Anda di halaman 1dari 7

Sejarah Revolusi Rusia

Pada permulaan abad ke-19, keadaan Rusia masih terbelakang dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Masyarakat Rusia pada masa itu terbagi atas dua golongan, yaitu tuan tanah (bangsawan) dan petani (rakyat jelata). Rusia saat itu adalah negara agraris. Sebagian besar penduduknya merupakan petani miskin yang harus tunduk kepada tuan tanah, bahkan menjadi budak dari tuan tanah. Status petani sebagai budak tuan tanah ini diatur dalam Undang-Undang Perbudakan Rusia yang disahkan oleh Tsar Alexis I pada tahun 1646. Perbudakan dihapuskan pada tahun 1861 dengan dikeluarkannya Undang-Undang Emansipasi (Emancipation Edict) oleh Tsar Alexander II. Isi undang-undang tersebut sebagai berikut. 1. Perbudakan dihapuskan. 2. Petani bekas budak mendapat tanah sebagai miliknya. 3. Negara membayar uang kerugian kepada tuan-tuan tanah pemilik budak. Latar belakang Revolusi Rusia Sejak kekalahannya dalam perang melawan Jepang pada tahun 1905, bayangan revolusi selalu tampak di Rusia. Berbagai gerakan rakyat menentang pemerintah ditindas dengan kekerasan senjata. Gerakan tersebut bersifat sporadis dan seberapa pun usahapemerintah untuk menindasnya, gerakan-gerakan serupa selalu muncul. Akhirnya, revolusi sungguh-sungguh terjadi di tengah Perang Dunia ketika Rusia mengalami kekalahankekalahan besar. Sebab-sebab terjadinya revolusi sebagai berikut. a. Pemerintahan Tsar Nicholas II yang reaksioner Ketika negara-negara lain mulai mengakui hak-hak politik bagi warga negaranya, Tsar Nicholas II masih enggan melakukan hal yang sama. Ia memang mengizinkan dibentuknya Duma (daerah perwakilan rakyat Rusia), namun keberadaannya hanya sandiwara belaka. Pemilihan anggota Duma dilakukan dengan pura-pura karena pada praktiknya, anggota Duma adalah orang-orang yang propemerintahan Tsar. Hasil-hasil rapat dan rekomendasi Duma kepada Tsar tidak pernah dihiraukan. b. Susunan pemerintahan Tsar yang buruk Pemerintahan pada masa Tsar Nicholas II tidak disusun secara rasional, melainkan atas dasar favoritisme. Tsar tidak memilih orang-orang yang cakap untuk pemerintahannya, orang-orang yang dipilihnya untuk jabatan-jabatan pemerintahan hanyalah orang-orang yang disukainya. Dalam hal ini, Nicholas II sangat dipengaruhi oleh istrinya, Tsarrina Alexandra. Alexandra sendiri sangat dipengaruhi oleh seorang biarawan yang menyebut dirinya sebagai utusan Tuhan, Grigori Rasputin. Alexandra dan Rasputin adalah orang-orang yang sangat kolot dan benci terhadap segala macam paham baru. c. Perbedaan sosial yang mencolok mata Kondisi kehidupan antara kedua golongan masyarakat di Rusia pada masa itu sangat jauh

perbedaannya. Tsar dan para bangsawan hidup mewah dan kaya raya, sementara rakyat, terutama petani dan buruh, sangat miskin dan sengsara. Bangsawan juga memiliki berbagai macam hak yang tidak dimiliki rakyat, bahkan banyak hak rakyat yang diabaikan. Sekalipun perbudakan telah dihapuskan, para bangsawan tetap memperlakukan rakyat biasa seperti budak dalam kehidupan sehari-hari. d. Persoalan tanah Perubahan kebijakan agraria oleh Menteri Stolypin pada tahun 1906 hanya menghasilkan perubahan tanah-tanah mir menjadi milik perseorangan anggota mir. Di luar mir, masih banyak tanah berukuran luas yang menjadi milik para tuan tanah, baik bangsawan maupun para kulak (petani-petani besar). Tanah-tanah ini dikerjakan oleh para petani kecil (buruh tani). Para buruh tani ini lalu berusaha menuntut tanah yang seharusnya menjadi miliknya. Selain itu penghargaan tuan tanan pada buruh-buruh tani sangat rendah. e. Adanya aliran-aliran yang menentang Tsar Dalam revolusi pada tahun 1905, aliran-aliran yang menentang Tsar dapat ditindas, tetapi tidak lenyap. Mereka melakukan gerakan bawah tanah dan mengumpulkan kekuatan sambil menunggu kesempatan untuk kembali muncul. Aliran-aliran tersebut sebagai berikut. 1) Kaum liberal yang disebut Kadet (Konstitusional Demokrat). Aliran ini menghendaki Rusia menjadi kerajaan yang berundang-undang dasar. 2) Kaum sosialis menghendaki susunan masyarakat yang sosialis serta pemerintahan yang modern dan demokratis. Kaum sosialis merupakan anasir yang revolusioner dan terbagi lagi atas dua aliran: Mensheviks (moderat atau sosial demokrat) dan Bolsheviks (radikal, kemudian berkembang menjadi partai komunis). Golongan Mensheviks dipimpin oleh Georgi Plekhanou yang kemudian digantikan oleh Kerensky. Adapun golongan Bolsheviks dipimpin oleh Lenin dan Trotsky. f. Kekalahan perang Ketika melibatkan diri dalam Perang Dunia I, sebenarnya Rusia tidak mempunyai tujuan perang yang tertentu. Rusia ikut perang karena terikat dan terseret oleh perjanjian-perjanjiannya dengan negara-negara lain, terutama yang tergabung dalam Triple Entente. Keikutsertaan Rusia dalam Perang Dunia I mendapat sambutan dingin dari rakyatnya. Peperangan yang tidak didukung oleh rakyat tentu menghasilkan kekalahan. Kekalahan-kekalahan besar Rusia (pertempuran di Tannenberg dan di sekitar danau-danau wilayah Masuri) semakin mengecewakan hati dan melenyapkan kepercayaan rakyat kepada Tsar. Rakyat mulai jemu pada peperangan dan menginginkan kedamaian. g. Ancaman bahaya kelaparan Lima belas juta warga Rusia dimobilisasi untuk perang. Kesejahteraan mereka harus dijamin penuh oleh negara. Sementara, banyaknya orang yang dikirim ke medan perang berakibat kurangnya tenaga kerja, baik dalam bidang industri maupun pertanian. Macetnya industri dan pertanian ini menimbulkan bahaya kelaparan sebab kurangnya bahan makanan. Perekonomian negara pun menjadi kacau balau.

REVOLUSI RUSIA Revolusi Rusia 1917 adalah sebuah gerakan politik di Rusia yang memuncak pada 1917 dengan penggulingan pemerintahan provinsi yang telah mengganti sistem Tsar Rusia, dan menuju ke pendirian Uni Soviet, yang berakhir sampai keruntuhannya pada 1991.

Revolusi ini dapat dilihat dari dua fase berbeda: 1. REVOLUSI RUSIA FASE PERTAMA (Februari) Revolusi Februari tahun 1917 di Rusia adalah tahap pertama Revolusi Rusia tahun 1917. Aakibat dari revolusi ini adalah abdikasi Tsar Nicholas II, runtuhnya kekaisaran Rusia, dan berakhirnya dinasti Romanov. Pemerintahan provisional, non-Komunis dibawah Pangeran Georgy Lvov menggantukan tsar, Pangeran Lvov lalu diteruskan oleh Alexander Kerensky setelah huru-hara saat hari Juli. Pemerintahan provisional merupakan aliansi antara kaum liberal dan kaum sosialis yang ingin melaksanakan reformasi politik, membuat eksekutif yang dipilih secara demokratis, dan dewan konstituante. 2. REVOLUSI RUSIA FASE KEDUA (Oktober) Revolusi Oktober terjadi pada tanggal 7 November 1917 menurut penanggalan Gregorian di Rusia. Sedangkan menurut penanggalan Julian, peristiwa ini terjadi pada tanggal 25 Oktober 1917, oleh sebab itu revolusi ini disebut Revolusi Oktober karena Rusia saat itu masih memakai Kalender Julian. Pada saat itu kaum komunis Rusia, di bawah pimpinan Lenin, merebut kekuasaan dengan sukses di Petrograd, ibukota Rusia kala itu. Mereka menggulingkan pemerintahan nasionalis di bawah pimpinan Alexander Kerensky yang mulai memerintah sejak bulan Februari. Pemerintahan ini diangkat setelah Tsar Nikolas II dari Rusia turun takhta karena dianggap tidak kompeten. Dengan Revolusi Oktober ini, abad ke-20 memasuki era pertama komunisme. ETIMOLOGI Pertama-tama, revolusi ini disebut sebagai Kebangkitan Oktober atau Kebangkitan ke-25. LATAR BELAKANG Kesengsaraan pekerja dan tentara menyebabkan kekacauan di jalanan yang sering disebut sebagai July Days. Kejadian ini juga disebabkan atas serangan Rusia atas Jerman. Salah satu penyebab lain dari Revolusi Oktober adalah Kornilov Affair. AKIBAT Amerika Serikat yang saat itu sedang menjalankan perjanjian dengan pemimpin Rusia, Tsar Nikolai II, secara otomatis kehilangan perjanjian tersebut karena kaum Bolshevik mengambil alih pemerintahan dan menghilangkan kuasa dari Tsar Rusia saat itu.

Revolusi Rusia adalah istilah kolektif untuk serangkaian revolusi di Rusia pada tahun 1917, yang menghancurkan otokrasi Tsar dan menyebabkan penciptaan dari Uni Soviet . Tsar digulingkan dan diganti oleh pemerintahan sementara dalam revolusi pertama Februari 1917 (Maret dalam kalender Gregorian , yang lebih tua kalender Julian ini digunakan di Rusia pada saat itu). Dalam revolusi kedua, selama bulan Oktober, Pemerintah Sementara telah dihapus dan diganti dengan Bolshevik ( Komunis pemerintah).

PERKEMBANGAN KESADARAN NASIONAL


Kesadaran nasional muncul secara bertahap di Nusantara selama dekade pertama abad kedua puluh, berkembang pesat selama tahun 1930-an perdebatan, dan berkembang, baik secara ideologis dan kelembagaan, selama pendudukan Jepang penuh gejolak di awal 1940-an, yang hancur otoritas kolonial Belanda. Seperti di bagian lain Asia Tenggara kolonial, nasionalisme didahului oleh yang bergaya tradisional resistensi pedesaan. Perang Jawa, bergabung dengan elit puas dan petani, adalah prekursor. Sekitar 1900 pengikut Samin Surantika, seorang mesias pedesaan yang dianut agama sendiri, Ilmu Nabi Adam, perlawanan pasif diselenggarakan di Jawa yang mencakup penolakan untuk membayar pajak atau melakukan jasa buruh. Islam militan lain fokus perlawanan tradisional, terutama di Sumatera. Nasionalisme Indonesia tercermin tren dalam bagian lain di Asia dan Eropa. Para peziarah dan mahasiswa yang kembali dari Timur Tengah membawa ide-ide Islam modernis yang berusaha untuk beradaptasi iman untuk perubahan waktu. Pengaruh lainnya termasuk pendiri Kongres Nasional India pada tahun 1885; perjuangan Filipina untuk kemerdekaan melawan Spanyol dan Amerika Serikat pada 1898-1902; kemenangan Jepang atas Rusia tsar dalam Perang Rusia-Jepang (1904-1905), tantangan utama dengan mitos supremasi kulit putih Eropa, dan keberhasilan Kemal Ataturk dalam menciptakan, modern sekuler Turki setelah Perang Dunia I di atas reruntuhan Kekaisaran Ottoman. Revolusi Rusia tahun 1917 juga memiliki dampak yang mendalam, tercermin dalam pertumbuhan gerakan komunis yang kuat dengan akhir tahun 1920. Kesadaran nasional tidak homogen tetapi mencerminkan keragaman masyarakat Indonesia. Penindasan Belanda dan kejutan perang dari 1942 sampai 1945, bagaimanapun, ditempa beragam kelompok menjadi sesuatu yang menyerupai kesatuan yang utuh.

Munculnya Sarekat organisasi besar Islam [3] akan kembali ke pada awal 1912. Sebuah gerakan murni nasionalis, terutama terdiri dari kaum intelektual, didahului gerakan ini. Di Indonesia pun kekalahan Rusia dalam perang melawan Jepang memiliki efek nasionalis. Nasionalisme ini menyebabkan pembentukan organisasi pribumi pertama politik, Boedi Oetomo [4] , yang awalnya memiliki karakter radikal dan keluar yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Namun, itu tidak sulit bagi pemerintah kolonial dan moralis kolonial untuk latihan pengaruh yang moderat pada organisasi ini, yang menyerah karakter politiknya dan yang mulai melakukan kegiatan itu sendiri terutama dengan hal-hal pendidikan. Unsur-unsur revolusioner sia-sia untuk melawan penurunan ini dan akhirnya menyerah pada panggilan tugas para pemimpin Indo-Eropa asosiasi Insulinde [5] , dengan siapa mereka mulai bentuk baru dari propaganda nasionalis untuk kemerdekaan penuh Indonesia. Pengaruh revolusi Rusia dan Internasional ke-3

Indonesia jauh dari Rusia. Terutama di masa perang informasi tentang perkembangan Revolusi Rusia pada bulan Februari sampai Oktober 1917 sangat miskin. Langsung setelah Februari, Revolusi Rusia adalah tetap merupakan bagian penting dari propaganda yang dilakukan oleh

ISDV Pemerintah kolonial memberikan kontribusi terhadap penetrasi ini propaganda di tengah massa, dan itu jelas bahwa dalam Sarekat Islam sayap kiri secara signifikan diperkuat oleh propaganda ini . Pada kongres yang diadakan oleh gerakan ini pada tahun 1918, sayap kiri ternyata memiliki pengaruh yang dominan. Situasi umum di Indonesia adalah sangat tidak menguntungkan. Kesulitan yang sangat besar terjadi di bidang persediaan makanan. Kapitalisme kolonial membuat keuntungan besar pada saat yang sama. ISDV telah menarik pimpinan Serakat Islam menjadi sebuah aksi bersama di mana mereka berdua menuntut pengurangan perkebunan gula. Dalam program dari Sarekat Islam, perang melawan "kapitalisme berdosa" diindikasikan sebagai salah satu tujuan utama, dan prinsipprinsip perjuangan kelas terus menyebar pengaruh mereka dalam gerakan rakyat Indonesia. Dan meskipun setelah 1918, ketika kesulitan terbesar dikuasai oleh pemerintah dan konsesi tertentu telah dilakukan untuk memenuhi tuntutan kaum proletar bahasa Indonesia, kesulitan muncul antara sayap kiri Sarekat Islam dan pimpinan gerakan, yang akhirnya mengakibatkan unsur-unsur revolusioner yang dikeluarkan pada kongres dari Madijoen dari 1922; namun prinsip-prinsip perjuangan kelas telah sangat menembus gerakan rakyat Indonesia. Dalam penuntutan atas unsur-unsur revolusioner, pemerintah menerapkan sistem, yang masih menggunakan sampai hari ini, yang terdiri dari menghapus para pemimpin gerakan revolusioner, sehingga dengan pengangkatan pemimpin dengan mudah bisa merangkum sisa-sisa gerakan yang . Tapi ini tidak bisa mencegah bahwa praktek sehari-hari kapitalisme menunjukkan tidak ada hal nyata perlunya perjuangan kelas untuk kebanyakan orang Indonesia, juga sebagai akibat dari propaganda yang dilakukan sejak pembentukan Internasional ke-3 di bawah buruh dan petani dari kolonial dan semi-kolonial negara. Untuk alasan ini gerakan rakyat Indonesia tidak berubah dengan sendirinya. Ada tentu saja interaksi yang kuat antara berbagai gerakan yang berbeda namun dalam bentuk yang sama pada intinya, yang dikembangkan antara orang-orang berwarna seluruh dunia dan yang dibawa bersama oleh International ke-3. Di tengah-tengah Revolusi Rusia, perwakilan dari gerakan-gerakan revolusioner datang di kontak dengan satu sama lain. Mereka membahas pengalaman yang telah diperoleh. Dan pimpinan Internasional ke-3 belum ditarik perhatiannya sejenak dalam mempromosikan gerakan revolusioner. Sebaliknya, karena menjadi jelas bahwa perjuangan kelas kaum proletar di negara-negara kapitalis lama hanya bergerak maju menuju revolusi sosial dengan kecepatan yang sangat lambat, gerakan revolusioner di negara-negara kolonial dan semi-kolonial datang lebih dan lebih ke pusat perhatian. Gerakan-gerakan ini juga tidak berkembang dalam garis lurus. Sedangkan beberapa tahun yang lalu, gerakan massa di India Inggris di bawah bimbingan Mahatma Gandhi mengancam akan menjadi bahaya langsung ke dominasi Inggris, ini sekarang benar-benar dinetralkan oleh Inggris dan pusat perjuangan dalam kolonial dan semi- negara kolonial sekarang telah pindah ke Cina. Para pemimpin dari International 3rd menyadari pentingnya ini, karena menjadi jelas dalam laporan oleh Zinoviev [10] , dalam reaksi terhadap serangan besar di pertengahan tahun lalu:

"Saat para pekerja Cina melanjutkan dari tuntutan ekonomi sedang sampai slogan 'turun dengan kaum imperialis', mereka menjadi faktor yang paling penting dari revolusi proletar dunia." Arahan yang jelas bagi negara-negara kolonial yang berbeda datang dari Moskow, yang mengurangi kemungkinan kesalahan serius secara signifikan. Tidak ada kekuasaan di dunia yang bisa mencegah gerakan kolonial menggunakan informasi yang diberikan dari pusat dari revolusi dunia. Di bawah pengaruh Internasional ke-3, setelah kongres 1920, ISDV berubah menjadi Partai Komunis, yang kedua di Jawa dan pada sifat-sifat luar [yaitu, Bahasa Indonesia lain pulau] berusaha untuk memperkuat buruh dan petani sebagai gerakan kekuatan anti-imperialis sadar. Karya ini untuk pengembangan gerakan serikat buruh Indonesia telah dilakukan di seluruh Indonesia. Para birokrat dari IVV niscaya akan dapat menemukan cukup beberapa kekurangan yang valid dalam fungsi organisasi tersebut. Tindakan mereka tidak terkesan gerakan rakyat di negara-negara kolonial dan semi-kolonial. Reformisme mereka tidak memiliki pegangan pada massa proletar, yang merasa eksploitasi oleh para kapitalis yang paling buruk. Bahwa unsur-unsur komunis di Indonesia yang aktif dalam memerangi kapitalisme terbukti oleh banyak pemogokan yang telah diselenggarakan di seluruh Indonesia dan kenyataan bahwa pemogokan membuat kesan pada masyarakat Eropa dalam Indonesia ditunjukkan dengan penuntutan banyak pemimpin dari gerakan pemogokan. Selain itu, gerakan komunis di Indonesia memenuhi tugasnya juga di dessas [sawah], membawa penduduk pertanian untuk melawan imperialisme dan pemerintahan kolonial. Informasi lengkap mengenai propaganda di kalangan petani adalah berlebihan sini karena alasan sederhana bahwa pers harian terus-menerus menerbitkan berita tentang kegiatan kawan-kawan kami. Kami telah menunjukkan bahwa perjuangan batin di dalam gerakan Sarekat Islam telah menyebabkan perpecahan dalam 1922. Sayap kiri, yang berada di bawah kendali komunis, telah mendirikan gerakan Rajat Sarekat, berpose bahaya dua bagian dari gerakan rakyat Indonesia setiap pemborosan energi mereka. Internasional ke-3 telah jelas menunjukkan bahwa harus ada front persatuan antara kedua pihak, yang, sosial berbicara, terdiri dari elemen yang sama. Ini adalah peristiwa asing yang memperkuat pemulihan koneksi ini. Ini latihan pengaruh yang lebih besar dari konflik pribadi yang telah dikembangkan antara Sarekat Rajat dan Sarekat Islam. Perkembangan di negara lain, seperti Cina, Turki dan Maroko, mendorong pimpinan Sarekat Islam untuk menyatakan diri dalam solidaritas dengan perlawanan anti-imperialis yang terjadi di negara-negara. Mereka tidak melihat nilai dalam memperoleh status hukum dari pemerintah. Unsur revolusioner dapat dilihat waktu dan lagi dalam propaganda mereka. Dan meskipun dalam propaganda yang sama, menurut berbagai sumber, unsur agama telah menjadi kuat, kami yakin bahwa kawankawan kami di Indonesia akan berhasil dalam membentuk front persatuan dan mengembalikan persatuan dalam gerakan rakyat. Kolaborasi Internasional ke-3 akan mempercepat proses ini, dan dengan itu akan mendapatkan jauh dalam kekuatan. Ini akan tetap menjadi gerakan murni antiimperialis. Mereka akan terus memfokuskan diri pada kemerdekaan penuh Indonesia. Mereka akan terus melakukan perjuangan kelas melawan kapitalisme di Indonesia dengan memperkuat serikat buruh.

Mereka akan menjaga hubungan dengan gerakan serupa di koloni lain, meskipun semua kesulitan. Mereka, gerakan rakyat Indonesia, akan terus memainkan peran penting dalam perjuangan besar rakyat negara-negara kolonial dan semi-kolonial, dengan mana mereka akan memberikan kontribusi yang besar bagi revolusi dunia proletar.
Akibat revolusi Rusia 1. 2. 3. 4. Bidang pemerintahan: Tsar dihapus, rusia diubah mnjd USSR (Union of Soviet Sosialis Rep) Ekonomi:pertanian dan perindustrian dinaskan; pabrik-pabrik, kantor, bank dan jln KA dinaskan Ideology :kmnmgan kaum Bolshewiki menyebabkan komunisme menyebar ke seluruh dunia Munculnya Demokrasi soviet yaitu demokrasi yang berlandaskan komunisme