Anda di halaman 1dari 4

Ketika seorang ibu membuka pintu rumahnya, datang menghampirinya seorang gadis dengan pakaian yang kumal dan

kumuh. Ibu itu tertegun, karena dibalik kekumuhannya gadis itu tampak sinar kecantikan yang tersembunyi dari wajahnya. Si ibu merasa iba, Nak, dari manakah asalmu? Saya berasal dari perkampungan yang jauh Bu. Lalu kemana tujuan di desa ini? Saya seorang gelandangan miskin. Untuk tetap hidup saya harus mengembara dari pintu ke pintu. Kembali si ibu menatap wajah gadis itu. Kecantikannya tak bisa disembunyikan dari pakaiannya yang jelek dan kumuh. Pasti dia bukan berasal dari sembarangan keluarga, pikir si ibu. Dengan ramah tamah si ibu kemudian menuntun tangan kiri anak gadis itu dan diajaknya masuk ke dalam rumah. Gadis itu diberi pakaian yang bagus dan indah, sekarang makin kentara kecantikannya yang asli. Kau pasti bukan anak seorang miskin. Ujar si ibu. Dahulu, ayah saya memang kaya raya. Ayah saya masih tergolong dari kalangan bangsawan. Namun kemiskinan menimpa kami sehingga saya menjadi gelandangan. Sudahlah jangan kau ratapi nasibmu. Maukah kau kuambil menantu? Saya Bu? Ya, kaukujodohkan dengan anakku yang tampan. Mana saya berani, saya tak pantas Bu Sudah jangan berkata seperti itu. Jangan merendahkan dirimu kepada sesama manusia.

Babaiklah Bu. Saya terima.. Nah begitu anak manis. Demikianah gadis itu kemudian oleh si ibu diterima untuk tinggal di rumahnya. Bahlan diambil menantu, dikawinkan dengan anak lelakinya. Pada hari yang ditentukan dilangsungkanlah pestapernikahan gadis itu dengan si Ibu pemilik rumah. Ketika malam pengantin, duduklah dua sejoli di pelaminan. Di depan mereka tersedia nermacam-macam jamuan makanan. Dengan tangan kirinya pengantin perempuan itu mengambil sepoting kue dan dimasukkan ke mulutnya. Berkali-kali dilakukannya menggunakan tangan kiri. Melihat hal itu, timbullah perasaan malu suaminya. Istriku gunakanlah tangan kananmua agar terlihat sopan, kata sang suami mengingatkan. Namun, meskipun sudah diperingatkan, pengantin wanita itu masih saja menggunakan tangan kirinya setiap mengambil makanan. Karena merasa kesal dan malu suaminya menggerutu dan menghardik. Dasar perempuan miskin yang tak memiliki sopan santun! ucap lelaki itu gusar. Mendengar umpatan suaminya, perempuan itu diam menunduk, raut wajahnya nampak sedih. Sebenarnya apakah yang membuat perempuan itu jika mengambil makanan dengan menggunakan tangan kiri? Ternyata dia tak memiliki tangan kanan. Dan hal itu tak diketahui oleh suaminya. Namun di saat yang genting itu tiba-tiba terdengar bisikan lembut di telinga pengantin perempuan itu; Keluarkanlah tangan kananmu hai umat-Ku. Engkau telah menyedekahkan roti kepada-Ku dengan tanganmu itu. Maka sudah sepantasnya Aku menggantinya kembali.

Atas izin Allah, saat itu terjulurlah tangan kanan pengantin perempuan itu, utuh seperti dulu yang pernah dimilikinya. Perempuan itu sendiri juga terkejut dengan apa yang telah terjadi atas dirinya, kemudian dengan tangan kanannya ia mengambil makanan menemani suaminya makan jamuan malam. Sebenarnya gadis itu adalah seorang putri bangsawan yang sangat kaya raya, parasnya yang cantik, baik pula budi pekertinya. Gadis itu sangat mengasihi sesamanya, berjiwa sosial dan dermawan. Suatu saat di tanah bangsa Israil terjadi musibah kelaparan dan kemiskinan. Rakyat yang miskin berkelana mencari sesuap nasi dengan jalan meminta-minta belas kasihan mereka, orangorang kaya. Pada suatu hari datang seorang minta-minta ke rumah gadis itu. Berilah aku sedekah dengan sepotong roti, tuan putri, kata peminta-minta itu dengan memelas. Melihat keadaan peminta sedekah sudah renta, gadis itu segera keluar dengan membawa sepotong roti di tangan kanannya. Diberikannya roti itu kepadanya orang tua renta peminta-minta itu. Terimalah sedekahku ini pak tua, ujar gadis itu dengan sopan. Namun, ayahnya yang kikir dan bengis itu marah ketika melihat anak gadisnya memberi sepotong roti kepada seorang peminta-minta. Ditampar anak gadisnya dan roti itu dicampakkan. Tidak hanya sampai situ, tangan kanan anak gadisnya yang dipergunakan menyerahkan roti itu ditebasnya dengan sebilah pedang. Kau terlalu lancang, anakku! Dan itulah sebagai hukumanmu! teriak ayah gadis itu dengan bengis. Waktu pun berjalan, nasib orang bagaikan sebuah roda. Kadang di atas dan kadang pula di bawah. Bangsawan yangsemula hidup kaya raya itu berubah menjadi jatuh miskin. Allah telah mengubah nasib bangsawan itu karena sifat kikir dan ketidakmanusiawiannya. Harta kekayaannya musnah, hidupnya sengsara dan akhirnya ia meninggal dalam kemelaratan.

Tinggallah anak gadisnya yang terlantar, mengembara hingga sampai di rumah wanita yang kemudian mengambilnya sebagai menantu itu. Allah telah mengembalikan tangan kanan si gadis itu, yang pernah digunakan untuk memberi sedekah kepada sesamanya.