cerpen

Dia memang orang yang tertutup, bahkan sangat tertutup, tetapi aku bisa sedikit masuk lewat pintu

hatinya yang sedikit renggang. Walau susah akhirnya dia mau menceritakan masalahnya kepadaku, dan meminta aku merahasiakan hal itu. “Kamu malu ya?”, tanyaku. “Tidak. Aku tidak malu, aku cuma tidak mau dikasihani orang lain dan diberi perhatian khusus, aku ingin biasa saja”, jawabnya dengan wajah tak bergeming. “Aku masih bisa hidup walau bagaimanapun caranya” “Iya, tenang saja aku pasti menyimpan rahasia ini”, aku mencoba untuk mengerti dia. “Terima kasih, Dit”, katanya lagi. Aku hanya mengangguk. “Tapi kenapa kamu sering tidak masuk sekolah?” “Aku tidak semangat ke sekolah” “Tidak semangat? Seharusnya kamu itu semangat ke sekolah. Siapa tahu kekosonganmu akan terisi dengan adanya kegiatan-kegiatan di sekolah” “Entahlah”, dia melenguh. Tidak ada yang bicara lagi. Bel tanda waktu istirahat selesai berbunyi. Semua kembali ke kelas. Aku duduk di tempat dudukku.

Tak terasa sudah enam bulan aku duduk di kelas IX, waktu pembagian rapor pun tiba. Tapi satu orang yang tidak datang mengambil rapor, yaitu Ikhsan. Padahal aku sudah memberi tahu dia bahwa hari ini pembagian rapor.Ternyata dia tidak juga datang. “Her, Ikhsan ke mana sih?”, tanyaku kepada Heri setelah selesai pembagian rapor. “Nggak tau, sejak dua hari belakangan ini HP-nya tidak aktif. Aku takut terjadi apa-apa aja sama dia” “Maksud kamu?” 1

Ikhsan belum juga tampak. Dan ingin melihat keceriaan sebenar di wajahnya bukan kepura-puraan yang selalu disebarkannya. “Ikhsan sudah masuk?”. Ada apa lagi dengan Ikhsan? Apa dia baik-baik saja? Di mana dia sekarang? Apakah dia sudah pulang dari rumah neneknya? Berbagai pertanyaan berlomba-lomba masuk ke benak ku.“Iya lah. aku ingin sekali bertemu dengan Ikhsan. Sayangnya. Kepsek masuk ke kelas kami. Dit. “Belum. tahu nggak di mana Ikhsan? Sudah dua minggu belum masuk juga. Biasanyakan kamu selalu sms-an sama dia” “Tidak. tanyanya tegas. Jam pelajaran ke empat telah berlangsung selama satu jam pelajaran. pikiranku entah ke mana. Dia memang tak datang lagi. “Ke mana dia?” Aku mengacungkan tangan agar tidak terjadi kekecohan. jawabku sekenanya. “Her. Libur semester ganjil telah usai. ada juga dengan wajah kusut. aku kan sekretaris. Bu!”. Mataku liar memandang seluruh sekolah. Pikiranku berkecamuk. mungkin belum puas mengokol di tempat tidur. tapi tidak untukku. jadi aku harus tahu keterangan setiap siswa yang tidak hadir”. aku tidak menjawab lagi. satu pun tidak terjawab. tidak juga kutemukan. Kepsek memandang ke arahku meminta jawaban. jawab kami serentak. Semua siswa kembali ke sekolah. Aku hanya segan kepadanya. “Orang tuanya?” 2 . Kepsek yang satu ini memang ditakuti semua siswa. Semua diam. Aku tak peduli. Ada keraguan di wajah Heri. Sudah dua minggu berlalu. Kamu kenapa sih. jadi takut aja ada apa-apa”. nanya Ikhsan mulu?” “Nggak apa-apa sih. Sudah lama aku tidak menghubungi dia. Sedangkan aku sangat senang kembali ke sekolah. karena dia tidak tinggal di rumahnya”. Tetapi hari ini masih juga belum aku temukan sesosok Ikhsan di dalam kelas. Ada dengan wajah gembira. “Tidak tahu Bu. ingin tahu keadaannya. kemarin katanya dia sakit. jawabku.

Selain aku. Maafkan aku. sambungnya. tanya Ipan. karena di setiap langkah kita selalu disirami dengan kasih sayang yang abadi yaitu kasih sayang Tuhan. jadi jangan menyianyiakan pendidikan selama ada kesempata”. Dia pun berlalu.“Katanya mereka sudah berpisah dan tidak tinggal bersama lagi” “Pendidikan itu penting untuk masa depan. “Kenapa kamu minta maaf kepada kami. Sudah banyak kali aku SMS Ikhsan tapi tidak ada balasan. 3 . Mulai saat itu hatiku sungguh resah. Sebenarnya aku ingin Ikhsan sadar bahwa hidup ini memang susah. Sumpah! aku tak sengaja dan sama sekali tidak berniat membuka hal itu. Lama aku berfikir rahasia mana yang aku buka. kata Ipan. “Kenapa?” Tanyaku heran. nasehatnya kepada kami. Mau minta maaf. Aku takut dia membenci aku. aku tidak tahu Ikhsan ada di mana sekarang. seperti Rian dan Danu. “Mengapa kamu membuka rahasia Ikhsan?”. tapi harus dihadapi dan dijalani. aku lupa. kataku menyesal. Ririn dan Ipan memandangku dengan tatapan tajam. baru aku ingat dengan perkataanku kepada Kepsek tadi. sungguh aku tak sengaja”. “berpisah” “Ya Tuhan. Ririn dan Ipan juga tahu masalah Ikhsan. minta maaflah kepada Ikhsan”. “Kalau dia tahu kami pun akan dipersalahkannya”. Perasaan bersalah ini benar-benar mendera. Aku tak mau menambah satu orang lagi yang membenci aku. rasa bersalah terus menghantui.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful