Anda di halaman 1dari 92

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Amina adalah senyawa organik yang mengandung atom nitrogen trivalent yang mengandung atom nitrogen trivalen yang berkaitan dengan satu atau dua atau tiga atom karbon, dimana amina juga merupakan suatu senyawa yang mengandung gugusan amino (-NH2, - NHR, atau NH2). Gugusan amino mengandung nitrogen terikat, kepada satu sampai tiga atom karbon (tetapi bukan gugusan karbonil). Apabila salah satu karbon yang terikat pada atom nitrogen adalah karbonil, senyawanya adalah amina, bukan amida.

Di antara sejumlah golongan senyawa organik yang memiliki sifat basa, yang terpenting adalah amina. Di samping itu sejumlah amina memiliki keaktifan faali (fisiologis), misalnya efedrina berkhasiat sebagai peluruh dahak, meskalina yang dapat mengakibatkan seseorang berhalusinasi, dan amfetamina yang mempunyai efek stimulant. Kelompok senyawa alkaloid yang berasal dari tumbuhan secara kimia juga merupakan bagian dari golongan basa organik amina.

Amina merupakan senyawa organik yang terpenting dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki urutan yang paling penting dalam senyawa organik, oleh karena itu amina tidak terlepas dari semua unsur organik yang lain. Oleh karena itu
1

sifat-sifat yang di pelajari dalam senyawa amina akan sangat membantu dalam memahami aspek kimiawi kelompok alkoid yang mempunyai peran penting dalam pembuatan obat-obat sinetik dewasa ini.

1.2

Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, masalah yang dibahas dalam

tugas ini yaitu mengenai Senyawa Amina.

1.3

Tujuan Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, tujuan

pembuatan tugas ini, yaitu kami ingin membagikan pengetahuan baru yang penulis dapat kepada pembaca pada umumnya mengenai Senyawa Amina.

1.4

Manfaat Manfaat umum dari penelitian ini yaitu untuk menambah pengetahuan dan

wawasan masyarakat pembaca mengenai Senyawa Amina, yang penulis harapkan agar dapat berguna dalam penerapan kehidupan mesyarakat pembaca pada umumnya. Seiring dengan pembuatan tugas ini, Kami sebagai penyusun, berharap agar pengetahuan dan wawasan saya juga dapat bertambah, sehingga Kami dapat menerapkan wawasan yang saya dapat tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.

BAB II SENYAWA AMINA


2.1 Definisi Amina Amina adalah senyawa organik yang mengandung atom nitrogen trivalen yang berkaitan dengan satu atau dua atau tiga atom karbon, dimana amina juga merupakan suatu senyawa yang mengandung gugusan amino (-NH2, - NHR, atau NH2). Gugusan amino mengandung nitrogen terikat, kepada satu sampai tiga atom karbon (tetapi bukan gugusan karbonil). Apabila salah satu karbon yang terikat pada atom nitrogen adalah karbonil, senyawanya adalah amida, bukan amina. Amina juga merupakan senyawa organik yang terpenting dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki urutan yang paling penting dalam senyawa organik, oleh karena itu amina tidak terlepas dari semua unsur organik yang lain. Oleh karena itu sifat-sifat yang di pelajari dalam senyawa amina akan sangat membantu dalam memahami aspek kimiawi kelompok alkoid yang mempunyai peran pentig dalam pembuatan obat-obat Alkilamina berbobot molekul rendah adalah gas atau cair pada suhu kamar. Di- dan trietilamin serta amina primer yang memiliki tiga sampai sepuluh atom karbon adalah cairan, amina yang lebih kecil jumlah atom karbonnya adalah gas. Amina dengan jumlah atom karbon dibawah enam biasanya larut dalam air akibat adanya interaksi ikatan hidrogen. Meskipun nitrogen tidak seelektronegatif oksigen namun mampu mempolarisasi ikatan N-H sehingga terbentuk gaya dipol-dipol yang kuat antara molekulnya. Amina tersier tidak memiliki atom hidrogen karena itu tidak terjadi ikatan hidrogen antara air dengannya atau dengan amin tersier lainnya.konsekuensinya titik didihnya lebih rendah disbanding amina primer atau sekunder.
3

Salah satu sifat yang paling dikenal dari amina berbobot molekul rendah adalah aromanya yang tidak menyenangkan. Amine volatile ini menguap secara cepat dan terciup seperti campuran ammonia dan ikan busuk. Kebanyakan bahan yang membusuk terutama organ yang mengandung protein tinggi menghasilkan amina. Bagian dari aroma tumbuhan yang mati, rumah penyimpanan daging, dan bagian pengolahan limbah semuanya adalah amina. Titik lebur, titik didih dan densitas dari beberapa senyawa amina sederhana meningkat bersama dengan bertambahnya berat molekul sebagai konsekuensi dari interaksi intermolekular yang lebih besar. Sama seperti alkohol, senyawa amina yang lebih sederhana menunjukkan pengaruh ikatan hydrogen. Nitrogen kurang elektonegatif dibandingkan dengan oksigen, ikatan hydrogen pada N H N kurang kuat dibanding dengan ikatan O H . O. Amina relatif bersifat basa lemah. Lebih basa dibanding air tapi jauh lebih lemah sifat basanya dibanding ion OH- , ion alkoksida, dan ion alkanida. Hanya alkohol dan eter yang dianggap sebagai turunan dari air, amina dapat dianggap sebagi turunan ammonia.

Ada dua jalan umum untuk pembentukan amina yaitu subtitusi dan reduksi. Reaksi Subtitusi dari Alkil Halida. Ammonia dan mengandung pasangan elektron sunyi pada atom nitrogen, oleh sebab itu, senyawa itu dapatbertindak sebagai nukleofil dalm reaksi subtitusi nukleofilik dari alkil halida. Reaksi dengan amonia menghasilkan garam dari amin primer. Bila garam amina ini
4

direaksikan

dengan

basa

akan

dibebaskan

amina

bebas.

Reaksi alkil halida dengan amina dan bukan amonia akan menghasilkan amin sekunder, tersier, atau garam amonium kuarterner, tergantung pada amina yang digunakan. 2.2 Klasifikasi Amina

Amina dikelompokkan sebagai amina primer (1o), amina sekunder (2o)dan amina tertier (3o), menurut banyaknya substituen alkil atau aril yang terikat pada Nitrogen (N).

2.2.1 Amina primer (1 )

Amina primer memiliki titik didih yang berbeda antara senyawa alkana dan alkohol berdasarkan berat molekul, sama seperti ammoniak, dengan b.p. 30
o

C, yang merupakan Gambar 2. 1 Klasifikasi Amina

intermediet antara methane, dengan b.p. 161 oC, dan air , dengan b.p. 100 oC. Amina primer mengandung -NH2 terikat pada rantai atau cincin hidrokarbon. Pada amina sebagai turunan dari ammonia, NH3. Dalam amina primer, salah satu dari hidrogen diganti oleh hidrokarbon. satu karbon terikat kepada N:

CH3 CH3NH2 CH3 C CH3 NH2


NH2

Contoh 1: Tuliskan struktur formula dari etilamin.

Dalam kasus ini, etil terikat pada -NH2 .

Nama ini (etilamin) tidak ada masalah selama tidak ada makna ambigu dari letak -NH2. Namun seumpama anda mempunyai karbon rantai 3 -dalam kasus ini -NH2 bisa berada pada kedua ujung atau ditengah. Contoh 2: Tuliskan struktur formula untuk 2-aminopropana. Nama menunjukkan rantai tiga karbon dengan amino terikat pada karbon ke dua. Amino menunjukkan -NH2 .

Gambar 2. 2 Struktur 2-Aminopropana

Etilamin (contoh1) bisa juga disebut sebagai aminoetana. Tabel 2. 1 Daftar titik lebur dari amina Primer Jenuh ( RNH2 ). R= CH3 C2H5 C3H7 C4H9 C5H11 C6H12 C7H15 C8H17 C9H19 m.p. oC -92.5 -80.6 -83.0 -50.5 -55.0 -19.0 -23.0 - 0.4 -. 1.0 R= C11H23 C12H26 C13H27 C14H29 C15H31 C16H33 C17H35 C18H37 C19H41 m.p. oC 16.5 28.0 27.0 37.9 37.3 46.2 49 51.8 57.8

C10H21

15.0

C20H45

62.7

Perbandingan struktur amonia dengan amina primer Ammonia dan amina primer masing-masing mengandung sebuah gugus -NH2. Pada amonia, gugus ini terikat pada sebuah atom hidrogen sedangkan pada amina primer terikat pada sebuah gugus alkil (disimbolkan dengan R pada gambar berikut) atau pada sebuah cincin benzen.

Gambar 2. 3 Amonia dan Amina Primer

2.2.2

Amina sekunder

Dalam amina sekunder dua dari hidrogen atom pada amonia digantikan dengan hidrokarbon RNR | H .. Contoh: CH3NCH3 | H

Tabel 2. 2 Daftar Titik lebur Amina Sekunder Amina Diheksil Dioktil Didekil Didodekil Ditetradekil Diheksadekil Dioktadekil Titik Didih ( oC ) 1.2 26.7 41.5 47.0 60.62 67.03 72.3

2.2.3

Amina Tersier

Amina alifatik/aromatik dengan HNO2 memberikan hasil reaksi yang ditentukkan oleh jenus amina tersier yang digunakan. Pada amina alifatik/aromatik tersier reaksinya dengan HNO2 mengakibatkan terjadinya sustitusi cincin aromatik oleh gugus NO. Amina tersier: tiga gugus terikat pada atom nitrogen.

Gambar 2. 4 Amina Tersier

Contoh:

CH3NCH3 | CH3

2.2.4

Kebasaan Amina

Tabel 2. 3 Daftar Kebasaan Amina senyawa Amonia Amina Primer Metilamina Etilamina Isopropilamina Tersbutilamina Anilina Amina Sekunder Dimetilamina Dietilamina N-Metilanilina Amina Tersier Trimetilamina Trietilamina N,N-Dimetilanilina struktur NH3 CH3NH2 CH3CH2NH2 (CH3)2CHNH2 (CH3)3CNH2 C6H5NH2 (CH3)2NH (CH3CH2)2NH C6H5NHCH3 (CH3)3N (CH3CH2)3N C6H5N(CH3)2 pKa 9,3 10,6 10,8 10,6 10,4 4,6 10,7 11,1 4,8 9,7 10,8 5,1

Perbedaan yang sangat kecil pada pKa antar amonia dengan semua amina karena efek campuran pada kesetimbangan asam dan basanya. Namun lain hal apabila disisipi dengan aril. 2.3 Tata Nama Amina

Tidak seperti alkohol dan alkil halida yang diklasifikasi menjadi primer, sekunder, dan tersier berdasarkan letak subtituen pada karbon yang berikatan dengan gugus fungsi, amina diklasifikasi berdasarkan letak subtituen pada nitrogen. Amina dengan sebuah karbon adalah amina primer, dua karbon adalah sekunder, dan tiga karbon adalah tersier.

H R N H Amina primer Amina sekunder R N

R R H N

R Amina tersier

Amina dinamakan dengan dua jenis, alkilamina dengan alkanamina.jika dinamakan dengan alkilamina, akhiran amina ditambahkan di belakang nama alkil yang mengikatnya. Jika dinamakan dengan alkanamina, akhiran amina ditambahkan setelah nama alkananya. CH3CH2NH2 Etilamina CH3CH(NH2)CH2CH2CH3 1-metilbutilamina

Anilina adalah dasar nama IUPAC untuk derivat benzen amina tersubtitusi. Derivat amina tersubtitusi diberi nomor 1 pada karbon yang mengikat gugus amina. Subtituen ditulis berurut sesuai alfabet.

F-

-NH2

Br-

-CH2CH3 NH2

p-fluoroanilina

5-bromo-2-etilanilina

10

Gugus amino memiliki prioritas yang lebih rendah dari gugus hidroksil dan gugus karbonil sehingga gugus amino dianggap sebagai subtituen. HOCH2CH2NH2 2-aminoetanol CHO-NH2

p-aminobenzaldehida (4-aminobenzenakarbaldehida)

Amina sekunder dan tersier dinamakan dengan aturan N-derivat amina tersubtitusi. Amina utama dipilih dari rantai karbon yang terpanjang. Awalan N- ditambahkan untuk menunjukkan lokasi subtituen pada gugus amino. CH3NHCH2CH3 N-metiletilamina Nitrogen yang mengikat empat subtituen akan bermuatan positif dan diberi nama ion amonium.

CH3N+H3ClMetilamonium klorida

-N+H(CH3)CH2CH3 CF3CO2N-etil-N-metilsiklopentilamonium trifluoroasetat

2.3.1

Tata Nama IUPAC (Sistematik)

Nama sistematik untuk amina alifatik primer diberikan dengan cara seperti nama sistematik alkohol, monohidroksi akhiran a dalam nama alkana induknya diganti oleh kata amina.

11

Contoh : CH3- CH-CH3 NH2 ( 2-propanamina ) CH3-CH2-CH-CH2-CH3 NH3 ( 3-pentanamina )

Untuk amina sekunder dan tersier yang asimetrik (gugus yang terikat pada atom N tidak sama), lazimnya diberi nama dengan menganggapnya sebagai amina primer yang tersubtitusi pada atom N. Dalam hal ini berlaku ketentuan bahwa gugus sustituen yang lebih besar dianggap sebagai amina induk, sedangkan gugus subtituen yang lebih kecil lokasinya ditunjukkan dengan cara menggunakan awalan N (yang berarti terikat pada atom N). 2.3.2 Tata Nama Trivial

Nama trivial untuk sebagian besar amina adalah dengan menyebutkan gugus-gugus alkil/aril yang terikat pada atom N dengan ketentuan bahwa urutan penulisannya harus memperhatikan urutan abjad huruf terdepan dalam nama gugus alkil/aril kemudian ditambahkan kata amina di belakang nama gugus-gugus tersebut Contoh : CH3 CH3NH2 CH C NH2 CH3 Metilamina tersier-butilamina

12

Senyawa siklis dimana satu atom C atau lebih diganti dengan atom nitrogen, diberi nama khusus sebagai heterosiklik amin.

N H piperidin 2

N H pirrolidin 2

N CH3 N-metilpirrolidin 3

N N piridin N pirimidin N H pirrol

N N H imidasol

2.4 SIFAT FISIKA DAN KIMIA AMINA

2.4.1

Sifat-Sifat Fisik dari Amina

Suatu amina mengandung ikatan N-H dapat membentuk ikatan hydrogen dengan electron sunyi dari oksigen atau nitrogen lain. Dari dua macam ikatan hydrogen, ikatan NH-N jauh lebih lemah daripada ikatan OH-O. Semua amina merupakan senyawa polar, dan antar molekul amina primer/ sekunder terdapat ikatan hidrogen. Karena perbedaan keelektronegatifan antara atom N dan H relatif kecil maka ikatan hidrogen antar molekul amina tidak sekuat molekulmolekul yang mengandung gugus OH, seperti misalnya alkohol. Adanya perbedaan kekuatan antara ikatan hidrogen dalam molekul-molekul amina maupun alkohol nampak pengaruhnya terhadap titik didih kedua golongan senyawa tersebut. kelarutan amina dalam air menurun seiring dengan

13

meningkatnya berat molekul. Dengan molekul air, semua amina dapat membentuk ikatan hidrogen.

Contoh : H ROH:OR 5 kcal/mol 3kcal/mol Titik didih dari amina yang mengandung suatu ikatan NH adalah ditengahtengah antara alkana (tidak ada ikatan hidrogen) dan alkohol (ikatan alkohol kuat). H R2NH:NR2

CH3CH2CH3 propana

CH3CH2NH2 Etilamina

CH3CH2OH Etanol

Berat rumus : 44 45 46 Titik didh (C): -42 17 78,5

Titik didih dari amina yang tidak mengandung ikatan NH, jadi tidak mempunyai ikatan hidrogen, lebih rendah dari amina yang mempunyai ikatan hidrogen. Ikatan hidrogen antar molekul amina dapat terjadi N H ...... N, hal mana akan menaikkan td amina primer dan amina sekunder dibanding alkana, tetapi ikatan hidrogen ini tidak sekuat ikatan hidrogen antar molekul alkohol O H ..... O, karena N kurang elektronegatif dibanding O. Tabel 2. 4 Sifat-Sifat Amonia dan Beberapa Amina Umum

14

Rumus NH3 CH3NH2 (CH3)2NH (CH3)3N

Nama Ammonia Metilamina Dimetilamina Trimetilamina

Td (oC) -33 -6 7 3

Kb 1.79 x 10-5 45 10-5 54 x 10-5 x

pKb 4,75 3.35 3.27 4.19

NH2

Sikloheksilamina

134

6,5 x 10-5

3.35

NH2

Aniline

184

45 10-5

9.38

NH

piridin

116 4,2 x 10-10

8.75

18 10-10
H

ROH ----- OR
Energi disosiasi :
5 kcal/mol

R2NH ----- NR2

3 kcal/mol

15

Titik didih dari amina yang mengandung suatu ikatan N H adalah di tengahtengah antara alkana (tidak ada ikatan hydrogen) dan alcohol (ikatan hydrogen kuat). CH3CH2CH3 Propane Berat rumus : Titik didih : 44 -42 CH3CH2NH2 etilamina 45 17 CH3CH2OH etanol 46 78,5

Titik didih dari amina yang tidak mengandung ikatan N-H, jadi tidak mempunyai iakatan hydrogen, lebih rendah dari amina yang mempunyai ikatan hydrogen. Trimetilamina emndidih pada temperature lebih rendah dari pada etimetil amina Karena amina dapat membentuk ikatan hydrogen yang kuat dengan hydrogen hidrongen dalam air, amina yang mempunyai rumus berat rendah, larut dalam air sama seperti alkohol.
Karena N kurang elektronegatif, elektronnya lebih mudah diberikan daripada oksigen H HO
_

NR2

Energi disosiasi : 7 kcal/mol

Kebasaan Dari Amina Seperti ammonia, amina adalah basa lemah, jauh lebih lemah daripada ion hidroksida. Amina dapat memberikan sepasang electron sunyi dari nitrogennya dan membentuk ikatan dengan sebuah proton. Amina yang larut dalam air mengalami reversible dengan air, yang membebaskan ion hidroksida.

16

NH3 + H _ OH CH3NH2 + H
_

NH4 + OH OH CH3NH3 + OH

Konstanta Kesetimbangan Basa Kebasaan dari suatu senyawa, seperti amina, ditentukan oleh konstanta Kesetimbangan Basa (Kb), yang merupakan konstanta kesetimbangan untuk reaksi senyawa tersebut dengan air.

RNH2 + H2O

RNH3 + OH

Kb =

[ RNH3 ] [- OH ]

[ RNH2 ] dimana [ RNH3 ] = molaritas dari RNH3 [ OH ] = molaritas dari OH [ RNH2 ] = molaritas dari RNH2

dan konsentrasi dari H2O sudah termasuk dalam Kb. Istilah PKb, yang sangat analog PKa, sering digunakan untuk menunjukkan kekuatan basa dari suatu senyawa PKb = - log Kb Harga pKb Jika Kb = 1,0 x 10-5, pKb = 5 Jika kekuatan asam dari suatu deretan senyawa bertambah, harga Kb bertambah besar dan harga pKb berkurang NH3 Kb : 1,79 X 10-5 pKb: 4,75 CH3NH2 45 x 10-5 3,35 Kekutan basa bertambah
17

CH3NHCH3 54 x 10-5 3,27

(Kb bertambah ; PKb Berkurang) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kekuatan Basa Suatu reaksi asam basa adalah suatu kesetimbangan yang dapat digeser kesalah satu pihak dari persamaan reaksi oleh stabilitas pereaksi atau hasil reaksi. Setiap struktur atau lingkungan yang menstabilkan amina terprotonasi relatif terhadap yang bebas atau amina tidak terprotonasi akan menambah kekuatan bada dari amina. Kenaikan stabilisasi relatif ke hasil reaksi hasil reaksi Menggeser kesetimbangan ke pihak ini pihak ini menggeser kesetimbangan ke Kenaikan stabilisasi relatif ke

RNH2 + H2O Alkylamina, dialkilamin, dan

R+NH3 trialkionamin

+ -OH konstanta

mempunyai

kessetimbangan basa lebih dari ammonia.. kenaikan dari kekauatan basa sebagian disebabkan oleh efek induksi dari pelepasan eketron gugusan alkyl, yang membantu menstabilkan muatan positif dari hasil reaksi dan menggeser kesetimbangan ke kanan. H H3C N - H + H2O H H3C N H + OH H
Lebih stabil terhadap pereaksi daripada +NH4

Sifat fisika Amina yang lainnya adalah Suku-suku rendah berbentuk gas. Tak berwarna, berbau amoniak, berbau ikan.
18

Mudah larut dalam air Amina yang lebih tinggi berbentuk cair/padat. Kelarutan dalam air berkurang dengan naiknya BM. 2.4.2 Sifat-sifat kimia dari Amina

Merupakan basa lemah dan bersifat nukleofil, jika bereaksi dengan asam mineral membentuk garam ammonium kuarterner yang larut dalam air. (Fessenden, 1986) Larutan amina bersifat basa lemah, dalam air menghasilkan ion OH-,sehingga larutannya bersifat basa lemah. CH3NH2 + H2O metil amina CH3 NH2 metil amina + HNO3 asam nitrat CH3NH3+ + OHmetil amonium CH3 NH3 NO3 metil amonium nitrat

Larutan amina dengan asam anorganik membentuk garam.

Amina primer dapat dipisahkan dengan amina sekunder dan tersier apabila direaksikan dengan asam nitrit, HNO2. Karena amina primer dengan HNO2 membentuk alkohol primer, sedangkan amina sekunder dengan HNO2 membentuk nitro-dialkilamina [ (R)2 = N NO ] yang berwarna kuning dan sukar larut dalam air. Amina tersier tidak bereaksi khusus dengan HNO2. Reaksi amina primer dengan sam nitrit menghasilkan alkohol, gas nitrogen, dan air C2H5 NH2 + HNO2 etil amina amina yang sukar larut dalam air. (CH3)2 NH + HNO2 (CH3)2 NNO + H2O
19

C2H5OH + N2 + H2O etanol

Reaksi amina sekunder dengan asam nitrit menghasilkan nitroso dialkil

dietil amina

nitroso dialkil amina

Semua senyawa amina bersifat basa lemah, demikian pula larutannya dalam air. Harga tetapan ionisasi asam konjugat suatu amina (Ka) dijadikan acuan dalam menentukan kebasaan suatu amina. Dalam praktiknya, yang dipakai adalah notasi pKa (= -log Ka). Hasil kajian menunjukkan bahwa sifat basa suatu amina alifatik/ aromatik ditentukan oleh rumus strukturnya. Seperti halnya amonia, semua amina bersifat sebagai basa lemah dan larutan amina dalam air bersifat basis Contoh : H CH3N: + H O- H CH3- N- H + HO H Metilamonium hidroksida [CH3NH3][HO] Kb = = 4,37 10-4 [CH3NH2] Harga pKb untuk CH3NH2 = - log Kb = 3,36 Untuk menelaah kebasaan suatu amina, sering kali digunakan acuan tetapan ionisasi konjugatnya (Ka). Untuk asam konjugat dari CH3NH2 yaitu CH3NH3+ harga tetapan ionisasi asamnya adalah : CH3NH3+ CH3NH2 + H+ [CH3NH2][H+] Ka = = 4,37x10 [CH3NH3+]

20

Harga pKa untuk CH3NH3+ = -log Ka = 10,64 Harga pKa dan pKb untuk pasangan asam basa konjugat dinyatakan dengan persamaan: pKa + pKb =14 Reaksi Amina dngan Asam Amina yang larut maupun yang tidak larut dalam air dapat bereaksi dengan asam dan menghasilkan garam yang larut dalam air. Contoh : (CH3CH2)2NH + HCl (CH3CH2)2NH2+Cldietilamonium klorida
a.

Reaksi amina dengan asam

Amina yang larut maupun yang tidak larut dalam air dapat bereaksi dengan asam dan menghasilkan garam yang larut dalam air. Contoh: (CH3CH2)2NH + HCl (CH3CH2)2NH2 + Cl-

(dietilamoniumklorida)
b.

Amina primer dapat dipisahkan dengan amina sekunder dan tersier apabila

direaksikan dengan asam nitrit, HNO2. Karena amina primer dengan HNO2 membentuk alkohol primer, sedangkan amina sekunder dengan HNO2 membentuk nitro-dialkilamina [ (R)2 = N NO ] yang berwarna kuning dan sukar larut dalam air. Amina tersier tidak bereaksi khusus dengan HNO2

Reaksi amina primer dengan asam nitrit menghasilkan alkohol, gas

nitrogen, dan air

21

C2H5 NH2 + HNO2 (etil amina)

C2H5OH + N2 + H2O (etanol)

Reaksi amina sekunder dengan asam nitrit menghasilkan nitroso dialkil

amina yang sukar larut dalam air. (CH3)2 NH + HNO2 (dietil amina) (CH3)2 NNO + H2O (nitroso dialkil amina)

2.5 PEMBUATAN SENYAWA AMINA 2.5.1 Reaksi substitusi dari Alkil Halida

Ammonia dan amina mengandung pasangan electron sunyi pada atom nitrogen. Oleh sebab itu, senyawa ini dapat bertindak sebagai nukleofil dalam reaksi substitusi nukleofilik dari alkyl halide., reaksi dengan ammonia

menghasilkan garam dari amina primer. Bila garam amina direaksikan dengan basa akan dibebaskan amina bebas. Reaksi alkyl halide dengan amina dan bukan ammonia akan menghasilkan amina sekunder, tersier, atau garam ammonium kuartener tergantung pada amina yang digunakan. CH3CH2Br + CH3NH2
o 1
OH-

CH3CH2+ NH22CH3Br 2o amina

CH3CH2NHCH3

amina

22

Walaupun hasil yang cukup didapat dalam beberapa baris, hasil dari reaksi semacam ini sering rendah, hasil reaksi amina (ada dalam jumlah yang sedikit dalam campuran kesetimbangamn) dapat juga bereaksi dengan alkyl halide menghasilkan suat senywa yang terakilasi berlebihan.

RX

NH3

RNH2X+

NH3

RNH2
RX

NH4X-

1O garam amina

R2+NH2X2o garam amina

2.5.2

Reduksi dari Senyawa Nitrogen lain

Reduksi dari amida atau nitril dengan litium aluminum hidrida atau dengan gas hydrogen menghasilkan amina. Dengan amida, amin primer, sekunder, atau tersier bisa didapat, tergantung kepada jumlah substitusi pada amida nitrogen. Dengan nitril, hanya amina primer dari tipe RCH2NH2 bisa didapat sebab atom karbon yang terikat ke atom nitrogen hanya mempunyai satu substituen saja (R) dalam nitril.

direduksi menjadi CH2


O CN(CH3)2
Amida yang disustitusi

LiAlH4

CH2N(CH3)2

3o amian

ToCH2

ToNH2 LiAlH4

CH3CH2CH2 - C = N
Nitril

CH3CH2CH2 - CH2NH2
1o amina

23

Gugusan nitro dapat juga direduksi menjadi amina primer. Senyawa nitro aromatic sering dipakai sebab mudah dibuat dari hidrokarbon aromatic dengan jalan nitrasi aromatic. Senyawa nitro dapat direduksi oleh hidrogenasi katalitik atau dengan reduksi logam seperti besi dengan asam khlorida.

HNO3 H2SO4

NO2

Fe, HCl panas

NH3Cl-

OH

NH2

Anilin khlorida garam amina

anilin

2.6 SINTESIS AMINA


2.6.1 Metode Alkilasi

2.6.1.1 Alkilasi amonia Amonia dapat bersifat nukleofil jika berhadapan dengan alkil halida primer dan sekunder untuk membentuk alkil amina primer. RX + 2NH3 RNH2 + NH4X

2.6.1.2 Alkilasi ftalimida Garam potasium pada ftalamida bereaksi dengan alkil halida untuk menghasilkan turunan N-alkilftalamida. Hidrolisis atau hidrazinolisis dari derivat ini menghasilkan alkilamina primer.

N-K+

NR 24

RX +

NR

+ H2NNH2

RNH2 +

NH NH

2.6.2

Metode Reduksi

2.6.2.1 Reduksi Alkil Azida Alkil azida yang disintesis dari subtitusi nukleofilik ion azida dengan alkil halida direduksi dengan litium aluminium hidrit atau hidrogenasi katalis. RN=N+=Nreduksi

RNH2

2.6.2.2 Reduksi Nitril Nitril direduksi dengan litium aluminium hidrit atau hidrogenasi katalis menjadi amina primer RC N
reduksi

RCH2NH2

2.6.2.3 Reduksi Senyawa Aril Nitro

25

Metode standar untuk mensintesis arilamina adalah dengan nitrasi cincin aromatik diikuti dengan reduksi gugus nitro. ArNO2 2.6.2.4 Reduksi Amida Litium aluminium hidrit mereduksi gugus karbonil dari amida untuk membentuk gugus metilena. RCONR2 2.6.2.5 Aminasi Reduktif Reaksi antara amonia atau amina dengan keton atau aldehid dalam agen pereduksi adalah metode yang efektif untuk mensintesis amina primer, sekunder, dan tersier. R,R dan R bisa saja aril atau alkil.
reduksi reduksi

ArNH2

RCH2NR2

NR2 RCOR + R2NH


agen pereduksi

RCHR

2.6.2.6 Sintesis Gabriel Sintesis Gabriel, dinamakan dari kimiawan Jerman Siegmund Gabriel, adalah reaksi kimia yang mengubah alkil halida primer menjadi amina primer dengan menggunakan kalium ftalimida.

26

Garam kalium ataupun natrium bereaksi dengan alkil halida primer, membentuk alkil ftalalat imida. Reaksi ini tidak akan berjalan untuk alkil halida sekunder. Setelah dihidrolisis menggunakan asam, amina primer dilepaskan sebagai garam amina. Selain itu, ia juga dapat dilakukan via prosedure IngManske, yang melibatkan reaksi dengan hidrazina akuatik ataupun dalam etanol dengan refluks. Prosedur ini akan mengendapkan ftalhidrazia bersamaan dengan amina primer. Teknik ini sering kali menghasilkan rendemen yang rendah. Oleh karena itu, terdapat pula metode lain yang digunakan untuk melepaskan amina dari ftalimida.

2.7 REAKSI KIMIA AMINA

2.7.1 Reaksi amina dengan turunan as. Karboksilat

Anilin akan bereaksi dengan turunan as.Karboksilat anhidrida dan halida asam membentuk amida tersubtitusi seperti contoh berikut :

O ||

O ||

O ||

CH3 C O C CH3 + H2N Ph Ph NH C CH3 + CH3COOH

(antipiretik) / penurun panas

27

2.7.2

Polimerisasi kondensasi diamin Polimer diamin khususnya 1,6 diaminoheksana dengan heksadioat

(asam adipat) akan menghasilkan suatu nilon 6,6.

O ||

O ||

O ||

O ||

H2N (CH2)6 + HO C (CH2)4 C OH -[NH (CH2)6 NHC (CH2)4 C-]n

(Nilon) 2.7.3 Reaksi Amina alifatik primer dengan HNO2 Amina alifatik primer dengan HNO2 menghasilkanalkohol disertai pembebasan gas N2 menurut persamaan reaksi di bawah ini :

CH3-CH-NH2 + HNO2 CH3-CH-OH + N2 + H2O CH3 CH3

Isopropilamina (amina 1) isopropil alkohol (alkohol 2)

28

2.7.4 Reaksi Amina alifatik/aromatik sekunder dengan HNO2

Amina alifatik/aromatik sekunder dengan HNO2 menghasilkan senyawa N-nitrosoamina yang mengandung unsur N-N=O

2.8 CIRI KHAS AMINA Di antara sejumlah golongan senyawa organik yang memiliki sifat basa, yang terpenting adalah amina. Di samping itu sejumlah amina memiliki keaktifan faali (fisiologis), misalnya efedrina berkhasiat sebagai peluruh dahak, meskalina yang dapat mengakibatkan seseorang berhalusinasi, dan amfetamina yang mempunyai efek stimulant. Kelompok senyawa alkaloid yang berasal dari tumbuhan secara kimia juga meripakan bagian dari golongan basa organik amina. Rumus umum untuk senyawa Amina adalah RNH2 R2NH R3N: Dimana R dapat berupa alkil atau aril. 2.8.1 Alkaloid Amina

Awal alkaloida diketahui hanya terdapat dalam tumbuhan, terutama tumbuhan berbunga, Angiospermae. Selanjutnya ternyata terdapat dalam hewan, serangga, biota laut, mikroor-ganisme dan tumbuhan rendah. Contoh : sebangsa rusa (muskopiridina), seje-nis musang Kanada (kastoramina), feromon seks serangga (pirol) neurotoksik dari Gonya-ulax catenella (saksitoksina), bakteri Pseudo-monas aeruginosa (pirosiamina) cendawan (khanoklvina-1), marga lumut Lycopodium (likopodina). Alkaloida sebagian besar dalam tumbuhan ber-bunga. Kelompok alkaloida tertentu dapat dihubungkan dengan Keluarga (Famili) atau Marga (Genus). Sistem Engeler tumbuhan tinggi ada 60 Bangsa (Ordo) dan 34 mengandung alkaloida, 4% semua Keluarga mengandung sedikitnya satu alkaloida, hanya

29

8,7% pada sekitar 10.000 Marga. Keluarga mengandung alkaloida: Liliaceae, Solanaceae dan Rubiaceae. Satu Keluarga beberapa Marga mengandung alkaloida dan lainnya tidak, ada Marga sama mengandung alkaloida sama juga dari Keluarga lain. Contoh : hiosiamin terdapat dalam 7 Marga yang berbeda dari Keluarga Solanaceae, sedang vindolin dan morfin terda-pat terbatas hanya beberapa jenis tumbuhan dari Marga yang sama. Golongan ini tidak mengandung N heterosiklik. Banyak yang merupakan tutrunan sederhana dari feniletilamin dan senyawa-senyawa turunan dari asam amino fenilalanin atau tirosin.

Gambar 2. 5 Feniletilamin dan Fenilalanin

a. Efedrina Berasal dari herba tumbuhan Ephedra distachya, E. Sinica dan E. Equisetina (fam : Gnetaceae) berguna sebagai bronkodilator. Tumbuhan ini juga dikenal dengan nama Ma Huang dalam bahasa Cina Ma berarti sepat sedangkan Huang berati kuning, hal ini mungkin dihubungkan dengan rasa dan warnan simplisia ini. Selain dari persenyawaan alam, alkaloid ini juga dibuat dalam bentuk sintetis garam seperti Efedrin Sulfat dan Efedrin HCl yang berbetuk kristal, sifatsifat farmakologiknya sama dengan Efedrin dan dipakai sebagai simpatomimetik. b. Kolkisina Alkaloid ini berasal dari biji tumbuhan Colchicum autumnalei (fam : Liliaceae) berguna sebagai antineoplasmik dan stimulan SSP, selain pada biji kormus (pangkal batang yang ada di dalam tanah) tumbuhan ini juga mengandung alkaloid yang sama.
c.

d- Norpseudo Efedrina

30

Senyawa di atas diperoleh dari daun-daun segar tumbuhan Catha edulis (fam : Celastraceae) nama lain dari tumbuah ini dalah Khat atau teh Abyssina, tumbuhan ini berupa pohon kecil atau semak-semak yang berasal dari daerah tropik Afrika Timur. Khasiat dari simplisia ini adalah stimulan pada SSP.

d. Meskalina Diperoleh dari sejenis tumbuhan cactus Lophophora williamsii (fam : Cactaceae) dikenal dengan nama Peyote yang dapat menyebabkan halusinasi dan euphoria Alkaloida, senyawa organik bahan alam tidak punya tatanama sistematik, karena itu dinyatakan dengan nama trivial, berakhiran ina seperti pada karbohidrat dengan akhira - osa, misal : kuinina, morfina, strikh-nina. Dibanding steroid dan flavonoid punya struktur dasar, alkaloida struktur beragam. Klasifikasi alkaloida rumit dan belum ada klasifikasi seragam, umum digolongkan berdasarkan pada : a. Jenis cincin heterosiklik nitrogennya Menurut klasifikasi ini dikenal, misalnya alka-loida pirolidina, piperidina, isokuinolina, indol, kuinolina dan sebagainya. b. Asal tumbuhan terdapatnya Dasar awal alkaloida ditemukan pada tumbuhan, misal : alkaloida tembakau, alkaloida Ama-ryllidaceae, alkaloida Erythrina dan sebagainya. Kesulitan, ada alkaloida tidak hanya terdapat pada satu tumbuhan, misal : nikotina, selain dalam temba-kau dari Keluarga Solanaceae, juga terdapat dalam tumbuhan lain yang tidak ada hubungan sama sekali dengan tembakau. Kelemahan lain, beberapa alkaloida berasal dari satu tumbuhan tertentu dapat mempunyai struktur yang sangat berbeda-beda.
c. Berdasarkan asal usul biogenetiknya

Cara ini dapat menjelaskan hubungan antara satu alkaloida dengan alkaloida lainnya yang diklasifikasi berdasarkan cincin heterosillik, merupakan perluasan
31

sistem berdasarkan cincin heterosikliknya. Biosintesis menunjukkan bahwa alkaloida berasal dari beberapa asam amino tertentu saja. Berdasarkan ini, alkaloida dibedakan atas 3 golongan utama, yaitu : a. Alkaloida alisiklik yang berasal dari asam amino ornitin dan lisin b. Alkaloida aromatik jenis fenilalanin yang berasal fenilalanin, tirosin dan 3,4 dihidroksifenil-alanin c. Alkaloida aromatik jenis indol, yang berasal dari triptofan d. Aktivitas, asal usul asam aminonya dan sifat kebasaannya Alkaloida sesungguhnya, merupakan racun, memiliki aktivitas fisiologis luas, hampir semuanya bersifat basa, mengandung unsur nitrogen pada cincin heterosiklinya, dibiosinte-sis dari asam amino, biasa terdapat sebagai garam organik dalam tumbuhan. Aturan ini di-kecualikan terhadap kolkhisina dan asam aristo-lokhat bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin heterosiklik dan alkaloida quaterner yang sedikit bersifat asam. Protoalkaloida, merupakan amin sederhana, atom nitrogen asam amino tidak terdapat dalam cincin heterosikliknya, bio-sintesisnya dari asam amino yang bersifat basa, misalnya : Pseudoalkaloida, tidak diturunkan dari prekursor asam amino, biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloida yang khas dari golongan ini, yaitu alkaloida steroidal (misal konessina) dan alkaloida purin (misal kofeina) 2.8.2 Sifat Fisika Alkaloid Amina

Umumnya mempunyai 1 atom N meskipun ada beberapa yang memiliki lebih dari 1 atom N seperti pada Ergotamin yang memiliki 5 atom N. Atom N ini dapat berupa amin primer, sekunder maupun tertier yang semuanya bersifat basa (tingkat kebasaannya tergantung dari struktur molekul dan gugus fungsionalnya). Kebanyakan alkaloid yang telah diisolasi berupa padatan kristal tidak larut dengan titik lebur yang tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Sedikit alkaloid yang berbentuk amorf dan beberapa seperti; nikotin dan koniin berupa

32

cairan. Kebanyakan alkaloid tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa yang kompleks, species aromatik berwarna (contoh berberin berwarna kuning dan betanin berwarna merah). Pada umumnya, basa bebas alkaloid hanya larut dalam pelarut organik, meskipun beberapa pseudoalkaloid dan protoalkaloid larut dalam air. Garam alkaloid dan alkaloid quartener sangat larut dalam air.
2.8.3 Sifat Kimia Alkaloid Amina

Kebanyakan alkaloid bersifat basa. Sifat tersebut tergantung pada adanya pasangan elektron pada nitrogen.Jika gugus fungsional yang berdekatan dengan nitrogen bersifat melepaskan elektron, sebagai contoh; gugus alkil, maka ketersediaan elektron pada nitrogen naik dan senyawa lebih bersifat basa. Hingga trietilamin lebih basa daripada dietilamin dan senyawa dietilamin lebih basa daripada etilamin. Sebaliknya, bila gugus fungsional yang berdekatan bersifat menarik elektron (contoh; gugus karbonil), maka ketersediaan pasangan elektron berkurang dan pengaruh yang ditimbulkan alkaloid dapat bersifat netral atau bahkan sedikit asam. Contoh ; senyawa yang mengandung gugus amida. Kebasaan alkaloid menyebabkan senyawa tersebut sangat mudah

mengalami dekomposisi, terutama oleh panas dan sinar dengan adanya oksigen. Hasil dari reaksi ini sering berupa N-oksida. Dekomposisi alkaloid selama atau setelah isolasi dapat menimbulkan berbagai persoalan jika penyimpanan berlangsung dalam waktu yang lama. Pembentukan garam dengan senyawa organik (tartarat, sitrat) atau anorganik (asam hidroklorida atau sulfat) sering mencegah dekomposisi. Itulah sebabnya dalam perdagangan alkaloid lazim berada dalam bentuk garamnya. 2.8.4 Klasifikasi Alkaloid Amina

2.8.4.1 Menurut Hegnuer Pada bagian yang memaparkan sejarah alkaloid, jelas kiranya bahwa alkaloid sebagai kelompok senyawa, tidak diperoleh definisi tunggal tentang alkaloid. Sistem klasifikasi yang diterima, menurut Hegnauer, alkaloid
33

dikelompokkan sebagai Alkaloid sesungguhnya, Protoalkaloid, dan Pseudoalkaloid. Meskipun terdapat beberapa perkecualian. 2.8.4.1.1 Alkaloid Sesungguhnya

Alkaloid sesungguhnya adalah racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas phisiologi yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa; lazim mengandung Nitrogen dalam cincin heterosiklik ; diturunkan dari asam amino ; biasanya terdapat aturan tersebut adalah kolkhisin dan asam aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin heterosiklik dan alkaloid quartener, yang bersifat agak asam daripada bersifat basa. 2.8.4.1.2 Protoalkaloid

Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana dimana nitrogen dan asam amino tidak terdapat dalam cincin heterosiklik. Protoalkaloid diperoleh berdasarkan biosintesis dari asam amino yang bersifat basa. Pengertian amin biologis sering digunakan untuk kelompok ini. Contoh, adalah meskalin, ephedin dan N,N-dimetiltriptamin. 2.8.4.1.3 Pseudoalkaloid

Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari prekursor asam amino. Senyawa biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloid yang penting dalam khas ini, yaitu alkaloid steroidal (contoh: konessin dan purin (kaffein))
2.8.4.2

Berdasarkan atom nitrogennya Alkaloid dengan atom nitrogen heterosiklik

2.8.4.2.1

Dimana atom nitrogen terletak pada cincin karbonnya. Yang termasuk pada golongan ini adalah : a. Alkaloid Piridin-Piperidin Mempunyai satu cincin karbon

mengandung 1 atom nitrogen. Yang termasuk dalam kelas ini adalah : Conium maculatum dari famili Apiaceae dan Nicotiana tabacum dari famili Solanaceae.

34

b. Alkaloid Tropan Mengandung satu atom nitrogen dengan gugus metilnya (N-CH3). Alkaloid ini dapat mempengaruhi sistem saraf pusat termasuk yang ada pada otak maupun sun-sum tulang belakang. Yang termasuk dalam kelas ini adalah Atropa belladona yang digunakan sebagai tetes mata untuk melebarkan pupil mata, berasal dari famili Solanaceae, Hyoscyamus niger, Dubuisia hopwoodii, Datura dan Brugmansia spp, Mandragora officinarum, Alkaloid Kokain dari Erythroxylum coca (Famili Erythroxylaceae) c. Alkaloid Quinolin Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen. Yang termasuk disini adalah ; Cinchona ledgeriana dari famili Rubiaceae, alkaloid quinin yang toxic terhadap Plasmodium vivax d. Alkaloid Isoquinolin Mempunyai 2 cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen. Banyak ditemukan pada famili Fabaceae termasuk Lupines (Lupinus spp), Spartium junceum, Cytisus scoparius dan Sophora secondiflora e. Alkaloid Indol Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 cincin indol . Ditemukan pada alkaloid ergine dan psilocybin, alkaloid reserpin dari Rauvolfia serpentine, alkaloid vinblastin dan vinkristin dari Catharanthus roseus famili Apocynaceae yang sangat efektif pada pengobatan kemoterapy untuk penyakit Leukimia dan Hodgkins. f. Alkaloid Imidazol Berupa cincin karbon mengandung 2 atom nitrogen. Alkaloid ini ditemukan pada famili Rutaceae. Contohnya; Jaborandi paragua. g. Alkaloid Lupinan Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom N, alkaloid ini ditemukan pada Lunpinus luteus (fam : Leguminocaea). h. Alkaloid Steroid Mengandung 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dan 1 rangka steroid yang mengandung 4 cincin karbon. Banyak ditemukan pada famili Solanaceae, Zigadenus venenosus. i. Alkaloid Amina Golongan ini tidak mengandung N heterosiklik. Banyak yang merupakan tutrunan sederhana dari feniletilamin dan senyawa-

35

senyawa turunan dari asam amino fenilalanin atau tirosin, alkaloid ini ditemukan pada tumbuhan Ephedra sinica (fam Gnetaceae) j. Alkaloid Purin Mempunyai 2 cincin karbon dengan 4 atom nitrogen. Banyak ditemukan pada kopi (Coffea arabica) famili Rubiaceae, dan Teh (Camellia sinensis) dari famili Theaceae, Ilex paraguaricasis dari famili Aquifoliaceae, Paullunia cupana dari famili Sapindaceae, Cola nitida dari famili Sterculiaceae dan Theobroma cacao. 2.8.4.2.2 Alkaloid tanpa atom nitrogen yang heterosilik

Dimana, atom nitrogen tidak terletak pada cincin karbon tetapi pada salah satu atom karbon pada rantai samping. 1. Alkaloid Efedrin (alkaloid amine) Mengandung 1 atau lebih cincin karbon dengan atom Nitrogen pada salah satu atom karbon pada rantai samping. Termasuk Mescalin dari Lophophora williamsii, Trichocereus pachanoi, Sophora secundiflora, Agave americana, Agave atrovirens, Ephedra sinica, Cholchicum autumnale. 2. Alkaloid Capsaicin Dari Chile peppers, genus Capsicum. Yaitu ; Capsicum pubescens, Capsicum baccatum, Capsicum annuum, Capsicum frutescens, Capsicum chinense. 2.8.5 IDENTIFIKASI

Dua metode yang paling banyak digunakan untuk menyeleksi tanaman yang mengandung alkaloid. Prosedur Wall, meliputi ekstraksi sekitar 20 gram bahan tanaman kering yang direfluks dengan 80% etanol. Setelah dingin dan disaring, residu dicuci dengan 80% etanol dan kumpulan filtrat diuapkan. Residu yang tertinggal dilarutkan dalam air, disaring, diasamkan dengan asam klorida 1% dan alkaloid diendapkan baik dengan pereaksi Mayer atau dengan Siklotungstat. Bila hasil tes positif, maka konfirmasi tes dilakukan dengan cara larutan yang bersifat asam dibasakan, alkaloid diekstrak kembali ke dalam larutan asam. Jika larutan asam ini menghasilkan endapan dengan pereaksi tersebut di atas, ini

36

berarti tanaman mengandung alkaloid. Fasa basa berair juga harus diteliti untuk menentukan adanya alkaloid quartener. Prosedur Kiang-Douglas agak berbeda terhadap garam alkaloid yang terdapat dalam tanaman (lazimnya sitrat, tartrat atau laktat). Bahan tanaman kering pertama-tama diubah menjadi basa bebas dengan larutan encer amonia. Hasil yang diperoleh kemudian diekstrak dengan kloroform, ekstrak dipekatkan dan alkaloid diubah menjadi hidrokloridanya dengan cara menambahkan asam klorida 2 N. Filtrat larutan berair kemudian diuji terhadap alkaloidnya dengan menambah pereaksi mayer,Dragendorff atau Bauchardat. Perkiraan kandungan alkaloid yang potensial dapat diperoleh dengan menggunakan larutan encer standar alkaloid khusus seperti brusin. Beberapa pereaksi pengendapan digunakan untuk memisahlkan jenis alkaloid. Pereaksi sering didasarkan pada kesanggupan alkaloid untuk bergabung dengan logam yang memiliki berat atom tinggi seperti merkuri, bismuth, tungsen, atau jood. Pereaksi mayer mengandung kalium jodida dan merkuri klorida dan pereaksi Dragendorff mengandung bismut nitrat dan merkuri klorida dalam nitrit berair. Pereaksi Bouchardat mirip dengan pereaksi Wagner dan mengandung kalium jodida dan jood. Pereaksi asam silikotungstat menandung kompleks silikon dioksida dan tungsten trioksida. Berbagai pereaksi tersebut menunjukkan perbedaan yang besar dalam halsensitivitas terhadap gugus alkaloid yang berbeda. Ditilik dari popularitasnya, formulasi mayer kurang sensitif dibandingkan pereaksi wagner atau dragendorff. Kromatografi dengan penyerap yang cocok merupakan metode yang lazim untuk memisahkan alkaloid murni dan campuran yang kotor. Seperti halnya pemisahan dengan kolom terhadap bahan alam selalu dipantau dengan kromatografi lapis tipis. Untuk mendeteksi alkaloid secara kromatografi digunakan sejumlah pereaksi.

37

Pereaksi yang sangat umum adalah pereaksi Dragendorff, yang akan memberikan noda berwarna jingga untuk senyawa alkaloid. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa beberapa sistem tak jenuh, terutama koumarin dan piron, dapat juga memberikan noda yang berwarna jingga dengan pereaksi tersebut. Pereaksi umum lain tetapi kurang digunakan adalah asam fosfomolibdat, jodoplatinat, uap jood, dan antimon (III) klorida Kebanyakan alkaloid bereaksi dengan pereaksi-pereaksi tersebut tanpa membedakan kelompok alkaloid. Sejumlah pereaksi khusus tersedia untuk menentukan atau mendeteksi jenis alkaloid khusus. Pereaksi Ehrlich (pdimetilaminobenzaldehide yang diasamkan) memberikan warna yang sangat karakteristik biru atau abu-abu hijau dengan alkaloid ergot. Perteaksi serium amonium sulfat (CAS) berasam (asam sulfat atau fosfat) memberikan warna yang berbeda dengan berbagai alkaloid indol. Warna tergantung pada kromofor ultraungu alkaloid. Campuran feriklorida dan asam perklorat digunakan untuk mendeteksi alkloid Rauvolfia. Alkaloid Cinchona memberikan warna jelas biru fluoresen pada sinar ultra ungu (UV) setelah direaksikan dengan asam format dan fenilalkilamin dapat terlihat dengan ninhidrin. Glikosida steroidal sering dideteksi dengan penyemprotan vanilinasam fosfat. Pereaksi Oberlin-Zeisel, larutan feri klorida 1-5% dalam asam klorida 0,5 N, sensitif terutama pada inti tripolon alkaloid kolkisin dan sejumlah kecil 1 g dapat terdeteksi. 2.8.6 Deteksi

Prosedur Wall, ekstraksi 20 g sampel kering secara refluks dengan etanol 80%. Dingin saring, ampas dicuci etanol 80%, filtrat dikum-pul, diuapkan. Residu larutkan dengan air sua-sana asam (asam klorida 1%), disaring, tambah pereaksi endap seperti Mayer, siklotungstat atau pereaksi lain. Bila positif, maka larutan asam dibasakan kembali dan diekstraksi dengan pelarut organik. Lapisan organik asam-kan kembali dan lapisan air asam dites dengan pereaksi warna, jika positif maka dapat diyakini bahwa sampel mengandung alkaloida.

38

Lapisan organik basa perlu juga dites untuk menen-tukan adanya alkaloida quaterner. Prosedur Kiang Douglas, sampel kering dibasakan dengan larutan amonia encer,ekstraksi dengan pelarut organik (kloroform), Ekstrak kloroform dipekatkan dan alkaloida diubah menjadi garam hidroklori dengan penambahan HCl 2 N. Filtrat larutan berair kemudian diuji dengan pereaksi alkaloida. Kekurangan metode Kiang Douglas adalah senyawa amonium kuaterner tidak dapat diubah menjadi ben-tuk basa bebasnya dengan cara penambahan amonia dan tetap tinggal dalam sampel sehingga tidak terde-teksi. Sedang prosedur Wall alkaloida quaterner mun-cul sebagai false positive karena senyawa tersebut tidak dapat terekstraksi ke dalam pelarut organik da-lam suasana asam basa. Beberapa pereaksi endap; Mayer, Bouchardat, Dragendorff, Wagner, larutan tannin, lauran pikrat dalam air, larutan asam pikrolonat, larutan asam sublimat, larutan asam siliko-wolframat dan larutan emas klorida, Pereaksi warna; asam sulfat bebas NO, pereaksi Edman, perekasi Frohde, pereaksi Mandelin, pereaksi Marquis. 2.8.7 Ekstraksi

Keragaman golongan alkaloida. pola ekstraksi dilakukan atas dasar sifat kebasaannya. Berdasarkan atas sifat ini ----- alkaloida diekstraksi dengan dua cara, yaitu : pertama ekstraksi dengan air dalam suasana asam kedua ekstraksi dengan pelarut organik dalam suasana basa. Ekstraksi awal alkaloida umumnya dilakukan dengan pelarut organik suasana basa.

2.9 SIMPLISIA 2.9.1 Alkaloid Piridin-Piperidin

39

Mempunyai satu cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen, dengan struktur inti :

Gambar 2. 6 Reduksi Piridin

Golongan ini dibagi dalam 4 sub golongan : 1. Turunan Piperidin, meliputi piperini yang diperoleh dari Piperis nigri Fructus; yang berasal dari tumbuhan Piperis nigri (fam : Piperaceae) berguna sebagai bumbu dapur. 2. Turunan Propil-Piperidin, meliputi koniin yang diperoleh dari Conii Fructus; yang berasal dari tumbuhan Conium maculatum (Fam: Umbelliferae) berguna sebagai antisasmodik dan sedatif. 3. Turunan Asam Nikotinan, meliputi arekolin yang diperoleh dari Areca Semen; yang berasal dari tumbuhan Areca catechu (fam: Palmae) berguna sebagai anthelmentikum pada hewan. 4. Turunan Pirinin & Pirolidin, meliputi nikotin yang diperoleh dari Nicoteana Folium; yang berasal dari tumbuhan Nicotiana tobaccum (fam: Solanaceae) berguna sebagai antiparasit, insektisida dan antitetanus. Tumbuhan yang juga mengandung alkaloid ini adalah kuli dari Punica granatum (fam: Punicaceae) yang berguna sebagai taenifuga.

2.9.2

Alkaloid Tropan

40

Mengandung satu atom nitrogen dengan gugus metilnya (N-CH3). Alkaloid ini dapat mempengaruhi sistem saraf pusat termasuk yang adapada otak

maupun sumsum tulang belakang, struktur intinya :

Gambar 2. 7 Hiosiamin dan Skopolamin

Gambar 2. 8 Scopolamine

Berasal dari tumbuhan Datura stramonium, D. Metel (fam Solanaceae), tumbuh pada daerah yang memiliki suhu yang panas daun dan bijinya mengandung alkaloid Skopolamin; berfungsi sebagai antispasmodik dan sedative. Pada tumbuhan Hyoscyamus muticus dan H. Niger (fam Solanaceae), tumbuh didaerah Amerika Selatan dan Kanada dikenal dengan nama Henbane daun dan bijinya digunakan sebagai relaksan pada otot.

41

Gambar 2. 9 Kokain

Senyawa ini berfungi sebagai analgetik narkotik yang menstimulasi pusat syaraf, selain itu juga berfungsi sebagai antiemetik dan midriatik. Zat ini bersal dari daun tumbuhan Erythroxylum coca, E. Rusby dan E. Novogranatense (fam Erythroxylaceae). Kokain lebih banyak disalahgunakan (drug abuse) oleh sebagian orang dengan nama-nama yang lazim dikalangan mereka seperti snow, shabushabu, crak dan sebagainya. 3. Atropin, Apotropin dan Belladonina Atropa dari bahasa Yunani yaitu terdiri dari kata Atropos yang berarti tidak dapat dibengjokkan atau disalahgunakan, ini disebabkan karena belladona merupakan obat yang sangat beracun dan dapat menyebabkan kematian. Belladonna barasal dari bahasa Italia Bella artinya cantik dan Donna artinya wanita. Bila cairan buah diteteskan pada mata akan menyebabkan dilatasi dari pupil mata sehingga menjadi sangat menarik Akar dan daun tumbuhan Atropa belladonna (fam Solanaceae) merupakan sumber dari senyawa ini, digunakan sebagai antispamolitik, antikolinergik, anti asma dan midriatik. Zat ini merupakan hasil dari hiosiamin selama ekstraksi sehingga tak dapat ditemukan dalam tanaman. Atropin yang dihasilkan secara sintetik lebih mahal daripada yang berasal dari ekstraksi dari tanaman dan tidak dapat disaingi harganya.

42

2.9.3

Alkaloid Quinolin

Gambar 2. 10 Alkaloid Quinolin

Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dengan struktur inti seperti Kinina, Kinidina, Sinkonidin, Sinkonidina.

Gambar 2. 11 Kinina

2.9.3.1 Kinina Senyawa ini pada umumnya berguna sebagai anti malaria, alkaloid ini terdapat pada kulit batang (cotex) dari tumbuhan Cinchona succirubra (fam : Rubiaceae). Ada beberapa jenis dari Cinchona diantaranya C. Calisaya yang berwarna kuning berasal dari Peru dan Bolivia, C. Officinalis dan C. Ledgeriana lebih banyak di Indonesia yang ditanam di pulau jawa. Sebelum PD II Indonesia menyuplai 90% kebutuhan kina di dunia, ketika Jepang memutuskan suplai ini

43

maka diusahan beberapa obat antimalaria sintetik (kloroquin, kunaikri dan primakrin) untuk menggantika kina. 2.9.3.2 Akronisina
Berasal dari kulit batang tumbuhan Acronychia bauery (fam : Rutaceae, berfungsi sebagai antineoplastik yang tealah diujikan pada hewan coba dan diharapkan mampu merupakan obat yang efektif untuk kemoterapi neoplasma pada manusia.

Gambar 2. 12 Camptothecin.

Diperoleh dari buah, sebagian kayu atau kulit dari pohon Camptotheca acuminata (fam : Nyssaceae), suatu pohon yang secara endemik tumbuh di daratan cina. Ekstrak dari tumbuhan ini ternyata mempunyai keaktifan terhadap leukemia limpoid. 2.9.3.3 Viridicatin Merupakan subtansi antibiotik dari mycelium jamur Penicillium viridicatum (fam : Aspergillaceae), senyawa ini aktif untuk semua jenis Plasmodium (kecuali P. vivax) penyebab malaria. Penggunaan senyawa ini memiliki efek samping berupa Cindronism yaitu pendengaran berkurang

44

2.9.4

Alkaloid Isoquinolin

Mempunyai 2 cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen dengan struktur inti :

Gambar 2. 13 Alkaloid Isoquinolin

2.9.4.1 Morfin Penggunaan morfin khusus pada nyeri hebat akut dan kronis , seperti pasca bedah dan setelah infark jantung, juga pada fase terminal dari kanker.Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai :

1). Infark miokard; 2). Mioplasma; 3). Kolik renal atau kolik empedu ; 4). Oklusio akut pembuluh darah perifer , pulmonal atau koroner; 5) perikarditis akut, pleuritis dan pneumotoraks spontan dan 6). Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar , fraktur dan nyeri pascabedah. Morfin diperoleh dari biji dan buah tumbuhan Papaver somniferum dan P. Bracheatum (fam : Papaveraceae) salah satu hasil tanaman ini berupa hasil sadapan dari getah buah yang dikenal sebagai opium yang berarti candu,

45

Candu merupakan ibu dari morfin, mulanya dikembangkan sebagai obat penghilang rasa sakit sekitar tahun 1810. Morfin dikategorikan sebagai obat yang ajaib karena mampu mengurangi rasa sakit akibat operasi atau luka parah. Pada saat dikonsumsi, obat ini menyebabkan penggunanya berada dalam kondisi mati rasa sekaligus diliputi perasaan senang/ euforia seperti sedang berada dalam alam mimpi. Oleh karena efek sampingnya yang berupa euforia ini, pada tahun 1811 obat ini diberi nama Morpheus sama seperti nama dewa mimpi Yunani oleh Dr. F.W.A. Serturner, seorang ahli obat dari Jerman. Pertengahan tahun 1850, morfin telah tersedia di seluruh Amerika Serikat dan semakin populer dalam dunia kedokteran. Morfin dimanfaatkan sebagai obat penghilang rasa sakit yang membuat takjub dokter-dokter pada masa itu. Sayangnya, ketergantungan terhadap obat tersebut terlewatkan, tidak terdeteksi sampai masa Perang Saudara berakhir. Dengan adanya penggunaan yang berlebihan yang terus menerus ataupun kadang-kadang dari suatu obat yang secara tidak layak atau menyimpang dari norma pengobatan yang lazim maka hal tersebut dikatakan drug abuse terlebih lagi apabila pada pemakaian morfin sebagai obat keras. Morfin tergolong kedalam hard drugs yakni zat-zat yang pada penggunaan kronis menyebabkan perubahan perubahan dalam tubuh si pemakai, sehingga penghentiannya menyebabkan gangguan serius bagi fisiologi tubuh, yang disebut gejala penarikan atau gejala abstimensi. Gejala ini mendorong bagi si pecandu untuk terus menerus menggunakan zat zat ini untuk menghindarkan timbulnya gejala abstimensi.dilain pihak , dosis yang digunakan lambat laun harus ditingkatkan untuk memperoleh efek sama yang dikehendaki (toleransi). Hard drugs menyebabkan ketergantungan fisik (ketagihan ) hebat dan menyebabkan toleransi terhadap dosis yang digunakan. 2.9.4.2 Emetina Senyawa ini berfunsi sebagai emetik dan ekspektoran, diperoleh dari akar tumbuhan Cephaelis ipecacuanha dan C. Acuminata (fam : Rubiaceae) 3.

46

Hidrastina dan Karadina Senyawa ini berasal dari tumbuhan Hydrastis canadensis (fam : Ranunculaceae) dikenal pula sebagai Yellowroot; bagian yang digunakan berupa umbi akar berkhasiat sebagai adstrigensia pada radang selaput lendir. 4. Beberina Berupa akar dan umbi akar dari tumbuhan Berberis vulgaris (dari Oregon), B. Amition (dari Himalaya), dan B. aristaca (India) dari familia Berberidaceae yang berguna sebagai zat pahit/amara dan antipiretik. 2.9.5 Alkaloid Indol

Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 cincin indol dengan inti seperti di bawah ini:

Gambar 2.14 Alkaloid Indol

2.9.5.1 Reserpina Merupakan hasil ekstraksi dari akar tumbuhan Rauwolfia serpentine dari suku Apocynaceae yang terkadang bercampur dengan fragmen rhizima dan bagian batang yang melekat padanya. Senyawa ini berfungsi sebagai antihipertensi. Dalam perdagangan terdapat 5 jenis yaitu R. Serpentine, R. Canescens, R. Micratha, dan R. Tetraphylla. Selain sebagai anti hipertensi juga berfungsi sebagai traqulizer (penenang), 2.9.5.2 Vinblastina, Vinleusina, Vinrosidina, Vinkristina Diperoleh dari tumbuhan Vinca rosea, Catharanthus roseus (fam : Apocynaceae) berupa herba yang berkhasiat sebagai antitumor.

2.9.5.3 Sriknina & Brusina

47

Berasal dari tumbuhan Strychnos nux-vomica dan S. ignatii (fam :Loganiaceae) yang terdapat di Filifina, Vietnam dan Kamboja. Bagian tanaman yang diambil berupa ekstrak biji yang telah kering dengan khasiat sebagai tonikum dalam dosis yang kecil sedangkan dalam pertanian digunakan sebagai ratisida (racun tikus). 2.9.5.4 Fisostigmina & Eserina Simplisianya dikenal dengan nama Calabar bean, ordeal bean, chop nut dan split nut berupa biji dari tumbuhan Physostigma venenosum (fam : Leguminosae) yang berkhasiay sebagai konjungtiva pengobatan glaukoma. 2.9.5.5 Ergotoksina, Ergonovina, & Ergometrina Alkaloid ini asalnya berbeda dibandingkan dengan yang lain, sebab berasal dari jamur yang menempel pada sejenis tumbuhan gandum yang kemudian dikeringkan. Jamur ini berguna sebagai vasokonstriktor untuk penyakit migrain yang spesifik dan juga sebagai oxytoksik. Diperoleh dari sisik jamur yang menempel pada tumbuhan Claviceps purpurea (fam: Hypocreaceae), jamur ini merupakan parasit pada tumbuhan tersebut, selain itu jamur ini juga terdapat pada tumbuhan Secale cornutum (fam: Graminae). 6. Kurare Diperoleh dari kulit batang Stricnos crevauxii, C. Castelnaci, C. Toxifera (fam:loganiaceae) dan Chondodendron tomentosum (fam: Menispermaceae) yang berguna sebai relaksan pada otot. 2.9.6 Alkaloid Imidazol

Berupa cincin karbon mengandung 2 atom nitrogen, dengan inti :

48

Gambar 2. 15 Alkaloid Imidazol

Lingkaran Imidazol merupakan inti dasar dari pilokarpin yang berasal dari daun tumbuhan Pilocarpus jaborandi atau Jaborandi rermambuco, P. Microphylus atau J. marashm, dan P. Pinnatifolius atau J. Paraguay dari familia Rutaceae yang berkhasiat sebagai konjungtiva pada penderita glaukoma. 2.9.7 Alkaloid Lupinan

Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom N, intinya adalah :

Gambar 2. 16 Alkaloid Lupinan

alkaloid ini ditemukan pada Lunpinus luteus, Cytisus scopartus (fam : Leguminocaea) dan Anabis aphylla (fam : Chenopodiaceae) berupa daun tumbuhan yang telah dikeringkan berkhasiat sebagai oksitoksik. 2.9.8 Alkaloid Steroid

Mengandung 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dan 1 rangka steroid yang mengandung 4 cincin karbon. Inti dari steroid adalah :

49

Gambar 2. 17 Alkaloid Steroid

Alkaloid steroid terbagi atas 3 golongan yaitu : 1. Golongan I : Sevadina, Germidina, Germetrina, Neogermetrina,

Gemerina, Neoprotoperabrena, Veletridina 2. 3. Golongan II : Pseudojervina, Veracrosina, Isorobijervosia

Golongan III : Germina, Jervina, Rubijervina, Isoveratromina Germidina, Germitrina Diperoleh dari umbi akar tumbuhan Veratrum viride

(fam: Liliaceae) yang berguna sebagai antihipertensi. Protoveratrin Diperoleh dari umbi akar tumbuhan Veratrum album (fam : Liliaceae) yang berguna sebagai insektisida & antihioertensi. Sevadina Diperoleh dari biji sebadilla (Sebadilla Semen) dari tumbuhan Schonecaulon officinalis (fam: Liliaceae) berguna sebagai insektisida.
2.9.9 Alkaloid Purin

Mempunyai 2 cincin karbon dengan 4 atom nitrogen; dengan inti :

Gambar 2. 18 Kafeina (1,3,7, Trimetil Xanthin)

50

Susunan inti heterosiklik yang terdiri dari cincin pirimidin yang tergabung dengan Imidazole. Alkaloid ini diperoleh dari biji kopi Coffe arabica, C. Liberica (fam: Rubiaceae) mengandung kafein. Aksi dari kopi pada prinsipnya di dasarkan pada daya kerja kafein, yang bekerja pada susunan syaraf pusat, ginjal, otot otot jantung. tumbuhan lain yang juga mengandung caffein seperti camellia sinensis (fam: Theaceae), cola nitida (fam starculiaceae).

Gambar 2. 19 Theobromina (3,7 Dimetil Xantin)

Diperoleh dari biji tumbuhan Theobroma cacao (fam: Sterculaceae) yang berguna sebagai diuretik dan stimulan SSP.

Gambar 2. 20 Theofilina (1,3 Dimetil Xantin)

Merupakan isomer dari 1,3 dimetil xantin (isomer Theobromina) yang berguna sebagai bronkodilator dan diuretik)
51

2.10

KEGUNAAN DAN APLIKASI AMINA Amian aromatic adala senyawa nitrogen organik turunan ammonia dimana

sedikitnya satu atom hydrogen dari ammonia digantikan oleh gugus aril. Senyawa amina aromatic banyak digunakn sebagai bahan baku dalam berbagai industry, diantaranya untuk produksi zat warna, pestisida, plastic dan farmasi. Penggunaan amina aromatic dalam berbagai proses industry menyebabkan senyawa ini banyak dijumpai di lingkungan perairan. Selain sebagai hasil buangan dari kegiatan industry, senyawa ini juga merupakan hasil penguraian biologis dari senyawa dengan bahan baku amina aromatic, misalnya zat warna azo. Selain itu sifat polaritas amina aromatic memiliki kelrutan besar di dalam air sehingga banyak ditemukan di badan air. Karena itu senyawa amina aromatic diketahui memiliki mobilitas yang tinggi di perairan.

Senyawa amina memiliki kegunaan yang luas dalam kehidupan yaitu dapat berguna sebagai pencegah korosif,bakterisida,fungisida,bahan pemflotasi dan pengemulsi. Empat amin yang relative sederhana sangat penting dalam fungdi tubuh manusia. Ke empatnnya adalah sekresi kelenjar adrenal epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (non adrenalin), dopamine dan serotonin. Senyawasenyawa tersebut berfungsi sebagai neurotransmitter ( pembawa pesan kimiawi) antara sel-sel saraf. Epinefrin juga berfungsi sebagai hormone yang menstimulasi pemecahan glikogen menjadi glukosa dalam otot ketika kadar cadangan glukosa menurun. Epinefrin, norepinefrin dan dopamine juga dikenal sebagai katekolamin yang merupakan turunan dari katekol (o-dihidroksibenzen)

2.10.1 Untuk membuat insektisida Insektisida secara umum adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh serangga pengganggu (hama serangga). Insektisida dapat membunuh

52

serangga dengan dua mekanisme, yaitu dengan meracuni makanannya (tanaman) dan dengan langsung meracuni si serangga tersebut. Salah satu bahan untuk membuat insektisida adalah merkuri. Merkuri terikat pada gugus fungsi salah satunya amina dimana dalam gugus tersebut merkuri dapat menghambat fungsi enzim dari serangga. Ion merkuri menyebabkan pengaruh toksik, karena terjadinya proses presipitasi protein menghambat aktivitas enzim dan bertindak sebagai bahan yang korosif. Merkuri juga terikat oleh gugus sulfhidril, fosforil, karboksil, amida dan amina, di mana dalam gugus tersebut merkuri dapat menghabat fungsi enzim. Bentuk organik seperti metil-merkuri, sekitar 90% diabsorpsi oleh dinding usus, hal ini jauh lebih besar daripada bentuk anorganik (HgCl2) yang hanya sekitar 10%. Akan tetapi bentuk merkuri anorganik ini kurang bersifat korosif daripada bentuk organik. Bentuk organik tersebut juga dapat menembus barrier darah dan plasenta sehingga dapat menimbulkan pengaruh teratogenik dan gangguan syaraf. Insektisida juga berasal dari bahan-bahan alami misalnya pembuatan Insektisida Alami. Untuk menghilangkan hama kutu dan ulat pada tanaman: Bahan : Tembakau, Kenikir , Pandan, Kemangi, Cabe rawit, Kunyit, Bawang Putih , Aquadest, mikro organism, pengurai, Gula pasir Cara pembuatannya :
a.

Semua bahan di blender dan ditambah air suling Masukkan ke dalam botol yang steril Tambahkan gula pasir tambahkan mikro organisme pengurai Tutup dan biarkan 1 minggu supaya terjadi fermentasi Kemudian di saring. Siap dipergunakan

b. c. d. e. f. g.

Cara kerja insektisida pada tanaman yaitu:


53

1. Untuk mengendalikan hama yang berada didalam jaringan tanaman

(misalnya hama penggerek batang, penggorok daun) penanganannya dilakukan dengan insektisida sistemik atau sistemik local, sehingga residu insektisida akan ditranslokasikan ke jaringan di dalam tanaman. Akibatnya hama yang memakan jaringan didalam tanaman akan mati keracunan. Hama yang berada didalam tanaman tidak sesuai bila dikendalikan dengan aplikasi penyemprotan insektisida kontak, karena hama didalam jaringan tanaman tidak akan bersentuhan (kontak) langsung dengan insektisida.
2. Untuk mengendalikan hama-hama yang mobilitasnya tinggi (belalang, kutu

gajah dll), penggunaan insektisida kontak murni akan kurang efektif, karena saat penyemprotan berlangsung, banyak hama tersebut yang terbang atau tidak berada di tempat penyemprotan. Namun, selang beberapa hari setelah penyemprotan, hama tersebut dapat kembali lagi. Pengendalian paling tepat yaitu dengan menggunakan insektisida yang memiliki sifat kontak maupun sistemik dengan efek residual yang agak lama. Dengan demikian apabila hama tersebut kembali untuk memakan daun, maka mereka akan mati keracunan.

2.10.2 Sebagai pewarna dan juga pelembut

Gambar 2. 21 Macam Pewarna

Contohnya yaitu pada pewarnaan kain. Pada kain tidak saat di cuci tidak akan luntur. Hal ini terjadi karena pada pewarna tersebut terdapat senyawa karbon yang dapat mempertahankan warna pada kain. Turunan amina rantai

54

panjang dalam hal ini garam kuraterner ammonium yang mengandung setidaknya satu gugus amina rantai panjang bersifat larut dalam air dan aktif secara biologis. Penambahan gugus amina rantai panjang membuatnya sulit larut dalam air namun tetap dapat didispersikan dalam air. Penggunaan senyawa tersebut paling umum pada industri pelembut pakaian dimana garam tersebut melekat pada permukaan pakaian dan memberi kesan lembut terhadap tangan. Ikatan hidrogen merupakan ikatan sekunder yang terbentuk karena atom hidrogen pada gugusan hidroksi atau amina mengadakan ikatan yang lemah dengan atom lainnya, misalnya molekul-molekul air yang mendidih pada suhu yang jauh lebih tinggi daripada molekul-molekul senyawa alkana dengan berat yang sama. Pada umumnya molekul molekul zat warna dan serat mengandung gugusan- gugusan yang memungkinkan terbentuknya ikatan hidrogen. 2.10.3 Amina Sebagai Anti Iritasi Pada Shampo Turunan amina rantai panjang yaitu Stearil Dimetil Amin Oksida telah dilaporkan digunakan sebagai anti iritasi pada shampo yang menggunakan bahan dasar natrium lauril sulfat dan zink pyridinethion.Stearil dimetil amin oksida juga telah dilaporkan bertindak sebagai anti iritasi terhadap shampo yang menggunakan garam lauril sulfat lain beserta turunannya. seperti kalium lauril sulfat atau natrium lauril eter sulfat dan juga garam alkil sulfat lainnya seperti gliseril alkil sulfat dan alkil aril sulfat (Gerstein, 1977). 2.10.4 Amina Sebagai Pelumas Pelumas digunakan pada kendaraan untuk memperkecil gesekan antara bagian yang bergerak pada mesin mobil seperti keramik dan logam. Aditif yang digunakan pada umumnya adalah zink dialkil ditiofosfat (ZDDP) namun senyawa tersebut bmemberikan kontribusi besar terhadap emisi partikulat sulfur dan fosfor ke udara serta menjadi racun katalis pada catalytic converter sehingga perlu ditemukan penggantinya.Sebagai pengganti telah dilaporkan turunan senyawa pengganti telah dilaporkan turunan senyawa oleilamina dan

55

stearilamina yang direaksikan dengan asam sitrat dan asam suksinat telah menunjukkan sifat pelumas yang baik (Kocsis, 2010).

2.10.5 Amina sebagai Obat Parasit Leishmania Formulasi lemak sebagai obat anti Leishmania telah dilaporkan sebagai terapi yang efektif serta mengurangi efek racun dalam tubuh. Dalam hal ini, Liposom yang Universitas Sumatera Utara dicampurkan dengan phosphatidylcoline (PC) dan stearilamina (SA) telah terbukti memiliki aktivitas anti protozoa secara in vitro terhadap parasit Trypanosoma cruzi,Trypanosoma Brucei Gambiense dan secara in vivo terhadap parasit Toxoplasma Gandii dan L Donovani (Banerjee, 2007). 2.10.6 Alkohol Rantai Panjang Alkohol rantai panjang diproduksi dari berbagai jenis lemak; panjang rantainya bervariasi dari 8 hingga 22 atom karbon. Alkohol pada detergen biasanya memiliki 12-18 atom karbon dengan dominasi 12-14 atom karbon. Alkohol rantai panjang bersaing dengan sejumlah besar produk alkohol turunan minyak bumi dengan panjang rantai yang serupa. Pengunaanya bergantung pada faktor ekonomi. Kegunaan alkohol rantai panjang terutama untuk pasar surfaktan dengan dominasi 65% alkilbenzen dan 35% sisany alkohol rantai panjang dengan rincian 21% sintetis dan 14% alami. Alkohol rantai panjang alami diperoleh dari tiga sumber utama : minyak kelapa, minyak inti sawit dan lemak. Alkohol alami dengan panjang rantai C1618 dihasilkan terutama dari lemak. Kebanyakan alkohol alami diproduksi dari reduksi metil ester namun asam lemak juga dapat direduksi menjadi alkohol. Saat ibi dilaporkan sekitae 500 juta MT alkohol alami diproduksi di seluruh dunia dengan produser detergen sebagai produser utama (Reck, 1985).

56

2.10.7 Aerosil Aerosil merupakan silikon dioksida murni yang diketahui dalam jumlah kecil dapat menyerap air yang cukup besar. Aerosil diperoleh melalui penguapan silikon tetraklorida yang dioksidasi dengan nyala suhu tinggi menggunakan H2 dan O2.
Aerosil berupa serbuk dan memberikan efek mengentalkan dan thixothropy dengan mendispersikannya ke dalam bahan yang bersifat cair. Produk hidrofilik standar dibuat dari partikel utama dengan ukuran 7 nm hingga 40 nm. Adapun kegunaan aerosil adalah sebagi bahan pengalir untuk toner, makanan dan bidang farmasi sebagai pengontrol reologi, cat, mantel, lem, sealant, plastik, film, serat,

keramik dan pendukung katalisator (Wikipedia, 2011). Luas permukaan aerosil bervariasi yaitu dari 50 hingga 400 m2/g. Permukaan aerosil bersifat hidrofilik dan terus menyerap air (Pevzner,1973). Aerosil juga telah digunakan pada reaksi karbonilasi sebanyak 3% dari jumlah metil oleat dan dilaporkan dapat meningkatkan hasil reaksi karbonilasi metil oleat dari < 20% menjadi 52,1% (Saragih, 2009). 2.10.8 Katalis Katalis adalah suatu zat yang mengakibatkan reaksi lebih cepat mencapai kesetimbangan. Katalis tidak akan mengubah nilai ketetapan kesetimbangan dan tidak mengalami perubahan apapun. Menurut teori kecepatan reaksi absolut, peranan katalis adalah menurunklan energy bebas pengaktidan. Beberapa katalis melakukannya dengan membentuk pereaksi untuk mencapai kompleks teraktifkan yang sama dengan bila tanpa adanya katalis,namun kebanyakan katalis tampaknya memberikan suatu mekanisme yang berbeda ,yang mengikatnya secara sementara dan berenergi bebas rendah. (Cotton, 1989). 2.10.8.1 Katalis homogen

Dalam katalisis homogeny reaktan, produk dan katalis secara molecular berada dalam satu fase, biasanya berupa cairan. Contohnya adalah hidrogenasi dari 1-heksena dalam pelarut hidrokarbon yang dikatalisis oleh

57

[(C6H5)3P]3RhH (reaksi 1) dan hidrolisis ester dengan menggunakan katalis asam (reaksi 2) (Parker, 1984). Keuntungan dari katalis homogenya adalah spesifik untuk reaksi tertentu dan tidak membutuhkan suhu dan tekanan yang tinggi dalam reaksi, katalis yang larut lebih mudah dikarakterisasi, misalnya spektroskopi. Kerugian dari katalis homogen adalah katalis sulit dipisahkan dari produknya dan katalis dapat terdegradasi serta harganya relative tinggi (Leach, 1983).

2.10.8.2

Katalis heterogen

Dalam katalis heterogen,katalis berada pada fase yang berbeda, reaktan dan produk biasanya berupa gas atau cairan dan katalis adalah padatan. Reaksi katalitik terjadi di atas permukaan padatan. Contohnya adalah dehidrasi dan dehidrogenasi isopropyl alkohol (reaksi 1 dan 2) (Parker, 1984). Keuntungan dari katalis heterogen adalah katalis mudah dipisahkan dari produknya,katalis dapat diaktifkan kembali dan dapat diadaptasikan dengan berbagai macam reactor. Kerugian dari katalis heterogen adalah dibutuhkannya suhu dan tekanan yang tinggi selama reaksi berlangsung ( Leach, 1983). 2.10.9 Logam Transisi Sebagai Katalis Unsur unsur transisi adalah unsur logam yang memiliki kulit elektron d dan f yang tidak penuh dalam keadaan netral atau kation. Unsur transisi terdiri atas 56 dari 103 unsur. Logam logam transisi diklasifikasikan dalam blok d, yang terdiri dari unsur 3d dari Sc sampai Cu, 4d dari Y ke Ag, dan 5d dari Hf sampai Au, dan blok f, yang terdiri dari unsur lantanoid dari La sampai Lu dan aktinoid dari Ac sampai Lr. Kimia unsur blok d dan blok f sangat berbeda. Logam transisi yang mengkatalisis reaksi kimia merupakan dasar yang sangat penting dalam proses industri, seperti reaksi hidrogenasi, reaksi karbonilasi dan reaksi polimerisasi bertekanan reandah untuk etilen dan propena. Semua proses proses ini berjalan secara heterogen, dimana suatu bahan material yang padat digunakan sebagai katalis (Cotton, 2004 ).

58

Salah satu kegunaan yang penting dari unsur unsur transisi dalam reaksi katalitik adalah untuk mengatomisasi molekul molekul diatomik dan menyalurkan atom atom tersebut pada reaktan yang lain dan reaksi intermediet. H2, O2, N2 dan CO adalah molekul diatomik yang penting. Kekuatan ikatan H, O, N dan C pada permukaan logam logam transisi memberikan gaya dorong termodinamik untuk atomisasi dan juga untuk pelepasan atom dalam reaksi dengan molekul molekul yang lain. Permukaan logam juga memiliki sifat sifat yang unik lainnya yang dapat mengkatalisis serangkaian reaksi reaksi kompleks yang dimulai dengan disosiasi adsorpsi yang diikuti dengan penataan ulang kompleks melalui formasi dan pemutusan ikatan, yang terakhir proses adsorpsi dari produk ( Hegedus, 1987 ). Akurasi penyerapan kimia antara suatu atom H dengan permukaan logam diilustrasikan seperti berikut ini.

Gambar 2. 22 Diagram Energi Penyerapan Atom H pada Permukaan Logam

Diagram energi berdasarkan data spektroskopi fotoelektron dari interaksi suatu atom H ( kanan ) dengan suatu permukaan logam (kiri). Dimana EF merupakan Fermi level. Energi dari ikatan NiH hanya 63 kkal/mol

59

Gambar 2. 23 diagram energy potensial penyerapan hydrogen pada permukaan logam

Dari diagram energi potensial di atas menurut Lennard-Jones untuk adsorpsi hidrogen pada logam dapat dijelaskan. ED, menyatakan energi dissosiasi dari H2 ( 104 kkal/mol);EP, menyatakan energi adsorpsi pada adsorpsi fisika ( molekular );dan Ea merupakan energi penyerapan untuk adsorpsi kimia ( Ertl, 1976 ). 2.10.10Sebagai Bahan flotasi Flotation (flotasi) berasal dari kata float yang berarti mengapung atau mengambang. Flotalasi dapat diartikan sebagai suatu pemisahan suatu zat dari zat lainnya pada suatu cairan/larutan berdasarkan perbedaan sifat permukaan dari zat yang akan dipisahkan, dimana zat yang bersifat hidrofilik tetap berada fasa air sedangkan zat yang bersifat hidrofobik akan terikat pada gelembung udara dan akan terbawa ke permukaan larutan dan membentuk buih yang kemudian dapat dipisahkan dari cairan tersebut. Secara umum flotation melibatkan 3 fase yaitu cair (sebagai media), padat (partikel yang terkandung dalam cairan) dan gas (gelembung udara). Proses flotasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu directional flotation dan reverse flotation. Directional flotation yaitu proses flotasi dimana mineral berharga akan terangkat ke atas membentuk buih yang mengapung di permukaan pulp. Sedangkan reverse flotation adalah proses

60

floatasi dimana partikel mineral yang diapungkan merupakan mineral pengotor (gangue). Proses floatasi dapat berlangsung optimal bergantung dari reagen-reagen yang digunakan. Reagen-reagen yang digunakan juga beragam tergantung dari mineral yang ingin kita peroleh. Reagen reagen yang digunakan tersebut memiliki masing-masing kegunaan ataupun saling melengkapi antar reagen. Berikut kegunaan masing-masing reagent yang digunakan: a. Collector Collector adalah senyawa yang dapat menyebabkan prmukaan mineral menjadi suka udara (hidrofobik). Collector biasanya merupakan mineral organik heteropolar, mengandung gugus polar dan non-polar. Gugus non-polar cenderung bersifat hidrofobik dan akan menempel pada gelembung udara, sedangkan gugus polar akan menempel pada partikel solid tertentu sehingga partikel solid tersebut ikut terapung bersama gelembung udara. b. Frother Frother adalah senyawa yang dapat menurunkan tegangan permukaan gelembung, sehingga tidak mudah pecah. Frother yang efektif biasanya mengandung setidaknya 5 atom karbon dalam tantai utamanya. Ketika permukaan partikel telah menjadi hidrofobik, partikel tersebut harus mampu menempel pada gelembung udara yang disuntikkan (aerasi). Namun muncul masalah ketika gelembung gelembung tersebut tidak stabil dan mudah pecah akibat tumbukan dengan partikel padat, dinding sel dalam gelembung gelembung lain. Oleh karena itu perlu adanya penambahan material ke dalam pulp yang dapat menstabilkan gelembung udara. Material yang ditambahkan tersebut dikenal dengan frother. c. Modifier

61

Adalah beberapa jenis reagen yang ditambahkan untuk mengoptimalkan proses flotasi. Modifier itu sendiri terdiri dari beberapa jenis reagent tertentu, yaitu:

Aktivator, adalah reagen yang ditambahkan untuk menambah Dispersant, adalah reagen yang digunakan untuk mencehah

interaksi antara partikel solid dengan kolektor

terjadinya penggumpalan antara partikel solid sehingga menambah sifat hidrofobik ke partikel solid lain yang tidak diinginkan

Depresant, adalah reagen yang ditambahkan untuk membentuk

lapisan polar yang membungkus partikel solid sehingga menambah sifat hidrofobik ke partikel solid lain yang tidak diinginkan

pH Regulator, adalah reagen yang digunakan untuk mengontrol pH

karena sifat hidrofobik akan berlangsung optimal pada range pH tertentu. Dalam proses floatasi, besarnya ukuran partikel yang akan diflotasi sangatlah penting. Karena besarnya ukuran partikel dapat mempengaruhi laju flotasi. Seperti ditunjukan pada kurva dibawah ini. Ukuran partikel yang semakin besar awalnya menaikkan laju konstanta flotasi secara perlahan, tetapi setelah mencapai puncak(batasan maximum ukuran partikel), laju konstanta flotasi turun secara drastic. Hal ini dikarenakan derajat liberasi yang berkurang dari mineral menurunkan kemampuan bubble untuk mengangkat partikel yang kasar(coarse). Faktor- faktor yang mempengaruhi flotation adalah:

Ukuran partikel

Ukuran partikel yang besar membuat partikel tersebut cenderung untuk mengendap sehingga susah untuk terflotasi

pH larutan

sifat hidrofobik akan berlangsung optimal pada range pH tertentu.

Surfaktan
62

Surfaktan adalah kolektor yang merupakan reagen yang memiliki gugus polar dan gugus non polar sekaligus

laju udara

Berfungsi sebagai pengikat partikel yang memiliki sifat permukaan hidrofobik, persen padatan, untuk flotasi pada partikel kasar dapat dilakukan dengan persen padatan yang besar. 2.10.11Amfetamin Amfetamin atau Amphetamine atau Alfa-Metil-Fenetilamin atau beta-fenilisopropilamin, atau benzedrin, adalah obat golongan stimulansia (hanya dapat diperoleh dengan resep dokter) yang biasanya digunakan hanya untuk mengobati gangguan hiperaktif karena kurang perhatian atau Attention-deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada pasien dewasa dan anak-anak. Juga digunakan untuk mengobati gejala-gejala luka-luka traumatik pada otak dan gejala mengantuk pada siang hari pada kasus narkolepsi dan sindrom kelelahan kronis. Pada awalnya, amfetamin sangat populer digunakan untuk mengurangi nafsu makan dan mengontrol berat badan. Merk dagang Amfetamin (di AS) antara lain Adderall, dan Dexedrine. Sementara di Indonesia dijual dalam kemasan injeksi dengan merk dagang generik. Obat ini juga digunakan secara ilegal sebagai obat untuk kesenangan (Recreational Club Drug) dan sebagai peningkat penampilan (menambah percaya diri atau PD). Istilah "Amftamin" sering digunakan pada campuran-campuran yang diturunkan dari Amfetamin.

63

Gambar 2. 24 Amfetamin

2.10.12Chlorpheniramin

Gambar 2. 25 chlorpheniramin

CTM

atau

Chlorpheniramin

itu

termasuk

golongan

obat

antihistamin,digunakan sebagai obat anti alergi. Dan CTM bekerja di Susunan Saraf Pusat kita. Ini memjelaskan kenapa CTM juga menimbulkan rasa kantuk yang kuat. Maka sangat tidak dianjurkan meminum obat ini jika kita hendak bepergian. Obat ini termasuk obat keras, jadi pemakaiannya harus berhati-hati. Dan dianjurkan untuk mengunakannya hanya jika memang diperlukan. Sistem eliminasi obat tubuh manusia tidak sama untuk tiap orangnya. Jika sistem eliminasi obat tubuh anda lambat, obat / zat ini akan terakumulasi / menumpuk sedikit demi sedikit dalam organ tubuh dalam. Obat yang menumpuk ini bisa menyebabkan kerusakan pada organ juga Alergi sebenarnya adalah reaksi tubuh kita terhadap zat / sesuatu yang asing dan berbahaya bagi tubuh kita. Menangani alergi tidak hanya selalu dengan obat. Kita perlu kaji kembali apa penyebab munculnya reaksi alergi ini,

64

misalnya suatu makanan atau minuman. Jika mengetahui penyebab, kita bisa melakukan tindakan preventif, sehingga alergi tidak muncul.

2.10.13Ephedrine

Gambar 2. 26 Ephedrine

Ephedrine adalah amina yang biasanya digunakan sebagai stimulan , penekan nafsu makan , bantuan konsentrasi, dekongestan , dan untuk mengobati hipotensi berhubungan dengan anestesi, dan sebagai peluruh dahak pada obat batuk Efedrin mirip dengan struktur (semi-sintetik turunan) amfetamin dan metamfetamin . Merupakan alkaloid yang berasal dari berbagai tanaman genus Ephedra (keluarga Ephedraceae ). Ia bekerja terutama dengan meningkatkan aktivitas noradrenalin pada reseptor adrenergik . Hal ini paling biasanya dipasarkan dalam hidroklorida dan bentuk sulfat. 2.10.14Asam Amino Asam amino adalah senyawa organik yang memiliki gugusfungsional karboksil (-COOH) dan amina (biasanya -NH2). Dalam biokimia seringkali pengertiannya dipersempit: keduanya terikat pada satu atom karbon (C) yang sama (disebut atom C "alfa" atau ). Gugus karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Dalam bentuk larutan, asam amino

65

bersifat amfoterik: cenderung menjadi asam pada larutan basa dan menjadi basa pada larutan asam. Perilaku ini terjadi karena asam amino mampu menjadi zwitter-ion. Pada pH tertentu yang disebut titik isolistrik, gugus amina pada asam amino menjadi bermuatan positif (terprotonasi, NH3+). Sedangkan gugus karboksilnya menjadi bermuatan negatif (terdeprotonasi, COO-). Titik isolistrik ini spesifik bergantung pada jenis asam aminonya. Dalam keadaan demikian, asam amino tersebut dikatakan berbentuk zwitter-ion. Zwitter-ion dapat diekstrak dari larutan asam amino sebagai struktur kristal putih yang bertitik lebur tinggi karena sifat dipolarnya. Kebanyakan asam amino bebas berada dalam bentuk zwitter-ion pada pH netral maupun pH fisiologis yang dekatnetral. Dua model molekul isomer optis asam amino alanina. Karena atom C pusat mengikat empat gugus yang berbeda, maka asam aminokecuali glisina memiliki isomer optik: L dan D. Cara sederhana untuk mengidentifikasi isomeri ini dari gambaran dua dimensi adalah dengan "mendorong" atom H ke belakang pembaca (menjauhi pembaca). Jika searah putaran jarum jam (putaran ke kanan) terjadi urutan karboksil-residu-amina maka ini adalah tipe D. Jika urutan ini terjadi dengan arah putaran berlawanan jarum jam, maka itu adalah tipe L. (Aturan ini dikenal dalam bahasa Inggris dengan nama CORN, dari singkatan COOH - R - NH2). Pada umumnya, asam amino alami yang dihasilkan eukariota merupakan tipe L meskipun beberapa siput laut menghasilkan tipe D. Dinding sel bakteri banyak mengandung asam amino tipe D. Struktur Asam Amino Struktur asam -amino, dengan gugus amina di sebelah kiri dan gugus karboksil di sebelah kanan. Struktur asam amino secara umum adalah satu atom C yang mengikat empat gugus: gugus amina (NH2), gugus karboksil (COOH), atom hidrogen (H), dan satu gugus sisa (R, dari residue) atau disebut juga gugus atau rantai samping yang membedakan satu asam amino dengan asam amino lainnya. Atom C pusat tersebut dinamai atom C ("C-alfa") sesuai dengan
66

penamaan senyawa bergugus karboksil, yaitu atom C yang berikatan langsung dengan gugus karboksil. Oleh karena gugus amina juga terikat pada atom C ini, senyawa tersebut merupakan asam -amino. Asam amino biasanya diklasifikasikan berdasarkan sifat kimia rantai samping tersebut menjadi empat kelompok. Rantai samping dapat membuat asam amino bersifat asam lemah, basa lemah, hidrofilik jika polar, dan hidrofobik jika nonpolar.

Gambar 2. 27 struktur asam Amino

2.10.15Morfin Morfin pertama kali diisolasi pada 1804 oleh ahli farmasi Jerman Friedrich Wilhelm Adam Sertrner. Tapi morfin belum digunakan hingga dikembangkan hypodermic needle (1853). Morfin digunakan untuk mengurangi nyeri dan sebagai cara penyembuhan dari ketagihan alkohol dan opium. Meskipun morfin dapat dibuat secara sintetik, tetapi secara komersial lebih mudah dan menguntungkan, yang dibuat dari bahan getah papaver somniferum. Morfin paling mudah larut dalam air dibandingkan golongan opioid lain dan kerja analgesinya cukup panjang (long acting).(Latief dkk, 2001; Sarjono dkk, 1995). Efek kerja dari morfin (dan juga opioid pada umumnya) relatife selektif, yakni tidak begitu mempengaruhi unsur sensoris lain, yaitu rasa raba, rasa getar

67

(vibrasi), penglihatan dan pendengaran ; bahakan persepsi nyeripun tidak selalu hilang setelah pemberian morfin dosis terapi. Efek analgesik morfin timbul berdasarkan 3 mekanisme ; (1) morfin meninggikan ambang rangsang nyeri ; (2) morfin dapat mempengaharui emosi, artinya morfin dapat mengubah reaksi yang timbul di korteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima oleh korteks serebri dari thalamus ; (3) morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri meningkat. Morfin merupakan agonis reseptor opioid, dengan efek utama mengikat dan mengaktivasi reseptor -opioid pada sistem saraf pusat. Aktivasi reseptor ini terkait dengan analgesia, sedasi, euforia, physical dependence dan respiratory depression. Morfin juga bertindak sebagai agonis reseptor -opioid yang terkait dengan analgesia spinal dan miosis.

Gambar 2. 28 morfin(serbuk)

Farmakodinamik Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos. Efek morfin pada system syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi. Digolongkan depresi yaitu analgesia, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi alveolar. Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis, miosis, mual muntah, hiperaktif reflek spinal, konvulsi dan sekresi hormon anti diuretika (ADH). .(Latief dkk, 2001; Sarjono dkk, 1995; Wibowo S dan Gopur A., 1995; Omorgui, 1997). Farmakokinetik

68

Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat menembus kulit yang luka. Morfin juga dapat menembus mukosa. Morfin dapat diabsorsi usus, tetapi efek analgesik setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian parenteral dengan dosis yang sama. Morfin dapat melewati sawar uri dan mempengaruhi janin. Ekskresi morfin terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan dalam tinja dan keringat. Indikasi Morfin dan opioid lain terutama diidentifikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik nonopioid. Lebih hebat nyerinya makin besar dosis yang diperlukan. Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai ; (1) Infark miokard ; (2) Neoplasma ; (3) Kolik renal atau kolik empedu ; (4) Oklusi akut pembuluh darah perifer, pulmonal atau koroner ; (5) Perikarditis akut, pleuritis dan pneumotorak spontan ; (6) Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri pasca bedah. Dosis dan sediaan Morfin tersedia dalam tablet, injeksi, supositoria. Morfin oral dalam bentuk larutan diberikan teratur dalam tiap 4 jam. Dosis anjuran untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri sedang adalah 0,1-0,2 mg/ kg BB. Untuk nyeri hebat pada dewasa 1-2 mg intravena dan dapat diulang sesuai yamg diperlukan. Morfin diperdagangkan secara bebas dalam bentuk :
a. Bubuk atau serbuk. Berwarna putih dan mudah larut dalam air. Dapat

disalahgunakan dengan jalan menyuntikkan, merokok atau mencampur dalam minuman, adakalanya ditaburkan begitu saja pada luka-luka bekas disilet sendiri oleh para korban.
b. Cairan Berwarna putih disimpan dalam ampul atau botol, pemakaiannya

hanya dilakukan dengan jalan menyuntik.

69

c. Balokan. Dibuat dalam bentuk balok-balok kecil dengan ukuran dan warna

yang berbeda-beda
d. Tablet. Dibuat dalam bentuk tablet kecil putih. Morfin diabsorbsi dengan

baik setelah pemberian subkutan (dibawah kulit) atau intra muskuler, tetapi tidak diabsorbsi dengan baik di saluran pencernaan. Oleh sebab itu morfin tidak pernah tersedia dalam bentuk obat minum. Efek subyektif yang dialami oleh individu pengguna morfin antara lain merasa gembira, santai, mengantuk, dan kadang diakhiri dengan mimpi yang menyenangkan. Pengguna morfin umumnya terlihat apatis, daya konsentrasinya menurun, dan pikirannya sering terganggu pada saat tidak menggunakan morfin. Efek tersebut yang selanjutnya menyebabkan penggunanya merasa ketagihan. Disamping memberi manfaat klinis, morfin dapat memberikan resiko efek samping yang cukup beragam, antara lain efek terhadap sistema pernafasan, saluran pencernaan, dan sistema urinarius. Efek pada sistema pernafasan berupa depresi pernafasan, yang sering fatal dan menyebabkan kematian. Efek ini umumnya terjadi beberapa saat setelah pemberian intravenosa atau sekitar satu jam setelah disuntikkan intramuskuler. Efek ini meningkat pada penderita asma, karena morfin juga menyebabakan terjadinya penyempitan saluran pernafasan. Efek pada sistema saluran pencernaan umumnya berupa konstipasi, yang terjadi karena morfin mampu meningkatkan tonus otot saluran pencernaan dan menurunkan motilitas usus. Pada sistema urinarius, morfin dapat menyebabkan kesulitan kencing. Efek ini timbul karena morfin mampu menurunkan persepsi terhadap rangsang kencing serta menyebabkan kontraksi ureter dan otot- otot kandung kencing. Tanda- tanda pemakaian obat bervariasi menurut jenis obat, jumlah yang dipakai, dan kepribadian sipemakai serta harapannya.

70

Gejala kelebihan dosis : Pupil mata sangat kecil (pinpoint), pernafasan satusatu dan coma (tiga gejala klasik). Bila sangat hebat, dapat terjadi dilatasi (pelebaran pupil). Sering disertai juga nausea (mual). Kadang-kadang timbul edema paru (paru-paru basah). Gejalagejala lepas obat : Agitasi, nyeri otot dan tulang, insomnia, nyeri kepala. Bila pemakaian sangat banyak (dosis sangat tinggi) dapat terjadi konvulsi(kejang) dan koma, keluar airmata (lakrimasi), keluar air dari hidung(rhinorhea), berkeringat banyak, cold turkey, pupil dilatasi, tekanan darah meninggi, nadi bertambah cepat, hiperpirexia (suhu tubuh sangat meninggi), gelisah dan cemas, tremor, kadang-kadang psikosis toksik. Diagnosis Ketergantungan Narkotika Diagnosis ketergantungan penderita opiat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis (medik psikiatrik) dan ditunjang dengan pemeriksaan urine. Pada penyalahgunaan narkotika jenis opiat, seringkali dijumpai komplikasi medis, misalnya kelainan pada organ paru-paru dan lever. Penyalahgunaan narkotika merupakan suatu pola penggunaan zat yang bersifat patologik paling sedikit satu bulan lamanya. Opioida termasuk salah satu yang sering disalahgunakan manusia. Menurut ICD 10 (International Classification Diseases), berbagai gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat dikelompokkan dalam berbagai keadaan klinis, seperti intoksikasi akut, sindroma ketergantungan, sindroma putus zat, dan gangguan mental serta perilaku lainnya. Sindroma putus obat adalah sekumpulan gejala klinis yang terjadi sebagai akibat menghentikan zat atau mengurangi dosis obat yang persisten digunakan sebelumnya. Keadaan putus heroin tidak begitu membahayakan. Di kalangan remaja disebut sakau dan untuk mengatasinya pecandu berusaha mendapatkan heroin walaupun dengan cara merugikan orang lain seperti melakukan tindakan kriminal. Gejala objektif sindroma putus opioid, yaitu mual/muntah, nyeri otot lakrimasi, rinorea, dilatasi pupil, diare, menguap/sneezing, demam, dan insomnia. Untuk mengatasinya, diberikan simptomatik. Misalnya, untuk mengurangi rasa sakit dapat diberi analgetik, untuk menghilangkan muntah diberi antiemetik, dan sebagainya. Pengobatan sindroma putus opioid harus
71

diikuti dengan program terapi detoksifikasi dan terapi rumatan. Kematian akibat overdosis disebabkan komplikasi medis berupa gangguan pernapasan, yaitu oedema paru akut (Banks dan Waller). Sementara, Mc Donald (1984) dalam penelitiannya menyatakan bahwa penyalahgunaan narkotika mempunyai kaitan erat dengan kematian dan disabilitas yang diakibatkan oleh kecelakaan, bunuh diri, dan pembunuhan. Penyalahgunaan obat- obatan sangat beragam, tetapi yang paling banyak digunakan adalah obat yang memiliki tempat aksi utama di susunan saraf pusat dan dapat menimbulkan gangguan- gangguan persepsi, perasaan, pikiran, dan tingkah laku serta pergerakan otot- otot orang ynag menggunakannya. Tujuan penyalahgunaan pada umumnya adalah untuk mendapatkan perubahan mental sesaat yang menyenangkan. Efek menenangkan sering dipergunakan untuk mengatasi kegelisahan, kekecewaan, kecemasan, dorongandorongan yang terlalu berlebihan oleh orang yang lemah mentalnya atau belum matang kepribadiannya. Sedangkan efek merangsang sering dipakai untuk melancarkan pergaulan, atau untuk suatu tugas, menambah gairah sex, meningkatkan daya tahan jasmani. Penyalahgunaan obat dapat diketahui dari hal-hal sebagai berikut : a. tanda- tanda pemakai obat b. keadaan lepas obat c. kelebihan dosis akut d. komplikasi medik ( penyulit kedoktearn ) e. komplikasi lainnya ( sosial, legal, dsb)

2.10.16Heroin

72

Heroin pada awalnya adalah nama produk dagang dari sirup obat batuk produksi Bayer. Sebuah perusahaan farmasi besar dan ternama di Jerman. Bayer pertama kali mengembangkan Heroin tahun 1898 sebagai obat batuk sirup. Pengembangan dan penemuan ini tak luput dari andil dan peran besar seorang ilmuan yang bernama Heinrich Dreser (1860 - 1924) lahir di Damctadt, Jerman, tahun 1960. Sepanjang kariernya di Bayer antara tahun 1897-1914, Dreser bertugas sebagai seorang peneliti yang bertanggung jawab menguji keamanan dan kemanjuran produk obat baru. Pada masa tersebut Dreser memikul jabatan sebagai seorang kepala laboratorium. Jabatan ini memberikan wewenang dalam memutuskan apakah suatu obat layak dipasarkan atau tidak. Bersama jabatan tersebut pulalah membawa Dreser pada penemuan Heroin yang sangat spektakuler sekaligus kontroversial. Heroin adalah hasil sintesis diasetilmorfin yang merupakan derivat senyawa morfin. Senyawa diasetilmorfin berbentuk kristal berwarna putih, tak berbau, dan berasa pahit adalah senyawa yang kemudian diketahui cukup berbahaya. Para ahli sains kemudian berlomba-lomba melakukanpenelitian untuk mendapatkan obat. Penemuan diasetilmofin oleh ilmuwan Inggris, C. R. Wright, tahun 1874 memberi ilham pada Dreser untuk menciptakan obat baru yang tidak menimbulkan ketagihan tetapi tetap memiliki khasiat sama, yakni sebagai obat penenang (sedatif) dan penghilang rasa sakit. Setidaknya begitulah anggapan Dreser pada saat itu. Yang pada kenyataannya pada saat ini anggapan tersebut salah. Bayer adalah perusahaan yang pertama kali mensintesis diasetilmorfin menjadi heroin. Pada awal 1898, heroin buatan Dreser itu kemudian diujicobakan pada sejumlah katak dan kelinci di laboratorium. Dreser bahkan mengujicobakannya pada sejumlah pekerja di Bayer. Anehnya, para pekerja justru tak berkeberatan dan merasa senang dengan dilakukannya percobaan itu. Mereka menganggap bahwa obat baru temuan Dreser selalu membuat mereka merasa "heroik".

73

Heinrich Dreser, masih merasa belum puas dengan produk baru ciptaannya tersebut. Ia kemudian tertarik untuk mencoba pada dirinya sendiri. Sejumlah hasil mengejutkan ternyata mampu dirasakannya hingga dapat menyimpulkan bahwa produk itu sangat efektif untuk mengobati sejumlah penyakit yang berhubungan dengan pernapasan seperti bronkhitis, asma, dan tuberkulosis (TBC). November 1898, Dreser mempresentasikan obat temuannya pada Kongres Naturalis dan Dokter Jerman. Ia mengklaim bahwa heroin 10 kali lipat lebih efektif dari obat batuk biasa, namun hanya mengandung sedikit bahan toksik. Obat batuk sirup baru itu juga diklaim Dreser sebagai obat yang lebih efektif dibandingkan morfin sebagai penahan sakit. Dreser menegaskan, obat tersebut sangat aman dikonsumsi walau agak kontroversi pada masa itu. Nama "heroin" sebagai obat batuk sirup pun kemudian diluncurkan secara resmi oleh Bayer dan mulai dipasarkan untuk khalayak ramai pada tahun 1898. Nama heroin diambil dari bahasa Jerman heroisch yang berarti heroik. Brand heroin yang didengung-dengungkan waktu itu yakni: "Heroin-sang penawar batuk". Saking gencarnya Bayer melakukan pemasaran heroin ini, mereka kemudian memberikan contoh produk ini kepada para dokter. Akibatnya, tak sedikit dokter yang meresepkannya untuk para pasien mereka. Heroin pun kemudian berkembang secara luas di lingkungan medis tanpa menyadari bagaimana efek ketergantungan yang dihasilkan produk ini. Melihat fenomena pemasaran yang terus meningkat, Bayer pun terus meningkatkan produksinya dan menjual ke 12 negara lainnya di luar Jerman. Lama-kelamaan, keganjilan mulai tampak. Para dokter mulai mencatat banyak sekali permintaan pasien akan obat batuk sirup inimeskipun para pasien itu tak memiliki keluhan pada saluran pernapasannya.

74

Gambar 2. 29 Produk Heroin

Sejumlah ilmuwan, dokter, dan para pakar kimia kemudian mendeteksi adanya kandungan obat keras di dalamnya. Mereka menyimpulkan bahwa diasetilmofin yang dikandung heroin mungkin tak seadiktif morfin, namun justru lebih hebat dari itu. Daya ketergantungan heroin dua hingga empat kali lebih kuat dibandingkan morfin! Saat memasuki metabolisme tubuh, zat aktif heroin langsung memasuki aliran darah dan merasuk masuk ke otak hingga menyebabkan sebuah euforia. Berkaca dari berbagai temuan ilmuwan itu, Bayer kemudian menghentikan produksi dan pemasaran obat batuk sirup heroin pada 1913. Lebih dari itu, Bayer langsung menghapus nama heroin pada daftar obat yang berhasil mereka temukan sekaligus menjadi catatan sejarah kelam bagi perusahaan terkenal itu. Peredaran heroin pun kemudian dilarang secara luas pada tahun 1924.

2.10.17

Kodeine

Kodeina atau kodein (bahasa Inggris: codeine, methylmorphine) ialah asam opiat alkaloid yang dijumpai di dalam candu dalam konsentrasi antara 0,7% dan 2,5%. Kebanyakan kodein yang digunakan di Amerika Serikat diproses dari morfin melalui proses metilasi. Kodein yang terkonsumsi akan teraktivasi oleh
75

enzim CYP2D6di dalam hati menjadi morfin, sebelum mengalami proses glusuronidasi, sebuah mekanisme detoksifikasi bagi xenobiotik. Walau bagaimanapun, morfin tersebut tidak dapat digunakan, mengingat 90% kodein yang diambil akan dimusnahkan dalam usus halus (rembesan dari hati) sebelum berhasil memasuki peredaran darah. Oleh itu, kodein seolah-olah tidak brpengaruh atas penggunanya, namun efek samping seperti analgesia, sedasi, dan kemurungan pernafasan masih terasa. Kodein digunakan sebagai peredam sakit ringan. Kodein selalu dibuat dalam bentuk pil atau cairan dan bisa diambil baik secara sendirian atau gabungan dengan kafein, aspirin, asetaminofen, atau ibuprofen. Kodein sangat berperan untuk meredakan batuk. Seperti semua jenis opioid, penggunaan kodeina yang berkelanjutan mengakibatkan ketergantungan secara fisik dan psikologi. Sebuah kelompok yang bernama Codeine Free didirikan untuk membantu mereka yang mengalami ketergantungan pada kodeina. Kodein merupakan obat yang paling banyak digunakan dalam perawatan kesehatan.

Gambar 2. 30 Struktur kimia kodeina

76

BAB III DISKUSI


Pertanyaan kel 1 pada slide 20

apa yang dimaksud dengan substitusi nukleofilik (SN2 )??

77

Gambar 4.1 Slide 20 presentasi

Pada kimia organik maupun anorganik, substitusi nukleofilik adalah suatu kelompok dasar reaksi substitusi, dimana sebuah nukleofil yang "kaya" elektron, secara selektif berikatan dengan atau menyerang muatan positif dari sebuah gugus kimia atau atom yang disebut gugus lepas (leaving group).

Pertanyaan tambahan kel 1 slide 22

H2O hasil reaksi dari mana??

3. Reduksi Amida
Amina

1, 2, dan 3 (alifatis) dibuat dengan cara mereduksi senyawa amida dengan katalis logam atau LiAlH4.
O

CH3 CH2 C

LiAlH4 H 2O

NH 2

CH3 CH2 CH2NH2 propila min

O NH 2 C (CH 2) 4 C

O NH2 + 4H 2 NH 2CH 2

(CH2)4

CH 2NH 2

1, 6 heksadia min

Gambar 4.2 Slide 22

H2O merupakan hasil reduksi amida dengan katalis LiAlH4.

78

Pada slide terjadi kesalahan pengetikan.

Pertanyaan kel 2 :

apa pengaruh ikatan hidrogen terhadap titik didih amina?? Dan apa pengaruhnya dalam volatil??
+ H N

Pengaruh titik didih pd ikatan hidrogen

Ikatan hidrogen memengaruhi titik didih suatu senyawa. Semakin besar ikatan hidrogennya, semakin tinggi titik didihnya.
Gambar 4.3 Ikatan hidrogen

benzen

Pengaruh titik didih dalam volatil beserta gugus hidroksilnya sehingga dapat menimbulkan

senyawa volatil adalah biasanya merupakan senyawa dengan struktur cincin aroma/bau/wewangian sedangkan non volatil adalah senyawa dengan struktur alifatik atau rantai lurus. Senyawa volatil yang memiliki ikatan hidrogen yang besar akan semakin tinggi titik didihnya dibanding senyawa volatil yang memiliki ikatan hidrogen yang kecil.

79

Pertanyaan kel 3 dari slide 10

Heterosiklik amin terdapat dimana??

Gambar 4.4 slide 10

Alkaloid pirrol Porfirin : senyawa heterosiklis yang mengandung 4 cicin pirol yang saling berikatan. Porfirin membentuk kompleks dengan ion logam. Apabila membentuk kompleks dengan Fe
80

membentuk besi-porfirin yang menyebabkan warna darah merah pada darah arteri Hemoglobin. Gambar 4.5 Hemoglobin

Alkaloid Piridin-Piperidin Mempunyai satu cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen, dengan struktur inti : Yang termasuk dalam kelas ini adalah : Conium maculatum dari famili Apiaceae dan Nicotiana tabacum dari famili Solanaceae.

Gambar 4.6 Reduksi Piridin Turunan Piperidin, meliputi piperini yang diperoleh dari Piperis nigri Fructus; yang berasal dari tumbuhan Piperis nigri (fam : Piperaceae) berguna sebagai bumbu dapur.

Gambar 4.7 Sirih sebagai turunan piperidin

81

Alkaloid Imidazol Berupa cincin karbon mengandung 2 atom nitrogen. Lingkaran Imidazol merupakan inti dasar dari pilokarpin yang berasal dari daun tumbuhan Pilocarpus jaborandi atau Jaborandi rermambuco, P. Microphylus atau J. marashm, dan P. Pinnatifolius atau J. Paraguay dari familia Rutaceae.

Gambar 4.8 Tumbuhan pilocarpus jaborandi

Turunan Pirinin & Pirolidin, meliputi nikotin yang diperoleh dari Nicoteana Folium; yang berasal dari tumbuhan Nicotiana tobaccum (fam: Solanaceae) berguna sebagai antiparasit, insektisida dan antitetanus. Tumbuhan yang juga mengandung alkaloid ini adalah kuli dari Punica granatum (fam: Punicaceae

Gambar 4.9 Tumbuhan Nikotin

82

Pertanyaan Tambahan kel 5 jelaskan pembuatan insektisida??

Cara pembuatan insektsida pembuatan Insektisida Alami untuk menghilangkan hama kutu dan ulat pada tanaman.: Bahan : Tembakau, Kenikir , Pandan, Kemangi, Cabe rawit , Kunyit, Bawang Putih , Aquadest, mikro organisme pengurai, Gula pasir Cara pembuatannya : 1. Semua bahan di blender dan di tambah dan ditambah air suling 2. Masukkan ke dalam botol yang steril 3. Tambahkan gula pasir 4. tambahkan mikro organisme pengurai 5. Tutup dan biarkan 1 minggu supaya terjadi fermentasi 6. Kemudian di saring. 7. Siap dipergunakan

Pertanyaan kel 4 Apakah pembuatan insektisida ditambahkan bahan aditif lain atau hanya amina saja??

83

Tidak , pembuatan insektisida amina berasal dari tembakau dan bahan-bahan alami lainnya.

Pertanyaan kel 5 apa bahan flotasi dan sebutkan contohnya??

MANFAAT AMINA
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa amina adalah senyawa organik yang luas kegunaannya antara lain :
Untuk

menghambat korosi pada logam Untuk membuat insektisida Untuk membuat bahan flotasi Dan digunakan dalam pembuatan zat warna

Gambar 4.10 slide 27 Pengertian flotasi dan contohnya Flotasi berasal dari kata float yang berarti mengapung atau mengambang. Flotalasi dapat diartikan sebagai suatu pemisahan suatu zat dari zat lainnya pada suatu cairan/larutan berdasarkan perbedaan sifat permukaan dari zat yang akan dipisahkan, dimana zat yang bersifat hidrofilik tetap berada fasa air sedangkan zat yang bersifat hidrofobik akan terikat pada gelembung udara dan akan terbawa ke permukaan larutan dan membentuk buih yang kemudian dapat dipisahkan dari cairan tersebut.

84

Contohnya : seperti minyak dari emulsi, khususnya didasarkan pada air.

Pertanyaan kel 9 Mengapa amina itu buffer? Seharusnya bukan mengapa amina itu buffer, tapi amina dapat menjadi larutan buffer. Larutan penyangga, larutan dapar, atau buffer adalah larutan yang digunakan untuk mempertahankan nilai pH tertentu agar tidak banyak berubah selama Reaksi kimia berlangsung. Jadi pertanyaannya bukan mengapa amina itu buffer, jadi amina digunakan untuk larutan buffer, karena amina bisa mempertahanakan pH nya bila diberi asam kuat dan basa kuat.

Pertanyaan kel 10 perbandingan kebasaan amida dan amina ??

Amida dan Amina merupakan basa lemah,tetapi amina lebih basa dibanding amida karena amina mempunyai ikatan alkil yang cenderung memberi gugus eletron,memantapkan muatan ion serta menggeserkan kesetimbangan Dibandingkan amina, amida adalah basa sangat lemah. Sedangkan asam konjugasi dari suatu amina memiliki pKa sekitar 9,5 sedangkan asam konjugasi dari suatu amida memiliki pKa sekitar -0,5.

85

Pertanyaan kel 11 bagaimana amina dapat dikatakan basa dan hubungannya dg air???

Kebasaan Dari Amina Seperti ammonia, amina adalah basa lemah, jauh lebih lemah daripada ion hidroksida. Amina dapat memberikan sepasang electron sunyi dari nitrogennya dan membentuk ikatan dengan sebuah proton. Amina yang larut dalam air mengalami reversible dengan air, yang membebaskan ion hidroksida.

NH3 + H _ OH CH3NH2 + H
_

NH4 + OH OH CH3NH3 + OH

Konstanta Kesetimbangan Basa Kebasaan dari suatu senyawa, seperti amina, ditentukan oleh konstanta Kesetimbangan Basa (Kb), yang merupakan konstanta kesetimbangan untuk reaksi senyawa tersebut dengan air.
RNH2 + H2O RNH3 + OH

Kb =

[ RNH3 ] [- OH ]

[ RNH2 ] dimana [ RNH3 ] = molaritas dari RNH3 [ OH ] = molaritas dari OH [ RNH2 ] = molaritas dari RNH2

dan konsentrasi dari H2O sudah termasuk dalam Kb. Istilah PKb, yang sangat analog PKa, sering digunakan untuk menunjukkan kekuatan basa dari suatu senyawa
86

PKb = - log Kb Harga pKb Jika Kb = 1,0 x 10-5, pKb = 5 Jika kekuatan asam dari suatu deretan senyawa bertambah, harga Kb bertambah besar dan harga pKb berkurang NH3 CH3NH2 -5 Kb : 1,79 X 10 45 x 10-5 pKb: 4,75 3,35 Kekutan basa bertambah (Kb bertambah ; PKb Berkurang) CH3NHCH3 54 x 10-5 3,27

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kekuatan Basa Suatu reaksi asam basa adalah suatu kesetimbangan yang dapat digeser kesalah satu pihak dari persamaan reaksi oleh stabilitas pereaksi atau hasil reaksi. Setiap struktur atau lingkungan yang menstabilkan amina terprotonasi relatif terhadap yang bebas atau amina tidak terprotonasi akan menambah kekuatan bada dari amina.

Kenaikan stabilisasi relatif ke hasil reaksi reaksi Menggeser kesetimbangan ke pihak ini ini

Kenaikan stabilisasi relatif ke hasil menggeser kesetimbangan ke pihak

RNH2 + H2O Alkylamina, dialkilamin, dan

R+NH3 trialkionamin

+ -OH konstanta

mempunyai

kessetimbangan basa lebih dari ammonia.. kenaikan dari kekauatan basa sebagian disebabkan oleh efek induksi dari pelepasan eketron gugusan alkyl,
87

yang membantu menstabilkan muatan positif dari hasil reaksi dan menggeser kesetimbangan ke kanan. H H3C N - H + H2O H3C H N H + OH H
Lebih stabil terhadap pereaksi daripada
+

NH4

Pertanyaan kel 12 bersifat apa amina tersier?? Polar atau nonpolar?? Amina tersier itu juga bersifat polar, karena juga mampu membentuk ikatan hidrogen dengan air.

Pertanyaan tambahan apa pengaruh ikatan hidrogen terhadap sifat-sifat fisik amina ??

Pengaruh ikatan hidrogen thd sifat fisik Suatu amina mengandung ikatan N-H dapat membentuk ikatan hidrogen dengan elektron sunyi dari oksigen atau nitrogen lain. Dari dua macam ikatan hidrogen, ikatan NH-N jauh lebih lemah daripada ikatan OH-O. Alasan mengapa terjadi perbedaan dalam kekuatan ikatan nitrogen kurang elekronegatif dibandingkan dengan oksigen ikatan N-H dengan sendirinya kurang polar.

88

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

Amina adalah senyawa organik yang mengandung atom nitrogen trivalent

yang mengandung atom nitrogen trivalen yang berkaitan dengan satu atau dua atau tiga atom karbon, dimana amina juga merupakan suatu senyawa yang mengandung gugusan amino (-NH2, - NHR, atau NH2). Gugusan amino mengandung nitrogen terikat, kepada satu sampai tiga atom karbon (tetapi bukan gugusan karbonil).

Amina digolongkan menjadi amina primer (RNH2), sekunder (R2NH), atau

tersier (R3N), tergantung kepada jumlah atom karbon yang terikat pada atom nitrogen (bukan pada atom karbon, seperti pada alkohol).

Reaksi amina dengan turunan as. Karboksilat Anilin akan bereaksi dengan turunan as.Karboksilat anhidrida dan halida

asam membentuk amida tersubtitusi seperti contoh berikut :

O ||

O ||

O ||

CH3 C O C CH3 + H2N Ph Ph NH C CH3 + CH3COOH

(antipiretik) / penurun panas

Polimerisasi kondensasi diamin

89

Polimer diamin khususnya 1,6 diaminoheksana dengan heksadioat (asam adipat) akan menghasilkan suatu nilon 6,6.

O ||

O ||

O ||

O ||

H2N (CH2)6 + HO C (CH2)4 C OH -[NH (CH2)6 NHC (CH2)4 C-]n

(Nilon)

Reaksi Amina alifatik primer dengan HNO2 Amina alifatik primer dengan HNO2 menghasilkanalkohol disertai

pembebasan gas N2 menurut persamaan reaksi di bawah ini :

CH3-CH-NH2 + HNO2 CH3-CH-OH + N2 + H2O CH3 CH3

Isopropilamina (amina 1) isopropil alkohol (alkohol 2)

Reaksi Amina alifatik/aromatik sekunder dengan HNO2 Amina alifatik/aromatik sekunder dengan HNO2 menghasilkan senyawa

N-nitrosoamina yang mengandung unsur N-N=O

90

Reaksi pembuatan amina Reduction of nitro compounds Reaction of halides with ammonia or amines Reductive amination Reaksi Reduksi dari Senyawa Nitrogen lain

Manfaat utama amina salah satunya adalah sebagai bahan untuk pembuatan

obat-obatan.

Dalam waktu belakangan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang

pesat telah membawa manusia dalam penyalahgunaan senyawa hidrokarbon menjadi obat obatan terlarang.

91

DAFTAR PUSTAKA

Harjadi,W. 1986. Kimia Organik. Jakarta: PT Gramedia

Day. N dan A.L. Anderwood. 1986. Senyawa Amina. Edisi kelima. penerbit Erlangga: jakarta

Adam Wiryawan.2011. Amina. http://www.chem-istry.org/materi_kimia/instrumen_Amina di Akses tanggal 05 mei 2012

Identifikasi amina | Journal Banking Finance PDF http://www.pdfseeker.net/pdf/identifikasi-amina.html

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29033/4/Chapter %20II.pdf

http://www.scribd.com/doc/53123540/AMINA

http://laskarpengetahuan.blogspot.com/2011/04/amina.html

Vovilia, enang,dkk.2011.Makalah Kimia Organik Amina.Fakultas Teknik: Universitas Riau

92