Anda di halaman 1dari 2

Ada beberapa faktor kemenangan kaum Muslimin pada Perang Badar: 1) Kepatuhan terhadap pusat komando yakni Rosulullah

saw. 2) Adanya pasukan cadangan dengn pola Shufuf (berbaris berlapis-lapis) adapun musuh menerapkan pola Alkar & Alfar (maju mundur). Pasukan Muslimin baris terdepan adalah pasukan bersenjata tombak sedangkan dibaris kedua, para pemanah. 3) Aqidah & keyakinan, terutama karena secara de facto kekuatan kaum Muslimin sangat tak imbang menghadapi musuh. Tujuan nya membebaskan sbanyak mungkin manusia dari kejahiliyahan dan agar dapat menebar dawah dengan leluasa di muka bumi. 4) Moral/mental pasukan yg sangat tinggi. Abdurrahman bin Auf ra. bercerita, disisi kanan kirinya ada 2 remaja. Mereka mengatakan jika berpapasan dengan Abu Jahal, mereka berjanji pada Allah akan membunuhnya walau mereka harus menemui ajal karena bertarung dengannya. Adapun hasil dari peperangan Badar ini antara lain penguasaan jalur ekonomi, kemenangan politik, sosial, dan tasyri Islam (pemberlakuan syariat Islam di wilayah-wilayah yang ditaklukkan). Tetapi bersamaan dengan itu juga ada beberapa ekses/gesekan di kalangan internal: 1) Persoalan pembagian Ghanimah Ghanimah Perang Badar sbb: 150 unta, 10 kuda, berbagai jenis senjata, barang dagang berupa kulit & sutra merah berkualitas, dll. Teknis pembagiannya menjadi masalah apalagi karena Rosulullah saw memang menjanjikannya sebelum berangkat jihad. Posisi stiap pasukan juga terbagi 3, ada yg dekat kemah Rosul saw, ada yg jadi tim pemanah, & ada yg memang bertempur langsung dengan musuh di baris depan sampai berhasil menawan sandera dan ghanimah. Pada awalnya Rosul saw membagi sama rata ghanimah tersebut sesuai QS.8:1. Lalu Rosul menerima ijtihad Abdullah bin Jahsy tentang pola 4/5 dan 1/5 yakni sbb: 4/5 bagian untuk mereka yg bertempur, 1/5 bagian lagi dibagi untuk 4 pihak: Allah RosulNya dan kerabat Nabi; anak yatim; orang miskin; dan ibnus Sabil. Pendapat ini kemudian diperkuat wahyu Allah swt dalam QS.8:41. 2) Persoalan tawanan Perang Pasca Perang Badar, diperoleh 70 sandera. Allah swt menurunkan QS.8:67-69. Para sahabat berbeda pendapat tentang cara perlakuan trhadap mereka. Umar bin Khattab & Saad bin Muadz mengusulkan agar mereka semua dibunuh saja. Adapun Abu Bakar ra usul agar mereka diampuni & diberi

kelonggaran untuk menebus diri mereka. Maka Rosul pun sepakat dan bersabda, Bersikap baiklah kepada para tawanan perang. Ada menantu Rosul diantara tawanan perang itu, bercerita bahwa kaum Muslim memperlakukannya dengan baik, mereka memakan roti lebih sdikit karena berbagi lebih banyak untuk dirinya. Yg lain mengatakan pasukan Muslim bahkan menggotong dirinya dari pertempuran. Istri Nabi juga diizinkan menjenguk tanpa kuatir keamanannya. Biaya utk menebus tawanan berkisar antara 1000-4000 dirham/org, bahkan jika mereka fakir miskin dimerdekakan secara gratis oleh Rosulullah. Ada pula kebijakan mengajarkan baca tulis pada penduduk Madinah sebagai ganti uang tebusan mereka. Zaid bin Tsabit ra termasuk yg menjadi siswanya. Diantara para tawanan itu, ada 2 org kafir yg akhirnya dieksekusi mati. Rosulullah saw menganggap Fauz bin Harits dan Uqbah bin Abi Muith bukanlah tawanan/sandera, melainkan setara penjahat perang. Tetapi Rosul melarang melakukan mutilasi terhadap musuh (tamtsil), misalnya ketika Umar bin Khaththab berencana hendak mencabut gigi depan Suhail bin Umar karena lisannya pernah menyakiti kaum Muslimin. Rosul saw justru mendoakan Suhail semoga mendapat derajat yg baik. Adapun dampak positif yg paling signifikan dari Perang Badar sbb: 1) Keputusan Allah diabadikan dalam QS.Al Anfal Kemenangan kaum Muslimin di Perang Badar justru menjadi asbabun nuzul bagi turunnya Surat Al Anfal. Selain menyelesaikan 2 persoalan diatas, Al Anfal juga banyak membahas tentang urgensi soliditas internal, optimalisasi sumber daya (QS.8:60), keimanan dan kesabaran (QS.8:65), larangan desersi (QS.8:15-16), mengedepan-kan upaya perdamaian daripada berperang (QS.8:61), pentingnya persaudaraan (QS.8:63), urgensi mentaati Rosul (QS.8:20-21). Allah swt juga mengingatkan tentang keadaan orang-orang yang munafik dalam Perang Badar (QS.8:25 dan QS.4:97). 2) Kokohnya kedudukan Rosulullah saw di Jazirah Arab Selain kafir Quraisy, orang-orang Yahudi dan kaum munafiquun juga menjadi semakin gentar pada kepemimpinan Rosulullah saw dan kaum Muslimin. Itulah sebabnya Perang Badar juga sering disebut sebagai Al Furqon karena menjadi pembeda antara yg haq dan yg bathil (QS.8:41). Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/2111418-hikmah-dibalikkemenangan-kaum-muslimin/#ixzz1UMNp30Zs