Anda di halaman 1dari 12

EKOLOGI TUMBUHAN SUKSESI

Presentasi Jurnal : STUDI BIODIVERSITAS VEGETASI DAN KOMBINASI FISIK KAWASAN PESISIR BANDA ACEH UNTUK MENDUKUNG UPAYA KONSERVASI WILAYAH PESISIR PASCA-TSUNAMI
1) Feri Suryawan dan 2) Abdul Hadi Mahmud Jurusan Biologi FMIPA - Universitas syiah Kuala Jl. Syeh Abdurrauf No.3 Darussalam Banda Aceh Telp. (0651) 7428212 Fax. (0651) 51321

ABSTRAK
Penelitian tentang biodiversitas vegetasi dan kondisi fisik kawasan pesisir Banda Aceh pasca-tsunami telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menerangkan keanekaragaman jenis vegetasi, proses tahapan suksesi, kondisi fisik kawasan pesisir di Banda Aceh pascatsunami. Penelitian ini menggunakan metode kuadrat dan metode survey. Hasil penelitian memperlihatkan suksesi dimulai kawasan pesisir dimulai oleh jenis herba, jumlah jenis yang ditemukan 7 jenis, indeks keanekaragaman (H=2,306). Vegetasi kelompok semak dan pohon jenis vegetasi pantai dan hutan mangrove banyak yang mati akibat tsunami sehingga keberadaannya saat ini sudah sangat jarang. Kawasan pesisir Kota Banda Aceh harus segera ditanami jenis-jenis vegetasi pantai seperti Casuarina equisetifolia, Terminalia Catapa, Hibiscus tilaceus, Cocos nucifera, Pandanus tectorius, Ipomoea pescaprae dan vegetasi mangrove untuk mencegah abrasi dan untuk mendukung kehidupan organisme di kawasan pesisir. Kata kunci : Biodiversitas, Vegetasi, Pesisir, Abrasi

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kawasan pesisir merupakan daerah pertemuan antara lautan dan daratan. Batasannya adalah ke arah darat dan ke arah laut (Dahuri et al., 2001). Kondisi kawasan pesisir Kota Banda Aceh pasca-tsunami mengalami kerusakan, yaitu sebagian besar vegetasi pelindung kawasan pesisir mati akibat hantaman gelombang sehingga fungsi kawasan pesisir tidak berfungsi lagi sebagai pelindung lingkungan pesisir.

Pantai mempunyai bermacam tipe vegetasi

Upaya pemulihan kondisi lingkungan kawasan pesisir harus segera dilakukan yaitu dengan menanam kembali vegetasi pelindung kawasan pesisir

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi sekarang ini tentang keberadaan hutan kawasan pesisir yang cukup mencemaskan, maka sangat perlu untuk mengetahui/mendata kembali tingkat keragaman, suksesi dan penyebaran jenis, dan memetakkan kembali kawasan untuk program rehabilitasi sehingga dapat menentukan upaya konservasi yang tepat sehingga permasalahan-permasalahan seperti tersebut di atas dapat teratasi

1.2 Tujuan dan manfaat penelitian Penelitian bertujuan untuk menerangkan keragaman jenis vegetasi, proses tahapan suksesi, kondisi fisik kawasan pesisir di Banda Aceh pasca-tsunami. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kondisi lingkungan pesisir sehingga dapat menentukan upaya konservasi wilayah pesisir Kota Banda Aceh.

II. METODE PENELITIAN


2.1 Waktu dan tempat Penelitian ini telah dilakukan mulai bulan Juli sampai Desember 2005. lokasi penelitian berada kawasan pesisir Kota Banda Aceh. Spesimen yang diperoleh diidentifikasi langsung di lapangan dan dilanjutkan di Herbarium FMIPA Unsyiah. 2.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah GPS, meteran, gunting stek, peralatan pres herbarium, label, tali rafia. Sedangkan bahan yang digunakan adalah alkohol 70 %.

2.3 Teknik pengumpulan data Penelitian ini menggunakan Metode Kuadrat dan Metode Survey. Sepanjang gis pantai ditentukan tiga stasiun pengamatan, tiap stasiun di plot tiga titik pengamatan (menggunakan metode kuadrat). Luas tiap uadrat 2m x 2m. Parameter yang diukur adalah nilai kerapatan mutlak jenis, frekuensi mutlak jenis dan dominasi mutlak jenis. Survey dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik kawasan pantai dan juga kondisi vegetasi di kawasan pesisir. 2.4 Analisis data Analisis data vegetasi dilakukan terhadap kerapatan mutlak jenis, frekuensi mutlak jenis dan dominasi mutlak jenis untuk memperoleh kerapatan relatif (KR). Frekuensi relatif (FR), dominasi relatif (DR) (Cox, 1976).

Indeks Nilai Penting (INP) merupakan besaran yangmenunjuk kan kedudukan suatu jenis terhadap jenis lain di dalam suatu komunitas. INP = KR + FR (i) + DR (i) Menghitung indeks keragaman umum Shannon-Weaver sebagai berikut : atau ni = nilai penting atau dominasi relatif atau biomassa dari setiap jenis N = total nilai penting jenis atau biomassa dari setiap jenis P1 = peluang kepentingan tiap jenis (Odum, 1998)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


Sebelum tsunami vegetasi pesisir di Banda Aceh sudah mengalami penurunan kerapatan dan keragaman hal ini disebabkan karena banyak yang dipotong untuk keperluan perluasan tambak, bahan bangunan, makanan ternak dan kayu bakar. Vegetasi kawasan pantai berpasir didominasi oleh, cemara (Casuarina equisetifolia), waru (Hibiscus tilaceus), pandan (Pandanus tectorius), kelapa (Cocos nucifera), jenis semak seperti (Ipomoea pescaprae ) dan vegetasi mangrove. Penurunan komposisi jenis ini menjadi faktor utama pemicu abrasi di daerah pesisir Kota Banda Aceh. Peningkatan komposisi formasi vegetasi pantai sangat diperlukan untuk memberikan kemampuan mendukung lingkungan fisik, lingkungan biologi, dan nilai estetika pantai

Pemanfaatan dan pengolahan tempat wisata wilayah pm perakaran yang dimilikinya. Sistem pesisir yang tidak mempertimbangkan prinsip ekologi akan memberikan dampak negatif. Prinsip ekologi terpenting yang harus diterapkan adalah tidak menghilangkan formasi vegetasi pantai yang ada. Hal ini penting sekali untuk mempertahankan kestabilan garis pantai dan menjaga keseimbangan alam. Vegetasi pantai berfungsi sebagai peredam energi gelombang dengan sistem perakaran yang dimilikinya. Sistem perakaran tersebut akan menstabilkan sedimen/pasir pantai sehingga sangat potensial sebagai penahan abrasi pantai.

Pasca-tsunami keberadaan vegetasi mangrove dan vegetasi pantai lainnya banyak yang mati sehingga keberadaan vegetasi kawasan pesisir berada pada tahap yang sangat mengkhawatirkan sehingga akan berdampak terhadap langsung terhadap kelimpahan biota laut seperti tiram, kepiting, dan udang. Melihat kondisi sekarang kawasan pesisir harus segera dilakukan upaya penanaman kembali vegetasi pantai dan mangrove. Salah satu fungsi vegetasi pantai adalah meredam energi gelombang dengan sistem perakaran yang dimilikinya. Sistem perakaran tersebut akan menstabilkan sedimen/pasir pantai. Menurut Nontji (2002), jika sedimen/pasir pantai tidak stabil maka tingkat energi gelombang yang mengempas di pantai akan menjadi lebih tinggi.

Berdasarkan data yang diperoleh kerusakan kawasan pesisir meliputi hutan pantai (coastal forest), tambak (fish/shrim poud), mangrove, badan air (water body) dan perkebunan. Kawasan pesisir yang rusak meliputi lima kecamatan yaitu Kecamatan Syiah Kuala, Kecamatan Kuta Alam, Kecamatan Kuta Raja, Kecamatan Meuraksa dan Kecamatan Jaya Baru. Luas kawasan hutan pantai (coastal forest) 99 ha, mangrove 625 ha, badan air (water body) 70,7 ha dan tambak tambak yang rusak (fish/shrimp poud) 1705 ha seperti yang terlihat pada Peta Rehabilitasi dan Konservasi Kawasan Pesisir.

Upaya penanaman kembali hutan mangrove sudah mulai dilakukan, namun masih dalam skala kecil dan perlu ditingkatkan lagi. Beberapa kawasan yang telah ditanam mengalami kegagalan, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah bibit yang tidak masak, penanganan bibit yang tidak baik, lokasi tanam (tanah) tidak disesuaikan dengan jenis mangrove. Menurut Clarke (2000), ekosistem hutan mangrove dipengaruhi oleh laju sedimentasi, kekuatan pasang surut, pasang surut air tawar. Menurut Win (1998), cahaya juga berpengaruh terhadap perkecambahan dan kecepatan tumbuh spesies mangrove.