Anda di halaman 1dari 5

ABSTRAK GALIH.

Hubungan GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian Hiperaktivitas) dengan Prestasi Belajar Siswa di Sekolah Dasar Negeri Perumnas Bumi Kelapa Dua, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Dibimbing oleh dr. TJUT MEURA OEBIT, SpKJ dan dra. CUT FAUZIAH, M. BIOMED. GPPH merupakan suatu gangguan yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk kesulitan akademik. Banyak penelitian tentang GPPH yang dapat menyebabkan seseorang tidak mampu mempertahankan perhatian sehingga menyebabkan hambatan dalam belajar. Penelitian ini dibuat untuk mengetahui hubungan GPPH dengan prestasi belajar siswa serta gambarannya. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional yang menggunakan sampel jenuh pada pengambilan sampel. Sampel yang diambil pada penelitian ini adalah seluruh siswa di SDN Perumnas Bumi Kelapa Dua, Tangerang yaitu 208 siswa. Dilakukan penapisan GPPH dengan menggunakan ACTRS dan observasi menggunakan kriteria diagnosis DSM-IV. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa siswa dengan GPPH sebesar 8.17% dan 91.83% siswa tanpa GPPH. Prestasi belajar siswa yang kurang sebesar 44.7% dan prestasi belajar baik sebesar 55.3%. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara GPPH dengan prestasi belajar siswa dengan nilai p = 0.013. Untuk mengurangi dampak dari GPPH perlu dilakukan pengembangan program terpadu di sekolah agar dapat menangani masalah tingkah laku anak yang dapat menyebabkan kesulitan belajar sehingga diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar para siswa. Kata kunci: GPPH, prestasi belajar Kepustakaan : 32 (1989-2010)

ABSTRACT

xv

GALIH. The Relation between GPPH and Student Learning Achievement in SDN Perumnas Bumi Kelapa Dua, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Under direction of dr. TJUT MEURA OEBIT, SpKJ and dra. CUT FAUZIAH, M. BIOMED. GPPH is a disorder which affects the various aspects of life, including academic difficulties. Many studies about GPPH which can cause a person unable to maintain attention, causing barriers to learn. This research is made to find out GPPH relation with student learning achievement and also figure all the things out. The type of this research is a descriptive analytic with cross sectional approach using saturated samples at sampling. The sample which is taken in this research were all students at SDN perumnas bumi kelapa dua Tangerang, which consist of 208 students. GPPH screening is done by using ACTRS and observation using DSM-IV diagnostic criteria. Univariate analysis results shows that students with GPPH is 8.17% and students without GPPH is 91.83%. Students learning Achievement which is under average at 44.7% and which is above average at 55.3%. The result of bivariate analysis shows that there is a relation between GPPH with student achievement with p value = 0.013. To reduce the impact of GPPH, it need to develop an integrated program at the school in order to deal with child behavior problems that can cause learning difficulties so it is expected to enhance students' learning achievement. Keywords: GPPH, learning achievement Refference: 32 (1989-2010)

RINGKASAN

xvi

GALIH. Hubungan GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian Hiperaktivitas) dengan Prestasi Belajar Siswa di SDN Perumnas Bumi Kelapa Dua, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Dibimbing oleh dr. TJUT MEURA S.OEBIT, SpKJ dan dra. CUT FAUZIAH, M. BIOMED. GPPH merupakan gangguan perilaku yang dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan seorang individu, termasuk kesulitan akademik, masalah keterampilan sosial dan ketegangan dalam relasi orang tua dengan anak. Anak dengan gangguan ini beresiko tinggi untuk mengalami akibat negatif jangka panjang yaitu rendahnya pencapaian pendidikan dan pekerjaan. Gejala GPPH tidak hanya terjadi selama waktu sekolah, tetapi juga harus mempertimbangkan fungsi dan kesejahteraan seluruh keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian Hiperaktivitas) dengan Prestasi Belajar Siswa di Sekolah Dasar Negeri Perumnas Bumi Kelapa Dua, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Sejak bayi dilahirkan, ia sudah berhadapan dengan proses belajar yang sangat tergantung pada tingkat perkembangan yang telah dicapainya, yang akan menentukan kemampuan yang ada dalam dirinya. Hal ini akan berjalan terus sampai anak masuk sekolah dan mengikuti proses pembelajaran formal yang ada. Sebagian besar masyarakat di Indonesia belum menyadari adanya gangguan ini, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Pada kehidupan sehari-hari di sekolah dan di rumah, anak yang mengalami gangguan hiperkinetik tidak disadari oleh orang tua dan guru sebagai anak yang perlu diterima dan segera ditolong untuk mengatasi gangguan tersebut. Sebagian besar masyarakat menganggap gangguan tersebut sebagai sifat buruk yang tidak diterima oleh lingkungannya Gangguan Pemusatan Perhatian dan/atau Hiperaktivitas (GPPH) atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dalam DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV, 2000) atau Gangguan Hiperkinetik dalam PPDGJ-III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III, 1993) adalah suatu diagnosis untuk pola perilaku anak yang berlangsung dalam jangka waktu paling sedikit 6 bulan, dimulai sejak berusia sekitar 7 tahun, yang menunjukkan sejumlah gejala ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian atau sejumlah gejala perilaku hiperaktif-impulsif, atau kedua-duanya. Penyebab dari GPPH belum diketahui dengan jelas. Faktor penyumbang yang diduga berperan terjadinya GPPH adalah pemaparan toksin pranatal, prematuritas, dan kerusakan mekanis prenatal pada sistem saraf janin. Penyedap makanan, zat pewarna, pengawet, dan gula telah juga diperkirakan sebagai kemungkinan penyebab untuk perilaku hiperaktif. Serta beberapa faktor yang mempengaruhi GPPH, yaitu faktor genetik, cedera otak, dan faktor psikososial. Untuk dapat disebut memiliki gangguan GPPH, harus ada tiga gejala utama yang tampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain. Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Ia akan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara. Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak terkendali. xvii

Gangguan tersebut sudah menetap minimal 6 bulan dan terjadi sebelum anak berusia 7 tahun. Gejala-gejala tersebut muncul setidaknya dalam dua situasi, misalnya di rumah dan di sekolah. Beberapa masalah perilaku yang muncul dan dapat menghambat proses belajar pada anak GPPH dan kesulitan belajar. Terapi yang efektif bagi GPPH adalah terapi perilaku dan farmakoterapi khususnya dengan psikostimulan. Efektivitas keduanya dalam waktu singkat (beberapa minggu atau bulan) telah terbukti. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian bahwa dengan pemberian obat metilfenidat dosis rendah, disertai dengan pelatihan orang tua dan juga pelatihan bagi anak untuk mengontrol dirinya. Terapi yang diterapkan terhadap penderita ADHD haruslah bersifat holistik dan menyeluruh. Penanganan ini hendaknya melibatkan multi disiplin ilmu yang dilakukan antara dokter, psikologi, orangtua, guru dan lingkungan yang berpengaruh terhadap penderita secara bersama-sama. Penanganan ideal harus dilakukan terapi stimulasi dan terapi perilaku secara terpadu guna menjamin keberhasilan terapi. Prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. Faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik yang cenderung mendorong maupun yang menghambat dalam belajar adalah baik faktor internal yang terdiri dari intelegensi, minat, fisik, dan psikis. Sedangkan faktor eksternal adalah guru, lingkungan keluarga, sumber-sumber belajar. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan crosssectional. Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek penelitian, menggunakan desain penelitian cross sectional, dan menggunakan data primer dan data sekunder. Penelitian dilaksanakan di SDN Perumnas Bumi Kelapa Dua, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Populasi terjangkau adalah seluruh siswa SDN Perumnas Bumi Kelapa Dua, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang yaitu sebanyak 221 siswa. Sampel adalah populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 208 siswa. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Non Random sampling (Non Probability sampling), yaitu sampel jenuh. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner ACTRS dan data nilai rata-rata siswa semester akhir dari rapor siswa, yang diperoleh dengan analisis univariat dan analisis bivariat dengan Uji Chi Square dengan kemaknaan ( p < 0.05 ). Hasil penelitian adalah siswa dengan GPPH sebanyak 8.17%, sedangkan siswa tanpa dengan GPPH sebanyak 91.83 %. Siswa dengan GPPH yang memiliki prestasi belajar kurang sebanyak 76.5% sedangkan yang baik 23.5%. Terdapat hubungan yang signifikan antara GPPH dengan prestasi belajar siswa di SDN Perumnas Bumi Kelapa Dua, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang dengan nilai p < 0.05. Saran untuk guru di SDN Perumnas Bumi Kelapa Dua, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang perlu meningkatkan peran akif para guru agar dapat menangani masalah tingkah laku siswa, khususnya siswa dengan GPPH yang dapat menyebabkan kesulitan dalam belajar sehingga diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar para siswa dan bagi orang tua dan masyarakat adalah perlu segera dilakukan program penyuluhan kesehatan jiwa anak yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya para orang tua terhadap adanya

xviii

GPPH, sehingga dapat dilakukan tindakan preventif primer dan sekunder terhadap gangguan ini sehingga dampak psikososial yang lebih berat dapat dihindari. Kata kunci: GPPH, prestasi belajar Kepustakaan : 32 (1989-2010)

xix