Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM SEDIAAN FORMULASI EMULSI VCO 30%/60ml

oleh : KELOMPOK 1

Syarifatul Imamah Rania Arif Mahfud Moch. Rijal Hadi Nabila Andjani Nur Lailatul Fitria

(105070500111001) (105070500111002) (105070500111004) (105070500111006) (105070500111009)

Alfi Lailaturrokhmah (105070501111013) Erita Rahmani Dilah Rahmah R. (105070500111017) (105070500111027)

Zwageri Argo Pitoyo (105070500111035) Erlina Yulianti (105070504111002)

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

Laporan Praktikum Formulasi Emulsi VCO

1. Nama Sediaan: Emulsi VCO 2. Tujuan Praktikum : Mahasiswa mampu membuat formula,membuat sediaan,serta melakukan evaluasi sediaan emulsi Mahasiswa mampu melakukan analisa dan menarik kesimpulan mengenai fungsi dan metode pembuatan dengan berbagai macam emulgator Teori singkat : Emulsi adalah system dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan lain,dalam bentuk tetesan kecil. Emulsi dapat distabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi yang mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar yang akhirnya menjadi satu fase tunggal (FI IV hal 6-7) 3. Deskripsi Bahan Aktif dan Preformulasi Eksipien Propyl paraben sebagai pengawet(HPE Hal 596) Pemerian: Serbuk putih atau hablur kecil, tidak berwarna. Nama lain (sinonim): Nipasol; Co sept P nama kimia: Propil P hidroksibenzoat (94-13-3) struktur kimia:

Rumus molekul C10H12O3 dan bobot molekul 180.20

Kelarutan: Sangat sukar larut dalam air; larut dalam 3.5 bagian etanol (95%) P, dalam 3 bagian aseton P, dalam 40 bagian minyak lemak, mudah larut dalam larutan alkali hidroksida

pH stabilitas: 3 6 Titik lebur: Antara 95 dan 98 Stabilitas: Stabil pada pH 3 6 pada suhu kamar Inkompatibilitas: Aktivitas pengawet berkurang dengan adanya surfaktan non ionic hasil miselasasi Mg Aluminium Silikat, Mg Trisiklat, Yellow non oxide dan ultramarine biru mengabsorbsi propilparaben sehingga efikasi menurun(HPE hal 597)

Wadah dan penyimpanan: Dalam wadah tertutup baik Sifat khusus yang penting untuk formulasi: Data tidak ditemukan Koefisien partisi zat aktif: Data tidak ditemukan

Methyl Paraben sebagai pengawet(FI IV) Pemerian : hablur, kecil, tidak berawarna atau serbuk hablur putih tidak berbau, atau berbau khas lemah mempunyai sedikit rasa terbakar Nama lain (sinonim) : Aseptoform M, 4-hydroxibenzoic acid methyl ester, metagin, methyl chemosept, methylis parahydroxybenzoas, methyl p-hydroxybenzoate, nipagin M, Solbrol M, Tegosep M, Uniphen P-23 Nama kimia : methyl-4-hydroxybenzoate Struktur kimia

Rumus molekul dan bobot molekul : C8H8O3 ; BM=152,15 Kelarutan : sukar larut dalam air, dalam benzene dan dalam karbontetraklorida, mudah larut dalam etanol dan eter. pH larutan dan pH stabilitas : 3,0-6,0 (HPE hal 449) Titik didih atau titik leleh : jarak lebur 125o dan 1280 Stabilitas (terhadap pH, cahaya, lembab, logam dan panas) : harus ditempatkan ditempat yg tertutup baik, sejuk dan kering. Ditempatkan pada temperature kamar

Inkompatibilitas (terutama dengan bahan eksipien) : dengan zat tambahan seperti bentonit, Mg trisilikat, talk, tragacanth, sodium alginate, minyak esensial, sorbitol dan atropine(HPE hal 443)

Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup baik Sifat khusus yang penting untuk formulasi (sifat iritasi, bentuk aktif) : data tidak ditemukan Koefisien partisi zat aktif : data tidak ditemukan

Air sebagai pelarut(FI IV) Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau Nama lain (sinonim) : Aqua; aqua purificata; hydrogen oxide nama kimia : air struktur kimia : H-O-H Rumus molekul dan bobot molekul : H2O ; BM = 18 Kelarutan : pH stabilitas : antara 5,0-7,0 Titik didih atau titik leleh : TD 100o C Stabilitas : stabil pada semua bentuk fisik (es, cair, uap) Inkompatibilitas: Bereaksi dengan obat- obatan dan eksipien lain yang sesceptible untuk hidrolisis, alkali metal dan oksidanya seperti kalsium oksida, MgO. Wadah dan penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat Sifat khusus yang penting untuk formulasi (sifat iritasi, bentuk aktif) : data tidak ditemukan Koefisien partisi zat aktif : data tidak ditemukan

Carboxy Metyl Cellulosium Natrium (CMC-Na) (HPE hal 120) Pemerian : CMC Na berbentuk butiran serbuk, tidak berbau, berwarna putih hampir putih. Nama lain (sinonim) : Akucell; Aquasorb; Blanose; cellulose gum; CMC sodium; E466; Finnfix; Nymcel; SCMC; sodium carboxymethylcellulose; sodium cellulose glycolate; sodium CMC; Tylose CB. Nama kimia : Cellulose, carboxymethyl ether, sodium salt. Struktur kimia :

Rumus molekul : C8H16NaO8 Berat molekul : 265.204 Kelarutan : Praktis tidak larut dalam aseton, etanol (95%), eter, dan toluene. Mudah tersebar dalam air pada semua suhu, terbentuk jelas,n larutan koloid. Kelarutan air bervariasi sesuai derajat substitusi (DS)

pH stabilitas : pada pH 7-9 Titik didih atau titik leleh : Titik leleh 300 dan titik didih 527.1C at 760 mmHg Stabilitas (terhadap pH, cahaya, lembab, logam dan panas) : Inkompatibilitas (terutama dengan bahan eksipien) : CMC Na tidak kompatibel dengan larutan asam kuat dan dengan garam terlarut dari besi dan beberapa lain logam, seperti aluminium, merkuri, dan seng. Pengendapan dapat terjadi pada pH <2, dan juga bila dicampur dengan etanol (95%). CMC Na membentuk kompleks coacervates dengan gelatin dan pectin, dan juga membentuk kompleks dengan kolagen dan mampu mempercepat protein.bermuatan positif tertentu

Wadah dan penyimpanan : Sifat khusus yang penting untuk formulasi : Koefisien partisi zat aktif : -

Butylated Hydroxytoluene (BHT) (British Pharmacopeia hal 852-853) -

Fungsi: sebagai antioksidan Pemerian: putih atau putih kekuningan, serbuk Kristal Nama lain: Butylhydroxytoluene, (Ph Eur monograph 0581) Nama kimia: Butylhydroxytoluene is 2,6-bis(1,1-dimethylethyl)-4-methylphenol Struktur kimia:

Rumus molekul dan bobot molekul: C15H24O220.4 Kelarutan: praktis tidak larut dalam air, sangat larut dalam aseton, dapat larut dalam alcohol dan minyak sayur (30mg/ml) pH stabilitas: titik leleh: 71oC titik beku: 69 C - 70 C stabilitas: 2 tahun dalam suhu ruang inkompatibilitas: reaktif dengan unsur oksidasi wadah dan penyimpanan: simpan di tempat kering, tidak terkena sinar matahari,tertutup rapat sifat khusus: koefisien partisi: -

Virgin Coconut oil (HPE)

pemerian : massa putih atau hampir putih bermanis-manispraktis tidak larut dalam air, bebas larut dalam metilen klorida dan dalam terang cair (pb: 65 C sampai 70 C), sangat sedikit larut dalam alkohol.

Nama lain : minyak kelapa Nama kimia : Struktur kimia : Rumus molekul dan berat molekul : Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, bebas larut dalam metilen klorida dan dalam terang cair (pb: 65 C sampai 70 C), sangat sedikit larut dalam alkohol. pH : < 7 Titik cair : 23 C sampai 26 C Titik didih : 225 C Stabilitas : Inkompatibilitas : -

Wadah dan Penyimpanan : Simpan dalam wadah yang dipenuhi dengan baik, terlindung dari cahaya. Sifat khusus yang penting untuk formulasi (sifat iritasi, bentuk aktif) : Koefisien partisi zat aktif : -

4. Usulan Formula Kelompok kami memutuskan untuk tidak memakai methyl paraben sebagai usulan formula sediaan emulsi vco kami karena methyl paraben tidak dapat larut dalam air dan VCO. R/ Virgin coconut oil 30% CMC-Na 7,5% BHT 0,1% Propyl Paraben 0,02% FD&C Green q.s Aqua bebas CO2 15% (untuk korpus emulsi)

5. Formula R/ Virgin coconut oil 30% CMC-Na 1 % BHT 0,1% Methyl Paraben 0,18% Propyl Paraben 0,02% FD&C Green q.s Aqua bebas CO2 15% (untuk korpus emulsi)

6. Perhitungan R/ Minyak : Air : Emulgator 4:2:1 Virgin Coconut oil 30%

1 botol (60 ml)= 30/100x60= 18ml Dilebihkan 2%= 18,36ml Dilebihkan 10%= 20,196ml 5 botol= 5x 20,196ml= 100,98ml Propyl Paraben 0,02%

1 botol (60 ml)= 0,02/100x60= 0,012 gram Dilebihkan 2%= 0,01224 gram Dilebihkan 10%= 0,013464 gram

5 botol= 5x 0,013464 gram= 0,06732 gram

BHT 0,1%

1 botol (60 ml)= 0,1/100x60= 0,06 gram Dilebihkan 2%= 0,0612 gram Dilebihkan 10%= 0,06732 gram 5 botol= 5x 0,06732= 0,3366 gram

CMC-Na 1%

1 botol (60 ml)= 1/100x60= 0,6 gram Dilebihkan 2%= 0,612 gram Dilebihkan 10%= 0,6732 gram 5 botol= 5x 5,049= 3,366 gram

Aqua bebas CO2 15%

1 botol (60 ml)= 15/100x60= 9ml Dilebihkan 2%= 9,18 ml Dilebihkan 10%= 10,098 ml 5 botol= 5x 10,098ml= 50,49 ml

7. Penimbangan Nama Bahan volume 5 ml volume 60 ml volume 61,2mlx5 botol 61,2mlx10 botol VCO 30% BHT 0,1% 1,683ml 0,00561g 20,196ml 0,06732 gram 100,98ml 0,3366 gram 201,96ml 0,6732g

CMC-Na

0.42075g

5,049 gram

3,366 gram
0,06732 gram

6,732g

Propil Paraben

0,001122g

0,013464

0,90639g

Aqua CO2

bebas 0,8415ml

10,098 ml

50,49 ml

100,98ml

8. Prosedur pembuatan Cara Basah

Botol kaca bening dikalibrasi sebanyak 5 buah dengan volume 61,2 ml Beaker glass dkalibrasi 306 ml Aqua diambil sebanyak 350 ml masukkan dalam beaker glass panaskan di atas penangas air hingga suhu 800 C segera tutup beaker glass dengan penutup terbentuk aqua bebas CO2 VCO(4) ditimbang sebanyak 100,98 ml dalam gelas ukur CMC Na (5) ditimbang sebanyak 3,366 gram dengan timbangan digital Aqua bebas CO2 (6) diukur sebanyak 63,75 ml dalam gelas ukur Propylparaben (7) ditimbang sebanyak 0,06732 gram dengan timbangan digital BHT (8) Timbang sebanyak 0,3366 gram dengan timbangan digital gerus ad halus FD&C Green q.s (9) Ambil larutkan dalam air pada tabung reaksi

Pembuatan korpus emulsi cara basah 11. Sebagian/ setengah bagian dari (6) dituangkan ke dalam mortar (5) disebarkan dalam mortar yang telah diisi setengah bagian dari (6) sebelumnya aduk terus secara cepat ad terbasahi sempurna 12. Tambahkan (4) sedikit demi sedikit ke (10) aduk terus secara cepat ad homogen

13. Tambahkan (8) sedikit demi sedikit ke (11) aduk terus secara cepat ad homogen 14. Tambahkan sisa bagian (6) sedikit demi sedikit ke (12) aduk terus secara cepat ad homogen 15. Tambahkan (7) sedikit demi sedikit ke (13) aduk terus secara cepat ad homogen 16. Tambahkan (9) sedikit demi sedikit q.s ke (14) aduk terus secara cepat ad homogen 17. (15) dituang ke dalam beaker glass (2) ditambahkan (3) ad 306 ml aduk terus secara cepat ad larut ad homogen dengan gelas pengaduk 18. (16) dituang perlahan ke masing-masing botol (1) ad batas kalibrasi 19. (17) ditutup dengan tutup botol diberi etiket dimasukkan ke dalam kotak kemasan diberi brosur 20. Dilakukan evaluasi akhir sediaan VCO

Hasil

-Cara Kering Botol kaca bening dikalibrasi sebanyak 5 buah dengan volume 61,2 ml Beaker glass dkalibrasi 306 ml Aqua diambil sebanyak 350 ml masukkan dalam beaker glass panaskan di atas penangas air hingga suhu 800 C segera tutup beaker glass dengan penutup terbentuk aqua bebas CO2 VCO(4) ditimbang sebanyak 100,98 ml dalam gelas ukur CMC Na (5) ditimbang sebanyak 3,366 gram dengan timbangan digital Aqua bebas CO2 (6) diukur sebanyak 63,75 ml dalam gelas ukur Propylparaben (7) ditimbang sebanyak 0,06732 gram dengan timbangan digital

BHT (8) Timbang sebanyak 0,3366 gram dengan timbangan digital gerus ad halus FD&C Green q.s (9) Ambil larutkan dalam air pada tabung reaksi

Pembuatan korpus emulsi

Masukkan (4), (5), (6) ke dalam beaker glass aduk dengan kecepatan tertinggi dengan menggunakan stirrer sam Tambahkan air sedikit demi sedikit, dan tambahkan (7), (8) aduk ad homogen. Tambahkan sisa air ad 306 ml. Tambahkan FD&C Green qs aduk ad homogen. Masukkan dalam kemasan, beri etiket, lakukan evaluasi Evaluasi

Hasil

9. Uji mutu Farmasetik Sediaan Akhir evalusi organoleptik meliputi warna, bau, dan rasa : tabung reaksi alas datar 15 mm 25 mm, tidak bewarna, transparan dari kaca netral prosedur : 1. Masukkan dalam 2 tabung masing masing sample 2. bandingkan selama 5 menit dengan latar belakang hitam tegak lurus ke arah tabung 3. sediaan di nyatakan jernih jika kejenihan sample sama dengan pembanding

evaluasi kejernihan alat

penetapan bobot jenis alat prosedur : piknometer bersih, kering, dan terkalibrasi : 1. Ukur bobot piknometer kosong dan pikno + air pada suhu 25oC 2. ukur bobot pikno + sample 3. BJ sample : bobot pikno + sample - bobot pikno Bobot pikno + air - bobot pikno

penetapan PH alat prosedur : potensiometri ( PH meter ) terkalibrasi : pengukuran dilakukan pada suhu 25oC + 2oC, kecuali di nyatakan lain pada masing masing monografi

uji volume terpindahkan alat prosedur : gelas ukur terkalibrasi : 1. Pilih 10 wadah 2. kocok isi 10 wadah satu per satu 3. tuang isi perlahan lahan ke dalam gelas ukur 4. diamkan selama 30 menit 5. ukur volume tiap wadah 6. volume rata rata 10 wadah tidak kurang dari 100% 7. tidak 1 pun volume wadah yg < 95% dari etiket Pengujian tipe emulsi A. metode daya hantar listrik prosedur : emulsi yang di buat di masukkan ke dalam gelas piala, kemudian di hubungkan dengan rangkaian arus listrik, jika lampu menyalam maka emulsi adalah tipe minyak dalam air, jika lampu tidak menyala maka emulsi tersebut tipe air dalam minyak B. metode pengenceran alat prosedur : gelas piala : emulsi yang telah di buat di masukkan ke dalam gelas piala, kemudian di encerkan dengan air, jika emulsi dapat di encerkan maka tipe emulsi adalah minyak dalam air sebaliknya jika tidak dapat di encerkan maka tipe emulsi adalah air dalam minyak

evaluasi pengukuran viskositas dan sifat aliran prinsip : penetapan waktu yang di butuhkan oleh sejumlah volume tertentu sample untuk mengalir melalui kapiler tujuan metoda : mengukur viskositas dan sifat alir dari sediaan emulsi : menggunakan viskometer terkalibrasi : sediaan di ketahui viskositasnya dan sifat alirannya

penafsiran hasil

evaluasi tinggi sedimentasi prinsip tujuan metode : penetapan tinggi sedimentasi emulsi VCO 30% : mengetahui kestabilan emulsi dalam bentuk sedimen : 1. Sediaan di masukkan ke dalam tabung yang berskala 2. volume yang di isikan merupakan volume awal (Vo) 3. setelah beberapa waktu / hari di amati vol sedimen yang terbentuk (Vu) 4. hitung volume sedimentasi penafsiran hasil F = Vu/V0

: - F = 1 flocculation equilibrum ( merupakan sediaan yang baik ) - F > 1 terjadi flocculation yang sangat longgar sehingga vol sediaan lebih besar dari volume awal - formula suspensi lebih baik jika di hasilkan kurva garis yang lurus atau sedikit curam

kemampuan redispersi prinsip tujuan : penetapan kemampuan redispersi sediaan emulsi VCO 30 % : mengetahui waktu yang di butuhkan sediaan suspensi untuk redispersi sedimen yang terbentuk metode : sediaan yang sudah membentuk sedimen di kocok dengan tangan. Titik akhirnya adalah jika pada dasar tabung tidak lagi terdapat endapan penafsiran hasil : kemampuan redispersi baik bila suspensi telah terdispersi

sempurna dengan pengocokan tangan maksimum 30 detik stabilitas emulsi prinsip tujuan metode : penetapan stabilitas sediaan emulsi : mengetahui stabilitas sediaan emulsi : sediaan yang sudah membentuk sedimen di kocok dengan tangan, dilihat apakah emulsi pecah atau tetap stabil

penafsiran hasil

: stabilitas emulsi baik bila emulsi tidak pecah dan tidak terjadi

ketidaksatbilan emulsi

10. Tabel Data Pengamatan

11. a. Tabel Data Pengamatan Proses Pembuatan Sediaan dengan Pembuatan Korpus Emulsi Cara Basah No 1 Perlakuan Pengamatan

Kalibrasi botol kaca bening sebanyak 5 Semua botol telah terkalibrasi dengan buah dengan volume 61,2 ml volume 61,2 ml Beaker glass telah terkalibrasi dengan volume 306 ml

Kalibrasi beaker glass 306 ml

Ambil aqua sebanyak 350 ml Didapatkan aqua bebas CO2 sebanyak 500 masukkan dalam beaker glass ml panaskan di atas penangas air hingga suhu 800 C segera tutup beaker glass dengan penutup terbentuk aqua bebas CO2

Timbang VCO sebanyak 100,98 ml Parafin cair sebanyak 100,98 ml dalam gelas ukur Cairan kental berwarna bening

Timbang CMC Na sebanyak 3,366 PGA sebanyak 3,366 gram gram dengan timbangan digital Serbuk hablur putih

Ukur Aqua bebas CO2 (2) sebanyak Aqua bebas CO2 (2) sebanyak 63,75 ml 63,75 ml dalam gelas ukur dalam gelas ukur sebanyak Propylparaben banyak 0,06732 gram timbangan Serbuk berwarna putih

Timbang 0,06732 digital

propylparaben gram dengan

Timbang BHT sebanyak 0,3366 gram BHT sebanyak 0,3366 gram dengan dengan timbangan digital gerus ad timbangan digital halus Serbuk berwarna putih Ambil FD&C Green q.s larutkan Cairan FD&C Green berwarna hijau dalam air pada tabung reaksi

10

Sebagian/ setengah bagian dari (6) CMC Na dan air tercampur dengan merata dituangkan ke dalam mortar (5) terbentuk cairan kental berwarna putih disebarkan dalam mortar yang telah diisi setengah bagian dari (6)

sebelumnya aduk terus secara cepat ad terbasahi sempurna 11 Tambahkan (4) sedikit demi sedikit ke VCO terlarut pada campuran no 10 sampai (10) aduk terus secara cepat ad homogen homogen Terbentuk larutan berwarna putih dan homogen 12 Tambahkan (8) sedikit demi sedikit ke BHT terlarut homogen pada larutan no 11 (11) aduk terus secara cepat ad Terbentuk larutan berwarna putih dan homogen 13 Tambahkan sisa bagian (6) homogen sedikit Terbentuk larutan berwarna putih dan

demi sedikit ke (12) aduk terus homogen secara cepat ad homogen 14 Tambahkan (7) sedikit demi sedikit ke Propylparaben terlarut pada no 13 (13) aduk terus secara cepat ad Terbentuk larutan berwarna putih dan homogen 15 homogen

Tambahkan (9) sedikit demi sedikit q.s Larutan berwarna hijau setelah dilakukan ke (14) aduk terus secara cepat ad penambahan FD&C Green homogen

16

(15) dituang ke dalam beaker glass (2) Larutan berwarna hijau muda dengan ditambahkan (3) ad 306 ml aduk volume 306 ml dan homogen terus secara cepat ad larut ad homogen dengan gelas pengaduk

17

(16) dituang perlahan ke masing- Larutan 16 terbagi merata pada 5 botol masing botol (1) ad batas kalibrasi dengan volume masing-masing 100 ml (17) ditutup dengan tutup botol Botol telah berisi emulsi dan telah diberi etiket dimasukkan ke dalam beretiket kotak kemasan diberi brosur Dan sudah berada di dalam kemasan Hasil evaluasi pada Tabel Hasil Evaluasi

18

19

Dilakukan evaluasi akhir sediaan VCO

Proses Pembuatan Sediaan dengan Pembuatan Korpus Emulsi Cara Kering No 1 Perlakuan Pengamatan

Kalibrasi botol kaca bening sebanyak Didapatkan botol dengan penanda volume 5 buah dengan volume 61,2 ml 61,2 ml Didapatkan beaker glass dengan penanda volume 306 ml 800 C dan

Kalibrasi beaker glass 306 ml

Ambil aqua sebanyak 350 ml Didapat air dengan suhu masukkan dalam beaker glass terbentuk aqua bebas CO2 panaskan di atas penangas air hingga suhu 800 C segera tutup beaker glass dengan penutup

Timbang VCO sebanyak 100,98 ml VCO dengan volume 100,98 ml, berupa dalam gelas ukur cairan kental berwarna agak keruh

Timbang CMC Na sebanyak 3,366 CMC Na dengan massa 3,366 gram, berupa gram dengan timbangan digital serbuk berwarna putih

Ukur Aqua bebas CO2 (2) sebanyak Aqua bebas CO2 dengan volume 63,75 ml 63,75 ml dalam gelas ukur (air panas) sebanyak Propylparaben dengan massa 0,06732 gram timbangan

Timbang 0,06732 digital

Propylparaben gram dengan

Timbang BHT sebanyak 0,3366 gram BHT dengan massa 0,3366 gram, BHT agak dengan timbangan digital gerus ad susah larut dalam air (sudah dilakukan halus dilarutkan dalam air dengan pengadukan maksimal) Green berwarna hijau, ketika Ambil FD&C Green q.s larutkan FD&C dalam air pada tabung reaksi

dilarutkan ke air dan berbau khas

10

Masukkan (4), (5), (6) ke dalam Didapatkan larutan kental, berwarna putih beaker glass aduk dengan kecepatan tertinggi dengan menggunakan stirrer sampai terbentuk massa kental

11

Tambahkan air sedikit demi sedikit, Terbentuk larutan kental yang semakin lama dan tambahkan homogen. (7), (8) aduk ad membentuk massa yang lebih kental. Dengan pengadukan yang intens, sambil menghancurkan bentuk massa kentalnya didapatkan larutan emulsi kental berwarna putih seperti susu

12

Tambahkan sisa air ad 306 ml.

Penambahan air sangat membantu dalam penghancuran massa kentalnya sehingga terbentuk suatu emulsi yang kekentalannya cukup dan bagus

13

Tambahkan FD&C Green qs aduk Dengan penambahan FD&C Green, emulsi ad homogen. terlihat sempurna sebagai emollient.

14

Masukkan dalam kemasan, beri etiket, VCO dengan warna hijau muda, telah lakukan evaluasi terbentuk jadi lengkap dengan etiketnya Hasil lengkap ada di hasil evaluasi

15

Evaluasi
12. Hasil Evaluasi

No

Waktu Pengamatan

Jenis Evaluasi yang Dilakukan

Hasil Evaluasi

Cara Kering

Cara Basah

Evaluasi ke-1 Kamis, 19 April 2012

Organoleptik

Rasa: manis Bau: kelapa Warna: hijau muda

Rasa: manis Bau: kelapa Warna: hijau muda

Kejernihan

Jernih tidak timbul Jernih tidak timbul endapan/butiran endapan/butiran

Bobot Jenis

Pikno kosong=15,720 Pikno kosong=15,720 g Pikno+air=40,785 g Pikno+sampel= 40,26 g Sehingga, sediaan= 1,02 g Pikno+air=40,785 g Pikno+sampel= 40,28 g BJ Sehingga, sediaan= 1,021 8 Tipe emulsi o/w Volume awal= 12 ml BJ

pH Tipe emulsi Tinggi Sedimentasi Volume terpindahkan

7 Tipe emulsi o/w Volume awal= 16 ml

Botol 1=51 ml Botol 2=52 ml Botol 3=51 ml Botol 4=51 ml Botol 5=52 ml Jumlah=257 ml Rata-rata volume terpindahkan botol = 51,4 ml

Botol 1=56 ml Botol 2=54 ml Botol 3=55 ml Botol 4=56 ml Botol 5=55 ml Jumlah=276 ml Rata-rata volume terpindahkan botol = 55,2 ml

Waktu redispersi Stabilitas Emulsi 2 Evaluasi ke-2 Kamis, 26 April 2012 Organoleptik

10 detik

8 detik

Stabil

Stabil

Rasa: hambar Bau: kelapa Warna: hijau muda

Rasa: hambar Bau: kelapa Warna: hijau muda

Kejernihan

timbul

timbul

endapan/butiran. Fase endapan/butiran. Fase minyak terpisah pH Tipe emulsi Tinggi Sedimentasi 7 Tipe emulsi o/w F=Vu:Vo =4:16 =0,25 dan air minyak terpisah 6 Tipe emulsi o/w F=Vu:Vo =1,5:12 =0,125 dan air

Waktu redispersi Stabilitas Emulsi 3 Evaluasi ke-3 Jumat, 4 Mei 2012 Organoleptik

8 detik

10 detik

Stabil

Stabil

Rasa: hambar Bau: tidak enak Warna: hijau

Rasa: hambar Bau: sangat tidak enak Warna: hijau

Kejernihan

timbul

timbul

endapan/butiran. Fase endapan/butiran. Fase minyak terpisah pH Tipe emulsi Tinggi Sedimentasi 6 Tipe emulsi o/w F=Vu:Vo F=7:16=0,4375 dan air minyak terpisah 6 Tipe emulsi o/w F=Vu:Vo F=5:12=0,4166 dan air

Waktu redispersi Stabilitas Emulsi

10 detik

8 detik

Stabil

Stabil

13. Pembahasan 13.1. Analisa Prosedur

Pembahasan Pembuatan Sediaan dengan Pembuatan Korpus Emulsi Cara Basah

Analisa Prosedur selama Proses Pembuatan Sediaan Setelah menyelesaikan praktikum formulasi sediaan emulsi, praktikan dapat membahas rangkaian analisa proses sediaan emulsi yang dibuat dengan metode pembuatan korpus emulsi cara basah. Pertama semua alat-alat yang digunakan dicuci terlebih dahulu agar tidak ada pengotor yang dapat mempengaruhi hasil sediaan. Kemudian botol-botol yang telah disiapkam dicuci dan dikalibrasi dengan volume 61,2 ml tiap botolnya. Juga kalibrasi beaker glass dengan volume 306 ml untuk memudahkan penambahan air pada akhir

pembuatan. Tidak lupa untuk membuat air yang bebas CO2 agar air yang digunakan sudah bebas bakteri karena sebelumnya digunakan air yang langsung diambil dari kran. Kedua dilakukan pengambilan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat sediaan. VCO 100,98 ml diambil dengan memakai gelas ukur karena sediaannya berupa cairan dan

aquades bebas CO2 diukur dengan gelas ukur sebanyak 67,5. CMC Na ditimbang 25,245 mg, Propylparaben ditimbang 0,06732 g, dan BHT ditimbang 0,3366 g. Bahan-bahan tersebut ditimbang memakai alat timbangan digital agar hasil yang didapatkan persis seperti yang diinginkan. Untuk FD&C blue karena yang dibutuhkan hanya q.s dapat diambil dengan pipet tetes sampai rasa yang diinginkan sudah sesuai. Ketiga dilakukan proses pembuatan sediaan. Yang dilakukan pertama adalah menuang air bebas CO2 sebanyak 67,5 ml ke dalam mortar kemudian ditambahkan CMC Na secara merata di permukaan mortar, saat penambahan CMC Na harus dilakukan pengadukan dengan cepat hingga korpus emulsi terbentuk. Dilakukan pengadukan cepat agar CMC Na tidak menjadi keras dan lengket. Ditambahkan VCO sedikit demi sedikit sampai habis dan diaduk cepat. Setelah pengadukan selesai dan telah homogen ditambahkan BHT yang dilarutkan terlebih dahulu dengan aqua bebas CO2 qs. Setelah ditimbang ke dalam mortar yang berisi CMC Na dan air. Saat penambahan pun harus dilakukan pengadukan dengan cepat sampai homogen mencegah terjadinya penggumpalan. Kemudian sisa aqua dan methylparaben dimasukkan ke dalam mortar dan diaduk cepat sampai homogen. Setelah sediaan siap dipindahkan ke dalam beaker glass yang telah dikalibrasi dengan volume 306 ml. Tambahkan FD&C blue secukupnya dan diaduk hingga homogen. Kemudian ditambahkan air sampai batas kalibrasi untuk mendapatkan sediaan untuk 5 botol. Sediaan diaduk sampai homogen dan setelah homogen sediaan dimasukkan ke dalam botol yang telah dikalibrasi dengan volume 306 ml dan hasilnya tepat 61,2 ml tiap botol. Jika semua sudah berada di dalam botol, maka botol diberi etiket, dimasukkan kemasan dan diberi brosur. Terakhir dilakukan evaluasi sediaan akhir untuk mengetahui bagaimana sediaan telah selesai dibuat.

Pembahasan Proses Pembuatan Sediaan dengan Pembuatan Korpus Emulsi Cara Kering Analisa Prosedur selama Proses Pembuatan Sediaan Setelah menyelesaikan praktikum formulasi sediaan emulsi, praktikan dapat membahas rangkaian analisa proses sediaan emulsi yang dibuat dengan metode pembuatan korpus emulsi cara kering. Setelah menyelesaikan praktikum formulasi sediaan emulsi, praktikan dapat membahas rangkaian analisa proses sediaan emulsi yang dibuat dengan metode pembuatan korpus emulsi cara kering. Terdapat 4 tahap yaitu, tahap preparasi dan kalibrasi,

tahap penimbangan dan pengukuran, tahap pencampuran dan tahap pengemasan dan evaluasi. Pada tahap pertama dilakukan kalibrasi botol 61,2 ml terhadap setiap botol, dalam praktikum ini botol yang digunakan adalah 5 botol, hal ini dilakukan agar emulsi yang di dapat dalam botol bervolume tepat yaitu 61,2 ml. kemudian dilakukan kalibrasi pada beaker glass 1000 ml, dikalibrasi dengan volume 306 ml, dilakukan untuk mengukur secara langsung emulsi yang diperlukan untuk 5 botol, dilebihkan 10 ml tujuannya agar volume tiap botol dapat dicapai meskipun ada sejumlah emulsi yang tertinggal pada masa pembuatan. Selanjutnya dan masih dalam tahap preparasi yaitu membuat Aqua bebas CO2 ,pembuatan air ini dapat dilakukan dengan mendidihkan aqua sebanyak 500 ml dalam beaker glass di atas penangas air hingga suhu 800 C, aqua bebas CO2 digunakan sebagai pelarut, mengapa harus bebas CO2, agar larutan bebas bakteri dan mikroba. Kemudian adalah tahap penimbangan dan pengukuran. Penimbangan dilakukan pada bahan CMC Na sebanyak 3,366 gram, propylparaben 0,06732 gram, BHT sebanyak 0,3366 gram, penimbangan dilakukan pada timbangan digital sehinga didapatkan jumlah massa bahan yang tepat, sebelum timbangan digunakan,timbangan di lap, agar tidak ada kotoran yang mempengaruhi penimbangan, kemudian pada timmbangan di taruh perkamen sebagai wadah bahan, selanjutnya timbangan di re-zero, agar penimbangan tepat dan cepat tidak perlu di kurangkan lagi antara massa perkamen dan massa total, setelah di dapat diganti dengan penimbangan bahan lain dengan prosedur yang sama. Khusus untuk BHT yang bentuk bahannya adalah berbentuk bongkahan kasar, maka BHT perlu di gerus kemudian dilarutkan dalam aqua bebas CO2. BHT agak sukar larut dalam air, sehingga diperlukan pengadukan yang ekstra maksimal. Pada fase pengukuran, pengukuran dilakukan pada VCO sebanyak 100,98 ml dan Aqua bebas CO2 sebanyak 63,75 ml, pengukuran dilakukan dengan menggunakan gelas ukur dan dilihat miniskus bawahnya pada index gelas ukur. Kemudian tinggal satu lagi bahan yang tidak perlu diukur dan ditimbang yaitu pewarna FD&C blue, diambil secukupnya dan dilarutkan dalam air. Kemudian masuk ke dalam tahap pencampuran. Pencampuran pertama adalah melarutkan bahan aktif, emulgator dan air (VCO sebanyak 100,98 ml, CMC Na sebanyak 3,366 gram, Aqua bebas CO2 sebanyak 63,75 ml) ke dalam beaker glass, kemudian diaduk menggunakan stirrer dengan kecepatan tetinggi, hal ini agar di dapat suatu emulsi yang campur dengan sempurna. Di sela-sela masa tersebut di tambahkan sedikit-demi sedikit air agar pelarutannya

semakin sempurna, kemudian ditambahkan antimikroba dan antioksidannya (Propylparaben sebanyak 0,06732 gram dan BHT sebanyak 0,3366 gram), tetap dalam keadaan pengadukan dengan stirrer, setelah itu tambahkan air ad 306 ml, dengan menyesuaikan pada label tanda kalibrasi di awal. Terakhir diberi pewarna FD&C Blue sampai berubah warna menjadi biru. Dan kemudian di masukkan ke dalam masing-masing botol yang sudah di kalibrasi di awal. Tahap selanjutnya adalah pengemasan dan evaluasi, yaitu dengan menempelkan etiket pada 5 botol dan memasukkannya dalam wadah. Kemudian 4 botol yang lain digunakan untuk evaluasi, prosedur evaluasi dan analisa hasil evaluasi akan dijelaskan di bagian selanjutnya.

13.2. Analisa Hasil

Analisa Hasil Cara Kering Setelah menyelesaikan praktikum formulasi sediaan emulsi, praktikan dapat membahas hasil dari sediaan emulsi yang dibuat dengan metode pembuatan korpus emulsi cara kering. Tipe emulsi yang telah dibuat dari praktikum ini adalah emulsi tipe O/W menggunakan zat aktif virgin coconut oil yang merupakan golongan minyak. Pada praktikum formulasi sediaan solid ini, praktikan memutuskan untuk membuat sediaan sediaan oral, walaupun virgin coconut oil sebenarnya dapat juga dijadikan sediaan topikal. Alasan pembuatan emulsi virgin coconut oil dengan tipe O/W sebagai sediaan oral karena kandungan asam laurat yang ada pada virgin coconut oil ini mudah dioksidasi serta dapat menarik molekul berat untuk turut dibakar menjadi tenaga. Mekanisme ini memungkinkan tubuh untuk membersihkan pembuluh darah dari plakplak, turut membakar kolesterol dan lemak-lemak tubuh yang berlebihan. Dengan pemakaian rutin jangka panjang akan menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kolesterol, mengurangi stroke dan seranganjantung. Dan juga bisa untuk sediaan topikal karena sediaan tersebut adalah karena sediaan merupakan salah satu kosmetik yang digunakan sebagai emollient kulit dimana penggunaannya tidak membutuhkan waktu lama untuk melekat pada kulit, selain itu untuk memberikan kenyamanan kepada konsumen dan juga bisa untuk menghilangkan jerawat karena efek antibakteri dari virgin coconut oil, karena sediaan yang berbasis minyak jika dipakai pada kulit akan timbul rasa tidak nyaman oleh karena itu dipilih tipe emulsi O/W .

Dari hasil uji organoleptik hari pertama tersebut didapatkan sediaan mempunyai rasa manis, bau kelapa dan berwarna hijau. Bau kelapa didapatkan dari virgin coconut oil tersebut, sedangkan warna hijau didapatkan dari FD&C green. Lalu dari segi rasa atau tekstur di tangan, jika dioleskan ke kulit sediaan mempunyai rasa dingin dan encer. Pada evaluasi minggu ke-2, emulsi tersebut memisah menjadi 3 bagian menjadi 3 komponen cair, pada lapisan paling atas berwarna putih bening, lapisan tengah putih dan lapisan bawah hijau bening. Pada lapisan tengah terdapat buih berwarna putih yang menandakan adanya creaming karena fase terdispersi yang lebih kecil dibanding fase pendispersi. Sedangkan adanya pemisahan pada lapisan ke-3 yaitu putih bening dengan lapisan ke-1 mengindikasikan bahwa emulsi tersebut mengalami demulsifikasi. Selama proses creaming tidak terjadi pemecahan emulsi, tetapi bila terus berlanjut akan terjadi penggabungan partikel-partikel menjadi lebih besar yang akan mengawali terjadinya demulsifikasi. Hal ini berhubungan dengan hokum Stokes yang menyatakan bahwa laju pemisahan berbanding lurus dengan jari-jari partikel dan perbedaan densitas antara kedua fasa, namun berbanding terbalik dengan viskositas larutan. Penyebab terjadinya demulsifikasi ini, bisa disebabkan oleh karena pengaruh eksternal seperti suhu maupun cahaya ataupun karena proses pengadukan yang kurang sempurna dan kesalahan praktikan dalam menimbang bahan-bahan yang digunakan atau karena ketidaktepatan komposisi dari sediaan. Kemungkinan karena botol yang digunakan adalah botol bening sehingga cahaya yang masuk ke sediaan cukup banyak. Demulsifikasi ini termasuk ke tahap flokulasi karena ketika dilakukan pengocokan bisa terdispersi secara sempurna. Selanjutnya jika ditinjau dari segi rasa, pada minggu kedua waktu pengamatan rasa manis emulsi tersebut sudah hilang bau kelapa masih, hal ini bisa dikarenakan memang sejak awal rasa manis hanya didapat dari virgin coconut oil saja tanpa adanya tambahan zat pemanis sehingga rasa manis cepat hilang.

Pada minggu ke-3 rasa sudah tidak enak dan adanya bau tidak enak pada emulsi. Hal ini terjadi mungkin karena adanya inkompatibel methylparaben dan virgin coconut oil (HPE hal 466). Sehingga methylparaben tidak bekerja maksimal. Terlihat juga emulsi tersebut memisah menjadi 3 bagian menjadi 3 komponen cair, pada lapisan paling atas berwarna putih bening, lapisan tengah putih dan lapisan bawah hijau bening. Hal ini mengindikasikan bahwa emulsi tersebut mengalami demulsifikasi sama seperti minggu ke-2.

Bobot jenis yang didapat adalah 0,98 g/L. Dapat dilihat bahwa berat jenisnya lebih kecil dari air sebagai pendispersinya (BJ air = 1 g/L). Hal ini dapat menunjukkan kemampuan emulsi untuk mempertahankan stabilitasnya, karena BJ fase terdispersi lebih kecil dari fase pendispersi sehingga menyebabkan emulsi memisah dan membentuk creaming dengan posisi fase terdispersi diatas karena BJ fase terdispersi lebih kecil dari fase pendispersi. Jika fase terdispersi kurang rapat dibandingkan dengan fase kontinyu, kecepatan sedimentasi menjadi negatif, yakni, dihasilkannya creaming yang mengarah ke atas (Martin dkk, 1990). Hasil pengujian waktu redispersi menunjukkan emulsi dapat teredispersi setelah dikocok rata rata selama 10 detik. Hal ini menunjukkan emulsi sudah baik karena emulsi yang baik teredispersi setelah dikocok dalam waktu kurang dari 30 detik. Hasil pengujian pH menunjukkan angka 7 pada minggu ke-1 dan ke-2. pH merupakan komponen yang sangat penting bagi sediaan topikal, karena pH yang tidak sesuai dengan pH kulit akan menimbulkan iritasi. Oleh karena itu dalam sediaan ini dibutuhkan pendapar untuk mendapar pH sediaan agar tidak terlalu asam dan mengiritasi kulit. Berdasarkan Conditioning Agents for Hair and Skin karya Randy Schueller, pH normal kulit sedikit asam yakni berkisar antara 4-6. Tujuan dari pH yang sedikit asam ini adalah sebagai lini pertama dalam pertahanan tubuh terhadap bakteri. Sediaan krim ini memiliki pH 5 yang artinya berada dalam rentang normal pH kulit, sehingga sediaan ini tidak iritatif terhadap kulit, dan sangat layak digunakan (Schueller, 1999). Sementara pH yang dihasilkan tidak sesuai dengan rentang pH untuk sediaan topical. Sehingga, diperlukan dapar fosfat untuk menurunkan pH tersebut dan juga buffer pH untuk mencegah pH tersebut tetap sesuai dengan rentang kulit yaitu 6. Pada minggu ke-3 pH turun menjadi 6. pH emulsi turun karena adanya kontaminasi mikroba dari alat-alat praktikum yang kurang bersih ataupun dari proses pengadukan. Kontaminasi emulsi oleh mikroorganisme dapat mempengaruhi sifat fisikokimia sediaan, seperti perubahan warna dan bau, perubahan pH. Hasil uji penentuan tipe emulsi adalah bahwa tipe emulsinya adalah O/W. Hal tersebut berdasarkan hasil pengujian minggu pertama hingga minggu keempat pengujian, hasilnya menunjukkan emulsi tersebut adalah O/W dimana pada pengujian menggunakan metode zat warna metilen blue dihasilkan warna yang merata, menunjukkan tipe emulsinya minyak dalam air.

Hasil uji tinggi sedimentasi sediaan emulsi pada evaluasi kedua dan evaluasi ketiga adalah : F2=0,25 dan F3=0,4375. Suatu emulsi yang baik akan menunjukan nilai F=1 karena menunjukkan flocculation equilibrium, yaitu tidak mengalami flokulasi. Pada sediaan emulsi ini, nilai F<1, yang artinya emulsi tersebut tidak terjadi flokulasi.dan ketika digambar dengan kurva dihasilkan garis yang lurus, maka dapat dikatakan sediaan emulsi tersebut cukup baik. Uji volume terpindahkan pada sediaan ini berturut-turut adalah botol 1=51 ml, botol 2=52 ml, botol 3=51 ml, botol 4=51 ml, botol 5=52 ml, sehingga jumlah volume =205,7 ml dan rata-rata volume terpindahkan botol =51,4 ml, dapat dikatakan bahwa sediaan ini tidak lolos uji volume terpindahkan, karena volume rata-rata sediaan kurang dari 100% dan volume kurang dari 95% dari etiket. Hal ini dikarenakan banyak sediaan yang menempel pada botol dan tidak bisa mengalir semua sehingga tidak didapatkan volume 100%.

Analisa Hasil Cara Basah Setelah menyelesaikan praktikum formulasi sediaan emulsi, praktikan dapat membahas hasil dari sediaan emulsi yang dibuat dengan metode pembuatan korpus emulsi cara basah. Tipe emulsi yang telah dibuat dari praktikum ini adalah emulsi tipe O/W menggunakan zat aktif virgin coconut oil yang merupakan golongan minyak. Pada praktikum formulasi

sediaan solid ini, praktikan memutuskan untuk membuat sediaan sediaan oral, walaupun virgin coconut oil sebenarnya dapat juga dijadikan sediaan topikal. Alasan pembuatan emulsi virgin coconut oil dengan tipe O/W sebagai sediaan oral karena kandungan asam laurat yang ada pada virgin coconut oil ini mudah dioksidasi serta dapat menarik molekul berat untuk turut dibakar menjadi tenaga. Mekanisme ini memungkinkan tubuh untuk membersihkan pembuluh darah dari plakplak, turut membakar kolesterol dan lemak-lemak tubuh yang berlebihan. Dengan pemakaian rutin jangka panjang akan menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kolesterol, mengurangi stroke dan seranganjantung. Dan juga bisa untuk sediaan topikal karena sediaan tersebut adalah karena sediaan merupakan salah satu kosmetik yang digunakan sebagai emollient kulit dimana penggunaannya tidak membutuhkan waktu lama untuk melekat pada kulit, selain itu untuk memberikan kenyamanan kepada konsumen dan juga bisa untuk menghilangkan jerawat karena efek antibakteri dari virgin coconut oil, karena sediaan yang berbasis minyak jika dipakai pada kulit akan timbul rasa tidak nyaman oleh karena itu dipilih tipe emulsi O/W .

Dari hasil uji organoleptik hari pertama tersebut didapatkan sediaan mempunyai rasa manis, bau kelapa dan berwarna hijau. Bau kelapa didapatkan dari virgin coconut oil tersebut, sedangkan warna hijau didapatkan dari FD&C green. Lalu dari segi rasa atau tekstur di tangan, jika dioleskan ke kulit sediaan mempunyai rasa dingin dan encer. Pada evaluasi minggu ke-2, emulsi tersebut memisah menjadi 3 bagian menjadi 3 komponen cair, pada lapisan paling atas berwarna putih bening, lapisan tengah putih dan lapisan bawah hijau bening. Pada lapisan tengah terdapat buih berwarna putih yang menandakan adanya creaming karena fase terdispersi yang lebih kecil dibanding fase pendispersi. Sedangkan adanya pemisahan pada lapisan ke-3 yaitu putih bening dengan lapisan ke-1 mengindikasikan bahwa emulsi tersebut mengalami demulsifikasi. Selama proses creaming tidak terjadi pemecahan emulsi, tetapi bila terus berlanjut akan terjadi penggabungan partikel-partikel menjadi lebih besar yang akan mengawali terjadinya demulsifikasi. Hal ini berhubungan dengan hokum Stokes yang menyatakan bahwa laju pemisahan berbanding lurus dengan jari-jari partikel dan perbedaan densitas antara kedua fasa, namun berbanding terbalik dengan viskositas larutan. Penyebab terjadinya demulsifikasi ini, bisa disebabkan oleh karena pengaruh eksternal seperti suhu maupun cahaya ataupun karena proses pengadukan yang kurang sempurna dan kesalahan praktikan dalam menimbang bahan-bahan yang digunakan atau karena ketidaktepatan komposisi dari sediaan. Kemungkinan karena botol yang digunakan adalah botol bening sehingga cahaya yang masuk ke sediaan cukup banyak. Demulsifikasi ini termasuk flokulasi karena ketika dilakukan pengocokan bisa terdispersi secara sempurna. Selanjutnya jika ditinjau dari segi rasa, pada minggu kedua waktu pengamatan rasa manis emulsi tersebut sudah hilang bau kelapa masih, hal ini bisa dikarenakan memang sejak awal rasa manis hanya didapat dari virgin coconut oil saja tanpa adanya tambahan zat pemanis sehingga rasa manis cepat hilang.

Pada minggu ke-3 rasa sudah tidak enak dan adanya bau tidak enak pada emulsi. Hal ini terjadi mungkin karena adanya inkompatibel methylparaben dan virgin coconut oil (HPE hal 466). Sehingga methylparaben tidak bekerja maksimal. Terlihat juga emulsi tersebut memisah menjadi 3 bagian menjadi 3 komponen cair, pada lapisan paling atas berwarna putih

bening, lapisan tengah putih dan lapisan bawah hijau bening. Hal ini mengindikasikan bahwa emulsi tersebut mengalami demulsifikasi sama seperti minggu ke-2. Bobot jenis yang didapat adalah 0,987 g/L. Dapat dilihat bahwa berat jenisnya lebih besar dari air sebagai pendispersinya (BJ air = 1 g/L). Hal ini dapat menunjukkan kemampuan emulsi untuk mempertahankan stabilitasnya, karena BJ fase terdispersi lebih kecil dari fase pendispersi sehingga menyebabkan emulsi memisah dan membentuk creaming dengan posisi fase terdispersi di atas karena BJ fase terdispersi lebih kecil dari fase pendispersi (Martin dkk, 1990).

Hasil pengujian waktu redispersi menunjukkan emulsi dapat teredispersi setelah dikocok rata rata selama 8 detik. Hal ini menunjukkan emulsi sudah baik karena emulsi yang baik teredispersi setelah dikocok dalam waktu kurang dari 30 detik. Hasil pengujian pH pada minggu pertama menunjukkan nilai 8. pH merupakan komponen yang sangat penting bagi sediaan topikal, karena pH yang tidak sesuai dengan pH kulit akan menimbulkan iritasi. Oleh karena itu, dalam sediaan ini dibutuhkan pendapar untuk mendapar pH sediaan agar tidak terlalu asam dan mengiritasi kulit. Berdasarkan Conditioning Agents for Hair and Skin karya Randy Schueller, pH normal kulit sedikit asam yakni berkisar antara 4-6. Tujuan dari pH yang sedikit asam ini adalah sebagai lini pertama dalam pertahanan tubuh terhadap bakteri. Sediaan krim ini memiliki pH 5 yang artinya berada dalam rentang normal pH kulit, sehingga sediaan ini tidak iritatif terhadap kulit, dan sangat layak digunakan (Schueller, 1999). Sementara pH yang dihasilkan tidak sesuai dengan rentang pH untuk sediaan topical. Sehingga, diperlukan dapar fosfat untuk menurunkan pH tersebut. Pada minggu 2 dan 3 pH turun menjadi 6. pH emulsi turun karena adanya kontaminasi mikroba dari alat-alat praktikum yang kurang bersih ataupun dari proses pengadukan.

Kontaminasi emulsi oleh mikroorganisme dapat mempengaruhi sifat fisikokimia sediaan, seperti perubahan warna dan bau, perubahan pH. Hasil uji penentuan tipe emulsi adalah bahwa tipe emulsinya adalah O/W. Hal tersebut berdasarkan hasil pengujian minggu pertama hingga minggu keempat pengujian, hasilnya menunjukkan emulsi tersebut adalah O/W dimana pada pengujian menggunakan metode zat

warna metilen blue dihasilkan warna yang merata, menunjukkan tipe emulsinya minyak dalam air. Hasil uji tinggi sedimentasi sediaan emulsi pada evaluasi kedua dan evaluasi ketiga adalah : F2=0,125 dan F3=0,4166. Suatu emulsi yang baik akan menunjukan nilai F=1 karena menunjukkan flocculation equilibrium, yaitu tidak mengalami flokulasi. Pada sediaan emulsi ini, nilai F<1, yang artinya emulsi tersebut tidak terjadi flokulasi.dan ketika digambar dengan kurva dihasilkan garis yang lurus, maka dapat dikatakan sediaan emulsi tersebut cukup baik. Uji volume terpindahkan pada sediaan ini berturut-turut adalah botol 1=56 ml, botol 2=54 ml, botol 3=55 ml, botol 4=56 ml, botol 5=56 ml, sehingga jumlah volume =276 ml dan ratarata volume terpindahkan botol =55,2 ml, dapat dikatakan bahwa sediaan ini tidak lolos uji volume terpindahkan, karena volume rata-rata sediaan kurang dari 100% dan volume kurang dari 95% dari etiket. Hal ini dikarenakan banyak sediaan yang menempel pada botol dan tidak bisa mengalir semua sehingga tidak didapatkan volume 100%.

14. Kesimpulan

Setelah menyelesaikan praktikum formulasi sediaan emulsi, praktikan dapat menyimpulkan dari sediaan emulsi yang dibuat dengan metode pembuatan korpus emulsi cara basah maupun kering bahwa emulsi VCO 30% dengan VCO sebagai zat aktif. Methylparaben 0,18% dan propylparaben 0,02% sebagai anti mikroba, CMC Na 1% sebagai emulgator sediaan emulsi. BHT (Butylated hydroxyl Toluen) 0,1% sebagai anti oksidan, dan FD&C Green sebagai pewarna. Evaluasi yang dilakukan pada sediaan menunjukkan hasil baik, yang artinya sediaan belum lolos uji evaluasi, diantaranya Organoleptik, memiliki belum memiliki kestabilan karena baunya berubah. pH menurun dari minggu ke minggu, evaluasi volume sedimentasi, evaluasi ini menunjukkan hasil sediaan longgar. Hanya Waktu redispersi yang lulus, waktu redispersi yang singkat, tipe emulsi yang tetap sesuai yang diinginkan yakni o/w. Dari sediaan yang dihasilkan dan evaluasi yang dilakukan, formulasi sediaan emulsi yang dipilih kurang tepat. Ada beberapa komposisi yang perlu dirubah.

15. Daftar Pustaka

Anonym. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV, Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonym. 2009 . British Pharmacopoeia. London : the department of health, social services and public safety Anonym. 2004. USP XXVII. USA: The United States Pharmacopeial Convention Martin, Alfred, Farmasi Fisik, Jakarta : UI-Press, 1993 Rowe, R.C., 2006, Handbook of Pharmaceutical Excipients Monograph, 5th edition . London:RPS Publishing Schueller, Randy, et all. 1999. Conditioning Agents for Hair and Skin. New York: Marcel Dekker Inc