Dia memang orang yang tertutup, bahkan sangat tertutup, tetapi aku bisa sedikit masuk lewat pintu

hatinya yang sedikit renggang. Walau susah akhirnya dia mau menceritakan masalahnya kepadaku, dan meminta aku merahasiakan hal itu. “Kamu malu ya?”, tanyaku. “Tidak. Aku tidak malu, aku cuma tidak mau dikasihani orang lain dan diberi perhatian khusus, aku ingin biasa saja”, jawabnya dengan wajah tak bergeming. “Aku masih bisa hidup walau bagaimanapun caranya” “Iya, tenang saja aku pasti menyimpan rahasia ini”, aku mencoba untuk mengerti dia. “Terima kasih, Dit”, katanya lagi. Aku hanya mengangguk. “Tapi kenapa kamu sering tidak masuk sekolah?” “Aku tidak semangat ke sekolah” “Tidak semangat? Seharusnya kamu itu semangat ke sekolah. Siapa tahu kekosonganmu akan terisi dengan adanya kegiatan-kegiatan di sekolah” “Entahlah”, dia melenguh. Tidak ada yang bicara lagi. Bel tanda waktu istirahat selesai berbunyi. Semua kembali ke kelas. Aku duduk di tempat dudukku.

Tak terasa sudah enam bulan aku duduk di kelas IX, waktu pembagian rapor pun tiba. Tapi satu orang yang tidak datang mengambil rapor, yaitu Ikhsan. Padahal aku sudah memberi tahu dia bahwa hari ini pembagian rapor.Ternyata dia tidak juga datang. “Her, Ikhsan ke mana sih?”, tanyaku kepada Heri setelah selesai pembagian rapor. “Nggak tau, sejak dua hari belakangan ini HP-nya tidak aktif. Aku takut terjadi apa-apa aja sama dia” “Maksud kamu?” 1

jawab kami serentak. Bu!”. “Belum. Ada apa lagi dengan Ikhsan? Apa dia baik-baik saja? Di mana dia sekarang? Apakah dia sudah pulang dari rumah neneknya? Berbagai pertanyaan berlomba-lomba masuk ke benak ku. Kepsek yang satu ini memang ditakuti semua siswa. karena dia tidak tinggal di rumahnya”. Semua siswa kembali ke sekolah. ada juga dengan wajah kusut. tahu nggak di mana Ikhsan? Sudah dua minggu belum masuk juga. aku tidak menjawab lagi. jawabku sekenanya. “Tidak tahu Bu. Semua diam. Sudah lama aku tidak menghubungi dia. Ikhsan belum juga tampak. Sayangnya. tidak juga kutemukan. nanya Ikhsan mulu?” “Nggak apa-apa sih. Aku tak peduli. ingin tahu keadaannya. aku kan sekretaris. Pikiranku berkecamuk. Kepsek memandang ke arahku meminta jawaban. pikiranku entah ke mana. “Her. Libur semester ganjil telah usai. Kamu kenapa sih. Sudah dua minggu berlalu. jadi aku harus tahu keterangan setiap siswa yang tidak hadir”. Aku hanya segan kepadanya. “Ke mana dia?” Aku mengacungkan tangan agar tidak terjadi kekecohan. satu pun tidak terjawab. jadi takut aja ada apa-apa”. Jam pelajaran ke empat telah berlangsung selama satu jam pelajaran. Sedangkan aku sangat senang kembali ke sekolah. kemarin katanya dia sakit. Mataku liar memandang seluruh sekolah. tapi tidak untukku. Ada dengan wajah gembira. Dit. “Ikhsan sudah masuk?”. Biasanyakan kamu selalu sms-an sama dia” “Tidak. aku ingin sekali bertemu dengan Ikhsan. Dia memang tak datang lagi. Kepsek masuk ke kelas kami. “Orang tuanya?” 2 . jawabku. mungkin belum puas mengokol di tempat tidur. Ada keraguan di wajah Heri. Dan ingin melihat keceriaan sebenar di wajahnya bukan kepura-puraan yang selalu disebarkannya. Tetapi hari ini masih juga belum aku temukan sesosok Ikhsan di dalam kelas. tanyanya tegas.“Iya lah.

minta maaflah kepada Ikhsan”. jadi jangan menyianyiakan pendidikan selama ada kesempata”. Dia pun berlalu. Aku tak mau menambah satu orang lagi yang membenci aku. Aku takut dia membenci aku. seperti Rian dan Danu. “Mengapa kamu membuka rahasia Ikhsan?”. 3 . Lama aku berfikir rahasia mana yang aku buka. sungguh aku tak sengaja”. “berpisah” “Ya Tuhan. Mau minta maaf. baru aku ingat dengan perkataanku kepada Kepsek tadi. Sebenarnya aku ingin Ikhsan sadar bahwa hidup ini memang susah. Perasaan bersalah ini benar-benar mendera. aku tidak tahu Ikhsan ada di mana sekarang. Selain aku. kataku menyesal. tanya Ipan. Maafkan aku. Sudah banyak kali aku SMS Ikhsan tapi tidak ada balasan. Sumpah! aku tak sengaja dan sama sekali tidak berniat membuka hal itu. “Kenapa?” Tanyaku heran. “Kenapa kamu minta maaf kepada kami. aku lupa. rasa bersalah terus menghantui. sambungnya. kata Ipan. “Kalau dia tahu kami pun akan dipersalahkannya”. Mulai saat itu hatiku sungguh resah.“Katanya mereka sudah berpisah dan tidak tinggal bersama lagi” “Pendidikan itu penting untuk masa depan. tapi harus dihadapi dan dijalani. karena di setiap langkah kita selalu disirami dengan kasih sayang yang abadi yaitu kasih sayang Tuhan. Ririn dan Ipan juga tahu masalah Ikhsan. Ririn dan Ipan memandangku dengan tatapan tajam. nasehatnya kepada kami.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful