P. 1
HUBUNGAN DESA-KOTA

HUBUNGAN DESA-KOTA

|Views: 1,272|Likes:
Dipublikasikan oleh Kahfi Dirga Cahya

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Kahfi Dirga Cahya on Jun 01, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/27/2015

pdf

text

original

HUBUNGAN DESA-KOTA

Disusun Oleh Andi Andra Madusila Fariz Altyo Kahfi Dirga Cahya Sistem Sosial Indonesia

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Interaksi desa-kota yang harmonis merupakan sebuah keharusan untuk setiap jengkal wilayah negara. Namun ada baiknya kita mendefinisikan terlebih dahulu apa itu desa dan kota. Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004, pengertian desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus masyarakat setempat; berdasarkan asal-usul dan adat istiadat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara definisi kota menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri RI No.4 tahun 1980 menyebutkan bahwa kota terdiri atas dua bagian. Pertama, kota sebagai suatu wadah yang memiliki batasan administratif sebagaimana diatur dalam perundang-undangan. Kedua, kota sebagai lingkungan kehidupan perkotaan yang mempunyai ciri non-agraris, misalnya ibu kota kabupaten, ibu kota kecamatan, serta berfungsi sebagai pusat pertumbuhan dan permukiman. Namun dalam perkembangannya, interaksi desa-kota di Indonesia sangatlah tidak harmonis. Meskipun di akui bahwa keduanya haruslah memiliki hubungan yang seimbang, karena desa-kota memiliki saling ketergantungan yang cukup kompleks, namun desa-kota tidaklah berjalan demikian. Interaksi yang dinilai gagal ini dianggap sebagai ketimpangan wilayah. Menurut Kanbur dan Venables dalam Spatial Inequality and Development (2005), gejalagejala dari penyakit ketimpangan wilayah di antaranya adalah masih rendahnya kualitas pendidikan perdesaan, jeleknya fasilitas infrastruktur, aktivitas perbankan yang rendah, kebijakan pembangunan berbasis eksploitasi sumber daya alam semata, sampai tidak tersedianya lapangan kerja berbasis karakter sosial ekonomi lokal yang mencukupi. Jika di sederhanakan, ketimpangan ini terdiri dari tiga bentuk, yaitu kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Ketimpangan pembangunan antarwilayah dapat dilihat dari perbedaan tingkat kesejahteraan dan perkembangan ekonomi antarwilayah. Data BPS tahun 2004 menunjukkan bahwa angka kemiskinan di DKI Jakarta hanya sekitar 3,18 persen, sedangkan di Papua sekitar 38,69 persen. Ketimpangan pelayanan sosial dasar yang tersedia, seperti pendidikan, kesehatan dan air bersih juga terjadi antarwilayah, dimana penduduk di Jakarta rata-rata bersekolah selama

9,7 tahun, sedangkan penduduk di NTB rata-rata hanya sekolah selama 5,8 tahun. Hanya sekitar 30 persen penduduk Jakarta yang tidak mempunyai akses terhadap air bersih dan aman, tetapi di Kalimantan Barat lebih dari 70 persen penduduk tidak mempunyai akses terhadap air bersih. Secara garis besar, ketimpanganan pembangunan desa-kota ini terjadi di tiga hal besar, yaitu kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Ketiga hal ini dianggap menjadi hal terpenting perkembangannya saat ini. Jika dijabarkan dengan sederhana, kesehatan dapat mempengaruhi kualitas pendidikan serta ekonomi di suatu daerah. Pendidikkan memberikan peran penting dalam menyokong kemajuan ekonomi. Karena pendidikan dianggap satu tolak ukur untuk kemajuan ekonomi yang merupakan tujuan utama interaksi desa-kota. Kesemrawutan diatas berdampak urbanisasi besar-besaran yang dilakukan oleh penduduk desa ke kota. Hal semacam inilah yang malah membuat kondisi kota tidak terkontrol. Pertumbuhan penduduk yang cepat di suatu kota malah membuat satu gejala baru yang berimbas pada macetnya produktivitas kota. Selain itu desa yang ditinggalkan juga menjadi masalah tersendiri. Karena desa yang ditinggalkan harus menghidupi kembali kondisi perekonomiannya mulai dari nol. B. Permasalahan 1. Bagaimana gambaran pola hubungan desa-kota dalam bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi di Indonesia? 2. Bagaimana analisa sosiologis hubungan desa-kota dalam bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi dewasa ini dengan mengacu pada diagram “Interaksi desa-kota” seperti yang digambarkan Okali, Okpana, dan Olawoye dan teori Intergrasi Sosial? 3. Apa yang dapat dilakukan agar hubungan desa-kota dalam bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi di Indonesia menjadi lebih baik dalam konteks Sistem Sosial Indonesia?

C. Kerangka Konseptual  GEJALA MIGRASI MENURUT PETERSEN Sumber migrasi Alam dan Dorongan Primitif Sebab Sifat Migrasi Jenis migrasi Konservatif Merantau Berkeliling Inovatif Pelarian dari desa

manusia Negara dan mnanusia

Ekologis Politik Paksaan Anjuran/Pengusiran Perpindahan Pelarian/perpindahan Kerja paksa/Perbudakan Kuli Kontrak

Perilaku Perorangan Perilaku kolektif

Cita-cita

Bebas

Berkelompok

Keluarga atau perintis individu

Peristiwa

Massal

Membuat kediaman

Urbanisasi

 Growth pole: Perroux, 1955)

Sektor eknonomi daripada sekadar tempat secara geografis (Franscuis

 Interaksi Antarwilayah desa-kota menurut Okali, Okpana, dan Olawoye (2001).

Desa Kota

Interaksi

Aliran spasial antar desa-kota Manusia Barang Informasi Uang

Kegiatan Sektoral desa-kota Hasil Pertanian Industri Perdagangan Budaya

Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi desa-kota: Sejarah: waktu berdiri, pola pemukiman, dan lain-lain Politik ekonomi: pertanian, perdagangan, energi, industri, keuangan, pengolahan tanah, pemerintahan. Sosial budaya: kelompok sosial, nilai-norma, jaringan pendukung. Gender dan antar generasi, anjuran migrasi.

-

Lingkungan fisik: tanah dan air, sumber daya alam lain, penurunan kualitas lingkungan.

Catatan : Lima faktor yang mempengaruhi interaksi desa-kota menciptakan arus spasial antara pedesaan dan perkotaan serta aktifitas sektoral pada wilayah pedesaan dan perkotaan
 Keterkaitan dan Interdependensi Desa-Kota, Douglas (1966)  Keterkaitan Utama Desa-Kota & Fasilitas Terkait di Pusat Kota, Rondinelli (1985) dan Kammeier & Neubauer (1985)

BAB II PEMBAHASAN

1. Gambaran pola hubungan desa-kota dalam bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi di Indonesia? Tingkat kesehatan desa di Indonesia selalu dibawah tingkat kesehatan kota, hal ini disebabkan oleh tidak meratanya distribusi dari pemerintah pusat kepada desa dan kota di Indonesia. Semakin jauh letak desa tersebut maka tingkat kesehatan di desa itu semakin rendah, karena desa tersebut makin sulit dijangkau oleh pemerintah kota/kabupaten. Contohnya adalah distribusi dokter dan puskesmas, di perkotaan mudah sekali untuk mencari dokter, karena banyak dokter yang bekerja di wilayah perkotaan, situasi ini berbanding terbalik dengan keadaan di desa yang sangat sulit untuk menemukan dokter, hal ini disebabkan oleh kurangnya fasilitas kesehatan di pedesaan sehingga banyak dokter yang menolak untuk bertugas di desa. Fasilitas kesehatan di kota jauh lebih baik daripada di desa, di perkotaan banyak sekali terdapat rumah sakit-rumah sakit yang bertaraf internasional dan memiliki fasilitas yang sangat lengkap, sedangkan di pedesaan biasanya hanya terdapat satu bangunan puskesmas yang fasilitasnya kurang memadai, hal ini sering menimbulkan masalah karena penyakit di pedesaan seringkali lebih parah daripada di perkotaan dikarenakan tingkat sanitasi di desa yang sangat buruk, namun para dokter yang ada di puskesmas tidak dapat berbuat banyak untuk menolong penduduk desa yang memiliki penyakit yang parah diakibatkan alat alat medis yang terdapat di puskesmas tidak selengkap alat alat medis yang terdapat di rumah sakit perkotaan. Untuk masalah obat obatan, para dokter puskesmas di pedesaan harus memesan kepada toko obat yang ada di kota, karena di desa obat yang dijual hanya sedikit dan harganya yang tinggi menyebabkan tidak dapat dijangkau oleh para penduduk desa. Masalah kesehatan di desa sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang rendah. Di desa sedikit sekali orang yang dapat mengenyam pendidikan formal dikarenakan terbatasnya jumlah sekolah dan guru yang ada di desa. Bila kita bandingkan dengan keadaan di perkotaan, banyak sekali terdapat sekolah dan tenaga pengajar yang cukup sehingga tingkat pendidikan kota lebih tinggi dari tingkat pendidikan di desa. Kurangnya pasokan buku pelajaran di desa juga merupakan masalah terbesar dari rendahnya tingkat pendidikan di desa, hal ini terjadi lagi lagi karena letak desa yang jauh dari kota sehingga sulit untuk dijangkau oleh pemerintah kota untuk

mendistribusikan buku pelajaran dan guru sebagai tenaga pengajar. Hal tersebut dapat mengakibatkan kurangnya pemahaman tentang kebersihan kepada para penduduk desa yang dapat meyebabkan banyaknya penyakit yang muncul di pedesaan akibat lingkungan yang tidak bersih. Contohnya, banyak penduduk desa yang buang air di sungai, kemudian sungai itu juga dipakai oleh penduduk desa sebagai sumber kehidupan seperti untuk air minum, mencuci, memasak, dan sebagainya. Dapat kita bayangkan kuman kuman yang terdapat di kotoran manusia menyatu dengan air sungai yang dipakai untuk minum, memasak, dan mencuci. Fenomena ini sering menimbulkan berbagai macam penyakit di daerah pedesaan. Rendahnya tingkat pendidikan di desa juga berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi desa. Penduduk desa banyak yang bekerja di sector pertanian karena ilmu bertani di desa diwariskan turun temurun dari keluarganya dan mereka tidak punya ilmu lain selain bertani sehingga agak suli unuk mencari pekerjaan di bidang lain, berbeda dengan masyarakat kota yang dapat mengenyam pendidikan formal dengan mudah, mereka dapat bekerja sesuai minat dan keahlian mereka di dalam bidang apapun, bahkan mereka dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Terciptanya lapangan kerja yang baru ini mengakibatkan terjadinya urbanisasi yaitu perpindahan masyarakat desa ke kota untuk mencari pekerjaan di kota. Kegiatan ekonomi perkotaan didominasi oleh sector industry dan berorientasikan ekspor, berbeda dengan masyarakat desa yang lebih berorientasi ke pasar domestic. Bila kita lihat melalui aspek upah, kegiatan ekonomi industry jelas lebih besar dalam memberikan upah kepada pekerjanya dibandingkan dengan masyarakat desa yang menggunakan sector pertanian sebagai mata pencaharian, fenomena ini mengakibatkan makin lebarnya jurang kesenjangan antara masyarakat desa dengan masyarakat kota. Berdasarkan fakta fakta diatas, interaksi desa-kota di Indonesia dapat dikatakan belum berhasil karena masih terdapat kesenjangan yang sangat lebar antara masyarakat desa-kota akibat distribusi yang tidak merata dari pemerintah pusat. Hal ini sangat meresahkan karena masyarakat desa dan kota saling ketergantungan dimana industry yang terdapat di kota membutuhkan bahan dasar atau sumber daya alam yang terdapat di pedesaan, begitu juga dengan masyarakat pedesaan yang membutuhkan jasa dalam bidang kesehatan dan pendidikan yang banyak terdapat di kota. Douglass (1996) menjelaskan bahwa peran kota merupakan hasil hubungan yang saling ketergantungan antara desa dan kota, seperti pada tabel dibawah ini.

Keterkaitan dan Interdependensi Desa-Kota.

Fungsi Kota Pusat transportasi & perdagangan pertanian Pelayanan pendukung pertanian (semakin kompleks dan bernilai tinggi): - Input produksi - Jasa pemeliharaan/perbaikan - Kredit produksi - Informasi tentang metode produksi (inovasi) Pasar konsumen non-pertanian (semakin kompleks): - Produksi pertanian olahan - Pelayanan privat - Pelayanan publik (kesehatan, pendidikan, dan administrasi)

Interdependensi

Fungsi Desa Produksi & produktivitas pertanian. Intensifikasi pertanian dipengaruhi oleh: - Infrastruktur desa - Insentif produksi - Pendidikan dan kapasitas untuk menerima inovasi

Peningkatan pendapatan pedesaan akan menambah permintaan (daya beli dan pilihan konsumen): - Untuk barang2 nonpertanian - Jasa/pelayanan

Industri berbasis pertanian (mempertahankan/mengembalikan bagian terbesar nilai tambah di suatu daerah) Pekerja non-pertanian (meningkat bersamaan dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan dan pendidikan di desa)

Produksi pertanian dan diversifikasi pertanian

Melibatkan semua fungsi di atas

Untuk mempermudah pemetaan keterkaitan desa-kota yang sangat kompleks itu, terdapat beberapa jenis keterkaitan sebagai basis analisis kuantitatif dan kualitatif. Keterkaitan fisik seperti jaringan jalan, irigasi, atau jaringan transportasi dan komunikasi lainnya berkaitan dengan hubungan ekonomi (konsumsi dan pelayanan). Rondinelli (1985) dan Kammeier & Neubauer (1985) menjelaskan tipe keterkaitan tersebut sebagaimana yang terdapat pada tabel dibawah ini.

Keterkaitan Utama Desa-Kota & Fasilitas Terkait di Pusat Kota

Fasilitas Khusus untuk Fasilitas Tipe Keterkaitan Elemen Umum Kota Pertanian, manufaktur, dan Pengolahan Pertanian 1. Keterkaitan Fisik - Jalan - Angkutan kereta api - Penerbangan - Irigasi - Ekologis - interdependensi - Keterkaitan intra dan inter sistem - Stasiun kereta, terminal bis, pelabuhan, bandara 2. Keterkaitan Ekonomi - Pola pasar - Aliran bahan mentah dan barang antara - Keterkaitan produksi - Pasar barang konsumsi dan pertanian, toko retail - Fasilitas penyediaan - Akses desa terhadap jalan menuju dan dari kota - Akses menuju keterkaitan transportasi utama (udara, laut, darat) - Pasar produksi pertanian - Koperasi pertanian - Agen penjualan, agen eksport-impor - Fasilitas penyediaan input pertanian

Fasilitas Khusus untuk Fasilitas Tipe Keterkaitan Elemen Umum Kota Pertanian, manufaktur, dan Pengolahan Pertanian - Pola konsumsi dan belanja - Aliran modal dan pendapatan - Aliran komoditas sektoral dan interregional - Keterkaitan silang 3. Keterkaitan Mobilitas Penduduk - Pola migrasi - Perjalanan ke tempat kerja - N.a. - Fasilitas transportasi penumpang 4. Keterkaitan Teknologi - Interdependensi Teknologi - Sistem irigasi - Sistem Telkom - Tempat perawatan dan perbaikan - Sama dengan poin 6 dan 7 5. Keterkaitan Interaksi Sosial - Pola kunjungan - Pola Kekera-batan - Ritus, ritual, aktivitas agama - Interaksi kelompok sosial - Fasilitas komunitas - Gereja, mesjid, dsb - Fasilitas olahraga - Bioskop - Restoran, klub 6. Keterkaitan - Aliran dan jaringan - Fasilitas suplai - Suplai energi dan Tidak ada fasilitas kecuali untuk memenuhi permintaan desa yang meningkat Sama dengan Poin 2 dan 6 N.a. input (kulakan, penyimpanan) - Fasilitas pembelian dan perawatan peralatan pertanian - Outlet kredit untuk usaha pertanian dan usaha kecil lainnya

Fasilitas Khusus untuk Fasilitas Tipe Keterkaitan Elemen Umum Kota Pertanian, manufaktur, dan Pengolahan Pertanian Penyediaan pelayanan energi - Jaringan kredit dan finansial - Keterkaitan pendidikan, pelatihan dan ekstensi - Sistem pelayanan kesehatan - Pola pelayanan profesional, komersial, dan teknis. energi (listrik, depot BBM) - Fasilitas keuangan, investasi dan perbankan - Sekolah - Rumah sakit, klinik - Fasilitas telkom dan pos - Media massa - Fasilitas akomodasi 7. Keterkaitan Politik, Administratif, dan Organisasional - Keterkaitan struktural - Aliran anggaran pemerintah - Interdependensi organisasi - Pola otoritas- Otoritas dan agen-agen subnasional (administrasi, pemeliharaan, perencanaan, implementasi) Kantor cabang kementerian pertanian, Kehutanan, Kesehatan, Perindustrian. fasilitas khusus untuk pengolahan dan manufaktur pertanian - Fasilitas sekolah khusus dan pelatihan pertanian.

persetujuan-supervisi - Kamar Dagang - Pola transaksi antar jurisdiksi - Rantai keputusan politik informal - Serikat Buruh - Peradilan - Polisi

Selain peran yang disebutkan oleh Douglass diatas, terdapat juga penelitian yang dilakukan oleh Suprapta (2006) dengan judul penelitian „Ketergantungan Wilayah Kecamatan Mranggen terhadap Kota Semarang‟. Tujuan yang dicapai dalam penelitian ini adalah menganalisis pola interaksi wilayah perbatasan Kecamatan Mranggen dengan Kota Semarang. Hasil penelitian secara keseluruhan terhadap keterkaitan pemanfaatan sosial menunjukkan bahwa Kecamatan Mranggen masih sangat tergantung terhadap Kota Semarang yang mempunyai kelengkapan fasilitas yang lebih baik. Hal ini terlihat dari banyaknya responden (77,22%) yang memilih Kota Semarang sebagai tujuan pendidikan SLTA dan 80,76% untuk tujuan Perguruan Tinggi. Begitu juga untuk pelayanan kesehatan, khususnya Rumah Sakit yaitu sebesar 55,19% menyatakan memilih Kota Semarang sebagai tujuannya. Pada keterkaitan fisik didapatkan hasil bahwa secara umum akses yang menghubungkan Kecamatan Mranggen dengan Kota Semarang dalam kondisi baik, begitu juga dengan kondisi jalan yang menghubungkan antar desa ke Desa Mranggen kecuali jalan yang menghubungkan Desa Batursari dengan Desa Mranggen. 2. Analisa sosiologis hubungan desa-kota dalam bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi dewasa ini dengan mengacu pada diagram “Interaksi desa-kota” seperti yang digambarkan Okali, Okpana, dan Olawoye dan teori Intergrasi Sosial Seperti yang sudah dijelaskan di permasalahan pertama, bahwasanya ada ketergantungan signifikan antara desa-kota. Hal ini dikarenakan fasilitas kota yang cukup menunjang. Sehingga desa menjadi tidak mandiri dan terus mengaisi fasilitas kota. Padahal, desa juga harus memiliki satu posisi tawar yang bagus kepada kota. Karena dapat bertujuan untuk terciptanya interaksi desa-kota yang harmonis. Ketidakmampuan desa-kota dalam menjaga interaksi antar mereka dengan baik bisa jadi merupakan satu kegagalan pemahaman konsep secara utuh oleh penduduk masing-masing. Hal ini dimungkinkan karena baik penduduk desa maupun kota telah mencapai satu titik yang jauh dalam hal pendidikan. Oleh karena itu, munculah satu argumentatif sendiri dari masing-masing penduduk terhadap persoalan yang dihadapi. Argumentatif ini berubah menjadi satu pemikiran yang tertanam subur dalam pikiran mereka. Walhasil, tercipta pandangan jauh diantara keduanya, sehingga tidak mendapatkan satu titik temu diantara mereka. Sejatinya, perlulah dari kita untuk melihat bagaimana suato konsep menjelaskan interaksi secara menyeluruh kepada khalayak. Hal ini dikarenakan konsep merupakan satu pencerahan bersama untuk membuka pandangan kita bersama dalam satu persoalan. Begitu juga dengan

masalah interaksi desa-kota yang merupakan satu persoalan bersama. Interaksi desa-kota ini sangat perlu dikaji dalam satu konsep yang menggambarkan detail persoalan. Hal ini disanggupkan oleh Okali, Okpana dan Olawoye yang membuat satu konsep interaksi desa-kota yang menggambarkan secara sederhana namun detil.  Interaksi Antarwilayah desa-kota menurut Okali, Okpana, dan Olawoye (2001).

Desa Kota

Interaksi

Aliran spasial antar desa-kota Manusia Barang Informasi Uang

Kegiatan Sektoral desa-kota Hasil Pertanian Industri Perdagangan Budaya

Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi desa-kota: Sejarah: waktu berdiri, pola pemukiman, dan lain-lain Politik ekonomi: pertanian, perdagangan, energi, industri, keuangan, pengolahan tanah, pemerintahan. Sosial budaya: kelompok sosial, nilai-norma, jaringan pendukung. Gender dan antar generasi, anjuran migrasi. Lingkungan fisik: tanah dan air, sumber daya alam lain, penurunan kualitas lingkungan.

Catatan : Lima faktor yang mempengaruhi interaksi desa-kota menciptakan arus spasial antara pedesaan dan perkotaan serta aktifitas sektoral pada wilayah pedesaan dan perkotaan Dari konsep diatas, maka dapat kita buka perlahan beberapa faktor dari penjelasan Okali, Okpana dan Olawoye di dalam konsep mereka bahwa ada keterkaitan khusus dengan masalah utama pembahasan kita. Kelima faktor diatas mencermikan sisi lain dari interaksi desa-kota. Selain itu konsep tersebut memperlihatkan akar permasalahan sebenarnya, Hal ini di lihat dari faktor yang kemudian merambat pada sistematis sederhana desa-kota. Kemudian berlanjut kepada aliran spasial desa-kota. Terakhir adalah bagaimana desa-kota berinteraksi.

Faktor lingkungan fisik yang berambat pada sumber daya alam dan lingkungannya menunjukkan bahwa kesehatan memiliki posisi penting dalam interaksi desa-kota. Kita dapat melihat secara tegas bahwa, lingkungan fisik ini dapat menjadikan satu gagasan besar. Gagasan besar ini merambat hingga kesehatan. Hal ini didasari bahwa sumber daya alam memiliki relasi khusus dengan kesehatan. Karena menurut argumentatif kami, kesehatan dapat

merepresentasikannya dalam lingkungan fisik sebagai pemicu interaksi desa-kota secara positif. Kesehatan dapat mengedepankan dasar dari interaksi pendidikan dan perekonomian nantinya. Maka wajar jika scara sitematis tidak berkembangan faktor interaksi desa-kota tersebut yang berhubungan dengan lingkungan fisik. Hal itu dikarenakan kurangnya pemahaman dan pengertian tentang lingkungan dan manfaatnya. Kemudian pendidikan yang merupakan sektor penting, juga mendapat sorotan tajam dalam konsep interaksi desa-kota Okali, Okpana dan Olawoye. Hal ini dilihat dari faktor yang mempengaruhi interaksi antara lain sosial budaya serta gender dan antar generasi, anjuran imigrasi. Dari segi sosial budaya yang menyangkut kelompok sosial, nilai-norma serta jaringan pendukung dapat dilihat dari persebaran pendidikan yang tersebar di berbagai sudut. Seperti yang sudah dijelaskan di pembahasan 1 bahwa pendidikan desa-kota selalu menampilkan ketimpangan. Hal ini yang memberikan satu argumentasi bahwa pendidikan yang buruk dapat merupakan dari akibat kesehatan yang buruk pula. Karena indikasinya, tidak ada manusia yang dapat berpikir maksimal dengan kondisi kesehatan yang tidak fit. Hal yang terakhir adalah perekonomian. Kondisi ekonomi ini adalah hal yang paling kentara dibanding yang lain. Karena ekonomi merupakan satu tujuan bersama dan represantatif keseleruhan dari sebuah wilayah. Sektor ekonomi ini dikaji bersamaan dengan politik ekonomi. Hal ini dimaksudkan agar mencampurkan kehidupan politik dalam satu perekenomian. Sehingga secara sistematis akan terjadi keuntungan sendiri bagi politis dari segi ekonomi. Politik ekonomi ini mewakili seperti pertanian, perdagangan, energi, industria, keuangan, pengolahan tanah, dan pemerintahan. Dari semua hal yang menyertai politik eknomi tersebut, politik memiliki peran penting dalam pengesahannya. Unsur politis inilah yang menjadi satu bumerang yang akhirnya merusak tatanan sistematis interaksi desa-kota. 3. Tindakan yang harus dilakukan agar hubungan desa-kota dalam bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi di Indonesia menjadi lebih baik dalam konteks Sistem Sosial Indonesia

Seperti yang kita ketahui, masalah utama dalam hubungan antara desa-kota di Indonesia adalah adanya ketimpangan antara kota dengan desa. Di Indonesia, kota yang dianggap sebagai tempat yang lebih menjanjikan seperti lebih banyak peluang pekerjaan dan sarana prasarana yang lebih maju oleh penduduk desa mengakibatkan terjadinya perpindahan penduduk dari desa ke kota. Perbandingan penduduk desa-kota di Indonesia pada tahun 2000 saja jauh berbeda apabila di bandingkan dengan perbandingan penduduk desa-kota di Indonesia pada tahun 1980(22,7% Kota: 82.72% Desa) ,yaitu 42,42% Kota : 57,58% Desa. Kenaikan angka penduduk di kota harus segera di kurangkan. Sebetulnya perpindahan penduduk dari desa ke kota dalam suatu negara merupakan hal yang wajar, bahkan ada hal positifnya yaitu bertambahnya tenaga kerja untuk perkotaan. Yang menjadi permasalahan adalah apabila perpindahan tersebut terjadi secara berlebihan. Hal tersebut bisa menambah angka pengangguran di kota, hal tersebut terjadi karena pekerjaan di kota memerlukan para pekerja yang memiliki kemampuan(skill). Menurut Petersen ada beberapa gejala yang menyebabkan terjadinya migrasi. Gejala Migrasi Menurut Petersen Sumber migrasi Alam dan manusia Negara dan mnanusia Dorongan Ekologis Politik Paksaan Anjuran/Pengusiran Perpindahan Pelarian/perpindahan Kerja paksa/Perbudakan Kuli Kontrak Perilaku Perorangan Perilaku kolektif Peristiwa Massal Membuat kediaman Cita-cita Bebas Berkelompok Keluarga atau perintis individu Urbanisasi Primitif Sebab Sifat Migrasi Jenis migrasi Konservatif Merantau Berkeliling Inovatif Pelarian dari desa

Kenyataanya tingkat pendidikan di desa sangatlah kecil sehingga banyak para imigran yang menjadi pengangguran. Sehingga akan menimbulkan daerah kumuh di kota(slump). Selain

itu, kurangnya pekerja di desa karena perpindahan membuat perekonomian di desa tersebut menurun. Pertanian yang menjadi penggerak perekonomian di desa akan menurun, tentu saja hal tersebut akan memberikan pengaruh ke kota. Jadi, keseimbangan perpindahan penduduk haruslah sangat di jaga. Menurut kami, agar desa semakin maju, yang perlu ditingkatkan kualitasnya adalah pendidikan. Karena dengan pendidikan yang tinggi, maka masyarakat setempat bisa menciptakan sarana dan prasarana untuk kebutuhan yang dibutuhkan sesuai kondisi desa tersebut. Inti dari peningkatan hubungan desa-kota untuk menjadi lebih baik ada di tangan pemerintah. Hal tersebut terjadi karena hubungan antara desa-kota dijalankan sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Tentu saja kebijakan-kebijakan tersebut yang dalam proses awal pembuatannya(Input) harus berdasarkan masukan-masukan dari

masyarakat Indonesia sendiri. Tetapi, yang terjadi di Indonesia adalah kebijakan-kebijakan tersebut terkadang cenderung memihak oknum-oknum tertentu. Praktek korupsi terjadi di dalam pemerintahan Indonesia di tingkat kota maupun desa. Indonesia Corruption Watch (ICW) juga menyebutkan bahwa 60,6% praktek korupsi terjadi di tingkat daerah. Lemahnya kepemimpinan daerah secara sosiologis menyebabkan tata pemerintahan dan kebijakan yang buruk. Jadi, pemerintahan yang baik tentu saja akan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang baik sehingga apabila dikaitkan dengan hubungan desa-kota akan membuat hubungan tersebut lebih baik. Berdasarkan buku Sistem Sosial Indonesia. Bahwa isu kebijakan yang perlu mendapatkan perhatian pembangunan desa-kota, antara lain: Keseimbangan wilayah antara pusat dan daerah melalui otonomi daerah, pengembangan kota menengah, kerjasama pertumbuhan regional. Pelayanan umum dan sosial (distribusi, jumlah, bentuk wilayah). Pelayanan yang selama ini terpusat di kota harus lebih menyebar ke desa. Manajemen pembangunan wilayah. Diperlukaan penataan kembali manajemen pusat dan daerah agar mekanisme pemngelolaan semakin berimbang. Kependudukan (mobilitas desa-kota). Pemerintah perlu memikirkan program oenyebaran penduduk yang lebih tepat dan menarik, yaitu dengan mendorong pembangunan desakota secara merata dan produktif.

-

Kegiatan-kegiatan ekonomi daerah dan kota. Komunikasi dan informasi. Pengelolaan lingkungan. Apabila pemerintah benar-benar mengeluarkan kebijakan sesuai seperti yang di atas

hubungan desa-kota yang lebih baik di masa yang akan datang bukanlah hal yang mustahil untuk diraih. Hal tersebut bisa terjadi apabila dijalankan dengan moral bangsa yang baik dan tentunya pemerintahan yang bebas dari korupsi.

BAB III KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan terhadap interaksi desa-kota dalam bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi tersebut, kami memiliki beberapa argumentatif yang bertujuan untuk menyederhanakan. Jika kita lihat secara sistematis, diantara ketiga hal tersebut memiliki satu hubungan fungsional. Dimana ada saling keterkaitan satu sama lain, yang juga dimiliki oleh interaksi desa-kota. Ini diasumsikan bahwa interaksi desa-kota harmonis yang merupakan tujuan bersama dapat berjalan dengan lancar karena saling ketergantungan. Namun dalam praktiknya, kita melihat ada satu sisi yang sangat mengenaskan. Hal tersebut adalah campur tangan pemerintah yang terlalu jauh dalam interaksi desa-kota ini. Pemerintah seringkali menunjukkan satu „paksaan‟ yang berujung pada tercerminnya integrasi koersif dalam penerapannya. Bentuk „paksaan‟ ini sebenarnya bertujuan untuk mendapatkan satu komunikasi yang lebih baik antara desa-kota. Namun, dengan kondisi seperti ini ada baiknya koersif ini tidak perlu ditekankan, karena diindikasi memiliki dampak yang buruk bagi perkembangan interaksi desa-kota itu sendiri.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1313401211/cuaca-panas http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/354230/ Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 2 Tahun 1980 tentang Pedoman Pembentukan, Pemecahan dan Penghapusan Kelurahan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah Wirutomo, Paus dkk. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 2012

BAB V LAMPIRAN

Jumat, 01 Oktober 2010 Masalah Disparitas Pembangunan Desa-Kota

Oleh: Novri Susan

Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H sudah terlewati yang ditandai oleh fenomena arus mudik (dan balik) mereka yang bekerja di kota-kota besar ke daerah asal. Arus mudik dari Jakarta ke berbagai daerah tercatat sekitar 2,2 juta orang dan jika ditotal pemudik dari kota-kota besar Indonesia ke seluruh pelosok Tanah Air mencapai 15,5 juta orang. Isu menarik dari gejala mudik ini bukan hanya masalah kemacetan lalu lintas saja.Tingginya jumlah pemudik menggambarkan ada masalah mendasar: yaitu urban primacy (terpusatnya populasi di kota) yang menandakan tingkat disparitas pembangunan kota dan desa. Banyaknya sumber daya manusia daerah yang mencari pekerjaan “layak” dan melakukan aktivitas ekonomi di kota besar memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi daerah perdesaan masih tidak optimal. Hal ini berarti pula bahwa otonomi daerah belum mampu mendinamisasi pembangunan ekonomi berbasis pemberdayaan sosial ekonomi perdesaan.

Ketimpangan Desa-Kota

Di atas kertas, sentralisme kekuasaan dan pembangunan yang berlangsung selama sekitar tiga puluh dua tahun mungkin sudah terhapus dan digantikan oleh otonomi daerah.Namun penyakit sentralisme ternyata masih bersemayam kuat di dalam proses pembangunan nasional, yaitu ketimpangan wilayah (spatial ineqiality) yang cukup akut.

Menurut Kanbur dan Venables dalam Spatial Inequality and Development (2005), gejala-gejala dari penyakit ketimpangan wilayah di antaranya adalah masih rendahnya kualitas pendidikan perdesaan, jeleknya fasilitas infrastruktur, aktivitas perbankan yang rendah, kebijakan pembangunan berbasis eksploitasi sumber daya alam semata, sampai tidak tersedianya lapangan

kerja berbasis karakter sosial ekonomi lokal yang mencukupi. Jika dilihat dalam perspektif ekonomis, gejala-gejala penyakit ketimpangan wilayah tersebut berdampak pada rendahnya angka pendapatan. Sebaliknya wilayah kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan, dan kota-kota besar lainnya aktivitas pembangunan mengalami percepatan luar biasa.

Gejala-gejala penyakit ketimpangan wilayah antara kota dan daerah (desa) dalam pembangunan tersebut memiliki sebab-sebab utama. Kalangan ilmuwan sosial menyepakati bahwa penyakit ketimpangan wilayah berpangkal pada rendahnya kualitas kepemimpinan daerah dalam mendorong pembangunan. Bahkan otonomi daerah ditandai oleh terciptanya raja-raja kecil yang giat membangun kekuasaan dinasti lokal dan mengabaikan substansi kekuasaan demokratis. Selain itu, kepemimpinan daerah juga ditandai oleh praktek korupsi yang masih tinggi. Berdasarkan laporan KPK pada tahun 2009 saja ada 19 bupati/ wali kota dan lima gubernur yang menjadi terdakwa praktek tersebut. Indonesia Corruption Watch (ICW) juga menyebutkan bahwa 60,6% praktek korupsi terjadi di tingkat daerah. Lemahnya kepemimpinan daerah secara sosiologis menyebabkan tata pemerintahan dan kebijakan yang buruk. Kebijakan-kebijakan pembangunan daerah pada umumnya masih bersifat pragmatis seperti kebijakan eksploitasi alam besarbesaran demi memacu pendapatan daerah secara instan tanpa diimbangi oleh aktivitas produktif lainnya berbasis pada kreativitas ekonomi daerah.Pembangunan sektor pertanian,yang menjadi ciri aktivitas ekonomi di perdesaan, masih belum didorong oleh kebijakan-kebijakan daerah yang kreatif.

Sebaliknya, fenomena umum yang sering muncul di media massa adalah terpinggirkannya para petani. Pandangan sinis publik selama ini melihat bahwa aktivitas pertanian mungkin dianggap bukan sebagai “ladang basah”bagi pemimpin dan birokrasi lokal untuk dikorupsi. Selain masalah kepemimpinan daerah dan kepemerintahan yang buruk, ketimpangan wilayah juga disebabkan oleh makna publik di daerah terhadap kesempatan berusaha di kota. Kota merupakan area dinamis oleh peredaran uang yang cepat,pusat industri dan jasa, serta gaya hidup modernisme yang dipandang selalu lebih baik dari tradisionalisme desa.

Sebut saja peristiwa sosial ini sebagai makna “kota utopia”masyarakat desa,yaitu tempat segala mimpi tentang kebahagiaan bisa diraih. Begitu kuatnya makna kota sebagai pusat mimpi terhadap perbaikan nasib ekonomi dan gaya hidup bisa jadi adalah warisan Orde Baru.Sentralisme pembangunan kota menyebabkan geliat megah perkotaan, terutama Jakarta, adalah wilayah yang dianggap mampu memberi harapan dan menyelamatkan kemiskinan di desa sehingga sumber daya manusia daerah mengalir ke perkotaan dan kembali ke desa ketika berhari raya saja.

Upaya-Upaya Penanganan

Secara normatif,upaya menanggulangi penyebab dari masalah disparitas pembangunan adalah dengan pemantapan good governance melalui reformasi birokrasi dan meningkatkan partisipasi publik dalam proses politik pembangunan. Secara kultural, makna “kota utopia” perlu ditanggulangi melalui konsep-konsep “desa utopia”, artinya menjadikan desa sebagai tempat terealisasinya mimpi atas hidup sejahtera. Pendidikan adalah kelembagaan yang paling esensial dalam mengubah konstruksi budaya ini, baik dari tingkat dasar sampai menengah atas.

Peran media massa pun menjadi penting berkaitan dengan konstruksi makna gaya hidup melalui tayangan-tayangan yang mengonstruksi budaya adiluhung desa. Untuk menangani sebab-sebab politik dan kultural atas disparitas pembangunan tersebut, sangat diperlukan langkah strategis tingkat daerah dengan menciptakan penyeimbangan pembangunan desakota. Salah satu kunci dari penyeimbangan pembangunan desa adalah penguatan pembangunan pertanian, termasuk di dalamnya peternakan, yang berbasis di perdesaan.

Kebijakan pembangunan pertanian daerah sampai saat ini masih dinilai tidak serius,sebagaimana disebutkan di atas bahwa ada kecenderungan daerah-daerah memilih eksploitasi sumber daya alam daripada memperkuat sektor produktif lainnya seperti pertanian. Ciri lain lemahnya kebijakan penguatan pembangunan pertanian adalah kesulitan akses kredit usaha di kalangan kelompokkelompok usaha pertanian di desa. Walaupun selama ini sudah ada berbagai himbauan agar perbankan memberi kemudahan akses kredit, berdasar pada pengalaman penelitian penulis di lapangan kelompok pertanian masih menemui kesulitan.

Pemerintah daerah belum banyak melakukan intervensi dan improvisasi dalam masalah ini, kecuali ikut melaksanakan program- program pembangunan desa yang diinisiasi dari pusat seperti program PNPM mandiri. Kota dan desa sering kali digambarkan ke dalam dua aktivitas ekonomi berbeda.Kota memiliki aktivitas industri di bidang industri dan jasa.Sedangkan desa memiliki aktivitas ekonomi di bidang pertanian dan tradisionalisme sosial. Tidak ada yang perlu diubah secara substansial dari ciri aktivitas pembangunan di kota dan perdesaan.

Yang penting adalah menangani sebab-sebab dari masalah disparitas pembangunan dan upaya menciptakan penyeimbangan pembangunan desa-kota sehingga fenomena pada tahun-tahun selanjutnya adalah jumlah pemudik tidak terlalu besar karena telah terjadi pemerataan pembangunan sosial ekonomi antara desa dan kota.(*)

URL Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/354230/ Novri Susan Sosiolog Universitas Airlangga, Kandidat PhD di Doshisha University Japan

Gambar 1. Berenang di tengah sampah sungai kota

Gambar 2. Sejumlah anak mandi di Sungai Code, Yogyakarta

Gambar 3. Kota Jakarta di malam hari

Gambar 4. Menanam padi di pedesaan

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->