Anda di halaman 1dari 5

Pendahuluan Ikan Tuna adalah ikan laut yang terdiri dari beberapa spesies dari family Scombridae, terutama

genus Thunnus. Ikan tuna merupakan jenis ikan dengan kandungan protein yang tinggi dan lemak yang rendah. Tuna mengandung protein antara 22,6 -26,2g/100g daging. Lemak antara 0,2 2,7g/100g daging. Di samping itu, tuna mengandung mineral kalsium, fosfor, besi dan sodium, vitamin A (retinol), dan vitamin B (thiamin, riboflavin dan niasin). Karena hal tersebut maka ikan ini dicari oleh banyak orang sehingga menyebabkan ikan ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Kondisi perairan dan jaring apung Kondisi perairan yang cocok untuk budidaya tuna diantaranya adalah suhu perairan berkisar 15 28oC, perairan budidaya tidak tercemari oleh buangan lumpur sungai, aliran arus laut yang cukup, tingkat penetrasi cahaya yang cukup besar dan tingkat oksigen terlarut yang tinggi. Bentuk jaring apung harus dirubah dari kubus dan segiempat ke bentuk lingkaran untuk menyesuaikan dengan tipe berenang tuna. Satu set jaring apung berukuran panjang 120 m, lebar 50 meter dan kedalaman 30 m untuk jaring apung induk yang dipelihara di laut.

Bentuk pontoon (karamba jaring apung tuna) sebaiknya adalah lingkaran berdiameter 30 40 meter terbuat dan dari plastik polietilene hitam. Ringringnya terapung dipermukaan air dan ditopang dengan tiang penyangga. Tiap 2 jaring dihubungkan dengan pelampung. Adapun jaring bagian dalam yang berisi tuna, mempunyai ukuran mata jaring 60 mm 90 mm dan kedalaman jaring 12 20 meter. Dasar jaring diletakkan berada paling sedikit 5 meter dari permukaan dasar laut. Sementara jaring bagian luar dipakai untuk mencegahnya dari pemangsaan ikan hiu atau untuk mencegah adanya tuna yang terlepas. Ukuran mata jaring luar ini sebesar 150 mm 200 mm. Namun studi terbaru

menyimpulkan bahwa jaring luar tidak diperlukan untuk menghemat ongkos produksi.

Pemeliharaan Calon Induk Calon induk dipelihara sejak masih benih yang berasal dari hasil tangkapan trap net atau trolling net. Benih-benih ini digunakan untuk penelitian dan dipelihara sampai matang gonad-nya. Pemilihan calon induk yang berasal dari benih dan bukan dari induk laut disebabkan karena induk-induk yang berasal dari hasil tangkapan umumnya mati dalam perjalanan atau minimal terluka saat ditangkap. Calon-calon induk ini diberi pakan ikan segar dan ikan es seperti teri, mackerel, horse mackerel dan cumi-cumi tergantung pertumbuhannya. Mackerel umumnya digunakan karena ukurannya yang cocok untuk mulut tuna. Berbagai vitamin dan enzim ditambahkan ke pakan tersebut untuk mendukung pertumbuhannya. Tingkat pemberian pakan sebesar 2-5% berat tubuh pada 1-2 kali perhari, tergantung suhu perairan dan ukuran tubuh. Pakan buatan sementara ini belum digunakan. Studi-studi tentang nutrisi pakan yang cocok buat tuna belum memadai. Melalui pengembangan pakan buatan diharapkan akan memudahkan untuk memasukkan bahan-bahan hormon yang kelak dapat mempercepat pemijahannya.

Pemijahan Adalah hal yang sulit untuk memelihara induk tuna dalam kolam beton sebagaimana induk-induk ikan lainnya karena ukuran tubuhnya yang besar. Oleh karena itu tidak mudah pula untuk dilakukan pemijahan buatan menggunakan manipulasi lingkungan atau pemberian hormon. Pemijahan yang dilakukan sekarang sebatas mengikuti kondisi pemijahannya di alam. Ikan yang memijah berumur 5 tahun yang dipelihara pada jaring apung berdiameter 30 m dan kedalam 7 meter pada suhu 21.8 - 25.6oC. Jumlah telur yang dipijahkan sebanyak 160 x 104 butir dan larva yang hidup hanya bertahan

selama 47 hari dari waktu menetas. Pemijahan mulai terjadi pada jam 5 sore dan mulai mengeluarkan telurnya pada jam 7 malam hingga jam 9 malam. Sebelum memijah, terlihat 1-2 ekor induk jantan merubah warnanya menjadi hitam saat seekor induk betina menunjukkan rangsangan untuk memijah di Amami. Perubahan warna induk jantan dari biru ke hitam erat kaitannya dengan rangsangan hormonal induk betina sesaat sebelum melepaskan telurnya. Induk tuna tidak selamanya memijah tiap tahun. Misalnya induk yang memijah ditahun 1987 kemudian memijah kembali 7 tahun kemudian (1994) dan 2 tahun berikutnya berturut-turut (1995 dan 1996). Oleh karena itu diperlukan teknologi yang memungkinkan ikan tuna dapat memijah setiap tahunnya.

Kondisi Penetasan Telur Telur ikan tuna menetas setelah 32 jam pada suhu 24oC selama setengah jam. Larva yang hidup hanya bertahan selama 47 jam setelah menetas (Kumai 1995). Tingkat penetasan telur pada induk tuna berumur 9-10 tahu adalah 83% sedangkan tingkat penetasan telur pada induk yang berumur 7 tahun adalah 88.3%.

Pemeliharaan larva Di pusat Penelitian Tuna Amami, Larva dipelihara pada suhu 24.6-27.8oC dan diberi pakan rotifera, artemia dan larva ikan hidup. Pada tahap ini tingkat kelangsungan hidup larva sangat rendah dimana 5 hari pertama larva yang hidup tinggal 20% dan kemudian pada hari ke-10 tingkat kelangsungan hidupnya tinggal 10%. Pada hari ke-20 setelah menetas, terjadi kematian yang tinggi akibat kanibalisme.selanjutnya akibat lain dari tingginya tingkat kematian adalah saat pemindahan larva ke jarring apung.

BUDIDAYA IKAN TUNA


DISUSUN OLEH

M. FADIL TENDEAN H411 09 265

MATA KULIAH AQUAKULTUR JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012