Status dan Pengendalian Penyakit Jamur Akar Putih pada Sistem Wanatani Berbasis Karet Unggul di Kalimantan Barat1

Ilahang, Budi, G.Wibawa, L. Joshi World Agroforestry Centre (ICRAF SEA)

Latar Belakang Tanaman karet merupakan salah satu komoditi andalan provinsi Kalimantan Barat. Luas areal perkebunan karet di Kalimantan Barat tahun 2005 adalah 464.274 Ha atau 12.9% dari luas perkebunan karet nasional dan merupakan peringkat ke-5 dari provinsi sentra karet di Indonesia (Haris, 2005). Dari total areal tanaman karet yang ada di provinsi Kalimantan Barat sebanyak 94% merupakan perkebunan rakyat, dan sisanya adalah perkebunan negara (PTPN) dan swasta (Lasminingsih, et al., 2005). Permasalahan utama pada perkebunan karet rakyat adalah rendahnya produktivitas hasil yang disebabkan oleh rendahnya adopsi teknologi oleh petani, terutama penggunaan bahan tanam unggul, pemupukan , dan pengendalian penyakit. Jamur akar putih (JAP) yang disebabkan oleh Rigidiporus microporus merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman karet. Menurut Prawirosoemardjo, et al., dalam Situmorang, (2004), daerah yang sering mengalami serangan berat jamur akar putih di Indonesia adalah Riau, Sumatera Barat dan Kalimantan Barat. Penyakit jamur akar putih menimbulkan kematian pada tanaman karet, sehingga serangan penyakit ini akan berpengaruh negatif pada produksi kebun. Menurut hasil perhitungan Situmorang (2004) penurunan produksi karet kering terjadi rata-rata 2.7 kg/pohon atau 54 kg/pohon/20 tahun. Sejak tahun 1995 World Agroforestry Centre (ICRAF), salah satu lembaga riset internasional yang bekerja sama dengan CIRAD-Perancis, GAPKINDO, dan Pusat Penelitian Karet (Balai Penelitian Karet Sembawa), giat melakukan penelitian di bidang wanatanai berbasis karet unggul (Rubber Based Agroforestry System atau RAS) (Wibawa, et al., 2006) di Indonesia (Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, dan Sumatera Barat). Di Kalimantan Barat, kegiatan ini dilakukan di Kabupaten Sanggau, Sekadau dan Sintang. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan produktivitas tanaman karet rakyat, melalui sistem wanatani berbasis karet. Peningkatan produktivitas tanaman karet rakyat dalam kegiatan ini dilakukan dengan implementasi pembangunan berbagai demplot dengan pola RAS di lahan petani (onfarm trial/OFT), pembangunan kebun entres desa/kelompok, pelatihan tentang budidaya dan pengendalian penyakit karet kepada para petani dan petani andalan, serta para penyuluh, yang bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat yang peduli terhadap pengembangan karet rakyat. Kegiatan pelatihan diselenggarakan bekerja sama dengan Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet. Penyakit JAP yang disebabkan oleh R. microporus adalah penyakit tidak hanya menyerang tanaman karet, namun juga menyerang berbagai tanaman tahunan.

1) Makalah disampaikan pada Lokakarya Nasional Jamur Akar Putih Tahun 2006, Pontianak, 30 November

2006.

adalah sistem wanatani kompleks dimana tanaman karet. Demplot-demplot penelitian ini dikategorikan dalam 3 tipe.1 menekankan pada tingkat penyiangan hanya pada baris penanaman karet. Pengendalian alang-alang dilakukan dengan cara penutupan tanah secepatnya sehingga alangalang ternaungi. jengkol. 1996. Penyiangan tanaman karet hanya difokuskan pada barisan tanam karet. P. keladan. tengkawang. falcataria). Makalah ini membahas status serangan Jamur Akar Putih pada tanaman karet pada berbagai sistem wanatani berbasis karet (RAS) dan upaya-upaya pengendalian Jamur Akar Putih di tingkat operasional. dengan kerapatan karet 550 pohon/ha dan kerapatan tanaman non-karet antara 90-250 pohon/ha. sedangkan RAS 1. serangan penyakit JAP pada tanaman karet akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan serangan JAP pada kebun karet monokultur? Langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk mencegah perkembangan penyakit yang mematikan ini. Ketiga.2 merupakan uji berbagai macam klon karet pada kondisi seperti hutan karet.Pertanyaannya adalah apakah dengan pola RAS. RAS 3. yakni: pertama. Bahan dan Metoda Demplot-demplot yang dibangun mempertimbangkan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki oleh petani seperti tenaga kerja dan modal finansial.1 dan RAS 1. tembawang atau sistem wanatani lain yang berbasis kayu atau buah (Penot. RAS 3 ini ditujukan untuk pengembangan karet dalam usaha untuk rehabilitasi lahan yang terdegradasi oleh alang-alang (Imperata cylindrica). Sistem ini sangat intensif. tanaman pangan dan tanaman kayu serta buah-buahan ditanam setelah dilakukan persiapan lahan (tebas-tebangbakar). Kedua. dengan penanaman tanaman sela semusim/pangan selama 2-3 tahun pertama dan tanaman penghasil buah dan kayu (tekam. 2 . setara dengan hutan karet. Sumber data Data yang dipergunakan pada makalah ini berasal dari demplot-demplot RAS yang merupakan penelitian OFT yang dibangun pada tahun 1995. RAS 1. durian) ditanam pada saat pembangunan kebun. dimana bahan tanam karet cabutan (seedling) diganti dengan bahan tanam karet unggul. Untuk itu dilakukan penanaman kombinasi tanaman kacang-kacangan penutup tanah (LCC) dan tanaman cepat tumbuh penghasil kayu untuk pulp (Acacia mangium. 1994. 1997). adalah sistem wanatani kompleks integrasi karet dan tanaman lain dimana kerapatannya sama dengan RAS 2. hutan sekunder. RAS 1. Pola RAS 1 diterapkan pada lahan dengan kondisi awal keragaman hayatinya cukup tinggi (kebun karet tua. RAS 2. langsat.2. Gmelina arborea. 2002 dan 2005. meranti. RAS 1 dibagi dalam beberapa varian yang disebut dengan RAS 1.

1%.0 6.3%. Kabupaten Sanggau 4.1 0. Kabupaten Sanggau Waktu penelitian Pengumpulan data dilakukan sejak tahun 1996 sampai dengan sekarang (2006).0 2. Desa Sungai Mawang. Dusun Embaong.0 0. Sedangkan pada RAS 2 tahun pertama dan kedua belum ada serangan Tingkat kematian pada berbagai RAS akibat JAP 9. Kabupaten Sanggau 5.0 0. Penyakit jamur akar putih mulai menyerang RAS 3 pada umur empat tahun dengan serangan yang cukup kecil yaitu hanya sebesar 0.7%. Kecamatan Parindu. RAS 2. hingga tahun keempat serangan menjadi sebesar 7.0 3.0 1. Kabupaten Sanggau 6. Kecamatan Kapuas.5 0. Serangan baru terjadi pada tahun ke-3 sebesar 0. Kecamatan Parindu. 3 . Dusun Kopar. produksi Hasil dan Pembahasan Serangan JAP berdasarkan tipe RAS: RAS 1.0 0.1 1 2 3 4 Umur (tahun) Gambar 1. Data yang dikumpulkan berupa pertumbuhan karet. mortalitas tanaman karet. Serangan JAP berdasarkan RAS jamur akar putih. penyebab kematian.0 4.0 0. Desa Maringin Jaya.0 0.2 0. Kabupaten Sanggau 2.0 7.3 0. Desa Dosan. Dusun Engkayu. Kecamatan Parindu.0 0. Kecamatan Kapuas. Desa Trimulya.0 7. dan semakin tahun semakin meningkat. dan RAS 3 Gambar 1 memperlihatkan serangan jamur akar putih pada berbagai tipe RAS. Kabupaten Sanggau 3.4 RAS 1 RAS 2 RAS 3 1.0 5. Desa Pana.Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada demplot-demplot on-farm trials yang terdapat di : 1. Desa Sebarra.2%.0 8. Serangan penyakit jamur akar putih pada RAS 1 sudah mulai terlihat pada tahun pertama penanaman sebesar 0. Kecamatan Mukok. Dusun Senunuk.7 Kematian (%) 4.

dengan kondisi sekitar plot adalah hutan karet tua. Vegetasi yang tumbuh kembali di lorong penanaman karet adalah berbagai macam gulma seperti Melasthoma malabathricum.1 40 35 30 25 20 15 10 5 0 1 2 3 4 Umur (tahun) Doncu Laten Loheng Sami Sidon Tinus Tonil Gambar 2. Pada plot Loheng tingkat kematian dan serangan sangat tinggi dibandingkan dengan plot yang lain. Hal ini searah dengan hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa tingkat kematian akibat jamur akar putih pada RAS 1 lebih tinggi dibandingkan dengan RAS 2 dan RAS 3. Kematian yang diakibatkan JAP pada RAS 1. atau lahan hutan yang dikonversi menjadi kebun karet. tingkat kematian pada umur 14 tahun sebesar 0%. rata-rata penyiangan pertahun hanya 2 kali. Plot Loheng berasal dari hutan karet tua 40 tahunan. Tekstur tanah pada plot Loheng lempung berpasir. Tiga lokasi tersebut masih terdapat bekas tunggul pohon yang tidak dibersihkan. Pada plot Doncu. Micania micrantha.1 Serangan cenderung semakin meningkat dengan bertambahnya umur karet. Kematian karet yang diakibatkan jamur akar putih pada RAS 1. Plot ini sangat minim perawatan.1. Hasil penelitian Situmorang (2004) memperlihatkan bahwa kebun karet yang dibangun pada areal bekas alang-alang. Vegetasi di lorong penanaman mencapai 4 meter pada tahun ke 4. sedangkan pada tahun ke 4 tidak ada perawatan sama sekali di baris maupun di lorong penanaman. Sami dan Tinus memperlihatkan serangan jamur akar putih pada tahun keempat antara 1520% . vegetasi yang tumbuh kembali di lorong penanaman didominasi oleh rumput-rumputan dan LCC seperti Centrocema pubescens dan Pueraria javanica. sementara lahan berasal dari hutan karet tua. karena diterapkan di lahan bekas semak dan alang-alang. Plot Doncu. Sami dan Tinus. Kematian yang diakibatkan JAP pada RAS 1. bambu dan Chromolaena odorata.1 Gambar 2 memperlihatkan persentase kematian tanaman karet yang diakibatkan oleh jamur akar putih pada RAS 1. Sedangkan pada RAS 2 dan RAS 3. sebagian terdapat gulma.Menurut Pawirosoemardjo (2004) masalah penyakit jamur akar putih sering timbul pada lahan kebun karet diremajakan. Pemilik ke 3 plot Kematian (%) 4 . kematian karet yang diakibatkan oleh jamur akar putih sangat kecil. RAS 1 diterapkan pada lahan bekas karet tua atau hutan sekunder.

1 RRIC100 0.85 0.1 14. Persentase kematian karet berbagai klon dan bahan tanam cabutan Tahun Penanaman 1 2 3 4 BPM1 0. Tabel 1.8 9.1 Cabutan 0. Berdasarkan atas data ini persepsi petani bahwa tanaman asal seedlint tidak terserang jamur akar putih adalah tidak benar.7 6.0 16.4 11.melakukan pembersihan pada baris penanaman sebanyak 2-4 kali per tahun.0 0. RRIM 600.4 0. RRIC 100. Empat jenis klon PB 260. sedangkan pada bahan tanam asal cabutan mulai terserang pada umur 3 tahun. bahkan pada tahun ke 2. Serangan jamur akar putih mempengaruhi pertumbuhan karet.90 0. Persentase serangan JAP terhadap Hubungan antara klon dan serangan jamur akar putih Data yang dipergunakan pada penelitian ini berasal dari perlakukan RAS 1.0 2.7 Tabel 1 memperlihatkan tingkat kematian akibat jamur putih pada karet klonal lebih tinggi jika dibandingkan pada bahan tanam asal cabutan.80 0.7 9.6 5.0055x + 0. Jamur akar putih mulai menyerang klon RRIC 100 pada umur 1 tahun.5 RRIM600 0.5 14.2 yakni perbandingan klon pada kondisi hutan karet.4 9. Tingkat kematian karet seedling lebih kecil dibandingkan dengan karet klonal.55 0. 5 . Dilakukan pada 4 plot dan setiap plot merupakan ulangan untuk tiap-tiap klon. namun pertumbuhan karet klonal secara signifikan lebih cepat daripada karet asal cabutan (Gambar 4).95 petumbuhan (cm/bulan) 0. dan BPM 1 dibandingkan dengan bahan tanam asal cabutan.0 0.8019 R2 = 0.50 0 5 10 15 20 25 30 35 40 % Jamur akar putih y = -0. rata-rata pembersihan sebanyak 4 kali per tahun.411 Gambar 3.0 1.4 PB 260 0.75 0.65 0. Semakin tinggi kematian tanaman karet yang diakibatkan oleh penyakit jamur akar putih.0 1.60 0.70 0. maka pertumbuhan karet juga semakin lambat dibandingkan dengan pertumbuhan karet pada plot yang serangan JAP-nya rendah (Gambar 3) 0.

0 0. tingkat kematian karet pada empat tahun pertama pada asal lahan hutan karet tua. sangat tinggi sampai dengan 10% jika dibandingkan dengan tanaman karet pada asal lahan yang lain yang hanya dibawah 1%. Persentase kematian akibat jamur putih berdasarkan asal lahan 6 .0 1 2 3 4 Umur (tahun) Hutan karet tua Bawas Alang-alang Resam Gambar 5.0 6. Tingkat kematian akibat jamur akar putih berdasarkan asal lahan 12.2 40 35 30 25 20 15 10 5 0 1 2 3 4 Umur (tahun) Lilit batang (cm) BPM 1 PB 260 RRIC 100 RRIM 600 Cabutan Gambar 4. Berdasarkan data yang ditampilkan pada Gambar 5.0 4. Pertumbuhan karet pada RAS 1.0 8.0 2.Pertumbuhan karet pada RAS 1.0 Kematian (%) 10.2 Hubungan antara kondisi asal lahan penanaman dengan serangan jamur akar putih Menurut Situmorang (2004) asal lahan penanama karet mempengaruhi perkembangan jamur akar putih.

perlakuan pengobatan dilakukan pada semua pohon dengan kandungan bahan kimia (bayleton) dan biologis (Trico-SP). sementara pada lokasi dengan tingkat serangan JAP>10%. Pengulangan pengobatan dilakukan 1-2 kali setiap enam bulan. Upaya-upaya pengendalian jamur akar putih Pengendalian secara kimia dan biologis Pengendalian dilakukan terhadap plot yang sudah terserang jamur akar.9 R = 0. terutama pada tanaman karet yang sudah berproduksi.Hubungan produksi dengan tingkat kematian akibat serangan jamur akar putih Pada grafik di bawah ini memperlihatkan bahwa serangan jamur akar putih akan mempengaruhi produksi kebun. Setiap terjadi peningkatan kematian sebesar 5% akan mengakibatkan turunnya produksi sebesar 89.5791 1500 2 1000 500 0 0 10 20 30 40 50 60 70 Kematian (% ) Grafik 6. sehingga potensi untuk produksi lateks pun akan menurun. Perlakuan pengobatan dengan tingkat serangan JAP<10% dilakukan kasus pohon per pohon dengan pengobatan tanaman tetangga disekitarnya dengan hanya menggunakan bahan kimia (Bayleton). Semakin tinggi serangan jamur akar putih. Cara pengaplikasian Bayleton Bayleton 5 cc/l dicampur dengan air sampai menjadi satu liter. Serangan jamur akar putih mengakibatkan kematian terhadap pohon produksi.886x + 1496. Pemberian bahan kimia dan biologis dilakukan secara bersamaan dengan membagi plot menjadi dua bagian yang relatif sama. maka akan semakin kecil produksi kebun. Hubungan antara produksi lateks dengan serangan jamur akar putih.43 kg/ha/tahun. dan persentase kematian pada tahun tersebut. disiramkan di sekitar pangkal pohon dengan sebelumnya membuat parit keliling agar campuran bayleton tersebut dapat 7 . Hubungan produksi lateks dengan serangan jamur akar putih 2500 Produksi (kg/ha/tahun) 2000 y = -17. Data produksi yang disajikan pada Grafik 6 merupakan data produksi pada tahun kedua sadap.

sedangkan sub plot dengan perlakuan Trico-SP adalah sebesar 8.3% dan Trico-SP sebesar 5. dua tanaman lainnya dicabut dan dipindahkan dan dimanfaatkan oleh petani (ditanam di kebun lain atau di jual). terlebih dahulu dibuat parit keliling radius 0.terserap hingga ke daerah perakaran tanaman.1%. sedangkan. Biji klonal GT1 yang sudah disemai dan berkecambah.1%. Pada setiap titik. Okulasi yang dilakukan pada batang bawah yang ditanam langsung di lapangan dengan jarak tanam 6m x 3m diduga dapat mengurangi serangan JAP karena dan sistem perakaran yang kuat dan sehat. karena pelukaan akan memudahkan terjadinya infeksi penyakit ini. sementara 100gram/pohon diberikan pada pohon yang sudah terserang. kematian karet pada sub plot yang diberi perlakuan bayleton sebesar 5. Dengan relatif rendahnya tingkat kematian setelah satu tahun pengobatan. ditandai dengan adanya tunggul dan lapukan kayu bekas hutan karet tua yang dikonversi menjadi ladang melalui persiapan tebas. Penggunaan 50 gram/pohon diberikan untuk pencegahan serangan JAP pada tanaman saat di polibag dan saat ditanam di lapangan. dua cara pengendalian tersebut sangat diperlukan untuk menahan dan mengontrol serangan JAP. dimana hanya beberapa pohon dengan tetangga terdekatnya yang diobati. sementara untuk tanaman yang sudah menghasilkan. Aplikasi bayleton dan Trico-SP pada semua pohon dalam plot memperlihatkan kematian satu tahun setelah aplikasi sebesar 5. Bahan ini dicampur dengan tanah di polibag dan di lubang tanam. kemudian dipindah ke lapangan dengan jarak tanam 6m x 3m. ditanam tiga kecambah karet yang dipersiapkan sebagai batang bawah untuk diokulasi dengan klon PB 260 pada umur sekitar 6 bulan. 500 ml/pohon (2-3 tahun) dan 1000 ml/pohon > 3 tahun). Berdasarkan umur tanaman.3%. terutama dalam penggabungan penggunaan Trico-SP di tingkat pencegahan dan Bayleton pada pengobatan lebih lanjut. tebang dan bakar. Berdasarkan hasil pengamatan satu tahun setelah aplikasi.5 m dari pangkal pohon yang akan diisi oleh Trico-SP dan ditutup kembali dengan tanah. Gejala awal ditandai dengan munculnya benang-benang (miselia) di perakaran tanaman karet pada hasil okulasi yang dicabut/dipindahkan (OMAT) 8 . Okulasi Langsung Salah satu cara yang diuji untuk mengurangi serangan JAP adalah dengan meminimalkan pelukaan terhadap akar tanaman karet. campuran bayleton tersebut diberikan sebanyak 250 ml/pohon (< 1 tahun). Pengamatan pendahuluan pada potensi JAP di lahan yang digunakan. langsung di tempat. Satu hasil okulasi yang berhasil akan dipelihara sebagai tanaman kebun. Pada perlakuan pengobatan diberikan 1000 ml/pohon yang diulang setiap enam bulan sekali Cara pengaplikasi Trico-SP Bahan berbentuk serbuk yang mengandung Trichoderma sp ini dicoba pada tanaman muda dan sudah menghasilkan. pada kasus pohon per pohon.

0 0.0 0. Pertumbuhan tanaman menurun dengan berkurangnya intensitas sinar radiasi (Lasminingsih et al.0 0.sudah mencapai 10%. seperti yang diuraikan oleh Wijewantha (1964) dalam Situmorang (2004).0 0. ketiga plot berasal dari lahan bekas hutan tua dengan perbedaan asal bahan tanam melalui okulasi langsung dan polibag. sedangkan pada plot Atik dan Baki. cara okuladi langsung di tempat nampaknya memberikan hasil yang cukup menggembirakan karena serangan JAP masih belum terdeteksi. Hal ini dapat disebabkan oleh karena tanaman hasil okulasi langsung tumbuh tanpa stagnasi yang nyata. Untuk itu. tanaman karet sudah terserang JAP mulai umur 9 bulan yang meningkat di bulan berikutnya pada kisaran antara 2-4%.0 2.0 0.0 0. dengan asal bahan tanam polibag. memiliki pangkal dan sistem perakaran yang lebih kuat yang diharapkan mampu menahan serangan jamur akar putih. Persentase kematian yang diakibatkan JAP berdasarkan perbedaan asal bahan tanam Plot Asal bahan tanam Jumlah diamati 50 50 50 pohon Jumlah pohon mati (bulan ke-) 3 6 9 12 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 1 % kematian akibat JAP (bulan ke-) 3 6 9 12 0. Tujuh jenis pohon telah dicoba di tujuh plot percobaan RAS yang terkena JAP.0 Isa Atik Baki Okulasi Langsung Polibag Polibag Pada Tabel diatas.0 2. sehingga menggantinya dengan tanaman baru harus memperhatikan naungan dari karet yang sudah tumbuh. serangan JAP belum nampak (0%) di plot Isa dengan bahan tanam hasil okulasi langsung. Pada tahun pertama. Data yang dikumpulkan dari plot observasi okulasi langsung di atas kemudian dibandingkan dengan hasil pengamatan pada plot yang ditanami dengan tanaman karet dengan bibit yang dipelihara dalam polibag (Tabel 2) Tabel 2 . Sampai dengan umur satu tahun pertama. Pengamatan ini dilanjutkan dengan mengamati jumlah pohon yang mati akibat serangan JAP.0 4. Pemanfaatan titik tanam karet yang mati terserang jamur akar putih Tanaman karet yang mati akibat serangan JAP akan meninggalkan ruang kosong di barisan karet. hasilnya ditunjukkan dengan persentase kemampuan pohon untuk tumbuh dan beradaptasi dengan lingkungan karet.0 0. Pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman karet dan tingkat serangan JAP pada plot di atas akan terus dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lebih rinci perkembangan JAP dan tingkat kematian tanaman karet. penggunaan ruang kosong di barisan karet dapat ditanami dengan pohon kayu atau buah yang mampu tumbuh di bawah naungan karet. 2005). sementara di umur 2 tahun naungan diantara karet sudah terbentuk yang menyebabkan pertumbuhan tanaman pengganti sangat lambat. Tindakan pencegahan terhadap JAP juga telah dilakukan di dua plot ini. yaitu dengan memberi TricoSP sebanyak 25 gram/pohon pada saat penanaman. 9 . seperti dalam Tabel 3.0 0.

0 87. Pohon yang mati akibat JAP dapat digantikan dengan penanaman pohon lain yang mempunyai nilai ekonomi seperti gaharu. atau resam.8 80. walaupun cara kimia menunjukkan hasil lebih efektif daripada biologis pada aplikasi pohon per pohon. Pada RAS 1.7 70. terindak.9 100.6 87. Upaya pengendalian jamur akar putih pada kondisi asal lahan hutan karet dengan penerapan okulasi batang bawah yang ditanam langsung di lahan calon kebun (okulasi di tempat) cukup efektif untuk mengendalikan JAP. terutama di empat plot percobaan. kemudian diikuti secara berturut-turut oleh tengkawang.7 100.5 60.0 78. 100. tengkawang.0 Secara umum.0 Gaharu 95. Pengendalian jamur akar putih sebaiknya dilakukan dengan kombinasi antara cara kimia dan cara biologis.Tabel 3.6 42.5 Jenis Pohon (% hidup) Nangka Pekawai Petai 72.4 Tengkawang 66.0 100.2 86. durian dan pekawai. durian dan pekawai. serangan JAP mulai teramati pada umur 1 tahun. gaharu memiliki persentase tumbuh terbaik berkisar antara 85. KESIMPULAN Kematian tanaman karet yang diakibatkan oleh jamur akar putih lebih tinggi pada kebun yang berasal dari hutan karet tua dibandingkan dengan pada lahan yang berasal dari semak belukar (bera/bawas).6 100.0 Terindak 100.0%.6 66.2 53. dari ketujuh jenis pohon lain yang diamati selama satu tahun di semua plot (Tabel 3). jika dibandingkan dengan RAS 2 dan RAS 3.0 88. Pengendalian JAP dengan cara biologis dilakukan lebih banyak untuk pencegahan perkembangan JAP. 10 .0-100.0 77.0 90.8 66. Persentase tumbuh pohon buah dan kayu selama satu tahun di kondisi wanatani karet Plot Alysius Cacot Indi Laten Lidi Rasyid Sidon Durian 85. Pohon yang dipilih adalah pohon yang toleran terhadap naungan.0 100. sedangkan pada RAS 3. terindak.50 100. Pengamatan lanjutan atas pengujian cara okulasi langsung ini masih terus dilakukan.0 80.9 85. Pola RAS 1 yang banyak memanfaatkan lahan asal karet tua atau hutan sekunder menunjukkan tingkat serangan lebih tinggi. tanaman terdeteksi terserang JAP pada umur empat tahun dalam jumlah sangat kecil.8 76.0 88.

Status dan manajemen pengendalian jamur akar putih di perkebunan karet. 11 . Penot. Program pengembangan kawasan agribisnis berbasis karet rakyat (PROBANGKARA). dan E. ICRAF participatory farmer training for disease assesment and control on rubber in Sanggau and Sintang Distric. Makalah pada Lokakarya Budidaya Karet. 2005. Situmorang. 2004. Balai Penelitian Sembawa. Hanis. Balai Penelitian Sembawa. A. Situmorang.PUSTAKA Budiman. I. Hal : 24-41. S. L. Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat. Klon anjuran untuk wilayah Kalimantan Barat dan pola pengembangannya. 1994.. 2005. Prosiding Pertemuan Teknis. Medan Oktober 2006. Makalah Gelar Teknologi Karet di Sintang 2005. Sistem Wanatani Berbasis Karet (RAS) sebagai alternatif sistem monokultur. G. Pusat Penelitian Karet.van Noordwijk.. general proposal and on farm trial methodology. Manajemen pengendalian penyakit penting dalam upaya mengamankan target produksi karet nasional tahun 2020. Makalah Gelar Teknologi di Sintang Tahun 2005. 2005. Pusat Penelitian Karet. 2004. Prosiding Pertemuan Teknis. Hal : 66-86 Wibawa. M.. A. M. A. Thomas. Joshi. 2006. Hal : 21-45 Penot. Bogor. Improving the productivity of smallholder Rubber Agroforestry Systems: Sustainable alternataives. E. West Kalimantan. Lasmingsih. Pawirosoemardjo. Project frame.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful