Anda di halaman 1dari 19

KULTUR Chlorella sp PADA DUA MEDIA BERBEDA

Dosen Pengampu: Dr. Tri Retnaningsih Soeprobowati, MAppSc. Asisten Praktikum: Ruri Twantika Ulfah

Disusun oleh : Monaliza Sekar Rini (24020111130042) Doni Usman (24020111130044) Dearesty Safirah (24020111140070) Gabriela Christy S. (24020111140084)

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pada awalnya pengembangan kultur mikroalga lebih diutamakan untuk penyediaan pakan alami dalam budidaya ikan, udang atau hewan air lainnya. Mikroalga yang dapat dikembangkan dalam kultur untuk pemenuhan makanan alami bagi larva udang atau ikan harus mempunyai bentuk dan ukuran yang sesuai dengan mulut larva udang / ikan ; kandungan gizi tinggi, isi sel padat, dinding sel tipis sehingga mudah diserap, cepat berkembangbiak; memiliki toleransi cukup tinggi terhadap factor lingkungan; tidak mengeluarkan senyawa racun; pergerakan pasif sehingga mudah ditangkap. Kultur mikroalga kemudian dikembangkan untuk difersifikasi sumber makanan untuk manusia. Salah satu contoh yang sudah dikonsumsi untuk manusia adalah Chlorella sp. Keunggulan dari mikroalga adalah kandungan gizinya yang tinggi. Namun kendala dalam budidaya mikroalga adalah biaya produksi yang tinggi. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan upaya guna mendukung pengembangan budidaya tersebut. Potensi lain dari mikroalga adalah untuk bioremediasi. Bioremediasi adalah proses perbaikan lingkungan yang tercemar dengan memanfaatkan organism seperti mikroalga. Upaya yang telah dilakukan antara lain untuk penurunan konsentrasi bahan organik dan logam berat limbah. Langkah awal yang harus dilakukan adalah kultur mikroalga. Guna lebih mengembangkan potensi mikroalga sebagai bioremediator, maka praktikum ini dirancang dengan memberikan perlakuan berbeda pada tiap jenis mikroalga.

Chlorella sp merupakan salah satu contoh mikroalga yang sudah dikultur secara massal untuk pemanfaatan sebagai sumber protein sel tunggal.Chlorella sp ada yang hidup di perairan tawar hingga salinitas 5 ppt, dan Chlorella sp air laut pada salinitas 3,3-4 ppt. Dalam melakukan kultur mikroalga perlu diperhatikan kebutuhan gizi, dalam hal ini makronutrien (C, H, O, N, S, P , K, Ca, Fe, Mg), mikronutrien organic maupun anorganik (Feriklorida, molipden, copper, zinc dan cobalt). Untuk mempertahankan agar zat tersebut tetap tersedia bagi sel, maka perlu ditambahkan chelator, misalnya EDTA.Media yang digunakan dalam pengamatan iniadalah pupuk walne dan limbah tahu 100 ml.

1.2

Rumusan Masalah Bagaimana grafik pertumbuhan Chlorella sp pada dua media berbeda yaitu

pupuk walne dan limbah tahu 100 ml dengan memperhatikan faktor luar seperti pH dan salinitas ?

1.3

Tujuan Membuat kultur mikroalga beberapa spesies mikroalga guna melihat

potensinya untuk biofuel.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Chlorella sp 2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi Nama Chlorella berasal dari zat warna hijau (chlorophyll) yang juga berfungsi sebagai katalisator dalam proses fotosintesis (Steenblock, 2000). Chlorella dikelompokkan kedalam alga hijau yang memiliki jumlah genera sekitar 450 dan jumlah spesies lebih dari 7500. Nama alga hijau diberikan karena zat warna hijau yang dimilikinya sangat tinggi, bahkan melebihi jumlah yang dimiliki oleh beberapa tumbuhan tingkat tinggi. Klasifikasi : Divisi : Class: Ordo: Familia: Genus: Spesies: Chlorophyta Chlorophyceae Chlorococcales Oocystaceae Chlorella Chlorella sp

Bentuk umum sel-sel Chlorella adalah bulat atau elips (bulat telur), termasuk mikroalga bersel tunggal (uniselluler) yang soliter, namun juga dapat dijumpai hidup dalam koloni atau bergerombol. Diameter sel umumnya berkisar antara 2-12 mikron, warna hijau karena pigmennya yang mendominasi adalah klorofil (Bold, 1980). Chlorella merupakan organism eukaryotic (memilikiintisel) dengan dinding sel yang terdiri atas selulosa dan pectin, sedangkan protoplasmanya berbentuk cawan (Isnancetyo dan Kurniastuty, 1995).

Gambar 1. Bentuk umum Chlorella sp. (Sumber: http://www.rbgsyd.nsw.gov.au, 12 Mei 2009)

2.1.2 Habitat dan Ekologi Chlorella Air Laut Chlorella air laut dapat mentolerir salinitas antara 33-40 ppt (Bold Wynne, 1985).Beberapa spesies air laut dapat mentolelir kondisi lingkungan yang relative bervariasi (Hirata, 1981). Tumbuh optimal padasalinitas 25-34 ppt sementara pada salinitas 15 ppt tumbuh lambat dan tidak tumbuh pada salinitas 0 ppt dan 60 ppt. Contoh Chlorella yang hidup di air laut adalah Chlorella vulgaris, Chlorella pyrenoidosa, Chlorella virginica (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1994). Umumnya Chlorella bersifat planktonis yang melayang di dalam perairan, namun beberapa jenis Chlorella juga ditemukan mampu bersimbiosis dengan hewan lain misalnya Hydra dan beberapa Cilliata air tawar seperti Paramacium bursaria (Dolan, 1992). 2.2 Kultur Chlorella sp 2.2.1 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Menurut Bold dan Waynne (1985) Pertumbuhan Chlorella sp dalam kultur di pengaruhi oleh beberapa factor antara lain : Medium, nutrient atau unsur hara , cahaya, Temperatur, Serta salinitas. Medium merupakan tempat hidup bagi kultur chlorella yang pemilihanya di tentukan pada jenis chlorella yang akan di

budidayakan. Kebutuhan nutrient untuk tujuan kultur mikro alga harus tetap terpenuhi melaluikultur mikroalga harus tetap terpenuhi melalui penambahan media pemupukan guna menunjang pertumbuhan mikroalga. Unsur N, P, dan S penting untuk sintesa protein. Unsur K berfungsi dalam metabolisme karbohidrat. Unsur Cl dimanfaatkan untuk aktivitas kloroplas, unsur Fe dan Na berperan dalam pembentukan klorofil, sementara Si dan Ca diperlukan dalam jumlah banyak untuk pembentukan cangkang beberapa jenis fitoplankton (Isnantyo dan Kurniastuty, 1995; Oh-hama dan Miyachi, 1988). Beberapa faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroalga di kultur terbuka antara lain: cahaya, temperatur, tekanan osmosis, pH air, salinitas, kandungan O2 dan aerasi (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995). Cahaya merupakan sumber energi untuk melakukan fotosintesis. Cahaya matahari yang diperlukan oleh mikroalga dapat digantikan dengan lampu TL atau tungsten. Oh-hama dan Miyachi (1988) menyatakan bahwa intensitas cahaya saturasi untuk Chlorella berada pada intensitas 4000 lux. Hal ini menunjukkan bahwa setelah titik intensitas tersebut dicapai, maka fotosintesis tidak lagi meningkat sehubungan dengan peningkatan porsi intensitas cahaya (Basmi, 1995). Kisaran temperatur optimal bagi pertumbuhan Chlorella adalah antara 2530 C (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995). Menurut Taw (1990) untuk kultur Chlorella diperlukan temperatur antara 25-35 oC. Penelitian lain menunjukkan bahwa untuk jenis Chlorella vulgaris dapat beradaptasi pada media kultur dengan temperatur serendah 5oC (Maxwell et al., 1994). Temperatur mempengaruhi proses-proses fisika, kimia, biologi yang berlangsung dalam sel mikroalga. Peningkatan temperatur hingga batas tertentu akan merangsang aktifitas molekul, meningkatnya laju difusi dan juga laju fotosintesis (Sachlan, 1982). Nilai pH medium kultur merupakan faktor pengontrol yang menentukan kemampuan biologis mikroalga dalam memanfaatkan unsur hara. Nilai pH yang terlalu tinggi misalnya, akan mengurangi aktifitas fotosintesis mikroalga (De La Noue dan De Pauw, 1988). Namun menurut Oh-hama dan Miyachi (1988), pada umumnya strain Chlorella
o

mampu bertoleransi terhadap kisaran salinitas dan pH yang cukup lebar. Nielsan (1955) in Prihantini et al. (2005) menyatakan bahwa pH yang sesuai untuk pertumbuhan Chlorella berkisar antara 4,5 9,3. Chlorella sp. memiliki toleransi kisaran salinitas yang tinggi dan dapat hidup pada kisaran salinitas 0-35 ppt (dari air tawar sampai air laut). Chlorella air laut dapat tumbuh baik pada salinitas 15-35 ppt (Hirata, 1981 in Rostini, 2007). Salinitas yang paling optimal bagi pertumbuhan Chlorella air tawar adalah 10-20 ppt sementara untuk Chlorella air laut adalah 25-28 ppt (Isnansetyo dan Kurniastuty,1995). Penambahan skala volume atau scale up pada saat kultur dimaksudkan untuk menghindari stress pada mikroalga akibat jumlah medium yang berlebih. Kondisi ini harus diupayakan untuk disesuaikan dengan aktifitas pertumbuhan dan metabolisme mikroalga.

2.2.2 Fase Pertumbuhan Mikroalga Pertumbuhan mikroalga dalam media kultur dapat diamati dengan melihat pertambahan besar ukuran sel mikroalga atau dengan mengamati pertambahan jumlah sel dalam satuan tertentu. Cara kedua lebih sering digunakan untuk mengetahui pertumbuhan mikroalga dalam media kultur, yaitu dengan menghitung kelimpahan atau kepadatan sel mikroalga dari waktu ke waktu. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995) ada dua cara penghitungan kepadatan mikroalga yaitu menggunakan sedgwich rafter dan menggunakan haemocytometer. Penggunaan haemocytometer untuk menghitung kepadatan sel mikroalga lebih sering digunakan dibandingkan sedgwich rafter karena faktor kemudahannya. Selama pertumbuhannya mikroalga dapat mengalami beberapa fase pertumbuhan (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995), yaitu: (1) Fase Lag (istirahat) Dimulai setelah penambahan inokulum ke dalam media kultur hingga beberapa saat sesudahnya. Pada fase ini peningkatan paling signifikan terlihat pada ukuran sel karena secara fisiologis mikroalga menjadi sangat aktif. Proses sintesis

protein baru juga terjadi dalam fase ini. Metabolisme berjalan tetapi pembelahan sel belum terjadi sehingga kepadatan sel belum meningkat karena mikroalga masih melakukan adaptasi dengan lingkungan baru tempatnya berada. (2) Fase Logaritmik (log) atau Eksponensial Fase ini dimulai dengan pembelahan sel dengan laju pertumbuhan yang meningkat secara intensif. Bila kondisi kultur optimum maka laju pertumbuhan pada fase ini dapat mencapai nilai maksimal dan pola laju pertumbuhan dapat digambarkan dengan kurva logaritmik. Pada fase ini merupakan fase terbaik untuk memanen mikroalga untuk keperlua pakan ikan atau industri. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995), Chlorella sp. dapat mencapai fase ini dalam waktu 4-6 hari. (3) Fase Penurunan Laju Pertumbuhan Pembelahan sel tetap terjadi pada fase ini, namun tidak seintensif fase sebelumnya, sehingga laju pertumbuhan juga mengalami penurunan dibandingkan fase sebelumnya. (4) Fase Stasioner Pada fase ini laju reproduksi dan laju kematian relatif sama. Penambahan dan pengurangan jumlah mikroalga seimbang sehingga kepadatannya relatif tetap (stasioner). (5) Fase Kematian Fase ini ditandai dengan laju kematian yang lebih besar daripada laju reproduksi sehingga jumlah sel mengalami penurunan secara geometrik. Penurunan kepadatan sel fitoplankton ditandai dengan perubahan kondisi optimum yang dipengaruhi oleh temperatur, cahaya, pH medium, ketersediaan hara, dan beberapa faktor lain yang saling terkait satu sama lain. Secara skematis pola pertumbuhan mikroalga dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Kurva pertumbuhan mikroalga (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995)

2.2.3 Komposisi Elemen Kimia dari Mikroalga Menurut Oh-Hama dan Miyachi (1988) unsur-unsur kimia utama yang menyusun Chlorella dan Scenedesmus adalah C, O, H, N, P, K, Mg, S, dan Fe. Unsur-unsur non logam (C, O, H, N, dan P) menyusun lebih dari 90% total biomassa dalam bentuk berat kering. Sisanya merupakan unsur-unsur logam (K, Mg, S, Fe, dll).

2.3 Pupuk 2.3.1 Pupuk Walne Pupuk walne adalah media yang secara umum digunakan dalam kultur mikroalga. Tabel 1. Peralatan dan nutrisi yang diperlukan untuk kultur mikroalga Komposisi pupuk walne (1970, dalam CCAp, 2002) Jumlah (untuk 1L media) 20,00 gram 100,00 gram 20,00 gram 45,00 gram Bejana dari gelas volume 2 liter Blower Selang aerasi Refraktosalinometer Alat

2,10 gram 2,00 gram 0,90 gram 2,00 gram 1,30 gram 0,36 gram 33,60 gram Vitamin Vitamin Vitamin H Akuades 10,00 gram 10,00 gram 200,00 g 1.000,00 ml

Batu aerasi Pipet Erlenmeyer Lampu TL 40 watt Handy talky counter Kain saring Timbangan Thermometer Gelas ukur DO meter SRC

2.3.1 Limbah Tahu cair 100 ml Kandungan ampas tahu yaitu protein 8,66%; lemak 3,79%; air 51,63% dan abu 1,21%. Ditinjau dari komposisi kimianya ampas tahu dapat digunakan sebagai sumber protein. Ampas tahu lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan kacang kedelai. Prabowo dkk., (1983) menyatakan bahwa protein ampas tahu mempunyai nilai biologis lebih tinggi daripada protein biji kedelai dalam keadaan mentah, karena bahan ini berasal dari kedelai yang telah dimasak. Ampas tahu juga mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu untuk mikro; Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co kurang dari 1 ppm, Zn lebih dari 50 ppm. Ampas tahu dalam keadaan segar berkadar air sekitar 84,5 % dari bobotnya. Kadar air yang tinggi dapat menyebabkan umur simpannya pendek. Ampas tahu basah tidak tahan disimpan dan akan cepat menjadi asam dan busuk selama 2-3 hari, sehingga ternak tidak menyukai lagi. Ampas tahu kering mengandung air sekitar 10,0 - 15,5 % sehingga umur simpannya lebih lama dibandingkan dengan ampas tahu segar (Widjatmoko,1996).

Tabel 2. Komposisi Nutrisi/Kimia Ampas tahu: Basah (%) Bahan kering Protein Kasar Serat Kasar Lemak kasar Abu BETN 14,69 2,91 3,76 1,39 0,58 6,05 Kering (%) 88,35 23,39 19,44 9,96 4,58 30,48

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

Kurva pengamatan jumlah populasi Chlorella sp selama 14 hari dengan media tumbuh air laut steril serta penambahan pupuk walne dan limbah tahu cair 100 ml pada masing-masing bejana yang berbeda ditunjukkan dengan grafik di bawah ini:
1800000 1600000 1400000 1200000 1000000 800000 600000 400000 200000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah populasi pH salinitas Hari ke

Gambar 3. Grafik pertumbuhan populasi Chlorella sp selama 14 hari dengan pupuk walne

2500000

2000000 Jumlah populasi pH 1000000 salinitas hari ke 500000

1500000

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Gambar 4. Grafik pertumbuhan populasi Chlorella sp selama 14 hari dengan limbah cair tahu 100 ml

Dari grafik-grafik di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan populasi Chlorella sp paling tinggi berada pada media dengan penambahan limbah cair tahu 100ml. Yaitu dengan puncak pertumbuhan 2.320.000 populasi pada hari ke-12, sedangkan pada media dengan penambahan pupuk walne mengalami puncak pertumbuhan populasi sebesar 1.600.000 pada hari ke-7. Selama pengamatan, media tumbuh Chlorella sp berada di luar ruangan, dengan intensitas cahaya penuh dari pagi hingga sore hari (berkisar 12 jam) dan tanpa cahaya pada malam hari (berkisar 12 jam), dengan suplai oksigen secara terusmenerus selama kurun waktu 14 hari menggunakan blower. Proses fotosintesis Chlorella sp. membutuhkan intensitas cahaya rata-rata 4000-3000 lux (Ohama dan Miyachi, 1992). Chlorella sp. membutuhkan temperatur yang tinggi untuk pertumbuhannya. Temperatur optimum untuk pertumbuhan Chlorella sp. adalah 30 C. Pada pengamatan pertumbuhan Chlorella sp, faktor-faktor seperti pH dan

salinitas juga diperhatikan. Untuk pengukuran pH dilakukan lima hari sekali. Sedangkan untuk salinitas dan jumlah populasi dilakukan setiap hari. Terdapat rumus dalam menghitung kepadatan populasi Chlorella sp setelah diamati di bawah mikroskop dengan satu tetes media yang diambil. Berikut adalah rumusnya: jumlah Chlorella sp yang diamati x 40 tetes x 1000 Hasil yang didapat itulah kepadatan julah populasi Chlorella sp. Pada beberapa kelompok lain menggunakan pengali 20 tetes, karena saat awal penambahan spesies mikroalga sebanyak 1 ml (20 tetes), namun untuk kelompok kami menggunakan 2 ml maka dari itu pengalinya 40 tetes. Selain nutrisi ada banyak faktor yang memperngaruhi pertumbuhan Chlorella sp, diantaranya yaitu pH dan salinitas. Berikut adalah tingkat salinitas pada media dengan penambahan pupuk walne maupun limbah tahu cair selama 14 hari:

salinitas
4.5 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 salinitas

Gambar 5. Media dengan pupuk walne

salinitas
4.5 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 salinitas

Gambar 6. Media dengan penambahan limbah cair tahu Salinitas pada kedua media memang tidak terpaut jauh, namun salinitas pada media dengan penambahan limbah cair tahu lebih besar daripada di media dengan penambahan pupuk walne. Menurut Rostini (2005), kenaikan salinitas kultur ini dapat terjadi karena adanya hasil metabolisme sel ataupun pengendapan garam dan nutrien dalam medium. Konsentrasi garam dalam medium meningkat akibat penguapan air laut oleh panas yang berada dekat dengan gelas kultur. Hal ini ditunjukkan dengan ditemukannya endapan garam putih yang terdapat pada permukaan mulut dan dinding gelas kultur bagian atas selama penelitian berlangsung. Salinitas optimal yang disarankan untuk kultur Chlorella sp. yaitu 25-28 ppt (Isnansetyo dan Kurniastuty,1995). Faktor luar lainnya yang diperhatikan selain salinitas adalah pH. Berikut grafik pH selama 14 hari pada kedua media. pH diukur 5 hari sekali

pH
8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 pH

Gambar 7. Perubahan pH pada kedua media adalah sama pH pada kedua media menunjukkan kesamaan yaitu secara perlahan berubah menjadi basa. Rentang hari perubahan pH tersebut sebanding dengan rentang hari perubahan salinitas medium kultur Chlorella sp. Menurut Hladka (1971), pH pertumbuhan yang optimum bagi Chlorella sp. berkisar antara 4,9-7,7, sementara Nielsan (1995) in Prihantini et al. (2005) menyatakan bahwa rentang pH kultur yang terukur tersebut pada rentang pH pertumbuhan yang baik yaitu 4,5 9,3, sementara menurut Basmi et al. (1993), rentang perubahan pH medium kultur antara 7-8 termasuk pada rentang pH perairan dengan produktifitas optimum, yaitu pH 7,5 8,5. Kenaikan pH diduga terjadi seiring dengan kenaikan salinitas kultur yang terjadi dan karena adanya proses pemanfaatan nitrogen dari pupuk oleh sel Chlorella sp. selama penelitian berlangsung. Berdasarkan hasil pengukuran parameter tambahan tersebut maka faktor perubahan temperatur, salinitas, dan pH pada kultur masih berada dalam kondisi yang memungkinkan Chlorella sp. dapat tumbuh dengan baik dan bukan menjadi faktor pembatas utama pertumbuhan kultur. Pertumbuhan Chlorella sp lebih optimal pada media yang ditambahkan limbah tahu karena pada limbah tahu masih terdapat sisa-sisa nutrisi yang dibutuhkan oleh

Chlorella sp. Nutrisi tersebut adalah mineral makro dan mikro. Sedangkan pada walne walaupun mengandung mikronutrien serta makronutrien namun tidak sebanyak yang ada pada nutrient limbah tahu. Oleh sebab itu pertumbuhan Chlorella belum optimal jika disbanding dengan media dengan penambahan limbah tahu. Berikut adalah fase-fase pertumbuhan Chlorella sp pada: Media dengan penambahan walne 1 . Fase pertumbuhan positif pada kultur Chlorella sp. ditunjukkan pada selang hari 1-6 dengan bentuk fase lag dan logaritmik yang sulit untuk ditentukan. 2 . Perbedaan kecenderungan arah pertumbuhan kultur Chlorella sp. mulai terlihat setelah hari 7 yang mengalami kenaikan pertumbuhan paling optimal. 3 . Namun pada hari ke-8 dan ke-9 mengalami penurunan pertumbuhan kembali. Fase ini disebut dengan Penurunan Laju Pertumbuhan. 4 . Mulai hari ke-10 hingga hari ke-12 mengalami kenaikan kembali walaupun tidak mencapai titik pertumbuhan optimal. Bisa dianggap bahwa fase ini adalah fase stasioner. 5 . Pada hari ke-13 dan hari ke-14 mengalami penurunan pertumbuhan kembali. Fase ini disebut fase kematian. Media dengan penambahan limbah cair tahu 100 ml

1 . Fase pertumbuhan positif pada kultur Chlorella sp. ditunjukkan pada selang hari 1-6 dengan bentuk fase yang sulit ditentukan. 2 . Pada hari ke-7 mengalami kenaikan pertumbuhan, walaupun kenaikan ini bukan pertumbuhan optimal pada rentang 14 hari. 3 . Setelah itu mengalami penurunan kembali yang disebut fase penurunan laju pertumbuhan. 4 . Berangsur-angsur pertumbuhan naik kembali dan mencapai pertumbuhan optimal pada kurun waktu 14 hari pada hari ke-12. 5 . Lalu mengalami penurunan yang drastis pada hari ke-13 dan ke-14 yang disebut fase kematian.

BAB III KESIMPULAN

4 . 1 Berangsur-angsur Chlorella membutuhkan makronutrient dan mikronutrient untuk pertumbuhannya. Dalam pengamatan ini menunjukkan bahwa limbah cair tahu adalah media terbaik untuk pertumbuhannya. 4.2 Pada media dengan penambahan walne didapatkan fase pertumbuhan Chlorella sp sbb: hari 1-7 fase lag dan logaritmik, hari 8-9 fase penurunan laju pertumbuhan, hari ke 10-12 fase stasioner, hari ke 13-14 fase kematian. 4.3 Pada media dengan penambahan limbah cair tahu didapatkan fase pertumbuhan Chlorella sp sbb: hari 1-7 fase lag dan logaritmik, hari ke 8 mfase penurunan laju pertumbuhan, hari ke 9-12 fase stasioner, hari ke 13-14 fase kematian.

DAFTAR PUSTAKA