LIBERALISASI PERDAGANGAN: SISI TEORI, DAMPAK EMPIRIS DAN PERSPEKTIF KETAHANAN PANGAN

Gatoet S. Hardono, Handewi P.S. Rachman, dan Sri H. Suhartini
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani 70 Bogor

ABSTRAC T Domestic market deals with liberal global market as the consequence of Indonesia as an open economy. Liberalized market is due to unilateral policies and the results of ratifying regional and international trade agreements including both tariff and non-tariff. Perspective of food security in the era of trade liberalization is characterized by increased food supply from import market. It is necessary to implement policies to supply food produced domestically in order to improve decreasing performance of national food security, to conduct food trade and marketing without harming the farmers, and to establish law enforcement to protect domestic food market and interests of the parties involved in the trade and marketing activities especially the foodproducing farmers. Key words : liberalization, trade, food

ABSTRA K Sebagai negara ekonomi terbuka ( open economic ) situasi pasar domestik di Indonesia tidak terlepas dari gejolak pasar dunia yang semakin liberal. Proses liberalisasi pasar tersebut dapat terjadi karena kebijakan unilateral dan konsekuensi keikutsertaan meratifikasi kerjasama perdagangan regional maupun global yang menghendaki penurunan kendala-kendala perdagangan (tarif dan nontarif). Perspektif ketahanan pangan dalam era liberalisasi perdagangan dicirikan oleh kecenderungan semakin meningkatnya pasok pangan dari pasar Guna menghindari kinerja ketahanan pangan nasional yang semakin buruk diperlukan impor. serangkaian kebijakan yang tetap mendukung prioritas pemenuhan kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri, pengaturan pangan yang tidak merugikan petani produsen dengan bias konsumen, serta ketegasan perdagangan penerapan sanksi hukum untuk melindungi pasar pangan domestik dan kepentingan pelaku perdagangan, terutama petani produsen. Kata kunci : liberalisasi, perdagangan, pangan

PENDAHULUA N Pangan merupakan kebutuhan manu-dasar sia paling yang pemenuhannya hak bagi setiap orang. Akan tetapi, menjadi meski memiliki hak atas pangan yang cukup kenyataannya masih banyak orang yang pada ngalami kelaparan dan kekurangan mepangan. orang kelaparan dan kekurangan Populasi pangan terutama terkonsentrasi di wilayah- miskin di Asia Selatan dan wilayah Sahara Afrika (FAO, 2003). Menurut Subperkiraan FAO, satu dari tujuh penduduk dunia tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan. Kelaparan dan kekurangan pangan terjadi karena rapuhnya sistem ketahanan Namun pangan. demikian ketahanan tidak pangan hanya sekedar program untuk mengatasi
Handewi P.S. Rachman, dan Sri H. Suhartini

kelaparan atau kekurangan pangan. Lebih dari ketahanan pangan merupakan syarat itu, pembangunan sumberdaya manusia, bagi yang merupakan tujuan akhir dari nasional. Indonesia sejarah pembangunan Di membuktikan, ketahanan pangan sangat erat kaitannya ngan ketahanan sosial, stabilitas destabilitas ekonomi, politik dan keamanan atau ketahanan (Suryana, 2001; Simatupang, nasional 2001). Dimensi ketahanan pangan mencakup aspek ketersediaan, distribusi, dan nasional konsumsi serta keamanan pangan. Pada pek ketersediaan pangan termasuk asproduksi domestik, impor, ekspor, cadangan elemen: dan transfer pangan dari pihak atau lain. Adanya elemen ekspor-impor pada aspek negara ketersediaan pangan menunjukkan kinerja bahwa ketahanan pangan nasional tidak terlepas dari dinamika peran perdagangan
Gatoet S. Hardono,

L I B ERA L I S AS I P ERDA GA NGA N: S I S I T EO RI , D AM P AK E M PI RI S DAN PE RS PE K TI F K ET A HANA N PA NG AN

75

komo- khususnya perdagangan Isu liberalisasi perdagangan mewarnai perdagangan komoditas di pasar internasional dalam era globalisasi saat ini. Atas dasar itu maka pandangan pentingnya upaya-upaya timbul proteksi produksi dalam negeri dan kepentiterhadap ngan lainnya dari tekanan pasar internasional pemberlakuan kendala atau melalui perdagangan hambatan (Abidin. 2003). Dari sisi internal. 1993).Tulisan berikut bertujuan untuk sisi teoritis mengulas liberalisasi perdagangan dan hasil kajian empiris dampak liberalisasi tersebut serta kaitannya dengan perspektif ketahanan pangan nasional. Volume 22 No.internasional. Hal sebaliknya terjadi ( bila pemerintah cenderung menaikkan tarif meningkatkan hambatan dan nontarif.pakar perdagangan antar negara sebaiknya dibiarkan secara bebas dengan semini-mungkin mum pengenaan tarif dan lainnya. MOTIF PERDAGANGAN TEKANAN LIBERALISAS I DAN Ilham (2003) menyebut sebagai liberalisasi penggunaan mekanisme harga yang intensif sehingga dapat mengurangi lebih anti bias ekspor dari rezim perdagangan.jasa sebanyak konsumsi barang dan diproduksi sendiri. Desember 2004 : 75 . serta meningkatkan kesejahteraan bagi yang besar dibandingkan tidak ada perdagalebih ngan (Kindleberger dan Lindert. tekanan melalui berbagai aturan kesepakatan kerjaliberalisasi sama tersebut bukan tidak mungkin akhirnya akan berbenturan dengan pada kebijakan dan mengancam kepentingan internal nal. Disebut-pula kan bahwa liberalisasi juga kecenderungan makin berkurangnya menunjukkan pasar sehingga liberalisasi dapat menggamintervensi barkan situasi semakin terbukanya domestik untuk produk-produk luar pasar negeri. selain distribusi kesejahteraan antar negara meningkatkan sasi perdagangan juga akan meningkatkan liberalikuantitas perdagangan dunia dan efisiensi ekonomi. peningkatan Namun demikian. Perbedaan harga relatif itu al.pasar negatif dampak karena mendorong persaingan pasar yang tidak sehat. 2. . ditas pangan. 2000). oleh karena terdapat perbedaan penguasaan sumberdaya menjadi komponen pendukung daya yang saing.kerjasama ekonomi dan perdagangan pakatan regional maupun global. hambatan Hal ini didasari argumen bahwa perdagangan yang lebih bebas akan memberikan manf aat bagi kedua negara pelaku dan dunia. 1978). Dalam sistem pihak tertutup autarky ) ekonomi hanya dapat negara ( meng. Menurut Chacholiades (1978) pasi dalam perdagangan internasional bersifat partisibebas ( free ) sehingga keikutsertaan suatu negara pada kegiatan tersebut dilakukan secara sukarela. . tidak terkecuali perdagangan pangan.tinggi bila pemerintah suatu negara menurunkan tarif (bea masuk) produk diperdagangkan ( tariff reduction ) dan yang menghilangkan hambatan-hambatan nontarif non tariff barriers ). Pada kondisi semakin kuatnya an untuk meliberalisasi pasar. Percepatan perkembangan liberalisasi pasar terjadi karena dukungan revolusi di bidang teknologi. efektivitas tekanpemberlakuan kendala atau hambatan dalam akan menentukan tersebut perdagangan derajat keterbukaan pasar. Derajat penguasa. nasio.dan an sumberdaya kemampuan skala usaha dalam proses produksi secara mencapai bersama akan menjadi determinan daya dan arah serta saing menentukan intensitas negara dalam pasar internasional partisipasi (Susilowati. 1978. Sebagai negara ekonomi terbuka dan ikut meratifikasi berbagai kese.oleh kan Hadi (2003). keputusan suatu melakukan perdagangan internasional negara merupakan pilihan choice ) oleh sebab ( sering dikatakan perdagangan itu seharusnya memberikan keuntungan pada kedua (mutually benefited ). Menurut pendapat sebagian ekonomi. muncul sebagai perbedaan penguasaan sumberdaya dampak dari bahan baku proses produksi ( resource endowment ) antar negara. Dijelas.88 F ORUM PE NE L I TI AN AG RO E KO NO MI 76 . telekomunikasi dan transportasi yang mengatasi kendala ruang dan waktu 2003) (Kariyasa. sebagian pakar yang lain berpendapat lisasi berpotensi menimbulkan libera. Akan tetapi dengan melakuyang kan perdagangan ( open economic ) negara memiliki kesempatan suatu mengkonsumsi lebih besar dari kemampuannya karena terdapat perbedaan harga relatif dalam berproduksi proses produksi yang mendorong spesialisasi (Chacoliades. Keterbukaan pasar kin sema. Chaves et .

aat atau keuntungan dibukanya hui manf dagangan ukuran umum yang perdigunakan kesejahteraan adalah (Ilham. eksternal liberalisasi selain karena tekanan dorongan upaya regionalisasi terjadi pada akhir 1980-an hingga pertengahan 1990an (seperti dengan pembentukan AFTA APEC) juga karena keterikatan dan terhadap the komitmen Kesepakatan Putaran Uruguay ( Uruguay Round Agreement ) sebagai dari rangkaian putaran GATT General bagian ( Agreement on Tax and ) yang diubah menjadi organisasi kemudian formal Tariff bernama World Trade Organization WTO ( ). yaitu liberalisasi melalui kelembagaan penu. penerapan kuota sebenarnya tidak lebih baik dingkan diban. yait impor tertentu. Hardono. dan Sri H. small Secara konsep. PERUBAHAN KESEJAHTERAAN PERDAGANGA DALAM N Sistem perdagangan dunia yang bas dan terbuka menghendaki bedihilangkannya segala bentuk intervensi yang dapat torsi Meskipun penolakan mendis. Hal disebabkan masih terdapat perbedaan ini kemampuan menurunkan biaya produksi akan yang menentukan daya saing negara pelaku perdagangan. 1999.S. Kesepakatan dalam AFTA dan WTO bersifat mengikat).kendala perdagangan (tarif dan kendala runan nontarif) .consumer’s surplus ) men ( dan surplus dusen ( producer’s surplus ). namun seperti inilah yang seringkali membuat dalih perdagangan justru menjadi tidak adil. terhadap perubahan kesejahteraan Analisis kat akibat perdagangan atau penerapan masyarainstrumen liberalisasi perdagangan dapat dilakukan dengan menggunakan konsep surplus konsu. Rachman. Gatoet S. sebagai salah satu sumber penerimaan negara fungsi ( budgeter ) dan fungsi pemerataan distribusi (pemerataan pendapatan nasional). dan (2) pengenaan tarif bea masuk yang u tarif bertujuan untuk meningkatkan penerimaan negara. kawasan. 2003). dilakukan dengan dalih untuk intervensi menciptakan suatu perdagangan yang “adil”.penerapan tarif bea masuk karena kuota tidak memberikan penerimaan pemerintah. 2003. Untuk memacu mengeta. Kariyasa. Indonesia mulai formasi kebijakan di bidang perdagangan meresejak pertengahan dekade 1980-an. kebijakan tarif dapat diklasifikasikan sebagai: (1) tarif proteksi. kuota merupakan hambatan nontarif yang banyak digunakan untuk membatasi suknya impor barang dan jasa. atau bahkan yang bersifat global (Anugerah. Namun demikian semangat dibawa yang oleh ketiga bentuk relatif sama. ketika terjadi penurunan harga minyak mentah di pasar dunia yang merupakan andalan nasional. 2003). Makin terbuka dan perdagangan (pasar) antar negara juga terintegrasinya didorong faktor eksternal seperti karena terikat ratifikasi perjanjian perdagangan antar negara. fungsi tarif Berbea masuk menurut Hamdy (2000) adalah mengatur perlindungan kepentingan untuk ekonomi dalam negeri ( fungsi regulend ).proTarif dan Kuota Menurut tujuannya. L I B ERA L I S AS I P ERDA GA NGA N: S I S I T EO RI . Kondisi tersebut selanjutnya akan pertumbuhan ekonomi dunia. Dalam perspektif kesejahteraan negara. D AM P AK E M PI RI S DAN PE RS PE K TI F K ET A HANA N PA NG AN 77 . penghapusan berbagai bentuk intervensi dan hambatan kan penerapan liberalisasi perdagangan akan menjadimendorong peningkatan volume (ekspor dan perdagangan impor) lebih besar sehingga nilai tambah yang diciptakan juga makin besar. dan penerapan kuota memberikan kekuatan (2) dan fleksibilitas administrasi kepada pemerintah. Suhartini tergolong sebagai negara-negara kecil ( countries ). yaitu pengenaan tarif bea masuk yang tinggi untuk mencegah atau membatasi barang revenue .Secara internal. 2003). oleh Feridhanusetyawan dan Pangestu Dijelaskan (2003). ” Menurut kedua ekonom tersebut. Kindleberger dan Lindert memberikan batasan kuota sebagai a limit (1978) ” total quantity of imports allowed into a on the country each year. dasarkan tujuan tersebut. maPemberlakuan kuota impor pada umumnya dilandasi (1) jaminan kemungkinan alasan: sebagai pengeluaran impor akibat persaingan perdagakenaikan ngan luar negeri yang makin buruk.pasar. menghasilkan Feridhanusetyawan dan Pangestu. Namun dalam hal ini ekspor melakukan pemerintah serangkaian deregulasi ekonomi untuk mendorong ekspor yang devisa (Erwidodo. sedangkan dasar kesepakatan (binding APEC Asia Pacific Economic Cooperation ) ( bersifat sukarela. khususnya bagi pelaku yang Handewi P.

P = harga dunia plus tarif = harga domestik. Pada Gambar surplus konsumen merupakan 1. OQ penawaran yang dipenuhi produksi dari dalam negeri (domestik) adalah sebesar OQ karena 0 dibatasi oleh kurva penawaran . S w = penawaran dunia. Kondisi Perdagangan Kondisi Tanpa perdagangan situasi dimana tanpa (autarky ) menunjukkan bebas pena- a Pd b PW * e j f cd h i SW * SW Dd PW g 0 Q0 Q3 Q2 Pemberlakuan Q4 Tarif * Q1 dan Kuota terhadap d Gambar 1. S w* = penawaran dunia s etelah ada tarif. yaitu sebesar 2 . Perlu diketahui jukkan dalam bahwa skenario ini tidak ada penerimaan (revenue ) untuk pemerintah. autarky konsumen Kondisi ini juga tidak memberikan penerimaan bagi pemerintah sehingga total perubahan teraan adalah sebesar daerah kesejah(c+d+f+g+h+i). d kekurangan pasokan sebesar Q Q1 Adapun dipenuhi S 0 dari impor. Pada Gambar 1 hal itu harga ditun. Dampak Kesejahteraan Keterangan : S d = penawaran domestik. Adapun rincian perubahan teraan pemberlakuan kebijakan kesejah.P w = harga Kondisi Perdagangan Bebas (Sebagai Pembanding ) Di bawah rezim pasar bebas keseimbangan pasar berada pada harga P . Volume 22 No. Dengan asumsi ada perubahan permintaan maka tidak imbangan perdagangan terjadi pada harga kesed. produsen adalah daerah yang berada di Surplus atas F ORUM PE NE L I TI AN AG RO E KO NO MI waran barang yang diperdagangkan di dalam seluruhnya berasal dari produksi negeri domestik (tidak ada impor). Desember 2004 : 75 .Ilustrasi grafis dampak pemberlakuan tarif dan kuota secara parsial disajikan pada Gambar 1. sedangkan surplus konsumen daerah sebesar (a). P Sd kurva penawaran tetapi di bawah keseimbangan. Sesuai Gambar surplus produsen ditunjukkan oleh OQ 1. daerah (b+e+j). P w d = permintaan domestik.tersebut diringkas pada Tabel 1.oleh daerah (j). Surplus konsumen adalah yang daerahberada di atas garis harga tetapi di bawah kurva permintaan. Pada tingkat keseimbangan ini. gangan memperjelas gambaran tentang Untuk (perdagangan bebas) maka dalam ilustrasi liberalisasi ini dikemukakan situasi ketika negara tidak juga melakukan perdagangan dan setelah membuka perdagangan. W dimana jumlah penawaran sama dengan permintaan dan ditunjukkan oleh jumlah 1. .akibat perda. P Pada tingkat harga tersebut jumlah yang barang ditawarkan sama dengan jumlah yang diminta.D dunia.88 78 . penjumlahan dari daerah (a+b+c+d+e+f+g+h+i). 2. Bila dibandingkan dengan kondisi pada skenario perdagangan bebas maka terdapat pengurangan surplus sebesar (b+c+d+e+f+g+h+i).

Adapun perubahan atau penerimaan adalah sebesar (h) dan pemerintah perubahan kesejahteraan total (c+f+g+i).terjadinya produk keseimbangan terjadi pada harga sehingga P w *. SP = perubahan surplus produsen. Pemberlakuan kuota impor kan adanya kewajiban bagi negara menunjukpelaku perdagangan untuk mengimpor komoditas sejumlah dari negara mitra dagangnya. D AM P AK E M PI RI S DAN PE RS PE K TI F K ET A HANA N PA NG AN 79 . D = kuota tanpa tarif. Rachman.S.sebesar (f+i). Perubahan Tingkat Kesejahteraan Akibat Tarif dan Kuota Perubaha Skenario Perdagangan n Kesejahteraan A B C D E SP SK j (a+b+c+d+ e +f+g+h+i) 0 b+e+j -(b+c+d+e +f+g+h+i) 0 -(c+d+f+g+ h+i) e+j -(e+f+g+ h+i) g+h b+e+j -(b+c+e+ f+g) 0 b+e+j -(b+c+e+ f+g+h+i) h PP Total (a+b+c+d+e Perubahan +f+g+h+i+j Keterangan : A = perdagangan bebas. Development policy biasanya 2001). SK = perubahan surplus konsumen. Kebijakan Harga Dasar dan Subsidi Selain kebijakan yang bersifat dalam perdagangan juga dikenal kebijakan protektif promotif. sebesar penawaran yaitu OQ 4. dan Sri H. perubahan harga keseimbangan menjadi mengaw P kibatkan perubahan surplus produsen sebesar (e+j). total perubahan kesejahteraan adalah sehingga pengu. sebesar sedangkan pemerimaan Handewi P. Hardono. Pada harga keseimbangan jumlah penawaran sama dengan jumlah permintaan. L I B ERA L I S AS I P ERDA GA NGA N: S I S I T EO RI . Pada dasarnya terdapat dua kebijakantipe pemerintah di bidang pertanian yaitu development policy dan compensating policy (Saifullah. Pada dengan permintaan sebesar 4 OQ penawaran tersebut. W P dimana jumlah penawaran sama jumlah . nol dan total perubahan Kondisi Pemberlakuan Kuota Impor Tarif dan Impor Dalam skenario ini maka keseimbangan pasar berada pada tingkat harga *. merupakan penawaran dalam negeri dan kekurangannya sebesar Q4 3 Q berasal dari impor. sebesar OQ tingkat merupakan 2 penawaran dari dalam negeri dan Q Q4 2 berasal dari impor. Gatoet S. Salah satu kebijakan promotif terdapat pada sektor percontoh tanian yang terkait erat dengan aspek hanan ketapangan.berkurang sebesar (b+c+e+f+g+h+i) men sebesar (a+d).tetapi di sisi lain pengambilan opsi Akan jakan tersebut mengakibatkan surplus kebikonsu. sebesar adalah OQ 2 OQ merupakan penawaran dalam negeri sisanya (Q 1 Q2 ) merupakan dari impor.(P w *-Pw ) penerimaansebesar kepada pemerintah (g+h). yaitu sebesar se(b+e+j). C = tarif impor. Suhartini 1 . Pada Gambar 1 keseimbangan pasar akan pada dimana jumlah terjadiharga P w . Dari jumlah sebesar OQ 3tersebut.Tabel 1. penawaran sama dengan jumlah permintaan sebesar Dari jumlah tersebut. Dampak adanya kuota dan pemberlakuan tarif impor secara bersamaan menyebabkan terdapat surplus produsen perti pada skenario (4). Adapun surplus menjadi konsumen sebesar menjadi (a+b+c+d) atau sebesar dibandingkan berkurang(e+f+g+h+j) jika dengan perdagangan bebas. PP = perubahan penerimaan pemerintah. Dengan demikian. Kondisi Pemberlakuan Tarif Impor Pemberlakuan tarif impor akan ngakibatkan kenaikan harga me. Kebijakan promotif ditujukan mendorong pertumbuhan perdagangan untuk dari dalam negeri (ekspor). dan Surplus produsen sebesar (b+e+j) dan surplus sumen sebesar (a+d+h+i) atau konberkurang (b+c+e+f+g). E = kuota dengan tarif. rangan Kondisi Pemberlakuan Tarif Impor Tanpa Kuota Impor pemerintah kesejahteraan (c+f+g). Adanya tarif kondisi besar akan memberikan se. ) = tanpa perdagangan ( B -(f+i) -(c+f+g) -(c+f+g+i) autarky ).

terdapat lima manfaat dibukanya liberalisasi dagangan. akses pasar lebih luas pera sehingga memungkinkan diperoleh efisiensi karena liberalisasi perdagangan cenderung menciptakan pusat-pusat produksi baru menjadi lokasi berbagai kegiatan industri yang yang . Tujuan kedua kebijakan tersebut adalah mendorong produksi agar beras meningkat. Budiono (2001) menyebutkan. Kebijakan harga dasar dan kebijakan subsidi. (2) membuat OQ (1) atau menetapkan harga dasar sebesar OP . dapat dikatagorikan sebagai development policy . harga yang pemerintah Apabila P ditargetkan pemerintah adalah maka jumlah d harus tersedia untuk konsumen sebesar OP yang OQ F ORUM PE NE L I TI AN AG RO E KO NO MI Ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan untuk mencapai target sebesar .Harga b S 0 P P dg h S ee 1 P c wf i D a 0 Q dQ d Qd Volume Gambar 2. seperti kebijakan harga gabah subsidi pupuk yang pernah diberlakukan dan di Indonesia. 2. sedangkan compensating policy banyak dilakukan oleh negara yang mengalami surplus dan sulit memasarkan produknya. Rekapitulasi Perubahan Kesejahteraan Akibat Pemberlakuan Kebijakan Harga dan Subsidi Dasar Keterangan Konsumen Autark y Pasar bebas Harga dasar Subsidi Surplu Produsen s Pe ec Pw cf ch d P w ai P Pe eb Pw ib Pw ib Pw ib SKENARIO DAN LIBERALISASI Skenario Liberalisasi DAMPAK w . yang kekurangan (defisit) produk pertanian . Dalam konteks kesejahteraharga yang an. Dampak Penetapan Harga Dasar dan Subsidi terhadap Kesejahteraan dilakukan pemerintah untuk mendorong produksi pertanian dengan tujuan yang dicapai ingin adalah meningkatan produksi dan pendapatan petani. Desember 2004 : 75 . Volume 22 No. tujuan utama kebijakan adalah katkanmeningpendapatan petani tetapi dengan cenderungan menekan Development kepolicy banyak dilakukan oleh negara produksi. di sisi lain petani mendapat wajar. dampak pemberlakuan kebijakan harga dasar dan subsidi secara grafis dapat dijelaskan sebagai berikut : Pada Gambar 2 diasumsikan impor harga sama dengan harga yang ditargetkan dan harga yang dipertahankan (P d = w ). compensating policy Dalam. yaitu: w melakukan impor sebesar fi.88 80 . Tabel 2. atau d (3) memberikan subsidi harga input untuk menggeser kurva penawaran dari ke S 1 . Pertam . 0 Perubahan kesejahteraan akibat S penerapan kedua kebijakan dapat disimak pada Tabel 2.

perdagangproefisiensi. Suhartini 81 . Sedangkan tarif akan dipangkas sebesar 25 persen. PU kan persetujuan yang paling ambisius merupadibandingkan putaran-putaran GATT karena bertujuan mengontrol proliferasi segala sebelumnya bentuk proteksionisme baru untuk pada kecenderungan liberalisasi perdagangan menuju antarnegara. Sisi Positif Liberalisasi Menurut dan Negatif Indrawati (1995). iklim sehingga diturunkan.dengan kan negara non-ASEAN. tasi komitmen liberalisasi melalui PU implemen(WTO) yang disertai kebijakan liberalisasi unilateral secara internal akan lebih menguntungkan bagi Indonesia dibandingkan dengan mentasi PU secara tunggal. katnya mening.hasil produksi pertanian dari negaranegara maju yang mengakibatkan harga dunia untuk produk pertanian. Pada studi keterkaitan liberalisasi dengan aspek lingkungan Abimanyu berpendapat. Rachman. D AM P AK E M PI RI S DAN PE RS PE K TI F K ET A HANA N PA NG AN Handewi P. lebih bebas memberikan signal an yang harga “benar” yang sehingga meningkatkan investasi. meningNamun dapat berjalan dengan lancar. negara anggota ASEAN lebih banyak perdagangan dilaku. Hardono. dimana tarif produk pertanian akan diturunkan 24 persen di negara berkembang dan sebesar 36 persen di negara maju. bukan meningkatmana bagai. ratifikasi kerjasama perdagangan internasional melalui pembentukan kelembagaan APEC. merupakan seperti: AFTA dan WTO skenario liberalisasi bagi negara pelaku perdapilihan gangan. usaha menjadi lebih kompetitif sehingga ngurangi kegiatan yang rent seeking mebersifat mendorong dan pengusaha untuk kan produktivitas dan efisiensi.skenario proses liberalisasi tersebut akan menghasilkan dampak berbeda pula. yaitu sektor pertanian yang serta komoditas tekstil dan produk tekstil. mempermudah proses alih teknologi untuk meningkatkan duktivitas dan Keempat . karena memiliki sasaran dan mekanisme oleh implementasi yang berbeda-beda maka masing masing. kesepakatan penurunan tarif berlaku Padahal hanya negara-negara bagi anggota ASEAN. Akan tetapi. bahwa dalam liberalisasi perda(1995) Gatoet S. derajat manfaat dan tungan liberalisasi perdagangan sangat keuntergantung pada reformasi kebijaksanaan yang diambil dan keadaan struktur domestik negara berkembang itu perekonomian sendiri. dalam perdagangan yang efisiensi a lebih bebas kesejahteraan konsumen kat karena terbuka pilihan-pilihan baru. nya kesepakatan penurunan tarif melalui AkibatAFTA tidak efektif. Dalam praktek proses liberalisasi perdagangan dapat dilakukan melalui berbagai skenario. dan bantuan (supply management program ) telah pasokan menyebabkan distorsi perdagangan hasil pertanian Distorsi terjadi seiring dengan dunia. dan Sri H. Sementara implepembentukan AFTA diperkirakan hanya akan memberikan tambahan manf aat relatif bagi ataupun negara kecil Indonesia ASEAN karena wilayah dan pasar anggota ASEAN kecil. tekstil Proteksi yang dilakukan negara terhadap maju pertanian melalui kebijaksasektor naan harga ( price support ). PU dan diperkirakan akan meningkatkan perdagangan ga mencapai US $ 5 triliun pada tahun sehingatau 2005 kenaikan ekstra perdagangan 12 persen. Secara umum menurut (1995).mengharapkan mendapat fasilitas dari pemerintah Ketiga . penurunan harga produk pertanian yang rendah Meskipun menolong pengimpor negara tetapi faktor harga produk pertanian tersebut juga rendahnya akan memukul negara-negara berstatus netto produsen . Indrawati liberalisasi akan menguntungkan negara berkembang dan penduduk miskin bagi kelompok pendapatan menengah karena dari ekspor produk yang bersifat padat karya akan meningkat (terutama produk manufaktur). bantuan langsung (direct payment ). memperbaiki mekanisme penyelesaian persedan lisihan dengan menerapkan keputusan mematuhi aturan-aturan GATT. untuk pasar suatu yang kompetitif perlu dukungan undang-undangan yang mengatur perpersaingan yang sehat dan melarang praktek monopoli.S. termasuk Indonesia. arus perdagangan dan investasi yang lebih bebas . Disebutkan pula bahwa dampak perdagangan liberalisasi dunia terhadap negara berkembang terutama akan menyangkut produk sangat vital. Selain proses liberalisasi unilateral. termasuk aturan internasional dalam bidang Hak Properti Intelektual.saling terkait dan saling menunjang biaya produksi dapat Kedua . Hasil studi perbandingan perolehan manf aat antar skenario proses perkiraan liberalisasi perdagangan Feridhanusetyawan dan Pangestu (2003) menyebutkan. Namun demikian. Kelim . L I B ERA L I S AS I P ERDA GA NGA N: S I S I T EO RI . relatif Di samping itu.

Kelim . Hasil dalam lasi simu. Dengan demikian surplus persen perdaga-komoditas ngan pertanian Indonesia rung cende. Jepang. seberapa besar Indonesia m memperoleh akan manfaat liberalisasi perdagangan melalui kesepakatan diterapkannya PU tergantung tidak hanya pada hambatan di pasar penurunan perdagangan partner dagang Indonesia tetapi juga upaya membuka pasar Indonesia sendiri. sebagaimana klausul dalam aturan GATT.6 persen per tumbuh pada yang sama laju tahun. serta kopi. hambatan (4) nontarif. pohal Dalamini Indonesia akan memperoleh manfaat dari baik perdagangan maupun Hasil studi juga menunjukkan indikasi. selama lainnya tidak membedakan antara perusahaan domestik dan asing. peluang juga berpotensi menimbulkan tersebut negatif.menunjukkan bahwa nilai dan volume Indonesia masing-masing dapat meekspor ningkat sebesar 10.4 persen. produk mineral dan logam utama sebesar 59 persen. maKeena . (6) memantapkan batas wilayah dan ekspor. total ekspor ke ketiga negara tersebut juga Indonesia Tahun ekspor pertanian dominan. liberalisasi perdagangan melalui PU memperluas secara potensial akan akses pasar untuk Indonesia khususnya negara industri. dampak yaitu masuknya teknologi dan produk ke negara tujuan perdagangan. dan diterapkannya kesepakatan PU secara F ORUM PE NE L I TI AN AG RO E KO NO MI .5 persen. sebelum beberapa berikut: a tahun 1985 Indonesia sangat mengutamakan kebijakan proteksi pasar domestik. 2.pajak.4 persen (di luar minyak). komoditas kayu. PU berdampak positif terhadap upah riil akan terutama di negara berkembang. Hambatan tarif global produk ke Indonesia akan diturunkan industri 42 persen. pendapatan. biji-bijian (39 %).menurun dari waktu ke waktu. rata Eropa Uni turun sekitar 6. sekitar Keempat . Volume 22 No. dan distribusi.0 persen dan USA turun 6. kesepakatan PU diperkirakan a akan meningkatkan pendapatan dunia secara ikan dan terdistribusi secara luas diantara signif negara maju dan negara berkembang.0 per tahun. berlokasi. kakao dan gula sebesar 34 persen. beberapa produk ekspor utama Indonesia akan mengalami pemotongan besar di pasar ekspor tarif cukup Penurunan tarif terbesar dikenakan utama. Ketiga . kertas dan furniture pada sebesar 69 persen. Sejalan hal itu PU diharapkan berdampak dengan sitif terhadap perekonomian Indonesia. Di sisi lain. “kotor” susnya negara berkembang yang lebih khurendah standar lingkungannya. deregulasi dari sistem (5) deregulasi regim investasi.88 82 .tarif turun 4. teh. Salah satu sektor yang prosedur proteksi tinggi adalah sektor mendapat cukup makanan dan minuman food and beverage ).4 persen dan 12. Penurunan tarif substantif juga akan dikenakan pada tertentu seperti buah-buahan dan sayuran komoditas (36 bumbu-bumbu (35 %). waktu pertumbuhan impor pertanian tumbuh sebesar 15. menuju perdagangan bebas yang digulirkan sejak awal 1980-an pemerintah memperkenalkan beberapa kebijakan berikut (1) prosedur kepabeanan termasuk dikeluarkanpenyederhanaan nya undang-undang kepabeanan yang baru. adanya deregulasi perdagangan dengan partner dagang Indonesia mengakibatkan tidak hanya kehilangan daya saing ekspor tetapi juga kemungkinan penurunan kesejahteraan syarakat. ( Kedua . Adanya peluang menurut tersebut Abimanyu dapat menimbulkan dam-positif dalam hal pak fairness kompetisi dan kemampuan suatu perusahaan asing untuk menyesuaikan dengan kondisi teknologi) negara di mana (khususnya di perusahaan Akan tetapi disisi lain. 1985-1996 Indonesia dengan laju 10. pulp . USA dan Singapore merupakan tiga negara sumber utama impor Indonesia. Desember 2004 : 75 . dan peraturan pemerintah sidi. menurunkan tarif dan pungutan(2) (3) mengurangi lisensi impor dan pungutan. Penurunan tarif pada ke berbagai pasar ekspor utama akan memperluas akses pasar Indonesia. Perolehan ekspor dari berbagai komoditas tersebut meningkat dari 21 persen menjadi 50 dari persentotal nilai ekspor. tarif di negara-negara industri akan sekitar turun rata-rata empat persen. Kebijakan ini menimbulkan ekonomi biaya tinggi dan manfaat ekonomi lebih banyak dinikmati sebagian besar penerima proteksi oleh Dalam rangka mendorong reformasi tersebut. Studi tentang dampak perdagangan terhadap pertanian di liberalisasi Indonesia oleh Erwidodo (1999) menunjukkan temuan sebagai Pertam . biji berminyak dan lemak sebesar 40 persen. Di Jepang rata.gangan masing-masing negara dibolehkan menerapkan kebijaksanaan sebenarnya sub. dan %) produk pertanian lainnya (48 %).

lahan. Hampir tidak mungkin dibangun mengatasistruktur perkotaan yang cukup untuk inframenam-pesatnya urbanisasi. ubikayu dan kentang) di Indonesia menunjukkan bahwa di makro.keseluruhan diestimasi dapat pendapatan dan faktor meningkatkan rumahtangga masing-masing sebesar 2.0 persen dan 4. Dampak secara dan ruhan akan net surplus atau keselumeningkatkan kesejahteraan masyarakat. tidak hanya cukup menyangkut bidang ekonomi tetapi juga bidang nonHandewi P. kapital secara cepat dan berlebihan dalam waktu yang relatif singkat dari sektor pertanian dan jasa ke sektor manufaktur. Secara agregat diterapkannya kesepakatan PU akan meningkatkan manfaat bersih sosial ( net social benefit ) sekitar $ 782 juta. bersih (kualitas dan kuantitasnya). Lebih lanjut dikemukakan oleh (2002). konsumsi. Seperti pada elastisitas transmisi harga.transmisi tarif yang lebih tinggi berdampak negatif besar pada surplus produakan sen tetapi juga berdampak positif besar pada surplus konsumen dan secara total berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat. kemiskinan kepadatan kota. Sementara produktivitas pengtelah levelling padi mengalami pelandaian produksi ( off). sedangkan kebijakan penghapusan subsidi n harga input berdampak pada penurunan dan pendapatan petani. sebagai akibat penggunaan pupuk tidak sehingga respon yang berimbang produksi terhadap harganya menjadi inelastis. merugikan ini petani kecil yang umumnya miskin akan dan memperburuk distribusi pendapatan. perdagangan dan pemasaran beberapa komoditas terpilih (beras. kekurangan tinggal. kekurangan tempat tidak cukupnya taman.2 produksi persen. efek penurunanprodusen harga akan menurunkan an input pengguna. Perpindahan f aktor produksi tenaga seperti kerja. Suhartini ekonomi. Namun demikian produksi net mengalami totalsurplus akan Pemberlakuanpeningkatan.besarnya pi perubahan-perubahan sangat pada elastisitas tersebut tergantung transmisi pada harga di tingkat pedagang dari tarif besar.seperti pupuk dan tenaga kerja akan produktivitas dan yang menurunkan peneri. makin besar Amang dan Sawit (1997) mengingatkan bahwa dampak perdagangan bebas serius buat Indonesia. sehingga net Alternatif kebijakan totalsurplus berkurang. Sitepu kebijakan harga dasar gabah akan menyebabka net surplus bertambah. Dari studi dampak kebijakan ekonomi dan liberalisasi perdagangan terhadap penawaran dan permintaan beras di 1971-2000. jagung. perdagangan liberalisasi (dalam hal ini melalui penghapusan peran Bulog dalam pengadaan dan gabah/beras serta penghapusan tarif) penyaluran efisien dan tidak tepat untuk tidak dilaksanakan karena keuntungan yang diterima oleh men kecil dibandingkan dengan konsu-lebih kerugian yang diterima oleh produsen. kuantitas suplai dan surplus produsen. liberalisasi perdagangan antar negara melalui penurunan tarif untuk komoditas impor substitusiakan menurunkan harga di tingkat pedagang besar. besarnya terefleksikan dampak pada tingkat usahatani akan tung tergan.75 persen dari Indonesia tahun PDB 1992. masyarakat karena itu model-model peramalan Oleh mempelajari pengaruh perdagangan bebas untuk terhadap kesejahteraan masyarakat tidak cukup hanya melihat dampak terhadap Domestik Bruto (PDB) dan ekspor. tetapi Produk juga memperhatikan beberapa aspek perlu nonekonomi seperti diuraikan di atas. elastisitas transmisi dari harga di pedagang besar pada harga produsen. Melalui harga sendiri dan harga silang. air memburuknya lingkungan hidup dan meningkatnya nalitas. L I B ERA L I S AS I P ERDA GA NGA N: S I S I T EO RI . kedelai.bersih maan usahatani.S. harga produsen. Di tingkat usahatani studi menunjukkan. akan menimbulkan masalah baru yang lebih sulit dan mahal untuk nya. Hardono. sehingga pung muncul masalah kekumuhan dan akan di kota. teta. D AM P AK E M PI RI S DAN PE RS PE K TI F K ET A HANA N PA NG AN 83 . Rachman. tarif akan tersebut penurunan menurunkan harga di tingkat produsen. Studi Erwidodo dan Hadi (1999) tang dampak liberalisasi perdagangan terhatendap produksi. tingkat pada kondisi sebelum krisis ekonomi. Sitepu (2002) menunjukkan Indonesia areal closing bahwasawah telah mencapai kondisi cultivation frontier . nilai ini setara dengan 0. dan Sri H. dan elastisitas harga penawaran dan Elastisitas permintaan. impor surplus konsumen. yaitu mencapai maksimum lahan subur yang layak untuk batas areal sawah akibat meningkatnya kompetisi gunaan lahan.pada sistem pemasaran masingkomoditas. Di samping itu distribusi krimipendapatan akan semakin timpang. Namun liberalisasi perdagangan tersebut berdampak meningkatkan kuantitas permintaan. Makin efisien sistem masing pemasaran elastisitas transmisi harga. Gatoet S.

regional.88 84 . dimana laju peningkatan ekspor 12 mencapai 11 persen dan laju impor sebesar 13 persen. 1996). Volume 22 No. Dijelas. dan (3) pengurangan bantuan domestik. Namun demikian. pangan.oleh kan Suhardjo (1996). Terpenuhinya individu kecukupan mensyaratkan pangan ketersediaan baik dalam kuantitas maupun kualitas. Akan tetapi berbeda dari neraca gangan perda. Menurut Sawit (2001). pertanian liberalisasi mengalami dan hanya mengacu pada sinyal(Hadi. Akibat selanjutnya. Di tarif impor Indonesia komoditas pertanian. Namun implementasi Perjanjian tanian Peryang meliputi elemen: (1) peningkatan (2) pengurangan subsidi eskpor. Masalahnya. ) dalam perdagangan ( AoA pangan internasional. Desember 2004 : 75 . kontribusi perdagangan pangan global terhadap ketahandari an pangan dapat mencakup: (1) mengisi kekurangan antara kebutuhan konsumsi kemampuan produksi. rumahtangga dan (Suhardjo. Sebagaimana telah diungkapkan belumnya. 2. selain produksi pangan sendiri ketersediaan pangan kemampuan juga ditentukan oleh perdagangan panganmenjamin ketersediaan pangan yang di Dalam konteks ini maka pasar. nasional. Indonesia menganut sistem senomi terbuka sehingga keterkaitan ekopasar domestik dengan pasar dunia (global) sulit menjadidihindarkan. PERSPEKTIF PANGAN DALAM LIBERALISASI KETAHANAN ERA tukaran barang di pasar dunia. kecenderungan pasar produk-produk pangan liberalisasi pada akan menjadi faktor penting yang dapat mempengaruhi kinerja ketahanan pangan. Studi (2002) menyebutkan. Relatif besarnya peningkatan peningkatan impor mengindikasikan laju terjadinya kecenderungan surplus perdagangan makin menurun dalam kurun periode yang tersebut. dimana harga pertanian yang diekspor rendah produk sedangkan harga pangan yang diimpor jika tinggi pengambilan keputusan tidak tepat. dengan tekanan liberali-yang semakin sasi kuat bagaimana tah dapat memanfaatkan peluang pasar pemeringlobal mendukung untuk ketahanan pangan tetapi dengan menghindari nasional dampak negatif kemungkinan pengaruh liberalisasi terhadap produsen pangan di dalam negeri. Dengan sektor di Indonesia telah demikian. dengan mengutip Ohga (1999) disebutkan oleh Sawit ketergantungan terhadap perdagangan (2001) pangan global mengandung risiko berikut: (1) pasok pangan domestik sebagai menjadi tidak menentu. nyak areal pertanian yang dibiarkan batidak tergarap di samping semakin sedikit petani yang bersedia mengusahakan. (2) harga pangan di pasar kurang stabil.secara agregat (nasional). (4) penggunaan sumberdaya dunia menjadi lebih efisien karena dihasilkan di daerah yang memiliki kepangan unggulan komparatif. perdagangan komoditas pertanian juga mengalami surplus perdagangan.Indikasi dampak negatif dari liberalisasi terhadap petani (pertanian) juga terjadi di negara maju seperti Jepang. (3) pertumbuhan meningkatkan ekonomi. Konsep ketahanan pangan umum menunjukkan situasi kecukupan secara pangan beberapa pada tingkatan. yaitu: global. neraca perdagangan komoditas ini masih surplus cenderung mengalami yang meningkat. dianggap terlalu mengedepankan selama ini peningkatan akses pasar di negara-negara berkembang sehingga harga komoditas menjadi tertekan (Sawit. dan (5) memungkinkan produksi secara global di wilayah yang ekonomis sesuai dengan lebih sumberdayanya. (3) merusak pola perF ORUM PE NE L I TI AN AG RO E KO NO MI . tidak terkecuali dunia pokok pangan seperti beras. termasuk untuk pasar pangan. Penurunan harga tersebut pengusahaan pertanian mengakibatkan komoditas menjadi tidak menguntungkan. akses pasar. pasar Studi Erwidodo (1999) bahwa selama periode 1985-1996 total permenunjukkan dagangan Indonesia meningkat sekitar persen. (2) mengurangi dengan gejolak suplai pangan domestik. 2003). di samping SPS Agreement on Sanitary and Phytoperjanjian ( sanitary ). 2003). liberalisasi Kamiya menyebab. Sebagai anggota WTO Indonesia terikat pada Perjanjian Pertanian Agreement on Agricultural.komoditas pertanian di pasar kan harga domestik Jepang yang semula sangat karena diproteksi menjadi terus tinggi menurun. kecuali beras dan gula pasir telah diturunkan hingga 0-5 persen dan subsidi input pertanian tinggal telah dicabut sejak tahun 1998. Meskipun kontribusi terhadap PDB relatif pembentukankecil.

tahun: 1983-1986. Diperkirakan produksi padi (beras) nasional semakin tidak mampu memenuhi konsumsi di dalam negeri kebutuhan dengan kenaikan populasi penduduk. minyak atau lemak nabati dan hewani. D AM P AK E M PI RI S DAN PE RS PE K TI F K ET A HANA N PA NG AN Handewi P.444 1998 5. tingginya laju ekspor dibandingkan Lebih selama impor periode tersebut diduga terkait dengan situasi krisis ekonomi dan politik di dalam negeri yang ketidakstabilan mengakibatkan rupiah terdevaluasi sehingga eskpor Indonesia menjadi semakin kompetitif dan mendorong kenaikan permintaan produk di pasar global.Tabel 3. di mana semangat liberalisasi selalu menjadi “rambu tun” yang tidak dapat penundihindarkan.321 2002 6.772 3. Meskipun impor beras pada 2001 tahunrelatif kecil.97 2.61 3.277 2. Pada Tabel 4 terlihat. Perkembangan Neraca Perdagangan Indonesia. Pada masa mendatang.34 8 2.500 2. perspektif ketahanan pangan dihadapkan pada bayang-bayang semakin kuatnya penetrasi pangan suram impor. mencapai hampir 14 persentahun 1999.511 24.124 2001 4. 1997-2002 (000 $) Ekspor Impor Tahun Pangan Total Pangan Total Pangan Neraca Total 1997 6.010 2.720 2. beras secara nasional hanya tercapai pada 1981. minuman dan matembakau. L I B ERA L I S AS I P ERDA GA NGA N: S I S I T EO RI . Di seiring sisi adanya perbedaan harga komoditas yang lain. Gambaran data pada Tabel 4 indikasikan bahwa liberalisasi perdagangan meng(pada kasus komoditas beras) berpotensi menurunkan kinerja ketahanan pangan nasional. Suhartini 85 .665 2000 5. rataan padi nasional lima tahunan hingga produksi meningkat dengan pertambahan 2001 produksi kecil. khususnya beras yang merupakan pangan bahan pokok penduduk Indonesia (Kariyasa.515 30.497 48. Hardono. an Kecenderungan peningkatan pangsa impor pangan (beras) secara tidak langsung bahan menun. dan Sri H.masih meningkat tetapi dengan gangan peningkatan (trend) semakin kecil laju dibanding.posisi Indonesia yang makin jukkan dalam lemah perdagangan pangan.744 2.529 57.S.753 3.662 28.962 31. seiring dengan kesepakatan implementasi liberalisasi secara penuh.58 0. Kecenderungan seperti itu juga terjadi pada ekspor komoditas pangan yang meliputi: kanan dan binatang hidup.510 62. 1992-1993 dan 1996.870 Bila diperhatikan data Tabel 3 disebutkan bahwa pada periode 1997dapat 2002 perdagangan Indonesia cenderung semakin lesu.41 3 11. Penurunan produksi yang signifikan pada terjadiperiode 1970-1977 dan 1997-2001.289 2.337 24. Sebagaimana hasil kajian dkk (2003).159 Trend (%/th) 3. kuatnya Harga di pasar dunia relatif murah. beras cenderung semakin murah. cukup besar antara pasar domestik dengan internasional pasar mengakibatkan dorongan untuk melakukan impor.359 25. Meskipun secara numerik nilai perda. Ekspor total Indonesia kan periode selama periode 1997-2002 meningkat 3.003 33. dalam liberalisasi perdagangan berdampak rangka pada peningkatan surplus konsumen tetapi menurunkan surplus atau kesejahteraan Gatoet S.993 56. 2003). penghapusan tarif impor Saliem. Di sisi lain.1985-1996.6 persen per total tahun.84 8 1999 5.30 2.pasar dap impor telah menurun.700 48.77 Sumber: Buletin Ringkas 1995-2002. selama dua tahun sebelumnya telah mengingat terjadi dalam impor jumlah besar (yaitu 4748 ribu mencapai ton pada tahun 1999 dan 1355 ribu pada ton tahun 2000). Impor beras pada periode krisis ekonomi meningkat tajam.423 3. BPS. karena di dan bebe-negara produsen terjadi kelebihan rapa produksi (Sawit 2003).068 53. dengan tercapainya swasembada beras. rataan pangsa impor semakin beras terhadap produksi beras nasional yang berhasil diredam pada dekade 1980pernah an. Rachman.764 21.116 41.58 3. kembali meningkat nyata sejak awal 1990dan terus berlanjut hingga sekarang. namun hal ini tidak dapat menjadi dasar menyimpulkan bahwa ketergantungan untuk terha. sedangkan impor meningkat dengan laju 2. Kajian data historis oleh et (2003) Saliem menyebutkan kemandirian al. yaitu kurang dari dua persen. 3.609 25.680 27.3 persen per tahun.221 3.

Perbedaan dalam pemilikan sumberdaya. dapat tersebut.petani tingan produsen yang umumnya petani adalah miskin.meskipun neraca perdagangan pangan Indonesia masih menunjukkan adanya perdagangan akan tetapi Indonesia dihadapsurplus kan pada bayang-bayang suram nasib komo.025 15.379 14. Pada beras. pa. BPS. tetapi itu liberalisasi perdagangan Selain menurunan kemandirian pangan komoditas sehingga untuk kasus beras. 2.519 39. khususnya dan menyangkut kesejahteraan petani Beberapa kajian terdahulu telah produsen. Sebaliknya.85 5.51 0. Dalam kaitan ini. Volume 22 No.perbaikan sistem penggunaan seimbang pascapanen dan subsidi benih merupakan . hanan lisasi menghambat upaya libera.46 9. 1969-2001 Produksi (000 ton) Periode Padi 1669-1973 1974-1978 1979-1983 1984-1988 1989-1993 1994-1998 1999-2001 Keterangan: 1) 2) 3) 1 Beras 2 24.pangan strategis (beras) yang ditas bergantung semakin pada pasok pasar global. liberalisasi tidak menguntungkan kinerja dikatakan keta.018 31. Desember 2004 : 75 . untuk (2) diupayakan mencari nilai kebutuhan beras riil secara nasional untuk dasar kalkulasi kebutuhan impor.88 86 . Beberapa langkah prefentif menghindarkan penurunan kinerja untuk pangan ketahanan yang lebih buruk dapat ditempuh : (1) peningkatan kapasitas melalui dengan teknologi untuk produksi terobosan mengatasi indikasi pelandaian produksi. akan tetapi pada kenyataannya mentasi liberalisasi juga membawa impledampak yang mengancam pasar domestik buruk kepentingan domestik lain. turunnya harga gabah pada saat panen raya di tingkat produsen pada penurunan pendapatan petani berdampak dapat yang diartikan pula sebagai menurunnya daya dan akses terhadap pangan pada beli (khususnya yang net-consumer ). dan kesejahteraan ketegasan penerapan sanksi hukum (4) dalam perdagangan untuk menyelamatkan pangan di dalam negeri dan membela pasar kepen.produsen beras. pengembangan sistem ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendorong input yang makin . perkembangan ekonomi dan komitmen pemerintah untuk membela kepentingan produsen dalam negeri sangat menentukan di Indonesia kemampuan bersaing dalam pasar global yang liberal. Dalam konteks ketahanan makin ngan.235 50. Perkembangan Rataan Produksi dan Pangsa Impor Beras Nasional.203 49.108 31. Tabel 4.411 23.pangan nasional. dibutuhkan kemauan kasus politik pemerintah yang kuat sehingga kan tarif impor dapat efektif pemberlakumeningkatkan petani produsen.730 46.55 0. petani berstatus Oleh karena itu guna melengkapi preventif di atas kebijakan stabilisasi langkah harga (beras) masih diperlukan sebagai salah satu faktor pendorong kinerja ketahanan yang pangan lebih baik.99 6. peningkatan impor akan meningkatkan surplus tarif produsenmengurangi surplus konsumen.030 29. KESIMPULAN KEBIJAKAN DAN IMPLIKASI Diolah dari data BPS Hasil konversi produksi padi Diolah dari Nerac a Bahan Makanan.769 19. Butir (3) di atas perlu mendapat khusus atensi mengingat persoalan dominan yang mendasar pada peningkatan pengadaan pangan beras di tingkat produksi saat ini adalah ketimpangan antara pendapatan dengan peF ORUM PE NE L I TI AN AG RO E KO NO MI Meskipun secara teori liberalisasi perdagangan disebutkan akan meningkatkan perolehan manfaat bagi para pelaku perdagangan. (3) pengaturan tata yang niaga tidak merugikan produsen dengan bias kepada kepentingan konsumen. Dikatakan oleh Hermanto gejolak (2002). cukup mengulasbanyak sisi positif dan negatif liberalisasi perdagangan dari berbagai sisi perekonomian .55 6.516 Pangsa Impor Beras 3 (%) 6. Lebih dari itu.34 ngeluaran usahatani yang harus petani sebagai akibat tertekannya harga ditanggung output (gabah).857 25.akan penurunan pangsa energi dari beras karena konsumsi beras justru meningkat. penguasaan teknologi produksi. Beberapa langkah preventif yang pat dilakukan untuk menghambat daserangan liberalisasi yang lebih buruk dampak sebagai berikut: (1) peningkatan adalah kapasitas dengan terobosan teknologi produksi mengatasi indikasi pelandaian produksi padi.443 31. misalnya.

dipublikasikan. Umaya (Editor). R. Hardono. 2 Tahun XXVII : 1-14 . Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. Dampak ImplementasiBebas AFTA-2003 Terhadap Perdagangan Pertanian Indonesia. (2) mencari nilai yang kebutuhan riil konsumsi penduduk untuk dasar kebutuhan impor.A. 2003. 2003.L.P.M. Forum Agro Ekonomi Volume 21 (1). LIPI. I. Soetrisno. A. 2000. Area (AFTA). DAFTAR PUSTAKA Abidin.W. 2000. 2003. dan F. M. The CGPRT Centre. L I B ERA L I S AS I P ERDA GA NGA N: S I S I T EO RI . Jones. koordinasi tersebut agar kebijakan sektor produksi dengan penting perdagangan semakin terintegrasi dan efektif mengendalikan keseimbangan kebutuhan pasokan pangan. F.salah satu opsi program jangka panjang dapat dilakukan. Analisis Kebijakan Pertanian. A Twin Track Approach to Hunger Reduction: Priorities for National and International Action. Ghalia Indonesia. 1978. Gatoet S. Kamiya. Sawit.48. 2003. World Trade and Payments. Improve Competitiveness of Agricultural Commodities Facing Trade Liberalization. Tidak hanya sekedar kebutuhan mauan “kepolitik” pemerintah merumuskan kan kebija-pangan (pertanian).E. 1997. khususnya dari dan penetrasi impor yang cenderung berlebihan pangan mengabaikan situasi produksi dalam negeri. Anti-Hunger Programme. khususnya pertanian dan perdaga. 1995. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. XI (2) 2003. Chacholiades. Pemerataan dan Kemiskinan. Indrawati. Working Paper No Erwidodo. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan. New Erwidodo York. dan sehingga pencapaian harga pangan layak yang beli (bagi konsumen) tidak mengorbankan pendapatan petani berarti produsen. Pemerataan Soetrisno. Otonomi Daerah dan Daya Saing Perdagangan Komoditas Pertanian Indonesia. Suhartini 87 . Paper No 41.U. Harper Collins. Nyak. Tiara Wacana Yogya. Departemen Petanian. H. Perhepi. Frankel dan R. 2003. PT. Chaves.Breakaway from the Postwar Policies . Feridhanusetyawan. Universitas Gadjah Mada. Z. Liberalisasi dan Pemerataan. 2003. Indonesian Trade Liberalization: Estimating The Gains. PU. ASEAN Free Trade Anugerah. 1995.Sosial Ekonomi Pertanian. McGrawHill. Dampak Liberalisasi Ekonomi Terhadap Perdagangan dan Kesejahteraan Negara-negara di Dunia. Sixth Edition. Perspektif Implementasi KebijakanStabilisasi Harga Gabah/Beras Pasca Bulog. (4) ketegasan penerapan bias hukum dalam perdagangan pangan sanksi untuk menyelamatkan pasar pangan di dalam negeri dan membela kepentingan petani produsen yang umumnya adalah petani miskin.H. Bogor. 1990s: A Decade for Agricultural Policy Reform in Japan. Commodity The CGPRT Centre. Pusat Penelitian dan Pengem. Hamdy. bangan Bogor. J. Ekonomi Internasional. tidak Program Pasca. 1999. dan M. S. Jakarta. T and M.. Lokakarya Ketahanan Pangan Bulog. Jakarta. dalam Tokyo Hadi. dan Sri H. Bulletin of Indonesian Economic Studies Volume 29 (1). dan kebijakan stabilisasi harga (5) output. Umaya (Editor). 1993. Yogyakarta . Laporan Hasil Penelitian.Institut Pertanian Bogor. Effects of Trade Liberalization on Agriculture in Indonesia: Institutional and Structural Aspects. dan dan Kemiskinan. PT. Juni 2003. Pasca Badan Bimas Ketahanan Pangan. Amang. 1999.Penguatan ngan. Hadi. dalam Liberalisasi Ekonomi. S. Ekonomi. Tiara Wacana Yogya. Buku Kesatu. Food and Policy Research Agricultural Center. Abimanyu. sarjana Bogor. D AM P AK E M PI RI S DAN PE RS PE K TI F K ET A HANA N PA NG AN Handewi P. Badan Penerbitan Fakultas Ekonomi. Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijakan Perdagangan Internasional. Volume 1 (2). Budiono.S. Rachman. implementasi kah-langkah tersebut di atas juga langmembutuhkan “realisasi” penguatan koordinasi antar sektor. Juli 2003. Disertasi. Bogor. Liberalisasi Perdagangan dan Biaya dalam Liberalisasi Lingkungan. 2001. (3) pengaturan tata kalkulasi niaga strategis (beras) yang tidak terlalu pangan konsumen. Jakarta. Working FAO.Suatu sia: Analisis Kebijakan. Marketing Policy to Hadi. 2003. Effects of Trade dan Liberalization on Agriculture in Indonesia: Aspects. Perdagangan Global dan Implikasinya Pada Ketahanan Pangan Nasional. B. M. et al. Pangestu. L. Hermanto. Agro-Ekonomika No. 2002. Yogyakarta. Dampak Liberalisasi Perdagangan Terhadap Keragaan Industri Gula Indone.Jakarta. Yogyakarta. International Trade Theory and Policy. 2002. An introduction. 22 November Ilham.

. Purwoto. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. 29 temen Maret. 2 Tahun XXVII : 15. 1997. 2003. Jakarta. Tantangan dan Kebijakan Ketahanan Pangan. 2001. Analisis Kebijakan Pertanian Desember 2003. Peran Distribusi dan Cadangan Pangan Nasional. dan G. Jurnal Agro No. A. and T. Sponsored by United Nation Children’s Fund and International for Fund Agricultural Development. Bogor. A.BULOG Sebagai Lembaga Pranolo. Puslitbang Vol 1(4). CGPRT Center Works Towards Enhanching Sustainable Agriculture and Reducing Poverty in Asia and The Pacific Sitepu. 1978. 1992. Saliem. Laporan Hasil Penelitian. MH. Departemen Pertanian. Sawit.2.21 Sosial Ekonomi Sawit. C. Jakarta.88 88 . Six Edition.H. Suryana. Dinamika Daya Saing Lada. Ekonomi Vol. 2003. International Economics. Bogor. Homewood.Table” Kebijaksanaan Harga “Round Gabah di Era Perdagangan Bebas. Tesis Magister Sains. Indicators. Institut Pertanian Bogor. Program Pascasarjana. K. Depar.H. R. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. and P. Globalisasi dan AoA-WTO: Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Pangan Indonesia. S.K.H. Inc. Lindert. Makalah disampaikan pada Lokakarya Ketahanan Pangan Rumahtangga. Kesiapan Sektor Pertanian Menghadapi Era Perdagangan Bebas. Measurement. P.S. Yogyakarta.A.Kebijakan Pertanian Volume I Analisis (1). Makalah disampaikan Seminar pada Nasional Pemberdayaan Masyarakat untuk Mencapai Ketahanan dan Pangan Pemulihan Ekonomi. Rasahan. Bogor. 2003. Dampak Tarif Impor dan Kinerja Kebijakan Harga Dasar serta Implikasinya Terhadap Daya Saing Beras Indonesia di Pasar Dunia. Dampak Kebijakan Ekonomi dan Liberalisasi Perdagangan terhadap Penawaran dan Permintaan Beras di Indonesia. Frankenberger. Richard Illinois 60430. Maxwell. S. 2001. Volume 22 No. Hardono. Food Security: Bacic Concepts and Measurement in Food Security in Southwest Pacific Island Countries. H. F ORUM PE NE L I TI AN AG RO E KO NO MI . Ketahanan Pangan Rumahtangga. Makalah disampaikan pada Lokakarya ”Ketahanan Pangan” di selenggarakan oleh YLKI dan Consumers International for Asia and Pacific (CIROAP) 28-29 Agustus 2001. 2003. Irwin. Susilowati. T. Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Ketahanan Pangan. Kindleberger. 2. Bogor. Kerjasama Departemen Pertanian dengan UNICEF. Suhardjo.R.Oktober 2003. 24 Perhepi. Maret 2003. MH. D.P. Hartini. A Technical Jointly Review. Bogor Simatupang. Dampak Liberalisasi Perdagangan Terhadap Kinerja Ketahanan Pangan Nasional.Kariyasa.. Pengertian dan Kerangka Pikir 1996. C. S. Departemen Pertanian. Puslitbang Pertanian. Jakarta. Indonesia dalam Perjanjian Pertanian WTO: Proposal Harbinson.P. Household Food Security: Concepts. Desember 2004 : 75 . 2000. 2002. Agro-Ekonomika No. 2001. 26-30 Mei.Pertanian. Puslitbang Sosek Pertanian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful