Anda di halaman 1dari 9

DESENSITISASI SISTEMATIS A.

Pengertian Chaplin (1975) menyatakan bahwa desensitisasi adalah pengurangan sensitifitas yang berkaitan dengan kelainan pribadi atau masalah sosial setelah melalui prosedur konseling. Dengan demikian desensitisasi adalah proses menjadi sensitive terhadap suatu perangsang. Munro, dkk (1979) menyatakan bahwa desensitisasi adalah pendekatan yang dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku melalui perpaduan beberapa teknik yang terdiri dari memikirkan sesuatu, menenangkan diri, dan membayangkan sesuatu. Dalam hal ini konselor berusaha memberikan suntikan bagi konseli untuk menanggulangi ketakutan atau kebimbangan yang mendalam dalam suasana tertentu. Konselor melakukan teknik ini dengan memanfaatkan ketenangan jasmaniah konseli untuk melawan ketegangan jasmaniah yang timbul bila konseli berada dalam suasana yang menakutkan atau menegangkan. Brammer dan Shostrom (1882) menyatakan bahwa desensitisasi adalah proses membukakan konseli untuk meningkatkan jumlah rangsangan yang bersifat merangsang. Di smping itu mereka juga menyatakan bahwa desensitisasi adalah metode untuk mengurangi keresponsifan emosional terhadap rangsangan yang menakutkan atau tidak menyenangkan dengan mengenalkan suatu aktivitas yang bertentangan dengan respon yang menakutkan itu. Kadang-kadang proses ini disebut countraconditioning. Misalnya takut berbicara di muka kelas duhubungkan dengan suatu kesenangan yang bertentangan dengan perasaan relaks. Respon yang tidak menyenangkan (takut) tidak bias dialami jika ada respon yang senang (relaksasi). B. Penggunaan Desensitisasi Umumnya penggunaan desensitisasi dibenarkan jika konseli mempunyai kemampuan atau keterampilan menangani situasi atau performasi atau kegiatan tetapi menghindari situasi atau melakukan performasi tetapi kurang memadai karena konseli merasa cemas. Misalnya, seorang guru yang telah sukses, dalam mengajar tidak mau datang ke sekolah karena merasa cemas ditinggal istrinya kawin dengan pria lain. Contoh ain, seorang siswa SMA prestasinya baik dalam pekerjaan rumah dan tugas-tugas mandiri. Tetapi ketika tes ia gemetar. Ia diselimuti rasa cemas. Ia tidak ingat lagi apa yang telah dipelajari.kedua konseli itu mempunyai respon kecemasannya. Lain halnya dengan orang yang menghindari situasi karena tidak mempunyai kemampuan atau keterampilan, maka penggunaan teknik desensitisasi untuk membantunya tidak cocok lagi (Remm & Master, dalam Cormier & Cormier, 1985). Desensitisasi hendaknya tidak diabaikan sebagai suatu strategi treatmen yang mungkin dilakukan bagi masalah-masalah konseli untuk tidak melibatkan kecemasan. Morgan & Piaget (Cormier & Cormier, 1985) menyarankan agar desensitisasi dapat digunakan untu mengurangi kemarahan, dan untuk menambah rasa toleransi pada siswa kulit putih terhadap temannya yang berkuit hitam. Deng Rove ( cormier & Cormier, 1985) meaporkan penggunaan desensitisasi

untuk mengatasi situasi kehilangan dan duka cita, seperti perpisahan dari orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, atau objek yang sangat berharga. Cormier & Cormier, 1985 mengemukakan bahwa desensitisasi telah digunakan untuk menyembuhkan kecemasan berbicara, kasus-kasus phobia ganda pada anak, muntah-muntah yang kronis, takut pada darah, kebiasaan mimpi buruk di malam hari, takut menyetir mobil, dan akan air. Desensitisasi juga digunakan secara luas pada penderita phobia pada umumnya seperti takut pada tempat yang tinggi, takut di tempat yang terbuka. Desensitisasi juga digunakan untuk menyembuhkan orang yang takut terbang, takut mati, takut kritik atau penolakan. C. Jenis-Jenis Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis yang dibicarakan secara rinci adalah desensitisasi yang diterapkan terhadap konseli secara perorangan yang dipandu oeh konselor. Jenis-jenis desensitisasi lainnya seperti desensitisasi secara kelompok, dilaksanakan oleh diri sendiri, dan di laksanakan in vivo (langsung) akan dibicarakan secara singkat saja. 1. Desensitisasi yang dilaksanaan secara kelompok Pelaksanaan desensitisasi kepada sekelompok konseli yang memiliki masalah yang samaa adalah lebih efektif dan efisien daripada desensitisasi yang dilaksanakan secara individual. Dalam pelaksanaannya biasanya digunakan alat bantu rekaman audio, seperti rekaman yang instruksi relaksasi dan hirarki standar. 2. Desensitisasi yang dilaksanakan sendiri oleh konseli Beberapa studi menunjukkan bahwa desensitisasi yang diterapkan oleh terapis tidak efektif. Glasgow & Barbera (Cornier & Cormier, 1985) menemukan bahwa klien yang melaksanakan desensitisasi untuk dirinya sendiri terus menunjukkan kemajuan setelah di tes lebih dari klien yang pelaksanaan desensitisasi dilakukan oleh konselor. Dalam desensitisasi ini klien melaksanakan prosedur latihan dengan menggunakan bantuan instruksi tertulis, audio tape atau manual treatment. 3. Desensitisasi in vivo Proses ini melibatkan konseli secara aktualpada situasi-situasi dalam hirarki itu. Konseli melibatkan diri dalam seri-seri situasi yang bertingkat ketimbang mengimajinasikan seri itu. Jenis desntisasi ini digunakan jika konseli mempunyai kesulitan menggunakan imajinasinya atau tidak mengalami kecemasan selama melakukan imajinasi atau jika penampilan actual konseli pada situasi itu akan berpengaruh lebih efektif. Jika konseli dapat ditampilakn secara aktual pada rangsangan yang menakutkan, maka desensitisasi ini adalah lebih baik daripada sajian yang diimajinasikan karena hal itu akan menghasilkan hasil yang lebih cepat dan akan memungkinkan generalisasi yang lebih besar.Untuk itu konselor perlu menamai konseli dalaam situasi yang menakutkan itu. Proses ini hampir sama dengan modeling partisipan, dimana konseli melakukan seri-seri tugas yang makin meningkat kesukarannya dengan alat-alat induksi. Hanya kesukarannya adalah konseli sering sulit mencapai keadaan relaksasi yang dalam sewaktu mengerjakan

suatu kegiatan secara simultan, terutama jika mneggunakan suatu respon counter counditioning untuk mengurangi kecemasan konseli. d. Penjelasan Teoritis tentang Desensitisasi Penjelasan teoritis tentang prosedur desentisisasi ini diharapkan dapat membantu memahami model-model counditioning dan self-countrol untuk pelaksaaan desensitisasi. 1. Desensitisasi dengan rintanagan timbale balik (Reciprocal inhibition). Tahun 1958, Wolpe (Cornier & Cournier, 1985) menjelaskna cara dimana desensitisasi bekerja secara pura-pura dengan prinsip rintanagn timbal balik. Jika hambatan timbal balik berlangsung, suatu respon seperti rasa takut, dihambatan timbal balik berlangsung, suatu respon seperti rasa takut, dihambat dan bertentangan dengan respon takut itu (atau respon lainnya untuk dihalangi). Dengan kata lain, jka respon yang bertentangan berlangsung dalam kehadiranrespon takutdari situasi rangsangan, dan jika respon yang bertentangan itu lebih kuat dari takut, desensitisasi berlangsung dan situasi rangsangan kehilangan kapasitasnya untuk menimbulkan takut. Teori rintangan imbal balik didasarkan pada prinsip-prinsip conditioning klasik. Agar desensitisasi berlangsung, menurut prinsip rintangan imbal balik, tiga proses diperlukan: a) respon counter conditioning yang kuat harus hadir, biasanya respon penghalang ini adalah relaksasi oto yang dalam, b) suatu teori yangbertingkat tentnag rangsang yang bersifat merangsang kecemasan disajikan pada konseli. Situasi-situasi ransgangan ini diatur dalam sutau hirarki dimana situasi yang rendah intensitasnya dibawah dan yang tinggi diatas, c) pemasangan secara berdekatan satu situasi rangsangan yang bertentangan dan respon kompetisi atau counterconditioning (reaksasi) harus berlangsung. Ini biasanaya dicapai oleh konseli karena telah mencapai relaksasi yang dalam dan kemudian koseli mengimajinasikan rangsangan yang bertentangan seawaktu relaks. 2. Desentisasi dengan Pemenuhan Lomont (cornier &cornier, 1985) menyatakan bahwa proses pemenuhan adalah sebagai hasil desentisisasi. Dengan kata lain, respon kecemasan hilang sebagai hasil dari penyajian rangsangan bersyarat tanpan penguatan. Teori ini didasrkan pada prinsipprinsip operant conditioning 3. Desentisasi sebagai latihan self-control Goldfried (Cornier &cornier, 1985) menyatakan bahwa desentisisasi mencakuop mempelajari keterampilan mengurangi kecemasan ketimbang hanya pengurangan pola rangsanagan yang tidak disukasi. Menurut penjelasan self control ini, konseli belajar menggunakan relaksasi sebagai cara untuk menguasai kecemasan atau mengontrol kecemasan, bukan hanya untuk mengganti kecemasan.

e. Tahap-tahap Pelaksanaan Desntisisasi Sistematis Cornier & cornier, (1985) menyatakan kepada para pelaksana desentisisasi untuk mempertimbangkan hal-hal berikut: 1. Mungkin tidak ada satu cara yang benar untuk melaksanakan desentisisasi. Langkahlangkah procedural yang bervariasi mungkin lebih efektif 2. Cara-cara spesifik dimana spesifikasi digunakan merupakan reflex dari kesukaran konselor 3. Rincian prosedur desentisisasi hendaknya disesuaikan pada setiap konseli 4. Prosedur desntisisasi hendaknya mengintegrasikan komponen dari berbagai penjelasan teoritis untuk meyainkan bahwa tidak ada variable penting dilupakan. Komponen-komponen dari prosedur desentisiasi sistematis tersebut meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Rasional penggunaan treatment desentisisasi sistematis Identifikasi situasi-situasi yang menimbulkan emosi Identifikasi konstruksi hirarki Pemilihan dan latihan. Counter counditioning atau penguasaan respon Penilaian imajinasi Penyajian adegan Pekerjaan rumah dan tindak lanjut

1. Rasional Penggunaan Desentisisasi Sistematis Rasional yang berisi tujuan dan prosedur pelaksanaan desentisisasi ini disampaikan kepada konseli karena akan mendatangkan beberapa manfaat, antara lain: 1) rasional dan ringkasasn prosedur pelaksanaan itu mengemukakan model tertentu atau cara dimana konselor akan melaksanakan treatment ini, karena itu konseli memperoleh informasi tentang prinsipprinsip desentisisasi, 2) hasil dari desentisisasi mungkin bias ditingkatakn karena diberikan instruksi dan harapan yang positif. Namun rasional dan ringkasan yang dikemukakan oleh konselor tergantung pada rencana atau model desentisisasi yang dipilih oleh konselor, apakah itu model counter conditioning atau model sef control. a) Contoh rasional jika menggunakan model counter conditioning (diterjemahkan dari Osterhouse, 1967, dalam Cornier & Cornier, 1985). Prosedur yang akan kita gunakan membantu Anda mengatasi letakutanmu yang kuta terhadap ujian dinamakan desentisisai. Pendekatan ini didasrakan pada fakta bahwa tidak mungkin takut dan relaks pada waktu yang sama. Misalnya: mahasiswa ingin bertanya kepada professor atau mungkin mengkritik sesuatu yang baru dikatakan professor itu. Jika mulai bicaramungkin ia mengalami napas pendek. Hatinya berdebar, atau tangannya berkeringat. Ia tidak dapat berbuat sesuatu. Ini semua adalah reaksi-

reaksi kecemasan dan tidak terjadi jika mahasiswa relaks. Karena itu, bagian penting dari metode ini adalah bahwa sebagian besar orang tidak sadar tentang ketegangan-ketegangannya. Setelah kamu mempelajari bagaimana melakukan relaksasi, lalu kelomok ini akan mengembnagkan se daftar situasi dimana kecemasan berisi butir-butir yang mewakili berbagai tingkatan kecemasan yang berbeda-beda. Daftar ini dinamakan suatu hirarki. Satu dari aspekaspek yang paling menarik dari prosedur ini adalah kecenderungannya untuk generalisasi pada situasi-situasi kehidupaan nyata. Namun demikian, prosedur ini hanya menghendaki kamu mengimajinasikan dirimu sendiri dalam situasi yang berhubungan dengan takut ujian, ada suatu kecenderungan yang kuat untuk takut menguranginya dalam situasi actual. b) Contoh rasional jika menggunakan Model Self control (diterjemahan dari Godfried 1971, dalam cornier & Cornier, 1985) Berdasar pengalaman anda yang lampau, ada situasi yang beryariasi dimana anda belajar berekasi dengan menjadi tegang. Apa yang akan dilakukan adalah membantu anda belajar bagaimana mengatasi situasi-situasi itu lebih sukse, dikerjakan dengan mencatat sejumlah situasi-situasi tidak membuat Anda sedid. Ini akan dikerjakan dengan mencatat sejumlah situasi yang membuat anda belajar mengatasi situasi yang paling kurang membuat stress sebelum pindah ke situasi yang ebih sulit. Bagian dari treatment meliputi relaks, sehingga dalam situasi dimana anda merasa nervous anda akan bias menghilangkan tegangan-tegangan ini dengan lebih baik. Belajar relaks banyak persamannya denganmenpelajari keterampilan lainnya. Jika seorang belajar mengemudi, ia biasanaya mengalami kesulitan dalam mnegkoordinasikan apa saja, dan sering menemukan dirinya sendiri menyadari tentang apa saja yang ia lakukan. Dengan latihan yang banyak , prosedur yang terkait dengan menemukan hal yang sama jika anda mencoba relaks dalam situasi-situasi itu dimana anda merasakan diri anda sendiri mulai menjadi tegang. Jika anda melakukannya maka anda akan merasakan makin mudah saja. 2) Mengidentifikasi situasi-situasi yang mempengaruhi Emosi Jika konselor dan konseli telah menemukan masalah, maka mestinya ada indikasi tentnag dimensi-dimensi atau situasi yang mempengaruhi kecemasan itu. Namun konselor dan konseli harus pasti situasi mana yang paling krusial dimana konseli hendaknya menjadi kurang cemas atau sedih. Untuk itu dalam hal ini konselor hendaknya berinisiatif melakukan identifikasi situasi yang memperngaruhi emosi tersebut dengan menggunakan salah satu prosedur ini, yaitu wawancara, monitoring diri sendiri, atau angket. Setelah itu konselor hendaknya terus membantu konseli menilai situasi-situasi yang diperoleh sampai ditemukan beberapa situais khusus. 3) Penyusunan Hirarki Hirarki adalah daftar situasi rancangan terhadap mana konseli bereaksi dengan sejumlah kecemasan yang bertingkat-tingkat. Untuk memperoleh hirarki itu, dalam tahap ini konselor hendaknya membantu konseli :

a) Memilih tipe hirarki; apakah berdasar ruang waktu, tema, derajat kesukaan, ketidaksukaan, atau kombinasi dari semua itu. b) Mengidentifikasi jumlah hirarki yang dikembangkan, yaitu satu saja hirarki atau banyak hirarki. c) Mengidentifikasi butiran-butiran hirarki melalui satu atau lebih metode, yaitu melalui pertanyaan-pertanyaan wawancara, atau konseli mengisi kartu yang disiapkan. d) Mengeksplorasi butir-butir hirarki sampai diperoleh butir-butir yang memenuhi criteria berikut : jika dilaksanakan langsung konseli dapat mengontrolnya, sendiri kongkrit dan spesifik, sama atau mewakili situasi-situasi sekarang yang akan datang dan masa lampau, mempunyai sampel, yang rentangannya luas sehingga mencakup respon-respon emosional, dan mewakili level-level emosi yang berbeda-beda; e) Meminta konsei untuk mengidentifikasi beberapa butir kontrol (netral atau yang tidak menimbulkan emosi); f) Menjelaskan tujuan merengking butir-butir hirarki menurut meningkatnya level yang menimbulkan kecemasan; g) Meminta konseli untuk mengatur butir-butir hirarki menurut makin meningkatnya pengaruh pada kecemasan dengan menggunakan metode-metode rengking berikut: menurut rank, skala 0-100 atau rendah, sedang, tinggi; h) Menambah atau mengurangi butir hirarki agar diperoleh hirarki yang masuk akal. 4) pemilihan dan latihan counterconditioning atau respon penanggulangan. Dalam tahap ini konselor melakukan hal-hal berikut: a) Konselor memilih counterconditioning atau respon penanggulangan yang sesuai untuk melawan atau menanggulangi kecemasan (atau keadaan emosi lainnya) seperti relaksasi otot, imajinasi perasaan, meditasi atau penanggulangan pikiran atau pertanyaanpertanyaan; b) Konselor menjelaskan tujuan respon yang dipilih dan mendiskusikan peranannya dalam desensitisasi; c) Konselor melatih konseli menggunakan respon counterconditioning atau respon penanggulangan dan menyaranan konseli berlatih setiap hari; d) Konselor menyuruh konseli sebelum dan setelah latihan untuk menilai level perasaan kecemasannya; e) Konselor meneruskan latihan sampai konseli dapat membedakan level-level yang berbeda dari kecemasan dan dapat menggunakan respon nonkecemasan untuk mencapai 10 atau kurang dalam skala 0-100. 5) penilaian imajinasi Pelaksanaan yang khas dari desensitisasi dititikberatkan pada imajinasi konseli (belajar kembali counterconditioning) dicapai dalam desensitisasi berlangsung selama visualisasi butir-butir hirarki konseli. Ini berasumsi bahwa imajinasi dari suatu nyata dan bahwa belajar yang terjadi

dalam situasi imajinasi menggeneralisasi pada situasi riil, karena itu tugas konselor dalam tahap ini adalah: a) Menjelaskan penggunaan imajinasi dalam desensitisasi b) Mengukur kapasitas konseli untuk menggeneralisasi imajinasi secara hidup dengan; (1) menyajikan butir-butir kontrol jika konseli sedang menggunakan respon relaksasi; (2) menyajikan butir-butir hirarki jika konseli tidak menggunakan respon relaksasi; (3) meminta konseli untuk mendeskripsikan imajinasi yang ditimbulkan dalam a dan b. c) Dengan bantuan konseli, konselor menentukan apakah imajinasi konseli memenuhi criteria berikut; (1) konseli mampu mengimajinasikan adegan secara kongkret dan rinci; (2) konseli mampu mengimajinasikan adegan sebagai partisipan; (3) konseli mampu memulai adegan dan menghentikan jika diinstruksikan; (4) konseli mampu konsentrasi pada adegan; (5) konslei tidak menunjukkan bukti adanya kesulitan lainnya. 6) penyajian adegan hirarki Adegan-adegan dalam hirarki disajikan setelah konslei diberikan latihan dalam counterconditioning atau respon penanggulangan, dan setelah kapasitas imajinasi diukur. Setiap presentasi adegan didampingi dengan counterconditioning atau respon penanggulangan segingga kecemasan konseli (atau emosi lainnya) terkondisi atau dikurangi. Karena itu yang dilakukan konselor dalam tahap ini adalah : a) Konselor mengidentifikasi dan menjelakan metode penyajian adegan yang akan digunakan, yaitu: (1) metode R: konseli akan diinstruksikan untuk berhenti berimajinasi jika merasa cemas dan kemudian diinstruksikan untuk relaks; (2) metode H: konseli akan diinstruksikan untuk tetap berimajinasi jika kecemasan dirasakan dan diinstruksikan relaks untuk menjauhkan ketegangan; (3) metode A: konseli akan diinstruksikan untuk menukar imajinasi untuk menguasai imajinasi, jika kecemasan di rasakan. b) Konselor mengidentifikasi dan menjelaskan metode pemberian signal yang digunakan: (1) menegakkan jari telunjuk jika imajinasi terlihat jelas atau atau jika kecemasan dirasakan sewaktu visualisali; (2) menegakkan jari-jari untuk member signal bahwa kecemasan meningkat dan menundukkan jari-jari sebagai signal berkurangnya kecemasan; (3) kata tegang dipakai jika merasa cemas, dan kata kalem jika merasa relaks. c) Untuk setiap session dari penyajian adegan; (1) konselor mendahului penyajian adegan dengan relaksasi otot atau prosedur lain untuk membantu konseli mencapai relaksasi sebelum adegan-adegan disajikan; (2) konselor memulai sesion pertama dengan butir hirarki yang lain rendah dalam menimbulkan kecemasan dan untuk sesion-sesion berikutnya dimulai dengan butir terakhir yang diselesaikan secara sukses pada sesion srbelumnya; (3) konselor mendeskripsikan butir dan menyuruh konseli mengimajinasikan selama 20-4- detik. Jika kolnseli melakukan imajinasi itu dan tidak menunjukkan kecemasan, konselor menginstruksikan konseli untuk berhenti berimajinasi dan relaks selama 30-60 detik. Tetapi, kalau konseli menunjukkan kecemasan selama atau setelah

memvisualisasikan adegan, konselor menggunakan metode R, H, atau A; (4) setelah berhenti sekitar 30-60 detik, konselor menyajikan setiap butir hirarki dari hirarki itu pada konseli; (5) setiap butir diselesaikan secara sukses (secara kecemasan) setidaknya dua kali berturut-turut (atau lebih bagi butir-butir pada hirarki atas) sebelum butur baru disajikan; (6) jika suatu butir menghilangkan kecemasan setelah presentasi tiga kali, maka konselor membuat beberapa penyesuaian dalam hirarki atau dalam proses visualisasi konseli; (7) instruksi terstandar digunakan untuk setiap fase dari presentasi adegan. Penguatan trehadap butir yang hanya sekedar tidak cemass hendaknya dihindarkan; (8) setiap sesion penyajian adegan terakhir dengan penyelesaian butir secara sukses (tidak ada kecemasan setidak-tidaknya dua kali presentasi berturut-turut); (9) setiap sesion diakhir jika: 3-5 butir diselesaikan, setelah 15-20 menit penyajian adegan, dan setelah adanya tanda-tanda kegelisahan atau kebingungan.; d) Konselor menggunakan metode perekaman tertulis selama penyajian adegan untuk mencatat kemajuan konseli dalam setiap penganganan butir-butr hirarki. 7) pekerjaan Rumah dan Tindak lanjut Dalam kegiatan akhir dari treatmen ini konselor melakukan kegiatan-kegiatan berikut : a) Konselor memberika tugas pekerjaan rumah yang berhubungan dengan memajukan hasil treatment desensitisasi dengan petunjuk-petunjuk sebagai berikut : (1) latihan setiap hari tentang pelaksanaan prosedur relaksasi; (2) visualisasi butir-butir yang diselesaikan secara sukses pada sesi yang mendahuluinya; (3) penerapan pada situasi yang sebenarnya butir-butir yang telah diselesaikan dengan sukses. b) Konselor menginstruksikan konseli untuk mencatat pekerjaan rumah dalam buku catatan; c) Konselor merencanakan pertemuan tindak lanjut untuk mencek hasil pekerjaan rumah itu.