Anda di halaman 1dari 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sifat-sifat Gas Gas adalah salah satu dari tiga keadaan materi. Gas mempunyai sifat khusus yang tidak dimiliki oleh zat cair maupun zat padat. Salah satu yang menarik dari gas adalah sifat-sifatnya yang tidak tergantung dari komposisi kimianya. Semua gas memperlihatkan sifat-sifat yang hampir sama, bila variabel seperti tekanan dan suhunya diubah. Sifat-sifat fisik gas secara umum dapat dinyatakan dalam hukumhukum gas. Hukum-hukum ini berlaku untuk gas ideal, sedangkan untuk gas nyata (non-ideal) seperti banyak yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, rumusannya agak menyimpang. Meski demikian sifat-sifat ideal suatu gas bisa didekati oleh gas nyata pada kondisi tertentu. Dari perilaku gas, dapat disimpulkan sebuah teori yang disebut dengan Teori Kinetika Gas. Teori itu diringkas dalam suatu model sebagai berikut : Gas terdiri adari partikel-partikel sangat kecil yang disebut molekul banyak jumlahnya Molekul-molekul gas selalu bergerak secara acak ke segala arah dengan kecepatan sangat tinggi dan lintasan lurus Molekul-molekul gas saling bertabrakan satu sama lain dan dengan dinding wadahnya. Tabrakan tidak mengakibatkan molekul

kehilangan energi atau bersifat elastis sempurna Volume sesungguhnya dari molekul gas dapat diabaikan terhadap volume wadah sesungguhnya, karena diameter rata-rata molekul sangat kecil dibandingkan dengan jarak rata-rata molekul Gaya tarik menarik atau tolak menolak antara molekul gas dapat diabaikan karena jarak rata-rata antara molekul sangat besar. Energi kinetik rata-rata molekul gas berbanding lurus dengan suhu mutlaknya (Yazid, 2005) Banyak suatu persamaan yang menghubungkan tekanan, temperatur, dan volume spesifik dari suatu substansi. Sehingga hal tersebut disebut dengan 3 Dewi Anggraini/100405021 Laboratorium Kimia Fisika

persamaan standar. Gas dan uap sering dikatakan sama. Fasa uap adalah biasanya disebut gas jika dia berada di titik kritis. Uap biasanya menyiratkan gas tidak jauh dari keadaan kondensasinya. Pada tahun 1662, Robert Boyle melakukan suatu percobaan yang menghasilkan suatu pernyataan bahwa tekanan dari suatu gas berbanding terbalik dengan volumenya. Tahun 1802, J.Charles dan J.Gay-Lussac melalui percobaannya menjelaskan bahwa pada tekanan rendah volume dari suatu gas itu sebanding dengan temperaturnya. Hal ini dapat dinyatakan dengan : P=R atau PV = RT

dimana R adalah ketetapan gas. Persamaan tersebut diatas adalah persamaan gas ideal, dan gas yang mengikuti hubungan tersebut diatas dikatakan sebagai suatu gas ideal. Dimana P menyatakan tekanan absolut, V menyatakan volume absolut, dan T menyatakan temperatur absolut. Konstanta gas R berbeda dengan yang lainnya dan dapat dinyatakan dari : R= (kj/kg.K atau kPa m3/kg.K)

dimana Ru adalah ketetapan gas universal dan M menyatakan massa molar gas. Sebuah massa dari suatu sistem dapat dinyatakan atau sama dengan hasil perkalian antara massa molar M dan jumlah mol N, dinyatakan : m = MN (kg) Dari persamaan gas ideal tersebut, dihasilkan bentuk persamaan yang berbeda-beda : V = mv mR = (MN)R = NRu V = Nv PV = mRT PV = NRuT Pv = RuT

dimana v menyatakan olume spesifik molar, yaitu volume per unit mol (dinyatakan m3/kmol atau ft3/lbmol). Persamaan gas pada kedua keadaan berbeda dapat dihubungkan satu sama lain oleh : = Sebuah gas ideal dibayangkan sebagai suatu substansi yang memenuhi hubungan gas ideal yang memberikan hubungan lebih dekat antara P-V-T pada densitas rendah. Pada tekanan rendah dan temperatur tinggi, densitas gas akan

Dewi Anggraini/100405021 Laboratorium Kimia Fisika

menurun dan gas dinyatakan sebagai gas ideal dibawah kondisi seperti ini (Cengel, 1999). Persamaan yang menghubungkan langsung dengan berat molekul dapat diturunkan dari persamaan gas ideal. Banyaknyagas juga dapat dihitung bila P, V, dan T diketahui. Untuk n mol gas berlaku :

n=
Jika massa m gas diketahui, maka n = m/M. Berat molekul (M) gas dihitung dengan persamaan : atau M = Rapatan gas didefinisikan sebagai perbandingan massa gas terhadap volumenya pada suhu dan tekanan tertentu :

Sehingga dari persamaan tersebut, berat molekul (M) gas dapat juga dihitung :

M=
Sifat-sifat dari sebuah gas nyata menyimpang dari gas ideal terutama pada tekanan tinggi dan suhu rendah, sehingga rumus gas ideal tidak tepat digunakan pada gas nyata. Untuk mengatasi terjadinya penyimpanan itu dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan mengubah keadaaan gas sehingga memenuhi persamaan gas ideal. Dalam hal ini keadaan mendekati sifat-sifat ideal bila dilakukan pada tekanan rendah dan suhu tinggi. Kedua, memodifikasi persamaan gas ideal dengan memasukkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan antara gas nyata dan gas ideal, sehingga diperoleh persamaan baru yang dapat diterapkan pada gas nyata. Pada tahun 1873, Van Der Waals memberikan faktor koreksi terhadap volume dan tekanan pada persamaan gas ideal ( PV = nRT ). Volume memerlukan koreksi karena molekul-moleku gas nyata mempunyai volume yang tidak dapat diabaikan. Pada gas ideal, molekul-molekuknya dianggap tidak mempunyai volume sehingga tempat merupakan ruang kosong, ke dalam mana molekul-molekul gas lain dapat dimasukkan bila gas dimampatkan. Dalam persamaan barunya Van Der Waals mengurangi volume gas terukur dengan volume efektif total molekul-molekul gas sebesar nb. Dengan kata lain volume suatu mlekul bukanlah V melainkan (V- nb), Dewi Anggraini/100405021 Laboratorium Kimia Fisika

dengan b adalah faktor koreksi dari volume yang diabaikan per mol, dan n adalah mol gas. Faktor Koreksi juga diperlukan pada tekanan karena adanya interaksi antara molekul pada gas nyata yang mengakibatkan gerakannya menjadi tidak lurus dan kecepatannya menjadi lebih kecil dibandingkan gas ideal. Keadaan ini menyebabkan tumbukan molekul-molekul gas nyata pada dinding lebih jarang terjadi dibanding gas ideal sehingga tekanannya lebih kecil dari tekanan gas ideal. Van Der Waals memeberikan koreksi sebesar yang ditambahkan pada tekanan terukur. Dengan

memasukkan dua faktor koreksi ke dalam persamaan gas ideal, maka diperoleh persamaan :
( )( )

Persamaan ini disebut persamaan Van Der Waals untuk gas nyata dengan a dan b adalah suatu tetapan yang nilainya tergantung dari jenis gas (Yazid, 2005)

2.2. Hukum-hukum Gas Berdasarkan hasil percobaan, sifat-sifat umum dari gas telah dirumuskan dalam hukum-hukum gas. Hukum-hukum ini menyatakan hubungan volume, tekanan, dan suhu dari gas. Percobaan umumnya dilakukan dengan mengambil suatu sampel gas pada tepat tertutup, lalu mengamati apa yang terjadi bila tekanan, volume, dan suhunya diubah-ubah. Karena menyangkut tiga variabel, maka salah satu variabel tersebut harus dibuat konstan dan hubungan kedua variabel lainnya juga harus ditentukan. 2.2.1 Hukum Boyle Pada suhu tetap, volume dari sejumlah tertentu gas berbanding terbalik dengan tekanannya. P1 V1 = P2 V2 2.2.2 Hukum Gay-Lussac Tekanan suatu gas dengan massa tertentu berbanding lurus dengan suhu mutlaknya, bila volume tidak berubah. P1/T1 = P2/T2

Dewi Anggraini/100405021 Laboratorium Kimia Fisika

2.2.3 Hukum Charles-Gay Lussac Pada tekanan tetap, volume suatu gas berbanding lurus dengan suhu mutlaknya. V / T = k (k konstan) 2.2.4 Hukum Avogadro Pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang volumenya sama mengandung jumlah mol yang sama. Dari pernyataan ini ditentukan bahwa pada keadaan STP (0o C 1 atm) 1 mol setiap gas volumenya 22.4 liter volume ini disebut sebagai volume molar gas. 2.2.5 Hukum Gas Ideal Kombinasi dalam suatu pernyataan hukum Boyle, Charles, Gay Lussac dan Avogardo diperoleh suatu persamaan baru, yaitu : PV = nRT Untuk suatu jenis gas pada dua keadaan yang dibandingkan (P, V, dan T), maka n adalah tetap. Persamaan menjadi : PV/T = nR PV/T = konstan P1V1/T1 = P2V2/T2 T1 dan T2 adalah suhu, harus dalam Kelvin, sedangkan suatu tekanan yang sesuai dapat digunakan untuk P1 dan P2. Demikian pula untuk satuan volume V1 dan V2 (Yazid, 2005). 2.3 Aplikasi Cairan Volatil dalam Industri Pembuatan Metil Ester (Biodiesel) Dari Minyak Dedak dan Metanol Dengan Proses Esterifikasi dan Transesterifikasi Biodiesel merupakan monoalkil ester dari asam-asam lemak rantai panjang yang terkandung dalam minyak nabati atau lemak hewani untuk digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel. Biodiesel dapat diperoleh melalui reaksi transesterifikasi trigliserida dan atau reaksi esterifikasi asam lemak bebas tergantung dari kualitas minyak nabati yang digunakan sebagai bahan baku. Transesterifikasi adalah proses yang mereaksikan trigliserida dalam minyak nabati atau lemak hewani dengan alkohol rantai pendek seperti metanol atau etanol (pada saat ini sebagian besar Dewi Anggraini/100405021 Laboratorium Kimia Fisika

produksi biodiesel menggunakan metanol) menghasilkan metil ester asam lemak (Fatty Acids Methyl Esters / FAME) atau biodiesel dan gliserol (gliserin) sebagai produk samping. Katalis yang digunakan pada proses transesterifikasi adalah basa/alkali, biasanya digunakan natrium hidroksida (NaOH) atau kalium hidroksida (KOH). Esterifikasi adalah proses yang mereaksikan asam lemak bebas (FFA) dengan alkohol rantai pendek (metanol atau etanol) menghasilkan metil ester asam lemak (FAME) dan air. Katalis yang digunakan untuk reaksi esterifikasi adalah asam, biasanya asam sulfat (H2SO4) atau asam fosfat (H3PO4). Dedak merupakan produk samping penggilingan gabah menjadi beras. Minyak dedak diperoleh dari ekstraksi dedak dengan pelarut volatile, umumnya n-heksan. Minyak dedak padi adalah minyak berkandungan gizi tinggi karena mengandung asam lemak, komponen-komponen aktif biologis, dan antioksidan (oryzanol, tocopherol, tocotrienol, phytosterol, polyphenol dan squalene). Minyak mentah dedak padi sulit dimurnikan karena tingginya kandungan asam lemak bebas dan senyawa tak tersaponifikasikan berwarna gelap. Pada keadaan atmosfer, metanol berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). Metanol digunakan sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan aditif bagi etanol industri, merupakan produk samping dari distilasi kayu. Saat ini metanol dihasilkan melalui proses multi tahap. Secara singkat, gas alam dan uap air dibakar dalam tungku untuk membentuk gas hidrogen dan gas karbon monoksida, kemudian gas hidrogen dan karbon monoksida ini bereaksi dalam tekanan tinggi dengan bantuan katalis untuk menghasilkan metanol. Tahap pembentukannya adalah endotermik dan tahap sintetisnya adalah eksotermik. Penelitian ini dilakukan dengan melalui tiga tahap yaitu ekstraksi, esterifikasi, dan transesterifikasi (Hikmah, dkk, 2010).

Dewi Anggraini/100405021 Laboratorium Kimia Fisika

Mulai

Dimasukkan dedak ke labu leher tiga

Ditambahkan metanol dan dipanaskan suhu 60-65 selama 120 menit lalu hasil ekstraksi disaring

Dilakukan analisa kadar FFA dari hasil ekstraksi Dimasukkan dedak, metanol, dan katalis H2SO4 ke labu leher tiga Diaduk dan dipanaskan sampai suhu yang diinginkan

Diambil 3 ml sampel lalu ditambah 9 ml etanol 96% dan dipanaskan sampai 45

Ditambah 3 tetes indikator pp, dititrasi NaOH 0,1 N hingga warna merah muda tetap selama 15 detik

Ditambah katalis NaOH ke dalam hasil esterifikasi dengan jumlah tertentu

Direaksikan pada suhu 60 sesuai waktu yang telah ditentukan lalu dikeringkan

Selesai

Gambar 2.1 Flowchart Pembuatan Biodiesel dari Minyak Dedak dan Metanol Melalui Proses Esterifikasi dan Transesterifikasi (Hikmah, dkk, 2010) Dewi Anggraini/100405021 Laboratorium Kimia Fisika