Anda di halaman 1dari 72

PERTAMBANGAN DAN ENERGI

BAB XIV PERTAMBANGAN DAN ENERGI A. PENDAHULUAN Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 mengamanatkan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Amanat UUD 1945 ini merupakan landasan dan hakikat pembangunan pertambangan dan energi untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam yang dimiliki untuk menjadi kekuatan nyata dalam mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan. Dengan berlandaskan hasil pembangunan yang telah dicapai pada PJP I, maka dalam Repelita VI kekayaan alam yang potensial berupa barang tambang, minyak dan gas bumi, serta mineral lainnya yang terdapat di darat dan di dasar laut nusantara, makin ditingkatkan eksplorasi, penggalian dan pendayagunaannya untuk menunjang pembangunan dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan dan

XIV/3

kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dengan memanfaatkan teknologi maju. Pembangunan energi dalam Repelita VI diarahkan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan energi yang makin meningkat, baik bagi kehidupan masyarakat maupun bagi kegiatan ekonomi dan pembangunan terutama untuk kebutuhan industri dan jasa yang terus meningkat sejalan dengan tingkat perkembangan pembangunan. Potensi sumber energi nasional, baik yang konvensional maupun yang non-konvensional terus digali dan dikembangkan dengan berpegang pada prinsip menguntungkan secara ekonomis, layak secara teknis, diterima secara sosial budaya dan tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup serta terjangkau oleh daya beli rakyat. Dalam Repelita VI telah terjadi peningkatan produksi dan ekspor sejumlah produk pertambangan yang merupakan komoditas andalan baik sebagai sumber energi primer, bahan baku industri, dan sumber penerimaan pendapatan negara. Kemajuan yang dicapai dalam 3 tahun pertama Repelita VI menunjukkan bahwa dilihat dari laju pertumbuhan produk domestik bruto atas dasar harga konstan 1993, lapangan usaha pertambangan dan penggalian telah tumbuh dari sebesar 5,6 persen pada tahun 1994 menjadi 6,7 persen pada tahun 1995, dan mencapai 5,8 persen pada tahun 1996. Pertumbuhan tersebut terutama dicapai karena pesatnya perkembangan pertambangan non-migas, yang meningkat dari 13,6 persen, naik menjadi 35,3 persen, dan mencapai 16,4 persen dalam periode yang sama. Hal ini disebabkan antara lain oleh karena meningkatnya produksi sejumlah komoditi pertambangan seperti tembaga, emas, batubara, dan mineral logam lainnya serta berbagai bahan galian industri. Dengan demikian, pertumbuhan dan perkembangan di lapangan usaha pertambangan dan penggalian lebih besar dari sasaran Repelita VI yang diperkirakan tumbuh sebesar rata-rata 4,0 persen per tahun.

XIV/4

Penggunaan energi primer terus meningkat sejak tahun terakhir Repelita V hingga tahun ketiga Repelita VI. Apabila pada tahun terakhir Repelita V konsumsi energi primer adalah 426,2 juta setara barel minyak (SBM), maka pada tiga tahun pertama Repelita VI, konsumsi energi primer meningkat dari 476,5 juta SBM menjadi 496,5 juta SBM, dan mencapai 541,2 juta SBM. Peningkatan ini juga disebabkan adanya peningkatan konsumsi energi per kapita dari 2,4 SBM pada tahun terakhir Repelita V menjadi 2,5 SBM pada tahun pertama Repelita VI, dan 2,6 SBM pada tahun kedua, kemudian naik menjadi 2,7 SBM pada tahun ketiga Repelita VI. Laju pertumbuhan penggunaan energi ini lebih tinggi daripada laju pertumbuhan penggunaan energi rata-rata dunia yaitu sekitar 2,5 SBM. Dibandingkan dengan tahun terakhir Repelita V, hasil-hasil yang dapat disumbangkan oleh sektor pertambangan dan energi selama tiga tahun pertama Repelita VI menunjukkan peningkatan. Hal ini tidak terlepas dari meningkatnya kinerja sektor pertambangan dan energi dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang, dalam mewujudkan sasaran-sasaran pembangunan dalam Repelita VI. B. 1. PERTAMBANGAN Sasaran, Kebijaksanaan dan Program Repelita VI

Sasaran pembangunan pertambangan dalam Repelita VI adalah meningkatnya produksi dan diversifikasi hasil tambang untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan sumber energi primer, peningkatan ekspor, dan pemenuhan keperluan masyarakat lainnya; terwujudnya sistem pertambangan yang efisien dan produktif yang didukung oleh kemampuan penguasaan teknologi, kualitas sumber

XIV/5

daya manusia, dan manajemen usaha pertambangan; meningkatnya peran serta masyarakat dalam usaha pertambangan dengan melalui wadah koperasi; tersedianya pelayanan informasi geologi dan sumber daya mineral yang andal, baik untuk eksplorasi minyak, penataan ruang maupun mitigasi bencana alam geologis. Untuk mencapai berbagai sasaran tersebut dikembangkan kebijaksanaan pembangunan pertambangan, yang meliputi pengembangan informasi geologi dan sumber daya mineral sebagai pendukung dasar kegiatan pertambangan; pemantapan penyediaan komoditas mineral dan energi melalui peningkatan produksi, pengolahan, dan diversifikasi hasil tambang; peningkatan peran serta rakyat dan pelestarian fungsi lingkungan hidup dalam pembangunan pertambangan; pengembangan kemampuan sumber daya manusia dan penguasaan teknologi pertambangan guna mendukung peningkatan efisiensi dan produktivitas usaha pertambangan; serta pengembangan sistem pendukung lainnya bagi peningkatan efektivitas pembangunan pertambangan. Untuk melaksanakan kebijaksanaan tersebut, maka dikembangkan berbagai program pembangunan di sektor pertambangan, yang meliputi program pokok dan program penunjang. Program pokok terdiri dari program pengembangan geologi dan sumber daya mineral, program pembangunan pertambangan, dan program pengembangan usaha pertambangan rakyat terpadu. Program penunjang terdiri dari program penelitian dan pengembangan pertambangan; program pendidikan, pelatihan, penyuluhan ketenagakerjaan pertambangan; program pembinaan dan pengelolaan lingkungan hidup; program pengembangan usaha nasional; dan program peningkatan kerjasama internasional.

XIV/6

2.

Pelaksanaan dan Hasil Pembangunan Dalam Tahun Ketiga Repelita VI

Pelaksanaan pembangunan sektor pertambangan sampai dengan tahun ketiga Repelita VI hasilnya secara umum menunjukkan peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian sasaran pembangunan di masing-masing program. a. Program Pokok 1) Program Pengembangan Geologi dan Sumber Daya Mineral Program pengembangan geologi dan sumber daya mineral dilaksanakan melalui beberapa kegiatan pokok yang bertujuan terutama untuk menyediakan data dasar geologi, potensi sumber daya mineral, geologi kelautan, serta informasi geologi tata lingkungan dan mitigasi bencana alam geologis. Perkembangan hasil kegiatan program pengembangan geologi dan sumber daya mineral dari tahun terakhir Repelita V sampai dengan tahun ketiga Repelita VI dapat dilihat pada Tabel XIV-1. a)Geologi Sumber Daya Mineral Pembangunan di bidang geologi telah berhasil menyelesaikan peta geologi bersistem Indonesia dengan skala 1:250.000 yang berjumlah 181 lembar peta atau sebanyak 100 persen pada tahun 1995/96. Peta geologi ini mempunyai aneka ragam kegunaan, antara lain untuk kepentingan eksplorasi sumber daya mineral dan energi, untuk mengetahui potensi air tanah dan daerah rawan bencana alam geologi, serta sangat berguna dalam menyusun rencana pembangunan dan tata ruang. Juga telah dilakukan pemetaan gaya berat yang sangat XIV/7

bermanfaat dalam memperlihatkan struktur geologi di bawah permukaan tanah. Sampai dengan tahun ketiga Repelita VI telah diselesaikan pemetaan gaya berat di luar Pulau Jawa dengan skala 1:250.000 sebanyak 85 lembar peta yang meliputi 47 persen dari seluruh daerah yang harus dipetakan. Selain itu, usaha inventarisasi dan eksplorasi mineral logam dan mineral industri difokuskan pada bahan tambang yang laku dipasaran. Untuk meningkatkan usaha inventarisasi dan eksplorasi, sampai dengan tahun ketiga Repelita VI telah berhasil diselesaikan 46 lembar peta geokimia atau 31 persen dari sasaran Repelita VI dengan skala 1:250.000, peta batubara dan gambut mencapai 56 persen dari 50 lembar yang harus dipetakan, dan pemetaan sumber daya mineral sebesar 39 persen dari rencana 148 lembar peta. Dari hasil pemetaan tersebut telah diperoleh tambahan data dan informasi prakiraan potensi sumber daya mineral yang cukup besar seperti timah, nikel, bauksit, emas, perak, mangan, timah hitam, sulfur, dan seng. Sedangkan untuk bahan galian industri telah diperoleh prakiraan tambahan cadangan batu kapur, dolomit, kaolin, pasir kwarsa, zeolit, granit, dan marmer. Usaha penyediaan sumber daya energi selain minyak dan gas bumi, sehubungan dengan upaya diversifikasi penggunaan energi alternatif terus ditingkatkan. Pada tahun ketiga Repelita VI telah dilakukan penyelidikan potensi panas bumi yang meliputi pemetaan geologi panas bumi di 6 lokasi, serta penyelidikan geofisika dan geokimia panas bumi di 6 lokasi. Dengan demikian dalam tiga tahun pertama Repelita VI secara kumulatif telah selesai dilakukan pemetaan geologi panas bumi di 61 lokasi, penyelidikan geofisika dan geokimia panas bumi di 28 lokasi, serta pemboran uji panas bumi di 5 lokasi. Berdasarkan informasi tersebut dan kompilasi data penyelidikan dan

XIV/8

pemboran yang dilakukan berbagai instansi, diperkirakan cadangan potensi panas bumi di Indonesia sekitar 19.658 MW. b) Geologi Kelautan Kegiatan penyelidikan geologi kelautan, termasuk pemetaan geofisik, mencakup wilayah pantai sampai perairan pantai yang melintasi paparan benua dan menurun sampai bagian laut terdalam dari wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE). Kegiatan pemetaan saat ini masih diprioritaskan di Kawasan Barat Indonesia untuk mengejar pembangunan yang pesat di daerah ini. Karena keterbatasan sarana dan prasarana pendukung, kegiatan pemetaan geologi dasar laut sampai tahun ketiga Repelita VI baru dapat menyelesaikan 106 lembar peta atau sebesar 29 persen dari daerah yang harus dipetakan dengan skala 1:250.000, serta peta geologi kelautan regional skala 1:1.000.000 atau lebih kecil sebanyak 12 peta atau sekitar 6,7 persen dari sasaran. Sementara itu, potensi penemuan hidrokarbon masih cukup besar, karena dari 60 buah cekungan sedimen yang ada, baru 36 buah yang sudah dieksplorasi. Dari cekungan yang sudah dieksplorasi tersebut, ditemukan kandungan hidrokarbon pada 21 buah cekungan, dan yang berproduksi berada pada 15 buah cekungan, dengan melakukan pemboran eksplorasi sebanyak 79 sumur pada tahun 1994, 80 sumur pada tahun 1995, dan 88 sumur pada tahun 1996. Penyelidikan geologi wilayah pantai juga ditingkatkan untuk menunjang pengelolaan pelestarian lingkungan pantai dan lepas pantai yang berkaitan dengan pengembangan wilayah pada pusat pertumbuhan pembangunan, baik regional maupun nasional. Pada tahun ketiga Repelita VI telah diselesaikan pemetaan geologi sistematik wilayah pantai skala 1:100.000 sebanyak 6 peta tersebar di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Jawa Timur. Dengan XIV/9

demikian, sampai saat ini telah dilakukan penyelidikan wilayah pantai di 64 lokasi tersebar di Indonesia yang sangat dibutuhkan dalam perencanaan pembangunan pelabuhan dan bangunan lepas pantai serta pengembangan wisata laut. c) Geologi Tata Lingkungan dan Mitigasi Bencana Alam Geologis Kegiatan geologi tata lingkungan dan mitigasi bencana alam geologis dilakukan melalui kegiatan pemetaan, penyelidikan, dan mitigasi. Dibidang pemetaan hidrogeologi dan air tanah, telah berhasil diselesaikan 82 lembar peta hidrogeologi luar Pulau Jawa dengan skala 1: 250.000 atau sebanyak 55 persen dari seluruh wilayah yang akan dipetakan. Selain itu juga telah dilakukan penyelidikan potensi air tanah pada 111 cekungan dan penyelidikan tahap rinci pada 22 cekungan. Dengan demikian hasil kegiatan tersebut secara berturutturut mencapai 53,1 persen dan 10,3 persen dari sasaran Repelita VI. Rendahnya realisasi penyelidikan tahap rinci pada cekungan tersebut disebabkan oleh mahalnya biaya penyelidikan terutama untuk pemboran air tanah, studi geofisika, dan pemetaan geologi kuarter. Oleh karena itu, sampai saat ini upaya yang dilakukan diprioritaskan pada daerah perkotaan yang krisis air tanah dan untuk daerah-daerah dengan jumlah penduduk yang cukup padat. Penyelidikan dan pemetaan geologi tata lingkungan yang diprioritaskan pada daerah pusat pertumbuhan dan daerah kritis meliputi pemetaan kerentanan gerakan tanah, geologi teknik, dan geologi tata lingkungan. Sampai saat ini telah dilakukan pemetaan geologi teknik dengan skala 1:100.000 sebanyak 15 lembar peta atau 30 persen dari sasaran Repelita VI, dan pemetaan geologi tata lingkungan skala 1:100.000 sebanyak 23 peta atau 25,5 persen dari sasaran yang akan dipetakan.

XIV/10

Sampai dengan tahun ketiga Repelita VI telah terjadi beberapa bencana alam geologis baik besar maupun kecil yang meliputi letusan gunungapi di 7 lokasi, gempa bumi di 10 lokasi, dan 41 bencana tanah longsor serta gelombang pasang di Halmahera yang menelan banyak korban jiwa maupun harta benda. Letusan gunungapi antara lain terjadi di G.Marapi (Sumatera Barat), G.Merapi (Jawa Tengah), dan G.Sangeang Api (P.Sumbawa). Usaha-usaha yang telah dilakukan untuk memberikan peringatan dini terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam geologis tersebut, meliputi pemantauan terhadap gunungapi aktif dan pemetaan geologi daerah rawan bencana. Selain itu, telah disusun prosedur tetap mitigasi bencana alam geologi yang disebabkan oleh gempa bumi, tanah longsor, dan bahaya gunungapi dalam rangka mengantisipasi tingkat aktivitas bencana alam geologis. Kegiatan mitigasi bencana alam geologis yang telah dilaksanakan dengan menyelesaikan pemetaan geologi gunungapi mencapai sebanyak 49 lembar dan pemetaan daerah bahaya gunungapi skala 1:50.000 di 93 gunungapi. Dengan demikian, sampai tahun ketiga Repelita VI secara kumulatif masing-masing pemetaan telah mencapai 37,9 persen dan 72,1 persen dari sasaran. Disamping itu juga dilakukan pemetaan seismik daerah rawan gempa dengan skala 1:250.000 sebanyak 8 peta; pemetaan topografi aliran lahar dengan skala 1:10.000 sebanyak 20 peta; dan pemetaan kerentanan gerakan tanah dengan skala 1:100.000 sebanyak 17 peta. Dalam melakukan mitigasi bencana alam geologis, pada tahun 1996/97 telah dilaksanakan identifikasi pada 2 daerah sesar aktif yaitu di Jayapura dan Parigi (Sulteng), pengamatan secara terus menerus pada 40 gunungapi aktif, dan pemantauan pada 5 lokasi daerah rawan longsor serta penyuluhan di 13 lokasi gunungapi aktif.

XIV/11

2) Program Pembangunan Pertambangan Program pembangunan pertambangan ditujukan untuk mengantisipasi peningkatan permintaan akan komoditi pertambangan baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk tujuan ekspor. Hasil dari program ini dapat dilihat pada Tabel XIV-2 sampai dengan Tabel XIV-14. a)Pertambangan Batubara Produksi dan ekspor batubara terus mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Produksi tahun ketiga Repelita VI mencapai 51,2 juta ton, mengalami kenaikan sebesar 79,0 persen dan 45,0 persen dibandingkan produksi tahun terakhir Repelita V dan tahun pertama Repelita VI yaitu sebesar 28,6 juta ton dan 35,3 juta ton. Dengan meningkatnya produksi, ekspor batubara pada tahun 1996/97 mencapai 37,6 juta ton atau mengalami kenaikan sebesar 98,9 persen dan 36,7 persen dibandingkan ekspor tahun terakhir Repelita V dan tahun pertama Repelita VI, yaitu sebesar 18,9 juta ton dan 27,5 juta ton. Peningkatan produksi dan ekspor batubara yang cukup tinggi menunjukkan keberhasilan dalam menembus pasar internasional dan memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Melihat pertumbuhan ekspor tersebut, target ekspor sebesar 39,1 juta ton pada akhir tahun Repelita VI optimis dapat dicapai. Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan transportasi batubara baik untuk tujuan ekspor maupun penyaluran di dalam negeri telah dikembangkan pelabuhan khusus batubara di Tarahan III, Pulau Laut, dan Tanjung Api-api. Mengingat prospek batubara yang makin cerah dan telah menjadi sumber energi pengganti untuk pembangkit energi listrik dan industri semen serta industri lainnya, dewasa ini banyak investor dalam negeri maupun asing menanamkan investasinya. Selain PT.Tambang Bukit

XIV/12

Asam sebagai satu-satunya BUMN di bidang batubara, terdapat pula beberapa kontraktor batubara yang bekerja atas dasar Kontrak Kerjasama Batubara (KKB), dan perusahaan swasta nasional termasuk KUD yang bekerja atas dasar Kuasa Pertambangan (KP). Sampai tahun ketiga Repelita VI telah ditandatangani 11 KKB, diantaranya 9 buah telah memasuki tahap konstruksi dan eksploitasi. Sedangkan untuk Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), dalam tahun ketiga Repelita VI telah ditandatangani 19 buah PKP2B, diantaranya 9 buah berada di Kalimantan Timur, 3 buah di Sumatera Selatan, dan masing-masing 1 buah di Kalimantan Tengah dan Riau. Dalam upaya diversifikasi energi dan penghematan penggunaan BBM melalui pemanfaatan batubara, telah diupayakan penggunaan briket batubara untuk industri kecil dan rumah tangga. Program tersebut dilaksanakan melalui percontohan, penyuluhan, pelatihan, pembimbingan, dan peragaan. Usaha pemasyarakatan briket batubara masih menghadapi hambatan antara lain terbatasnya produsen batubara serta pola pendistribusiannya yang kurang terarah. Minat swasta untuk mengusahakan pembriketan batubara cukup besar. Sampai saat ini terdapat 41 buah perusahaan yang telah memiliki persetujuan prinsip dan 3 perusahaan telah berproduksi. Pada bulan Juli 1997 telah selesai dibangun pabrik briket batubara dengan kapasitas produksi 10.000 ton per tahun di Gresik, Jawa Timur yang selanjutnya kapasitasnya akan ditingkatkan menjadi 120.000 ton per tahun. b) Pertambangan Mineral Produksi logam timah pada tahun ketiga Repelita VI mencapai 49,5 ribu ton, mengalami kenaikan sebesar 62,8 persen dan 14,1 persen dibandingkan produksi tahun terakhir Repelita V dan tahun XIV/13

pertama Repelita VI, yaitu sebesar 30,4 ribu ton dan 43,4 ribu ton. Peningkatan produksi juga diikuti dengan peningkatan ekspor, yaitu meningkat sebesar 66,6 persen dan 13,0 persen selama periode yang sama. Penjualan di dalam negeri juga menunjukkan peningkatan dari 1.668 ton pada tahun terakhir Repelita V menjadi 1.740 ton pada tahun ketiga Repelita VI. Produksi timah tersebut merupakan hasil pertambangan di daerah Bangka, Belitung, dan Singkep. Keberhasilan meningkatkan penjualan ini juga diikuti dengan keberhasilan PT.Timah yang telah melakukan penjualan sahamnya kepada publik baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Produksi nikel di Indonesia dikelola oleh PT.Aneka Tambang, yaitu berupa bijih nikel yang berasal dari wilayah Pomalaa dan pulau Gebe, yang sebagian besar diekspor, dan sisanya diolah di dalam negeri menjadi ferronikel di pabrik Pomalaa. Sedangkan hasil tambang nikel di Soroako diolah menjadi nikelmatte oleh PT. Inco, berasal dari tambang nikel di Soroako. Produksi bijih nikel selama tiga tahun pertama Repelita VI adalah sebesar 2,253 juta ton, 2,853 juta ton, dan 2,604 juta ton pada tahun 1996/97 atau masing-masing meningkat sebesar 17,0 persen, 26,6 persen, dan turun sebesar 8,7 persen dibandingkan produksi tahun sebelumnya. Tingkat produksi ini telah melampaui sasaran Repelita VI yang diperkirakan pada awalnya sebesar 2,4 juta ton. Adapun ekspornya pada tahun 1996/97 telah meningkat menjadi 2,27 juta ton atau naik sebesar 4,8 persen dari tahun 1995/96. Produksi ferronikel mengalami kenaikan yang sangat besar karena pabrik ferronikel Pomala II telah beroperasi, yaitu meningkat dari 7 ribu ton pada tahun pertama Repelita VI menjadi 9,6 ribu ton pada tahun ketiga, bahkan pada tahun kedua Repelita VI mencapai 10,2 ribu ton atau melampaui sasaran Repelita VI yang diperkirakan sebesar 10 ribu ton. Kenaikan produksi ini juga diikuti dengan

XIV/14

kenaikan ekspor sebesar 63,1 persen yaitu meningkat dari 5,7 ribu ton pada tahun pertama Repelita VI menjadi 9,3 ribu ton pada tahun ketiga Repelita VI, yang dipasarkan ke Jepang dan Korea Selatan. Produksi nikelmatte pada tahun terakhir Repelita V adalah 40,6 ribu ton, meningkat menjadi 47,9 ribu ton pada tahun pertama Repelita VI dan meningkat lagi menjadi 50,1 ribu ton pada tahun kedua Repelita VI, kemudian turun sebesar 20,6 persen atau mencapai 39,8 ribu ton pada tahun ketiga Repelita VI. Fluktuasi ini juga diikuti oleh jumlah ekspornya, yaitu dari 38,4 ribu ton pada tahun 1993/94 meningkat menjadi 46,4 ribu ton pada tahun 1995/96 dan menurun menjadi 37,7 ribu ton pada tahun ketiga Repelita VI. Produksi konsentrat tembaga oleh PT. Freeport Indonesia Company seluruhnya adalah untuk tujuan ekspor. Selama tiga tahun pertama Repelita VI produksi konsentrat tembaga meningkat tajam yaitu naik dari 1,11 juta ton pada tahun pertama menjadi 1,61 juta ton, dan mencapai 1,78 juta ton pada tahun ketiga, atau mengalami kenaikan sebesar 45,0 persen, dan 10,5 persen. Angka ini berarti telah jauh melampaui sasaran Repelita VI yaitu 1,04 juta ton. Demikian pula dengan ekspornya yang telah meningkat dari 1,13 juta ton pada tahun 1994/95, menjadi 1,55 juta ton pada tahun berikutnya, dan 1,81 juta ton pada tahun 1996/97. Sebagian besar produksi emas Indonesia diperoleh sebagai hasil ikutan konsentrat tembaga dan sebagian lainnya merupakan hasil produksi perusahaan swasta serta hasil kegiatan pertambangan rakyat. Produksi emas selama tiga tahun Repelita VI terus meningkat yaitu sebesar 46,2 persen, dan 30,7 persen, dari 45.051,5 kg menjadi 65.864,3 kg, dan pada tahun ketiga mencapai 86.115,7 kg. Pada periode yang sama, ekspor emas juga mengalami peningkatan, yaitu dari 42.633,9 kg pada tahun 1994/95 menjadi 60.022,8 kg pada tahun XIV/15

berikutnya, dan meningkat menjadi 81.782,2 kg pada tahun 1996/97. Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian emas di dalam negeri baik untuk tujuan industri maupun untuk perhiasan masih terbatas, sehingga sebagian besar produksi emas tersebut adalah untuk tujuan ekspor. Selain emas, produksi perak pada tahun ketiga Repelita VI juga meningkat sebesar 3,3 persen yaitu dari 163.119,6 kg pada tahun 1995/96 menjadi 168.417,3 kg pada tahun berikutnya. Dibandingkan produksi tahun terakhir Repelita V yaitu 88.902,6 kg, kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 1994/95 yang mencapai 71,8 persen. Karena permintaan pasar luar negeri atas hasil tambang bauksit dari Pulau Bintan menurun, maka produksi dan ekspornya dari tahun ke tahun juga cenderung terus menurun. Tingkat produksi bauksit selama tiga tahun Repelita VI telah turun dari 1.122,5 ribu ton menjadi 960,4 ribu ton, dan mencapai 849,9 ribu ton pada tahun 1996/97. Demikian pula dengan dengan ekspornya secara berturutturut turun dari 971,9 ribu ton pada tahun 1994/95 menjadi 824 ribu ton pada tahun 1995/96 dan turun lagi menjadi 639,3 ribu ton pada tahun 1996/97. Penurunan produksi dan ekspor ini disebabkan oleh berhentinya permintaan dari perusahaan Hydro (Amerika Serikat) sejak September 1994. Produksi pasir besi sebagian besar diperoleh dari daerah sekitar Cilacap dan Kutoarjo yang seluruhnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pabrik semen di dalam negeri dan industri logam lainnya. Produksi dan penjualan pasir besi selama tiga tahun pertama Repelita VI menunjukkan peningkatan, yaitu pada tahun 1994/95 produksinya 332,5 ribu ton, dan meningkat lagi menjadi 351,9 ribu ton kemudian naik sebesar 27,0 persen, menjadi 446,9 ribu ton pada tahun 1996/97.

XIV/16

Perkembangan bahan galian lainnya seperti belerang, fosfat, kaolin, pasir kwarsa, batu granit, bentonit, gamping, marmer, gips, dan lempung selama tiga tahun Repelita VI juga menunjukkan fluktuasi tingkat produksi. Bahan galian industri yang impornya meningkat selama Repelita VI antara lain adalah feldspar, bentonit, fosfat, kaolin, granit, marmer dan gips. Pesatnya pembangunan prasarana dan industri di dalam negeri telah mendorong meningkatnya permintaan bahan galian golongan C seperti batu gamping, tanah liat, pasir kuarsa, belerang, kaolin dan kalsit. c) Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi Produksi minyak bumi dan kondensat selama tiga tahun pertama Repelita VI masing-masing adalah 588,6 juta barel menjadi 588,5 juta barel, dan turun menjadi 581,8 juta barel pada tahun ketiga. Dibandingkan produksi tahun terakhir Repelita V, produksi tahun ketiga Repelita VI mengalami kenaikan sebesar 5,1 persen. Namun dengan meningkatnya pemboran sumur eksplorasi dari 79 sumur pada tahun 1994, menjadi 80 sumur pada tahun 1995, dan kemudian 88 sumur pada tahun 1996, diharapkan akan ditemukan sumur baru yang produktif sehingga produksi minyak bumi dalam tahun mendatang akan meningkat kembali. Mengingat kebutuhan minyak mentah dalam negeri cenderung meningkat, maka ekspor minyak bumi dan kondensat selama tiga tahun Repelita VI juga mengalami penurunan, yaitu dari sebesar 318,8 juta barel, menurun menjadi 298,0 juta barel, kemudian turun menjadi 288,2 juta barel pada tahun 1996/97. Negara tujuan ekspor minyak bumi adalah Jepang, Amerika Serikat, dan negara lain termasuk negara ASEAN. Seiring dengan meningkatnya pembangunan nasional, jumlah minyak yang diolah di dalam negeri juga terus bertambah. Pada awal XIV/17

PJP I, jumlah minyak yang diolah dengan kilang dalam negeri baru sebesar 77,1 juta barel, meningkat menjadi 294,4 juta barel pada akhir Repelita V, dan pada tahun ketiga Repelita VI menjadi 337,1 juta barel. Hasil kilang disamping menghasilkan BBM, juga menghasilkan produk nonBBM seperti wax, lube base, coke, aspal, solvent, low sulfur wax residue (LSWR), dan naphta. Selain itu, kilang petrokimia di Plaju, Pulau Bunyu, dan Cilacap juga menghasilkan produk petrokimia seperti polypropylene, methanol, paraxylene, dan purified terephthalic acid. Produksi gas bumi berkembang sejalan dengan pemanfaatannya dan terus mengalami peningkatan. Pada tahun ketiga Repelita VI produksi gas bumi mencapai 3.096,3 miliar kaki kubik atau naik 1,8 persen dibandingkan tahun kedua yaitu sebesar 3.040,6 miliar kaki kubik. Peningkatan tersebut disamping karena meningkatnya pengolahan gas alam menjadi LNG dan LPG, juga disebabkan melonjaknya permintaan kebutuhan baik sebagai bahan baku dan energi untuk industri petrokimia, pupuk, semen, besi baja maupun untuk memenuhi kebutuhan energi pembangkit listrik, hotel, restoran, dan rumah tangga. Pemanfaatan gas bumi pada tahun 1996/97 sebesar 2.912,4 miliar kaki kubik atau naik 1,3 persen dari tahun sebelumnya. Produksi LPG yang pada tahun 1994/95 adalah sebesar 2,84 juta ton meningkat menjadi 3,14 juta ton pada tahun berikutnya atau naik sebesar 10,6 persen, dan pada tahun 1996/97 menjadi 3,07 juta ton. Adapun ekspor LPG selama periode yang sama adalah sebesar 2,64 juta ton, naik menjadi 2,69 juta ton, dan pada tahun 1996/97 mencapai 2,55 juta ton atau turun sebesar 5,2 persen. Penurunan ekspor tersebut terpaksa dilakukan karena kebutuhan LPG di dalam negeri meningkat cukup tinggi selama Repelita VI, yang menunjukkan keberhasilan dalam diversifikasi energi khususnya dalam rangka mengurangi ketergantungan kepada BBM.

XIV/18

Salah satu sumber energi terbarukan yang sangat penting di Indonesia dan belum dimanfaatkan secara maksimal adalah energi panas bumi yang diperkirakan dapat membangkitkan listrik sebesar 19.658 MW, tersebar di Sumatera (9.562 MW), Jawa dan Bali (5.681 MW), Nusa Tenggara (2.100 MW), Sulawesi (1.565 MW) hingga Maluku (750 MW), yaitu disepanjang jalur gunungapi (7.000 km). Survei eksplorasi panas bumi terus ditingkatkan dari 2 sumur eksplorasi pada tahun 1993/94 menjadi 24 sumur pada tahun 1996/97. Dalam periode yang sama juga telah dilakukan pengeboran sumur pengembangan dari 9 sumur menjadi 39 sumur. Dari pemboran tersebut telah dihasilkan pembangkit energi listrik berkekuatan 309,5 MW. 3) Program Pengembangan Usaha Pertambangan Rakyat Terpadu Program ini ditujukan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pertambangan secara lebih luas dan produktif. Untuk itu telah dilakukan pemberdayaan terhadap pontensi usaha pertambangan rakyat dalam bentuk program terpadu yang lebih luas dan produktif sehingga merupakan bagian dari sistem pertambangan nasional yang tangguh dengan menggunakan konsep pertambangan skala kecil (PSK). Program ini juga memberikan alternatif yang tepat dalam menertibkan usaha pertambangan emas tanpa izin (PETI), yaitu dengan cara kerja sama melalui pemerintah daerah dalam melakukan penyuluhan dan pembinaan langsung kepada penambang setempat. Dalam tahun 1996/97 upaya penanggulangan kegiatan PETI telah berhasil dilaksanakan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, dan akan dikembangkan di wilayah lain.

XIV/19

Pertambangan skala kecil bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada rakyat setempat dalam mengusahakan bahan galian dan turut serta dalam pembangunan di bidang pertambangan dengan bimbingan pemerintah. Sebagai upaya penciptaan iklim usaha yang dinamis, pemerintah telah menetapkan lokasi untuk pencadangan wilayah pertambangan rakyat beserta evaluasi potensi bahan galian yang siap tambang. Dalam tahun 1996/97 telah dilakukan penyusunan master plan PSK, pembinaan usaha produksi, penyelenggaraan bimbingan teknis, percontohan penambangan di 4 lokasi serta peraturan yang mendukung pelaksanaan operasional pembinaannya. Selain itu, pada tahun ketiga Repelita VI telah dibina 15 Koperasi Unit Desa (KUD) pemegang Kuasa Pertambangan (KP) yang melakukan penambangan batubara dan emas. b. Program Penunjang Dalam tiga tahun pertama Repelita VI telah dilaksanakan kegiatan program penunjang sektor pertambangan meliputi program penelitian dan pengembangan pertambangan; program pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan ketenagakerjaan pertambangan; program pembinaan dan pengelolaan lingkungan hidup; program pengembangan usaha nasional; dan program peningkatan kerjasama luar negeri. 1) Program Penelitian dan Pengembangan Pertambangan Program ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan mutu hasil tambang melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pertambangan dan pengolahan hasil tambang; yaitu dengan meningkatkan serta mempercepat pelaksanaan penelitian dan pengembangan teknologi terapan, yang dilanjutkan dengan pembuatan proyek percontohan sebelum dimasyarakatkan lebih lanjut.

XIV/20

Pada tahun ketiga Repelita VI telah dilakukan beberapa penelitian, antara lain, pengkajian pencairan batubara dan pembuatan coal water fuel (CWF); pembuatan disain teknis penambangan; perbaikan ventilasi tambang batubara; pengisian tambang emas dengan tailing; optimasi perencanaan tambang fosfat; pembuatan rancang bangun alat pengering zeolit, mesin briket, dan alat pengolahan limbah pencucian batubara; serta pengkajian gasifikasi batubara dan pemanfaatannya untuk berbagai tujuan. Kegiatan penelitian di bidang geologi sumber daya mineral yang dilakukan dalam tahun ketiga Repelita VI, antara lain meliputi penelitian evolusi magmatik, evolusi tektonik, penelitian geologi kuarter dan geomorfologi, penelitian seismotektonik, standarisasi peta dasar geologi untuk 25 jenis peta serta akreditasi laboratorium untuk analisis batuan. Selain itu juga dilakukan penelitian untuk meningkatkan kemampuan peralatan pemantauan gempa (seismograf), penyelidikan fisika dan kimia di 6 gunungapi aktif, meningkatkan rekayasa dan rancang bangun untuk pemantauan jarak jauh (telemetri) gunungapi, dan penyusunan prosedur tetap mitigasi bencana alam geologis. Di bidang pertambangan telah dilakukan pembakuan komoditi tambang, teknis penambangan serta pengolahan hasil tambang, penyusunan standar keselamatan kerja, serta penyempurnaan metode uji mineral logam dan industri. Di bidang migas telah dilakukan penyempurnaan manajemen reservoir dalam pengoptimalan lapangan minyak.

XIV/21

2) Program Pendidikan, Pelatihan, Penyuluhan, dan Ketenagakerjaan Pertambangan Program pendidikan ini ditujukan untuk mempercepat alih teknologi di sektor pertambangan melalui peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia. Dalam tahun ketiga Repelita VI telah dilaksanakan pendidikan dan pelatihan untuk 555 orang tenaga pertambangan, meliputi teknik pengolahan bahan galian, teknik peledakan, teknik pengelolaan lingkungan dan reklamasi. Dengan demikian dalam tahun kedua dan ketiga Repelita VI telah dididik dan dilatih sebanyak 3.185 orang dibidang pertambangan. Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat di sektor pertambangan, pada tahun 1996/97 telah dilakukan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat penambang melalui bimbingan teknis penambangan, keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan, dan pembuatan percontohan. Selain itu juga telah diterbitkan berbagai peraturan, buku panduan dan pedoman tentang aturan pertambangan. Kegiatan bimbingan dan penyuluhan teknis pertambangan yang diprioritaskan kepada swasta nasional ekonomi lemah dan koperasi/KUD meliputi bimbingan teknis eksplorasi, percontohan penambangan, dan percontohan pengolahan. 3) Program Pembinaan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Dengan pesatnya perkembangan kegiatan pertambangan, wilayah yang akan mengalami gangguan dan lingkungan yang tercemar juga akan semakin luas, karena adanya kegiatan pengolahan/pencucian mineral yang menghasilkan limbah dalam bentuk tailing, atau kegiatan penambangan yang menghasilkan limbah batuan, serta kegiatan penunjang yang menghasilkan limbah organik dan non organik. Dalam rangka pembangunan yang berwawasan lingkungan dan

XIV/22

berkelanjutan, maka reklamasi lahan bekas tambang merupakan bagian integral dari usaha pertambangan, yaitu mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan (produksi) serta pada periode pasca tambang. Selanjutnya dalam tahun 1996/97 juga telah dilakukan beberapa kegiatan reklamasi dan pemanfaatan lahan pasca tambang secara produktif melalui penerapan dan pemanfaatan lahan berganda. Dengan upaya ini maka kegiatan pertambangan dapat berkembang seiring dan berdampingan dengan pertumbuhan sektor lainnya pada lahan yang sama. 4) Program Pengembangan Usaha Nasional Program ini bertujuan untuk mendorong dan meningkatkan kemampuan usaha nasional agar berperan aktif di sektor pertambangan, terutama untuk skala menengah dan kecil yang banyak menghadapi kendala permodalan. Mengingat tingginya resiko kegagalan untuk menemukan cadangan bahan galian yang ekonomis, tidak banyak lembaga keuangan yang berminat membantu. Sejak Repelita VI masalah ini mulai dipecahkan melalui upaya kemitraan dan bapak angkat yang dilakukan oleh BUMN. Selain itu juga dilakukan pembinaan melalui temu karya pertambangan sebagai upaya menangani permasalahan yang dihadapi pengusaha pertambangan. Minat pengusaha luar negeri untuk menanamkan modalnya di sektor pertambangan, terutama batubara sangat menggembirakan. Sejak rancangan Kontrak Karya (KK) generasi ke VI diselesaikan pada bulan Februari 1996, sampai tahun ketiga Repelita VI telah ditandatangani 11 Kontrak Kerjasama Batubara, dan 19 buah PKP2B. Untuk mendukung upaya tersebut saat ini telah dibentuk unit XIV/23

pelayanan informasi dan pencadangan wilayah pertambangan dengan menggunakan sistem informasi geografis. 5) Program Peningkatan Kerjasama Internasional Program ini dilaksanakan sebagai bagian integral dari pembangunan pertambangan dalam rangka mempercepat alih teknologi, stabilisasi harga dan produksi komoditas, serta peningkatan arus investasi di bidang pertambangan. Untuk itu dalam tahun 1996/97 telah dilaksanakan Lokakarya Energi ASEAN 2020, Asean Energy Security and Legislation Meeting, dan Senior Official Meeting on Mineral International. Selain itu juga telah dilakukan kerjasama internasional mengenai trace element dengan International Energy Agency (IEA), briket batubara dengan Korean Institute of Geology, Mining and Materials (KIGAM), pencairan batubara dengan Nippon Energy Development Organization (NEDO), Coal Water Fuel (CWF) dengan Federal Energy Regulatory Commission (FERC), pengolahan mineral metalurgi serta pengembangan teknologi pemantauan aspek fisika dan kimia untuk prediksi letusan gunungapi dengan ahli Perancis, Amerika Serikat, dan Jerman. Kerjasama internasional yang telah dilaksanakan di bidang minyak bumi, gas bumi, dan panas bumi seperti dengan Amerika Serikat dan Kanada banyak memberikan manfaat bagi pembangunan pertambangan nasional. Kerjasama bilateral ini juga mempunyai dampak dan bermanfaat untuk meningkatkan perdagangan dan ekspor komoditas pertambangan serta pengusahaan bersama sumber daya minyak dan gas bumi. Di bidang penelitian dan pengembangan telah diperluas kerjasama dengan beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, Korea, Belanda serta dengan beberapa negara

XIV/24

berkembang lainnya. Pemanfaatan data dan informasi dari badanbadan internasional, dengan adanya internet, meningkat pesat. C. ENERGI 1. Sasaran, Kebijaksanaan dan Program Repelita VI

Sasaran yang hendak dicapai pada akhir Repelita VI adalah menurunnya pangsa minyak bumi dalam penyediaan energi dan meningkatnya pangsa energi nonminyak bumi, khususnya gas bumi dan batubara, serta berkembangnya energi baru dan terbarukan. Pada dasarnya sasaran pembangunan energi adalah menjamin terpenuhinya kemandirian dalam bidang energi. Untuk mencapai sasaran tersebut diatas maka ditetapkan pokok kebijaksanaan pembangunan energi termasuk ketenagalistrikan dalam Repelita VI yaitu meningkatkan penyediaan dan pemanfaatan sumber daya energi; meningkatkan sarana dan prasarana; meningkatkan fungsi kelembagaan; meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kemampuan menguasai teknologi; meningkatkan peran serta masyarakat dan kepedulian terhadap lingkungan dalam pemanfaatan energi. Untuk melaksanakan kebijaksanaan dan mencapai berbagai sasaran pembangunan energi tersebut di atas, dikembangkan program pembangunan sektor energi yang meliputi program pokok dan program penunjang. Program pokok mencakup program pengembangan tenaga listrik; program pengembangan listrik perdesaan; dan program pengembangan tenaga migas, batubara, dan energi lainnya. Program penunjang mencakup program pengendalian pencemaran lingkungan hidup; program penelitian dan pengembangan energi; XIV/25

program pengembangan informasi energi; serta program pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan energi. 2. Pelaksanaan dan Hasil Pembangunan Dalam Tahun Kedua Repelita VI

Secara umum hasil pelaksanaan pembangunan sektor energi pada berbagai program menunjukkan adanya peningkatan. Hasil keseluruhan pelaksanaan pembangunan sektor energi dapat di lihat pada Tabel XIV-15 sampai dengan Tabel XIV-22. a. Program Pokok 1) Program Pengembangan Tenaga Listrik Program pengembangan tenaga listrik ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik yang terus meningkat dalam rangka menunjang program pembangunan berbagai sektor. Penyediaan tenaga listrik diusahakan baik oleh pemerintah maupun oleh swasta dengan membangun berbagai sarana pembangkitan dan penyaluran. Hasil pembangunan tenaga listrik dan pengusahaannya dapat dilihat pada Tabel XIV-15 dan Tabel XIV-16, sedangkan produksi dan daya terpasang untuk masing-masing wilayah pengusahaan PLN di Indonesia dapat dilihat pada Tabel XIV-17. Dalam rangka memenuhi permintaan tenaga listrik yang terus bertambah, penyediaan tenaga listrik juga terus ditingkatkan. Dalam tiga tahun pertama Repelita VI telah dibangun pembangkit tenaga listrik oleh pemerintah sebesar 4.185,4 MW atau 43,9 persen dari sasaran Repelita VI. Dengan demikian, pada tahun ketiga Repelita VI kapasitas total pembangkit telah mencapai 15.939,6 MW, diantaranya 71,5 persen berada di pulau Jawa dan 9,9 persen berada di KTI

XIV/26

termasuk Bali. Proyek pembangkit listrik yang selesai dibangun pada tahun 1996/97 adalah PLTU Ombilin (200 MW), PLTU Suralaya 5,6,7 (600 MW), PLTGU Grati (682,8 MW), PLTGU Tambak Lorok Blok II (500 MW) dan PLTGU Samarinda (40 MW), PLTM Sampean Baru 1,8 MW, serta PLTD tersebar dengan kapasitas 74,6 MW. Selain itu, untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik, beberapa proyek sedang dilaksanakan dan diharapkan beroperasi pada akhir Repelita VI. Proyek-proyek tersebut adalah PLTA Singkarak 4x43,75 MW pada tahun 1998/99, Kotopanjang 3x38 MW pada tahun 1997/98, Tanggari II 19 MW pada tahun 1998/99, Cirata II 500 MW pada tahun 1997/98; PLTG Pontianak 2x30 MW pada tahun 1997/98, Ujung Pandang 2x35 MW pada tahun 1998/99, Banjarmasin 2x65 MW pada tahun 1998/99, dan Suralaya unit 5, 6 dan 7 sebesar 1.800 MW pada tahun 1997/98; PLTD Lombok unit 3 sebesar 8 MW pada tahun 1997/98, Sekupang Baru 2x12,5 MW pada tahun 1997/98, dan PLTP Lahendong 20 MW pada tahun 1998/99. Untuk menyalurkan tenaga listrik dari pusat pembangkit tenaga listrik ke daerah-daerah pusat beban, dalam tahun ketiga Repelita VI telah selesai dibangun jaringan transmisi sepanjang 2.243 kilometersirkit (kms), gardu induk dengan kapasitas 5.201 MVA, jaringan distribusi terdiri dari jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 10.355,4 kms, dan jaringan tegangan rendah sepanjang 12.815,7 kms, serta gardu distribusi dengan kapasitas 876,2 MVA. Dengan demikian, dalam tiga tahun pertama Repelita VI telah diselesaikan pembangunan jaringan tegangan tinggi sepanjang 3.741 kms atau 35,5 persen dari sasaran Repelita VI, jaringan distribusi sepanjang 81.258,1 kms atau 24,6 persen dari sasaran, dan gardu distribusi sebesar 5.077,3 MVA atau 23,3 persen dari sasaran. Rendahnya realisasi pembangunan ini disamping terbatasnya dana XIV/27

pembangunan, juga disebabkan oleh karena lokasi pusat beban semakin terpencil dan dengan kondisi geografis yang relatif sulit, antara lain terletak di daerah gambut atau daerah pasang surut. Namun demikian untuk mendekati sasaran tersebut, saat ini sedang dilaksanakan pembangunan jaringan transimisi 150 kV beserta gardu induk sepanjang 3.888,6 kms yang tersebar di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, serta transmisi 500 kV dengan jalur Paiton-Kediri-KlatenTasikmalaya-Depok. Angka-angka tersebut belum termasuk untuk pembangunan listrik perdesaan. Selanjutnya, mengingat kemampuan pemerintah untuk membiayai pembangunan prasarana kelistrikan sangat terbatas, maka mulai Repelita IV beberapa undang-undang telah dikeluarkan dengan tujuan untuk mendorong pihak swasta dan koperasi untuk melakukan investasi di bidang ketenagalistrikan. Perangkat undang-undang tersebut antara lain UU No.15 tahun 1985 tentang ketenagalistrikan, PP No.17 tahun 1990 tentang Perusahaan Umum Listrik Negara, dan Keppres No.37 tahun 1992 tentang usaha penyediaan tenaga listrik oleh swasta. Pada awal Repelita VI dikeluarkan PP No.20 tahun 1994 tentang pemilikan saham dalam perusahaan yang didirikan oleh investor asing. Sampai dengan bulan Mei 1997 telah ditandatangani perjanjian jual beli listrik (PPA) sebanyak 24 proyek listrik swasta dengan kapasitas total sebesar 9.245 MW dengan lokasi Jawa-Bali (7.980 MW), Sumatera (960 MW), dan Sulawesi (305 MW). Dari sejumlah proyek tersebut, 11 diantaranya adalah PLTP dengan kapasitas total 1.990 MW. Selain itu terdapat 2 listrik swasta yang sudah selesai melakukan negosiasi dan persetujuan harga jual, 6 proyek dalam tahap negosiasi, dan 9 proyek dalam tahap persiapan negosiasi. Pada tahun terakhir Repelita V, juga telah dikeluarkan ijin usaha ketenagalistrikan untuk kepentingan sendiri (IUKS) kepada 584 perusahaan dengan kapasitas 7.181,9 MVA. Dalam tiga tahun pertama Repelita VI telah dikeluarkan IUKS untuk 693 perusahaan XIV/28

dengan kapasitas 7.783,7 MVA pada tahun pertama, 749 perusahaan dengan kapasitas 8.415,6 MVA pada tahun kedua, dan 794 perusahaan dengan kapasitas 8.779,3 MVA pada tahun ketiga. Dengan meningkatnya sarana dan prasarana kelistrikan, maka produksi listrik juga meningkat dari 53.413,5 GWh menjadi 60.200,6 GWh pada tahun pertama dan kedua Repelita VI, dan mencapai 67.172,5 GWh pada tahun ketiga Repelita VI, diantaranya sebesar 80,8 persen produksi listrik tersebut dihasilkan oleh pembangkit yang berada di Pulau Jawa. Kapasitas pembangkit yang terpusat di satu pulau tersebut diakibatkan besarnya jumlah penduduk dan pelanggan baik sektor industri, komersial maupun rumahtangga di Pulau Jawa. Penjualan listrik juga meningkat dari 44.677,8 GWh pada tahun pertama Repelita VI menjadi 51.014,3 GWh dan 58.662,8 GWh pada tahun kedua dan ketiga Repelita VI. Hal ini diikuti pula dengan meningkatnya rasio elektrifikasi nasional dan jumlah pelanggan listrik PLN. Bila pada tahun terakhir Repelita V, rasio elektrifikasi nasional adalah 41,0 persen dengan pelanggan listrik PLN berjumlah 15.157.409 konsumen, maka rasio elektrifikasi nasional pada tahun kedua dan ketiga Repelita VI meningkat masing-masing menjadi 49,7 persen dan 50,7 persen. Sedangkan jumlah pelanggannya pada tahun kedua dan ketiga Repelita VI meningkat dari 20.114.458 konsumen menjadi 22.554.849 konsumen. Melihat tingginya pertumbuhan tersebut, sasaran rasio elektrifikasi sebesar 60 persen optimis dapat dicapai pada akhir Repelita VI. Ditinjau dari sisi pemakaian, energi listrik yang diproduksi telah berhasil didorong untuk keperluan produktif. Hal ini terlihat dari komposisi pemakaian energi listrik oleh pelanggan rumah tangga yang telah berhasil diturunkan dari 54,6 persen pada awal Repelita I menjadi 32 persen pada tahun terakhir Repelita V, dan menjadi 21 XIV/29

persen pada tahun ketiga Repelita VI. Sementara itu pada periode yang sama, pemakaian untuk pelanggan industri dan umum naik dari 46 persen menjadi 50 persen dan meningkat menjadi 78,5 persen pada tahun ketiga Repelita VI. Selanjutnya, pemerintah telah mengubah status PLN dari Perusahaan Umum menjadi Perseroan Terbatas melalui PP nomor 23 Tahun 1994 dengan tujuan agar PLN lebih mandiri dalam pengelolaan listrik di Indonesia, baik ditinjau dari segi teknis maupun pengelolaan dana investasi. Untuk itu PT.PLN (Persero) telah melakukan restrukturisasi unit bisnis dengan membentuk dua anak perusahaan di pembangkitan yaitu Pembangkitan Jawa Bagian 1 (PJB-1) dan PJB-2 pada bulan Oktober 1995, dan pada tahun ketiga Repelita VI telah mempunyai asset pembangkit dengan daya terpasang sebesar 11.385,1 MW yang mampu memproduksi energi listrik sebesar 52.550,4 GWh. Dengan demikian diharapkan investasi untuk pengembangan pembangkitan akan dapat dibiayai melalui pendapatan operasi sendiri dari anak perusahaan dan dari dana masyarakat melalui penjualan saham. 2) Program Pengembangan Listrik Perdesaan Program pengembangan listrik perdesaan ditujukan untuk memenuhi ketersediaan energi listrik dalam rangka meningkatkan informasi, pendidikan serta kesejahteraan masyarakat dan kegiatan ekonomi di perdesaan. Target desa yang akan dilistriki pada akhir Repelita VI berjumlah 18.619 desa atau mencapai 79 persen dari seluruh desa di Indonesia. Program ini dikembangkan dengan memberikan prioritas untuk memanfaatkan potensi energi setempat. Hasil pembangunan listrik perdesaan dapat dilihat pada Tabel XIV-18.

XIV/30

Untuk mendukung pengembangan listrik perdesaan, pada tiga tahun Repelita VI telah dibangun pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan kapasitas 34,4 MW. Khusus untuk pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM), saat ini masih dalam tahap pelaksanaan dengan kapasitas total 14,1 MW dan direncanakan akan beroperasi pada akhir Repelita VI. Sedangkan untuk menyalurkan energi listrik ke konsumen di desa, pada tahun terakhir Repelita V telah dibangun JTM sepanjang 8.013,3 kms, JTR sepanjang 9.690 kms, dan gardu distribusi dengan kapasitas 258,9 MVA. Pada tahun pertama Repelita VI telah dibangun JTM sepanjang 9.014,8 kms, JTR sepanjang 9.706,9 kms, dan gardu distribusi dengan kapasitas 196,4 MVA. Selanjutnya pada tahun kedua dan ketiga Repelita VI telah dibangun JTM sepanjang 8.066,9 kms dan 9.541,6 kms, JTR sepanjang 8.484,1 kms dan 9.108,3 kms, dan gardu distribusi dengan kapasitas 168,5 MVA dan 170,8 MVA. Dengan demikian jumlah konsumen yang dapat dilayani sampai dengan tahun ketiga Repelita VI mencapai 14,06 juta rumah tangga di desa, diantaranya 1,85 juta pelanggan merupakan tambahan pada tahun 1996/97. Jumlah desa yang dialiri tenaga listrik telah meningkat dari 31.689 desa pada tahun terakhir Repelita V menjadi 43.259 desa pada tahun ketiga Repelita VI. Dari sejumlah desa yang dilistriki tersebut, sebanyak 8.585 desa berada di KTI atau sekitar 45,5 persen dari seluruh desa di wilayah ini, dan sebanyak 21.013 desa berlistrik berada di Jawa-Bali atau telah mencapai 90,6 persen dari jumlah desa yang akan dilistriki. Dengan demikian selama tiga tahun terakhir Repelita VI, ada tambahan 11.570 desa yang dapat menikmati listrik atau 62,1 persen dari sasaran Repelita VI, sehingga rasio elektrifikasi desa telah meningkat dari 50,5 persen pada tahun terakhir Repelita V menjadi 66,3 persen pada tahun ketiga Repelita VI.

XIV/31

Tantangan yang akan dihadapi pada masa mendatang adalah semakin terpencilnya lokasi desa yang akan dilistriki. Namun demikian, perhatian yang lebih besar terhadap kegiatan pengembangan listrik perdesaan diupayakan antara lain, dengan penyediaan listrik tenaga surya ke sejumlah desa terpencil yang belum terjangkau oleh PT. PLN (Persero). Saat ini sedang dilaksanakan pembangunan 34.000 unit tenaga surya atau solar home system (SHS) yang diperuntukkan terutama bagi desa di KTI, dan akan bertambah sebanyak 200.000 unit SHS untuk daerah terpencil di Lampung, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. 3) Program Pengembangan Tenaga Migas, Batubara, dan Energi Lainnya Program ini ditujukan untuk meningkatkan upaya pencarian, penemuan, dan penyediaan, penganekaragaman, serta penghematan sumber daya energi. Konsumsi energi primer pada tiga tahun Repelita VI secara total mengalami kenaikan sebesar 4,2 persen dan 9,0 persen atau mencapai 541,2 juta SBM pada tahun 1996/97. Apabila dibandingkan dengan sasaran konsumsi energi primer Repelita VI, maka realisasinya masih lebih tinggi sebesar 136,2 juta SBM atau sekitar 33,6 persen. Namun minyak bumi sebagai salah satu komponen utama energi primer, pangsa konsumsinya telah dapat diturunkan dari 60,4 persen pada tahun 1994/95 menjadi 58,2 persen pada tahun 1996/97. Turunnya pangsa konsumsi minyak bumi tersebut antara lain disebabkan oleh berbagai usaha dalam pengelolaan sumber energi yang mengutamakan efisiensi dan konservasi energi, mulai beroperasinya pusat tenaga listrik nonminyak, dan meningkatnya penggunaan gas bumi untuk industri dan rumah tangga.

XIV/32

a) Minyak Bumi dan Bahan Bakar Minyak Konsumsi minyak bumi terus mengalami kenaikan sesuai dengan pertumbuhan pemakaian energi di berbagai sektor. Penggunaan minyak bumi pada tahun pertama dan kedua Repelita VI adalah 287,9 juta SBM dan 290,7 juta SBM, dan pada tahun ketiga Repelita VI mencapai 315,3 juta SBM. Pada periode yang sama, pemakaian BBM di dalam negeri juga terasa sangat menonjol, yaitu dari 264,4 juta SBM, menjadi 279,9 juta SBM, dan naik menjadi 305,2 juta SBM pada tahun 1996/97, dengan menempatkan minyak solar sebagai bahan bakar yang dikonsumsi paling tinggi, yaitu 40,3 persen dari total konsumsi pada tahun 1996/97. Kenaikan ini selain disebabkan oleh meningkatnya permintaan akan energi final dari sektor transportasi dan energi, juga disebabkan oleh relatif rendahnya harga minyak bumi di dalam negeri yang menyebabkan kecenderungan penggunaan BBM yang kurang efisien. (1)Kegiatan Eksplorasi dan Produksi Dalam rangka mempertahankan produksi dan meningkatkan penemuan cadangan minyak dan gas bumi baru untuk masa datang, dilanjutkan kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi, meliputi penyelidikan seismik dan pemboran eksplorasi. Dalam tahun ketiga Repelita VI telah dilaksanakan penyelidikan seismik 2D sepanjang 10.654,0 km, seismik 3D sepanjang 3.911,3 km, dan pemboran eksplorasi sebanyak 101 sumur atau 42,9 persen dari sasaran 177 sumur yang akan dibor pada tahun 1996/97. Realisasi ini meningkat cukup pesat jika dibandingkan dengan kegiatan eksplorasi tahun 1994/95, yaitu sebanyak 6.880 km, 706,6 km, dan 76 sumur. Rendahnya realisasi pengeboran sumur eksplorasi tersebut dibanding sasarannya, adalah oleh karena daerah prospektif minyak bumi cenderung makin berada pada perairan yang dalam dan daerah dengan XIV/33

derajat kesulitan yang tinggi, baik ditinjau dari segi geologi maupun lokasinya serta menurunnya penandatanganan KPS baru dan terbatasnya dana KPS. Minyak bumi tetap mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan nasional, baik sebagai sumber energi untuk industri maupun sebagai sumber devisa negara. Pada awal PJP I, produksi minyak bumi baru mencapai 284,3 juta barel per tahun, dan telah meningkat menjadi 559,9 juta barel per tahun pada tahun terakhir Repelita V. Kini, pada tahun ketiga Repelita VI, produksi minyak bumi mencapai 581,8 juta barel per tahun atau 5,2 persen lebih tinggi dari sasaran Repelita VI sebesar 553 juta barel per tahun. Disamping itu, ekspor minyak bumi dan kondensat pada tahun pertama dan kedua Repelita VI adalah 318,8 juta barel dan 298,0 juta barel, dan turun menjadi 288,2 juta barel pada tahun 1996/97 atau turun sebesar 3,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ekspor minyak bumi ini terutama disebabkan oleh meningkatnya konsumsi di dalam negeri dan makin meningkatnya kapasitas kemampuan kilang Indonesia. (2)Kegiatan Peningkatan Sarana dan Prasarana BBM Kapasitas pengilangan minyak di dalam negeri terus ditingkatkan seiring dengan laju pembangunan nasional. Pada awal PJP I, jumlah minyak yang dikilang di dalam negeri hanya sebesar 77,1 juta barel, pada tahun terakhir Repelita V naik menjadi 294,4 juta barel, dan meningkat lagi menjadi 337,1 juta barel pada tahun ketiga Repelita VI. Seluruh hasil pengilangan tersebut adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi BBM di dalam negeri. Namun karena kebutuhan BBM di dalam negeri cukup tinggi, maka sebagian kebutuhan masih dipenuhi melalui pengadaan impor minyak mentah dan BBM terutama avtur, mogas, diesel, dan solar.

XIV/34

Selain meningkatkan efisiensi peralatan kilang, juga dilakukan modifikasi kapasitas kilang yang sudah ada dan membangun fasilitas kilang minyak baru. Kapasitas kilang seluruh Indonesia sampai saat ini mencapai 0,899 juta barel per hari dan direncanakan pada tahun 1999 meningkat menjadi 1,038 juta barel per hari. Untuk mencapai kapasitas tersebut, sampai saat ini sudah ada 37 perusahaan swasta yang menyatakan minatnya untuk membangun kilang minyak. Disamping itu juga telah dimulai pembangunan proyek debottlenecking kilang Cilacap, yang mampu meningkatkan kapasitas kilang dari 300 ribu barel per hari menjadi 348 ribu barel per hari. b) Gas Bumi Konsumsi gas bumi terus meningkat dalam tiga tahun Repelita VI, yaitu masing-masing dari 122,2 juta SBM ke 136,5 juta SBM, dan menjadi 138,5 juta SBM atau secara berturut-turut mengalami kenaikan sebesar 11,7 persen, dan 1,5 persen. Laju pertumbuhan sebesar 1,5 persen dalam tahun 1996/97 relatif rendah jika dibanding tahun sebelumnya. Hal tersebut terjadi karena sejak akhir tahun kedua Repelita VI tidak terdapat penambahan pembangkit listrik tenaga gas. Namun demikian, jika dibandingkan dengan sasaran Repelita VI yang diperkirakan sebesar 157,3 juta SBM, maka konsumsi gas bumi pada tahun ketiga ini berada 11,9 persen dibawah sasaran. Meningkatnya konsumsi gas bumi disebabkan antara lain akibat penambahan jaringan transmisi gas dari 694,3 kilometer pada tahun 1994/95 menjadi 764,9 pada tahun 1995/96, dan meningkat menjadi 908 kilometer pada tahun 1996/97 atau bertambah sekitar 18,7 persen. Dengan bertambahnya jaringan transmisi gas maka jumlah gas bumi yang disalurkan juga meningkat, yaitu dari 0,91 juta meter kubik pada tahun 1994/95 menjadi 1,28 juta meter kubik pada tahun 1995/96, meningkat menjadi 1,54 juta meter kubik pada tahun XIV/35

1996/97 atau mengalami kenaikan sebesar 19,9 persen. Dalam rangka upaya diversifikasi energi, fasilitas transmisi gas masih akan ditambah, dengan melanjutkan pembangunan jaringan transmisi dari Corridor Block Asamera di Sumatera Selatan ke proyek Enhanced Oil Recovery (EOR) di Duri yang kemudian disambung ke Batam. Selain itu, sedang dikembangkan jaringan gas dari Sumatera ke Jawa Barat serta jaringan gas di Sulawesi Selatan. Peningkatan konsumsi gas bumi juga disebabkan oleh perluasan jaringan distribusi gas kota serta penambahan jaringan transmisi gas yang dikelola oleh PT.Perusahaan Gas Negara untuk keperluan di kota (gas kota). Kapasitas terpasang gas kota pada tahun 1996/97 adalah 1,55 milyar meter kubik per hari, atau meningkat sebesar 19,8 persen jika dibandingkan tahun 1995/96. Jaringan distribusi gas kota pada saat ini masih terbatas pada beberapa kota yaitu Jakarta, Bogor, Cirebon, Surabaya dan Medan, dan akan dikembangkan untuk daerah di Palembang, Balikpapan, dan Ujungpandang. Disamping itu, apabila pada tahun pertama Repelita VI tingkat kehilangan gas hanya bisa diturunkan sebesar 3,6 persen, maka pada tahun ketiga Repelita VI dapat diturunkan lagi sebesar 15,9 persen. Perkembangan kapasitas terpasang dan jaringan tenaga gas serta pengusahaannya dapat dilihat pada Tabel XIV-21 dan Tabel XIV-22. c) Panas bumi Konsumsi panas bumi meningkat cukup pesat sejak Repelita III, meskipun pangsa pada energi ini pada tahun ketiga Repelita VI hanya sebesar 0,8 persen dari total konsumsi energi primer. Konsumsi energi panas bumi telah meningkat dari 2,7 juta SBM pada tahun 1994/95 menjadi 4,1 juta SBM pada tahun 1995/96, meningkat menjadi 4,6 juta SBM pada tahun 1996/97 atau naik sebesar 11,5 persen. Peningkatan yang pesat ini terutama disebabkan telah disele-

XIV/36

saikannya pembangunan beberapa PLTP di Jawa dan Sulawesi Utara. Pada saat ini juga sedang diselesaikan pembangunan PLTP yang tersebar di beberapa lokasi. Meskipun terjadi peningkatan penggunaan panas bumi, jumlah tersebut masih dibawah sasaran akhir Repelita VI yang ditargetkan sebesar 12 juta SBM. Rendahnya pencapaian sasaran ini disebabkan masih sulitnya mengembangkan PLTP yang umumnya berada pada lokasi terpencil, biaya eksplorasinya relatif besar, dan tingkat risiko pemborannya yang besar pula. d) Batubara Konsumsi batubara mengalami peningkatan yang cukup tajam dengan pangsa sebesar 9,8 persen dari total konsumsi energi primer. Memasuki tahun pertama Repelita VI konsumsi batubara meningkat 24,8 persen yaitu dari 31,97 juta SBM pada akhir Repelita V, menjadi 39,91 juta SBM, dan mencapai 53,18 juta SBM pada tahun pertama dan ketiga Repelita VI. Meningkatnya konsumsi batubara pada Repelita VI disebabkan oleh beroperasinya beberapa PLTU dan untuk keperluan industri seperti industri semen, industri dasar besi dan baja, serta peleburan nikel dan timah. Sedangkan untuk keperluan rumah tangga dan industri kecil, briket batubara sudah mulai dimasyarakatkan sejak menjelang akhir Repelita V dan telah mendapat sambutan baik dari masyarakat. Walaupun demikian, penggunaannya masih belum banyak karena masih terbatasnya persediaan briket batubara di pasaran. Sampai dengan bulan Maret 1996, realisasi produksi briket batubara adalah sebesar 569 ton atau 103,4 persen dari rencana 550 ton. Sedangkan realisasi penjualan mencapai 548,7 ton atau 99,7 persen dari sasaran 550 ton. Penjualan tersebut untuk 3 desa percontohan di Jawa Timur, yaitu Dinoyo, Ceper, Argomulyo adalah 140 ton, sisanya untuk daerah DKI, Jabar, Jateng, dan Sumatera. XIV/37

e) Energi Baru dan Terbarukan Pemanfaatan tenaga air pada awal PJP I adalah 0,69 juta SBM, meningkat menjadi 26,3 juta SBM pada akhir PJP I, atau mengalami kenaikan sebesar 15,7 persen per tahun. Apabila konsumsi energi air pada tahun pertama Repelita VI dibandingkan dengan konsumsi tahun terakhir Repelita V, terjadi penurunan sebesar 9,9 persen, yaitu dari 26,3 juta SBM turun menjadi 23,7 juta SBM. Naik turunnya penggunaan tenaga air sangat ditentukan oleh musim, jadwal perawatan mesin pembangkit serta pemanfaatan air untuk pertanian. Namun demikian, selama tiga tahun pertama Repelita VI penggunaan tenaga air mengalami kenaikan sebesar 14,5 persen atau mencapai 27,1 juta SBM pada tahun 1995/96, dan naik sebesar 9,1 persen atau mencapai 29,6 juta SBM pada tahun 1996/97. Salah satu kebijaksanaan penting di sektor energi adalah upaya penganekaragaman pemakaian energi yang antara lain dilakukan dengan menggalakkan penggunaan energi baru dan terbarukan. Kegiatan ini telah berhasil menurunkan pangsa energi minyak bumi dari 60,4 persen pada tahun 1994/95 menjadi 58,3 persen pada tahun 1996/97 yang merupakan pangsa minyak bumi paling rendah sejak Repelita dimulai. Hal ini bisa dikatakan suatu keberhasilan karena tujuan utama penganekaragaman adalah mengurangi ketergantungan pada minyak bumi. Selain itu, hingga akhir Repelita V telah dibangun satu unit sistem hibrida fotovoltaik 72 kW dan diesel 10 kW, serta satu unit sistem hibrida fotovoltaik 48 kW, dan mikrohidro 6,3 kW. Disamping itu telah dibangun sekitar 50 unit gasifikasi biomassa dengan kapasitas 2.200 kW yang digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik, energi mekanik, dan energi thermal. Saat ini sedang dilaksanakan pemasangan sebanyak 34.000 sel surya untuk daerah terpencil di Indonesia Bagian Timur.

XIV/38

f) Penghematan Energi Program penghematan penggunaan energi secara berkesinambungan, dilakukan melalui kampanye hemat energi agar masyarakat memperoleh informasi yang benar tentang manfaat dan cara melakukan penghematan energi. Kegiatan ini dilakukan antara lain melalui pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penghematan energi. Dalam rangka itu telah diselesaikan pula peraturan dan rancangan induk konservasi energi nasional untuk menumbuhkan sikap hemat energi. Dengan demikian pelaksanaan audit energi dan standardisasi serta pemasangan alat hemat energi serta partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam upaya penghematan energi dapat lebih ditingkatkan. Di bidang tenaga listrik telah diupayakan penurunan susut jaringan tenaga listrik dari 13,2 persen pada tahun 1995/96 menjadi 11,5 persen pada tahun 1996/97 melalui pengaturan sisi pemakai tenaga listrik, peningkatan pemeliharaan sarana penyediaan tenaga listrik, dan peningkatan faktor beban. Angka susut jaringan ini sudah melampaui target pada akhir Repelita VI yaitu 12,5 persen. Di bidang industri minyak dan gas bumi juga secara terus menerus dilaksanakan kegiatan penghematan energi. Usaha meningkatkan efisiensi pada industri minyak dan gas bumi dilaksanakan antara lain dengan mengurangi gas yang dibakar secara percuma. Pada tahun 1996/97 gas yang dibakar secara percuma telah berhasil diturunkan dari 4,8 persen menjadi 4,5 persen, susut operasi distribusi BBM dari 0,3 persen menjadi 0,28 persen, dan susut operasi distribusi tenaga gas berkurang 15,9 persen. Hasil ini dicapai dengan memanfaatkan gas yang dibakar, antara lain untuk kilang LPG skala kecil; meningkatkan produktivitas dan pendayagunaan kilang serta keandalan kilang; dan meningkatkan keandalan jaringan pipa gas dan BBM. XIV/39

b. Program Penunjang Program penunjang di sektor energi antara lain ditujukan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup; meningkatkan kemampuan, penguasaan, dan pemanfaatan teknologi agar pengelolaan energi menjadi lebih berdaya guna dan berhasil guna; mendorong kerjasama dan koordinasi yang baik antara pengguna dan penghasil informasi dalam bidang energi; dan meningkatkan produktivitas, profesionalisme, serta peningkatan penguasaan iptek. 1) Program Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup Dalam rangka menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup telah dilakukan pengelolaan energi yang memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup untuk jangka panjang, sejak tingkat eksplorasi, eksploitasi, pengangkutan, pengolahan, pendistribusian sampai penggunaan energi. Selama tiga tahun pertama Repelita VI telah dilakukan analisis mengenai dampak lingkungan yang merupakan kegiatan terpadu dalam setiap pembangunan instalasi ketenagalistrikan, khususnya dan pembangunan energi pada umumnya. Selain itu, telah pula dilakukan penyuluhan mengenai ruang bebas saluran udara tegangan tinggi (SUTT) dan saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) kepada masyarakat yang tinggal di bawah jaringan transmisi. Penyuluhan ini dilakukan secara langsung ke lapangan dan telah dilaksanakan di lima kabupaten. Pada tahun 1996/97 telah dilakukan studi jaringan pemantauan perencanaan dan kerusakan lingkungan dari pengoperasian sarana fisik ketenagalistrikan terhadap lingkungan pantai dan laut. Di bidang migas, dilanjutkan penyusunan standar pengelolaan lingkungan pada eksplorasi perminyakan.

XIV/40

2) Program Penelitian dan Pengembangan Energi Di bidang penelitian yang berhubungan dengan sektor ilmu pengetahuan dan teknologi, telah dilakukan berbagai studi untuk meningkatkan kemampuan, penguasaan, dan pemanfaatan teknologi agar pengelolaan energi menjadi lebih berdaya guna dan berhasil guna. Kegiatan ini dilakukan antara lain melalui penelitian terapan yang secara langsung memecahkan masalah teknologi di bidang eksplorasi dan eksploitasi, pengolahan, pengangkutan, pemanfaatan, serta rekayasa dan rancang bangun, program alih teknologi, penerapan teknologi konservasi, dan peningkatan pemanfaatan produksi dalam negeri. Pada tahun 1996/97 telah dilakukan penelitian konservasi minyak dan gas bumi, sumber daya hidrokarbon, rekayasa migas, dan peningkatan nilai tambah migas dengan tujuan akhir untuk meningkatkan kemampuan industri migas dalam negeri. Di bidang kelistrikan juga telah dilakukan upaya mengembangkan sistem dan sarana pengujian energi/ketenagalistrikan agar pengoperasian peralatan listrik sesuai dengan standar yang berlaku. sedangkan dibidang pertambangan dilakukan penelitian teknologi penambangan, dan teknologi pemanfaatan batubara. Penerapan teknologi konservasi energi melalui penelitian dan pengembangan dalam tiga tahun pertama Repelita VI, antara lain dilakukan dengan menciptakan dan menyempurnakan percontohan peralatan hemat energi. Disamping itu, telah dilakukan penelitian dan audit energi di rumah tangga, industri, transportasi, dan bangunan. Selain itu juga telah dipersiapkan survai penggunaan energi untuk percontohan rumah tangga, percontohan industri, dan percontohan transportasi.

XIV/41

3) Program Pengembangan Informasi Energi Dalam tahun ketiga Repelita VI telah dilakukan penyusunan data dasar untuk mengembangkan sistem informasi energi yang andal dengan membangun suatu pusat data yang dapat melayani kebutuhan informasi yang dipergunakan, baik oleh instansi yang terkait maupun oleh instansi lainnya di bidang energi, termasuk untuk masyarakat dan dunia usaha. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mendorong kerja sama dan koordinasi yang baik antara pengguna dan penghasil informasi dalam bidang energi untuk membantu pengambilan kebijaksanaan, perencanaan, penyusunan program, pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan, serta untuk dipergunakan sebagai alat bantu dalam menilai keberhasilan pembangunan di sektor energi secara cepat, tepat, dan akurat. 4) Program Pendidikan, Pelatihan, dan Penyuluhan Energi Program pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan energi yang telah dilaksanakan pada tiga tahun pertama Repelita VI diupayakan untuk meningkatkan produktivitas dan profesionalisme serta peningkatan penguasaan iptek dalam melaksanakan pembangunan bidang energi, termasuk ketenagalistrikan yang dilaksanakan dengan mengembangkan sistem pembinaan sumber daya manusia, serta sistem perencanaan dan pengadaan tenaga kerja. Selama tahun pertama dan tahun kedua Repelita VI telah dilakukan penyuluhan energi kepada 350 orang juru penerang dari Departemen Penerangan yang selanjutnya akan memberikan penyuluhan kepada masyarakat desa di seluruh kabupaten. Pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang energi mencakup sumber daya manusia untuk pencarian, pemanfaatan, pengelolaan, dan pengembangan sumber daya energi. Kegiatan ini dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan, baik di dalam negeri

XIV/42

maupun luar negeri. Selama tahun pertama dan kedua Repelita VI telah dididik dan dilatih sebanyak 29 orang baik di dalam negeri maupun di luar negeri dalam bidang kelistrikan dan migas dan pada tahun 1996/97 terdapat tambahan sebanyak 7 orang. Peningkatan penguasaan iptek di sektor energi dilakukan dengan meningkatkan keterlibatan tenaga ahli Indonesia di dalam menangani permasalahan energi, dan meningkatkan kerja sama di bidang iptek dengan pihak perguruan tinggi dan lembaga litbang lainnya, baik di dalam maupun di luar negeri.

XIV/43

TABEL XIV 1 HASIL KEGIATAN PEMETAAN GEOLOGI DAN SUMBER DAYA MINERAL 1993/94, 1994/95 1996/97 ( % kumulatif)

1) 2)

Angka diperbaiki Angka sementara

XIV/44

TABEL XIV 2 PRODUKSI HAIL-HASIL PERTAMBANGAN 1993/94, 1994/95 1996/97

1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara 3). Termasuk kondensat 4). Termasuk emas dalam konsentrat tembaga

XIV/45

GRAFIK XIV 1 PRODUKSI MINYAK BUMI 1993/94, 1994/95 1996/97

XIV/46

GRAFIK XIV 2 PRODUKSI GAS BUMI 1993/94, 1994/95 1996/97

XIV/47

TABEL XIV 3 PRODUKSI DAN EKSPOR BATU BARA 1993/94, 1994/95 1996/97 (Ribu ton)

1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara

XIV/48

TABEL XIV 4 PRODUKSI DAN PEMASARAN TIMAH 1993/94, 1994/95 1996/97

1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara

XIV/49

TABEL XIV 5 PRODUKSI DAN EKSPOR BIJIH NIKEL FERRONIKEL DAN NIKELMATTE 1993/94, 1994/95 1996/97 (ribu ton)

1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara

XIV/50

GRAFIK XIV 3 PRODUKSI BATU BARA, BIJIH NIKEL DAN KONSENTRAT TEMBAGA 1993/94, 1994/95 1996/97

XIV/51

TABEL XIV 6 PRODUKSI DAN EKSPOR KONSENTRAT TEMBAGA 1993/94, 1994/95 1996/97 (ribu ton kering)

1). Angka sementara

XIV/52

TABEL XIV 7 PRODUKSI DAN PENJUALAN EMAS DAN PERAK 1993/94, 1994/95 1996/97 (kilogram)

1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara 3). Termasuk dalam konsentrat tembaga 4). Termasuk ekspor emas yang terkandung dalam konsentrat tembaga 5). Termasuk perak dalam konsentrat tembaga

XIV/53

GRAFIK XIV 4 PRODUKSI EMAS DAN PERAK 1993/94, 1994/95 1996/97

XIV/54

TABEL XIV 8 PRODUKSI DAN EKSPOR BAUKSIT DAN PASIR BESI 1993/94, 1994/95 1996/97 (ribu ton)

1). Angka sementara

XIV/55

TABEL XIV 9 PRODUKSI DAN PENJUALAN DALAM NEGERI BATU GRANIT 1993/94, 1994/95 1996/97 (ribu ton)

1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara

XIV/56

TABEL XIV 10 PRODUKSI BEBERAPA BAHAN TAMBANG DAN BARANG GALIAN INDUSTRI 1993/94, 1994/95 1996/97

1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara

XIV/57

TABEL XIV 11 PRODUKSI, PENGILANGAN DAN EKSPOR MINYAK BUMI 1993/94, 1994/95 1996/97 (juta barel)

1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara 3). Termasuk feedstock 4). Termasuk kondensat 5). Tidak termasuk LPG

XIV/58

TABEL XIV 12 REALISASI PEMASARAN HASIL MINYAK BUMI DI DALAM NEGERI 1993/94, 1994/95 1996/97 (ribu barel)

1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara

XIV/59

TABEL XIV 13 PRODUKSI DAN PEMANFAATAN GAS BUMI 1993/94, 1994/95 1996/97 (miliar kaki kubik)

1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara 3). Angka gross (termasuk gas yang diinjeksi kembali ke reservoir)

XIV/60

TABEL XIV 14 PRODUKSI DAN EKSPOR LNG DAN LPG 1993/94, 1994/95 1996/97

1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara

XIV/61

TABEL XIV 15 KONSUMSI ENERGI PRIMER 1993/94, 1994/95 1996/97

1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara

XIV/62

GRAFIK XIV 5 KONSUMSI ENERGI PRIMER 1993/94, 1994/95 1996/97

XIV/63

TABEL XIV 16 HAIL PELAKSANAAN PEMBANGUNAN TENAGA LISTRIK 1993/94, 1994/95 1996/97

1). Angka diperbaiki (tambahan pembangunan dengan biaya dari PT.PLN) 2). Angka sementara

XIV/64

TABEL XIV 17 PENGUSAHAAN TENAGA LISTRIK 1993/94, 1994/95 1996/97

Keterangan : GWh = Gega Watt Haour kVA = Kilo Volt Ampere kW = Kilo Watt MVA = Mega Volt Ampere 1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara

XIV/65

GRAFIK XIV 6 PENGUSAHAAN TENAGA LISTRIK 1993/94, 1994/95 1996/97

XIV/66

TABEL XIV 18 PRODUKSI DAN DAYA TERPASANG TENAGA LISTRIK MENURUT WILAYAH 1993/94, 1994/95 1996/97

1) 2) 3) 4) 5)

Angka diperbaiki Agka sementara Kitlur Sumbagut dan Sumbagsel dibentuk sejak Triwulan I tahun 1997 Kitlur Jatim dan Kitlur Jabar sejak Oktober 1995 berubah menjadi PJB 1 dan PJB 2 (anak perusahaan PT.PLN) Produksi swasta, mulai masuk ke sistem jaringan PLN sejak 1995/96

XIV/67

TABEL XIV 19 HASIL PELAKSANAAN PEMBANGUNAN LISTRIK PERDESAAN 1993/94, 1994/95 1996/97

1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara

XIV/68

TABEL XIV 20 KONSUMSI B B M DI DALAM NEGERI 1993/94, 1994/95 1996/97

Keterangan : SMB : Setara Barel Minyak 1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara

XIV/69

TABEL XIV 21 KAPASITAS TERPASANG DAN JARINGAN GAS KOTA 1993/94, 1994/95 1996/97

1)

Angka sementara

XIV/70

TABEL XIV 22 PENGUSAHAAN GAS KOTA 1993/94, 1994/95 1996/97

1). Angka diperbaiki 2). Angka sementara

XIV/71