Anda di halaman 1dari 10

SAMBUNGAN GIGI

Sambungan gigi termasuk sambungan tradisional dimana penyaluran gaya tidak menggunakan alat sambung melainkan memanfaatkan luas bidang

kontak.Sambungan gigi banyak ditemui pada titik buhul kuda-kuda dan jembatan rangka kayu dan juga berfungsi untuk meneruskan gaya desak. Gaya desak itu akan membentuk sudut a dengan sumbu batang tepi. Kekuatan sambungan ini mengandalkan kekuatan geseran dan kuat tekan/tarik kayu pada penyelenggaraan sambungan. Kekuatan tarikan atau tekanan pada sambungan bibir lurus di atas ditentukan oleh geseran dan kuat desak tampang sambungan gigi. Dua kekuatan tersebut harus dipilih yang paling lemahuntuk persyaratan kekuatan struktur. Adapun rumus yang dipergunakan adalah: P geser = ijin a b Dimana : ijin = Kuat / tegangan geser ijin kayu tersambung b = lebar kayu a = panjang tampang tergeser

P desak = ijin b t Dimana : ijin = Kuat / tegangan ijin desak kayu tersambung b = lebarkayu t = tebaltampangterdesak

Agar menghasilkan tekanan desak yang ekonomis diusahakan : 1. Sudut bagi luar kedua batang tersebut dibuat sama 2. Tinggi gigi dibuat sekecil mungkin.

Gambar 1 Sambungan Gigi

Macam-macam Bentuk (Model) Sambungan Gigi : 1. Sambungangigitunggal 2. Sambungan gigi rangkap 3. Sambungan gigi dengan pelebaran 4. Sambungan gigi dipertinggi

1. Sambungan Gigi Tunggal Menurut Pasal 16 Ayat 1 PKKI Gesekan antara kayu dengan kayu di dalam perhitungan di abaikan. Syarat dalamnya gigi tm :

tm< 1/4 h untuk a < 50o tm< 1/6 h untuk a < 60o dengan : h = Tinggi batang kayu horisontal a = Sudut antara batang horisontal & diagonal.
S .Cos // .b

Panjang kayu muka lm harus dihitung =

dan lm> 15 cm dengan, S = Gaya batang diagonal. 2

b lm

= Lebar batang horisontal. = Panjang kayu di muka sambungan gigi. = Tegangan ijin geser batang horisontal.

//

Agar dalam perencanaan sambungan gigi memenuhi syarat teknis , maka perlu ditetapkan tinggi yang dibutuhkan dari pada sambungan gigi (tv atau tm). Berdasarkan Gambar, gaya S diuraikan menurut arah kemiringan gigi dan tegak lurus kemiringan giginya, sebagai berikut : N = S . cos 1/2 a tm = tv / cos 1/2 a Jika N sejajar arah serat, maka = ds
//

ds

Tetapi karena pada batang diagonal N membentuk sudut 1/2 a dengan arah serat maka :

dan nilai inilah yang harus dipakai.

Selanjutnya,

Sehingga didapat,

Gambar 2 Sambungan Gigi TunggalMenurut Sudut Bagi Luar.

2. Sambungan Gigi Rangkap Pasal 16 Ayat 2 PKKI menyebutkan bahwa untuk sambungan dengan gigi rangkap dalamnya gigi kedua harus memenuhi syarat seperti pada sambungan gigi tunggal. Disamping itu harus memenuhi pula tm2 - tm1> 1 cm. Dengan membuat gigi rangkap eksentrisitas dapat diperkecil atau dihilangkan sama sekali. Gigi rangkap mempunyai kejelekan, bahwa dalam pelaksanaan oleh tukang-tukang kayu gigi tersebut sering dibuat tidak sesuai ukurannya, sehingga gaya yang dipikul oleh masing-masing gigi tidak sesuai dengan perhitungan kita. Didalam hal ini hendaklah diusahakan agar kedua gigi itu dibebani gaya yang sama besar (atau hanya berbeda sedikit). Disamping itu dipandang dari sudut keamanan, gaya geser H seluruhnya dianggap didukung oleh gigi kedua (yang belakang) saja. Panjang kayu muka, lm2 = Untuk memenuhi syarat : tm2 - tm1> 1 cm dan S1 = S2 , maka gigi kedua tidak dapat dibuat menurut garis bagi sudut luar, melainkan dibuat tegak lurus batang serong.

Gambar 3 Sambungan Gigi RangkapMenurut Sudut Bagi Luar. dengan, b = Garis bagi sudut luar tm= Tinggi gigi miring. tv = Tinggi gigi vertikal. 3. Sambungan Gigi Diperlebar Baik batang horisontal (vertikal) maupun diagonal pada titik buhul itu diperlebar dengan menempatkan papan-papan pelebaran dikedua sisi batang asli. Hubungan antara batang asli yang horisontal (vertikal) dengan papan-papan sambungannya mudah diselesaikan. Untuk menempatkan pelebaran itu cukup digunakan beberapa baut lekat saja, sebab sambungan itu merupakan sambungan desak.

Gambar 4 Sambungan Gigi dengan Pelebaran Menurut Sudut Bagi Luar.

4. Sambungan Gigi Dipertinggi Dengan mempertinggi batang mendatar besarnya tv dapat diperbesar hingga memenuhi syarat-syarat perhitungan. Pekerjaan dan perhitungan menjadi lebih sederhana. Batang-batang mendatar dipertinggi sebesar tv menurut perhitungan, sehingga disini tidak diperlukan pembuatan gigi. Cukuplah sudah jika papan-papan tambahan itu dibuat bentuknya yang sesuai dengan giginya. Sebagai alat sambung dapat dipergunakan kokot, cincin belah, baut biasa, paku, dan sebagainya. Alat-alat sambung itu harus dapat mendukung gaya mendatar H seluruhnya.Kejelekan dari pada cara ini, adalah kayu muka akan menjadi terlalu besar, berhubung besarnya jarak minimum yang dituntut oleh letaknya alat-alat sambung.

Gambar 5 Sambungan Gigi Dipertinggi Menurut Sudut Bagi Luar.

Dalam perhitungan kekuatan sambungan gigi, gesekan antara kayu dengan kayu harus diabaikan. 1. Sambungan Gigi Tunggal Pada sambungan gigi tunggal, dalamnya gigi 1/3 h (h adalah tinggi komponen str. mendatar), panjang kayu muka (lm) : 1,5 h lm 200 mm.Pada bagian pertemuan (takikan), kayu diagonal harus dipotong menyiku dg sudut 90o. Gaya tekan terfaktor (Nu) dpt dihitung dg pers:

Nu a v lm b Fv em

=gaya tekan terfaktor =sudut antara komponen str diagonal thd komp str mendatar.

= factor tahanan geser = 0,75. = factor waktu sesuai jenis pembebanan. = panjang kayu muka. = lebar komponen str mendatar. = kuat geser sejajar serat terkoreksi. = eksentrisitas pada penampang netto akibat adanya coakan sambungan.

2. Sambungan Gigi Rangkap (Majemuk) Apabila gaya tekan terfaktor (Nu) melebihi kemampuan dukung sambungan gigi tunggal, maka dpt dicoba sambungan gigi majemuk/rangkap spt gambar berikut. Sambungan gigi majemuk juga disarankan untuk sudut sambungan melebihi 45o. Pada sambungan gigi majemuk terdapat dua gigi dan dua panjang muka yg masing2 diatur sebagai berikut: Dalamnya gigi pertama, tm1 30 mm Dalamnya gigi kedua, tm2 tm1 + 20 mm dan tm2 1/3 h Panjang kayu muka pertama, lm1 200 mm dan lm1 4 tm1 Gaya tekan terfaktor (Nu) bagian kayu muka pertama: Gaya tekan terfaktor (Nu) bagian kayu muka kedua: Dengan: lm lm1 lm2 em em1 em2 Fm1 Fm2 = panjang kayu muka rerata = panjang kayu muka pertama = panjang kayu muka kedua = eksentrisitas rerata pd pnp netto = eksentrisitas bagian kayu muka pertama = eksentrisitas bagian kayu muka kedua = luas bidang tumpu kayu pertama = luas bidang tumpu kayu kedua

Apabila dalam perhitungan panjang lm terlalu besar, maka ada beberapa macam usaha untuk memenuhi syarat-syarat struktur, yaitu : Dipakai gigi rangkap, Memperlebar batang kayu (setempat saja), Mempertinggi batang kayu (setempat saja), Menggunakan kokot pada bidang takikan

ContohSoal Ditentukan gaya pada batang diagonal 4200 kg, sudut = 35o. Tegangan ijin tekan sejajar serat adalah 85 kg/cm2 dan tegangan ijin tekan tegak lurus serat adalah 25 kg/cm2 Diketahui kayu kelas II, konstruksi terlindung, dan beban permanen). Ukuran batang keduanya adalah 16/16. Hitunglah besar tv dan apakah kayu tersebut layak untuk digunakan? Diketahui : S = 4200 kg = 35o

=85 kg/cm2 // ds =25 kg/cm ds


b = 16 cm Karena menggunakan kayu kelas II makadigunakan rumus:
2

Ditanya : Kontrol tegangan = ? Jawab :

Dipakai Jadi,

Didapat dari daftar 20 pada buku konstruksi kayu hal.168 66,94 kg/cm2 Sehingga didapat,

kg/cm2 Jadi, kg/cm2< 66,94 kg/cm2 sehingga kayu tersebut layak (aman)

untuk digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. MateriKuliahTeknikSipil. Website: http://www.crayonpedia.org/mw/TEKNIK_STRUKTUR_BANGUNAN_DENGAN_ KONSTRUKSI_KAYU_12.2

Anonim. 2011. TeknikStrukturBangunandenganKonstruksiKayu 12.2. Website: http://www.crayonpedia.org/mw/TEKNIK_STRUKTUR_BANGUNAN_DENGAN_ KONSTRUKSI_KAYU_12.2

Anonim. 2006. PerencanaanSambungan Gigi. Website: http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pertemuan%20ke9%20perencanaan%20sambungan%20gigi&source=web&cd=1&sqi=2&ved=0CBcQ FjAA&url=http%3A%2F%2Fbatagem.com%2Fwpcontent%2Fuploads%2F2010%2F01%2FPertemuan-9-Perencanaan-SambunganGigi.ppt&ei=OMymTqWqBMnlrAeGu9nhDQ&usg=AFQjCNEurjj8Bo7pt28mvtiB WKgyduRHWw

10