Anda di halaman 1dari 24

BAB III TINJAUAN KHUSUS LAFIAL Drs.

Mochamad Kamal

A. Sejarah Singkat Lembaga Farmasi Angkatan Laut (Lafial) Pada tahun 1950 berdiri sebuah unit farmasi di lingkungan kesehatan Angkatan Laut. Pada tahun 1955 unit farmasi yang sudah terbentuk diberi nama Depo Obat Angkatan Laut (DOAL) yang berlokasi di RSAL Dr. Mintohardjo Jakarta, unit farmasi tersebut masih sangat sederhana dan baru memiliki satu orang Apoteker yang bernama Drs. Mochamad Kamal sebagai Kepala Jawatan Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Laut dan beberapa tenaga Asisten Apoteker serta beberapa juru obat dari lulusan SD dan SMP. DOAL-D adalah badan farmasi TNI-AL pertama yang merupakan suatu organisasi gabungan dari Bagian Pembuatan Obat dan Laboratorium Dinas Farmasi Bidang Kesehatan Angkatan Laut dengan PusPekBar yang fungsinya sebagai pusat perbekalan barang dan pengadaan serta distribusi obat untuk keperluan Angkatan Laut. Untuk mengoptimalkan kegiatan pembuatan obatobatan di lingkungan Angkatan Laut didirikan Pabrik Farmasi Angkatan Laut yang bertempat di PAFALD dan PADALS, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kepala Staf Angkatan Laut No: Kep.M/KSAL 6740.1 tanggal 19 Juni 1962 oleh Menteri/Kepala Staf Angkatan Laut: Laksamana Muda Laut R. E. Martadinata. PAFAL-D merupakan perkembangan lebih lanjut dari DOAL-D. Berdasarkan SK Menteri Kepala Staf AL Kep.M/KASAL/6740.1 tanggal 15

Juni 1962 ditetapkan Pabrik Farmasi AL yang berkedudukan di Jakarta dan Surabaya (PAFAL-D dan PAFAL-S) oleh Menteri atau Kepala Staf AL Laksamana Muda Laut R.E. Martadinata. Pada tahun 1963, Pabrik Farmasi dan Laboratorium Angkatan Laut di Jalan Bendungan Jati Luhur No. 1 Jakarta Pusat dibangun dan diresmikan pada tanggal 22 Agustus 1963 oleh Deputi II Menteri/Panglima Angkatan Laut Brigadir Jenderal KKO Ali Sadikin dengan Direktur PAFAL-D dijabat oleh Kapten November 1963 didirikan LKF-AL berdasarkan KepMen/PANGAL.6740.1 Drs. R. Soekarjo, Apt. Dilanjutkan pada tanggal 5

ditandatangani oleh Laksamana Muda Laut R. E. Martadinata. Sehingga setiap tanggal 22 Agustus diperingati sebagai hari jadi Lembaga Farmasi TNI AL. Dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan ruang lingkup kegiatan Kimia dan Kefarmasian di Lingkungan Angkatan Laut dilakukan

penggabungan 2 instansi yaitu antara PAFAL-D dan Lembaga Kimia dan Farmasi Angkatan Laut, ditandai dengan serah terima Jabatan Kepala LKFAL kepada Kepala PAFAL-D sehingga berganti nama menjadi Lafial pada tahun 1976. Sejalan dengan Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan CPOB di lingkungan Industri Farmasi Nasional, Lafial mulai melakukan kegiatan pembenahan dalam rangka persiapan menuju Industri Farmasi yang sesuai standar dilakukan pada tahun 1988. Sehingga pada tahun 1998 Departemen Kesehatan memberikan Sertifikat CPOB yang diserahkan oleh Ka.BPOM dan diterima ASPERS KASAL Bapak Laksamana Muda Bambang Suryanto.

Sejak itu Lafial semakin berkibar sebagai Pusat Kegiatan Produksi dan Laboratorium Angkatan Laut serta kerjasama dengan Lembaga Industri Farmasi dan Penelitian Nasional menjadi Pusat Komunitas Apoteker Angkatan Laut. Sehingga dengan berjalannya waktu pada tahun 2005 sesuai SKEP KSAL Nomor: SKEP/4832/IX/2005 tanggal 21 September 2005 tentang pemberian nama fasilitas kesehatan TNI-AL maka Lafial diberi nama menjadi Lafial Drs. Mochamad Kamal. Lafial adalah unsur pelaksana teknis Diskesal yang berkedudukan langsung di bawah Kepala Dinas Kesehatan TNI AL. Lafial bertugas melaksanakan pembinaan farmasi TNI AL serta melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengembangan. Dalam melaksanakan tugas tersebut Lafial menyelenggarakan fungsi-fungsi sebagai berikut : 1. Melaksanakan produksi obat-obatan. 2. Melaksanakan pengujian laboratorium instrumen, kimia, mikrobiologi, makanan dan minuman, instrumen. 3. Melaksanakan kesehatan. 4. Melaksanakan kefarmasian. 5. Melaksanakan kefarmasian. pembinaan pendidikan penelitian material dan dan latihan pengembangan

6. Melaksanakan koordinasi dengan badan dan unsur lain, baik di dalam maupun di luar Lafial untuk kepentingan pelaksanaan tugas sesuai tingkat dan lingkup kewenangannya. 7. Mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan program latihan, guna pencapaian sasaran programnya secara berhasil dan berdaya guna.

8. Mengajukan pertimbangan dan saran kepada Kadiskesal khususnya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan tugasnya. B. Visi dan Misi Lafial 1. Visi Lafial Sebagai Lembaga Kefarmasian Matra Laut Nasional yang Profesional. 2. Misi Lafial a. Melaksanakan produksi bekal kesehatan untuk kebutuhan anggota TNI Angkatan Laut dan keluarga. b. Melaksanakan penelitian dan pengembangan dalam bidang matra laut. c. Melaksanakan pemeriksaan obat, makanan dan narkoba. d. Melaksanakan pengkajian bahan farmatra, farmasi kelautan dan senjata nubika. e. Membantu melaksanakan pendidikan kefarmasian strata D3 dan S1. C. Struktur Organisasi dan Tugasnya Sebagai suatu lembaga, Lafial mempunyai struktur organisasi dan job description yang baik dan jelas. Secara struktural, Lafial adalah suatu unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Angkatan Laut (Diskesal), sedangkan secara operasional berada di bawah Detasemen Markas Besar TNI Angkatan Laut (Denmabesal). Pembentukan organisasi Lafial berdasarkan surat

keputusan Kasal No. 117/K1/1984 tanggal 11 November 1984, tentang Organisasi dan Prosedur Lembaga Farmasi Angkatan Laut. Organisasi Lafial terdiri dari unsur pimpinan sebagai Kepala, unsur pelayanan sebagai Kepala Tata Usaha dan Urusan Dalam dan unsur pelaksana sebagai Kepala Bagian

dan sub bagian. Struktur organisasi dirubah sesuai Surat Keputusan KSAL No. 1551/XII/2009 tanggal 22 Desember 2009, menjadi unsur pimpinan sebagai Kepala, unsur pelayanan sebagai Kepala Tata Usaha dan Urusan Dalam dan unsur pelaksana sebagai Kepala Departemen dan sub Departemen. Untuk lebih mengetahui pembagian organisasi beserta job description Lafial dapat dilihat dari struktur organisasi Lafial, sebagai berikut :

STRUKTUR ORGANISASI LAF IAL

KALAFIAL
TAU D

DEP P R O DK S I U

DEP WASTU

DEP MATKES

DEP DIKLITBAN G

SUB D E P BL SUB D E P N B L& S EPALO

SUBDEP KIMIA SUBDEP IN STR SUBDEP MIK R O B

SUB D E P RENPROD SUB D E P DEPO SUB D E P D AL HAR MAT

SUBDEP DIKLAT SUBDEP LITBAN G

Gambar 1. Struktur Organisasi Lafial

1. Unsur Pimpinan

Unsur pimpinan di Lafial adalah Kepala Lafial yang dijabat oleh seorang Perwira Menengah (Pamen) yang berpendidikan Apoteker. Kepala Lafial adalah pembantu dan pelaksana Kadiskesal dibidang kefarmasian dengan tugas dan kewajiban dalam penyelenggaraan dan pembinaan Lafial, pengendalian semua unsur dibawahnya dengan pengendalian program kerja Lafial guna menjamin sasaran program dibidang produksi dengan menerapkan CPOB. Kepala Lafial juga mempunyai tanggung jawab mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan program. Guna menjamin pencapaian sasaran program yang berhasil guna dan berdaya guna serta berhak mengajukan pertimbangan kepada Kepala Diskesal mengenai hal-hal yang berhubungan dengan tugas Lafial. 2. Unsur Pelayanan Tata Usaha dan Urusan Dalam dipimpin oleh Kepala Tata Usaha dan Urusan Dalam, sebagai unsur pelayanan di Lafial yang mana dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya bertanggung jawab penuh kepada Kalafial. Tata Usaha dan Urusan Dalam terdiri dari: a. Urusan Tata Usaha Urusan Tata Usaha bertugas melaksanakan pelayanan administrasi umum di lingkungan Lafial termasuk membantu menyiapkan data-data pelaksanaan fungsi Lafial untuk bahan penyusunan laporan Lafial. b. Urusan Dalam Urusan Dalam bertugas melaksanakan urusan dalam di lingkungan Lafial. Dalam melaksanakan tugasnya Urusan Dalam menyelenggarakan fungsi-fungsi sebagai berikut : 1) Melaksanakan pengamanan/ penjagaan di dalam kompleks Lafial.

2) Melaksanakan pengunjung.

penegakan

disiplin

anggota

dan tata

tertib

3) Melaksanakan pengaturan fasilitas sarana, perbengkelan, termasuk fasilitas pengelolaan limbah cair dan padat. 4) Melaksanakan material. pelayanan angkutan personil dan

5) Melaksanakan pemeliharaan, perbaikan listrik dan bangunan sipil. c. Urusan Keuangan Urusan keuangan bertugas melaksanakan administrasi keuangan termasuk melaksanakan pengurusan serta pembayaran gaji, dan lainlain yang berhubungan dengan tugasnya. d. Urusan Administrasi Personalia Urusan Administrasi Personalia bertugas melaksanakan pelayanan administrasi personil di lingkungan Lafial, membantu menyiapkan data personil untuk evaluasi Daftar Susunan Personil (DSP) dan membantu menyiapkan bahan-bahan untuk pembuatan laporan bidang personil. 3. Unsur Pelaksana Unsur Pelaksana di Lafial terdiri atas empat departemen, yaitu Departemen Produksi, Departemen Pengawasan Mutu (Wastu),

Departemen Material Kesehatan (Matkes) dan Departemen Pendidikan Penelitian dan Pengembangan (Diklitbang). a. Departemen Produksi Kegiatan produksi dapat dilaksanakan apabila telah ada Surat Perintah Produksi (SPP) yang telah diterima oleh Kepala Departemen Produksi yang akan dicatat dan dibukukan. Kemudian diteruskan ke sub departemen pelaksanaan produksi yang terlibat untuk dibuat jadwal

produksi dan disiapkan peralatan, ruang dan personil untuk keperluan tersebut. Produksi dilakukan mengikuti prosedur yang tertera pada Standart Operating Procedure (SOP) obat Lafial dan langkah-langkahnya dicatat pada batch produksi record yang diparaf oleh petugas pelaksana dokumentasi. Selama produksi, mutu sediaan dipantau oleh Departemen Pengawasan Mutu. Pada saat dilakukan pemantauan atau pemeriksaan ini maka produksi tidak dapat diteruskan. Kegiatan produksi diteruskan setelah memperoleh tanda lulus dari Departemen Pengawasan Mutu. Departemen Produksi dibagi menjadi dua sub departemen yaitu: 1) Sub Departemen Beta Laktam Sub Departemen Beta Laktam bertugas memproduksi obat-obatan yang mengandung cincin beta laktam, yaitu antibiotik dalam bentuk sediaan tablet, kapsul dan sirup kering. 2) Sub Departemen Non Beta Laktam dan Sepalosporin. Sub Departemen Beta Non Laktam dan Sepalosporin bertugas memproduksi obat-obatan antibiotik yang tidak mengandung cincin beta laktam dan antibiotik Sepalosporin, serta obat-

obatan lain dalam bentuk sediaan tablet, kapsul, krim dan sirop kering. b. Departemen Pengawasan Mutu (Wastu) Bagian Departemen yang ini disebut juga dengan Quality Control atau QC. Pengawasan Mutu adalah unsur pelaksana Lafial

bertugas menyelenggarakan pengawasan atau pengujian mutu produksi obat Lafial sehingga menjamin kualitas produk yang dihasilkan selalu memenuhi persyaratan departemennya. Pengawasan mutu meliputi semua fungsi analisis yang dilakukan di laboratorium, termasuk pengambilan contoh, pemeriksaan dan mutu sesuai dengan tujuan pengguna

pengujian bahan awal, produk antara, produk ruahan dan obat jadi. Dalam melaksanakan tugas departemen Wastu menyelenggarakan fungsi-fungsi sebagai berikut: 1) Melaksanakan pengambilan contoh dan pemeriksaan terhadap

obat-obatan, makanan dan air yang digunakan di lingkungan TNI AL atau tugas-tugas TNI. 2) Melaksanakan pemeriksaan mutu bekal farmasi (bahan baku obat, obat setengah jadi dan bahan pengemas). Dalam rangka Drug Quality Control dan Quality Assurance produksi obat Lafial sesuai dengan persyaratan Farmakope Indonesia. 3) Melaksanakan pemeriksaan bahan baku, mutu obat, makanan dan air atas permintaan instansi TNI yang membutuhkan. 4) Mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan programnya guna menjamin pencapaian sasaran secara berhasil dan berdaya guna. 5) Mengajukan pertimbangan dan saran kepada Kepala Lafial khususnya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan bidang tugasnya.

Departemen Pengawasan Mutu terdiri dari tiga sub Departemen, yaitu : 1) Sub Departemen Analisis Instrumental Sub departemen ini bertugas melaksanakan pemeriksaan

menggunakan instrumen analisis fisika kimia bahan baku obat, obat setengah jadi dan obat jadi, dalam rangka pengawasan mutu obat Lafial serta pengawasan obat dan makanan di lingkungan TNI AL. Pemeriksaan yang dilakukan terhadap sediaan tablet, kapsul dan kaplet meliputi kadar, keseragaman bobot, keragaman bobot, kerapuhan tablet, disolusi, disintegrasi, uji kebocoran

pada kemasan primer strip/blister. Pemeriksaan yang dilakukan terhadap sediaan cair dan salep meliputi kadar, bobot jenis, pH, kekentalan, volume, pada kemasan botol. 2) Sub Departemen Laboratorium Kimia Sub departemen ini bertugas melaksanakan pemeriksaan secara kimiawi bahan baku obat, obat setengah jadi, obat jadi dan bahan pengemas, dalam rangka pengawasan obat dan makanan di lingkungan TNI AL yang disesuaikan dengan Farmakope kekeruhan, homogenitas, tes kebocoran

Indonesia. Pemeriksaan berdasarkan reaksi-reaksi yang terjadi dengan menggunakan reagen tertentu. Sub departemen ini juga memeriksa secara rutin air minum dan makanan di lingkungan Lafial, air minum di kapal TNI-AL maupun masyarakat juga dilakukan.

3) Sub Departemen Laboratorium Mikrobiologi Sub departemen ini bertugas melaksanakan pemeriksaan secara mikrobiologi bahan baku, obat setengah jadi dan bahan pengemas dalam rangka pengawasan obat dan makanan di lingkungan TNI AL. Pemeriksaan di laboratorium ini meliputi : 1) Uji sterilisasi, seperti bahan baku dan bahan penolong. 2) Uji potensi antibiotik, seperti Ampisilin, Amoksisilin,

Kloramphenicol, Tetrasiklin. 3) Uji koefisien fenol, terutama pada produk antiseptik Lafial seperti Lisol dan Povidone Iod. 4) Uji terhadap kualitas air, meliputi pemeriksaan bakteri patogen E. Coli, uji kadar logam dan bilangan kuman. 5) Uji kebersihan ruang produksi, meliputi ruang produksi laktam dan non -laktam serta peralatan yang digunakan. 6) Uji makanan dan minuman, dilakukan terhadap makanan atau minuman tertentu yang sudah mendekati expired date. Serta dilakukan juga pada saat ada kejadian keracunan makanan dan minuman. c. Departemen Material Kesehatan (Matkes) Departemen Material Kesehatan merupakan bagian yang

melakukan perencanaan produksi, penyediaan bahan baku produksi dan pemeliharaan material kesehatan yang di industri swasta pada

umumnya disebut dengan Production Planning Inventoryy Control (PPIC). Perencanaan dan penyediaan bahan baku di Lafial dilakukan oleh suatu Panitia Kerja yang beranggotakan personil Lafial dan personil dari Diskesal. Program kerja departemen Matkes adalah: 1) Membuat daftar kebutuhan bahan baku, bahan penolong dan bahan pengemas, berdasarkan rencana kebutuhan obat jadi sesuai dengan program kerja dan anggaran Diskesal tahun tersebut. 2) Menyusun rencana dan melaksanakan pengadaan kimia serta bahan sarana

tambahan, bahan

penolong, reagensia

pendukung dalam pelaksanaan produksi. 3) Membuat Surat Perintah Produksi obat jadi dan mengendalikan tahapan kegiatan produksi obat jadi. 4) Melaksanakan pengiriman obat jadi ke gudang Matkes pusat, menyiapkan konsep laporan produksi obat jadi setiap triwulan dan tahunan ke Diskesal. 5) Melaksanakan administrasi pergudangan di Lafial. 6) Melaksanakan pemeliharaan alat-alat produksi, alat laboratorium dan alat kesehatan lainnya secara periodik dan skala prioritas untuk menunjang produksi dan pemeriksaan laboratorium Departemen Matkes terdiri atas tiga sub departemen, yaitu : 1) Sub Departemen Perencanaan Produksi

Rencana produksi obat selama 1 tahun disusun oleh suatu tim atau Panitia Kerja Perencanaan Produksi Diskesal. Rencana produksi disesuaikan dengan laporan beban kerja pada tahun sebelumnya, yaitu laporan tahunan mengenai jumlah penderita dan jenis penyakit. Pertimbangan penentuan jumlah dan jenis obat yang akan diproduksi berdasarkan data kebutuhan obat dari bagian pelayanan, persediaan pada awal tahun dan anggaran tahunan. Data tersebut kemudian disusun kembali berdasarkan prioritasnya, dengan mempertimbangkan jumlah yang tersedia pada awal tahun dan kecepatan produksinya yaitu kapasitas dan tenaga kerja yang tersedia. Obat yang diperlukan dalam jumlah kecil, harganya murah dan obat-obat untuk jenis penyakit spesifik seperti jantung, diabetes, hipertensi tidak diproduksi oleh Lafial. Hasil perencanaan produksi tersebut kemudian dituangkan dalam program kerja anggaran tahunan Diskesal. Berdasarkan rencana produksi ini Diskesal menyediakan bahan baku zat aktif yang dibutuhkan untuk produksi Lafial. Sedangkan untuk

bahan- bahan penolong dan pengemasnya disediakan oleh Lafial sendiri. Setiap bahan baku yang dibeli harus disertai

dengan CA (Certificate of Analysis) . Meskipun telah disertai CA, untuk bahan baku zat aktif tetap dilakukan pemeriksaan oleh bagian Wastu Lafial. Penyediaan bahan baku oleh Diskesal dilakukan dengan cara lelang. Peserta lelang adalah PBF milik rekanan TNI AL yang

telah terdaftar. Bahan baku disediakan oleh rekanan yang memenangkan lelang. Sedangkan pengadaan bahan penolong dan pengemas dilakukan oleh Lafial. Spesifikasi teknis masing-masing bahan yang dibutuhkan ditentukan oleh Sub Departemen

Perencanaan Produksi. Bagian perencanaan produksi kemudian menyusun jadwal produksi dan berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan, bagian ini membuat konsep Surat Perintah Produksi, yang berisi sediaan yang akan diproduksi. Konsep Surat Perintah Produksi diajukan kepada Kepala Lafial setelah diparaf untuk diketahui oleh Kepala Bagian Matkes. Surat Perintah Produksi dikeluarkan oleh Kepala Lafial dan merupakan perintah untuk melaksanakan kegiatan produksi. Tanpa adanya Surat Perintah Produksi, produksi tidak dapat dilakukan. Jadwal produksi dapat diubah apabila ada permintaan persediaannya habis di gudang obat kegiatan

obat yang jadi

Material Kesehatan/Diskesal. Obat yang habis tersebut menjadi prioritas utama untuk diproduksi. 2) Sub Departemen Depo Produksi Depo produksi merupakan tempat atau gudang penyimpanan sementara untuk bahan-bahan produksi dan obat jadi. Bahan produksi terdiri atas bahan baku dan bahan penolong lainnya dan obat jadi disimpan pada gudang terpisah. Bahan baku produksi dibedakan menjadi dua macam yaitu golongan beta laktam dan non

beta laktam yang disimpan pada gudang terpisah. Bahan baku zat aktif yang datang dari rekanan diterima di gudang Diskesal. Bahan baku tersebut kemudian diperiksa oleh Departemen Wastu. Bahan baku yang dinyatakan memenuhi persyaratan oleh

Departemen Wastu akan diberikan label lulus yang berwarna hijau, dan apabila tidak memenuhi persyaratan diberi label tidak lulus yang berwarna merah, dan akan dikembalikan ke supplier. Label tersebut ditempelkan pada pengemasnya. Untuk bahan penolong tidak dilakukan pemeriksaaan kecuali jika bahan tersebut diragukan kualitasnya. Sub departemen depo produksi akan mengambil bahan baku tersebut dari gudang Diskesal untuk dipindahkan ke depo produksi Lafial. Barang yang masuk ke gudang penyimpanan Lafial dicatat dalam buku penerimaan bahan baku. Bahan baku yang diterima sub departemen depo produksi akan dicatat dalam kartu persediaan. Berdasarkan Surat Perintah Produksi yang dikeluarkan oleh Kepala Lafial, sub departemen depo produksi mengeluarkan barang-barang yang tercantum dalam SPP untuk diberikan ke departemen produksi dan dicatat pada bukti pengeluaran. Apabila departemen produksi membutuhkan barang-barang selain yang tercantum dalam Surat Perintah Produksi, sub bagian depo produksi membuat Surat PUT (Perintah Untuk Terima) yang diajukan ke Kepala Lafial untuk ditindak lanjuti dengan pembelian barang yang

diperlukan

tersebut.

Barang

yang

telah

selesai

diproduksi

disimpan di gudang barang jadi dan dikirim ke gudang Diskesal untuk selanjutnya Yankes didistribusikan ke unit-unit

TNI AL berdasarkan SPPB yang

dikeluarkan oleh Kepala Lafial. Obat jadi yang dikirim ke gudang Diskesal disertai dengan bukti pengeluaran obat jadi. Gudang di Lafial terbagi menjadi : a) Gudang bahan baku non beta laktam yang digunakan untuk menyimpan bahan baku non beta laktam dan bahan penolong. b) Gudang bahan baku beta laktam yang digunakan untuk menyimpan antibiotik amoxicilin. c) Gudang obat jadi dan pengemas, untuk obat yang telah lulus uji kelayakan diberi tanda pada kemasannya. Untuk obat yang waktu Expired Date (ED) cepat dicantumkan batas waktu penyimpanan, untuk yang masa ED diatas 3 tahun tidak dicantumkan tetapi hanya dicantumkan nomor batch dan tahun pembuatan. d) Gudang bahan cairan atau mudah terbakar. Penyusunan barang-barang di dalam gudang berdasarkan FIFO dan alfabetik, dilengkapi dengan alat pengatur udara dan kelembaban. 3) Sub Departemen Pengendalian dan Pemeliharaan Material

(Dalharmat)

Departemen

ini

bertugas

melaksanakan

pengendalian

dan pemeliharaan material, meliputi alat produksi, alat laboratorium dan alat-alat pendukung lainnya. Untuk

melaksanakan perbaikan maupun pemeliharaan alat, terlebih dahulu bagian yang membutuhkan

pemeliharaan mengisi buku permohonan perbaikan pemeliharaan, kemudian sub departemen Dalharmat akan

melakukan perbaikan atau pemeliharaan sesuai dengan kebutuhan. Apabila memungkinkan, perbaikan akan dilakukan di tempat oleh petugas Dalharmat. Apabila tidak, maka perlu diatur jadwal untuk dibawa keluar atau memanggil petugas ahli atas perintah Kepala Lafial. Apabila telah selesai perbaikan, mengisi buku terima selesai perbaikan. Apabila alat atau mesin yang rusak tidak dapat diperbaiki baik oleh pihak dalam maupun luar maka sub departemen Dalharmat akan mengeluarkan surat permohonan pembelian barang untuk mengganti alat yang rusak tersebut. Setiap mesin yang berada di bawah tanggung jawab sub departemen Dalharmat mempunyai kerusakan kartu dan pelaporan pemeliharaan alat yang

ditempelkan pada mesin tersebut. d. Departemen Pendidikan Pelatihan dan Pengembangan (Diklitbang) Departemen Pendidikan Pelatihan dan Pengembangan bertugas

menyelenggarakan penelitian dan pengembangan kefarmasian untuk melaksanakan produksi, farmasi matra laut, farmasi militer, pendidikan dan latihan tenaga kefarmasian serta menyusun rencana dan program

pelaksanaannya. Departemen Pendidikan Penelitian dan Pengembangan terdiri dari dua sub departemen yaitu : 1) Sub departemen Pendidikan dan Pelatihan Sub departemen ini bertugas menyiapkan dan melaksanakan pendidikan dan pelatihan personil di bidang farmasi. 2) Sub departemen Penelitian dan Pengembangan Sub departemen ini yang mengurus, menyiapkan serta

melaksanakan uji coba dalam rangka pengembangan produksi dan penelitian farmasi matra laut untuk mendukung kegiatan operasi militer khusus di laut, memantau perkembangan ilmu matra laut serta melakukan uji coba dan latihan. Departemen Pendidikan Penelitian dan Pengembangan mempunyai tugas sebagai berikut: 1) Melaksanakan uji coba untuk menyempurnakan dan

mengembangkan produksi obat Lafial. 2) Melaksanakan uji coba bidang obat-obatan, sediaan farmasi dan kimia lainnya khas matra laut guna mendukung operasi dan latihan TNI. 3) Melaksanakan pengambilan, penyimpanan dan pengamatan setiap item produk secara berkala dalam rangka melaksanakan validasi mutu. 4) Melaksanakan pelayanan dan bimbingan pendidikan bagi

mahasiswa yang melakukan penelitian dan praktek kerja lapangan di Lafial. 5) Melanjutkan kegiatan peningkatan pengetahuan dan pelatihan tentang ilmu farmasi khususnya di bidang CPOB bagi karyawan Lafial dalam rangka meningkatkan ketrampilannya. 6) Koordinasi dengan pihak terkait baik di lingkungan

Lafial/Diskesal, perguruan tinggi maupun TNI AL/TNI lainnya untuk melaksanakan penelitian dan pengembangan farmasi. 7) Mendidik tenaga pelayanan perpustakaan dan melengkapi buku referensi atau literatur di bidang farmasi dan kimia

D. Sumber Daya Manusia Personil di Lafial memiliki kualifikasi pendidikan Apoteker, Asisten Apoteker, Sarjana Administrasi, Analis Kesehatan, pendidikan umum dan pendidikan khusus. Berdasarkan status pegawai ada 3 golongan yaitu militer, Pegawai Negeri Sipil dan Calon Pegawai Negeri Sipil (honorer). Waktu kerja di Lafial adalah sebagai berikut : Hari Senin, Selasa, Rabu dan Kamis : pukul 07.00 14.30 WIB Hari Jumat : pukul 07.00 15.00 WIB Setiap pagi sebelum memulai kegiatan dan sore setelah melakukan kegiatan dilakukan apel yang diikuti oleh seluruh personil Lafial. Khusus hari Selasa dan Jumat pagi diadakan olahraga yang dilakukan di Senayan. Jumlah personil disemua bagian hendaknya memiliki cukup pengetahuan, keterampilan dan kemampuan sesuai bidangnya, memiliki kesehatan mental dan fisik yang baik sehingga mampu melaksanakan tugasnya secara profesional sebagaimana mestinya, serta mempunyai sikap dan kesadaran tinggi untuk melaksanakan tugas sesuai CPOB.

E. Lokasi Gedung dan Sarana Produksi Lafial terletak pada persimpangan jalan besar, yaitu Jl. Gatot Subroto, tepatnya berada di Jl. Bendungan Jatiluhur No. 1 Jakarta Pusat. Sebelah selatan dibatasi dengan Jl. Farmasi, sebelah barat dengan Lembaga Kedokteran Gigi TNI AL (Ladokgi), sebelah utara dibatasi oleh Sekesal Jakarta dan sebelah timur dibatasi dengan Jl. Bendungan Jati Luhur. Lafial dibangun diatas tanah seluas 0,65 hektar dengan luas bangunan kurang lebih 2.650 meter persegi. Bangunan berbentuk segi lima, terdiri dari dua lantai meliputi ruang produksi beta laktam terdiri dari 17 ruang, ruang produksi non beta laktam terdiri dari 5 ruang, ruang pendidikan, aula, gudang terdiri dari 7 ruang, ruang Kepala Lafial, ruang rapat, ruang administrasi, ruang teknik, ruang pemegang kas, ruang tamu, ruang perpustakaan, kantin, ruang ganti dan mushola. Ruang dan Peralatan Produksi Lafial yang meliputi produksi Beta Laktam dan Non Beta Laktam. 1. Ruang Produksi Beta Laktam Ruang produksi Beta Laktam terpisah dengan ruang produksi Non Beta Laktam. Tekanan udara dibuat negatif dengan dialirkan secara efektif dari koridor ke ruangan pengolahan. Ruang ini sesuai dengan fungsinya terdiri dari air shower, ruang penimbangan, ruang pencampuran, ruang granulasi kering, ruang pengering, ruang cetak tablet, ruang isi kapsul, ruang isi sirup kering, ruang produk antara, ruang produk ruahan, ruang

stripping, ruang pengemas, ruang in proces control, ruang pencucian alat dan ruang administrasi. Peralatan produksi yang ada di ruang produksi beta laktam adalah timbangan, mesin kapsul otomatis Zanasi, mesin cetak tablet JCMCO Double Layer, mesin cetak tablet Wilhem Fette, mesin granulasi kering Communiting Mill Rimex Model RM 300, mesin isi kapsul semi otomatis Forecma, mesin penghitung Cheng New, mesin kemas sekunder, mesin Mixing Drum Power Hang Yuh dan mesin cuci botol. 2. Ruang Produksi Non Beta Laktam Ruangan ini memiliki tekanan udara positif. Udara dialirkan secara efektif dari ruang pengolahan ke koridor melalui HEPA filter. Ruang pengolahan di bagian ini sesuai dengan fungsinya seperti ruang timbang, ruang antara, ruang pencampuran, ruang isi kapsul, ruang cetak tablet, ruang produk ruahan, ruang pengering, ruang granulasi kering, ruang IPC, ruang pencucian administrasi, ruang produk antara, ruang stripping dan ruang pengemas. Peralatan yang ada di ruang produksi non beta laktam adalah timbangan, mesin pencampur serbuk Kikusui, mesin super mixer Jan Chuang, mesin pencetak tablet Wilheim Fette, mesin pencetak tablet JCMCO Double Layer, mesin pencetak tablet Courtoy Layer, mesin granulasi kering Kikusui, alat uji kerapuhan Erweka TA3R, alat uji kekerasan Erweka Apparatebau, mesin penyalut film Thai coater-25, mesin pengisi kapsul semi otomatis Forecma, mesin emulsi mixing salep

Minoga HS 100S, mesin pengisi salep Ganzhorn Gasti, mesin pengisi sirup Jih Cheng, mesin pemanas air Vasel Double Jacked Pharmeq, mesin strip tablet Single Roll Nam Lyon, mesin strip tablet Chentai Roc, mesin tablet Single Roll Chung Yung, mesin pengemas sekunder Labelling Jih Cheng, mesin penutup botol Jih Cheng, mesin cuci botol semi Automatic Rotary Forecma, mesin Counting Cheng New dan mesin pengering botol Pharmeq. Produk-produk yang dihasilkan adalah: a. Obat Dalam Sediaan padat terdiri dari : kapsul Amoksisilin 250 mg dan kloramfenikol 250 mg, tablet/kaplet Antidiare, Antiinfluenza,

Amoksisilin 500 mg kapsul, Amoksilin 250 mg tablet, Antalgin 500 mg tablet, Chloroquin, Immodial, maag tablet, Parasetamol, Ponstal, Sulfatrim, Vitaneuron, Vitarma, Diklofal SR, kapsul Tetrasiklin 250 mg, captropil 25 mg tablet, piroxicam 20 mg, cefadroksil 500 mg tablet, imodiol tablet, Isodaksol tablet. Sediaan cair yaitu sirup obat batuk, sirup Diphenhydramin, Parasetamol. b. Obat Luar Sediaan semi padat terdiri dari salep Chloramfenicol, Hidrokortison krim, Chloracort krim, Gentamisin krim, dan Ketokonazol krim. sirup

Sediaan cair yaitu Povidon 10%. c. Farmasi Matra Laut dan Farmasi Militer

Pasta penyamaran, minyak senjata dan obat nyamuk. F. Unit Pengolahan Limbah Salah satu hal yang penting dan perlu diperhatikan oleh sebuah industri farmasi adalah masalah limbah. Lafial menyadari dampak yang

ditimbulkan oleh limbah tersebut terhadap lingkungan sehingga melakukan penanganan khusus terhadap limbah-limbah yang dihasilkan. Tujuan adanya sistem penanganan limbah adalah untuk menghindari pencemaran air tanah serta menghindari penyebaran kuman patogen. Limbah yang dihasilkan oleh Lafial berupa limbah padat dan cair. Upaya penanganan limbah yang dilakukan terdiri dari: 1. Upaya Pengolahan Limbah Padat Limbah padat yang dihasilkan berupa wadah atau pengemas bahan baku yang digolongkan ke dalam bahan beracun dan berbahaya serta debu-debu industri baik dari produksi beta laktam maupun non beta laktam. Limbah tersebut dikumpulkan melalui dust collector yang ada di ruang produksi. Selanjutnya limbah tersebut dibakar menggunakan incenerator, bekerjasama dengan Rumah Sakit AL Mintohardjo. 2. Upaya Pengolahan Limbah Cair Limbah cair yang ada di Lafial berasal dari proses produksi, baik beta laktam maupun non beta laktam, pencucian botol dan alat laboratorium. Semua limbah cair tersebut dialirkan dan diproses melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Khusus untuk limbah cair dari unit produksi beta laktam sebelum diproses melalui IPAL terlebih dahulu diinaktivasi untuk memecah cincin beta laktam dengan penambahan NaOH sampai dengan pH 8-10. Setelah dinetralkan dengan penambahan HCl dan didiamkan selama 2-3 jam, limbah tersebut lalu dialirkan dan digabung dengan limbah cair non beta laktam untuk diproses lebih lanjut.

Pada proses pengolahan limbah cair ini terdapat tahapan aerasi limbah dengan aerator yang berisi bakteri aerob. Hal ini dimaksudkan agar bakteri aerob dapat hidup sehingga dapat membantu penguraian limbah. Setelah diaerasi, limbah tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kolam yang di dalamnya terdapat ijuk dan karbon aktif, dan kemudian diaerasi lagi dengan aerator. Limbah cair tersebut kemudian dialirkan ke kolam yang di dalamnya terdapat indikator hidup yaitu ikan mas. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah limbah tersebut sudah aman atau masih berbahaya bagi mahluk hidup. Terakhir, setelah dinyatakan aman bagi lingkungan hidup, limbah cair tersebut dialirkan ke saluran irigasi yaitu ke sungai Ciragil.