukan sendiri adalah proses penyerbukan

kepala putik oleh serbuk sari yang berasal dari bunga itu sendiri atau dari bunga lain pada tumbuhan yangsama.Alat reproduksi tanaman adalah bunga dan pada bunga pada umumnyaterdapat struktur jantan (serbuk sari) dan betina (putik). Pada saat bertemunya serbuk sari ke kepala putik maka terjadilah proses penyerbukan yang nantinya akan menghasilkan buah dan terdapat biji didalamnya untuk meneruskanketurunannya. Pola variasi genetik di alam sangat ditentukan oleh mekanismepenyerbukan pada tanaman. Dalam proses penyerbukan terdapat dua macampenyerbukan, yaitu penyerbukan terbuka (kasmogami) dan penyerbukan tertutup (kleistogami). Penyerbukan silang ialah proses perpindahan

serbuk sari dari anther bungatumbuhan ke stigma bunga tumbuhan lain yang sama atau species yangberkerabat. Penyerbukan dapat dibantu oleh angin dan serangga, burung, keong,dan binatang kecil lain. Contoh tanaman yang menyerbuk sendiri adalah gandum,padi, kedelai dan lain-lain. Penyerbukan silang lebih umum terjadi dibandingdengan penyerbukan sendiri. Penyerbukan silang menghasilkan kombinasi satuanketurunan yang lebih beragam dari keduanya. Pengaruh langsung daripenyerbukan silang adalah banyaknya spesies dari produksi biji yang dihasilkandan bersifat lebih kuat dari turunannya. Secara garis besar Teknik penyerbukan silang buatan: 1. Persiapan Pengamatan bunga : pembungaan, benang sari, putik Mengumpulkan informasi mengenai : asal usul dan sifat tanaman, waktupenyerbukan yang baik Pemilihan induk jantan dan betina Pemilihan bunga-bunga yang akan disilangkan 2.Kastrasi/emaskulasi Membuang semua benang sari dari sebuah kuncup bunga yang akandijadikan induk betina dalam penyerbukan silang Dimaksudkan untuk menghindarkan penyerbukan sendiri

Dilakukan sebelum bunga mekar (putik dan benang sari belum masak) 3. Isolasi 4. Pengumpulan dan penyimpanan serbuk sari 5. Melakukan penyerbukan silang 6. Pelabelan 7. Pendeteksian Keberhasilan Persilangan Buatan

BAB II .TINJAUAN PUSTAKA

Bunga merupakan fase penting dalam proses pembentukan biji. Padadasarnya bunga terdiri dari beberapa organ, namun hanya dua organ saja yangterlibat dalam pembentukan biji, yaitu benang sari (stamen) dan putik (pistil). Benang sari menghasilkan serbuk sari yang masing-masing membentuk gametjantan. Sedangkan putik akan membentuk bakal biji (ovulum) yang mengandungtelur. Pada waktu proses penyerbukan, yaitu jatuhnya serbuk sari pada kepalaputik, terbentuklah tabung serbuk sari, kemudian berlangsung pembuahan antarasperma dengan telur. Proses akhir dari pembuahan

ini adalah terbentuknya biji ( Hanum, 2008).

Agar persilangan berhasil perlu diketahui tujuan dan prioritas persilangan serta sifat sifat penting varietas atau spesies tetua yang akan disilangkan, terutamabiologi bunga dan teknik persilangan. Terdapat perbedaan karakter morfologibiologi bunga dalam hal arah tandan, bentuk dan posisi bunga hermaprodit,panjang tangkai, panjang tandan, serta waktu dan lamanya berbunga (Rudi, 1996). Persiapan untuk melakukan kastrasi dan penyerbukan silang meliputi penyediaan alat-alat antara lain : pisau kecil yang tajam, gunting kecil, pinset dengan ujung yang runcing, jarum yang panjang dan lurus, alkohol (75-85%) atau spiritus dalam botol kecil untuk mensterilkan alat-alat tersebut, wadah untuk tempat benang sari, sikat kecil untuk mengeluarkan serbuk sari dari benang sari, kuas untuk meletakkan serbuk sari di atas kepala putik dan kaca pembesar untuk memeriksa kebersihan kepala putik. Penutupan bunga sebelum dan sesudah penyerbukan dapat menggunakan kantong dari kain, kelambu, kantong plastik yang telah diberi lubang-lubang kecil untuk pernafasan (peredaran udara) atau isolatif, sesuai dengan ukuran bunga. Perlengkapan lain yang perlu disediakan yakni label dari kertas yang tahan air, selanjutnya label tersebut diberi nomor urut. Untuk keperluan penyerbukan silang antara jenis-jenis tertentu sebaiknya kertas label mempunyai warna tertentu, misalnya untuk persilangan A X B warna labelnya merah, untuk A X C warna labelnya putih, untuk D X B warnanya hijau dan seterusnya dengan warna lain. Kastrasi adalah kegiatan membersihkan

bagian tanaman yang ada di sekitar bunga yang akan diemaskulasi dari kotoran, serangga, kuncup-kuncup bunga yang tidak dipakai serta organ tanaman lain yang mengganggu kegiatan persilangan. Membuang mahkota dan kelopak juga termasuk kegiatan kastrasi. Kastrasi umumnya menggunakan gunting, pisau atau pinset.

Munculnya bunga jantan padatandan bunga berkisar antara 6-12 hari. Kastrasi dilakukan setiap hari sesuai dengan kemunculan bunga jantan tersebut. Ada beberapa cara untuk melakukankastrasi, yaitu: (1) menggunakan pompa pengisap, (2) dengan perlakuan alkohol,dan (3) secara manual dengan pinset. Kastrasi sebaiknya dilakukan pada pagi hari setelah persilangan pada saatbunga jantan mulai muncul tetapi belum pecah, biasanya 1-2 kali setelah persilangan. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kerusakan mekanis tandanbunga. (Wawan, 2002).

Emaskulasi adalah kegiatan membuang alat kelamin jantan (stamen) pada tetua betina, sebelum bunga mekar atau sebelum terjadi penyerbukan sendiri. Emaskulasi terutama dilakukan pada tanaman berumah satu yang hermaprodit dan fertil. Cara emaskulasi tergantung pada morfologi bunganya. Beberapa metode emaskulasi yang umum digunakan adalah : 1. Metode Kliping atau Pinset Pada umumnya kuncup bunga dibuka dengan pinset atau dipotong dengan gunting, kemudian anter atau stamen dibuang dengan pinset. Cara ini mudah dilakukan pada tanaman yang bunganya relatif besar, misalnya cabai, kedelai, tomat dan tembakau. Cara emaskulasi ini praktis, murah dan mudah dilakukan, namun kemungkinan rusaknya putik dan pecahnya anter sangat besar, sehingga terjadinya penyerbukan sendiri sangat besar. Adapun cara melakukan emaskulasi menggunakan metode ini adalah sebagai berikut : a. Setelah dipilih bunga yang akan digunakan sebagai betina, bagian ujung kuncup bunga

dipotong dengan pisau silet atau gunting, sehingga kepala putiknya kelihatan jelas dari atas. Pekerjaan ini harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai putiknya turut terpotong atau rusak. b. Mahkota dari kuncup bunga dibuka perlahan-lahan satu per satu dengan menggunakan pinset sampai semua benang sari terlihat jelas dari luar. Bila perlu semua mahkota dibuang. c. Benang sari dapat dibuang satu per satu sampai habis dengan sebuah pinset. d. Baik pinset, maupun gunting kecil dan alat lain yang dipakai untuk emaskulasi bunga harus steril. Setiap kali hendak di pakai, alat tersebut perlu dicelupkan ke dalam spiritus atau alkohol 75-85% dan kemudian dilap sampai kering dan bersih. e. Setelah melakukan emaskulasi, pada tangkai bunga segera digantungkan sebuah label yang telah diberi nomor. 2. Metode Pompa Isap (Sucking Method) Teknik ini mudah dilakukan pada padi. Pada tahap awal metode ini relatif mahal, karena diperlukan biaya untuk pengadaan alat. Keuntungan menggunakan metode ono adalah kemungkinan rusaknya kepala putik (stigma) dan pecahnya anter dan penyerbukan sendiri sangat kecil. Teknik pengerjaannya adalah ujung bunga dibuka dengan gunting, kemudian anter dihisap keluar dengan alat pompa hisap. 3. Metode Pencelupan dengan Air Panas, Air Dingin atau Alkohol

Untuk tanaman yang bunganya kecil-kecil, seperti sorghum, rumput-rumputan dan pakan, pembuangan stamen dengan menggunakan pinset atau gunting sangat sulit. Cara emaskulasi untuk jenis bunga ini adalah dengan mencelupkan bunga ke dalam air hangat yang mempunyai temperatur tertentu, biasanya antara 43-53 0C selama 1-10 menit. Cara ini mahal dan tidak praktis. Hal yang sama bisa dilakukan pada air dingin atau alkohol. 4. Metode Kimia Beberapa bahan kimia dapat mendorong terbentuknya mandul jantan (male sterile) pada tanaman. Bahan kimia tersebut diantaranya adalah GA3, sodium dichloroasetat, ethrel, GA4/7, 2,4 D, NAA. Caranya bahan tersebut disemprotkan pada bunga yang sedang kuncup dengan konsentrasi tertentu. 5. Metode Jantan Mandul Pada beberapa tanaman menyerbuk sendiri seperti barley, sorghum, atau padi pelaksanaan emaskulasinya sukar, maka bisa memanfaatkan tanaman mandul jantan yaitu yang anternya steril dan tidak menghasilkan polen yang viabel. Sifat mandul jantan ini bisa dikendalikan secara genetik maupun sitoplasmik. Isolasi dilakukan agar bunga yang telah diemaskulasi tidak terserbuki oleh serbuk sari asing. Dengan demikian baik bunga jantan maupun betina harus dikerudungi dengan kantung. Kantung bisa terbuat dari kertas tahan air, kain, plastik, selotipe dan lain-lain. Ukuran kantung disesuaikan dengan ukuran bunga tanaman yang bersangkutan. Kantong tersebut harus memenuhi syarat-syarat berikut : 1. Kuat dan tahan hujan lebat dan panas terik matahari. 2. Tidak mengganggu pernafasan bunga yang dibungkus 3. Bila terkena air hujan dapat lekas kering, airnya dapat lekas menguap 4. Bahan yang dipakai untuk kantong tidak enak rasanya, agar tidak dimakan oleh serangga atau binatang-binatang lainnya. 5. Kantongnya cukup besar, sehingga bila ada hujan turun, bunganya tidak akan menempel pada kantong. Kantong tersebut dapat berbentuk silinder, yang diperkuat dengan kerangka dari kawat atau bambu. Bila bunga yang dibungkus itu kecil, cukuplah bunga itu ditutup dengan sebuah tudung plastik berukuran kecil. Pengumpulan serbuk sari dari pohon tetua jantan dapat dimulai beberapa jam sebelum kuncup-kuncup bunga itu mekar. Bila letak pohon tetua betina jauh dari pohon tetua jantan,

maka pengangkutan kuncup-kuncup bunga dari tetua jantan ke tetua betina akan memakan waktu yang lama. Agar kuncup bunga itu tidak lekas layu dan tahan lama dalam keadaan segar, hendaknya kuncup bunga itu dipetik dan diangkut pada pagi hari sebelum matahari terbit atau pada sore hari setelah matahari terbenam. Serbuk sari adalah mahluk hidup, yang mempunyai umur terbatas dan kemudian mati. Mutu serbuk sari dapat dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain : 1. Kelembaban udara, pada kelembaban udara relatif yang tinggi serbuk sari tidak tahan disimpan lama. Penyimpanan serbuk sari di tempat lembab akan berakibat buruk, karena berpeluang berjangkit cendawan dan bakteri yang dapat menyebabkan serbuk sari lekas mati. 2. Umur serbuk sari, makin tua umur serbuk sari, makin lamban akan perkecambahannya dan tabung sari yang terbentuk akan lebih pendek. Selain itu persentase butir-butir serbuk sari yang hidup akan terus menurun sampai pada suatu saat tidak ada serbuk sari lagi yang dapat berkecambah. 3. Suhu udara, pada tempat yang udaranya kering dan pada suhu rendah, serbuk sari dapat disimpan sampai beberapa minggu dalam keadaan tertutup. Di laboratorium, serbuk sari biasanya disimpan pada suhu antara 2-8 OC dan pada kelembaban udara antara 10% sampai 50%. Penyimpanannya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: terlebih dahulu serbuk sarinya dimasukkan ke dalam tabung gelas. Kemudian tabungnya diletakkan dalam exsicator (desiccator) yang telah diisi dengan CaCl2 atau dengan larutan H2SO4 pada konsentrasi tertentu, misalnya antara 10-70%. Maksudnya agar dapat menyerap uap air dari udara cukup banyak. Untuk menyimpan serbuk sari bunga karet dari jenis No. PR 107 biasanya dipakai konsentrasi 27% H2SO4 dan untuk serbuk sari dari jenis karet No. AV 157 dipakai konsentrasi 35% H2SO4. Pengumpulan Tepung Sari Tepung sari dikumpulkan dengan dua cara, yaitu: 1.Mengambil kotak sari yang belum pecah dengan pinset, dikumpulkan pada suatu tempat (petridish), kemudian digerus sampai halus dan diberi air steril. Setelah itu, tepung sari siap digunakan untuk persilangan dengan cara mengoleskan gerusan tersebut ke bunga betina yang sudah dipilih dan masihreseptif. 2. Tepung sari ditampung dalam botol kecil berdiameter 1,50 cm dan panjang 6cm. Botol digantung atau dikaitkan pada tangkai batang atau tangkai tandan dengan menggunakan perekat, kemudian bagian ujung botol ditutup dengan alumenium foil .

Keesokan harinya botol tersebut dikumpulkan. Sebelum dikumpulkan, botol-botol tersebut diketuk-ketuk dengan jari telunjuk agar tepung sari barjatuhan ke dalam botol. Tepung sari yang sudah tertampung siap digunakan sebagai bahan untuk persilangan dengan menambahkan air + 2 ml,kemudian diaduk dengan kuas dan dioleskan ke tandan bunga betina yangsudah dipilih (Hamid, 1989). Penyerbukan buatan dilakukan antara tanaman yang berbeda genetiknya. Pelaksanaannya terdiri dari pengumpulan polen (serbuk sari) yang viabel atau anter dari tanaman tetua jantan yang sehat, kemudian menyerbukannya ke stigma tetua betina yang telah dilakukan emaskulasi. Saat yang paling baik untuk melakukan persilangan buatan adalah padasaat bunga betina telah mekar sampai 3/4 bagian dan kepala putik berwarnaputih. Pada saat itu, bunga jantan (benang sari) pada tandan tersebut belum masak atau pecah. Beberapa cara penyerbukan buatan yang bisa dilakukan adalah: 1. Tandan bunga yang telah dikastrasi diserbuki tepung sari dengan menggunakan kuas. Tepung sari bisa dalam keadaan kering atau basah (dilarutkan dalam + 2ml air steril), kemudian dioleskan pada kepala putik. Persilangan dilakukan 2-3kali sampai bunga betina tidak reseptif lagi. 2. Tandan bunga betina yang telah reseptif ditempelkan pada tandan bunga jantan yang telah mekar dan tepung sarinya telah pecah. 3. Tandan bunga betina yang masih reseptif tetapi belum pecah kotak sarinya diolesi bunga jantan yang kotak sarinya telah pecah. Persilangan diulang 2-3kali pada hari berikutnya. Kastrasi dilakukan 1-2 hari setelah persilangansampai seluruh bunga jantan dalam satu tandan habis (Paristiyani, 2008). Ukuran dan bentuk label berbeda-beda. Pada dasarnya label terbuat dari kertas keras tahan air, atau plastik. Pada label antara lain tertulis informasi tentang: (1) Nomor yang berhubungan dengan lapangan, (2) Waktu emaskulasi, (3) waktu penyerbukan, (4) Nama tetua jantan dan betina, (5) Kode pemulia/penyilang. Pendeteksian Keberhasilan Persilangan Buatan ,keberhasilan suatu persilangan buatan dapat dilihat kira-kira satu minggu setelah dilakukan penyerbukan (Gambar 6). Jika calon buah mulai membesar dan tidak rontok maka kemungkinan telah terjadi pembuahan. Sebaliknya, jika calon buah tidak membesar atau rontok maka kemungkinan telah terjadi kegagalan pembuahan. Keberhasilan penyerbukan buatan yang kemudian diikuti oleh pembuahan dipengaruhi oleh

beberapa faktor diantaranya adalah kompatibilitas tetua, ketepatan waktu reseptif betina dan antesis jantan, kesuburan tanaman serta faktor lingkungan. Kompatibilitas tetua terkait dengan gen-gen yang terkandung pada tetua jantan dan betina. Waktu reseptif betina dan antesis jantan dapat dilihat ciri morfologi bunga. Bunga yang terbaik adalah bunga yang akan mekar pada hari tersebut. Sementara itu, faktor lingkungan yang berpengaruh pada keberhasilan persilangan buatan adalah curah hujan, cahaya mahatari, kelembaban dan suhu. Curah hujan dan suhu tinggi akan menyebabkan rendahnya keberhasilan persilangan buatan. Pada persilangan buatan tanaman hermaprodit atau juga tanaman lainnya, biji yang dihasilkan belum tentu merupakan hasil persilangan buatan. Bisa jadi biji tersebut merupakan hasil selfing (untuk bunga hermaprodit) atau hasil persilangan tanaman lain (karena proses isolasi yang tidak sempurna). Hal tersebut dapat dideteksi dengan bantuan penanda, baik berupa penanda morfologi maupun penanda molekuler. Sifat kualitatif tanaman dapat digunakan sebagai penanda morfologi. Sebagai contoh buah muda cabai ada yang berwana hijau tua, hijau muda, kuning atau atau ungu. Buah muda cabai dapat digunakan sebagai penanda morfologi. Jika cabai dengan buah berwarna hijau tua disilangkan dengan cabai dengan buah berwarna ungu maka akan menghasilkan F1 dengan buah berwarna ungu. Jika buah F1 yang dihasilkan tidak berwarna ungu maka kemungkinan terjadi selfing atau penyerbukan dari serbuk sari cabai lain. Hal yang sama dapat digunakan untuk penanda molekuler. Pada biji tanaman yang ada pengaruh metaxenia seperti jagung, keberhasilan persilangan buatan sudah dapat dideteksi tanpa menanam F1. Jagung yang seharusnya mempunyai warna biji putih jika diserbuki dengan serbuk sari jagung dengan warna biji kuning akan berwarna kuning. Contoh lain adalah jagung manis jika diserbuki oleh jagung tidak manis akan menghasilkan bijibiji yang tidak manis. Pada pengamatan morfologi bunga, yang digunakan

sebagai objek pengamatan adalah bunga tembakau. Bunga tembakau termasuk bunga dalam golongan jenis tercampur, berumah dua (hermafrodit) memiliki rumus bunga G1. , , K 5, C 5, A5,

Bila dillihat dari bentuk

bunganya yang kecil dan letak putik dan benang sari saling berdekatan dan selalu menempel, bunga cabai termasuk melakukan penyerbukan sendiri (autogami).

Teknik hibridisasi atau penyerbukan silang

buatan adalah teknik yangdimaksudkan untuk menggabungkan sifat-sifat baik yang dimiliki oleh induk jantan dan induk betina, dengan harapan akan diperoleh keturunan yang

memilikigabungan dari sifat-sifat baik tersebut. Sebelum melakukan hibridisasi dilakukan langkah kastrasi yaitu pengebirian organ kelamin jantan yang mendekati matang.

Teknik tersebut dilakukan sebelum bunga mekar (putik dan benang sari belummasak). Langkah kastrasi dlakukan untuk mencegah terjadinya penyerbukan sendiri secara alami yang tidak diinginkan, sehingga bila tidak dilakukan kastrasimaka bunga tersebut akan melakukan penyerbukan sendiri secara alami danapabila telah terjadi penyerbukan maka teknik hibridisasi tidak akan bisadilakukan. Teknik kastrasi biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum bunga mekar dan benang sari yang belum matang masih dalam keadaan bagus. Dan teknik hibridisasi dilakukan pada sore atau pagi hari. Teknik kastrasi dan hibridisasi yangmemperhitungkan waktu dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kegagalandalam kastrasi dan hibridisasi. Pada teknik kastrasi, pada pagi hari dilakukansebelum bunga mekar dan belum melakukan penyerbukan, hal itu dikarenakanbunga pada umumnya mekar sempurna dan masih dalam keadaan segar padapukul 06.00 hingga 08.00. apabila dilakukan kastrasi lewat pagi hari dan sesudahbunga mekar, maka serbuk sari akan terlebih dahulu menyerbuki bunga betina danteknik hibridisasi akan gagal dan tidak dapat dilakukan. Teknik hibridisasi dilakukan pada pagi atau sore hari bertujuan untuk menambah kemungkinan berhasil karena pada pagi hari atau sore hari bungamekar sempurna dan dalam keadaan segar. Pada saat matang, putik akan menghasilkan suatu cairan pelekat yang digunakan untuk melekatkan benang sari.Pada siang hari cairan tersebut akan kering dan jika dilakukan hibridisasi makakemungkinan besar benang sari tidak akan menempel pada kepala putik dankeberhasilan hibridisasi akan berkurang. Benang sari yang disimpan terlalu lama setelah kastrasi juga tidak baik karena akan menurunkan kualtitas sel spermajantan. Setelah melakukan kastrasi maka perlakuan hibridisasi diharapkan dilakukan pada hari yang sama yaitu kastrasi pada pagi hari sebelum matahari terbit dan hibridisasi pada sore harinnya pada hari yang sama.Pada bunga, terkadang terjadi inkompatibilitas. Inkompatibilitas adalah gejala kegagalan tanaman dengan tepung sari dan bakal biji yang normal untuk membuat biji sebagai akibat penghalang fisiologis, sehingga tidak terjadi pembuahan. Pada bunga yang mengalami inkompatibilitas tidak akan dapatmelakukan

penyerbukan secara alami dan harus dilakukan perlakuan penyerbukansecara buatan. Ada beberapa teknik dalam cara mengatasi penyerbukan bungayang inkompatibel yaitu dengan cara Suhu tinggi. Pistil yg diekspos sampai suhu 60 oC, untuk merangsang kesuburan. Cara lain yaitu Irradiasi. Pada Solanaceae, X-ray atau gamma ray untuk menginduksi kesuburan sementara. Dengan cara yang lebih sederhana yaitu Polinasi berganda, Polinasi kuncup (bud pollination): polinasi biasanya dilakukan 1 2 hari sebelum bunga mekar/anthesism, Surgicaltechnique : potong/hilangkan stigma dan pollen diletakkan pada potongan style.

BAB III BAHAN DAN METODA 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum ini dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang pada hari rabu tanggal 2 november 2011 pada pukul 10.30 WIB sampai selesai 3.2 Bahan dan alat Bahan yang diperlukan pada praktikum ini adalah , Bunga tanaman padi (jantan & betina) beda varietas , Kertas sampul, Kertas label . Sedangkan alat yang diperlukan adalah Pollen bag, Ear tube, dan Pinset. 3.3 Cara Kerja Pertama tama dilakukan Persiapan yaitu Pengamatan bunga : pembungaan, benang sari, putik , selanjutnya mengumpulkan informasi mengenai asal usul dan sifat tanaman, waktu penyerbukan yang baik , pemilihan induk jantan dan betina, pemilihan bunga-bunga yang akan disilangkan. Langkah selanjutnya adalah Kastrasi/emaskulasi yaitu membuang semua benang sari dari sebuah kuncup bunga yang akan dijadikan induk betina dalam penyerbukan silang dimaksudkan

untuk menghindarkan penyerbukan sendiri ,dilakukan sebelum bunga mekar (putik dan benang sari belum masak) Kemudian dilakukan Isolasi , langkah selanjutnya adalah pengumpulan dan penyimpanan serbuk sarikemudian melakukan penyerbukan silang selanjutnya dilakukan Pelabelan dan langkah terakhir adalah pendeteksian Keberhasilan Persilangan Buatan.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Tanaman Padi termasuk bunga hermafrodit karena organ kelamin jantan dan organ kelamin betina terletak pada satu bunga yang sama. Jika dilihat dari bentuk bunga, organ kelamin jantan dan organ kelamin betina yang letaknya berdekatan maka bunga tersebut melakukan penyerbukan secara autogami (penyerbukan sendiri). Alasan dilakukan kastrasi pada pagi hari sebelum matahari terbit dan sebelum bunga mekar adalah untuk mencegah penyerbukan secara alami pada saat bunga sudah mekar dan pada teknik hibridisasi dilakukan pada pagi atau sorehari karena putik dapat menagkap serbuk sari dengan sempurna pada saat keadaan putik masih segar.

4.2 Saran Saran saya pada praktikum berikutnya adalah agar para praktikan dapat melakukan persilangan buatan ini harus melakukannya dengan sungguh sungguh dan teliti khususnya dalam pencabutan alat kelamin jantan. Dan agar lebih terlatih lagi sebaiknya teknik persilangan ini dilakukan berkali kali.

DAFTAR PUSTAKA

Hamid, 1989. Pemuliaan pada Tanaman Lada. Makalah pada LatihanTeknik Pemuliaan Tanaman dan Hibrida di Balittro dan Balittan Sukamandi. 8hlm.

Hanum, Chairani. 2008. Teknik Budidaya Tanaman. Direktorat Pertanian.Bandung.

Pembinaa Kejuruan

Kasim, 1990. Pengendalian penyakit busuk pangkal batang lada secara terpadu.Buletin Tanaman Industri I: 16-20.

Nurwardani, Paristiyanti. 2008.Teknik Pembibitan Tanaman dan Produksi. Beni Jilid 1. Direktorat Pembinaan Kejuruan Pertanian.Bandung.

Rudi, 1996. Peningkatan Resistensi Tanaman Lada Melalui Hibridisasi. Laporan Teknis Penelitian, Bagian Proyek Tanaman Rempah Dan Obat. II: 113-134. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor..

Wawan, 2002. Teknik Kastrasi Pada Persilangan Buatan Tanaman Lada Secara Konvensional. Buletin Teknik Pertanian.7

Kastrasi n hibrisida I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Persilangan merupakan salah satu teknik untuk memperbanyak variasi/keragaman genetik dari suatu populasi tanaman.keragaman genetic tentu sangat penting sebagai salah satu upaya untuk mempermudah seleksi yang akan dilakukan oleh para pemulia tanaman. ketika persilangan dilakukan maka terjadi segregasi pada gamet tetua jantan dan betina. tanaman menyerbuk sendiri (autogami) yang memiliki bunga sempurna (hermaprhodit/banci) karena putik dan benangsari terletak dalam satu bunga. Dalam dunia pertanian dan dalam sub ilmu pemuliaan tanaman khususnya ada yang di namakan dengan kastrasi dan hibridisasi tanaman, Kastrasi dan hibridisasi adalah teknik yang digunakan oleh para pemulia ( orang yang berusaha untuk memperbanyak tanaman dalam lingkup pemuliaan tanaman ) untuk meningkatkan produktifitas dari tanaman yang dimuliakan, kastrasi ini adalah proses untuk menghilangkan kelamin jantan dari suatu bunga, untung saja hanya bunga, tidak terbayangkan kalau hal ini terjadi pada manusia.Yang mempunyai tujuan untuk memperoleh organisme dengan sifat-sifat yang diinginkan dan dapat berfariasi jenisnya. Pada peristiwa hibridisasi akan memperoleh kombinasi genetikyang diperoleh melalui persilangan dua atau lebih tetua yang berbeda genotipnya. Emaskulasi atau sering disebut kastrasi merupakan pengambilan tepung sari pada kelamin jantan agar tidak terjadi penyerbukan sendiri. Dalam proses pengam,bilan tepung sari tersebut dilakukan pada saat sebelum kepala putik masak agar lebih menjaga dan memperkecil kemungkinan terjadinya penyerbukan. Banyak kita jumpai percobaan persilangan dalam kajian ilmu gentika menghasilkan keturunan yang tidak sesuai dengan Hukum Mendel. Pemuliaan tanaman yang dikembangbiakan secara vegetatif dapat ditempuh melalui hibridisasi. Oleh karena kita perlu membuat variasi, maka dilakukan . Dengan jalan ini akan diperoleh sumber variabilitas atau klon-klon baru yang sangat luas variabilitasnya dan menjadi sumber penyeleksian klon baru. Berbeda dengan tanaman yang menyerbuk sendiri, dalam tanaman yang diperbanyak dengan jalan aseksual karena sifatnya heterozigot maka segregasi terjadi pada F1.Untuk itu, praktikum ini dilakukan agar mengetahui tentang kastrasi dan hibridisasi. 1.2 Tujuan 1. Kastrasi untuk mencegah terjadinya penyerbukan sendiri (self fertilization) 2. Hibridisasi untuk mengawinkan dua jenis tanaman yang mempunyai sifat-sifat berbeda dan hendak menyatukan dalan satu tanaman.

II. TINJAUAN PUSTAKA Setiap individu memiliki variasi dalam sifat-sifatkecepatan pertumbuhanpembungaan dan kemampuan reproduksiresistensi kualitas dan bentuk batang, dllDalam perkawinan silang antara induk jantan dan induk betina, akan terjadi penggabungan sifat antara keduanya.Penelitian reproduksi biologi tanaman hutan saat ini telah mencapai tingkatan di mana penyerbukan terkendali dan seleksi sifat-sifat unggul dapat diaplikasikan untuk meningkatkan kualitas spesies.Perkembangan teknik persilangan yang efektif, karena itu sangat ditentukan oleh pengetahuan mengenai sistem breeding dari spesies dimaksud. Penyerbukan silang buatan dimaksudkan untuk menggabungkan sifat-sifat baik yang dimiliki oleh induk jantan dan induk betina, dengan harapan akan diperoleh keturunan yang memiliki gabungan dari sifat-sifat baik tersebut.Alasan lain dilakukannya penyerbukan silang buatan : Tanaman berkelamin satu (unisexualis) atau berumah dua (dioecious)Tanaman bersifat dikogami atau herkogamiSerbuk sari sterilSelfing terus menerus akan mengakibatkan degenerasiAdanya mekanisme self incompatible. Teknik Penyerbukan Silang Buatan 1. Persiapan Pengamatan bunga : pembungaan, benang sari, putik. Mengumpulkan informasi mengenai : asal usul dan sifat tanaman, waktu penyerbukan yang baik Pemilihan induk jantan dan betinaPemilihan bunga-bunga yang akan disilangkan. 2. Isolasi kuncup terpilih 3. Kastrasi/emaskulasi Membuang semua benang sari dari sebuah kuncup bunga yang akan dijadikan induk betina dalam penyerbukan silang Dimaksudkan untuk menghindarkan penyerbukan sendiriDilakukan sebelum bunga mekar (putik dan benang sari belum masak) 4. Pengumpulan dan penyimpanan serbuk sari.Hal-hal yang harus diperhatikan :Serbuk sari tidak dapat disimpan terlalu lama pada kelembaban relatif tinggi, Makin tua umur serbuk sari, makin rendah kemampuan kecambahnya untuk membentuk tabung serbuk sari, Serbuk sari membutuhkan penyimpanan dengan kelembaban rendah (10-50%) dan suhu rendah (2-8C). Biasanya serbuk sari disimpan dalam desiccator yang diisi CaCl2 atau H2SO4 dengan konsentrasi tertentu. 5. Melakukan penyerbukan silang. Pada bunga hermafrodit, kastrasi harus dilakukan.Pada tanaman yang hanya menghasilkan bunga betina (femineus), putik dapat langsung diserbuki (tanpa kastrasi terlebih dahulu) saat bunga mekar.Waktu terbaik untuk melakukan penyerbukan adalah pada saat tanaman berbunga lebat.Suhu yang baik untuk melakukan penyerbukan adalah 20-25 C.Hindarkan kompetisi nutrisi antar putik yang diserbuki (Dalam satu cabang, sebaiknya jumlah putik yang diserbuki tidak terlalu banyak).Kepala putik harus sudah mencapai masa reseptif, dan serbuk sari sudah benar-benar masak.Materi Penyerbukan dan Pembuahan pada

Bunga ini merupakan materi yang patut diperhatikan dan dipelajari dikarenakan tanpa penyerbukan dan pembuahan tidak akan ada regenerasi dari suatu makhluk hidup (Zulfikar, 2009). Dari hasil pengamatan, polen (tepung sari) dari bunga jantan biasanya mulai terlepas dan siap untuk digunakan sekitar pukul 9 hingga pukul 11. Bila terlalu pagi, polen masih menempel pada kepala sari dan akan sulit untuk melakukan polinasi. Sementara itu kepala putik juga mulai siap untuk diserbuki sejak pukul 8 pagi hingga siang hari.Kepala putik yang belum diserbuki dapat bertahan hingga 2 3 hari sebelum akhirnya mulai layu dan kering (Hartati dan Sudarmio, 2007). Kastrasi memberikan beberapa keuntungan antaralain. Merangsang pertumbuhan vegetative dan menghemat penggunaan pertumbuhan vegetative dan menghemat musim kering panjang, tanaman menjadi bersih sehingga terhindar dari serangan hama,kastrasi yang diikuti dengan penyerbukan bantuan (assisted pollination) pada panen pertama akan menghasilkan tandan yang sempurna dan lebih berat sekaligus meingkatkan kapasitas panen (Sunarko, 2007).Kastrasi adalah proses membuka mahkota bunga dan membuang serbuk sarinya sebelum terjadi penyerbukan sendiri. Kastrasi dilakukan sehari sebelum penyerbukan Malai yang baik untuk disilangkan adalah yang berumur 15 hari setelah inisiasi pembungaan atau sudah ada bunga yang mekar antara 5-10 bunga.Kastrasi dilakukan dua tahap.Tahap pertama yaitu pembuangan bunga mekar. Pada tetua betina dipilih malai bunga yang tumbuh normal, sehat, dan tidak terkena hama penyakit. Sepertiga malai sekunder mulai dari pangkal malai primer dibuang atau dipotong karena bagian ini lebih didominasi oleh bunga jantan (Ihsan dan Sukarmin, 2008). Dengan breeding (hibridisasi) diharapkan bisa terbentuk suatu jenis tanaman yang mempunyai kromosom yang poluploid, yakni susunan kromosom tanaman yang mempunyai sifat ganda dan lebih dari susunan kromosomnya asalnya. Hal ini dapat menciptakan suatu jenis seraatau spesies baru yang dapat meningkatkan produksi, tahan terhadap serangan hama dan penyakit, umur pendek, dan sebagainya. Orang yang pertama kali mengetahui adanya kenaikan daya hasil generasi dari persilangan galur-galur pada jagung adalah Shull pada tahun 1909 dan cara cara yang disarankan masih tetap dipakai hingga sekarang (Warisno, 1998). Tepung sari dikumpulkan dengan dua cara, yaitu: mengambil kotak sari yang belum pecah dengan pinset, dikumpulkna pada suatu tempat (petridish), kemudian digerus sampai halus dan diberi air steril. Setelah itu, tepung sari siap digunakan untuk persilangan dengan cara mengoleskan gerusan tersebut ke bungan betina yang sudah dipilih dan masih reseptif. Kedua, tepung sari ditampung dalam botol kecil berdiameter 1,50 cm dan panjang 6 cm. Botol digantungkan atau dikaitkan pada tangaki batang atau tangkai tandan dengan menggunakan perekat, kemudian bagian ujung botol ditutup dengan alumunium foil. Keesokan harinya botol tersebut dikumpulkan. Sebelum dikumpulkan, botol-botol tersebut diketuk-ketuk dengan jari telunjuk agar tepung sari berjatuhan ke dalam botol. Tepung sari yang sudah tertampung siap digunakan sebagai bahan untuk persilangan dengan menambahkan air+2ml. Kemudian diaduk dengan kuas dan dioleskan ke tandan bunga betina yang sudah dipilih (Lukman, 2002). III. METODOLOGI 3.1Tempat dan Waktu

Praktikum dilaksanakan pada hari rabu pukul 13.30 WIB, bertempat di laboratorium Teknologi benih, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jember. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Tanaman Penyerbuk Silang 3.2.1.1 Alat 1. Alat tulis 2. Kertas HVS 3.2.1.2 Bahan 1. Varietas jagung dengan karakter yang bias dibedakan secara jelas (hanya morfologinya saja) 2. Ear tube 3. Pollen bag 4. Kartu identitas a. nama penyilang b. jenis tanaman yang disilangkan (jantan/betina) c. tanggal persilangan 5. Penanda 3.2.2 Tanaman Penyerbukan Sendiri 3.2.2.1 Alat 1. Pembesar (Lup) 2. Pinset berujung runcing 3.2.2 Bahan 1. 2 varietas padi yang dapat dibedakan 2. Penanda / identitas / etiket : a. Nama penyilang

b. Jenis tanaman yang disilangkan c. Tanggal persilangan. 3.3 Cara kerja 3.3.1 Tanaman Penyerbukan Silang 1. Menutup tongkol yang baru muncul dengan ear tube, ditunggu sampai siap diserbuki ( jika rambut jagung sudah muncul 2 cm). 2. Menutup bunga jantan (malai) dengan pollen bag pada jam 08.00 09.00 (sudah hilang embunnya). Memotong tangkai malai pada jam 14.00-15.00, dan digoyang goyangkan sehingga serbuk sari terkumpul, siap diserbuki kebunga betina yang sudah matang. 3. Tonggkol yang sudah diserbuki diberi penanda dan ditutup dengan pollen bag. 4. Hasil kastrasi dan hibridasi (persilangan buatan) ini diamati setelah terbentuknya biji. 3.3.2 Tanaman Penyerbukan Sendiri 1. Ditanam 2 varietas padi yang memiliki perbedaan yang cukup mencolok (warna bunga). 2. Menunggu sampai tanaman berbunga. Jika ada perbedaan waktu bunga, diusahakan penjadwalan tanam yang sesuai sehingga kemunculan bung dapat serempak. 3. Cara pengebirian bunga : a. Memilih bunga yang masih kuncup, dipegang antara telunjuk dan ibu jari tangan. b. Membuang daun kelopakbunga tadi dengan pinsetsehingga terlihat mahkota bunga yang membungkus bakal buah. c. Mencabut mahkota bunga menggunakan pinset. d. Kepala sari dibuang sampai bersih dengan menggunakan pinset, sehingga hanya tinggal kepala putik. 4. Cara menyilangkan : a. Dari tanaman induk jantan diambil yang telah mekar dan masih segar. b. Mahkota bunga yang menyelubungi alat jantan dibuka dengan pinset, kemudian bunga jantan diambil. 1. Pada waktu bunga masih kuncup, kepala sari lebih rendah daripada putik.

2. Bunga hampir mekar, kepala sari sama tinggi dan menempel pada kepala putik. c. Mengoleskan tepung sari tersebut pada kepala putik yang telah dikebiri. 5. Bunga yang telah disilangkan diberi etiket, agar kelak polong dapat dikenali dengan mudah. 6. Melakukan penyilangan ini pada pagi hari sebelum matahari terbit ( pukul 05.00). BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan 4.2 Pembahasan Saat yang paling baik untuk melakukan persilangan buatan atau hibridisasi adalah saat bunga telah mekar sampai bagian dan kepala putik berwarna putih. Pada saat itu, bungan jantan (benang sari) pada tandan tersebut belum masak atau pecah. Hal ini juga dipengarui oleh morfologi dari masing-masing bungan yang akan disilangkan. Keberhasilan persilangan ini karena dipengaruhi oleh dua factor yaitu; suhu dan cahaya. Pada suhu udara yang dingin, suaca gelap atau musim hujan, saat berbungan akan terhambat. Suhu yang panas, cuaca cerah, dan musim kemarau akan mempercepat pembungaan. Hal ini yang menyebabkan atau alas an mengapa hibridisasi dilakukan pada siang hari. Suhu dan cahaya ketika siang hari terletak pada puncaknya. Cahaya matahari tepat berada di atas atau kedudukannya hamper vertical sebesar 180o sehingga suhu permukaan bumi juga akan naik. Dengan demikian akan mempengaruhi kemasakan dari bunga yang akan disilangkan. Jika hibridisasi dilakukan pada pagi hari atau siang hari kemungkinan bunga yang disilangkan belum mengalami masak penuh, sehingga proses persilangan tidak akan berhasil. Peningkatan suhu dan kelembapan akan membuat percepatan pemasakan tepung sari. Hal tersebut yang menyebabkan perbedaan perlakuakn kastrasi dan penyilangan tanaman. Pada saat praktikum yang telah dilaksanakan, perlakuan dilakukan kemampuan yang dilakukan pada bunga tanaman yang berasal dari jenis tanaman monokotil dan dikotil seperti jagung, cabe tembakau dan juga tomat. Pada bunga tanaman jagung, bunga ini menyerbuk secara silang karena posisi panjang benang sari yang berjauhan dengan putiknya. Oleh karena itu penyerbukan kemungkinan terjadi pada bunga tetangga karena angin. Unga tersebut memiliki tempat benang sari dan putik yang berbeda. Warna biji berwarna putih kuning. ongkol yang terdapat di ketiak daun pokok matang mengandungi biji benih jagung. Biji atau kernel mengandungi tiga bahagian iaitu perikarpa, endosperma dan embrio. Pembungaannya umumnya dibantu oleh angin. Dalam segi biologi bunga tanaman jagung memiliki karakteristik yang khas, tanaman jagung memiliki struktur bunga yang berbeda, bunga jantan umumnya masak terlebih dahulu dengan beberapa kumpulan kantong-kantong benang sari yang menutupinya. Benang sari tersebut memiliki tiga kantong yang dapat menyimpan benang sari. Bunga pada tumbuhan biasanya digunakan untuk alat perkembangbiakkan pada tumbuhan,demikian juga dengan jagung , jagung memilikki dua jenis bunga (jantan dan betina) yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious).

Bunga betinanya merupakan bunga majemuk tidak terbatas (inflorescentia racemosa) dan bunganya melekat langsung pada ibu tangkainya.Bentuknya berupa tongkol (spadix),seperti bulir,tetapi ibu tangkainya besar,tebal dan sering kali berdaging.Biasanya tongkolnya terbungkus oleh semacam pelepah dengan rambut.Tongkol tumbuh dari buku,diantara batang dan pelepah daun.Rambut ini sebenarnya adalah putik bunga jagung yang memanjang menyerupai rambut. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik Bunga jantannya juga merupakan bunga majemuk tidak berbatas (inflorescentia racemosa) dan bunganya tidak melekat langsung pada ibu tangakainya.Bentuk bunganya berupa bulir majemuk dan berbentuk seperti karangan bunga (inflorescence).Serbuk sari berwarna kuning dan berbau khas. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri). Tanaman jagung memilikki cara penyerbukkan anemofili, penyerbukkan dengan perantara angin. Hal ini sesuai dengan bentuk bunga dari jagung itu sendiri. Pada tanaman monokotil lainnya seperti cabe, memiliki ciri-ciri morfologi buah berwarna merah, buah tomat memiliki kandungan beta karoten (baik untuk kecantikan kulit), vitamin C, dan mineral serta kalium. Bunga tomat merupakan bunga sempurna karena benang sari atau tepung sari dan kepala putik atau kepala benang sari terbentuk pada bunga yang sama. Bentuk buah tomat bervariasi, tergantung varietasnya ada yang berbentuk bulat, agak bulat, agak lonjong dan bulat telur (oval). Ukuran buahnya juga bervariasi, yang paling kecil memiliki berat 8 gram dan yang besar memiliki berat 180 gram. Buah yang masih muda berwama hijau muda, bila telah matang menjadi merah. Bunga tomat bentuknya sangat kecil, hal ini tampak pada kelopak bunga tersebut, mampu melebar pada saat telah terjadi penyilangan. Hal ini juga memperlihatkan bahwa bunga tersebut mampu untuk menggembung. Dan berubah berwarna merah pada akhir pembentukan buah. tanaman ini merupakan tanaman berbunga lengkap,benang sari nya berwarna kuning dan putiknya berwarna hijau. Cabai merupakan tanaman yang memiliki bunga tunggal (soliter) yang berbentuk bintang. Bunga tumbuh menunduk pada ketiak daun. Dan penyerbukan terjadi dengan penyerbukan sendiri. Putik dan benang sari terkumpul menjadi satu bunga. Perlakuan penyerbukan dengan bunga lain kemungkinan memiliki keberhasilan sebesar 56%. Bunga cabai merupakan bunga yang nantinya akan tumbuh menjadi buah tanaman tersebut. Bunga cabai tidak memiliki mahkota bunga saat buah terbentuk, mahkota buah telah luruh. Benang sari berwarna hijau dengan jumlah 5 buah dan putiknya berwarna putih , dan hanya terdapat 1 putik saja dalam 1 bunga. Pada tanaman tembakau. benang sari yang terdapat pada bunga dan berwarna putih bergaris merah dengan jumlah empat buah, sedangkan putiknya berjumlah hanya satu dan berwarna hijau. Tanaman allogame merupakan tanaman yang dapat melakukan penyerbukan sendiri. Proporsi gen dan genotip mesti lebih dahulu diketahui sebelum melaksanakan seleksi terhadap suatu populasi. Secara umum proporsi atau frekuensi gen yang diinginkan relatif kecil dan biasanya dinyatakan dengan simbol p, sedangkan frekuensi gen yang tidak diinginkan disimbolkan dengan q. Frekuensi gen ini biasanya dinyatakan dalam bentuk desimal dan jumlahnya sama dengan

satu. Frekuensi gen dapat ditentukan dari frekuensi genotip yang terbentuk hasil kawin silang secara acak (random mating) tanaman-tanaman yang mengandung gen tersebut . Pada dasarnya tanaman penyerbuk silang adalah heterozigot dan heterogenus. Satu individu dan individu lainnya genetis berbeda. Karena keragaman genetis yang umumnya cukup besar dibanding dengan tanaman penyerbuk sendiri dalam menentukan kriteria seleksi diutamakan pada sifat ekonomis yang terpenting dulu, tanpa dicampur aduk dengan sifat-sifat lain. Contoh tanaman yang melakukan penyerbukan silang antaralain, Salak (Salacca zalacca), pepaya (Carica papaya), jagung (Zea mays ssp. Mays), nanas (Ananas comosus), dan Kedondong (Spondias dulcis Forst.) Penyerbukan sendiri (autogami), terjadi apabila serbuk sari yang jatuh ke kepala putik berasal dari benang sari bunga itu sendiri dengan kata lain, penyerbukan yang terjadi antara tepung sari dari bunga pada satu tanaman dan putik dari tanaman yang sama. Contoh tanaman yang melakukan penyerbukan sendiri antaralain, alpukat (Persea Americana), padi (Oryza sativa), rambutan (Nephelium lappaceum), mangga (Mangifera indica), dan kedelai (Glycine max). BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dari pembahasan di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan antaralain. 1. Tanaman allogame dan autogame memiliki karakteristik yang berbeda. 2. Pelaksanaan dalam melakukan kastrasi dan hibridisasi dipengaruhi oleh suhu dan cahaya serta waktu kemasakan dari benang sari bunga tersebut. 3. Struktur dan biologi bunga yang digolongkan melakukan penyerbukan sendiri maupun penyerbukan silang memiliki komponen berbeda. 5.2 Saran Sebaiknnya selama pelaksanaan praktikum sebaiknya menggunakan simulasi penyilangan menggunakan media elektronik agar mahasiwa dapat lebih memahami. DAFTAR PUSTAKA Hartati, sri dan sudarmo, hadi. 2007. Melakukan Persilangan pada Tanaman Jarak Pagar.Info teknologi jarak pagar, 2 (10): 37-40. Ihsan, farihul dan sukarmin. 2008. Teknik persilangan mangga (mangifera indica) untuk perakitan varietas unggul baru. Buletin Teknik Pertanian, 13 (1): 33-36. Lukman, wawan. 2002. Teknik kastrasi pada persilangan buatan tanaman lada secara konvensional. Buletin teknik pertanian, 7 (2) : 62-64. Sunarko. 2007. Petunjuk Praktis Budi Daya Dan Pengolahan Kelapa Sawit, Agromedia Pustaka. Jakarta.

Warisno.1998. Jagung Hibrida. Kanisius.Yogyakarta.