Anda di halaman 1dari 4

PENGAMATAN MINERAL DENGAN MENGGUNAKAN ORTHOSKOP NIKOL SILANG

Pengamatan mineral dengan menggunakan orthoskop nikol silang dapat diartikan sebagai suatu pengamatan mineral yang menggunakan bagian mikroskop berupa analisator dan polarisator, dimana analisator tegak lurus dengan polarisator.

Dalam pengamatan menggunakan Orthoskop Nikol Silang ini, sifat optiik yang diamati antara lain berupa: Warna Interferensi Diantara nikol bersilang, warna - warna akan dipengaruhi sedemikian rupa menjadi warna yang disebut juga warna interferensi. Warna interferensi dikenal juga sebagai suatu warna yang akibat dari cahaya yang masuk diteruskan melalui analisator kepada si pengamat. Rangkaian warna interferensi dapat dibagi menjadi beberapa orde mulai dari orde yang pertama dan seterusnya. Orde I : Dari hitam ke abu-abu, putih kuning, kuning batang padi, jingga ke merah orde pertama. Disini tidak ada warna biru dan hijau. R = 0 -560 milimikron. Orde II : Dari ungu ke biru cerah, biru kehijauan yang muda, hijau kuning, jingga ke merah orde kedua. Disini warna biru lebih menyolok daripada hijau. Orde III : Dari biru ke hijau cerah, dan kuning ke merah orde tiga. Disini warna hijau lebih menyolok daripada warna biru. Harga R = 1120 1600 milimikron.

Orde IV : Dari hijau ke putih kotor, ke merah orde ke empat. Pada warna interferensi tersebut berangsur semakin cerah atau muda. Birefringence (Bias Rangkap) Cahaya yang masuk kedalam suatu media optic anisotrop akan dibiaskan menjadi 2 sinar, yang bergetar dengan 2 bidang yang saling tegak lurus. Harga bias rangkap merupakan selisih maksimum kedua indeks bias sinar yang bergetar dalam suatu mineral. Selisih maksimum sinar yang bergetar dalam suatu mineral jika sinar yang bergetar adalah sinar yang mempunyai indeks bias maksimum dan indeks bias minimum. Orientasi Optik Merupakan suatu hubungan panjang kristalografi dari suatu mineral dengan sumbu indikatrik (arah getar sinar). Dalam kedudukan sinarnya suatu mineral tahadap dari sumbu

kristalografinya adalah tertentu. Jadi orientasi optiknya pada mineralnya: Orientasi optik length slow, apabila suatu sumbu panjang mineral C sejajar atau hampir sejajar sumbu indikatrik sinar lambat. Orientasi optic length fast apabila suatu sumbu panjang mineral sumbu C sejajar atau hampir sejajar sumbu indikatrik sinar cepat. Addisi merupakan gejala yang terjadi apabila sumbu indikatrik sinar Z mineral sejajar dengan sumb indikatrik sinar Z komparator gejala ini terlihat dengan adanya penambahan warna interverensi (karena bertambahnya retardasi). Subtraksi merupakan gejala yang terjadi apabila sumbu indikatrik sinar Z mineral tegak lurus dengan sumbu indikatrik sinar Z komparator, gejala ini terlihat dengan adanya pengurangan warna interverensi (karena kurangnya retardasi). Pemadaman Pemadaman dapat terjadi apabila sumbu indikatrik (arah getaran sinar) mineral yang sejajar dengan arah getar polalisator atau analisator. Pada pengamatan mineral anisotrop, apabila meja objek diputar 3600 maka terjadi

pengelapan sebanyak 4 kali.Tidak semua mineral memperlihatkan dalam pemadaman yang sempurna, adanya pemadaman yang bintik(misalnya bio tit) dan adanya suatu pemadaman yang sedang bergelombang (misalnya pada kwarsa). Sudut Pemadaman Sayatan mineral mineral anisotrop yang miring terhadap sumbu optiknya biasanya memiliki pemadaman sebanyak 4 kali pada satu kali putaran meja mikroskop, yaitu masing masing terletak pada jarak 90o dari kedudukan padam yang satu dengan kedudukan padam yang lain. Sudut pemadaman adalah suatu sudut yang dibentuk oleh sumbu panjang kristalografi Sb C dengan sumbu indikatrik mineral (baik sinar cepat atau sinar lambat) Macam macam sudut pemadaman : Pararel Apabila sumbu c sejajar atau tegak lurus dengan sumbu indikatrik mineral. Miring Apabila pemadaman sumbu C membentuk sudut dengan sumbu indikatrik mineral Simetri Jika mineral jadi padam pada kedudukan dimana benang silang membagi sudut yang dibentuk oleh dua arah belahanyang sama besar apabila Sb C membentuk sudut 450 dengan sumbu indikatrik mineral. Kembaran Kembaran merupakan suatu kenampakan pada kristal yang diamati dengan orthoskop nikol silang, justru karena kedudukan sisi kristal dari 2 lembaran yang berdampingannya berbeda dengan demikian kedudukan gelap dan warna interferensi yang nampak pada kedua kembaran tersebut juga berlainan.

Berdasarkan genesanya kembaran terjadi: 1. Kembaran tumbuh (Growth twining)

Karena adanya gangguan pada saat proses kristalisasi. Diperlihatkan dengan lembar lembar kembaran tertentu dan bidang batasnya lurus. 2. Kembaran deformasi (deformation twining)

Kembaran tumbuh merupakan hasil dari proses pertumbuhan dan terbentuk pada waktu kristal sedang bertumbuh, sedangkan kembaran deformasi itu sendiri terbentuk pada kristal yang sudah padat lalu terkena proses deformasi. Berbagai macam bentuk macam kembaran melihat bentuk pola dan kembarannya saja. 1.Albit 2. Karlsbad albit

3.Karslbald

4.Periklin