Anda di halaman 1dari 21

TAKHRIJ HADITS TENTANG KEPEMIMPINAN A. Pendahuluan Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat selalu membutuhkan adanya pemimpin.

Di dalam kehidupan rumah tangga diperlukan adanya pemimpin atau kepala rumah tangga, begitu pula halnya di masjid sehingga shalat berjamaah bisa dilaksanakan dengan adanya orang yang bertindak sebagai imam, bahkan perjalanan yang dilakukan oleh tiga orang muslim, harus mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai pemimpin perjalanan. Ini semua menunjukkan betapa penting kedudukan pemimpin dalam suatu masyarakat, baik dalam skala kecil apalagi skala besar. Untuk tujuan memperbaiki kehidupan yang lebih baik, seorang muslim tidak boleh mengelak dari tugas kepemimpinan. Dalam hadis dijumpai bahwa landasan setiap manusia adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Namun hadis tersebut belum merinci lebih detail siapa saja yang sebenarnya dikatakan sebagai pemimpin dan bagaimana pemimpin itu mengemban tugas dan tanggungjawabnya. Redaksi hadis dapat diketahui dari kalimat kullukum rain wakullukum masulun . Hadis dengan redaksi tersebut dapat dijumpai dalam kitab hadis standar dari shahih Al Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad. Berangkat dari hal tersebut, makalah ini membahas tentang kepemimpinan dalam Islam meliputi siapa yang termasuk sebagai pemimpin dan apa tugas dan tanggung jawabnya. B. Redaksi Sanad dan Matan 1. Jalur Ahmad

:
1


2. Jalur Al Bukhari

: :
C. Penelitian Sanad dan Matn 1. Skema Sanad a. Jalur Ahmad Nabi SAW
Abdullah Ibn Umar Ibn Khatab )(w. 73 H Nafi Mauli Ibn Umar )(w. 117 H Ayub Ibn Abi Tamimah )(w. 131 H

Ismail Ibn Ibrahim )(w. 193 H

Ahmad )(w. 241 H


2

b. Jalur Al Bukhari Nabi SAW


Abdullah Ibn Umar (w. 73 H) Nafi (w. 117 H) Musa ibn Uqbah (w. 141 H)

Abdullah (w. 181 H)

Abdan (w. 221 H)

Al Bukhari (w. 256 H)

Skema sanad jalur Ahmad dan Bukhari bertemu pada Nafi Mauli ibn Umar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam skema sanad adalah sebagai berikut:

Nabi SAW
Abdullah Ibn Umar (w. 73 H) Nafi (w. 117 H)

Ayub Ibn Abi Tamimah (w. 131 H) Musa ibn Uqbah (w. 141 H)

Abdullah (w. 181 H)

Ismail Ibn Ibrahim (w. 193 H)

Abdan (w. 221 H)

Ahmad (w. 241 H)

Al Bukhari (w. 256 H)

2. Penelitian Sanad a. Jalur Ahmad Hadits di atas yang diriwayatkan oleh Ahmad diriwayatkan oleh 4 rawi yaitu Ismail ibn ibrahim, Ayub ibn Abi Tamimah, Nafi Mauli Ibn Umar dan Abdullah Ibn Umar ibn Khattab. Untuk lebih jelasnya tentang ke empat rawi tersebut akan penulis jabarkan sebagai berikut: 1) Ismail bin Ibrahim bin Muqosim Nama lengkapnya Ismail bin Ibrahim bin Muqosim. Diantara gurugurunya antara lain Ibrahim bin Ulai,Ismail bin Abi Kholid,dan Ayub bin Abi Tamimah Kisan.
4

Diantara murid-muridnya yaitu Ibrohim bin Dinar,Ibrohim bin Said,Ahmad bin Ibrohim bin Kasir dan Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asaad. Pendapat ulama tentang periwayatan hadits oleh Ismail bin Ibrahim bin Muqosim : - Yahya bin Muiin : Terpercaya dan mamun. - Muhammad bin Said : Terpercaya dan pendapatnya kuat. - Tsubah bin Hijaj : Ismail seorang pakar hadits. Ia mendapat julukan : Abu Basyar Laqobi ibnu alaih, ia dibesarkan di Basrah dan wafat di Bagdad pada tahun 193 H. b) Ayub bin Abi Tamimah Kisan Dari Ismail bin Ibrahim bin Muqosim, hadits tersebut kemudian dirwayatkan oleh Ayub bin Abi Abi Tamimah Kisan.Ia mendapat julukan Abu Bakar.Ia dibesarkan di Bashrah dan wafat pada tahun 131 H. Diantara gurunya antara lain : Ibrahim bin Misroh, Anas bin Sirin, Jabir bin Ziyad, Hasan bin Abi Hasan Yasar dan Nafi Mauli bin Umar. Murid-muridnya antara lain : Ibrahim bin Thohaman bin Tsubah, Ismail bin Ibrahim bin Muqosim,Jarir bin Hasim bin Zaid,dan Harits bin Umair. Pendapat para ulama tentang periwayatan hadits oleh Ayub bin Abi Tamimah Kisan : - Yahya bin Muin menyatakan Ayub terpercaya. - Muhammad bin Said menyatakan Ayub seorang yang adil. - An Nasai menyatakan Ayub seorang terpercaya dan kuat pendapatnya. c) Nafi Mauli ibn Umar Perawi ketiga ini, nama aslinya adalah Nafi Mauli ibn Umar.Guru-guru beliau yaitu, Ibrahim bin Abdillah bin Hunain,Aslam maula Umar,, Sulaiman bin Yasar (Abu Ayub) dan Abdullah ibn Umar ibn Khattab ibn Nufail (Ibnu Umar). Sedangkan murid-muridnya adalah Aban bin Thariq, Ibrahim bin Said, dan Ayub ibn Tamimah Kisan.

d) Ibnu Umar Nama lengkapnya adalah Abdillah bin Umar bin Khatab bin Nufail.Ia mendapat julukan Abu Abdurrahman.Ia dibesarkan di Madinah dan wafat pada tahun 73 H. Perawi keempat pada hadits di atas nama aslinya yaitu Abdillah bin Umar bin Khatab bin Nufail. Di antara guru-guru beliau adalah : Usamah bin Ziyad bin Harisah bin Syarnabil (Abu Mahmud),Hafsah bin Umar bin Khattab. Sedangkan murid-murid beliau adalah Adam bin Ali,Yazid bin Ataarad,Abu Ajlan dan Nafi Mauli ibn Umar. Pernyataan para kritikus hadits tentang dirinya antara lain: - Al Ajali : Nafi orang yang terpercaya . - An Nasai : Nafi orang yang terpercaya . - Ibnu Harraj : Nafi dapat dipercaya. 2) Jalur Al Bukhari Hadits di atas yang diriwayatkan oleh Al Bukhari diriwayatkan oleh 5 rawi yaitu Abdan, Abdullah, Musa ibn Uqbah, Nafi Mauli Ibn Umar dan Abdullah Ibn Umar ibn Khattab. Untuk lebih jelasnya tentang ke lima rawi tersebut akan penulis jabarkan sebagai berikut: a) Abdan Nama lengkapnya adalah Abdullah ibn Usman bin Jublah ibn Abi Rawad, ia termasuk dari pembesar tabiit tabiin dengan nama kinayahnya Abu Abdurahman dengan laqobnya Abdan. Dibesarkan di Hams dan wafat pada tahun 221 H. Diantara guru-gurunya adalah Jarin ibn Abdul Hamid bin Qirut, Sufyan bin Umayah, Abdullah bin Mubarak bin Wadih, Usman bin Jablah bin Abi Ruwad. Sedangkan murid-muridnya adalah Ahmad ibn Siyar ibn Ayub, Ahmad ibn Abdah, Muhammad ibn Yahya ibn Abdul Aziz. Pendapat para ulama tentang Abdullah ibn Usman bin Jublah ibn Abi Rawad adalah: Muhammad ibn Hamduyah mengatakan ia adalah kredibel dan terpercaya, Ibnu Hiban juga berpendapat dia seorang yang kredibel.
6

b) Abdullah Nama lengkapnya adalah Abdullah ibn Al Mubarak ibn Wadih, dia termasuk dari kalangan tabiin, nama kinayahnya adalah Abu Abdur Rahman, dia dibesarkan di Hams dan meninggal di kota Hiroh pada tahun 181 H. Diantara guru-gurunya adalah Abdan ibn tughlab, Aban ibn Yazid, Musa ibn Uqbah bin Abi Iyas, Musa ibn Umair. Murid-muridnya juga banyak, diantara muridnya adalah Ibrahim ibn Abi Abbas, Abdullah ibn Usman ibn Jablah ibn Abi Ruwad, Abdullah ibn Jafar ibn Ghilan, Abdullah ibn Musalamah ibn Qaad. Sedangkan pendapat para ulama tentang beliau adalah : Ahamd ibn Hambal mengatakan ia adalah orang yang kredibel, Ali ibn Al Madini ia adalah kredibel dan Abu Hatim Ar Razi ia adalah seorang pemimpin yang terpercaya. c) Musa ibn Uqbah Nama lengkapnya yaitu Musa ibn Uqbah bin Abi Iyas, dia termasuk dari kalangan tabiin dengan nama kinayah Ab Muhammad, dia dibesarkan di Madinah dan meninggalnya juga di Madinah pada tahun 181 H. Diantara guru-gurunya adalah Ishaq bin Yahya bin Walid, Hakim ibn Abi Harrah, Salim ibn Abi Umayah, Nafi Mauli ibn Umar. Musa ibn Uqbah bin Abi Iyas juga mempunyai banyak murid diantaranya Ibrahim ibn Thahman ibn Tsubah, Ismail ibn Mubarak ibn Wadih, Muhammad ibn Zabarqan. Pendapat para ulama tentang Musa ibn Uqbah bin Abi Iyas adalah Malik ibn Anas berpendapat ia adalah seorang yang kredibel, Ahmad ibn Hambal, Yahya ibn Muin mengatakan ia adalah kredibel, Muhammad ibn Saad juga mengatakan ia adalah orang yang kredibel terpercaya. d) Nafi Mauli ibn Umar Perawi ketiga ini, nama aslinya adalah Nafi Mauli ibn Umar.Guru-guru beliau yaitu, Ibrahim bin Abdillah bin Hunain,Aslam maula Umar,, Sulaiman bin Yasar (Abu Ayub) dan Abdullah ibn Umar ibn

Khattab ibn Nufail (Ibnu Umar). Sedangkan murid-muridnya adalah Aban bin Thariq, Ibrahim bin Said, dan Ayub ibn Tamimah Kisan. e) Ibnu Umar Nama lengkapnya adalah Abdillah bin Umar bin Khatab bin Nufail.Ia mendapat julukan Abu Abdurrahman.Ia dibesarkan di Madinah dan wafat pada tahun 73 H. Perawi keempat pada hadits di atas nama aslinya yaitu Abdillah bin Umar bin Khatab bin Nufail. Di antara guru-guru beliau adalah : Usamah bin Ziyad bin Harisah bin Syarnabil (Abu Mahmud),Hafsah bin Umar bin Khattab. Sedangkan murid-murid beliau adalah Adam bin Ali,Yazid bin Ataarad, Abu Ajlan dan Nafi Mauli ibn Umar. Pernyataan para kritikus hadits tentang dirinya antara lain: Al Ajali : Nafi orang yang terpercaya, An Nasai : Nafi orang yang terpercaya, Ibnu Harraj : Nafi dapat dipercaya.

2. Kritik Matn Hadits kepemimpinan di atas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al Bukhari memiliki perbedaan redaksi matn, namun secara makna dan kandungannya mempunyai kesamaan yaitu bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Untuk lebih jelasnya tentang perbedaan redaksi matan dapat dilihat dalam tebel berikut :

Imam Ahmad

Al Bukhari

: : :
8

3. Pemahaman Hadits a. Makna Kosa Kata Hadis yang dikaji ini membahas tentang masalah kepemimpinan dalam berbagai posisi dan tingkatannya. Namun sebelum lebih jauh mendalami dari kandungan hadis tersebut, penulis ingin memulai dari penjelasan beberapa kosa kata yang ada. 1) Kata merupakan bentuk isim fa'il dari kata . Menurut Mu'jam Maqayis al-Lugah, kata tersebut memiliki dua makna dasar yaitu memelihara atau mengawasi, dan kembali.1 Sementara menurut Ragib al-Asfahani, pada mulanya kata tersebut berarti memelihara binatang, baik dengan memberikan makanannya maupun dengan melindunginya dari bahaya.2 Dari akar kata itu terbentuklah berbagai kata dengan bermacam-macam makna, tetapi semuanya mengandung makna memelihara dan mengawasi.3 Misalnya kata dapat diartikan dengan penggembala, bisa juga dikonotasikan dengan makna pemimpin, yaitu orang yang mengatur dan memberi pelayanan terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya.4 2) Kata merupakan isim maf'ul dari akar kata yang berarti meminta dan memohon.5 Hanya saja ketika kata tersebut diikuti dengan huruf jar 'an ( ) maka maknanya menjadi "menanyakan", sebagai contoh "menanyakan tentang keadaannya".6 Oleh karena kata pada hadis di atas berarti "ditanya" atau "dimintai pertanggungjawaban" tentang

kepemimpinannya. 3) Kata di dalam hadis tersebut dimaknai sebagai yaitu orang yang diangkat sebagai pemimpin masyarakat. Dengan kata lain adalah orang yang dipercayakan untuk menegakkan atau
Abu al-Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakariya, Mu'jam Maqayis al-Lugah, jil. II (Beirut: Dar alFikr, 1979), h. 409. 2 Abu al-Qasim al-Husain ibn Muhammad al-Ragib al-Asfahani, Mufradat Garib al-Qur'an (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), h. 198. 3 Sahabuddin[et al.], Ensklopedi al-Qur'an; Kajian Kosa Kata, jil. III (Jakarta: Lentera Hati, 2007), h. 829. H. Ambo Asse, Hadis Ahkam; Ibadah, Sosial, & Politik (Makassar, Alauddin University Press, 2009), h. 196. 5 Al-Asfahani, op. cit., h. 250. 6 Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir; Arab-Indonesia Terlengkap, cet. XIV (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), h. 600.
4 1

melaksanakan peraturan/ketentuan (al-hudud) dan menegakkan keadilan di tengah masyarakat.7 b. Pengertian dan Defenisi Pemimpin Bicara soal pemimpin, persepsi yang selama ini memang terbatas hanya pada orang-orang yang memiliki jabatan dalam organisasi/instansi atau lembaga tertentu. Padahal yang disebut pemimpin bukan hanya mereka. Sesungguhnya semua orang adalah pemimpin, sebagaimana ditegaskan dalam hadis di atas. Mulai dari tingkatan pemimpin rakyat (pemerintah) sampai pada tingkatan kepemimpinan di rumah tangga. Bahkan dalam klausa hadis kullukum ra'in tersirat bahwa kepemimpinan itu berlaku pula dalam setiap individu untuk memimpin, mengarahkan, dan menuntun dirinya pada jalan kebaikan dan kebenaran. Atau setidaknya setiap individu harus mengendalikan hawa nafsu, dan mengontrol perilaku atau anggota badannya, yang kesemuanya itu kelak harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.8 Apalagi memang, setiap manusia diciptakan oleh Allah di dunia telah di "lantik" sebagai seorang pejabat yang memiliki tugas ganda sebagaimana disebutkan pada latar belakang di atas yaitu hamba Allah sekaligus menjadi khalifah-Nya. Hal ini kembali mempertegas bahwa manusia sejak ia dilahirkan sudah menjadi pemimpin yang diakui. Karena itulah, pemimpin dapat dimaknai sebagai orang yang diberikan amanah dan kepercayaan oleh Allah untuk melaksanakan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Dengan demikian, setiap orang harus berusaha untuk menjadi pemimpin yang paling baik dalam segala tindakannya tanpa didasari kepentingan pribadi atau kepentingan golongan tertentu sesuai dengan makna kata ra'in dalam hadis tersebut; memelihara, mengawasi, dan atau melayani.

Lihat Ahmad ibn 'Ali ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari, jil. XIII (Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H), h. 113. Ibid., jil. XIII, h. 113. Lihat pula Muh}ammad Syams al-Haq al-'Azim Abadi Abu al-Tayyib, 'Aun al-Ma'bud Syarh Sunan Abi Daud, cet. II, jil. VIII (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, 1415 H), h. 105.
8

10

Terlebih lagi bagi orang yang sudah dipercayakan untuk menjadi pemimpin dalam sebuah kelompok, organisasi, atau wilayah tertentu. Hanya saja, kata pemimpin dalam bahasa Arab sering digunakan dalam beberapa term, yaitu: 1) Term Sebagaimana disebutkan di atas bahwa term al-ra'in pada dasarnya berarti penggembala yang bertugas memelihara binatang, baik dengan memberikan makanannya maupun dengan melindunginya dari bahaya. Namun dalam perkembangan selanjutnya, kata tersebut juga dimaknai "pemimpin", karena tugas pemimpin sebenarnya hampir sama dengan tugas penggembala yaitu memelihara, mengawasi, dan melindungi orang-orang yang dipimpinnya.9 Ini berarti bahwa ketika kata pemimpin disebut dengan term al-ra'in maka itu lebih dikonotasikan pada makna tugas dan tanggung jawab pemimpin tersebut. Lebih jauh lagi, term ri'ayah yang merupakan salah satu bentukan dari akar kata hanya ditemukan satu kali dalam al-Qur'an, yakni pada QS. Al-Hadid [57] : 27. Di dalam ayat tersebut, kata ri'ayah dihubungkan dengan kata ganti/dhamir yang merujuk kepada kata . menurut al-Asfahani, kata ini berarti takut yang disertai dengan usaha memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti. Sehingga seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya harus memiliki kesadaran akan tanggung jawab tersebut sehingga tugasnya dilaksanakan penuh hati-hati, disertai upaya untuk memperbaiki diri sendiri dan orang yang dipimpinnya. 2) Term Kata khalifah berasal dari akar kata yang berarti "di belakang". Dari akar kata tersebut, lahir beberapa kata yang lain, seperti ( pengganti), khilaf (" ) lupa atau keliru", dan khalafa (.) Khusus untuk kata khalifah, secara kebahasaan berarti "pengganti". Makna ini mengacu kepada arti asal, yaitu "di belakang". Disebut khalifah
9

Sahabuddin, op. cit., jil. III, h. 829.

11

karena yang menggantikan selalu berada di belakang atau datang di belakang, sesudah yang digantikan.10 Di dalam al-Qur'an sendiri, kata khalifah disebut pada dua konteks. Pertama, dalam konteks pembicaraan tentang Nabi Adam as.11 Konteks ayat ini menunjukkan bahwa manusia dijadikan khalifah di atas bumi ini bertugas memakmurkannya atau membangunnya sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh Allah sebagai yang menugaskannya. Kedua, di dalam konteks pembicaraan tentang Nabi Daud as.12 Konteks ayat ini menunjukkan bahwa Daud menjadi khalifah yang diberi tugas untuk mengelola wilayah yang terbatas. Melihat penggunaan kata khalifah di dalam kedua ayat tersebut, dapat dipahami bahwa kata ini lebih dikonotasikan pada pemimpin yang diberi kekuasaan untuk mengelola suatu wilayah di bumi. Dalam mengelola wilayah kekuasaan itu, seorang khalifah tidak boleh berbuat sewenang-wenang atau mengikuti hawa nafsunya.13 3) Term Kata amir merupakan bentuk isim fa'il dari akar kata amara yang berarti "memerintahkan atau menguasai".14 Namun pada dasarnya kata amara memiliki lima makna pokok, yaitu "antonim kata larangan, tumbuh atau berkembang, urusan, tanda, dan sesuatu yang menakjubkan Hanya saja, bila merujuk ke al-Qur'an, kata amir tidak pernah ditemukan di sana, yang ada hanya kata ulil amri yang mengarah kepada makna pemimpin, meskipun para ulama berbeda pendapat tentang arti ulil amri tersebut. Ada yang menafsirkan dengan "kepala Negara, pemerintah, dan ulama". Bahkan orang-orang Syi'ah mengartikan ulil amri dengan imamimam mereka yang maksum.15

Sahabuddin, op. cit., jil. II, h. 452. QS. Al-Baqarah [2] : 30. 12 QS. Sad [38] : 26. 13 Lihat QS. Sad [38] : 26, dan QS. Taha [20] : 16. 14 A.W. Munawwir, op. cit., h. 1466. 15 H. A. Djazuli, Fiqh Siyasah; Implementasi Kemaslahatan Ummat dalam Rambu-rambu Syariah (Bogor; Kencana, 2003), h. 91-92.
11

10

12

Namun, sekalipun di dalam al-Qur'an tidak pernah ditemukan, ternyata kata amir itu sendiri sering digunakan dalam beberapa hadis. Misalnya saja, hadis riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah ra.


"Barangsiapa yang mentaatiku maka sungguh ia telah taat kepada Allah, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka sungguh ia telah durhaka kepada Allah. Dan barangsiapa yang taat kepada amir-ku maka sungguh ia telah taat kepadaku, barangsiapa yang durhaka kepada amir-ku maka sungguh ia telah durhaka kepadaku".16 Berdasarkan hadis di atas, term umara atau amir dan ulil amri berkonotasi sama, yakni mereka yang mempunyai urusan dalam kepemimpinan karena memegang kendali masyarakatnya.17 Karena itulah, H.A. Djazuli dalam bukunya Fiqh Siyasah menjelaskan bahwa term amir atau ulil amri dari sisi fiqh dusturi18 adalah ahl al-hal wa al-'aqd, yaitu orang yang memegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan dan atau mempunyai wewenang membuat undang-undang yang mengikat kepada seluruh ummat di dalam hal-hal yang tidak diatur secara tegas oleh al-Qur'an dan hadis.19 4) Term Kata imam merupakan salah bentukan kata dari akar kata yang berarti "pergi menuju, bermaksud kepada, dan menyengaja".20 Akan tetapi menurut Ibn Manzur di dalam Lisan al-'Arab, kata imam mempunyai beberapa arti. Di antaranya berarti setiap orang yang diikuti oleh suatu kaum, baik untuk menuju jalan yang lurus maupun untuk menuju jalan yang sesat. Sebagaimana firman Allah QS. Al-Isra' [17] : 71, Yauma nad'u kulla unasin bi imamihim "ingatlah pada suatu hari Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya". Di samping itu, imam juga berarti misal (contoh, teladan).
Al-Bukhari, op. cit., jil. IV, h. 327. Juhaya S. Praja, Tafsir Hikmah; Seputar Ibadah, Muamalah, Jin, dan Manusia (Bandung; Remaja Rosdakarya, 2000), h. 141. 18 Fiqh Dusturi adalah salah satu bagian dari fiqh siyasah (fiqh dusturi, fiqh mali, fiqh dauli, dan fiqh harbi), yang mengatur hubungan antara warga Negara dengan lembaga Negara yang satu dan warga Negara dengan lembaga Negara yang lain dalam batas-batas administratif suatu Negara. 19 H. A. Djazuli, op. cit., h. 92 & 118. 20 A.W. Munawwir, op. cit., h. 39.
17 16

13

Imam juga dapat berarti "benang yang dibentangkan di atas bangunan untuk dibangun dan guna menyamakan bangunan tersebut.21 Sedangkan Ibn Faris di dalam Maqayis al-Lugah menyebutkan bahwa kata imam memiliki dua makna dasar, yaitu "setiap orang yang diikuti jejaknya dan didahulukan urusannya", karena itulah Rasulullah saw disebut sebagai imam al-aimmah dan khalifah sebagai pemimpin rakyat sering juga disebut imam al-ra'iyyah atau dalam hadis di atas digunakan kata al-imam ala'zam. Di samping itu, menurut Ibn Faris, imam juga berarti "benang untuk meluruskan bangunan".22 Melihat pengertian di atas, juga dengan penggunaan term imam yang dikaitkan dengan ibadah shalat. Di mana, ibadah tersebut melahirkan beberapa makna filosofi, di antaranya kedekatan dengan Tuhan. Dengan kata lain memiliki aspek spiritual. Ibadah tersebut juga mengarah kepada makna jama'ah yang berarti seorang imam haruslah diikuti. Sehingga term imam lebih dikonotasikan sebagai orang yang menempati kedudukan/jabatan yang diadakan untuk mengganti tugas kenabian di dalam memelihara agama dan mengendalikan dunia.23 3. Tanggung Jawab Pemimpin Pemimpin dalam segala aspek, mulai dari yang paling bawah sampai yang paling tinggi, di dalam hadis di atas dikenal dengan istilah atau penggembala. Karena memang tugas dasar atau tanggung jawab seorang pemimpin tidak jauh berbeda dengan tugas penggembala, yaitu memelihara, mengawasi, dan melindungi gembalaannya. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus betul-betul memperhatikan dan berbuat sesuatu sesuai dengan aspirasi rakyatnya. Sebagaimana

diperintahkan oleh Allah swt. "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji,

21

Lihat Muhammad ibn Mukrim ibn Manzur al-Masri, Lisan al-'Arab, jil. XII (Beirut; Dar Sadir,

t.th), h. 22. Lihat Ibn Faris, op. cit., jil. I, h. 28-29. Abu H{asan al-Mawardi, al-Ahkam al-Sultaniyyah wa al-Wilayah al-Diniyyah, cet. III (Mesir; Mustafa al-Asabil Halabi, t.th), h. 5.
23 22

14

kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."24 Ulama tafsir memiliki keragaman pendapat dalam memaknai kata al'adl dan al-ihsan di dalam ayat tersebut. Di antara pendapat tersebut adalah : 1. Al-'adl bermakna tauhid (la ilah illallah), sementara al-ihsan adalah melaksanakan kewajiban (al-faraid}). 2. Al-'adl bermakna kewajiban, sementara al-ihsan adalah ibadah sunnah.

3. Al-'adl bermakna keseimbangan antara yang tersembunyi dan yang tampak, sementara al-ihsan adalah yang tersembunyi jauh lebih baik daripada yang tampak.25 Hanya saja, pemaknaan yang paling tepat untuk kedua kata tersebut, hendaknya kembali ke makna bahasanya. Di mana kata al-'adl berarti "perkara yang di tengah-tengah"26 sehingga ia lebih dikonotasikan pada makna kesimbangan di antara dua sisi. Sedangkan al-ihsan adalah memberikan kebaikan. Dari pengertian bahasa tersebut, tampak jelas bahwa ayat di atas memerintahkan untuk berbuat adil kepada setiap pemimpin apa saja dan dimana saja. Seorang raja misalnya, harus berusaha untuk berbuat seadil-adilnya dan sebijaksana mungkin sesuai dengan perintah Allah SWT. Dalam meminpin rakyatnya sehingga rakyatnya hidup sejahtera. Sebaliknya, apabila raja berlaku semena-mena, selalu bertindak sesuai kemauannya, bukan didasarkan peraturan yang ada, rakyat akan sengsara. Dengan kata lain, pemimpin harus menciptakan keharmonisan antara dirinya dengan rakyatnya sehingga ada timbal balik diantara keduanya.27 Begitu pula para suami, isteri, penggembala dan siapa saja yang memiliki tanggung jawab dalam memimpin harus berusaha untuk berlaku adil dalam kepemimpinannya sehingga ia mendapat kemuliaan sebagaimana janji Allah swt yang diriwayatkan oleh al-Turmuzi dari Abu Sa'id ra.

QS. Al-Nahl [16] : 90. Muhammad ibn 'Ali ibn Muh}ammad al-Syaukani, Fath al-Qadir al-Jami' baina Fanni alRiwayah wa al-Dirayah min 'Ilm al-Tafsir, jil. IV (Beirut: Dar Sadir, t.th), h. 255. 26 A.W. Munawwir, op. cit., 906. 27 Ibn Hajar al-'Asqalani, op. cit., jil. XIII, h. 112.
25

24

15


28

Hadis di atas menjelaskan bahwa orang yang paling dicintai oleh Allah dan paling dekat kedudukannya dengan-Nya adalah pemimpin yang adil. Akan tetapi orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh tempatnya dari-Nya adalah pemimpin yang berlaku aniaya. Dengan demikian, tugas dan fungsi pemimpin tidaklah mudah bahkan hal tersebut adalah sesuatu yang sangat berat. Seorang pemimpin tidak hanya duduk-duduk di kursi empuk sambil memerintah pada bawahannya, tanpa terlibat langsung dalam pekerjaan tersebut secara baik dan efektif. Di samping berlaku adil, pemimpin juga harus menyadari amanah yang telah diberikan Allah kepadanya sehingga dengan kesadaran tersebut, ia akan berusaha memberikan pelayanan yang baik dan menaburkan kerahmatan. Rasulullah saw bersabda:

"Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah, dan sesungguhnya pada hari kiamat akan mendapatkan malu dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak dan melaksanakan tugas kewajibannya dengan baik".29 Karena itu, pemimpin harus selalu menyadari dan bersikap mawas diri dalam menanggung beban amanah. Tidaklah wajar jika ada pemimpin yang dipilih dan diangkat oleh rakyat untuk menerima beban amanah, tapi ia tidak mengucapkan tasbih "subhanallah" atau kalimat hauqalah "la haula wala quwwata illa billah". Namun, ia justru bersujud syukur dan mengadakan "tasyakkuran" pengangkatannya. Padahal, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang patut disyukuri, tetapi ia adalah hal yang wajib dijalankan sebaik-baiknya dengan bimbingan Allah swt dan Rasul-Nya.30 Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab kepemimpinannya, seorang pemimpin harus dapat memahami, menghayati, dan menyelami kondisi
28 29

A.W. Munawwir, op. cit., 906. Muslim al-Qusyairi, op. cit., jil. III, h. 1457. 30 QS. Al-Anfal [8] : 27.

16

jiwa "gembalaannya" yang berbeda-beda. Rakyat/gembalaan memiliki kapasitas dan kapabilitas tersendiri, sehingga pemimpin harus terus menggali dan mengembangkan kualitas pemahaman terhadap rakyatnya yang beragam tersebut dengan perspektif psikologi Islam atau psikologi kenabian. 31 Suatu pelajaran yang berharga dari Rasulullah saw. Agar pemimpin memperhatikan orang-orang yang dipimpinnya yang memiliki kondisi berbedabeda diisyaratkan pada sabda beliau:


"Apabila salah seorang di antara kalian menjadi imam, hendaklah ia meringankan shalatnya. Karena di antara manusia itu ada yang lemah, ada yang sakit, dan adapula yang tua. Apabila kalian shalat sendiri, hendaklah ia shalat menurut yang ia kehendaki".32 Seorang pemimpin hendaknya mempelajari banyak ilmu, selain ilmu psikologi, pemimpin juga hendaknya melengkapi diri dengan pengetahuan sosiologi sebagai ilmu pelengkap untuk dapat menguasai tehnik dan seni memimpin. Pemimpin yang tidak paham dengan kondisi dan eksistensi jiwa rakyatnya, kemungkinan dapat berbuat di luar batas-batas kemanusiaan dengan bertindak sewenang-wenang di luar batas kesanggupan manusia yang dipimpin itu. Oleh karena itu, seorang pemimpin hendaknya jangan menganggap dirinya sebagai manusia super yang bebas berbuat dan memerintah apa saja kepada rakyatnya. Akan tetapi sebaliknya, ia harus berusaha memposisikan dirinya sebagai pelayan dan pengayom masyarakat. Bahkan pemimpin yang tidak mampu memelihara, melindungi, dan mampu memberikan rasa aman terhadap rakyatnya, bukanlah pemimpin sejati yang sejati menurut Islam. Pemimpin yang membuat susah dan sengsara rakyatnya karena tindakan-tindakannya yang sewenang-wenang akan dipersulit

31 32

Rachmat Ramadhana al-Banjari, op. cit., h. 249. Al-Bukhari, op. cit., jil. I, h. 248.

17

dan disengsarakan pula oleh Allah swt. 'Aisyah ra. memberitakan bahwa Rasulullah saw pernah berdoa:


"Ya Allah, siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku lalu mempersulit mereka, maka persulitlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku dan berlemah lembut kepada mereka, maka permudahlah baginya".33 Begitu berat dan besar tanggung jawab seorang pemimpin, sehingga Rasulullah dalam sabdanya di atas yang menjadi kajian utama makalah ini, kembali mengulangi kalimat kullukum ra'in yang diawali dengan huruf peringatan (tanbih) yaitu sebagai bentuk isyarat yang mengingatkan setiap manusia untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan kepemimpinannya karena semua itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah swt.34

33 34

Muslim al-Qusyairi, op. cit., jil. III, h. 1458. Lihat Ibn Hajar al-'Asqalani, op. cit., jil. XIII, h. 113.

18

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas yang berbicara tentang tanggung jawab pemimpin dalam perspektif hadis Nabi khususnya riwayat kullukum ra>'in, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Hadis yang menjadi kajian utama dalam makalah ini, setidaknya diriwayatkan oleh dua Imam hadis yaitu al-Bukhari, dan Ahmad ibn Hanbal. Hanya saja riwayatriwayat dari masing-masing mukharrij tersebut memiliki perbedaan lafal. sehingga ini berarti hadis tersebut diriwayatkan secara maknawi (al-riwayah bi al-ma'na). akan tetapi terlepas dari perbedaan tersebut, penulis tanpa merinci lebih jauh alasannya ingin mempertegas bahwa hadis tersebut berkualitas sahih apalagi diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab sahihnya yang oleh para ulama diakui keabsahannya (asah al-kutub ba'da al-Qur'an). 2. Dari semua jalur hadis yang ada, hadis tersebut hanya diriwayatkan oleh 'Abdullah ibn 'Umar 'ibn al-Khattab yang merupakan salah satu sahabat Nabi yang mulia, dengan memiliki banyak keutamaan, sehingga para sahabat yang lain demikian pula generasi setelahnya sering memuji dan menyebut-nyebut kelebihannya. 3. Pemimpin dalam perspektif hadis Nabi secara khusus, bukan semata-mata orang yang memiliki jabatan atau kedudukan pada suatu lembaga, instansi, dan atau organisasi tertentu. Akan tetapi pemimpin adalah setiap individu yang sejak lahirnya memiliki wilayah kepemimpinan sekalipun hanya dalam skala yang kecil. Kepemimpinan tersebut harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, sehingga seorang pemimpin harus menyadari amanah yang telah dibebankan kepadanya. Dengan kesadaran tersebut, ia akan bersikap adil dan selalu berupaya memelihara, mengawasi, dan melindungi "gembalaannya" sebagaimana kandungan hadis Nabi kullukum ra'in wa kullukum mas'ulun 'an ra'iyyatihi.

19

DAFTAR PUSTAKA

Abu al-Tayyib, Muhammad Syams al-Haq al-'Azim Abadi. 'Aun al-Ma'bud Syarh Sunan Abi Daud. cet. II. Beirut. Dar al-Kutub al-'Ilmiyah. 1415 H. Ahmad, Arifuddin. Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi; Refleksi Pemikiran Prof. Dr. Muhammad Syuhudi Ismail. Jakarta. Renaisan. 2005. Al-Asfahani, Abu al-Qasim al-Husain ibn Muhammad al-Ragib. Mufradat Garib alQur'an. Beirut. Dar al-Fikr. t.th. Al-'Asqalani, Ahmad ibn 'Ali ibn Hajar. Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari. Beirut. Dar al-Ma'rifah. 1379 H. Al-Azadi, Abu Daud Sulaiman ibn al-Asy'as al-Sajastani. Sunan Abi Daud, cet. I. Beirut. Dar ibn Hazm. 1997. Al-Banjari, Rachmat Ramadhana. Prophetic Leadership. Yogyakarta. DIVA Press. 2008. Al-Bukhari, Abu 'Abdillah Muhammad ibn Isma'il. al-Jami' al-Sahih} al-Musnad min Hadis\ Rasulillah Sallallahu 'alaihi wa Sallam wa Sunanihi wa Ayyamihi. Kairo. al-Matba'ah al-Salafiyyah. 1403 H. Al-Dimasyqi, 'Imad al-Din Abu al-Fida' Isma'il ibn Kasir. Tafsir al-Qur'an al-Azim. Kairo. Muassasah Qurtubah. 2000. Al-Khatib, Muhammad 'Ajjaj. Usul al-Hadis; 'Ulumuhu wa Mustalahuhu. Beirut. Dar al-Fikr. 1989. Al-Masri, Muhammad ibn Mukrim ibn Manzur. Lisan al-'Arab. Beirut. Dar Sadir. t.th. Al-Mawardi, Abu Hasan. al-Ahkam al-Sultaniyyah wa al-Wilayah al-Diniyyah. cet. III. Mesir. Mustafa al-Asabil Halibi. t.th. Al-Mizzi, Jamal al-Din Abu Hujjaj Yusuf. Tahzib al-Kamal fi Asma'i al-Rijal. Beirut. Mausu'ah al-Risalah. 1985. Al-Naisaburi, Abu al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj ibn Muslim al-Qusyairi. al-Jami' alSahih. Beirut. Dar Ihya al-Turas al-'Arabi. t.th. Al-Syaukani, Muhammad ibn 'Ali ibn Muhammad. Fath al-Qadir al-Jami' baina Fanni al-Riwayah wa al-Dirayah min 'Ilm al-Tafsir. Beirut. Dar Sadir. t.th. Al-Turmuzi, Abu 'Isa Muhammad ibn 'Isa ibn Saurah. al-Jami' al-Sahih wa Huwa Sunan al-Turmuzi. cet. I. Riyadh. Maktabah al-Ma'arif. 1962. Ambo Asse, H. Hadis Ahkam; Ibadah, Sosial, & Politik. Makassar. Alauddin University Press. 2009. Ambo Dalle, H. Abdurrahman. al-Qaul al-Sadiq fi Ma'rifah al-Khaliq. t.d.
20

Djazuli, H. A. Fiqh Siyasah; Implementasi Kemaslahatan Ummat dalam Rambu-rambu Syariah. Bogor. Kencana. 2003. Ibn Hanbal, Ahmad. al-Musnad. Kairo. Dar al-Hadis. 1995. Ibn Zakariya, Abu al-Husain Ahmad ibn Faris. Mu'jam Maqayis al-Lugah. Beirut. Dar al-Fikr. 1979. Khon, Abdul Majid. Ulumul Hadis. Jakarta. Amzah. 2008. Munawwir, Ahmad Warson. Kamus al-Munawwir; Arab-Indonesia Terlengkap. cet. XIV. Surabaya. Pustaka Progressif. 1997. Praja, Juhaya S. Tafsir Hikmah; Seputar Ibadah, Muamalah, Jin, dan Manusia. Bandung. Remaja Rosdakarya. 2000. Sahabuddin[et.al.]. Ensklopedi al-Qur'an; Kajian Kosakata. Jakarta. Lentera Hati. 2007. Tailor, Robert Bogdan dan Steven J. Introduction to Qualitative Research Methods. New York. John Wiley & Sons. 1975.

21